3:56 PM

Stereotipe Lesbian di Mata Perempuan (Hetero)

Posted by Anonymous |

Bagian I
Di antara kalian berdua, siapa yang jadi cowoknya?
Hayo, seberapa sering pertanyaan semacam itu kita dengar? Saya, yang bekerja di lingkungan yang didominasi perempuan, dan menjalin persahabatan dengan banyak perempuan hetero sampai hanya bisa memutar bola mata setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu. Entah mengapa, konsep hubungan tanpa peran lelaki itu membuat mereka bingung, dan dalam pikiran mereka juga, lesbian yang cewek banget harus menjalin hubungan dengan lesbian macho bak laki-laki.
Biasanya pertanyaan itu hanya saya jawab dengan senyum manis, dan, “Mbak, ini nggak ada cowoknya gitu lho... dua-duanya cewek.”

Biasanya ada yang langsung menelan jawaban itu, namun ada pula yang keukeuh bertanya, “Bukannya ada tuh lesbi yang cowok banget? Yang kayak laki?” Hm, mulailah saya, yang tadinya enggan, memberi penjelasan panjang-lebar soal butch, femme, dan andro dalam hubungan lesbian. Halah, ternyata penjelasan saya itu membuat mereka jadi tambah yakin tentang pembagian peran laki-perempuan dalam hubungan lesbian. Waks, ternyata salah nih, mungkin tidak seharusnya saya cerita tentang butch, femme, dsb itu. Hhhh... aku dan mulut besarku :p

Hm, akhirnya setelah capek ngasih keterangan yang makin lama makin nggak jelas, saya bertanya, "Mau gue pinjemin film-film L gue nggak?"
"Bokep ya?" tanya teman saya dengan wajah jijik.
"Bukanlah, (plis deh, emangnya cewek apaan?) film drama lesbian biasa. Elo nonton aja deh, ambil kesimpulan sendiri. Pusing gue nerangin soal ini."
Akhirnya sahabat saya itu jadi satu sahabat yang rajin meminjam film-film saya... banyak film yang pernah diresensi di blog ini sudah dia tonton, bahkan ikutan milis The L Word... dasar gokil tuh cewek :).

Hhh, mendadak ingat The L Word season 2 saya dipinjam siapa ya?

Bagian 2
Bagaimana sih caranya? Well, sebenarnya sih ini pertanyaan yang juga muncul di benak lelaki hetero bahkan lelaki gay. Bagaimana caranya lesbian melakukan hubungan? Emangnya bisa menikmati hubungan tanpa “itu”--- "itu" maksudnya alat kelamin lelaki---? Atau beragam pertanyaan turunannya. Buat saya, jawaban, “Sini deh, gue praktekin,” adalah jawaban basi basi banget.

Biasanya kalau mendapat pertanyaan itu, saya menampilkan senyum semanis mungkin lalu saya menjawab dengan wajah prihatin, “Wah, lo kasian sekali ya nggak ngerti tentang konsep orgasme pada tubuh perempuan.” Lalu saya beri penjelasan panjang-lebar tentang orgasme klitoris, orgasme vaginal. Bagaimana tubuh perempuan itu begitu ajaibnya sehingga kita diberkahi klitoris yang gunanya cuma satu, yaitu menjadi pusat kenikmatan buat perempuan.

“Ah, elo belum pernah coba sih, jadi nggak tau enaknya sama lelaki,” timpal sahabat saya sambil cekikikan.
“Sapa bilang nggak pernah coba? Sebelum memutuskan suka burger atau tempe, harus coba dua-duanya dong,” sahut saya.
Sahabat saya kaget, dan bertanya lagi. “Lha emangnya lo pernah sama lelaki?”
Hihihi, saya hanya cengengesan dan berlalu tanpa menjawab.


Bagian 3
“Emang lo pernah disakitin laki-laki ya sehingga jadi lesbian?”
Haduh, gubrak, bletak... Pertanyaan ini tahun 90-an banget sih? Jadoel gitu lho, Sis! (maksudnys Sis di sini sister, bukan Siska :p) Huaaaaaaaaah. Jadi inget cerita-cerita di rubrik "Oh Mama Oh Papa" geto, “Aku Jadi Lesbian Karena Dikhianati Lelaki.” Halah.... plis deh.

“Sis, tau nggak sih, justru aku yang menyakiti laki-laki sampai bercucuran air mata terakhir kali putus ama laki.”
“Kamu belum ketemu lelaki yang baik, kali?” Dilanjutkan dengan ceramah sahabat saya bahwa di dunia ini masih banyak lelaki baik, tidak semua lelaki bajingan, dll... blablabla, yatayatayata...
“Duh, gini lho, mbak, eh, sis..., aku tuh nggak ada masalah sama lelaki.”
Sahabat saya itu memandang heran, di matanya terungkap pertanyaan yang tak ditanyakannya, Kalau nggak ada masalah, kok nggak sama laki aja?

Saya pun melanjutkan, menjawab pertanyaan tak terucapkan itu. “Gini lho, sis, aku tuh nggak benci atau sakit hati sama lelaki. Tapi masalahnya adalah ketidakmampuanku membayangkan hidup bersama lelaki. Eits, bukan soal seksnya... karena mekanismenya tidak ada masalah buatku. Tapi membayangkan diriku pulang ke rumah, pulang ke lelaki, itu yang tak pernah bisa membuatku nyaman dan bahagia.”

Melihat Si Sis ini masih bingung, saya lanjutkan, “Seperti kamu dan suamimu. Bagaimana kamu bahagia bisa berbagi bersama suamimu. Melakukan hal-hal yang mungkin sepele. Nonton TV, makan, pijat-pijatan, atau apalah. Pulang kerja ke rumah, menunggunya atau ditunggu olehnya... rasanya klop, kan? Rasanya at home? Nah itu yang hanya bisa aku rasakan dengan perempuan.”

Lalu sahabat saya mengangguk-ngangguk, entah mengerti atau tidak. Kalau dia masih bertanya lagi, biar nanti saya pinjami dia DVD The L Word atau film-film lesbian lain yang saya punya. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2007

Gray Matters adalah salah film chick flick alias film cewek dengan pemeran utama yang tampan dan cantik. Heather Graham, Tom Cavanagh, dan Bridget Moynahan berperan sebagai Gray, Sam, dan Charlie dalam film “lesbian” ala Imagine Me and You dan Kissing Jessica Stein. Duh, kalau di film seperti ini lesbiannya cantik semua... :)

Gray dan Sam adalah pasangan kakak-beradik berusia 30an yang seiya sekata. Mereka punya hobi yang sama seperti berdansa dan menyukai film-film lama, selalu bisa saling mengisi, dan tinggal seapartemen di wilayah elit New York. (Bukan, ini bukan film inses kok :p) Tapi ketika Gray dan Sam bertemu Charlie, hubungan mereka berubah. Sam langsung jatuh cinta dan melamar Charlie lalu berencana menikah di Las Vegas minggu depannya.

Bersama sang calon ipar, Gray menikmati kebersamaan antar-perempuan, seperti shopping, bergosip, gila-gilaan di bar, dan berendam bareng di bathtub (eh, yang terakhir ini rada maksa sebenarnya). Masalah timbul ketika tanpa sengaja Gray dan Charlie berciuman ketika Charlie mabuk berat. Gray panik berat menyadari dirinya kemungkinan lesbian dan jatuh cinta pada calon iparnya.


Dan di sinilah masalah dimulai. Bagi Gray dan juga bagi filmnya. Sang sutradara dan penulis skenario, Sue Kramer, tampaknya bingung dengan arah film karya pertamanya ini. Dan akhirnya dia memutuskan bermain aman dengan membahagiakan penonton lesbian maupun penonton hetero. Jadi jangan harapkan ending ala Imagine Me and You di film ini. Akibatnya Gray Matters akhirnya menjadi film yang “nanggung” buat penonton lesbian dan penonton hetero. Buat saya ada juga beberapa adegan “nggak penting” yang mestinya dihapus, dan diganti dengan adegan yg lebih terfokus pada cerita.

Bintang tamu Alan Cumming dan Rachel Shelley membuat penonton film ini jadi teringat The L Word, bahkan ada adegan mirip adegan di The L Word, ketika Gray dan Charlie ngobrol di akuarium. Akting Bridget Moynahan masuk kategori "plis deh".... untungnya dia sering pamer bodi dengan jalan-jalan memakai lingerie :p. Heather Graham yah gitu deh... seperti aktingnya biasa sebagai cewek pirang cantik dan manis ala Meg Ryan gitu. Nggak jelek, saya suka dia ketika meneteskan air mata. Yang bagus adalah akting Molly Shannon sebagai Carrie rekan kerja Gray yang heboh dan bisa mencuri layar beberapa kali.

Sejak Kissing Jessica Stein dirilis tahun 2001 dan Imagine Me and You tahun 2005, produser film mainstream di Hollywood sana tampaknya melihat kemungkinan membuat film cewek dengan twist lesbian. Namun sayangnya Gray Matters masih jauh di bawah kedua film sebelumnya. Setting di New York seperti Sex and the City, Serendipity, dan You’ve Got Mail, sebenarnya asyik untuk dibuat sebagai chick flick yang kuat dengan tokoh utama cewek lajang di kota besar. Sementara ini baru Kissing Jessica Stein yang berhasil dengan menambahkan twist lesbian. Seandainya sang sutradara lebih berani dan nakal sedikit, pasti hasil Gray Matters akan beda.

Duh, kok bikin reviewnya bikin orang ill-feel nggak mau nonton ya? Hm, gini deh, kalau Anda suka Helena di The L Word, senang liat film cewek ala Meg Ryan, Drew Barrymore, Sandra Bullock, suka setting New York, suka melihat cewek cantik berjalan-jalan dengan lingerie, dan suka happy ending, silakan nonton film ini. Tapi janganlah berharap terlalu banyak.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

10:36 PM

Mukzijat Berpikir Positif

Posted by Anonymous |

Tidak, saya tidak ingin menulis resensi buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul The Secret karangan Rhonda Byrne yang bestseller di mana-mana. Tapi tulisan ini memang terinspirasi dari buku tersebut. Konon, pikiran positif akan menarik hal yang positif demikian pula pikiran negatif akan menarik hal negatif. Saya selalu percaya bahwa pikiranmu adalah yang menjadi surga atau nerakamu di bumi. Berpikir positif akan membuat kita sehat dan bahagia, sementara pikiran negatif aku memakanmu pelan-pelan seperti parasit. Merasa bahwa diri merupakan makhluk paling menderita di muka bumi ini dan mengeluh tanpa henti tentang betapa naas hidupnya bisa dipastikan itulah realitas yang terus-menerus terjadi padanya bak lingkaran setan.

Ah, izinkan saya bercerita tentang perjalanan hidup seorang perempuan. Alkisah, ada seorang perempuan, yang setamat sekolah menengah tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi karena pada zamannya perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya dia hanya perlu jadi istri dan ibu rumah tangga. Padahal dia punya kecerdasan dan potensi untuk meneruskan sekolah. Akhirnya perempuan itu pun menikah, yang untuk ukuran zamannya termasuk telat menikah. Bersama suaminya yang tampan namun mata keranjang, ia punya lima anak.

Hidupnya mengalir terus hingga mendekati setengah abad, dan suaminya meninggal, meninggalkan anak bungsu berusia 5 tahun dan anak kedua yang terpaksa tidak bisa kuliah karena keluarganya bisa dibilang bangkrut karena habis membiayai pengobatan almarhum suaminya yang menderita kanker. Untuk pertama kalinya saya melihat perempuan itu menangis ketika suaminya meninggal. Tapi ketika masa berkabung selesai, tangisannya berhenti dan hidupnya berlanjut. Dia tidak menganggap hidup tidak adil atau mengeluh pada semua orang tentang betapa menderita dirinya yang harus menjadi janda.

Untuk membiayai kebutuhan keluarga perempuan setengah baya ini harus kembali lagi masuk ke dunia kerja, apalagi karena salah seorang anaknya bersekolah di SLB yang biayanya cukup besar kala itu. Lalu perlahan-lahan hidupnya membaik, dan akhirnya dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri di rumah. Tiap hari bangun pukul 4 pagi, menyiapkan makanan untuk dijual, tapi menurutnya itu masih lebih baik daripada harus pergi bekerja ke luar rumah. Tidak ada satu hari pun dia merasa hidupnya menderita, tiap hari di rumahnya selalu ada tawa dan keramaian walaupun tidur beralaskan tikar.

Tidak pernah sekali pun saya mendengar keluhan terdengar dari mulutnya. Mengeluh capek pun tidak pernah. Bahkan saat kanker menyerangnya ketika usianya mendekati 70 tahun pun, dia menghadapinya dengan tenang. Tidak ada rasa takut mati saat dia didiagnosis menderita kanker. Ketika satu payudaranya harus diangkat akibat masektomi pun dia tetap berpikir positif. Sudah tua tidak perlu dua payudara lagi, itu katanya berusaha santai. Di rumah sakit dia jadi pasien favorit suster-suster di sana karena selalu ceria dan diajak jadi "motivator" pasien-pasien kanker lain. Bahkan pengobatan pasca-operasi yang melelahkan pun dilewatinya bak angin lalu dan tawa. Lima tahun lebih sejak dia diagnosis kanker payudara, dan sudah hampir lima tahun pula dia dinyatakan bersih dari kanker.

Cobaan untuknya ternyata belum berakhir, karena beberapa tahun lalu anak pertamanya meninggal dunia secara mendadak. Dia menangis, tapi tidak mengeluh dan bertanya kenapa Tuhan memperlakukannya tidak adil. Dia tidak pernah bertanya kenapa hidupnya tidak bisa “seenak” orang lain. Rumahnya selalu jadi “rumah singgah” orang-orang yang di mata orang lain loser. Tapi buat perempuan itu dia belajar bahwa hidupnya masih lebih beruntung dibanding orang-orang lain. Bukannya marah dengan rumah kontrakan yang bocor dan retak-retak, putra kesayangannya diambil Tuhan, atau menganggap anaknya tidak berbakti padanya, dia bersyukur setiap hari karena masih punya tempat bernaung, kesehatan yang baik walaupun tidak sempuna, dan makanan setiap hari.

Setiap hari seumur hidup saya, saya melihat perempuan yang juga ibu saya tersebut menjalani hari demi hari dengan pikiran positif. Sebut saja pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", "Semua Terjadi Karena Ada Alasannya." "Masih Ada Cahaya di Ujung Terowongan." dsb, itulah karakter ibu saya. Yah, ibu saya bukan manusia yang tak pernah salah dan tanpa cela, tapi dia adalah manusia yang paling berpikiran positif yang saya kenal. Saya kagum dengan kemampuannya untuk berpikir positif dan terus belajar... duh, ada berapa nenek-nenek sih yang minta diajari chatting dan video call?

Saya melihat bagaimana pikiran positif ibu saya itu menghasilkan mukzijat-mukzijat yang tak pernah terbayangkan. Uang masuk kuliah saya didapat dengan cara yang begitu ajaibnya hingga sampai sekarang saya sering merasa itu benar-benar hasil dari dukungan alam semesta berkat keinginan positif dan kuat kami berdua (udah bener-bener seperti sinetron deh...). Pekerjaan yang sekarang saya geluti merupakan pekerjaan impian saya sejak SMA, meskipun saya menghabiskan dua tahun setelah lulus kuliah jadi “pengangguran” demi memuluskan jalan memperoleh pekerjaan itu. Saya sadar jika dua tahun itu saya hanya menempatkan diri saya dalam kubang derita, mengasihani diri sendiri, dan tanpa mau belajar, pekerjaan itu takkan pernah saya dapatkan sampai sekarang.

Menjadi lesbian pun tidak pernah membuat saya meratap dan mengais-ngais derita buat diri saya sendiri. Saya tidak pernah merasa terbuang, terpinggirkan, terhina sebagai lesbian. Seperti yang saya katakan pada seorang sahabat baru saya, "Saya menolak 'menciptakan' neraka dalam hidup saya saat ini dengan membiarkan diri saya tidak bahagia dan jadi manusia yang tidak sehat dengan memandang diri saya secara negatif."

@Alex, RahasiaBulan, 2007

11:16 AM

After-Glow Sex, Orgasme, dan Masturbasi

Posted by Anonymous |

Akhir pekan saya bertemu dengan seorang sahabat lesbian yang wajahnya memancarkan after-glow sex yang berbinar terang. Kebahagiaan tampak jelas di wajahnya. Dalam hati saya berpikir, after-glow ini pasti bukan sekadar seks atau orgasme multipel, pasti ada limpahan cinta mahadasyat antara sahabat saya dan partnernya yang sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun hingga membuat dia bisa bercahaya seperti itu. Ah, kok saya merasa seperti jadi Carrie Bradshaw di Sex and the City ya?

Saya percaya bahwa hubungan seks yang sehat dengan partner yang kita cintai akan membuat tubuh dan jiwa makin bugar dan segar. Para pakar seks (maksudnya pakar di sini bukan pelaku aktif ya, melainkan ilmuwan gitu) menyatakan bahwa kegiatan seks dengan orgasme secara teratur bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Misalnya; sakit kepala, stres, susah tidur, atau memperlancar peredaran darah, meningkatkan daya tahan tubuh, membakar kalori, bahkan mengurangi risiko kanker, dll.

Kenapa bisa demikian? Karena setiap kali orgasme tubuh melepaskan hormon oxytocin. Dan riset membuktikan peningkatan jumlah oxytocin dalam tubuh bisa mengilangkan sakit/nyeri, sakit kepala, keram PMS atau saat menstruasi, dan nyeri tubuh ringan lainnya. Makanya jika Anda flu atau sakit kepala ringan, jangan langsung beli obat di apotek, cobalah mengajak pasangan Anda untuk “mengobati”nya lebih dulu. Lho, tapi bagaimana jika partner tidak available saat dibutuhkan? Tenang aja.... masih ada yang namanya masturbasi.

Bagi saya sah-sah saja jika seseorang yang sudah punya partner lalu melakukan masturbasi. Perempuan yang orgasme secara teratur bersama partnernya maupun masturbasi biasanya lebih bahagia dan tidak mudah berselingkuh dari pasangannya. Lagi pula, tidak setiap saat partner available untuk jadi “mesin seks” Anda, kan? Masturbasi adalah cara yang sehat, gratis, dan aman buat perempuan untuk memperoleh orgasme. Kenapa? Seperti yang saya sebut di atas, oxytocin yang terlepas setiap kali terjadi orgasme, membuat tubuh rileks, tenang, dan tidur lebih mudah

Banyak mitos yang saya pikir aneh yang membuat seolah-olah masturbasi adalah tindakan “kotor” terutama buat perempuan. Masturbasi bukanlah sekadar fase yang kita lakukan semasa abege atau tidak pantas lagi dilakukan saat kita sudah dewasa dan terutama saat kita sudah punya partner. Lho, memangnya kalau umur bertambah gairah seks juga habis? Masturbasi bukanlah perbuatan orang-orang kesepian yang menyedihkan, tapi tindakan penyaluran kebutuhan seks sehat yang paling aman.

Anggapan bahwa perempuan yang sering melakukan masturbasi adalah bukan “perempuan baik-baik” karena tidak bisa menahan nafsunya adalah anggapan paling konyol yang pernah saya dengar. Lelaki dan perempuan yang normal dan sehat memiliki dorongan seks yang normal dan sehat pula, tapi bagaimana menyalurkannya adalah suatu tindakan yang membutuhkan kedewasaan. Anda bisa menyalurkannya dengan berganti-ganti pasangan, atau bisa dengan masturbasi, bagi saya kedewasaan lebih ditentukan dengan cara itu. Ada juga yang bilang keseringan masturbasi bisa bikin bego, gila, buta, jerawatan, rambut rontok, atau entah apa lagi hal buruk untuk kesehatan. Padahal riset sudah membuktikan bahwa orgasme rutin baik untuk kesehatan... yah, selama dilakukan dalam porsi wajar, karena kalau masturbasi dilakukan tiap hari 3x sehari seperti makan obat sih buat saya udah kelewatan...

Hal terpenting bagi saya adalah masturbasi membantu perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Secara teori, perempuan yang tahu bagaimana memuaskan dirinya biasanya juga lebih piawai memuaskan pasangannya, terutama untuk pasangan lesbian. Duh, secara onderdilnya sama gitu lho... Perempuan juga jadi lebih tahu bagaimana cara respons tubuhnya terhadap rangsangan tertentu . Bila sudah demikian, perempuan tersebut akan tahu bagaimana cara melakukan hubungan yang lebih memuaskan dengan pasangannya sehingga hubungan pribadi pun bisa bertahan lama. Mau tidak mau harus diakui bahwa seks memegang peran penting dalam hubungan lesbian.... yah, kalau cuma pegangan tangan aja sih, sama teman juga bisa. :)

Perempuan yang tidak pernah merasakan orgasme biasanya juga tidak memancarkan sex appeal, dan membuatnya tampak tidak menarik dan kusam di hadapan orang lain. Di mata saya, sex appeal bisa terlihat jelas dari perempuan yang memperoleh orgasme secara rutin dan sehat. Ah, seperti kisah awal saya tadi, bagaimana sahabat saya tampak berbinar memancarkan after-glow sex yang dahsyat... saya yakin dia mendapat orgasme secara teratur....

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Sejujurnya, saya menganggap diri saya tidak cukup mumpuni untuk membahas Anais Nin. Bagi saya, menguliti buku karya Anais Nin mungkin selevel dengan menyelesaikan tesis. Tapi seorang sahabat baik memberikan buku Delta of Venus ini untuk saya pada tahun 2006 (thanks, Rose :p), dan buku itu teronggok terus di meja saya, memanggil saya untuk mereviewnya.

Anais Nin adalah salah satu dari pengarang perempuan legendaris. Dan Delta of Venus merupakan buku klasik yang keberadaannya tak terkikis masa. Ia lahir di Paris tahun 1903 berdarah campuran Spanyol, Kuba, dan Prancis dan meninggal pada tahun 1977 di Los Angeles. Anais Nin menghabiskan masa kecilnya di berbagai wilayah di Eropa hingga pindah ke Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1924-1939 bersama suaminya Anais Nin pindah ke Prancis. Ia menulis cerita-cerita pendek erotis ini pada tahun 1940-an untuk kolektor pornografi dengan bayaran satu dolar per halaman. Namun kumpulan cerita ini baru diterbitkan pada tahun 1969.

Bicara tentang karya Anais Nin, tidak bisa lepas dari erotika dan diari. Beberapa pengarang perempuan dari Indonesia seperti NH. Dini dan Ayu Utami sering dipersamakan dengan Anais Nin. NH. Dini dan Anais sama-sama diarist atau orang yang menulis novel berdasarkan kisah hidup mereka, NH Dini punya Seri Kenangan, sementara Anain Nin punya The Diary of Anais Nin. Dan Ayu Utami dianggap perempuan yang mendobrak budaya sastra Indonesia dengan bukunya yang “berani” dan mengandung unsur seks tinggi seperti karya-karya erotika Anais Nin. Meskipun, bagi saya setelah membaca Delta of Venus, unsur seks dalam Saman "tidak ada apa-apanya".

Membaca Delta of Venus berarti membaca imajinasi dan fantasi seksual seorang Anais Nin. Buat yang pernah menonton Henry and June---yang diangkat dari kisah hidup Anais ketika menjalin hubungan affair dengan pengarang Henry Miller dan istrinya June Mansfield---kita tahu bahwa Anais dipandang sebagai orang yang memiliki pandangan seksual bebas dan fluid.

Dalam Delta of Venus, kita bisa membaca pengalaman imajinasi seksual perempuan yang ditulis dengan sentuhan detail yang berbeda dengan tulisan yang ditulis laki-laki. Ya, 15 cerita pendek dalam Delta of Venus adalah cerita-cerita erotis dengan unsur pornografi di sana-sini. Incest, pedofilia, lesbian, homoseksual, biseksual semuanya ada di sini. Namun jangan bayangkan cerita-cerita dalam Delta of Venus ini adalah cerita yang cuma bikin horny. Beberapa cerita terasa gelap dan disturbing. Ambil contoh cerita pertama, The Hungarian Adventurer, yang mengambil tema pedofilia atau The Boarding School yang bercerita tentang perkosaan antara lelaki dan lelaki. Buat sebagian orang mungkin ada cerita yang begitu disturbing sehingga membuat muak.

Dua cerita favorit saya adalah Lilith dan Mallorca. Mallorca bercerita tentang Maria, putri nelayan yang cantik, yang suatu hari bertemu dengan perempuan yang memesona. Mereka bermain di air dan saling menggoda... lalu ternyata perempuan yang ditemui Maria itu berubah menjadi laki-laki dan mereka pun bercinta dengan penuh gairah. Lilith lebih mengandung unsur humor, dikisahkan bahwa Lilith perempuan yang tidak memilik hasrat seks, hingga suatu hari dia mengira dirinya habis menelan obat bius saat menonton bioskop bersama sahabat perempuannya. Dan saat Lilith mengira dirinya di bawah pengaruh obat, dia jadi “berani” mendekati sahabat perempuannya itu.

Bisa dibilang Delta of Venus merupakan salah satu karya terbaik dalam dunia sastra erotika. Anais Nin tidak main-main dalam mengekplorasi seks dalam 15 cerita yang terdapat dalam buku ini. Mulai dari sisi gelap, lembut, seksi, puitis, hingga kasar. Beberapa cerita memang ada yang mengutik unsur lesbian, tapi secara umum Delta of Venus adalah membaca pengalaman, imajinasi, dan fantasi seks serta erotika dari mata perempuan yang hidup melebihi zamannya.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe