Bagian I
Seorang sahabat gay bertanya pada saya, “kenapa sih kamu sering pakai baju warna hitam? Apakah itu warna identitas lesbian?” Selanjutnya dia menambahkan bahwa saudara sepupunya yang lesbian juga sering pakai warna hitam/gelap. Dan cewek-cewek lesbian yang dia kenal juga sering banget pakai warna hitam.
Saya bengong lima detik sebelum akhirnya ngakak mendengar pertanyaan itu. Saya bergegas membayangkan isi lemari dan mendapati kenapa baju saya kebanyakan warnanya merah, kuning, biru, ya? Ada sih hitam, cuma kayaknya tidak membuat warna tersebut sebagai warna identitas. Bahkan jumlah baju hitam saya sama dengan jumlah baju pink yang saya miliki.
Pertanyaan tentang pakaian ini bukanlah yang pertama kalinya ditujukan untuk saya. Seorang sahabat partner juga pernah berkomentar seperti itu. Saya jadi berpikir. Kenapa ya? Lalu saya dan sahabat gay saya yang bekerja di bidang fashion itu berdiskusi. Dia bilang, warna hitam itu membuat pemakainya tampak more powerful, confident, and manly. Saya jawab, "Heh? Masa sih?" Mungkin dia benar. Tapi sejujurnya, saya suka memakai warna hitam (terutama kalau saya ada janji meeting), karena memang warna itu membuat saya merasa aman dan percaya diri. Kenapa? Karena saya orang yang ceroboh dan jorok.
Saya selalu kagum pada orang yang bisa pakai baju warna putih. Saya angkat topi buat mereka. Buat saya, memakai baju warna putih, apalagi di musim hujan sama beraninya dengan mereka yang berjalan melewati ladang penuh ranjau di Irak. Karena kalau saya memakai putih, belum jam makan siang saja, kemeja/baju saya bakal kena berbagai noda. Entah itu noda kopi, teh, atau bekas remah makanan yang bisa dengan mudahnya nempel di baju.
Jikalau sahabat gay saya bertanya (lagi) kenapa lesbian menggemari warna hitam, mungkin jawabannya karena lesbian-lesbian itu pengecut seperti saya. Mereka tidak berani berjalan sambil memamerkan ranjau tetesan kuah soto atau gado-gado sisa makan siang.
Bagian II
Gara-gara obrolan dengan sahabat gay itu, saya jadi ingat obrolan saya via chat dengan seorang sahabat gay lain. Sahabat gay saya bercerita tentang gay night yang dia hadiri. Dia bercerita bagaimana di sana dia melihat cewek butch yang sok asyik. Sebagai lelaki berperasaan halus, dia gentar melihat lesbian butch nongkrong di tempat yang seharusnya GAY night.
Dia bertanya pada saya, “Kenapa sih lesbian itu tampangnya sangar-sangar?”
Saya pura-pura sensi dong. “Maksud lo?” tanya saya balik.
“Maksud gue bukan elo. Secara elo itu kan butch feminin.”
“Maksud lo?” tanya saya lagi, yang masih sok sensi gitu deh.
“Maksud gue, kalo cowok gay kan manis, terawat, harum. Sementara kenapa sih cewek-cewek lesbi itu nggak jaga penampilan? Badannya itu lho..., nggak keurus. Belum lagi penampilan secara keseluruhan, kebapakan gitu. Eh, tapi gue bukan refer ke elo lho."
Saya pun tertawa, tidak bisa berlama-lama sensi dengan sahabat saya ini. Bagaimanapun, dia kan cuma menanyakan pertanyaan yang jujur dari lubuk hatinya. Mulailah kami berdiskusi, beranalisis tentang penampilan para lesbian. Mungkin karena lesbian kan kebanyakan hormon cowoknya gitu ya, jadi penampilannya pun jadi berlagak cowok gitu, demikian ulasan teman saya.
“Eh, elo sendiri jarang dandan,” tiba-tiba dia nyeletuk.
“Gue nggak dandan karena gue udah cantik, tauk!” demikian jawaban saya. “Tapi soal perawatan mah, gini-gini eike meni-pedi lho. Belum lagi creambath rutin, pokoknya yang namanya ke salon mah kudu deh tiap 2 minggu sekali." Biar teteup disayang istri gitu lhoooo...
Bagian III
Dalam satu acara peluncuran buku, seorang sahabat pria (yang konon katanya gay) menarik saya ke pojok ketika saya baru mengambil makanan kecil. Dengan wajah penuh konspirasi dia bertanya pada saya, “Seberapa penting sih penetrasi pada hubungan seksual lesbian? Apakah berpengaruh besar pada kemampuan orgasme?”
Saya jawab, “Idih, penting nggak sih elo pengin tau hal kayak gini?”
“Ini bukan pertanyaan iseng, tahu! Ini dalam rangka riset pembuatan novel yang tokoh utamanya lesbian.”
“So?” tanya saya. “Ngapain juga elo masukin adegan gituan? Nyari sensasi ya? Udah nggak zaman lagi, tahu!” Entah kenapa saya jadi sensi dengan pertanyaannya tentang urusan seks ini.
Sahabat saya ini yang satu ini memang sudah terkenal gila. Kadang-kadang kegilaannya menjurus ke arah menyebalkan. Tapi setelah dipikir-pikir, pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak banyak orang yang bukan lesbian. Mungkin untuk hubungan seks sesama lelaki, mereka tidak akan bertanya dengan penuh semangat, karena kita bisa lebih mudah membayangkan bagaimana caranya.
Saya tahu kalau saya tidak menjawabnya, dia akan mencecar saya tanpa henti hingga akhir acara. Akhirnya sebelum beranjak pergi meninggalkan dia di pojok itu, saya jawab pertanyaannya secara tak acuh. "Ah, cewek lesbian itu mah paling hebat deh, nggak perlu penetrasi, dicolek aja bisa orgasme kok." Dan sahabat saya kontan ternganga sementara tangannya mengambang di udara memegang kue yang belum sempat masuk mulutnya. Hahaha, mati kutu dia. :)
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Annie Leibovitz adalah seorang fotografer Amerika paling ternama di dunia. Begitu banyak selebriti dan orang-orang penting dunia yang pernah difoto oleh Annie Leibovitz. Selain spesialis fotografer selebriti, Annie Leibovitz juga terjun ke lapangan mengambil foto-foto perang di Bosnia dan foto-foto 9/11. Dan ia terkenal dengan persiapan dan ketelitiannya sebelum memotret, bahkan tidak jarang si objek foto harus bersiap selama berjam-jam.
Annie Leibovitz lahir di Waterbury, Connecticut, USA pada tahun 1949, dari enam bersaudara keluarga tentara. Dia mengambil kuliah malam di Fine Arts School of Photography, San Fransisco, padahal mata kuliah utamanya adalah Painting. Tahun 1970, Leibovitz bergabung dengan majalah Rolling Stones yang baru berdiri kala itu, dan menjadi chief photographer di sana pada tahun 1973. Lalu pada tahun 1983, Leibovitz pindah ke Vanity Fair dan semakin melebarkan reputasinya.
Semasa kerjanya di Rolling Stones, Annie Leibovitz menghasilkan foto legendaris John Lennon yang telanjang memeluk Yoko Ono, yang diambil pada pagi hari dua jam sebelum John Lennon tewas ditembak. Foto itu kemudian menjadi sampul majalah Rolling Stones edisi #335, 22 Januari 1981. Beberapa foto terkenal, seperti Demi Moore telanjang dalam keadaan hamil, Whoopi Goldberg dalam bak penuh susu, dan penampilan media pertama Suri Cruise, adalah hasil buah tangannya.
Dalam kehidupan pribadi, sebagaimana orang-orang yang bekerja di belakang lensa, Leibovitz lebih nyaman memotret kehidupan orang lain, daripada harus mengungkapkan kehidupan pribadinya. Barulah setelah kematian Susan Sontag, penulis terkenal Amerika yang meninggal pada usia 71 tahun tanggal 28 Desember 2004 akibat penyakit kanker, terungkap hubungan istimewa antara Leibovitz dan Sontag.
Setelah kematian Sontag, Newsweek menerbitkan artikel tentang Leibovitz yang menyatakan, "Mereka bertemu pertama kali pada akhir tahun 1980, ketika [Leibovitz] memotret Sontag untuk foto di sampul bukunya. Mereka tidak pernah tinggal bersama, tapi mereka tinggal di apartemen yang berhadapan. Keduanya menjalin hubungan sekitar 16 tahun, dan tidak pernah mengungkapkan hubungan mereka ke publik.” Bagi Leibovitz, Sontag adalah mentor, soulmate, dan the love of her life. Bersama Sontag, Leibovitz melanglang buana ke berbagai penjuru dunia untuk memotret. Walaupun dikenal sebagai biseksual, Sontag amat sangat menjadi privasi kehidupan pribadinya.
Ketika Sontag didiagnosis menderita kanker pada tahun 1998, Leibovitz memutuskan untuk cuti selama beberapa bulan agar bisa menemani Sontag dan kala itu Sontag berhasil sembuh dari kanker. Pada bulan-bulan menjelang kematian Sontag tahun 2004, Leibovitz benar-benar berhenti memotret. “Aku tidak ingin berada di sana sebagai fotografer,” katanya dalam wawancara dengan NY Times. “Aku hanya ingin di sana bersamanya. Pada saat-saat terakhir, aku memaksa diriku memotret beberapa foto. Aku tahu dia mungkin sedang sekarat."
Kematian Sontag mendorong Leibovitz untuk membuat photographic memoir, berjudul A Photographer's Life: 1990-2005. "Buku ini merupakan hasil dari kesedihan," kata Leibovitz, dalam wawancaranya dengan Edward Guthmann, dari San Fransisco Chronicle. Dan [buku ini] tak akan pernah dibuat, jika dia tidak bertemu dengan Sontag pada tahun 1988, jatuh cinta padanya dan menjawab tantangan Sontag. "Kau bagus," Sontag memberitahu Leibovitz, "tapi kau bisa lebih baik lagi." Pendapat Sontag jelas penting bagi Leibovitz, karena selain sebagai penulis, Sontag juga kritikus foto.
Dalam wawancara radio dengan Tom Ashbrook di NPR, On Point, Leibovitz jelas-jelas mengakui hubungan romantisnya dengan Sontag sebagai hubungan intim yang sangat dekat. Leibovitz mengatakan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungannya dengan Sontag adalah hubungan “kekasih”. Leibovitz juga mengulang pernyataannya pada San Francisco Chronicle: "Sebut kami kekasih. Aku menyukai kata ‘kekasih’. Kau tahu, ‘kekasih’ terdengar romantis. Maksudku, aku ingin jelas sejelas-jelasnya. Aku mencintai Susan.”
Leibovitz juga menjelaskan tentang hidupnya melalui deretan foto-foto dalam buku A Photographer's Life: 1990-2005, “Bersama Susan aku punya kisah cinta,” katanya. “Bersama orangtuaku, adalah hubungan seumur hidup. Dan bersama anak-anakku adalah masa depan. Aku hanya berusaha menciptakan karya yang jujur yang berisi semua hal tersebut di dalamnya.”
Sumber:
www.newsweek.com
http://www.sfgate.com
www.nytimes.com
Untuk mendengar wawancaranya Annie Leibovitz dengan Tom Ashbrook: klik: http://www.onpointradio.org/shows/2006/10/20061017_b_main.asp
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Sebagai salah satu ikon pembuat film “aneh”, David Lynch mengantar kita ke dalam dunia surealis Mulholland Drive yang dirilis tahun 2001. Diawali dengan kecelakaan yang terjadi pada malam hari di Mulholland Drive, Los Angeles. Seorang wanita berambut hitam diperankan oleh Laura Harring diancam pistol oleh dua lelaki di dalam mobil, namun mobilnya mengalami tabrakan dan si wanita berambut hitam tersebut selamat meskipun menderita amnesia. Setelah kecelakaan, dia berjalan hingga sampai ke sebuah rumah lalu tinggal di sana.
Keesokan harinya, seorang wanita ceria berambut pirang yang bercita-cita sebagai aktris bernama Betty (Naomi Watts) datang ke rumah itu. Mereka lalu berkenalan, si wanita amnesia itu mengaku bernama Rita setelah melihat poster film Gilda yang diperankan Rita Hayworth.
Betty dan Rita kemudian menjalin hubungan yang akrab dan berlanjut ke hubungan seksual sambil berusaha mencari petunjuk tentang siapa diri Rita sebenarnya. Berdua, mereka berusaha mengungkap misteri uang $50.000 dan kunci biru yang ada di dompet Rita.
Kemudian berbagai hal aneh dan absurd mengiringi perjalanan investigasi mereka. Mulai dari kemunculan sutradara bernama Adam Keshner (Justin Theroux) yang dikejar-kejar mafia, klub bernama Club Silencio, dan aktris bernama Camilla Rhodes. Itu baru chapter pertama dalam film ini.
Dalam chapter kedua kita dibawa untuk mempertanyakan mana realitas, mana mimpi, mana ilusi. Ketika Betty ternyata Diane Selwyn, Rita adalah Camilla Rhodes, dan Adam Keshner adalah sutradara yang calon suami Camilla. Diane ternyata kekasih Camilla, yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Camilla karena sakit hati akibat dicampakkan.
Sinopsis di atas walaupun mengandung banyak spoiler, percayalah, tidak akan mengurangi kenikmatan menonton, malah mungkin akan membantu banyak. Karena bersama David Lynch, selama 145 menit kau akan dibawa berputar-putar dalam dunia real, sureal, mimpi, dan ilusi. Jika kau pakai om Google untuk mencari tahu film ini, kau akan temukan banyak teori tentang apa sih sebenarnya cerita Mulholland Drive ini?
Untuk film ini, David Lynch yang sebelumnya menyutradarai Blue Velvet dan Wild at Heart, memperoleh nominasi sutradara terbaik di Oscar dan Golden Globe dan menang di Cannes sebagai sutradara terbaik. Naomi Watts juga memenangkan berbagai penghargaan atas perannya sebagai Betty/Diane. Film ini pula yang mengangkat nama Naomi Watts sebagai aktris biasa-biasa saja dari Australia sebagai aktris yang patut diperhitungkan di Hollywood. Dalam film ini, Naomi Watts dan Laura Harring melakukan adegan percintaan yang lumayan hot plus adegan masturbasi Naomi Watts yang jadi salah satu adegan masturbasi legendaris dalam film Hollywood.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Jika bukan aktor kawakan seperti Judi Dench dan Cate Blanchett, saya nggak tahu film ini bakal seperti apa. Kepiawaian akting Judi Dench sebagai perawan tua kesepian yang lesbian tapi tidak mengakui dirinya lesbian bagi saya layak mendapat Oscar. Cate Blanchett juga tidak kalah bagusnya di sini, jauh lebih bagus daripada ketika dia bermain dalam Babel. Keduanya mendapat nominasi Oscar dan Golden Globe sebagai aktris terbaik dan aktris pendukung terbaik.
Judi Dench berperan sebagai Barbara Covett seorang guru senior yang disegani. Blanchett berperan sebagai Sheba Hart, guru seni yang baru. Mulanya obsesi Barbara pada Sheba hanya dituang dalam bentuk diari. Namun kesempatan agar bisa lebih dekat dengan Sheba muncul ketika Barbara mengetahui Sheba menjalin affair dengan murid pria berusia 15 tahun.
Sebagai bayaran untuk tidak membocorkan rahasianya, Sheba harus menjadi sahabat Barbara. Dan Sheba pun harus berjanji untuk memutuskan hubungan dengan Steven, si anak remaja itu. Barbara memasuki kehidupan Sheba, masuk hingga ke dalam kehidupan Sheba dan keluarganya. Terikat dalam rahasia dan obsesi bersama. Jika Barbara terobsesi pada Sheba, Sheba tidak bisa menghentikan obsesi cintanya pada Steven. Sheba yang memiliki suami dan dua anak, bahkan anak perempuannya seumuran dengan remaja yang ditudurinya, tidak bisa tidak jatuh cinta terhadap bocah lelaki itu.
Makin lama obsesi Barbara pada Sheba makin gila. Hingga suatu hari kemarahan Barbara meledak ketika mendapati Sheba ternyata masih menjalin affair dengan si ABG dan tidak menomorsatukan dirinya dalam kehidupan Sheba.
Film ini disutradarai oleh Richard Eyre yang pernah menyutradarai Iris dan Stage Beauty. Dua film yang juga memiliki unsur homoerotisme. Jika Anda suka dua film tersebut, bolehlah menonton film ini, karena Notes on Scandal memiliki nuansa seperti karya Richard Eyre sebelumnya. Diangkat dari novel yang mendapat nominasi Booker Prize karya Zoe Heller, film ini mendapat banyak kritik karena dianggap menggambarkan tokoh lesbian secara negatif. Namun untungnya sekali lagi kepiawaian akting semua pemeran dalam film ini bisa membuat segalanya termaafkan.
Sejujurnya, saya tidak menyarankan Notes on Scandal sebagai film yang harus ditonton KECUALI kau orang yang bisa menikmati kepiawaian akting aktor-aktor dalam film. Kekuatan film ini jelas di akting tak bercela Judi Dench dan Cate Blanchett. Kau bisa merasakan betapa dahsyatnya akting mereka menembus layar yang kautonton hingga membuatmu merinding.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Suatu malam partner berfilosofi, “Siapa yang kaupilih jadi pasanganmu bisa menyeretmu ke jurang kehancuran atau mengangkatmu ke surga tertinggi.”
Pernyataan tersebut mengingatkan pada seorang sahabat lesbian yang sudah saya kenal lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika pertama kali berkenalan, sebut saja namanya Ellie, tinggal bersama partnernya di sebuah rumah petak berkamar satu di dalam gang kecil yang cuma muat dilewati sepeda motor. Waktu itu dia sedang cuti kuliah, padahal tinggal 2 semester lagi selesai dan berusaha mencari bisnis kecil-kecilan sebelum uang tabungannya telanjur ludes untuk biaya hidup. Saat itu masanya krismon menjelang akhir tahun 90-an, dan partnernya yang pengangguran mengaku sedang kesulitan mencari pekerjaan.
Deraan kesulitan ekonomi sering membuat mereka bertengkar, ditambah lagi partnernya ternyata gemar berjudi membuat hubungan mereka makin buruk. Yang satu menyalahkan yang lain. Hingga suatu hari Ellie tidak tahan dan menelepon ibunya yang tinggal di kota lain sambil menangis bercucuran air mata, tak tahan lagi. Betapa kagetnya saya ketika tahu siapa ayah Ellie, rumah petak tempat tinggalnya mungkin cuma seukuran kamar tidurnya yang megah di rumah ayahnya yang seluas lapangan bola. Ayahnya adalah seseorang yang punya nama besar di negara ini. Dan ketika mendapati putri kesayangannya lesbian, tidak ada jalan lain bagi sang ayah yang punya karakter sama-sama keras kepala seperti putrinya selain “melepaskan” sang putri untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Kabur dari rumah dan rela hidup susah demi cinta asal bisa bersama dengan orang yang kita cintai mungkin romantis ketika kita baca dalam novel atau tonton dalam film. Tapi kenyataan begitu keras menimpa Ellie, sampai-sampai dia jatuh bergedebuk keras hingga memar sekujur tubuh. Untungnya ibu Ellie adalah mediator andal, ia diam-diam membantu putrinya dengan mengirim uang tanpa sepengetahuan ayahnya agar Ellie paling tidak bisa terus kuliah, sambil terus mendinginkan hati ayahnya dan mengingatkan lelaki tua itu bahwa Ellie adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga.
Ibunya adalah perempuan luar biasa. Ketika akhirnya saya berkesempatan bertemu dengan ibunya, dia bilang pada saya agar membantu menjaga Ellie. “Lex, tolong bantu jaga dia ya, Tante cuma berharap Ellie bisa ketemu pasangan yang baik, terserah deh laki atau perempuan. Tante nggak tahan liat Ellie hidup menderita kayak gini.”
Untungnya hati sang ayah pun perlahan-lahan ikut luluh, itu pun karena Ellie sudah putus dari pacar perempuannya karena si bajingan pengangguran itu kedapatan punya cewek lain. Agh, jangan bayangkan adegan ala sinetron di mana setelah bertengkar hebat sang ayah memeluk putri tercintanya kemudian berkata, “It’s okay, Nak. Papa nerima kamu apa adanya.” Tidak. Ayah dan anak perempuannya ini sudah melewati titik “point of no return” dan Ellie sudah tidak bisa lagi jadi gadis kecil kesayangan ayah saat memutuskan "keluar" dari rumah.
Berhentikah Ellie jadi lesbian ketika cintanya dikoyak dan dikhianati perempuan? Tidak. Dia menemukan perempuan lain yang mengisi hidupnya. Kali ini, ayah dan ibunya sudah “menutup mata”, terserah deh putrinya mau sama siapa, selama orang itu bisa menyayangi Ellie dengan baik. Kali ini Ellie menemukan perempuan karier yang sukses, yang dijamin takkan membuatnya tinggal di gang sempit. Ellie tinggal bersama sang kekasih barunya, mengikuti sang kekasih layaknya istri yang baik ketika sang kekasih ditugaskan ke luar negeri, tinggal berdua di rumah baru yang mereka beli berdua ketika kembali ke Jakarta. Ibu dan ayah Ellie pun tidak lagi menguarkan aroma kebencian saat berkumpul bersama putri kesayangan dan “menantu” mereka.
Life goes on, and sometimes shit happens. Suatu hari, selewat lima tahun hubungan mereka pupus karena konon sang kekasih berselingkuh dengan perempuan lain. Lalu mulailah episode baru patah hati yang menyakitkan ditambah perebutan harta gono-gini yang melelahkan dan seru ibarat nonton episode Insert secara langsung. Di antara kekesalan dan kekecewaannya ibu Ellie berkata, “jika Ellie bukan lesbian, sekarang dia pasti sudah punya anak dan suami yang sayang sama dia, bukannya seperti sekarang setiap beberapa tahun sekali harus sakit hati.” Penyesalan terbesar ibu Ellie ternyata bukan punya putri lesbian, tapi karena Ellie selalu menemukan pasangan yang menyeretnya ke jurang.
Saya percaya semua orang layak mendapat cinta, apa pun bentuknya. Demikian juga Ellie. Namun semestinya dia tidak perlu mencium 1000 kodok dulu agar bisa menemukan pangerannya (eh, mungkin dalam hal ini putri). Selama ini Ellie hanya menemukan kodok-kodok yang dikirannya jelmaan putri, namun nyatanya mereka cuma kodok yang hobi melompat hingga terjun bebas ke jurang dan menyeret Ellie ikut serta.
Menyesalkah Ellie terlahir sebagai lesbian? Jelas tidak.
Menyesalkah Ellie coming out pada orangtuanya? Maybe yes, maybe no.
Penyesalan terbesar Ellie adalah ia tidak mampu menunjukkan diri kepada orangtuanya bahwa dia bisa jadi lesbian yang punya hubungan solid dan pasangan yang bisa mengangkatnya ke surga tertinggi agar orangtuanya tidak selamanya menyesali dan bertanya, “Kenapa, Ellie? Kenapa?”
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai16 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)
