9:23 AM

Milk - Biopic Menggugah dari Seorang Tokoh Inspiratif

Posted by Anonymous |

Oleh: Alex

My name is Harvey Milk, and I'm here to recuit you. Itu adalah sepotong kalimat yang biasa digunakan oleh Harvey Milk (Sean Penn) dalam mengawali pidatonya. Film peraih Oscar ini diangkat dari kisah nyata hidup Harvey Milk, seorang politisi dan aktivis gay. Harvey Milk merupakan tokoh yang mengakui dirinya gay secara terbuka dan terpilih menjadi pegawai negeri di California sebagai anggota San Francisco Board of Supervisors pada tahun 1977, setelah dua kali gagal dalam pencalonannya.

Harvey Milk lahir pada tahun 1930 dan tewas terbunuh pada tahun 1978, setahun setelah dia menduduki jabatannya di pemerintahan dengan gemilang. Dia tewas ditembak di kepala oleh Dan White (Josh Brolin) sesama anggota dewan yang merasa dikhianati Milk. Penembakan yang terjadi di balai kota itu juga menewaskan Wali Kota George Moscone, yang juga sahabat politik Harvey Milk.

Milk disutradari oleh sutradara gay, Gus Van Sant, yang sudah dikontrak sejak tahun 1992 namun setelah sejumlah konflik dan kekacauan selama 15 tahun akhirnya sukses melahirkan film yang memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi ini. Terutama untuk Sean Penn yang dengan gemilang berperan sebagai Harvey Milk. Selain Sean Penn mendapat piala Oscar sebagai aktor terbaik, penulis skenario Dustin Lance Black memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terbaik dalam film yang penuh dengan kata-kata inspirasitif. Milk juga bergelimang penghargaan lain seperti dari BAFTA Awards, Screen Actors Guild, British Academy Film Awards, dll.

Film tentang perjuangan aktivis gay ini dibuka pada tahun 1970 ketika Milk bertemu dengan Scott Smith (James Franco) di tangga subway New York. Milk dan Smith kemudian menjadi sepasang kekasih setelah pertemuan singkat tersebut. Keinginan untuk mengubah hidup dan memperoleh penerimaan membuat dua lelaki ini melakukan perjalanan bermobil hingga sampai ke San Francisco, menuju daerah Castro. Pada masa itu Castro mulai dikenal sebagai wilayah gay.

Harvey Milk yang memiliki jiwa bisnis membuka toko kamera di Castro, namun ketertarikannya pada dunia politik dan keinginannya yang kuat agar kaum homoseksual tidak lagi dianggap kelas dua membuatnya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai dewan supervisor San Fransisco. Milk percaya bahwa seorang homoseksual bisa menjalani hidup dengan jujur dan sukses, meskipun tahun 1970-an menjadi gay biasanya berarti hidup dalam ketakutan dan hinaan. Bahkan tidak jarang mereka menjadi korban kebencian dengan dipukuli atau bahkan dibunuh.

Milk secara terbuka mengakui dirinya gay, walaupun pada awal masa kampanyenya, isu gay ini membuatnya kalah dalam pemilihan. Dalam salah satu wawancara, Milk mengatakan. “If I do a good job, people won't care if I am green or have three heads." dan gay atau tidak bukanlah isu utama lagi. Walaupun tidak bisa dipungkiri kaum homoseksual membuatnya menang dalam pemilihan tahun 1977 dan juga menjadikan Harvey Milk memiliki bargaining power yang kuat dalam pemerintahan, karena dia tidak segan menggunakan komunitas gay sebagai massa penggeraknya.

Pawai Kemenangan Harvey Milk Saat Terpilih Jadi Anggota Dewan, 1977

Milk dan kebangkitan homoseksual ini tidak diterima begitu saja di Amerika Serika. Anita Bryant, penyanyi yang juga memimpin gerakan fundamentalis Kristen mengutuk keras kaum homoseksual. Hal ini menimbulkan perseteruan antara kaum homoseksual versus Kristen fundamentalis yang berujung pada pertikaian politik. Penyebaran kebencian terhadap kaum homoseksual dilawan dengan demonstrasi besar-besar yang diikuti oleh ribuan orang (gay/lesbian) secara spontan hingga mereka memenuhi jalanan sepanjang delapan kilometer. Di sana pula Harvey Milk menyampaikan salah satu pidatonya yang terkenal.

"Somewhere in Des Moines or San Antonio there is a young gay person who all the sudden realizes that he or she is gay; knows that if their parents find out they will be tossed out of the house, their classmates will taunt the child, and the Anita Bryant's and John Briggs' are doing their part on TV.

And that child has several options: staying in the closet, and suicide. And then one day that child might open the paper that says "Homosexual elected in San Francisco" and there are two new options: the option is to go to California, or stay in San Antonio and fight. Two days after I was elected I got a phone call and the voice was quite young. It was from Altoona, Pennsylvania. And the person said "Thanks".

And you've got to elect gay people, so that thousand upon thousands like that child know that there is hope for a better world; there is hope for a better tomorrow. Without hope, not only gays, but those who are blacks, the Asians, the disabled, the seniors, the us's: without hope the us's give up. I know that you can't live on hope alone, but without it, life is not worth living. And you, and you, and you, and you have got to give them hope." - Harvey Milk, 1978

Sebuah pidato yang menggugah tentang harapan, tentang masa depan yang lebih baik jika semakin banyak kaum homoseksual yang tampil ke muka publik. Visibilitas semacam ini penting untuk menunjukkan keberadaan gay/lesbian di muka bumi ini, sehingga entah di pelosok bumi belahan mana seseorang yang merasa hidupnya tidak berarti karena menyadari dirinya gay/lesbian akan memiliki pilihan hidup selain jalan yang tampak suram dan kesepian.

Harvey Milk mungkin sudah tiada, tapi warisan yang ditinggalkan olehnya tetap membara di hati jutaan masyakarat homoseksual di Amerika Serikat. Dan kini, jutaan mata dan hati berkesempatan untuk menyaksikan tokoh inspiratif ini melalui film yang menggugah dan (pasti) meninggalkan kesan di hati gay/lesbian yang menontonnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

10:30 PM

Rhona Mitra: Cool and Sexy Female Action Hero

Posted by Anonymous |

Saya lagi naksir berat sama Rhona Mitra. Sebenarnya dia bukan bintang baru dalam kancah Hollywood, tapi melihat tiga film terakhirnya, saya langsung kelepek-kelepek naksir. Akhir bulan lalu saya nonton Doomsday, saking sukanya sama Rhona Mitra yang main sebagai Eden Sinclair dalam film ini, saya ngubek-ngubek film dia sebelumnya, nyari DVD Skinwalkers, dan terakhir saya nonton Underworld: The Rise of the Lycans. Yeah, semuanya film nggak penting dan nggak akan jadi nominasi Oscar atau award apa gitu. Tapi yang penting dari semua film itu adalah cewek yang jadi jagoannya.


Di antara tiga film ini, menurut saya dia paling keren di Doomsday. Di film ini Rhona jadi Mayor Kathleen “Eden” Sinclair yang mengingatkan saya sama Snake Pliskin tokoh yang diperankan Kurt Russel dalam Escape From New York dengan sebelah mata ditutup ala bajak laut. Doomsday bercerita tentang bumi yang kena virus apa gitu dan mengingatkan saya juga sama film Resident Evil. Hm, jadi inget sama Mbak Alice alias Mila Jovovitch. Eniwei, film ini penuh aksi dan tembak-tembakan seru yang cucok ditonton sama mereka yang suka Resident Evil, 28 Days Later, Escape from New York, dan Mad Max. (Film gue banget deh pokoknya...)

Di sini Eden Sinclair, sang jagoan, yang harus menemukan antivirus yang konon bisa menyembuhkan virus pemusnah manusia itu. Dia cuma punya waktu 36 jam untuk melakukannya... Tapi secara dia jadi jagoan, tenang aja deh tentu saja dia berhasil. Pake acara berantem, tembak-tembakan, kebut-kebutan yang keren abis.

Film kedua yang saya tonton adalah Skinwalkers, sumpe deh nih film katro banget, hehehe, untung cuma nonton di DVD pinjaman jadi nggak berasa dirampok. Ceritanya tentang werewolf nggak jelas gitu. Dalam film ini anak lelaki “tertentu” pada usia 13 tahun bisa berubah jadi werewolf, kalo nggak salah sih karena anak itu “half blood”. Nah, sang ibu anak itu diperankan oleh Rhona Mitra. Di Skinwalkers, Rhona berhadapan dengan geng werewolf jahat yang ingin menghabisi putranya. Walaupun rada katro, film ini punya special effect yang lumayan, dan untungnya masih ada pemandangan indah mbak Rhona yang sering banget pake kaus ketat, hehehe. Layak tonton kok buat mereka yang menyukai film-film horor kelas B yang penuh darah, makhluk jejadian, dan jeritan-jeritan.


Dalam Underworld: The Rise of The Lycans, Rhona Mitra yang memang mirip Kate Beckinsale jelas masih kalah pamor dan berada di bawah bayang-bayang Kate, tapi penampilan Rhona juga menciptakan penggemarnya sendiri. Di film ini Rhona yang berperan sebagai vampir Sonja berhubungan cinta terlarang dengan lycan. Dan sekali lagi Rhona membuktikan diri sebagai ikon baru jagoan aksi. Adegan tarung pedang di bawah hujan, plus baju kulit hitam ketat membuatnya jadi makin sexy. Layak tonton juga buat penggemar vampir, makhluk jejadian, dan penggemar seri Underworld.

Sebenarnya pertama kali saya melihat Rhona Mitra ini adalah dalam mini seri TV Spartacus (yang pernah diputar di stasiun TV Indosiar, kalau nggak salah), jadi istrinya Spartacus. Mungkin lebih tepatnya saat itu saya berpikir, “Eh, nih cewek cakep juga ya.” Baru kemudian saya ingat lagi awal tahun ini. Aduh, mbak Rhona ini nggak cocok deh main film drama jadi cewek lembek, hayo, sana, main film action lagi, dengan kaus ketat dan senjata di tangan. Dijamin saya jadi penonton pertama yang antre di bioskop. :) Hayooo, buat yang belum nonton film-film yang saya sebut di atas, sana cari DVD-nya atau nunggu aja diputar di bioskop TransTV tahun depan :)

Rhona Mitra jadi terdengar makin seksi apalagi dengan aksen British-nya. Dia memang kelahiran London 32 tahun lalu, yang awalnya dikenal sebagai model. Beberapa serial TV juga dilakoninya, antara lain Party of Five, Boston Legal, The Practice, dan Nip/Tuck. Rumor yang beredar belakangan adalah dia dicalonkan sebagai pemeran Catwoman atau Wonder Woman. Uh, udah ngebayangin dia pakai baju ketat lagi, sluruf, semoga rumor ini tidak jadi sekadar rumor. Kini nama Rhona Mitra makin berkibar, dan dia menjadi idaman lesbian geek serta cowok-cowok penggemar film sci-fi. Termasuk saya.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

"Only unfullfilled love can be romantic." Itu satu kalimat yang menjadi poin cerita dari film Vicky Cristina Barcelona. Film karya Woody Allen ini terpilih sebagai film terbaik kategori film musikal/komedi Golden Globe 2009.

