Seperti apa sih dunia dengan akhir bahagia buat kaum homo/lesbi? Apakah akhir yang bahagia cuma utopia bagi kita? Saya tidak bermaksud sinis lho. Ini cuma pertanyaan wajar yang timbul setelah ber-SMS-an dengan seorang sahabat. Dia (perempuan) bercerita bahwa kekasihnya (perempuan) hendak menikah dengan lelaki karena memang itulah yang seharusnya terjadi, kan? Perempuan menikah dengan lelaki lalu memiliki anak dan keluarga. Tidak peduli betapapun cintanya sahabat saya terhadap perempuan kekasihnya itu, mereka tidak bisa bersatu. Lalu sahabat saya bilang, kekasihnya mengajak mereka tetap menjalin hubungan setelah dia menikah nanti. Halah! (Saya sih menyarankan agar dia putus aja sama pacarnya sekarang, daripada sakit hati nanti, --red)
Duh, kenapa ya kasus-kasus semacam ini sering terjadi dalam banyak hubungan sesama jenis?
Dalam dunia utopia versi saya, dengan atau tanpa legalitas pernikahan sesama jenis, seharusnya kita bisa punya hak untuk bersama orang yang kita cintai. Namun jelas itu cuma utopia. Kita hidup berpagarkan norma-norma yang seharusnya jadi penjaga diri kita. Atau agama, misalnya, yang jadi pondasi hidup kita. Atau keluarga yang jadi atap dalam kehidupan kita. Dan semuanya tentu saja tidak bisa tinggalkan begitu saja. Untuk bisa hidup bersama orang yang kita cintai, sebagai homo/lesbi, banyak dari kita yang harus meninggalkan rumah yang nyaman tersebut, yang selama ini jadi tempat kita bernaung. Jelas tidak banyak yang memilih untuk itu. Dan hanya segelintir orang yang beruntunglah yang bisa mendapat pengakuan dari orang-orang terdekat dalam hidupnya.
Eniwei, balik lagi ke sahabat saya itu, dia bilang dia sudah terbiasa hidup “bersembunyi” karena itu satu-satunya cara bagi dia untuk bisa bersama kekasihnya. Saya bilang, saya tidak bisa hidup seperti itu. Dan sahabat saya bilang saya terlalu idealis karena saya sudah coming out. Partner hidup saya juga bilang saya menuntut terlalu banyak darinya soal pengakuan ini dan ingin menyeretnya menjadi orang yg dikenal sebagai lesbian. Halaaaah, bukannya dengan bersama saya pun dia sudah jadi lesbian? Bingung juga dengan logika berpikirnya.
Yah, mungkin akhir yang bahagia seperti hidup bersama pasangan kita hingga akhir hayat sampai maut memisahkan hanyalah utopia. Saya pribadi merasa saya tidak butuh selembar surat nikah yang resmi. Ayah dan ibu saya tidak pernah melegalkan pernikahan mereka hingga ayah saya meninggal, tapi orang-orang tetap menganggap saya anak dari ayah dan ibu saya. Ibu saya mendapat pengakuan di mata publik bahwa dia “menikah” dengan ayah saya, walaupun dalam banyak hal dia tidak mendapat hak istimewa yang seharusnya didapat oleh istri bila mereka menikah secara “legal”. Tapi paling tidak di mata saya mereka mendapat akhir yang bahagia. Paling tidak ibu saya bisa mendampingi ayah saya hingga akhir hayatnya.
Hal pertama yang terlintas ketika membaca sinopsis di sampul belakang Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba) adalah… “Hmmm, ada lagi satu buku yang mengeksploitasi lesbian dalam karya fiksi.” Karena kebetulan tokoh utama novel karangan Alberthiene Endah ini adalah seorang perempuan lesbian bernama Arimbi yang juga merupakan pecandu narkoba.
Buku ini ditulis dengan gaya laporan wawancara dengan Arimbi di panti rehab yang menceritakan kisah hidupnya kepada seorang wartawan. Kisah hidup Arimbi tertuang sangat lancar sehingga sulit bagi kita untuk meletakkan buku ini sebelum selesai. Halaman demi halaman menunturkan kisah hidup Arimbi yang anak orang kaya dan memiliki orangtua yang punya nama besar. Orangtua yang tampak harmonis dan bahagia meskipun di dalamnya bobrok dan saling menyakiti. Arimbi jadi anak yang bingung, apalagi ketika perlahan-lahan kesadaran bahwa dirinya beda dengan cewek-cewek lain mulai merayap masuk ke dalam kesadarannya. Hingga ia mulai berkenalan dengan narkoba di masa SMU, dan akhirnya jadi pecandu berat.
Narkoba juga yang mengenalkan Arimbi pada Vela, gadis yang yang dicintainya. Gadis yang membuatnya rela melakukan apa saja asal bisa bersamanya. Cintanya pada Vela pula yang menyebabkan ia mati-matian ingin melepaskan diri narkoba dan kehidupan yang dibencinya.
Mempertanyakan apakah Arimbi jadi lesbian karena narkoba, atau apakah karena narkoba Arimibi jadi lesbian, sama dengan mempertanyakan paradoks ayam atau telur, mana yang lebih dulu muncul?
Tidak hanya mengupas hubungan cinta antara dua perempuan, Alberthiene Endah yang biasa dipanggil AE, juga menceritakan perbedaan tentang si kaya dan si miskin. Arimbi yang berduit bisa menikmati panti rehabilitasi narkoba yang mewah ala hotel bintang lima, sementara Vela harus “menikmati” panti rehab ala penjara yang penuh kekerasan.
AE menulis buku ini dengan irama yang teratur, membuat kita bisa merasakan gejolak Arimbi yang marah pada dunia dan orang-orang sekitarnya. Marah pada keadaan yang tidak ramah pada dirinya dan Vela. Makin lama saya baca Detik Terkahir membuat saya harus menelan dugaan awal saya tentang buku ini karena ini adalah buku yang amat sangat bagus, namun sayangnya difilmkan dengan hasil yang amat mengecewakan.
Untunglah, tidak hanya saya seorang saja yang menganggap ini buku yang bagus, karena Jangan Beri Aku Narkoba berhasil jadi pemenang Adikarya Ikapi th. 2005 untuk buku remaja terbaik.
catatan: Novel Detik Terakhir ini pertama kali diterbitkan dengan judul Jangan Beri Aku Narkoba th 2004, lalu dicetak ulang pada th 2006 dan judulnya diganti menjadi Detik Terakhir (sama seperti film jelek yang diperankan oleh Cornelia Agatha dan Sausan)
Kini, televisi, internet, berita, dll, memuat berita tentang homoseksual baik gay/lesbian nyaris sepanjang waktu. Bahkan koran utama seperti KOMPAS pun menampung tulisan Samuel Mulia secara rutin setiap hari Minggu, yang notabene sudah dikenal sebagai gay oleh masyarakat luas.
Saya kagum dengan keberaniannya untuk out pada tahun 1980-an ketika homoseksual bukan hanya dianggap tabu, namun masih dianggap suatu penyakit yang harus disembuhkan. Sebagai pemain tenis, Martina Navratilova sudah memenangi 59 gelar grandslam hingga pensiun kedua kalinya pada bulan September 2006 ini dalam ajang US Open sebagai kejuaraan terakhirnya. Pensiunnya Martina Navratilova kali ini ditutup dengan manis dengan memenangkan gandacampuran bersama Bob Bryan dan menang dengan angka 6-2, 6-3 melawan Kveta Peschke and Martin Damm, pasangan dari Ceko dan menjadi juara US Open ini.
Sebelumnya pada tahun 1994, Martina memang sudah pensiun dari dunia tenis single, lalu kembali lagi ke tenis pada tahun 2000 ketika usianya sudah 44 tahun untuk bermain di jalur ganda.
Martina Navratilova terlahir dengan nama Martina Šubertová pada tahun 1956 di Cekoslovakia. Gelar juara tenis profesional pertamanya diperolehnya di Orlando, Florida pada tahun 1974. Selama karier tenisnya, Martina Navratilova sudah memenangkan 167 gelar juara untuk single, dan 178 gelar juara ganda, dan keduanya merupakan rekor tertinggi yang belum bisa disaingi oleh petenisputra maupun putri. Dan selama 331 minggu dia merupakan petenis ranking #1 dunia.
Pada tahun 1975, ketika usianya baru 19 tahun pemain kidal ini membelot ke Amerika Serikat dan menjadi warga negara AS pada tahun 1981. Kini Martina Navratilova berniat menghabiskan masa pensiunnya di rumahnya di Florida, AS. Dia juga berencana akan terus menggiatkan diri menjadi aktivis untuk komunitas GLBT dan mempromosikan buku panduan kesehatannya.
My asshole boss asked me when we were at a recess in a meeting, "What is your sexual preference?"
There were about a dozen people in the meeting room. Arrrghhhh!!! Man! I thought, this boss is a real jerk!
Aduh, gue tuh kalo udah marah kenapa juga sering pake bahasa Inggris yak?
Gue bener2 nggak ngerti kenapa juga dia mesti nanya kayak gitu. Bukannya gue masih in-the-closet atau apa gitu, tapi caranya itu lho. Masa lagi pas istirahat makan siang sesudah rapat, si bos nanya kayak gitu. Gue nggak tau dia bener2 goblok atau lugu, tapi nggak layaklah dia jadi bos kalo nggak ngerti pertanyaan kayak gitu nggak pantas ditanyain di depan orang banyak.
Setelah dia tanya, gue masih kasih si bos kesempatan untuk narik kembali kata-katanya dengan menjawab, "Heh? Maksudnya apa ya?" Yah, siapa tau aja dia bakal bilang, "oh, nggak apa2. Saya cuma bercanda." atau apalah jawaban kayak gitu. Tapi ternyata si bos mengulang kembali pertanyaannya, "Apa preferensi seksual kamu?"
Oke, gue sih nggak masalah kalo preferensi seksual gue diketahui orang banyak, karena selama ini gue nggak pernah nutup-nutupin soal "preferensi" itu. Tapi caranya itu lhooooo... Gue jadi inget beberapa bulan sebelumnya, bos gue yg lebih bijaksana (atasannya si bos "lugu" itu), kita namain aja dia B1, menanyakan pertanyaan yang kurang-lebih sama. Tapi dia menanyakannya dengan cara yg jauh lebih bijaksana dan (menurut gue) elegan.
B1 bilang, "Saya tau soal "pilihan" hidup kamu. Dan buat saya tidak ada masalah. Apa kamu pernah merasa terdiskriminasi di tempat kerja ini karena "pilihan" kamu? Tidak, kan?"
Yup! Tanpa perlu B1 bilang pun, gue tidak pernah merasakan diskriminasi apa pun di tempat kerja saya. Bahkan gue berani bilang bahwa tempat gue bekerja merupakan tempat kerja yg gay-friendly. Dan banyak orang tau betapa bangganya gue kerja di tempat gue sekarang.
Gue tau omongan soal preferensi seksual gue udah digosipin orang sekantor. Yah, namanya juga gue nggak pernah nutup-nutupin kok. Ada juga beberapa teman kantor yg menanyakan soal itu, dan gue selalu menjawab jujur. Yes, I'm a lesbian. So what gitu loooh...
Fiuhhh, akhirnya dengan kesabaran ekstra, gue menjawab si bos dengan jawaban yang gue anggap pantas di depan selusin orang lain. “Yah, saya sih mengikuti ke mana angin bertiup, Bos.”
Puasssssssss, Bos??? Kalo masih nggak ngerti juga, silakan tanya lagi! Tapi sekali lagi ya, cara nanyanya itu lhoo!

gambar dari www.imdb.com
Annabelle adalah nama putri senator berusia 17 tahun yang dikirim ke sekolah Katolik berasrama agar bisa mengurangi sifat pemberontakannya. Penampilan Annabelle yang urakan dan sifatnya yang selalu menantang peraturan langsung menarik perhatian guru-guru di sekolah. Simone Bradley, salah satu guru di sana, sudah nyaris menyerah dalam mengatasi tingkah laku Annabelle ketika dia menyadari munculnya ketertarikan antara dirinya dan gadis itu.
Simone yang berusia 32 tahun berusaha keras menahan perasaan terhadap murid perempuannya itu. Namun Annabelle yang juga merasakan perasaan yang sama terhadap Simone tidak mau menyerah, hingga hubungan cinta “terlarang” pun terjalin antara mereka. Meskipun lebih muda dan masih di bawah umur, Annabelle-lah yang terus mengejar Simone hingga akhirnya sang guru menyerah dan membuka diri terhadap muridnya, dan perlahan-lahan mengungkap masa lalu Simone yang ternyata pernah “dekat” dengan sahabat perempuannya. Mungkin secara legal hubungan Annabelle dan Simone tidak bisa dibenarkan, tapi apakah salah jika cinta yang saling mengisi muncul antara dua perempuan?
Loving Annabelle adalah debut film Katherine Brooks, sutradara berusia 28 tahun, yang memulai kariernya dengan menyutradarai reality show MTV, di antaranya The Simple Life, The Osbournes, dan Newlyweds-Nick and Jessica. Brooks sudah menulis skenario film ini delapan tahun lalu sejak menonton Maidchen in Uniform, film Jerman buatan 1931 yang juga berkisah tentang hubungan asmara antara gadis muda dan gurunya di sekolah. Bisa dibilang Loving Annabelle adalah remake modern dari Maidchen in Uniform. Menurut Brooks ini bisa jadi kisah menarik karena percintaan sesama jenis apalagi antara guru dan muridnya yang dianggap tabu pada tahun 1930-an ternyata masih dianggap tabu sampai sekarang.
Untungnya film ini tidak semuram Lost and Delirious, yang juga berkisah tentang percintaan antara dua gadis di asrama Katolik yang diakhiri dengan ending yang benar secara moral dan tragis bagi tokoh lesbian. Apa pun kontroversi—berkisar antara hubungan guru dan murid atau percintaan sesama jenis—yang mungkin ada di benak penonton saat menyaksikan film ini, Brooks menyerahkan semuanya kembali kepada para penonton. Menurut sang sutradara, Loving Annabelle adalah kisah cinta yang tak perlu ditempeli macam-macam label.
*tulisan ini dimuat di majalah Mu-Phi
chapter 09 - August 2006
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai17 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)