Berapa banyak teman-teman lesbian yang langsung bergidik mendengar kata “lesbian” diucapkan atau ditulis secara terang-terangan? Atau Anda sendiri juga merasa risi dan tidak nyaman mendengarnya? Dan setiap kali mendengar kata ini disebut, otak Anda langsung otomatis bernyanyi, “Lalalalalalalala...” Tidak mau mendengar dan Anda berlagak budek seakan telinga Anda isinya penuh dengan kotoran lalalalalalala.
Sebagai pengganti kata lesbian yang menyeramkan ini, banyak orang yang menggantinya dengan kata lain. Belakangan ini kata yang sedang eksis sebagai kata pengganti adalah “L” (dibaca: el) yang merupakan singkatan dari LESBIAN. “Menurut lo dia el nggak?” Saat melihat cewek bertampang butch atau andro lewat di mal. Atau, “Lex, temen gue akhirnya udah ngaku el tuh.”
Sebelum kata “L” digunakan, istilah yang sempat happening pada awal tahun 2000-an adalah “Belok”. “Gue kenalin ama temen gue ya, anak kampus kita. Belok juga.” Yah, kurleb seperti itu pemakaiannya. Kata Belok digunakan sebagai lawan kata straight yang artinya lurus. Saya sering bercanda dengan teman saya dulu setiap kali dia bilang dirinya Belok. “Paling enak belok kiri, karena boleh langsung. BeKiBoLang.” Hehehe, jayus, memang.
Mundur sejenak ke era tahun 1990-an, istilah yang sering dipakai untuk menggantikan kata LESBIAN adalah “Lines”, (dibaca: li-nes bukan lains). Yah, zaman lesbi-lesbi masih digambarkan sering ajeb-ajeb di diskotek buat cari cewek dan lesbian party gitu deh, lalu ceritanya dimuat di majalah Fakta Plus, hahahaha.... Yah, kurleb sezaman ketika cerita lesbian yang paling in adalah “Aku Jadi Lesbi Karena Disakiti Laki-Laki".
Eniwei, istilah di atas belum seberapa mengerikan dibanding mendengar istilah “Sakit” yang so eighties banget deh. Sumpe deh, saya dengar dengan telinga yang nyantel di kepala saya tahun kemarin masih ada yang masih memakai istilah ini. Hareee geneeee...? Ya ampyunnnn, ke mane aje, Mbak?! “Si anu kan sakit juga, kaya kita-kita ini, cuma nggak mau ngaku aja....” Haiyaaaaahhhh, saya sampai bengong beberapa detik. Beneran bengong total. Bengong sampai ada gemanya... ngong... ngong... ngong.
Eufimisme semacam ini merupakan suatu cara untuk memperhalus istilah yang membuat telinga tidak nyaman. Sopir diperhalus dengan kata driver, Indian dengan Native American, Cina dengan Tionghua. Dan istilah-istilah di atas biasanya dibuat oleh kaum lesbian sendiri yang tidak sampai hati menggunakan kata Lesbian itu.
Dulu sewaktu saya masih muda, hijau, tidak berpengalaman, meskipun sudah tidak perawan lagi... (Baca: zaman kuliah), saya juga nggak kuasa menyebut kata Lesbian dengan enteng. Kayanya lidah ini terbuat dari logam mulia, dan sulit ditekuk untuk menyebut kata "les-bi-an." Sampai saya ketemu seorang sahabat lesbian yang out, loud, and proud.
Saya dan sahabat out saya yang cantik dan punya rambut yang cocok jadi model iklan sampo itu kemudian bersahabat baik. Secara dia kalau ngomong nggak ada remnya, dia bisa dengan mudah berkata, “Emangnya kenapa kalau gue lesbian?” semudah dia berkata. “Emangnya kenapa kalau jempol gue kutilan?” Awalnya saya nyaris pingsan setiap kali kata "lesbian" nyembur dari mulutnya, yang remnya blong itu.
Hingga kemudian saya menyadari bahwa bukan kata “lesbian” yang membuat saya takut. Tapi saya takut pada diri saya sendiri. Saya takut dengan kenyataan bahwa saya adalah LESBIAN. Detik itu pula saya menyadari bahwa saya homofobia pada diri saya sendiri, dan saya belum berdamai dengan hati, jiwa, dan pikiran lesbian saya.
Kesadaran itu muncul ketika saya sedang menyusuri malam dengan berjalan kaki sejauh 2 km, sambil berpikir merenungkan siapa diri saya sebenarnya. Saya membuat dialog dalam benak saya. Tanya-jawab imajiner. Siapa kamu? Apa kamu? Mengapa? Sepanjang waktu itu dialog tanya-jawab dalam otak saya terus-menerus menenangkan hati saya yang gelisah. Yang selanjutnya perlu saya lakukan adalah coming out pada diri saya sendiri.
Puncaknya saya menyerah. Saya tidak menafikan diri saya lagi. Saya menyerah dan mengakui dengan lantang (dalam otak saya) bahwa saya LESBIAN. Perempuan yang mencintai sesama perempuan. Dan ternyata... bumi tidak berhenti berputar. Bintang di atas langit masih tetap bintang yang sama, dan orang gila di dekat rumah saya masih tetap gila. Tapi saya berubah.... Saya berdamai dengan sisi lesbian dalam diri saya.
Setelah itu kata “Lesbian” tidak lagi membuat saya bergidik, menjauh, atau melarikan diri. Bahkan beberapa minggu lalu, entah bagaimana seorang teman (straight) yang berusaha akrab menggunakan istilah “L” untuk bicara dengan saya. “Eh, Lex, beneran ya Jodie Foster itu el?”(*) Sementara tangannya teracung menunjukkan ibu jari dan telunjuk melambangkan huruf “L” dan wajahnya tampak tidak nyaman dengan eufimisme itu, yang saya yakin sebenarnya juga membuat dia merasa risi.
Saya langsung menjawab, “Ya, iyalah doi lesbian, masa ya iya dong? Dia baru putus sama pacarnya tuh.” Teman saya langsung nyengir, “Aje gile, gue mau deh jadi lesbi kalau pacaran sama Jodie Foster.” Halaaahhh... ampun, susahnya punya teman yang gokil! Go to the ocean dehhhh.
@Alex, RahasiaBulan, 2008
(*)Entah kenapa saat kamu sudah out lesbian, teman-temanmu sering bertanya siapa saja orang yang lesbian... Seakan-akan kami jadi memiliki semaca marga kekerabatan yang sama...:p