Dua perempuan---Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson), mengunjungi Barcelona. Vicky dalam rangka meraih gelar masternya sementara Cristina untuk liburan musim panas. Sejak awal, narator (khas film Woody Allen) menjelaskan bahwa dua perempuan yang bersahabat ini memandang hidup dan cinta dengan cara berbeda. Vicki lebih tradisional memandang hidup, dia tahu apa yang diinginkannya dalam hidup dengan berkomitmen dan bertunangan dengan lelaki yang meskipun membosankan tapi diyakini Vicki bisa memberinya kehidupan berkeluarga yang mapan dan “lurus”. Sementara Cristina lebih spontan dan tidak bertindak sesuai aturan, serta tak yakin pada apa yang diinginkannya dalam hidup atau cinta.

Vicky dan Cristina bertemu dengan pelukis Juan Antonio (Javier Bardem). Cristina langsung tertarik pada Juan Antonio dan tanpa ragu mengikutinya ketika Juan Antonio mengajak mereka liburan eksotis dengan pesawat pribadi ke kota Oviedo. Walaupun enggan, Vicky mengikuti mereka dengan alasan, “melindungi Cristina.”

Juan Antonio tanpa sungkan mengajak Vicky dan Cristina untuk menemaninya tidur. Vicky jelas menolak, sementara Cristina langsung setuju, walaupun sialnya Cristina jatuh sakit malam itu. Selama Cristina terbaring sakit, Vicky jadi dekat dan menghabiskan waktu intim bersama Juan Antonio.

Sekembalinya ke Barcelona, Vicky menjauhkan diri dari Juan Antonio karena merasa bersalah pada tunangannya dan Cristina. Cristina dan Juan Antonio kemudian makin intim dan memutuskan untuk tinggal bersama.


Film yang nyaris tergelincir jadi blah karena kebanyakan Scarlett Johansson jadi hidup sejak kedatangan Maria Elena (Penelope Cruz), mantan istri Juan Antonio. Maria Elena adalah sumber inspirasi, mentor, dan cinta sejati Juan Antonio. Awalnya terjadi ketegangan antara Maria Elena dan Cristina apalagi Cristina menyadari bahwa mantan suami-istri ini masih menyimpan cinta membara. Tapi kegemaran Cristina terhadap fotografi dan jiwa seni Maria Elena yang tinggi membuat mereka akhirnya bersahabat.

Maria Elena tidak merasa Cristina sebagai masalah atau cemburu pada hubungan Cristina dengan Juan Antonio, tapi ia malah menganggap kehadiran Cristina sebagai “rantai yang hilang” dalam hubungannya dengan Juan Antonio. Juan Antonio dan Maria Elena selalu menganggap mereka adalah pasangan yang memang ditakdirkan bersama, namun kadang-kadang mereka butuh bumbu dalam hubungan agar percik-percik itu bisa membuat hubungan mereka tetap panas. Dan jadilah Maria Elena, Juan Antonio, dan Cristina menjalin hubungan polyamorous yang sexy dan menggairahkan.

Musim panas berakhir, Cristina yang masih tidak tahu apa yang sesungguhnya dia inginkan gelisah dan memutuskan keluar dari hubungannya dengan Maria Elena dan Juan Antonio. Vicky yang selama ini berdiam dalam ilusi romantisme karena cintanya yang tak kesampaian pada Juan Antonio kepingin mencicipi hidup Cristina pun mendekati seniman sexy itu. Tapi amukan dan ledakan Maria Elena membuat Vicky tersadar bahwa bukan hidup semacam ini yang dia inginkan.

Film pun ditutup dengan Vicky dan Cristina kembali ke Amerika. Kembali ke awal film ketika dua perempuan ini datang dengan prinsip hidup yang berbeda dan pulang dengan prinsip yang sama.

Javier Bardem tampil sexy sebagai seniman perayu dengan kata-katanya yang lugas menggoda dan tatapannya yang sensual. Tipikal lelaki latin yang penuh perasaan dan keflamboyanan yang membuat perempuan mana pun bertekuk lutut.

Acungan jempol harus diberikan pada Penelope Cruz yang berakting amat prima dalam film ini. Dia menampilkan sosok Maria Elena yang penuh ledakan emosi dalam bentuk kemarahan atau kesedihan. Maria Elena adalah perempuan yang tahu apa yang dia mau, berapi-api, penuh semangat walaupun terkadang amukannya bisa membakar dunia sekelilingnya. Amukan yang menurut saya amat sexy dan mendebarkan. Penelope Cruz menampilkan Maria Elena dengan tampilan “tidak pedulian”, seniman gila, namun memiliki aura sensual dan seduktif yang tidak bisa ditolak lelaki atau perempuan.

Setiap kali Javier Bardem dan Penelope Cruz berinteraksi, layar pun menjadi hidup dan membuat Scarlett Johansson jadi keliatan blah. Penelope Cruz memberikan arti baru tentang kata sexy. Marah = Sexy. Wow! Rasanya saya jatuh cinta pada Penelope Cruz di sini. Di mata saya Penelope Cruz adalah aktris berbakat yang menampilkan kecantikan klasik dan sensualitas perempuan latin yang setara Sophia Loren pada zamannya. Dia layak memperoleh nominasi Oscar atau Golden Globe dalam film ini atau bahkan mungkin memenangkannya.

Sayangnya, objek cinta Woody Allen alias Scarlett Johannson hanya menampilkan akting standar. Cantik ya, tapi emosinya tidak keluar. Apalagi saat adu akting dengan Penelope Cruz, dia jadi kelihatan “bengong”. Tapi musim panas di Barcelona memberinya keuntungan dengan rambut pirangnya serta bibir sensual Scarlett Johansson tetap memukau untuk mata.

Woody Allen adalah salah satu sutradara favorit saya, yang biasanya menampilkan dialog-dialog panjang nan cerdas serta selipan humor di sana-sini. Sayangnya, saya tidak menemukan banyak dialog “nendang” seperti itu dalam film ini. Karakter-karakter dalam film ini pun, terutama Vicky dan Cristina, kurang lebay karena sebagai film drama-komedi yang menunjukkan konsep absurd seharusnya dibuat lebih ekstrem, yang di antara semua pemerannya ditampilkan dengan baik oleh Penelope Cruz. Secara keseluruhan Vicky Cristina Barcelona merupakan film yang menawarkan pemandangan indah. Musim panas di Bacelona. Perempuan-perempuan cantik. Menage a trois. Ciuman Penelope Cruz dan Scarlett Johansson. Sudah cukup kan alasan untuk menontonnya?

@Alex, RahasiaBulan, 2009

12:30 AM

5 Cewek Bond Favorit

Posted by Anonymous |

Kemarin malam nonton James Bond: The World is Not Enough gabung dengan The Lord of the Ring. Malam ini nonton James Bond: Octopussy bareng Harry Potter and the Sorcerer Stone. Iseng mode on tanpa kekasih tersayang, hhh... Babe, happy holiday ya, have fun. Aku mau bikin daftar cewek Bond aja daripada iseng nggak jelas. :)

Franchise James Bond 007 adalah favorit saya, walaupun tidak semua filmnya menjadi favorit saya. Bersama Tante, sejak kelas 2 SD saya sudah ke bioskop dan menonton semua film James Bond di layar lebar. Sisanya, film-film lama Bond mulai dari Dr. No produksi tahun 1962, saya tonton di TV melalui video dan DVD. Tante saya jatuh cinta pada Sean Connery, tapi saya kepingin jadi Bond, James Bond dengan cewek-ceweknya itu lho. Hihihi. Plus mobil Aston Martin-nya.

Saya nggak mau bahas soal siapa James Bond terkeren, well, oke. Kalau saya mengurutkannya: Sean Connery, Daniel Craig, Pierce Brosnan, Roger Moore, George Lazenby, dan Timothy Dalton.

Berikut ini daftar yang lebih penting dibanding siapa James Bond terkeren, yaitu daftar cewek Bond terseksi favorit saya. Buat saya, selain seksi, cewek Bond harus cantik, cerdas, tangguh, dan "berisi".
Diana Rigg - Tracy Bond (On Her Majesty Secret's Service, 1969)
Di antara begitu banyak cewek Bond, Tracy adalah satu-satunya yang menjadi istri James Bond. Melihat Tracy, kita bisa memahami bagaimana Bond memang menggemari cewek-cewek “bermasalah” yang cantik, pintar, dan dingin-dingin nyam-nyam. Saya sudah jatuh cinta pada Diana Rigg ketika dia berperan sebagai Emma Peel dalam serial TV The Avengers, dia membuat pakaian kulit jadi begitu sexyyyyy...

Honor Blackman - Pussy Galore (Goldfinger, 1964)
Entah karena namanya yang terkesan gimana gitu, Pussy Galore adalah salah satu cewek Bond yang mantap dan tak terlupakan. Dia membuat Bond bertekuk lutut sedemikian rupa, atau Bond yang membuatnya bertekuk lutut? Hm... pokoknya lutut mereka berdua tertekuk saat mereka saling merayu. Oya, dalam novelnya Pussy Galore konon lesbian yang kemudian “jadi straight” setelah jatuh cinta pada James Bond. Hahaha, ada-ada aja. :p

Famke Jansenn – Xenia Onatopp (Golden Eye, 1995)
Xenia Onatopp muncul dalam Bond pertama yang diperankan Pierce Brosnan, pada tahun 1995. Dia sebenarnya cewek penjahat dalam Bond, tapi karakternya membuat saya lupa siapa yang jadi cewek Bond satu lagi dalam film Golden Eye ini. Dia punya jurus mematahkan leher lawan dengan jepitan kepitingnya, yang bisa sekalian bikin Onatopp orgasme saat membunuh lawannya. Keren bo!

Eva Green – Vesper Lynd (Casino Royale, 2006)
Bermasalah, cantik, pintar, dan dingin. Well, duuuh, sudah pasti bikin James Bond klepek-klepek.Vesper adalah cinta pertama Bond. Dan mendalami karakter Bond melalui Vesper, kita bisa melihat James Bond sebagai lelaki yang terluka karena cinta yang traumatik sehingga setelah itu dia tidak mau membuka hati seluruhnya... yeah, yeah pembenaran buat lelaki buaya, maksudnya.

