Nick has a three-legged dog named Lucky, some pet fish, and two moms who think he's the greatest kid ever. And he happens to think he has the greatest Moms ever, but everything changes when his birth mom and her wife Jo start to have marital problems. Suddenly, Nick is in the middle, and instead of having two Moms to turn to for advice, he has no one.

Demikian sinopsis buku Between Mom and Jo ini. Nick remaja lelaki 14 tahun yang bernama lengkap Nicholas Nathaniel Thomas Tyler memiliki dua ibu. Satu ibu kandungnya, Erin, dan partner ibunya, Jo. Mom dan Jo memiliki sifat yang bertentangan. Mom orang yang hati-hati dan bertanggung jawab, sementara Jo serampangan dan tidak pedulian. Namun di mata Nick, keduanya adalah ibu yang terbaik. Yang satu mengisi kekurangan yang lain.

Dibesarkan dalam keluarga yang “berbeda” jelas membuat Nick sering jadi anak yang “unik”. Dia tidak punya banyak teman, atau saudara, bahkan ada gurunya yang tidak menyukainya lantaran dia anak dari pasangan lesbian. Namun Nick tidak peduli, karena cukup mendapat kasih sayang kedua ibunya. Terutama Jo, karena Mom lebih sering di luar rumah untuk bekerja. Sementara Jo adalah ibu yang asyik, yang bisa menemaninya bermain dan menghiburnya di kala sedih.

Namun dunia Nick runtuh ketika Mom dan Jo memutuskan untuk berpisah setelah belasan tahun bersama. Meskipun keluarga mereka telah melalui banyak hal bersama.... Kanker yang dialami Erin, ibunya, dan masalah kecanduan alkohol yang dihadapi Jo.

Karena Jo tidak pernah mengadopsinya, Nick harus tinggal bersama ibu kandungnya, Erin. Meskipun tidak mau kedua ibunya berpisah, namun Nick tidak berdaya. Keadaan makin runyam ketika ibunya memiliki kekasih baru bernama Kerri. Nick makin merasa kehilangan Jo. Meskipun Erin adalah ibu kandungnya, bagi Nick, Jo adalah ibu sejatinya.

“You’re my birth mom. I know that. I get that... But Jo...” I hesitate because I don’t know how Mom’s going to react to this. She has to know, though. Deep in her heart I think she does, and that’s the problem. That’s what makes it so hard to say. “Jo’s my real mom.” (hlm. 204)

Jika dalam buku-buku sebelumnya, seperti Luna dan Keeping You a Secret, Julie Anne Peters berkutat dalam permasalahan remaja transeksual dan lesbian, dalam Between Mom and Jo, sang pengarang selangkah lebih maju. Ia menuliskan suatu kisah tentang anak remaja yang memiliki sepasang ibu lesbian. Kisah yang membuat saya berkaca-kaca membacanya. Suatu kisah yang mengingatkan saya pada kebijaksanaan Salomo menghadapi dua perempuan yang memperebutkan bayi.


Kutipan dari: Between Mom and Jo - Julie Anne Peters, Hardcover edition, 232 pages, May 2006, Little, Brown and Company.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Masa remaja selalu membingungkan... tanpa jadi lesbian pun segalanya tampak kacau dan membingungkan seiring terjadi perubahan hormon dalam tubuh remaja. Bahkan tidak hanya remaja, terkadang orang dewasa pun masih banyak yang bingung, kacau, dan galau kala berdamai dengan lesbian dalam dirinya.

Empress of the World, adalah kisah tentang persahabatan dan cinta yang datang dari arah yang tak terduga. Nicola Lancaster berusia 16 tahun dan mengambil kelas liburan musim panas untuk anak berbakat di Siegel Summer Institute. Di sana ia mengambil kelas arkeologi karena bercita-cita menjadi arkeolog karena hobinya dalam melakukan analisis dan klasifikasi. Di asrama itu dia bertemu dengan beberapa teman yang membawa hidupnya ke arah yang tak terduga. Katrina si jenius komputer. Isaac cowok baik yang bingung. Kevin si pemusik menyebalkan... dan Battle penari cantik berambut pirang bermata hijau dari North Carolina. Nic alias Nicola tak pernah menyangka di antara sahabat-sahabat barunya, dia akan mengalami cinta pertama di musim panas yang indah dengan Battle Hall Davies.

Karena asrama perempuan terpisah dengan asrama laki-laki, maka Nic, Battle, dan Katrina menjalin persahabatan akrab dengan kenakalan-kenakalan wajar anak remaja. Katrina merokok seperti cerobong asap, sering ngomong tanpa pikir panjang, adalah tempat curhat Nic saat dia merasa gelisah ketika menyadari perasaannya terhadap Battle ternyata makin lama makin intens.

Musim panas. Gejolak cinta remaja. Semuanya mempercepat proses hubungan antara Nic dan Battle yang bab-babnya disusun berdasarkan tanggal. Nic menolak menyatakan diri lesbian karena sebelum dengan Battle di sekolah dia pernah naksir cowok keren bernama Andre. Apakah itu menjadikannya biseksual? Lesbian? Lesbian bingung? Apa? Penting nggak sih untuk tahu siapa diri kita? Lesbian,biseksual, straight? Bisa nggak kita jalanin aja hubungan ini, dan nggak perlu dibahas? Itulah yang mungkin ada dalam benak Battle ketika Nic berusaha membahas hubungan mereka, apalagi Battle bukan tipe yang piawai berkata-kata.


"Why are you so obsessed with the whole lesbian thing? I've liked boys before, I probably will again, so I believe that the appropriate word is bisexual, since you so desperate to give me label."
"Why are you obsessed with not being one? I believe that the appropriate word is denial." (h.139)

Demikian debat antara Nic dan sahabatnya, Katrina, ketika Nic berusaha mengklasifikasikan dirinya dalam label. Nic lupa bahwa terkadang cinta hanya perlu dirasakan, karena cinta bukanlah semacam ilmu pasti yang bisa dibahas, dipilah, dan dijelaskan.

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Dari sudut pandang Nic seorang, jadi segalanya hanya bisa kita lihat dari mata Nic. Itulah yang membuat buku ini jadi tampak gagap karena kita hanya melihat satu sudut pandang. Ditambah lagi begitu banyak tokoh dalam buku ini sehingga tampak sejumlah tokoh yang tak tergali sepenuhnya dan membuatnya jadi terkesan tempelan semata. Namun untungnya Sara Ryan, sang pengarang, mampu mengangkat realitas remaja dalam novel pertamanya yang terbit tahun 2001 ini. Buku Empress of the World ini juga mendapat penghargaan ALA Best Book for Young Adults, Lambda Book Award Finalist, A Booklist Top Teen Romance, dan pemenang Oregon Book Award.

Empress of the World tidak repot-repot membahas masalah coming out, atau bagaimana-kalau-ortu-dan-teman-tahu-kita-pacaran. Isu besarnya bukan di sana, tapi tentang kisah asmara remaja, ketika kau jatuh cinta pertama kali, dan ternyata objek cintamu memiliki jenis kelamin yang sama denganmu. Tidak seperti Keeping You a Secret atau Annie on My Mind, yang menyentuh masalah penerimaan lingkungan terhadap lesbian. Dan Empress of the World adalah salah satu dari sedikit buku remaja yang menyentuh topik biseksual, tanpa menghakiminya. Seakan sang pengarang ingin berkata, "It's okay. Wajar kalau kamu bingung dengan orientasi seksualmu. Itu manusiawi."

@Alex, RahasiaBulan, 2007
PS: Buku ini saya peroleh di toko buku Kinokuniya Singapura $14.75

Hasil polling iseng di blog ini menyatakan dari 27 pemilih, 13 orang alias 38% memilih Keira Knightley saat ditanya, “Di antara aktris muda Hollywood, siapa yang kauharap berperan sebagai lesbian dalam film?” Sambil menunggu filmnya yang ada adegan lesbian bersama Sienna Miller dalam The Best Time of Our Lives, kita mundur sejenak ke film tahun 2003 yang mengangkat nama Keira Knightley. Bend It Like Beckham.

Siapa sih yang tidak kenal David Beckham? Pemain sepak bola asal Inggris yang memiliki jutaan penggemar. Tidak terkecuali Jess Brahma (Parminder Nagra), gadis keturunan India berusia 18 tahun yang tinggal di London. Tidak seperti kebanyakan gadis muda, Jess lebih suka bermain sepakbola daripada harus berdandan cantik. Ia bahkan lebih memilih membeli sepatu bola dan BH sport.

Kemudian Jess bertemu dengan Jules Paxton (Keira Knightley), gadis tomboi pemain sepakbola putri yang setelah menyaksikan bakat Jess mengajaknya bergabung dalam tim sepakbolanya. Dengan senang hati Jess bergabung dalam tim meskipun harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Bend it Like Beckham adalah film komedi ringan, namun film ini sesungguhnya menampilkan banyak isu dan pesan tentang feminisme, rasisme, dan homoseksual. Isu feminis diangkat melalui keinginan Jess untuk bermain bola secara profesional meskipun pandangan tradisional (India) adalah wanita seharusnya mengenakakan sari dan tinggal di rumah, sementara olahraga adalah permainan laki-laki. Isu rasisme muncul melalui hubungan cinta Jess dengan Joe (Jonathan Rhys Meyers), sang pelatih sepakbola berkulit putih. Isu homoseksual ditampilkan melalui sahabat baik Jess yang gay dan terutama ketika ibu Jules menduga putrinya menjalin hubungan lesbian dengan Jess.

Jules: Anyway being a lesbian's not that big a deal
Jules’s Mom: Oh no of course not sweetheart no. I mean I've got nothing against it. I was cheering for Martina Navratilova as much as the next person.
Ceritanya yang nyambung dengan penonton gay/lesbian mungkin karena pada awalnya sutradara/penulis skrip film ini, Gurinder Chadha, ingin membuat Jess dan Jules sebagai pasangan lesbian. Namun pada saat terakhir Gurinder membatalkannya, dan membelokkan cerita dengan membuat Jess berpasangan dengan Joe. Salah satu alasannya adalah film bertema lesbian tidak akan menjaring banyak penonton atau malah dikategorikan sebagai film yang “tidak layak tonton” buat remaja di beberapa negara, terutama negara Asia. Siapa juga yang mau nonton film buatan Inggris tentang pemain sepakbola lesbian?


Gurinder Chadha akhirnya memutuskan berkompromi dengan membuat tokoh-tokohnya hetero, namun menyelipkan banyak isu homoseksual yang positif di dalamnya. Dengan demikian pesan-pesan positif itu akan menjangkau lebih banyak orang. Di Amerika Serikat sendiri film ini meraup angka box office sebesar lebih dari $32 juta. Angka yang lumayan untuk film Inggris dengan sutradara baru dan pemain yang tidak ngetop.

Bend it Like Beckham juga memperoleh banyak penghargaan, dan masuk nominasi film terbaik Golden Globe 2003. Sebelum Bend it Like a Beckham, Gurinder Chadha pernah menyutradari What’s Cooking yang menampilkan tokoh lesbian. Saat ini ia sedang menyutradai Dallas yang diangkat dari serial TV tahun 1980-an setelah sebelumnya sukses dengan Bride and Prejudice.

Saya menyukai film ini, karakter-karakternya begitu menarik dan alur ceritanya pun pas. Bend it Like Beckham adalah film yang bisa saya tonton berkali-kali. Ini adalah film yang membuat saya bisa tersenyum dan tertawa, bahkan merasa riang sehabis menontonnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

7:21 PM

Buku: Annie on My Mind - Let Love Win

Posted by Anonymous |

Liza Winthop pertama kali bertemu dengan Annie Kenyon di Metropolitan Museum of Arts di New York ketika ia mendengar suara nyanyian Annie yang sedang duduk di jendela. Dua gadis berusia 17 tahun ini pun langsung menjalin persahabatan, walaupun keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Liza bersekolah di sekolah swasta dan tinggal di lingkungan elite New York, sementara Annie bersekolah di sekolah negeri dan tinggal di permukiman “tidak aman” di Brooklyn. Keduanya adalah gadis cerdas yang memiliki cita-cita dan impian. Liza bercita-cita menjadi arsitek dan melanjutkan kuliah di MIT, sementara Annie bermimpi untuk mengejar beasiswa di University of California, Berkeley melalui bakat nyanyinya. Singkat cerita, mereka adalah gadis baik-baik yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang.

Hubungan mereka makin akrab, bahkan tidak jarang Annie dan Liza main ke rumah satu sama lain dan masing-masing dari mereka diterima dengan baik oleh orangtua yang lain. Namun hidup mereka berubah 180 derajat ketika hubungan persahabatan mereka perlahan-lahan berubah menjadi hubungan cinta.

Liza---terutama---panik saat menyadari bahwa perasaannya terhadap Annie bukan sekadar persahabatan antar teman, dan keduanya kemudian bersama-sama belajar menghadapi cinta mereka. Karena satu dan lain hal, hubungan Liza dan Annie tertangkap basah oleh pihak sekolah Liza sehingga Liza pun diskors dan diadukan lesbian pada orangtuanya.

Annie on My Mind ditulis berdasarkan narasi Liza dan kita mengikuti segala gejolak perasaan Liza bersama Annie serta perasaannya terhadap orang-orang yang dia sayangi ketika hubungannya dengan Annie terungkap. Salah satu kekuatan Annie on My Mind, selain kisah cinta remaja yang diiringi hasrat menggebu adalah sesungguhnya tidak ada yang jadi “orang jahat” dalam buku ini. Semua orang melakukan apa yang mereka anggap benar dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Apalagi harus diingat bahwa buku ini terbit pertama kali pada tahun 1982, dan APA (Asosiasi Psikiater Amerika) baru menyatakan homoseksual bukanlah penyakit kejiwaan pada tahun 1973.

Meskipun sudah 25 tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, Annie on My Mind masih relevan dalam menggambarkan remaja SMA yang lesbian dengan segala kekalutannya. Bagaimana takut dan bingungnya Liza ketika menyadari dirinya mencintai Annie dan penerimaan terhadap kenyataan bahwa dirinya lesbian ditulis melalui gambaran realistis oleh Nancy Garden.

Nancy Garden adalah penulis kelahiran Boston, Massachusetts tahun 1938. Kini di usianya yang hampir 70 tahun, ia masih tetap menulis, dan kebanyakan adalah buku-buku remaja. Nancy Garden termasuk salah satu orang pertama yang mendaftarkan pernikahan sesama jenis di Massachusetts bersama pasangannya, Sandy Scott, yang kala itu sudah jadi partner hidupnya selama 35 tahun, yang juga cinta pertamanya sejak sekolah menengah.

Annie on My Mind bisa dibilang buku yang membuatnya terkenal karena untuk pertama kalinya ada novel remaja yang menggambarkan kisah lesbian yang berakhir bahagia. Dan terjadi kejadian menghebohkan ketika pada tahun 1993, buku tersebut jadi buku terlarang dan dibakar di sekolah di Kansas City karena sejumlah orangtua khawatir jika Annie on My Mind bisa memengaruhi anak-anak remaja agar menjadi homoseksual. Akan tetapi pada tahun 1995, buku tersebut akhirnya dikembalikan lagi di rak perpustakaan sekolah karena menurut pengadilan pelarangan tersebut adalah pelanggaran terhadap Amandemen Pertama, yaitu kebebasan berekspresi.

The American Library Association menyebut Annie on My Mind sebagai buku "Best of the Best Books for Young Adults." The School Library Journal juga mencantumkan buku ini dalam daftar 100 buku anak dan remaja yang paling berpengaruh dalam abad 20. Selain itu, juga terpilih sebagai buku pilihan reviewer Booklist tahun 1982, American Library Association Best Books, and the ALA Best of the Best lists. Pada tahun 2003, the American Library Association memberi Nancy Garden penghargaan seumur hidup untuk penulisan buku-buku remaja.

Annie on My Mind adalah salah satu dari sedikit buku yang saya beri bintang lima untuk penggambaran karakter-karakternya yang bisa dibilang nyaris sempurna. Mungkin untuk bacaan remaja Amerika zaman sekarang, cerita buku terbitan tahun 1982 ini tampak “basi”, apalagi dengan setting kota besar seperti New York. Namun dalam banyak hal kisah cinta dalam Annie on My Mind adalah kisah abadi yang tak lekang oleh waktu. Cinta, terutama cinta pertama, adalah hal paling menakjubkan dan juga paling membingungkan, terutama bagi remaja lesbian. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan oleh sang pengarang lewat buku ini, "Don't let ignorance win. Let love."

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Udah lama saya nggak mereview dua film bertema lesbian sekaligus. Kali Memento Mori dan Lost and Delirious. Dua film ini memiliki setting cerita yang sama. Cewek-cewek SMA, kecenderungan lesbian, bunuh diri, dan cerita disampaikan dari sudut pandang orang ketiga. Sebenarnya kedua film ini sudah lama saya tonton, VCD Memento Mori dijual resmi di Indonesia pada awal tahun 2000-an dan Lost and Delirious juga saya tonton dalam format VCD. Beberapa hari lalu baru saya tonton ulang lagi. Memento Mori dirilis tahun 1999, dua tahun lebih awal dibanding Lost and Delirious (2001).

“Kenangan kematian” demikian terjemahan bebas untuk Memento Mori. Seorang gadis SMA bunuh diri dengan terjun dari gedung dan meninggalkan buku harian misterius. Min-ah (Kim Min-sun) menemukan diari tersebut dan tertarik membaca kisah yang diceritakan dalam buku harian itu hingga dihantui oleh arwah gadis yang bunuh diri itu. Melalui tampilan flashback vs masa kini, kita membaca jalinan kisah hubungan lesbian Shi-eun (Lee Young-jin), dan Hyo-shin (Park Yeh-jin), gadis pemilik buku harian.

Memento Mori merupakan salah satu film lesbian Korea pertama, dengan cerdas sang sutradara menyamarkan kisah cinta lesbian dalam bungkusan cerita horor yang memang jadi cult dalam film-film Asia kala itu. Apalagi konon film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di sekolah khusus putri yang katanya berhantu di Korea. Persahabatan gadis-gadis SMA, gosip, serta pengkhianatan cinta pertama menjadi tema utama cerita Memento Mori, meskipun ujung film ini adalah film horor balas dendam arwah penasaran ala Carrie-nya Stephen King.

Lost and Delirious juga mengambil tema persahabatan ala gadis SMA, gosip, dan pengkhianatan cinta pertama. Film ini juga mengambil sudut cerita orang ketiga, yaitu Mary (Mischa Barton) yang menjadi narator kisah cinta antara Paulie (Piper Perabo) dan Tori (Jessica Pare). Walaupun diperankan oleh gadis-gadis Hollywood yaitu Piper Perabo pada masa sebelum Imagine and You dan sesudah Coyote Ugly, dan Mischa Barton (The OC), tapi Lost and Delirious dikategorikan sebagai film Kanada dan disutradari oleh Lea Pool asal Prancis.

Kisahnya ber-setting di asrama sekolah putri ketika Mary sebagai anak baru yang ditempatkan di kamar bersama Paulie dan Tori menyadari hubungan khusus antara kedua sahabat barunya. Tori yang panik saat hubungannya dengan Paulie ketahuan oleh adiknya yang juga berada di asrama yang sama buru-buru mengingkari hubungannya dengan Paulie. Tidak tahan digosipkan sebagai lesbian, akhirnya Tori menjauhi Paulie, yang tidak terima diputuskan oleh kekasih yang juga sahabat baiknya.


Lost and Delirious diperankan oleh gadis-gadis muda dengan akting menjanjikan, dan memang dari ketiga gadis itu kini Piper Perabo dan Micha Barton menjadi aktris yang dilirik di Hollywood. Film ini juga tidak buruk, walaupun tidak bisa dibilang film sempurna. Saya tidak bisa protes dengan ceritanya, karena memang begitulah yang terjadi. Cinta terlarang yang berakhir tragis bak Romeo and Juliet.

Dua film ini, walaupun dengan ending yang nggak enak dilihat, merupakan gambaran obsesi cinta remaja yang mungkin saja terjadi dalam realitas. Memento Mori dan Lost and Delirious menggambarkan tekanan homofobia di sekolah, kesadaran pertama kali pada orientasi seksual, dan pengalaman cinta pertama yang penuh gelora dan emosi hingga membuatmu rela mati demi cinta.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

5:46 PM

Buku: Keeping You a Secret - Galau Remaja di SMA

Posted by Anonymous |

Sudahkah saya memberitahu betapa saya menyukai teenlit alias buku-buku bacaan remaja? Bagi saja, dunia remaja begitu memukau. Cinta pertama, ah, berjuta rasanya. Kepolosan remaja dalam memandang dunia yang penuh pelangi memberikan banyak cerita yang bisa dieksplorasi. Dan Julie Anne Peters adalah seorang penulis teenlit LGBT yang bagus.

Keeping You a Secret bercerita tentang Holland Jaeger, cewek dengan nilai bagus di sekolah, ketua OSIS, populer dan punya pacar cowok yang baik hati, namun hidupnya berubah ketika bertemu dengan Cece Goddard, anak baru di sekolah yang dengan lantang dan bangga mengakui dirinya lesbian.

Saat itu tahun terakhir Holland di SMA dan dia merasa hidupnya mentok, tidak tahu harus memilih kuliah di mana sementara ibunya terobsesi ingin agar dia diterima di universitas terkenal dan menjadi orang sukses nantinya. Pada tahun terakhir sekolah itulah Holland menemukan bakat yang tak pernah dia ketahui sebelumnya. Bakat seninya serta ketertarikannya pada sesama perempuan.

Saat pertama kali bertemu Cece, Holland merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

First time I saw her was in the mirror on my locker door. I'd kicked my swim gear onto the bottom shelf and was reaching to the top for my calc book when she opened her locker across the hall. She had a streaked blond ponytail dangling out the back of her baseball cap.

Great. Now I was obligated to rag on her for violating the new dress code. Forget it, I decided. My vote - the only dissenting one in the whole student council - still counted. With me, anyway. People could come to school buck naked for all I cared. It wasn't about clothes. We slammed our lockers in unison and turned. Her eyes met mine.

"Hi," she said, smiling. My stomach fluttered.

"Hi," I answered automatically. She was new. Had to be. I would've noticed her. She sauntered away, but not before I caught a glimpse of her T-shirt. It said: IMRU? Am I what?

Itulah petikan dari Chapter 1, kalimat pembuka pada novel ini. Dan pada momen itulah Holland tertarik pada Cece.

Bersama Seth, cowoknya, Holland aktif melakukan kegiatan seksual, tapi bagi Holland hubungan seksual itu lebih seperti mengerjakan PR. Cece menimbulkan kepenasaran dalam dirinya untuk bisa selalu dekat pada gadis itu. Akhirnya keterarikan Holland terhadap Cece pun berbalas, karena diam-diam Cece juga jatuh cinta padanya. Dan mulailah hidup Holland bergerak di luar kendalinya. Ditambah lagi remaja di bawah 19 tahun memang konon berpikir dengan amygdala, yang melakukan pengambilan keputusan berdasarkan emosi bukannya nalar.

Cece yang sudah out and proud sebagai lesbian menyulitkan Holland untuk menutupi hubungannya. Meskipun Holland dan Cece berjanji menyimpan hubungan mereka sebagai hubungan rahasia, akhirnya mereka ketahuan juga. Holland diusir dari rumah oleh ibunya, nilai-nilainya merosot drastis, dijauhi teman-temannya, dan terancam kemungkinan tidak bisa kuliah.

Julie Anne Peters yang tahun ini meraih penghargaan Lambda Award untuk buku remaja LGBT terbaik tahun 2007 tidak menulis kisah hidup Holland dalam bentuk meratapi nasib. Perlahan-lahan Holland mengatur ulang hidupnya, menempatkan prioritas, dan yang terutama terus melanjutkan hidup walaupun dia harus tinggal di shelter bagi anak-anak pelarian LGBT yang tidak punya rumah. Dan pada akhirnya Holland berhasil mengubah haluan hidupnya ke arah positif, meskipun dengan pengorbanan yang amat besar.

Buku yang terbit tahun 2003 ini ditulis dengan amat sangat baik dan membuat kita tidak bisa berhenti membacanya. Namun sayangnya, bagi saya, ada beberapa bagian yang meluncur terlalu cepat di bagian menjelang akhir, mungkin akan lebih baik kalau hubungan Holland dan sahabat-sahabatnya atau saudara tirinya digali lebih dalam lagi. Jika dibanding Luna, novel remaja karya Julie Anne Peters setelah novel ini, terlalu banyak karakter di sini sehingga jadi kurang tergali sepenuhnya. Tapi itu bukanlah masalah besar karena pada dasarnya buku ini sudah lebih dari sekadar “bagus”.

Keeping You a Secret memperoleh banyak penghargaan, di antaranya 2003 Lambda Literary Award Finalist, Best of 2003 Young-Adult Books, Borders Books and Music, American Library Association Best Books for Young Adults, 2004 Nomination, An ALA Popular Paperbacks for Young Adults. Dan ini adalah buku yang amat direkomendasikan bukan hanya untuk bacaan remaja abege, namun juga untuk semua orang yang pernah merasakan kegalauan saat menyadari diri kita memiliki orientasi seksual yang berbeda.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Tiga remaja tujuh belas tahun. Dua perempuan, satu lelaki. Tiga cinta.

Dua gadis SMA, Meng Ke-rou (Guey Lun-mei) dan Lin Yueh-chen (Liang Shu-hui) saling bersahabat. Yueh-chen terlalu malu mengungkapkan perasaannya ketika naksir Chang Shih-hao (Chen Bo-lin), cowok perenang di sekolahnya. Chang Shih-hau dengan lesung pipi dan senyum yang bisa membuat cewek mana pun meleleh.

Yueh-chen kemudian minta tolong pada Ke-rou untuk mendekati Shih-hao. Ke-rou yang mulanya enggan akhirnya mendekati Shi-hao mulai dari surat-suratan sampai ngobrol akrab. Hingga akhirnya Shi-hao yang naksir pada Ke-rou.

Masalahnya adalah Ke-rou merasa dirinya lesbian. Diam-diam Ke-rou yang tomboy ini naksir pada Yueh-chen yang manis. Persoalan makin rumit ketika Shi-hou pantang menyerah mendekati Ke-rou meskipun sudah ditolak. Dia menganggap Yueh-chen hanyalah tokoh fiktif karangan Ke-rou agar bisa mendekatinya. Bingung, Ke-rou pun menikmati persahabatannya dengan Shih-hou sehingga mereka jadi sahabat akrab. Dan bersama Shih-hou pula, Ke-rou menemukan ikatan persahabatan yang manis dan indah.


Film buatan Taiwan tahun 2002 ini masuk nominasi film terbaik Hong Kong Film Award. Ketiga pemeran utama film ini bermain apik. Walaupun dari ketiganya hanya Chen Bo-Lin yang juga dikenal sebagai Wilson Chen yang lebih naik daun. Setelah film ini dia bermain dalam beberapa film, di antaranya The Eye 10, Twin Effect 2, dan Bug Me Not.

Jatuh cinta, patah hati, persahabatan, dan kebingungan masa remaja tergambar manis dalam film ini. Nikmatnya bersepeda di jalan-jalan kota Taipei, sinar matahari, dan pahit-manis masa remaja membuat film ini tontonan yang enak dilihat.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Film ini beberapa kali diputar di Celestial Movies di TV Kabel.

Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Klik beberapa situs di bawah ini untuk memulai langkah awal mencari bantuan jika ada teman atau kau sendiri yang punya niatan mengakhiri hidup.
http://www.suicide.org/index.html
http://www.lambda.org/youth_suicide.htm

@Alex, RahasiaBulan, 2007

11:58 AM

Film: Cinta Pertama Gay/Lesbian dalam film ABG

Posted by Anonymous |

Ini adalah dua film remaja yang non-Hollywood namun amat layak ditonton. Kedua film ABG ini sudah lama saya tonton, dan nyaris tergeser oleh film-film lain dari benak saya. Beautiful Thing adalah film Inggris tahun 1996 yang bersetting di kota kecil London Tenggara, di kota yang kebanyakan dihuni warga kelas pekerja. Sebelum diangkat ke layar lebar, Beautiful Thing merupakan karya pertunjukan teater sebenarnya dibuat untuk televisi Channel Four Inggris.

Berkisah tentang Jamie (Glenn Berry), remaja introvert yang tidak suka olahraga dan sering di-bully teman-temannya. Diam-diam naksir teman sekelas yang juga tetangganya, Ste (Scott Neal). Ste sering dihajar oleh kakak lelakinya dan ayahnya yang pemabuk hingga suatu hari Ste kabur dari rumah dan mengungsi di rumah Jamie yang tinggal bersama ibunya. Karena ranjang yang sempit dan hasrat remaja, kemesraan pun timbul antara mereka. Ste panik dan meninggalkan Jamie lalu menghindarinya selama berhari-hari. Jamie pun tak kalah paniknya. Akhirnya kemudian mereka sama-sama menyadari ikatan yang tumbuh di antara mereka dan lebih baik bersatu dalam ikatan itu daripada melawannya.

Show Me Love juga bersetting di kota kecil, tepatnya di Åmål, Swedia (meskipun shooting dilakukan di Trollhättan). Film tahun 1999 dengan judul asli Fucking Åmål ini merupakan debut film karya sutradara Swedia, Lukas Moodysson. Berkisah tentang Agnes (Rebecka Liljeberg) yang penyendiri (digosipkan lesbian) dan tidak punya teman diam-diam naksir adik kelasnya, Elin (Alexandra Dahlström) yang populer. Meskipun memiliki banyak teman, populer, dan terkenal sering ganti-ganti cowok, Elin merasa hidupnya membosankan dan tidak sabar untuk bisa keluar dari kota kecil Åmål.

Entah bagaimana, Elin bisa jadi satu-satunya tamu yang hadir di ulang tahun Agnes. Dan di pesta ultah yang sepi itu mereka ditantang berciuman oleh kakak Elin. Dan ciuman itu membuka berbagai perasaan yang selama ini terpendam. Elin segera menjauh dari Agnes, panik saat menyadari bahwa dia juga punya perasaan yang sama terhadap Agnes. Agnes yang memang sudah menyukai Elin ikutan panik dan sedih. Kedua aktris remaja di sini, Liljeberg dan Dahlström menampilkan akting yang prima. Chemistry mereka juga pas dan tidak dibuat-buat.

Kedua film di atas bercerita tentang penerimaan diri remaja terhadap kenyataan diri bahwa mereka gay/lesbian. Ketakutan menghadapi kenyataan diri itu ditambah cinta remaja yang bersemi terhadap sahabat sesama jenis dituang dengan jernih dalam kedua film ini. Mungkin yang terbiasa menonton film Hollywood, akan sedikit gagap dengan gaya kedua film Eropa ini. Masalah bahasa juga bisa jadi kendala, jika mencari DVD-nya tolong cek teks subtitelnya. Show Me Love menggunakan bahasa Swedia. Beautiful Thing meskipun menggunakan bahasa Inggris, jika ditonton tanpa teks membutuhkan kecermatan penangkapan daya telinga yang kuat, karena aksennya yang amat sangat kental.

Realitas hubungan remaja gay/lesbian yang ditampilkan dalam kedua film di atas tampak mengesankan. Hubungan mereka terjadi begitu saja, tanpa rencana, tidak seperti film-film remaja Hollywood yang kadang-kadang penuh polesan. Ending kedua film ini bagi banyak pihak mungkin terlalu mengawang-awang. Terlalu tidak realisitis. Terlalu tidak Hollywood. Ending yang tidak benar secara politis. Ending yang membuat kita ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan anak-anak remaja belasan tahun itu ketika menemukan cinta pertama mereka.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Nonton Fucking Amal di Jiffest lupa tahun berapa, Beautiful Thing di British Council th. 1998.

10:17 PM

Buku: Luna - Julie Anne Peters

Posted by Anonymous |

Di antara lautan Teenlit, saya menemukan beberapa permata. Salah satunya adalah Luna karangan Julie Anne Peters. Menurut saya, tidak banyak buku remaja yang bagus yang diterbitkan di Indonesia. Makanya saat menemukan Luna karangan Julie Anne Peters dalam kategori Teenlit, terkejutlah saya. Sejujurnya, saya lebih suka membaca buku Teenlit terjemahan karena topik-topik yang diangkat tidak melulu tentang cinta atau persahabatan ala AADC.

Julie Anne Peters adalah pengarang yang banyak menulis buku-buku remaja bertema GLBT, sebut saja judul-judul sebelumnya seperti Keeping You a Secret dan Define Normal yang meraih penghargaan ALA Best Book for Young Adults. Luna sendiri memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Chicago Public Library Best of the Best 2004 Book for Great Teens, 2005 Stonewall Honor Book, 2004 National Book Award Finalist in Young People’s Literature.

Luna berkisah tentang remaja berusia 17 tahun bernama Liam yang merasa dirinya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Setiap malam dia bermetamorfosis menjadi gadis bernama Luna di hadapan adik perempuannya, Regan. Dan melalui mata Regan-lah cerita tentang Liam/Luna mengalir dalam buku ini. Melihat hidup Liam/Luna dari sudut pandang Regan membantu pembaca melihat kondisi ini tidak hanya dari sudut Liam. Dari sudut pandang ini, kita bisa melihat apa yang dirasakan Regan terhadap “perubahan” kakaknya, dan kita juga bisa melihat bagaimana efek keadaan Liam alias Luna terhadap orang-orang terdekatnya.

Regan memberi dukungan dan pengertian untuk kakaknya, meskipun kadang-kadang dia juga sebal terhadap kakaknya sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan bersaudara. Apalagi dalam hal ini, Regan merasa kadang-kadang hidupnya terganggu akibat “kemunculan” Luna. Di mata semua orang, Liam adalah cowok pintar dan ganteng. Di mata Regan, Liam adalah Luna, remaja perempuan yang tertekan dan hanya bisa keluar di saat-saat tertentu. Regan menyayangi Luna sebagaimana dia menyayangi Liam, tidak ada diskon dalam kasih sayang Regan terhadap kakak tercinta bagaimanapun keadaannya.

Di Indonesia, buku remaja yang mengangkat isu homoseksualitas termasuk barang langka. Luna memberikan suatu pandangan baru tentang remaja transeksual. Remaja kebanci-bancian di sekolah biasanya menjadi bahan ejekan teman-temannya. Melalui Luna, remaja bisa memahami pergulatan yang dialami remaja yang mengalami masalah “orientasi diri” seperti yang dialami Liam, namun bukan untuk dikasihani. Buku ini tidak hanya layak dibaca oleh remaja, namun juga oleh orangtua dan guru, atau siapa saja yang tertarik untuk membaca buku bagus.



@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Looking for Alibrandi – Melina Marchetta juga buku yang HARUS dibaca oleh semua remaja. Dua jempol!

Subscribe