Ursulla Andress - Honey Ryder (Dr. No, 1962)
Tempat terhormat ini layak diberikan untuk Honey Ryder. Ursulla Andress adalah cewek Bond pertama pada tahun 1962 dalam Dr. No. Adegan ketika Honey muncul dari laut dengan bikini putih nan seksi itu merupakan adegan klasik yang tak terlupakan. Adegan tersebut berusaha dihidupkan lagi oleh Halle “Jinx” Berry dengan bikini oranye dan pisau di pinggang dalam Die Another Day. Ah, tapi kenapa saya terus membayangkan Ursulla Andress ya pas adegan itu? Well, yang pasti waktu pertama kali saya nonton Dr. No, saya ternganga saat menyaksikan adegan Honey dan bikininya. :p

Selain daftar Cewek Bond terfavorit, ada juga cewek-cewek Bond yang nggak layak banget. Yang bikin ill-feel nonton James Bond. Di antaranya adalah:

  • Carey Lowell sebagai Pam Bouvier dalam License to Kill. Mantan istri Richard Gere ini membuat saya nggak bersemangat nonton cewek Bond. Dia membuat film ini jadi seperti film serial TV.

  • Tanya Roberts sebagai Stacey Sutton dalam A View to A Kill. Mbak Tanya ini sebenarnya cantik, tapi tampak "kosong". Saya sih lebih memilih nonton film Mbak Tanya yang lain, yaitu Night Eyes yang agak-agak semiporn gitu deh, bener deh kalo film yang ini saya bisa nonton berkali-kali, hehehe.

  • Maud Adams sebagai Octopussy dalam Octopussy. Pas nulis ini, pas lagi nonton Octopussy. Maud Adams lebih mirip kepala sekolah galak dan judes dibanding cewek Bond. Malas banget deh, mending pindah channel ke Harry Potter.

  • Olga Kurylenko sebagai Camille dalam Quantum of Solace, yang katanya agen rahasia tapi kerjanya cuma nangis dan ketakutan melulu. Malas banget, plis, mati aja deh, Mbak!

  • Denise Richards sebagai Dr. Christmas Jones, yang berkeliling dengan celana hotpants dan baju tipis robek nggak jelas, dan katanya kita mesti percaya dia ahli fisika nuklir, gitu? Yeah, yeah.

Sekian terima kasih, demikian daftar cewek Bond dari saya. Selamat menonton....

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:45 AM

10 Cewek Jagoan dalam Film Sci-Fi/Fantasi

Posted by Anonymous |

Ingin cari hiburan tontonan akhir tahun? Coba cari lagi di antara koleksi DVD lama dan temukan perempuan-perempuan jagoan ini, lalu nikmati pesta mata bersama mereka. Perempuan-perempuan cantik, berotak, berani, berkepribadian kuat, dan jagoan di antara jagoan.


Angelina Jolie (Lara Croft) – Tomb Raider
Angelina Jolie adalah icon bagi banyak lesbian. Secara pribadi saya bukan fansnya, tapi tidak memasukkan nama Angelina Jolie di sini rasanya ada yang kurang. Saya tidak pernah menganggapnya seksi. Bahkan dalam Tomb Raider pun dia lebih tampak seperti jagoan penggemar lelaki dibanding jagoan sungguhan. Tapi melihat payudara 36 DD-nya Lara Croft menjadi pemandangan mengasyikkan tersendiri.


Carrie Anne Moss (Trinity)– Matrix
Kacamata hitam. Baju kulit hitam. Rambut hitam licin. Tembak sana, tembak sini. Tambah tendangan kung fu, hajar si penjahat. Ciaaaat... Trinity adalah jagoan cool era tahun 2000 yang tidak boleh dilewatkan. Satu adegan yang boleh dilewatkan adalah adegan menyebalkan saat Trinty menghidupkan Neo kembali dengan ciuman. Bah!


Keira Knightley (Elizabeth Swann) - Pirates of the Carribean
Dari putri gubernur yang diculik hingga menjadi anggota kawanan bajak laut kehadiran Elizabeth Swann jelas layak jadi tontonan. Cantik, cerdas, jagoan, dan tidak menye-menye atau manja. Favorit saya adalah dua film pertamanya, Pirates of the Carribean: the Curse of the Black Pearl, dan Pirates of the Carribean: Dead Man Chest. Pirates ketiga terlalu romance buat saya, walaupun saya tetap menantikan Keira Knightley di layar bioskop.


Miranda Otto (Eowyn) – Lord of the Rings
Eowyn adalah keponakan Raja Thoeden dalam Lord of The Rings. Dia naksir berat pada Aragorn, tapi cintanya tak berbalas. Dalam pertarungan di Pelennor Fields dalam Return of The King, Eowyn yang menyamar sebagai laki-laki bertarung dengan Lord of Nazgul, yang dengan pongah berkata pada Eowyn, "No living man may hinder me!"
Lalu Eowyn membuka helmnya perangnya dan berkata, "No living man am I! You look upon a woman." Lalu dia menghunuskan pedang dan menghabisi Lord of Nazgul. Keren banget! Saya bisa mengulang-ulang adegan ini sampai puluhan kali.


Cewek-cewek di X-Men: Hale Berry, Famke Jansen, Rebecca Romijn
Storm, Jean Grey dan Mystique. Semuanya hot dan huebat. Jika suka yang muda ada Anna Paquin sebagai Rogue dan siapa lagi tuh namanya, yang bisa menembus tembok diperankan oleh Ellen Page. Favorit saya adalah Mystique, karena dia cewek jahat. Saya selalu suka cewek jahat, hehehe. Tapi Storm yang tenang dan Jean Grey yang gelisah selalu membuat mata saya nempel menghadap layar kaca setiap kali mereka muncul. Psst, boleh juga nonton James Bond untuk melihat Famke Jansen sebagai Xenia Onatopp dalam Golden Eye.


Milla Jovovitch (Alice) – Resident Evil
Mulai dari 5th Element, Resident Evil, hingga Ultra Violet, Milla Jovovich adalah cewek jagoan yang pantas masuk daftar ini, tapi terutama berkat perannya dalam tiga film Resident Evil. Resident Evil mungkin film paling menjijikkan melihat zombie-zombie busuk dan tak mati-mati. Tapi film ini mengangkat nama Milla Jovovitch sebagai Alice, sang jagoan cewek yang tangguh dan heroik. Milla memerankan seluruh adegan laga dalam Resident Evil pertama tahun 2002. Caranya menembakkan pistol dan menghabisi zombie-zombie itu uh, seksi banget.


Summer Glau – Serenity
Summer Glau-lah yang membuat Sarah Connor Chronicle jadi serial TV yang hidup. Sebagai Terminator yang dikirim untuk menjaga John Connor dalam serial televisi yang menurut saya ceritanya ngos-ngosan ini Summer Glau berhasil menjejakkan namanya sebagai jagoan cewek yang patut diperhitungkan. Sebelum berperan sebagai Terminator, Summer Glau bermain dalam film produksi Joss Whedon: Serenity sebagai River Tam. Wajahnya yang dingin dan kemampuannya menggabungkan seni bela diri dan balet membuatnya jadi jagoan yang mematikan. Buat penggemar Buffy the Vampire Slayer, Serenity adalah film yang kudu harus mesti ditonton.

Jagoan Kehormatan:
Linda Hamilton (Sarah Connor) – Terminator
Di film Terminator II Sarah Connor (Linda Hamilton) bertransformasi jadi perempuan tangguh yang ingin menyelamatkan John Connor, putranya nya dari kejaran Terminator yang dikirim dari masa depan. Adegan ketika Sarah Connor ber-gym di RSJ dan kabur dari sana merupakan adegan penting yang kudu disaksikan. Lalu pas adegan Sarah berkaus singlet menggenggam senapan untuk menyelamatkan John Connor ketika di gurun juga keren abis. Tampilannya mami-mami andro banget deh.


Sigourney Weaver (Ellen Ripley) - Alien
Sigourney Weaver mengangkat jagoan perempuan pada level bahwa perempuan bisa jadi pemimpin dan jagoan di antara lelaki pada Alien pertama tahun 1979. Favorit saya adalah Aliens, ketika Ripley harus menyelamatkan seorang anak kecil dan menghadapi serbuan alien yang sudah beranak-pinak. Atau kalau mau yang ada subteks lesbian, coba tonton Alien 3, yang ada Winona Ryder berperan sebagai android.


Princess Leia Organa – Star Wars
Walaupun tidak jago kelahi, Princess Leia memiliki keberanian, kecerdasan, dan humor yang membuatnya layak jadi ikon. Hubungan asmaranya dengan Han Solo juga memiliki chemistry yang seru dan menarik. Star Wars pertama dibuat tahun 1977 dan Princess Leia ditampilkan sebagai perempuan cerdas dengan otak yang tak kalah dengan laki-laki, sementara pada masanya, tokoh-tokoh perempuan dalam film aksi laga kebanyakan memamerkan tubuh indah dan menjerit-jerit minta tolong pada jagoan lelaki.


Yap, tadi adalah Daftar 10 Cewek Jagoan dalam film-film Sci-Fi/Fantasi favorit saya. Ini adalah daftar yang amat personal. Silakan beri komen jika ada masukan jagoan lain. Yuuuk... Nonton!

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Tadi pagi saya dan partner menonton preview film Twilight. Film ini baru beredar secara resmi di Indonesia tgl 2 Desember 2008, tapi yang fans berat bisa midnight show malam ini tanggal 29 November. Kalau saya sih, sudah kalap menunggu film ini sejak diputar di Amrik 21 November minggu lalu. Melihat bagaimana Bella dan Edward saling jatuh cinta membuat saya jadi luluh, lemas, dan konsentrasi penuh pada layar bioskop. Saya dan Lakhsmi terpaku pada layar dan nyaris tidak sempat komentar saking otak kami penuh banget dengan cintanya Bella dan Edward ini.

Oke, oke, mungkin masih ada yang tinggal di hutan belantara selama setahun terakhir jadi nggak tau saya ngomong apa. Twilight merupakan novel yang ditulis oleh Stephenie Meyer dan terbit pada tahun 2004, yang sejauh ini sudah dibuat tetralogi. Twilight, New Moon, Eclipse, Breaking Dawn. Ceritanya tentang remaja 16 tahun bernama Bella Swan yang jatuh cinta pada Edward Cullen. Masalahnya adalah Edward bukan manusia biasa, melainkan vampir.

Selama berbulan-bulan saya sudah merecoki semua orang dengan novel ini, tak terkecuali Lakhsmi. Hihihi... Sayang, kita tuh Edward dan Bella banget. Itu yang selalu saya katakan padanya. Kalau ada pertanyaan “Kenapa sih saya dan Lakhsmi masih bersama-sama sampai saat ini?” Baca aja Twilight dan kamu pasti ngerti. Nggak usah nunggu sampai 5 tahun pacaran untuk bisa menjawabnya... hahaha.

Balik ke filmnya. Film ini dibuat dengan bujet hanya 31 juta dolar untuk buku yang menghebohkan ini. Tidak banyak teknologi khusus seperti Harry Potter atau LOTR atau aktris-aktris ngetop sebagai pemerannya karena awalnya Twilight adalah film yang tidak dilirik perusahaan film raksasa. Saya suka sekali Kristen Stewart dan Robert Pattinson yang berperan sebagai Bella dan Edward. Ini merupakan lompatan karier terbesar bagi mereka berdua. Kristen Stewart pernah jadi anak perempuan Jodie Foster yang tomboi dalam The Panic Room. Sementara Robert Pattinson adalah Cedric Diggory dalam Harry Potter and the Goblet of Fire.

Kristen Stewart menampilkan Bella yang gelisah, kuper, dan bingung saat pertama kali harus pindah ke kota dan sekolah baru. Robert Pattinson juga sukses menjadi Edward oh Edward yang awalnya tampak tegang selalu dan makin lama makin santai dan rileks. Pertama kali lihat wajah Edward sih agak aneh gitu, tapi lama-lama saya sudah menganggap dia sebagai Edward beneran. Wuih, apalagi pas adegan di hutan.


Tokoh-tokoh vampir lain, terutama vampir perempuannya juga memiliki karakter kuar. Victoria, sang vampir jahat juga akan saya nantikan jika nanti film lanjutannya, New Moon, dibuat. Alice juga kelihatan cantik, Rosalie tampil dingin bagai es dan keduanya cocok banget dengan peran mereka.

Oke, tadinya saya agak ilfil dengan pemilihan Taylor Lautner sebagai Jacob, tapi tenyata pas di layar dia not bad kok. Apalagi pas adegan dia dipelototin sama Edward gara-gara Jacob berani “mendekati” Bella. Saya langsung berteriak, “Patahin! Patahin aja kakinya si Jacob...!” Hahaha, terpengaruh gituuuu... norak deh gue.

Selain filmnya yang setia pada novelnya, soundtrack filmnya juga keren bangeeet. Dan Robert Pattinson nyanyi dua lagu dalam soundtracknya. Pas adegan dansanya, waduh, saya hampir pingsan saking irinya dan langsung pegangin tangan Lakhsmi karena saya jatuh cinta sama Edward.

Film ini disutradari oleh sutradara perempuan Catherine Hardwicke dan ditulis skenarionya oleh Melissa Rosenberg. Produser film ini Summit Entertainment berhasil meraup untung besar dengan pemasukan box office 69,5 juta dollar pada minggu pertama pembukaannya. Melalui Twilight, dia menjadi sutradara perempuan dengan penghasilan box-office terbesar. Film ini langsung menggeser kedudukan Quantum of Solace yang cuma bertahan satu minggu di posisi pertama. Dan menyesalah eksekutif-eksekutif film yang kebanyakan lelaki berjas di Paramount Pictures, yang tadinya mau memutilasi habis-habisan cerita untuk film Twilight ini, namun ditentang oleh Stephenie Meyer, karena menurut mereka, “Siapa sih yang mau nonton film cewek abege yang jatuh cinta sama vampir?”

Maverick, perusahaan hiburan milik Madonna melihat potensi novel ini untuk menimbulkan histeria massa terbesar setelah Harry Potter dan memutuskan untuk membeli hak filmnya pada tahun 2004. Dan bisa dibilang inilah era kebangkitan perempuan dalam film Hollywood. Filmnya diangkat dari novelis perempuan, ditulis skenarionya oleh perempuan, disutradarai oleh perempuan, dieditori oleh perempuan. Bukunya sendiri sudah beredar sebanyak 25 juta eksemplar dan diterjemahkan ke 37 bahasa serta menimbulkan histeria bagi jutaan perempuan berusia 12-45 tahun. Mengutip kata Edward, "You can google it if you want."

Apa sih hebatnya Twilight? Apa yang membuat bahkan Barack Obama saja mengatakan bahwa dia juga ikut membacanya. Padahal ini cuma kisah cinta kacangan yang ditulis oleh ibu tiga anak dari Arizona Amerika Serikat, yang penganut agama Mormon yang taat pula. Beneran kok ceritanya roman nggak penting, tapi cara Stephenie Meyer menampilkan cinta yang sensual tanpa seks itulah yang membuat para pembaca tambah berdebar-debar, sampai menahan napas. Di filmnya, kobaran ini tidak sedahsyat dalam buku, namun tidak bisa dibilang gagal pula. Pas, tapi kurang. Kurang puas rasanya mendengar ungkapan-ungkapan cinta Edward pada Bella. Yah, yah, I'm a romantic fool.


Cinta. Patah hati. Kebaikan. Kejahatan. Manusia. Iblis. Itulah inti Twilight. Sebagai manusia kita akan terhubung dengan kejadian-kejadian dalam novel ini dengan komentar, “ya ampun ini gue banget ya!”

Siapa pun orang yang pernah jungkir-balik karena cinta, pasti akan ngerti buncahan perasaan Bella dan Edward dalam Twilight. Bagi yang pernah patah hati karena cinta, pasti akan langsung “kena” ketika baca New Moon. Bagi yang pernah merebut kembali pacarnya atau mencintai milik orang lain, pasti akan nyambung saat baca Eclipse. Terlebih lagi buat pembaca perempuan, ditambah bumbu cinta terlarang, hm, makin klop kan untuk pembaca lesbian?

Meskipun “terlahir” sebagai predator paling berbahaya di muka bumi, Edward dan keluarganya tidak berburu darah manusia, mereka hidup dengan darah binatang. Yang kalau diibaratkan, mereka adalah keluarga vegetarian. Dan mereka harus banyak melakukan kontrol diri untuk bisa menahan nafsu monster dalam diri mereka. Sama seperti manusia. Saat sudah punya pasangan, begitu besar kendali yang harus kita terapkan bagi diri kita kalau kita tidak mau “membunuh” pasangan kita. “Control your thrist.” Begitu banyak makanan di luar sana yang memohon untuk dicicipi, tapi pada akhirnya yang membedakan kita dari monster adalah kemampuan kita mengendalikan diri.

Eniwei, film sepanjang 121 menit ini bergerak dengan lambat di saat adegan roman dan bergerak cepat di saat adegan-adegan aksi. Jika kamu fans novel Twilight, film ini jelas kudu ditonton! Filmnya setia dengan buku. Bodo amat deh kalau ada komentar jelek tentang film ini... tapi buat saya, ini film yang berhasil mengangkat buku ke film dengan baik. Sampai saat ini otak saya masih dipenuhi wajah Edward. Ampun deh.

@Alex, RahasiaBulan, 2008


Tulisan Lakhsmi tentang Twilight,
http://treeofheart.blogspot.com/2008/11/twilight.html

Bagaimana kau melanjutkan hidup setelah hatimu hancur dan hidupmu tak keruan setelah orang yang kaucintai pergi dari hidupmu?
Sebagian orang mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan hidup, sebagian lagi memilih bertahan dan menunggu.

Elizabeth (Norah Jones) adalah perempuan yang patah hati dan memutuskan untuk menunggu kekasihnya kembali. Dia menitipkan kunci apartemennya pada Jeremy (Jude Law) pemilik kafe yang tinggal di seberang apartemennya, seandainya kekasihnya memutuskan untuk kembali dia bisa mengambil kunci itu pada Jeremy.

Dan Elizabeth pun menunggu. Bersama Jeremy. Dalam malam-malam yang diisi dengan obrolan dan pie blueberry. Kenapa pie blueberry? Karena itulah jenis pie yang nyaris tidak pernah dipesan pelanggan kafe. Tapi Jeremy tetap membuat pie itu, untuk jaga-jaga kalau saja ada yang memesannya. Jeremy bercerita tentang kunci-kunci yang dititipkan padanya, dan ditaruh dalam mangkuk. Tidak berbeda dengan Elizabeth, Jeremy pun salah satu dari manusia soliter yang menunggu cintanya kembali. Mereka adalah manusia-manusia ngeyel yang keras kepala dalam romantisme penantian cinta tanpa akhir. Sesungguhnya hanya perlu “closure” untuk membuat mereka bangun dari kenyamanan semu itu, sebagaimana yang diperoleh Jeremy pada pertengahan film dan Elizabeth pada akhir film.

Sebagaimana film-film karya sutradara Wong Kar Wai lainnya, My Blueberry Nights bercerita tentang manusia-manusia soliter. Manusia-manusia yang nyaman dengan kesendirian mereka, namun tetap membutuhkan manusia lain untuk tetap hidup. Manusia-manusia yang bisa melewati hidup sendirian, namun tanpa suara menjerit lantang, “Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendirian.”

Seperti yang ditampilkan sutradara asal Hong Kong ini dalam Chungking Express dan In the Mood for Love, Wong Kar Wai bermain dengan bahasa warna visual (ungu dalam film ini) dan soundtrack/music score yang pas. Meskipun tidak sedahsyat film-filmnya yang berbahasa mandarin, My Blueberry Nights adalah film pertama berbahasa Inggris karya Wong Kar Wai yang diputar dalam pembukaan Cannes Film Festival ke-60 tahun 2008. Oya, ini bukan film lesbian, tapi tokoh-tokoh utama dalam film ini dikuasai oleh tiga perempuan. Norah Jones, Rachel Weisz, dan Natalie Portman. Dan ketiganya menampilkan akting terbaik mereka meskipun tidak fenomenal amat. Ini adalah film perempuan banget, dan tidak rugi melihat tiga perempuan cantik ini adu akting.

Film-film Wong Kar Wai selalu memiliki arti personal buat saya. Secara pribadi saya selalu jatuh cinta pada film-filmnya. Pada manusia-manusia yang ditampilkan dalam film-filmnya. Pada kesepian. Pada malam hari. Pada kesunyian. Saya kadang-kadang menganggap diri saya seperti makhluk soliter ciptaan Wong Kar Wai. Ada bagian diri saya yang mengisi malam dan sunyi. Malam-malam insomnia yang membuat saya tidak bisa tidur sebelum lewat tengah malam. Namun lebih seringnya, ada kenyamanan tidur bersama pasangan yang bisa memberikan pemenuhan bagi diri kita sedemikan rupa. Saya rasa penyerahan diri tertinggi pada orang yang kita cintai adalah ketika kita memiliki rasa nyaman bersama pasangan, yang salah satunya adalah saat kita bisa tidur rileks di sampingnya.

Kembali ke Elizabeth yang kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan New York, karena menunggu kekasihnya terlalu menyakitkan dan dia tak sanggup mengucapkan selamat tinggal. Satu-satunya cara adalah pergi dengan membawa luka. "How do you say goodbye to someone you can't imagine living without?

Elizabeth sampai ke Memphis dan bekerja sebagai pelayan bar. Di sana dia bertemu dengan polisi alkoholik yang masih menunggu cinta istrinya, sementara sang istri sudah bersama entah berapa banyak lelaki. Sementara sang istri (Rachel Weisz) kepingin suaminya berhenti mencintainya begitu dalam, berhenti menunggu, dan melepaskannya. Dalam film ini Rachel Weisz tampil teramat seksi dengan gaun ketat dan rambut acak-acakan. Dan di antara tiga perempuan dalam My Blueberry Nights, she's the Wow!

Dari Memphis, Elizabeth melanjutkan perjalanan ke Nevada dan bertemu dengan Leslie (Natalie Portman). Karena kalah judi, Leslie minta diantar oleh Elizabeth ke Texas. Bersama Leslie, Elizabeth belajar bahwa sudah saatnya dia menghargai apa yang dia miliki, bukannya berpegangan pada keinginan untuk menunggu.

Selain menjadi pemeran utama, Norah Jones juga mengisi soundtrack film ini. Suaranya yang renyah mendayu sangat pas untuk film ini. New York malam hari. Dua manusia soliter bertemu dan saling mengisi. Perjalanan hingga Memphis lalu Nevada juga perjalanan soliter yang harus ditempuh oleh Elizabeth untuk berhenti menunggu, belajar mengucapkan selamat tinggal, dan melanjutkan hidup.

Saat kau tidak bisa melepaskan, kau tidak bisa melanjutkan hidupmu. Seberapapun “bahagia”nya kau menunggu, hidupmu tak berlanjut. Kau hanya berputar-putar dalam lingkaran bahagia semu dalam hidup solitermu. Itulah inti My Blueberry Nights. Endingnya pun sebenarnya tidak sulit ditebak. Setelah menghabiskan hidup hampir setahun dalam perjalanan menjauh dari rasa sakitnya, Elizabeth pulang, dan menyeberangi jalan dari apartemennya menuju ke tempat di mana kunci-kunci dalam mangkuk itu tidak pernah diambil oleh orang yang diharapkan. Ke kafe tempatnya menghabiskan malam-malam Blueberry-nya bersama Jeremy.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Menonton Finn's Girl mengingatkan saya pada film-film ala channel Hallmark di televisi, apalagi durasi film ini tidak lebih dari satu setengah jam. Ceritanya berkisah tentang drama keluarga ibu dan anak dengan bumbu-bumbu lesbian yang membahas tentang menjadi anak dari pasangan lesbian, dan bagaimana seorang lesbian melanjutkan hidup setelah kematian pasangan.

Finn Jeffries adalah dokter berusia empat puluhan tahun, diperankan oleh Brooke Johnson. Finn seorang dokter kandungan dan pakar reproduksi dengan penampilan kebapakan, hobi naik motor, jaket kulit, dan berambut cepak pendek. Setelah kematian Nancy, partnernya, karena kanker, ia mengambil alih klinik aborsi yang didirikan Nancy dan menjadi orang tua tunggal bagi anak perempuannya yang berusia 11 tahun, Zelly (Maya Ritter). Zelly adalah hasil sumbangan sperma dari sahabat mereka, Paul (Richard Clarkin), yang kadang-kadang datang dan menunjukkan perannya sebagai ayah. Pekerjaannya di klinik aborsi membuat Finn mendapat ancaman pembunuhan dari pihak religius radikal dan membuat Finn harus mendapat perlindungan polisi nyaris sepanjang waktu.

Ancaman pembunuhan, memimpin klinik aborsi, kematian partner, mengurus anak remaja yang sedang nakal-nakalnya, membuat Finn keteteran. Hubungan Finn dengan Zelly makin memburuk. Apalagi saat Finn menjalin hubungan dengan Jamie, dokter magang di kliniknya. Zelly makin bete melihat tingkah sang ibu yang bukannya memerhatikan dia malah berasyik-masyuk dengan cewek muda yang diajaknya ke rumah.

Jadilah Zelly memberontak, apalagi terhadap Jamie dianggapnya mau coba-coba sok jadi ibunya. Dia membolos, mengisap ganja, dan mengutil. Ia marah pada Finn yang dianggapnya bukan ibu yang baik dan dewasa. Biasanya Nancy-lah yang berperan sebagai ibu di rumah dan tanpa Nancy, Finn jadi tak berdaya menghadapi Zelly. Di antara carut marut hubungan ibu dan anak ini, Paul juga memperkeruh masalah dengan keinginannya mengambil hak asuh atas Zelly.

Meningkatnya teror dan ancaman maut terhadap Finn, membuat Zelly pun jadi dalam penjagaan polisi. Diana (Yanna McIntosh) adalah salah satu polisi yang kemudian jadi makin dekat dengan Zelly dan Finn. Yah, bisa ditebaklah ke mana arah hubungan mereka. Apalagi ketika Finn memutuskan hubungannya dengan Jamie.

Sayangnya film ini tidak menunjukkan gejolak emosi yang kentara antara sesama aktornya. Semua aktornya bermain baik, terutama Brooke Johnson sebagai Finn. Namun sayangnya chemistry antara para pemeran terasa datar. Dialog-dialog baru tampak hidup pada dialog antara Zelly dengan Eve dan Max, dua sahabat karibnya di sekolah. Permainan dan dialog yang terlontar antara mereka menunjukkan kegelisahan-kegelisahan yang mereka rasakan sebagai anak baru gede. Sebagai sahabat, mereka pun saling mendukung, terutama menghibur Zelly akibat kematian Nancy. Meskipun Max bilang pada Zelly bahwa ibunya melarang dia main dengan Zelly karena dia berasal dari keluarga tidak wajar. Yang dijawab dengan Zelly, “Two moms are OK, it's having one that's drag.”

Finn's Girl adalah film produksi Kanada tahun 2007, yang disutradarai oleh Dominique Cardona and Laurie Colbert. Sebelum film ini, keduanya pernah menghasilkan film dokumenter yang mendapat banyak pujian, Thank God I'm a Lesbian, My Feminism. Finn's Girl juga diputar di berbagai festival film LGBT pada pertengahan tahun 2008 ini. Film ini bersetting di Kanada dengan aktor-aktor asal Kanada pula.

Di samping ketiadaan emosi yang menggigit hingga menjurus membuat ngantuk penonton, yang menarik dari film ini adalah niatannya mengangkat isu-isu lesbian yang jarang dilirik oleh sutradara lain. Bukan melulu tentang cinta lesbian atau romansa berlebihan tentang indahnya cinta. Tapi Finn's Girl menyentuh isu kompleks tentang bagaimana memulai hubungan romansa lagi di saat usia sudah lewat 40 tahun, hubungan sepasang ibu lesbian dan anak remajanya, kematian pasangan lesbian yang sudah hidup bersama selama bertahun-tahun, perebutan hak asuh antara donor ayah dan ibu lesbian yang bukan melahirkan sang anak tapi menjadi ibu yang membesarkan dan merawatnya sejak lahir. Sayangnya durasi dan tayangan ala film TV ini membuat Finn's Girl jadi terlalu sesak dengan isu-isu berat tersebut.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:47 PM

Film: My Summer of Love: Musim Panas Musim Bercinta

Posted by Anonymous |

Musim panas musim bercinta. Dua perempuan abege yang sedang liburan sekolah bertemu di wilayah pedesaan Yorkshire, Mona (Natalie Press) dan Tamsin (Emily Blunt). Sejak awal pertemuan, kita bisa melihat bahwa mereka berasal dari kelas dan latar belakang berbeda. Mona adalah gadis keluarga menengah ke bawah yang tinggal di desa bersama kakak lelakinya, Phil (Paddy Considine). Sementara Tamsin adalah gadis kaya yang kurang kasih sayang dan hanya berada di desa untuk liburan musim panas. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya adalah lelaki tukang selingkuh. Keduanya bertemu kemudian jatuh cinta dalam waktu singkat. Dan keduanya juga harus bersiap menghadapi kenyataan hidup.

Mona terpesona dalam keindahan Tamsin. Pada caranya yang eksotis, dengan kegemarannya pada lagu-lagu Edith Piaf, pada caranya yang tidak pedulian pada dunia. Keduanya hidup dalam dunia berbeda, dan itulah yang membuat Mona dan Tamsin saling tertarik. Berboncengan naik motor butut, berenang di sungai, berlarian di pandang rumput, siapa yang takkan jatuh cinta?

Tapi Phil yang baru saja menjalani kesembuhan dari kehidupan bejatnya dan menjadi penganut Kristen sejati mengetahui hubungan Mona dengan Tamsin. Ia marah besar dan langsung mengurung dan menghajar Mona ketika mengetahui adiknya ingin kabur bersama Tamsin. Dan ia ingin menyelamatkan adiknya dari jalan yang sesat.

Kalau kau meninggalkanku, aku akan membunuhmu, setelah itu aku akan bunuh diri. Aku mencintaimu. Demikian janji cinta yang mereka ucapkan saat kebahagiaan cinta pertama mengaliri mereka. Namun seperti yang kita tahu tentang cinta musim panas yang penuh gairah, apalagi ditambah dengan gejolak cinta pertama, kita tahu cinta ini akan berakhir buruk. Apalagi pas dialog itu terucap, penonton yang awas dalam hatinya akan berkata, “O-oh...”

My Summer of Love adalah film Inggris buatan tahun 2004. Film yang diangkat dari novel karya Helen Cross ini skenarionya ditulis dan disutradari oleh Pawel Pawlikowski. Dan film ini pula yang mengangkat nama Emily Blunt ke jajaran aktris pendatang baru dari Inggris. Emily Blunt yang kelahiran tahun 1983 ini selanjutnya hijrah ke Hollywood dengan perannya yang membuat dia dikenal khalayak ramai sebagai asisten Meryl Streep dalam The Devil Wears Prada. Dan ia juga bermain dengan apik dalam Jane Austen Book Club. Kariernya dalam dunia film Hollywood tampaknya akan semakin cerah dengan tiga filmnya yang sedang dalam proses produksi.

Film berdurasi 86 menit ini adalah film panjang pertama bagi kedua aktris pemeran utamanya. Natalie Press dan Emily Blunt menampilkan akting memukau sebagai gadis-gadis remaja yang jatuh cinta. Mona yang keras kepala dan sederhana dan Tamsin yang manja dan gadis kaya manipulatif. Kesepian dan kebosanan dalam musim panas membuat mereka bertemu lalu jatuh cinta. Masing-masing mengisi satu sama lain dalam peran mereka. Selain itu Paddy Considine yang berperan sebagai Phil juga menunjukkan akting yang baik. Ia menjadi born-again Christian yang sudah bertobat, namun jauh di dalam dirinya masih ada kenyataan yang tak bisa dia singkirkan begitu saja. Masih ada begitu banyak kemarahan dalam diri Phil, dan kita menunggu kapan saat kemarahan itu meledak.

Tokoh-tokoh dalam film ini tampak realistis, tanpa perlu berusaha keras. Walaupun adegan seks dalam film ini bisa dibilang minor, tapi Emily Blunt tampil telanjang dada dalam satu adegan ranjang. Nggak terlalu penting juga sebenarnya. Yang lebih menyenangkan dari My Summer of Love adalah soundtrack-nya yang lumayan asyik.

My Summer of Love dibuat hanya dengan budget 1,7 juta Poundsterling memperoleh sejumlah penghargaan dari Inggris dan Eropa. Alexander Kofta Award untuk Best British Film pada BAFTA Awards tahun 2005. Dalam British Independent Film Award 2004, film ini masuk nominasi sutradara terbaik untuk Pawel Pawlikowski. Pendatang Baru Terbaik untuk Emily Blunt, Aktri Terbaik untuk Natalie Press, dan Peran Pembantu Terbaik untuk Paddy Considine. Serta nominasi Best British Independent Film.

Film ini bukanlah film yang harus dipikir terlalu keras. Untuk endingnya, tidak seburuk itu kok. Film ini memiliki ending yang oke, dan apa adanya... Nikmati saja film ini seperti menikmati musim panas yang akan segera berakhir.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:25 AM

Film: Affinity: Misteri dalam Balutan Kisah Lesbian

Posted by Anonymous |

Affinity adalah film buatan tahun 2008 yang diangkat dari novel tahun 1999 karya Sarah Waters. Dengan genre Historical Fiction, Sarah Waters telah mencatatkan namanya sebagai novelis lesbian yang memiliki spesialisasi khusus tema lesbian berlatar belakang sejarah.
Novelnya sendiri memenangkan menjadi nomine Lambda Literary Award pada tahun 2000 serta beberapa penghargaan bergengsi lainnya. Dan Sarah Waters memperoleh penghargaan Sunday Times Young Writer Award berkat novelnya ini.

Novelnya diangkat ke layar lebar dengan penulis skenario Andrew Davies, yang menjadi co-writer skenario film Bridget Jones Diary dan Pride and Prejudice versi BBC. Film Affinity ditayangkan pertama kali pada tanggal 19 Juni 2008 pada malam pembukaan Frameline, San Fransisco International LGBT Film Festival di Castro Theatre.

Affinity bersetting pada tahun 1870-an di Inggris pada era Victoria, ketika perempuan masih mengenakan gaun 'sarang burung'. Tokoh utamanya adalah Margaret Prior (Anna Madeley) perempuan yang dianggap perawan tua (padahal sesungguhnya dia lesbian) dan depresi karena kematian ayahnya dan pernah mencoba bunuh diri, ditambah lagi dengan ibunya yang otoriter. Margaret menemukan setitik kebahagiaan ketika menjadi "Lady Visitor" alias semacam pembimbing bagi napi-napi perempuan di penjara.

Di penjara dia bertemu dengan Selina Dawes (Zoe Tapper), yang saat pertama kali dilihat Margaret sedang menggenggam setangkai bunga. Hal itu mengusik rasa ingin tahu Margaret, karena bunga adalah benda yang nyaris tak mungkin bisa ditemukan di penjara. Selina mengaku dirinya adalah medium arwah. Ia juga mengaku bahwa ada arwah jahat yang menjadi pelaku kejahatan yang didakwakan padanya.

Margaret pun jadi terobsesi pada Selina dan jatuh cinta pada sang napi. Ia rela melakukan apa saja demi Selina apalagi saat Selina menyatakan bahwa mereka adalah dua jiwa yang terpisah dan mereka ditakdirkan untuk bersama.

Dibanding dua film dari karya Sarah Waters sebelumnya, Tipping the Velvet dan Fingersmith, yang dibuat miniseri sepanjang 3 jam oleh BBC, Affinity adalah film singkat sepanjang 90 menit sehingga meninggalkan kesan kurang panjang. Film ini juga tidak menunjukkan adegan-adegan percintaan sesama perempuan seperti Tipping the Velvet dan Fingersmith. Yang ada hanya ciuman-ciuman singkat dan halus. Unsur yang mengganggu dalam film ini adalah permainan kamera close-up ala sinetron Punjabi. Seakan ada latar belakang musik, 'jreng-jreng', setiap kali si tokoh menunjukkan keterkejutan atau kepanikan. Namun semua itu tidak mengurangi kenikmatan menonton film ini.

Affinity lebih berpusat pada kisah misteri dibanding kisah cinta antara Margaret dan Selina. Misteri yang akan terungkap pada akhir film, dan akan jadi spoiler jika saya tulis semua di sini. Film ini bisa saja dibuat dengan tokoh hetero, misalnya. Ketegangan dan misterinya akan tetap sama. Tapi unsur lesbiannya membuat film ini memiliki twist yang sedikit lebih rumit. Dan dalam Affinity, kisah misteri ini kebetulan terjadi pada dua perempuan lesbian.

Sekali lagi acungan jempol untuk Sarah Waters. Kemampuannya membuat twist cerita dalam novel-novel lesbiannya belum ada lawan sampai sejauh ini. Saya rasa itulah yang membuat novel-novel Sarah Waters selalu jadi tontonan menarik saat diangkat ke layar TV atau layar lebar. Sebagaimana dua film yang diangkat dari novel Sarah Waters sebelumnya, Affinity adalah film yang layak ditonton.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Caramel (dalam bahasa Arab: Sukkar Banat), adalah film panjang pertama dari sutradara asal Lebanon, Nadine Labaki. Film ini ditayangkan pertama kali pada tanggal 20 Mei 2007 di Cannes Film Festival dan menjadi nominee untuk penghargaan Caméra d'or. Selain mendapat banyak pujian di Cannes, Caramel juga masuk nominasi film asing terbaik pada Piala Oscar 2008. Film hanya dengan budget 1,6 juta dolar ini berhasil meraup pendapatan sebesar 12 juta dolar dari seluruh dunia.

Nadine Labaki sang sutradara juga menjadi pemeran utama dalam film ini. Ia berperan sebagai Layale, karyawan salon yang menjadi selingkuhan pria beristri. Saking cinta butanya pada lelaki beristri, dia tidak melihat ada lelaki baik, polisi tampan yang jatuh hati padanya Di salon itu juga ada Nisrine (Yasmine Al Masri), perempuan yang tidak perawan lagi dan akan menikah dengan lelaki muslim, dan berusaha mencari cara supaya calon suaminya tidak tahu tentang ketidakperawanannya. Ada pula Rima (Joanna Moukarzel), yang lesbian dan naksir dengan pelanggan tetap salonnya. Selain mereka bertiga ada Jamale (Gisele Aouad), janda parobaya yang mati-matian berusaha mempertahankan kemudaannya, dan Rose (Siham Haddad), penjahit tua yang tak pernah menikah dan tinggal dengan kakak perempuannya Lily (Aziza Semaan).

Perempuan-perempuan perempuan beragam usia dan masalah berkumpul dan bersahabat di salon kecantikan bernama Si Bella. Bersetting di Beirut, namun Labaki sama sekali tidak menampilkan wajah politik dan perang di Lebanon tapi bercerita tentang pahit-manis cinta dan kehidupan yang dihadapi lima perempuan di sini. Cinta terlarang, tradisi yang mengekang, tekanan seksual, usia tua, dan hasrat yang bertabrakan dengan tanggung jawab merupakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Layale yang tadinya mati-matian mencintai lelaki beristri itu dan sebagaimana harapan hampir semua selingkuhan, ia pun berharap si lelaki mau meninggalkan istrinya demi dia. Namun akhirnya ia terbuka matanya saat bertemu dengan perempuan yang menjadi istri sang lelaki.. Demi tradisi kolot, Nisrine kemudian memutuskan untuk menjalani operasi selaput dara agar dia bisa tetap perawan di malam pertama. Sementara Rima yang lesbian mendapatkan celah-celah cinta dari seorang pelanggan perempuan yang selalu mampir ke salon untuk cuci rambut hanya dengannya.

Film ini terasa amat perempuan, hangat dan lembut, selembut judulnya. Karamel di sini merupakan campuran gula, air, dan perasan jeruk yang dipanaskan. Hasilnya selain enak dimakan, karamel yang lengket seperti permen karet juga digunakan untuk me-wax bulu tubuh, dan percayalah diwax itu menyakitkan. Karamel juga menjadi metafora dalam film ini, bagaimana rasa pahit, manis, asam, dan sakit karamel itu juga menjadi rasa kehidupan. Dan lengketnya karamel juga seperti ikatan persahabatan kelima perempuan ini.

Dalam film berbahasa Arab campur Prancis ini, Nadine Labaki menampilkan gambar-gambar yang realistis namun manis. Sebagai bekas jajahan Prancis, tidak heran jika bahasa Prancis masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Lebanon. Kisah-kisahnya pun sederhana tapi perempuan banget. Dengan indah, ia menyelipkan keindahan beragama di era modern
Beirut, di mana penganut Kristen dan Muslim hidup damai dan bersahabat. Banyak orang yang salah kaprah dengan menganggap Lebanon sebagai negara Islam, padahal hampir 40% penduduk di Lebanon adalah penganut Kristen.

Tidak seperti sutradara-sutradara Arab lainnya, Labaki yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video klip ini, adalah keunikannya dalam menyentuh isu-isu yang tidak dilirik dalam film-film Timur Tengah. Biasanya film-film Arab menampilkan isu agama, politik, perang, perempuan tertindas, dan semacam itu, tapi Caramel menunjukkan kekuatan dan keindahan perempuan melalui pergolakan emosi dan jatuh bangun perasaan yang mereka rasakan.

@Alex, SepociKopi, 2008

Kadang-kadang perempuan butuh perempuan lain untuk membantunya membangkitkan inner beauty dalam dirinya. Itulah makna dari film Love on the Side. Eve Stuckley (Marla Sokoloff) adalah waitres di kota kecil. Selama bertahun-tahun ia naksir pada cowok ganteng sahabat kakaknya, Jeff Sweeney (Barry Watson). Meskipun manis dan berbakat, penampilan Eve yang culun sering membuatnya tidak diperhatikan oleh laki-laki.

Sampai suatu hari Linda (Monika Schnarre) datang ke kota itu. Linda yang cantik bertubuh semampai ala supermodel itu membuat semua lelaki di kota tersebut terpana dan naksir berat. Termasuk kakak Eve dan Jeff. Tapi Linda yang lesbian ternyata tidak tertarik pada laki-laki, dan dia tidak malu-malu menunjukkan ketertarikannya pada Eve.

Mendadak Eve yang selama ini tidak pernah dilirik lelaki idamannya kini jadi pusat perhatian semua orang. Penduduk kota kecil itu kini melihat Eve dengan cara yang berbeda. Bagaimana seorang gadis pemalu bisa menjadi pusat perhatian gadis kota besar yang cantik, cerdas, dan sexy?

Love on the Side sendiri adalah film buatan Kanada tahun 2004 yang disutradarai oleh sutradara kelahiran India, Vic Sarin, yang banyak menyutradarai film-film televisi. Pemeran Linda, Monika Schnarre, memang model asal Kanada dan telah membintangi beberapa serial televisi antara The BeastMaster dan The Bold and the Beautiful. Ia juga menjadi model pakaian renang di negara asalnya, Kanada. Kehadiran Jennifer Tilly dalam film ini sebagai Alma, sahabat tempat curhat Eve juga menyegarkan. Dia yang pernah tampil dalam film Bound membuat film ini jadi "sedikit lebih lesbi".

Sesungguhnya Love on the Side bukanlah film yang lesbian-lesbian amat. Ceritanya sendiri standar film remaja. Ada cewek yang selama bertahun-tahun naksir seorang cowok ganteng, tapi cowok ganteng itu tidak pernah memerhatikannya. Kemudian muncul tokoh lain yang membuat si cowok itu memerhatikan cewek itu. Tapi lesbian twist di sinilah yang membuatnya punya bumbu berbeda.

Seperti halnya film The Color Purple karya Steven Spielberg, Love on the Side menampilkan ide tentang bagaimana kadang-kadang perempuan hanya perlu dibangkitkan secara seksual oleh perempuan lain tanpa berarti bahwa perempuan tersebut adalah lesbian. Karena ada hal-hal tertentu yang tak kasatmata oleh lelaki, namun bisa dilihat oleh sesama perempuan.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

Yap, kali ini yang jadi lesbian adalah sang ibu. My Mother Likes Women atau dalam judul Spanyolnya A Mi Madre Le Gustan Las Mujeres dimulai ketika sang ibu, Sofia (Rosa Maria Sarda) yang sudah berusia lebih dari 50 tahun memperkenalkan kekasih barunya kepada tiga putrinya. Tiga bersaudara ini, Jimena (Maria Pujalte), Elvira (Leonor Watling), dan Sol (Silvia Abascal), shock mendapati ibunya yang sudah lama menjanda memperkenalkan perempuan muda sebagai objek cintanya

Perempuan itu bernama Eliska (Eliska Sirova), seorang pianis asal Ceko yang usianya selisih dua puluhn tahun dengan sang ibu. Di antara ketiga bersaudara itu, yang paling shock adalah Elvira, si anak tengah berusia 20-an yang bercita-cita menjadi penulis. Melihat ibunya lesbian, Elvira jadi bertanya-tanya apakah dirinya mungkin juga lesbian karena selama ini hubungannya dengan laki-laki selalu kandas. Elvira yang sedikit neurotik dan insecure inilah yang jadi karakter utama dalam film.

Tiga bersaudari ini kemudian mengatur plot untuk memisahkan sang ibu dengan Eliska, karena mereka yakin Eliska hanya mengejar uang sang ibu. Sol disuruh merayu Eliska, namun Elvira-lah yang kemudian jadi akrab dengan Eliska. Lalu dimulailah kesalahpahaman ala komedi romantis yang menjadikannya konflik dengan akhir yang tidak sulit ditebak.

Chemistry antara Sofia dan Eliska lebih terasa seperti ibu dan anak daripada hubungan kekasih. Kemesraan antara mereka tampak terasa ketika Eliska bersama Sofia yang juga pianis memainkan karya Schubert bersama, tapi selain daripada itu... nada. Malah chemistry antara Eliska dan Elvira yang walaupun hanya muncul dalam beberapa adegan bersama tampak lebih meletup.

Humor dalam film ini bukan jenis humor yang membuat kita tertawa ngakak, tapi humor yang membuat kita nyengir sejenak. Yang membuat A Mi Madre Le Gustan Las Mujeres menarik untuk ditonton adalah akting Leonor Watling sebagai Elvira. Leonor Watling sendiri mendapat beberapa penghargaan atas perannya di film ini. Dia muncul dalam lebih dari setengah adegan My Mother Likes Women, dan dialah yang jadi jiwa film ini. Bagaimana dia dengan karakternya yang resah dan gelisah akhirnya menemukan akhir yang bahagia.

Dalam film komedi keluarga buatan Spanyol tahun 2002 ini, sekali lagi kita melihat bagaimana keluarga beradaptasi dengan anggota keluarga yang homoseksual, kali ini dengan rasa humor ala Amerika Latin. Kali ini dengan pertanyaan, “Bagaimana jika ibumu adalah lesbian?”


@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:44 PM

Film: When Night is Falling

Posted by Anonymous |

Ini adalah film yang sudah saya tonton sepuluh tahun lalu. When Night is Falling adalah produksi Kanada tahun 1995 yang sebenarnya bukan film yang jelek tapi juga tidak bagus-bagus amat. Masalah terbesar saya terhadap film ini adalah chemistry antara kedua pemeran utama yang buat saya tidak pas. Atau mungkin tipe film semi-surealis seperti ini memang tak pernah membuat saya bahagia.

Pascale Bussières berperan sebagai Camille, dosen bahasa Inggris di kampus beragama yang bertunangan dengan Martin (Henry Czerny). Hidupnya yang lurus langsung berubah 180 derajat ketika dia bertemu dengan Petra (Rachael Crawford), seorang pemain sirkus keliling yang tanpa ampun mengejarnya. Petra sengaja menukar cuciannya dengan cucian Camille di Laundromat agar mereka bisa punya kesempatan bertemu lagi. Singkat cerita, jadilah Camille berada dalam dilema cinta antara memilih cinta perempuan yang menggebu-gebu atau cinta dari lelaki calon suaminya yang tenang dan lurus.

Sungguh saya tidak tahan melihat Camille dan Petra. Entahlah, ini cuma saya atau apa tapi saya melihat cinta mereka, eh, atau akting mereka hanya sebatas permukaan. Terutama Rachael Crawford yang berperan sebagai Petra.

Namun ada beberapa adegan yang memorable dalam film ini, selain adegan anjing mati yang dimasukkan ke dalam kulkas, yang tak pernah bisa saya pahami sampai sekarang. Adegan percintaan yang dimulai dengan tampilan siluet hingga kedua perempuan ini di ranjang merupakan satu-satunya adegan yang saya anggap paling hidup.

Ketika Martin mengetahui perselingkuhan Camille dengan Petra, lelaki itu marah besar. Hingga Camille dihadapkan pada keputusan untuk memilih antara cinta yang "normal" atau cinta yang "hidup". Dan endingnya sebenarnya mudah ditebak ketika kita melihat betapa HOTnya pecintaan Camille dan Petra.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:02 PM

Film: Girl Play: Bukan Film Lesbian Biasa

Posted by Anonymous |

Sejujurnya saya tidak menyukai film ini. Girl Play bukanlah film yang bisa dinikmati banyak orang, termasuk saya salah satunya. Tapi saya juga tidak bisa bilang ini film yang buruk. Ini hanya masalah selera.

Girl Play adalah film lesbian yang lesbian banget disutradari oleh Lee Friedlander. Secara realistis film ini mengangkat cerita lesbian dari dan untuk lesbian. Robin Greenspan dan Lacie Harmon berperan sebagai dua perempuan lesbian yang berperan dalam drama teater sebagai lesbian lalu saling jatuh cinta terhadap satu sama lain.

Robin adalah lesbian berkomitmen yang setia dengan pasangannya. Dan Lacie adalah lesbian player yang tak kenal kata komitmen. Ketika keduanya dikasting sebagai pasangan yang menjadi kekasih di pentas teater, keduanya harus mengerahkan sisi keintiman mereka terhadap satu sama lain. Hingga akhirnya Robin dan Lacie harus menelaah kembali keinginan dan hasrat mereka apakah sekadar “permainan” atau cinta sejati.

Girl Play penuh dengan monolog teater dan manifetasi solilokui sang sutradara. Buat yang tidak menyukai film ini, Girl Play akan jadi film yang membosankan setengah mati. Buat yang menyukainya, ini akan jadi film dengan penggambaran cerdas dan bukan film lesbian biasa. Film ini diangkat dari naskah teater berjudul “Real Girls” yang ditulis oleh Robin Greenspan dan Lacie Harmon, yang kemudian diadaptasi ke layar lebar oleh mereka plus Lee Friedlander yang juga menjadi penulis skenario di sini.

Karena saya tidak menyukai film ini, saya jadi bingung menuliskan resensinya. Bingung karena film ini tidak jelek-jelek amat sehingga tidak bisa saya caci maki sampai hancur tapi juga tidak bisa saya puji-puji setinggi langit. Yah, silakan saja nonton sendiri... dan cari tahu apakah kamu menyukainya atau tidak.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:15 PM

Film: Jane Austen Book Club - What Would Jane Do?

Posted by Anonymous |

Jane Austen Book Club adalah film yang diangkat dari buku berjudul sama karangan Karen Joy Fowler, yang entah bagaimana tidak pernah bisa tuntas saya baca :p. Namun untuk film ini, buat saya pribadi, Jane Austen Book Club adalah feel good movie untuk perempuan di atas 30 tahun. Film yang ceritanya perempuan banget, dengan beragam masalah perempuan dewasa.

Di film ini kau akan menemukan perempuan berusia 45 tahun masih bisa menemukan cinta dari lelaki lebih muda. Perempuan yang ditinggalkan suaminya setelah 25 tahun pernikahan, namun menemukan blessing in disguise dari perpisahan itu. Perempuan yang tidak pernah menganggap suaminya cukup baik untuknya dan tergoda berselingkuh dengan remaja yang gantengnya bisa bikin orgasme hanya dengan melihatnya. Serta lesbian yang bisa menemukan pacar semudah menjentikkan jari.

Sepanjang karier menulisnya, Jane Austen (1775 – 1817) menerbitkan enam buku. Dan dari ide inilah Bernadette (Kathy Baker) perempuan berusia 60 tahun dengan keceriaan dan jiwa persahabatan yang tinggi memulai kelompok buku Jane Austen. Dia merasa kelompok buku ini akan membantu menghibur Jocelyn (Maria Bello), perempuan kaya, lajang, control freak yang sulit punya hubungan dengan manusia, dan sedang sedih karena baru ditinggal mati anjingnya. Juga menghibur Sylvia (Amy Brenneman) yang baru dicerai suaminya Daniel (Jimmy Smits) karena kepincut wanita lain setelah 25 tahun pernikahan mereka yang bahagia.

Karena ada enam buku, mereka mencari tiga orang lagi untuk menggenapinya. Prudie (Emily Blunt), guru bahasa Prancis di SMA yang tidak bahagia dengan pernikahannya karena dia merasa sang suami tak pernah memahami dirinya. Allegra (Maggie Grace), gadis berusia 20 tahunan, putri Sylvia dan Daniel yang out and proud lesbian. Dan karena masih kurang satu orang, akhirnya mereka mengambil Grigg (Hugh Dancy), satu-satunya lelaki dalam kelompok buku ini, yang tadinya dibawa Jocelyn untuk menghibur Sylvia.


Keenam masing-masing membaca dan mengulas novel-novel Jane Austen dan bertemu beberapa bulan sekali. Mansfield Park, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Bagaimana saat mengulas buku ini satu per satu, tokoh-tokoh dalam film ini memiliki hidup yang berpararel dengan tokoh-tokoh dalam novel-novel Jane Austen. Dan apa yang akan dilakukan Jane bila berada dalam posisi tersebut? Buku yang bagus kadang-kadang bisa mencerahkan pembacanya, dan buku-buku Jane Austen memiliki kekuatan seperti itu. Buat saya, novel-novel Austen bercerita tentang perempuan-perempuan berkarakter, hasrat untuk menemukan cinta, dan happy ending.

Tokoh-tokoh lelaki dalam film ini juga ditampilkan begitu laki-laki. Grigg membuat film ini jadi kelihatan Jane Austen-nya, dengan caranya dia mengingatkan saya pada Mr. Darcy dan Mr. Knightley. Bagaimana dia diam-diam mencintai Jocelyn yang keukeuh menjodohkannya dengan Sylvia. Dan bagaimana Grigg bisa tampil sebagai lelaki (non-gay) yang bisa masuk dalam lingkaran perempuan, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Daniel ditampilkan sebagai lelaki yang sesungguhnya suami dan ayah yang baik, namun 25 tahun adalah waktu yang lama untuk pernikahan.... dan setelah bercerai dengan Sylvia, Daniel justru baru bisa melihat hidup yang selama ini dijalaninya sebagai orang luar.

Aktor-aktornya memiliki chemistry yang pas. Maria Bello adalah alasan saya menonton film ini pada mulanya, namun acungan jempol untuk Emily Blunt atas aktingnya yang tak bercela sebagai Prudie. Adegan ketika dia menghampiri suaminya dan menyuruh suaminya membaca Persuasion setelah nyaris berselingkuh dengan salah satu siswanya yang hot dan menggoda membuat saya berkaca-kaca.

Banyaknya tokoh membuat film ini memberi kesan menggampangkan dalam penyelesaian masalah. Tapi bukan masalah besar juga karena film ini memang dibuat seperti itu. Allegra yang lesbian pun ditampilkan sebagai sosok cantik yang bahagia, dan kemudian sedih karena dikhianati oleh kekasihnya, lalu dengan mudah menemukan pengganti.

Ini bukan film yang akan menghasilkan Oscar atau film yang harus mesti ditonton semua orang. Ini adalah film cewek, yang perlu ditonton di saat yang tepat, sendirian atau berdua dengan kekasihmu, bergelung di sofa ditemani segelas susu hangat, dan ketika film berakhir kau akan tersenyum dan bahagia menjadi perempuan

@Alex, RahasiaBulan, 2008

3:32 PM

10 +1 Adegan Seks (Lesbian) Terbaik dalam Film

Posted by Anonymous |

Iseng mode on lagi. Kali ini saya mengumpulkan beberapa adegan seks (lesbian) terbaik dalam film. Ada beberapa film yang disebutkan di sini yang bukan film lesbian, tapi adegan seksnya merupakan adegan yang tak terlupakan dan layak ditonton.
Daftar disusun berdasarkan abjad.

Better than Chocolate
Fun! Itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan adegan ini. Maggie (Karyn Dwyer) dan Kim (Christina Cox) melakukan body painting, lalu bereksperimen dengan tumpahan cat dan kain.... wowww!!! Bukan jenis fun yang saya suka sih, secara saya bawaannya mau mandi aja pas nonton. Yang, ehm, emang sih di film dilanjutkan dengan mandi... ugh, jadi kepingin, hehehe... Tapi, adegan ini jelas-jelas sexy dan FUN!

Bound
Bound adalah film yang tidak bisa saya lupakan karena ini film lesbian pertama yang saya tonton di bioskop. Pertama kali saya menonton film ini midnight di Sunter Mal. Akibat babatan gunting sensor yang kejam di bioskop, akhirnya saya penasaran dan memburu film ini lalu menontonnya berkali-kali di laserdisc, kemudian DVD. Adegan erotis dimulai ketika Corky (Gina Gershon) pertama kali berkunjung ke apartemen Violet (Jennifer Tilly). Sehabis memperbaiki pipa ledeng, mereka duduk di sofa diiringi “obrolan” yang penuh hasrat terselubung (gila deh, adegannya bikin deg-deg-an :p). Dengan tato dan kaus singlet, Corky tampil sebagai butch sangar mantan napi yang tunduk di bawah rayuan femme Violet. Adegan yang dimulai di mobil lalu berakhir di ranjang membuat penonton ikutan terengah kehabisan nafas.

Boys Don’t Cry
Saya memasukkan adegan dalam film ini karena ini adegan yang indah. Indah dalam arti, begini.... Adegan seks ini dilakukan oleh Brandon (Hillary Swank) dan Lana (Chloe Sevigny) di ruang terbuka di bawah langit di atas rumput. Lana mengira sedang bercinta dengan laki-laki, tapi ada satu detik saat ketika dia menyadari bahwa Brandon sebenarnya bukan lelaki namun Lana bersikap pura-pura tidak tahu dan melanjutkan adegan tersebut. So sweet...

Desert Hearts
Intim, romantis, mendebarkan. Itu perasaan saya ketika melihat adegan ranjang antara Cay (Patricia Charbonneau) dan Vivian (Helen Shaver). Vivian adalah janda berusia 35tahun yang baru pertama kali melakukan hubungan seks dengan sesama perempuan yang meskipun masih muda namun sudah jauh berpengalaman. Adegan ini dibuat tanpa latar belakang soundtrack lagu atau music score sehingga jadi berasa lebih alami. Duh, saya bisa ngulang-ngulang nonton cuma di bagian ini saja. :)

Gia
Adegan ciuman di antara jeruji antara Gia (Angelina Jolie) dan Linda (Elizabeth Mitchell) ketika mereka difoto telanjang adalah adegan seks yang masuk kategori layak dikenang. Ada adegan ranjangnya juga dan adegan Angelina Jolie telanjang, saya ulang ya, TELANJANG!!! Tidak full frontal sih, tapi lumayanlah. Ada adegan mandi bersama yang sebenarnya sedih, tapi indah.

If These Walls Could Talk #2
Hm, di antara ketiga adegan, antara tahun 1960-an, 1970-an, 2000-an, saya memilih adegan tahun 1970-an sebagai adegan seks terbaik. Linda (Michelle Williams) mahasiswi aktivis feminis/lesbian jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny) yang butch abis. Dan sehabis boncengan di Harley si butch, Linda pun mampir ke rumah Amy, yang diakhiri dengan percintaan manis di ranjang.

Lost and Delirious
Adegan seks antara Paulie (Piper Perabo) dan Tory (Jessica Paré) mengingatkan pada cinta pertama remaja yang pahit-manis. Adegan ranjang terjadi di kamar asrama, tidak peduli pada kondisi sekitar, meskipun ada satu teman lagi yang tidur di kamar itu. Remaja sering kali berpikir dengan emosi, sehingga adegan yang terjadi pun penuh dengan intensitas emosi yang tinggi dan tentu saja gairah cinta pertama.

Mulholland Drive
Entah DVD-nya yang buram atau mata saya yang rabun, atau kenyataannya adegan seks antara Rita (Laura Harring) dan Betty (Naomi Watts) dilakukan dalam kamar yang temaram. Agak gelap sih tapi ada bagian-bagian tubuh tertentu yang kelihatan kok, apalagi saat itu Naomi Watts belum setenar sekarang, jadi lebih berani pamer bodi. Ditambah lagi Laura Harring dan Naomi Watts super-duper cantik dalam film ini. Masih ada “bonus” pula dengan adegan masturbasi yang dilakukan Betty yang okeh punya.

Tipping the Velvet
Well, hm... menonton film ini membuat saya jadi "mendapat pengetahuan" bahwa dildo ternyata sudah ada sejak abad ke-18. Dalam film ini tokoh utama bernama Nan (Rachael Stirling) harus menjadi simpanan tante-tante kaya yang harus menjadi budak nafsunya. Dalam salah satu pesta, Nan yang kesal dengan sang tante melakukan hubungan seks dengan pembantu sang tante. Selain adegan itu, ada pula adegan ketika Nan melakukan hubungan seks dalam kamar sempit bersama kekasih perempuannya, sebelum dia dicampakkan dan akhirnya jadi budak nafsu tante-tante kaya.

Wild Side
Hot Steamy sex scene mulai dr meja rias, sampe bergulingan di ranjang. Telanjang. Dijamin HOT!!! Film ini sih cuma untuk ditonton adegan gituannya aja deh. Kalau buat saya sih udah masuk kategori film semi, yang kalau diputar di TV bisa diputar pada jam setan alias lewat tengah malam dan dipotong habis 25 menit :p. Cerita film yang diperankan oleh Anne Heche dan Joan Chen ini nggak penting banget sebenarnya, yah cerita standar erotic thriller ala Night Eyes gitu deh. Namun adegan seks lesbian dalam film ini sih layak tonton karena hot hingga bisa bikin melepuh.

Wild Things
Ini film yang saya tonton di bioskop karena ini satu-satunya film yang paling sepi di antara 4 teater. Saya inget banget nih pas beli tiketnya, saya dan teman saya bertanya, “Mbak, bioskop yang paling sepi yang mana?” Hehehe... niat banget ya, nontonnya :). Tapi ternyata filmnya okeh banget, jadi nggak nyesel juga nontonnya. Adegan hot antara Neve Campbell dan Denise Richards dimulai dengan ciuman panas di kolam renang. Dan adegan threesome antara Neve, Denise, dan Matt Dillon adalah adegan threesome klasik yang seksi. Film ini mengingatkan saya pada dua karya sutradara Paul Verhoeven, yaitu Basic Instict (karena kejeniusan penjahatnya) dan Showgirls (terutama pas adegan kolam renang :p).

Untuk sementara, karena cuma bekerja berdasarkan ingatan, film-film hot yang "terkumpul di otak" hanya 11 film di atas. Ada beberapa film lain seperti Love My Life yang juga lumayan berani, namun sayang adegannya cuma di awal dan akhir film. Loving Annabelle juga lumayan meskipun bukan favorit saya. Selamat menonton!

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe