Kejadian ini sebenarnya terjadi beberapa bulan lalu. Seorang sahabat perempuan saya, sebut saja namanya Fifi, mengirimi saya SMS, mengajak saya menemaninya ke acara pernikahan seorang kolega. Selama ini saya sudah terkenal paling malas datang ke acara pernikahan, bukan saya anti pernikahan atau apa, saya sering malas datang ke acara semacam itu karena bosan ditanyai pertanyaan standar seperti, "Kapan nyusul?" Buset deh, emangnya lagi balap karung pakai acara susul-susulan? Maklum umur saya yang sudah memasuki kepala tiga, meskipun masih berjiwa 20 tahun :-) ini membuat banyak orang bertanya-tanya kenapa sampai sekarang saya belum menikah.
Akhirnya dengan setengah niat, saya menemani sahabat saya itu. Dan datanglah kami ke acara pernikahan yang diadakan di wilayah Jakarta Utara itu. Setelah berjuang mencari parkir yang nun jauh dari lokasi pernikahan, saya dan Fifi memasuki tempat penerima tamu alias meja tempat kita memberikan hadiah (oya, zaman sekarang orang biasanya cuma menerima amplop aja biar lebih praktis). Well, baru sampai di sana, saya langsung ditegur oleh seorang gadis yang duduk di meja penerima hadiah. Kaget juga saya, kok bisa-bisanya ada yang kenal sama saya padahal saya cuma menemani sahabat saya ke acara ini. Setelah berbasa-basi sejenak, saya jawab pada cewek itu bahwa saya cuma menemani sahabat perempuan saya. Bahwa saya tidak kenal dengan kedua mempelai blablahblahhh... saya buru-buru cabut dari meja itu.
Fiuh, setelah memasuki ruangan tempat resepsi, belum sempat saya dan sahabat saya mengambil makanan, kembali saya ditegur oleh seseorang. Kali ini teman ibu saya... hhhh!!! Ini makin kacau, sahabat saya juga jadi bingung, kenapa saya bisa-bisanya yang kenal banyak orang di sini sementara Fifi belum menemukan orang yang dikenalnya. Dan teman ibu saya juga (tampaknya) heran melihat saya (menemani) sahabat perempuan saya ke acara semacam ini. Makin lama saya dan sahabat saya di tempat ini bisa-bisa kami dikira sepasang lesbian. Hm, sebenarnya bukan kali pertama saya dan sahabat saya ini ditatap dengan pandangan aneh. Beberapa bulan sebelumnya, sahabat saya itu yang menemani saya ke acara pernikahan saudara sepupu saya. Di sana keadaan lebih gawat lagi, karena ibu sang mempelai yang notabene masih tante saya bingung berat melihat saya datang bersama seorang perempuan, bukannya datang bersama lelaki atau ibu saya. (Note: Saya sebenarnya tidak mau datang ke acara pernikahan sepupu itu, tapi karena ibu saya sakit, jadi saya terpaksa mewakili keluarga, hiks). Aneh gitu lhoo... masa datang ke acara kawinan dengan teman sesama jenis. Sumpah, saya masih ingat tatapannya sampai sekarang, dan mungkin itu juga alasannya tidak mengundang keluarga saya ketika anak keduanya menikah beberapa bulan setelah acara itu.
Singkat cerita, saya dan sahabat saya terburu-buru "melarikan diri" dari acara ini. Karena saya udah nyaris bersembunyi di balik pohon, sementara sahabat saya memilih kabur daripada "dikenalkan" dengan kakak mempelai pria yang masih singel dan katanya jago nyanyi seperti Delon.
Kami tertawa terbahak-bahak ketika sampai di mobil, menertawai kelucuan yang terjadi. Sahabat saya bilang "elu tuh lebih beruntung karena elu lesbi, coba kayak gue nih, umur sama kayak elo belum punya cowok juga, kan kesannya gue tuh nggak laku."
Sejenak saya terdiam merenungkan kata-katanya. Rumput tetangga memang tampak lebih hijau. Sahabat saya melihat hidup saya lebih beruntung dibanding dirinya yang belum juga dilamar sampai sekarang, bahkan cowok pun selama ini cuma TTM. Padahal dari segi wajah dan body sahabat saya itu nggak beda jauh sama saya, halah, kalau saya mau jujur dia masih satu tingkat di atas saya dari segi penampilan :).
"Masa sih gue lebih beruntung? Emang menurut elo enak jadi lesbi?" tanya saya.
Fifi langsung tertawa, dan menjawab, "Ya, gue sih nggak pernah jadi lesbi untuk tau enak atau nggak. Tapi paling nggak, gue ngeliat hidup elu tuh sebenarnya enak. Elu enak masih bisa punya pacar, sementara gue? Orang-orang sibuk ngenalin gue sama temen atau saudara lelaki mereka, dan hampir ngecap gue perawan tua. Kalo elo kan orang-orang tau elo punya pacar (cewek), mungkin masalahnya elo cuma nggak bisa nikah resmi aja sama pacar elo. Tapi kan dari segi hubungan, elo tuh enak udah nggak sendirian lagi."
Beberapa bulan setelah ini, seorang sahabat perempuan, yang mengaku straight tapi sering dituduh lesbian karena keakrabannya dengan komunitas GLBT berkata, "Enak kali ya jadi lesbi." Dan saya kembali teringat pada pernyataan Fifi sebelumnya.
Saya berusaha melihat situasi ini dari mata seorang heteroseksual. Jangan-jangan memang benar ada anggapan semacam itu, bahwa memang enak jadi lesbi. Saya mikir setengah mati sambil menulis blog ini pun, saya tidak bisa menemukan di mana “lebih enaknya”, dan kita tidak sedang bicara soal hubungan seks lhoo, :p.
Beberapa sahabat perempuan saya, terutama sahabat-sahabat terbaik saya, yang sering jadi teman hang out bersama saya adalah perempuan-perempuan singel (heteroseksual) dengan problematika mereka masing-masing, yang kalau kisah hidup mereka dibuat novel mungkin bisa jadi 300 halaman. Buat sebagian perempuan singel yang sampai usia kepala tiga belum juga menemukan jodohnya, mereka mengalami kegelisahan yang luar biasa. Bukan karena mereka ngebet kawin atau apa, tapi lebih berupa kegelisahan dalam menghadapi hidup sendirian hingga usia tua. Belum lagi tekanan dari orangtua dan keluarga agar mereka cepat-cepat menikah, masih ditambah dengan jam biologis yang berdetak makin cepat, plus teror pertanyaan dari rekan-rekan sekantor atau yg lebih parah, pertanyaan dari teman-teman yang sudah menikah.
Masalahnya dengan perempuan-perempuan straight ini (terutama yang masih lajang), mereka tidak punya alasan sama sekali kenapa sampai sekarang mereka masih sendirian. Dan saat melihat sahabat mereka yang lesbi, mereka jadi berpikir, hhhh, kalau saja gue lesbian mungkin lebih enak ya karena gue jadi punya alasan kenapa gue masih “sendiri” sampai sekarang.
Well, itu cuma asumsi saya saja lho, dan saya juga tidak mau repot-repot bercerita kepada teman-teman perempuan saya yang straight tentang betapa menderitanya hidup sebagai lesbian... halaah! Akhirnya saya menjawab pada sahabat saya itu, "Fi, kalo dua puluh tahun lagi, elo masih sendirian, ya sudah kita tinggal bareng, elo tinggal sama gue dan partner gue aja, hahaha."
Seperti apa sih dunia dengan akhir bahagia buat kaum homo/lesbi? Apakah akhir yang bahagia cuma utopia bagi kita? Saya tidak bermaksud sinis lho. Ini cuma pertanyaan wajar yang timbul setelah ber-SMS-an dengan seorang sahabat. Dia (perempuan) bercerita bahwa kekasihnya (perempuan) hendak menikah dengan lelaki karena memang itulah yang seharusnya terjadi, kan? Perempuan menikah dengan lelaki lalu memiliki anak dan keluarga. Tidak peduli betapapun cintanya sahabat saya terhadap perempuan kekasihnya itu, mereka tidak bisa bersatu. Lalu sahabat saya bilang, kekasihnya mengajak mereka tetap menjalin hubungan setelah dia menikah nanti. Halah! (Saya sih menyarankan agar dia putus aja sama pacarnya sekarang, daripada sakit hati nanti, --red)
Duh, kenapa ya kasus-kasus semacam ini sering terjadi dalam banyak hubungan sesama jenis?
Dalam dunia utopia versi saya, dengan atau tanpa legalitas pernikahan sesama jenis, seharusnya kita bisa punya hak untuk bersama orang yang kita cintai. Namun jelas itu cuma utopia. Kita hidup berpagarkan norma-norma yang seharusnya jadi penjaga diri kita. Atau agama, misalnya, yang jadi pondasi hidup kita. Atau keluarga yang jadi atap dalam kehidupan kita. Dan semuanya tentu saja tidak bisa tinggalkan begitu saja. Untuk bisa hidup bersama orang yang kita cintai, sebagai homo/lesbi, banyak dari kita yang harus meninggalkan rumah yang nyaman tersebut, yang selama ini jadi tempat kita bernaung. Jelas tidak banyak yang memilih untuk itu. Dan hanya segelintir orang yang beruntunglah yang bisa mendapat pengakuan dari orang-orang terdekat dalam hidupnya.
Eniwei, balik lagi ke sahabat saya itu, dia bilang dia sudah terbiasa hidup “bersembunyi” karena itu satu-satunya cara bagi dia untuk bisa bersama kekasihnya. Saya bilang, saya tidak bisa hidup seperti itu. Dan sahabat saya bilang saya terlalu idealis karena saya sudah coming out. Partner hidup saya juga bilang saya menuntut terlalu banyak darinya soal pengakuan ini dan ingin menyeretnya menjadi orang yg dikenal sebagai lesbian. Halaaaah, bukannya dengan bersama saya pun dia sudah jadi lesbian? Bingung juga dengan logika berpikirnya.
Yah, mungkin akhir yang bahagia seperti hidup bersama pasangan kita hingga akhir hayat sampai maut memisahkan hanyalah utopia. Saya pribadi merasa saya tidak butuh selembar surat nikah yang resmi. Ayah dan ibu saya tidak pernah melegalkan pernikahan mereka hingga ayah saya meninggal, tapi orang-orang tetap menganggap saya anak dari ayah dan ibu saya. Ibu saya mendapat pengakuan di mata publik bahwa dia “menikah” dengan ayah saya, walaupun dalam banyak hal dia tidak mendapat hak istimewa yang seharusnya didapat oleh istri bila mereka menikah secara “legal”. Tapi paling tidak di mata saya mereka mendapat akhir yang bahagia. Paling tidak ibu saya bisa mendampingi ayah saya hingga akhir hayatnya.
Hal pertama yang terlintas ketika membaca sinopsis di sampul belakang Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba) adalah… “Hmmm, ada lagi satu buku yang mengeksploitasi lesbian dalam karya fiksi.” Karena kebetulan tokoh utama novel karangan Alberthiene Endah ini adalah seorang perempuan lesbian bernama Arimbi yang juga merupakan pecandu narkoba.
Buku ini ditulis dengan gaya laporan wawancara dengan Arimbi di panti rehab yang menceritakan kisah hidupnya kepada seorang wartawan. Kisah hidup Arimbi tertuang sangat lancar sehingga sulit bagi kita untuk meletakkan buku ini sebelum selesai. Halaman demi halaman menunturkan kisah hidup Arimbi yang anak orang kaya dan memiliki orangtua yang punya nama besar. Orangtua yang tampak harmonis dan bahagia meskipun di dalamnya bobrok dan saling menyakiti. Arimbi jadi anak yang bingung, apalagi ketika perlahan-lahan kesadaran bahwa dirinya beda dengan cewek-cewek lain mulai merayap masuk ke dalam kesadarannya. Hingga ia mulai berkenalan dengan narkoba di masa SMU, dan akhirnya jadi pecandu berat.
Narkoba juga yang mengenalkan Arimbi pada Vela, gadis yang yang dicintainya. Gadis yang membuatnya rela melakukan apa saja asal bisa bersamanya. Cintanya pada Vela pula yang menyebabkan ia mati-matian ingin melepaskan diri narkoba dan kehidupan yang dibencinya.
Mempertanyakan apakah Arimbi jadi lesbian karena narkoba, atau apakah karena narkoba Arimibi jadi lesbian, sama dengan mempertanyakan paradoks ayam atau telur, mana yang lebih dulu muncul?
Tidak hanya mengupas hubungan cinta antara dua perempuan, Alberthiene Endah yang biasa dipanggil AE, juga menceritakan perbedaan tentang si kaya dan si miskin. Arimbi yang berduit bisa menikmati panti rehabilitasi narkoba yang mewah ala hotel bintang lima, sementara Vela harus “menikmati” panti rehab ala penjara yang penuh kekerasan.
AE menulis buku ini dengan irama yang teratur, membuat kita bisa merasakan gejolak Arimbi yang marah pada dunia dan orang-orang sekitarnya. Marah pada keadaan yang tidak ramah pada dirinya dan Vela. Makin lama saya baca Detik Terkahir membuat saya harus menelan dugaan awal saya tentang buku ini karena ini adalah buku yang amat sangat bagus, namun sayangnya difilmkan dengan hasil yang amat mengecewakan.
Untunglah, tidak hanya saya seorang saja yang menganggap ini buku yang bagus, karena Jangan Beri Aku Narkoba berhasil jadi pemenang Adikarya Ikapi th. 2005 untuk buku remaja terbaik.
catatan: Novel Detik Terakhir ini pertama kali diterbitkan dengan judul Jangan Beri Aku Narkoba th 2004, lalu dicetak ulang pada th 2006 dan judulnya diganti menjadi Detik Terakhir (sama seperti film jelek yang diperankan oleh Cornelia Agatha dan Sausan)
Kini, televisi, internet, berita, dll, memuat berita tentang homoseksual baik gay/lesbian nyaris sepanjang waktu. Bahkan koran utama seperti KOMPAS pun menampung tulisan Samuel Mulia secara rutin setiap hari Minggu, yang notabene sudah dikenal sebagai gay oleh masyarakat luas.
Saya kagum dengan keberaniannya untuk out pada tahun 1980-an ketika homoseksual bukan hanya dianggap tabu, namun masih dianggap suatu penyakit yang harus disembuhkan. Sebagai pemain tenis, Martina Navratilova sudah memenangi 59 gelar grandslam hingga pensiun kedua kalinya pada bulan September 2006 ini dalam ajang US Open sebagai kejuaraan terakhirnya. Pensiunnya Martina Navratilova kali ini ditutup dengan manis dengan memenangkan gandacampuran bersama Bob Bryan dan menang dengan angka 6-2, 6-3 melawan Kveta Peschke and Martin Damm, pasangan dari Ceko dan menjadi juara US Open ini.
Sebelumnya pada tahun 1994, Martina memang sudah pensiun dari dunia tenis single, lalu kembali lagi ke tenis pada tahun 2000 ketika usianya sudah 44 tahun untuk bermain di jalur ganda.
Martina Navratilova terlahir dengan nama Martina Šubertová pada tahun 1956 di Cekoslovakia. Gelar juara tenis profesional pertamanya diperolehnya di Orlando, Florida pada tahun 1974. Selama karier tenisnya, Martina Navratilova sudah memenangkan 167 gelar juara untuk single, dan 178 gelar juara ganda, dan keduanya merupakan rekor tertinggi yang belum bisa disaingi oleh petenisputra maupun putri. Dan selama 331 minggu dia merupakan petenis ranking #1 dunia.
Pada tahun 1975, ketika usianya baru 19 tahun pemain kidal ini membelot ke Amerika Serikat dan menjadi warga negara AS pada tahun 1981. Kini Martina Navratilova berniat menghabiskan masa pensiunnya di rumahnya di Florida, AS. Dia juga berencana akan terus menggiatkan diri menjadi aktivis untuk komunitas GLBT dan mempromosikan buku panduan kesehatannya.
My asshole boss asked me when we were at a recess in a meeting, "What is your sexual preference?"
There were about a dozen people in the meeting room. Arrrghhhh!!! Man! I thought, this boss is a real jerk!
Aduh, gue tuh kalo udah marah kenapa juga sering pake bahasa Inggris yak?
Gue bener2 nggak ngerti kenapa juga dia mesti nanya kayak gitu. Bukannya gue masih in-the-closet atau apa gitu, tapi caranya itu lho. Masa lagi pas istirahat makan siang sesudah rapat, si bos nanya kayak gitu. Gue nggak tau dia bener2 goblok atau lugu, tapi nggak layaklah dia jadi bos kalo nggak ngerti pertanyaan kayak gitu nggak pantas ditanyain di depan orang banyak.
Setelah dia tanya, gue masih kasih si bos kesempatan untuk narik kembali kata-katanya dengan menjawab, "Heh? Maksudnya apa ya?" Yah, siapa tau aja dia bakal bilang, "oh, nggak apa2. Saya cuma bercanda." atau apalah jawaban kayak gitu. Tapi ternyata si bos mengulang kembali pertanyaannya, "Apa preferensi seksual kamu?"
Oke, gue sih nggak masalah kalo preferensi seksual gue diketahui orang banyak, karena selama ini gue nggak pernah nutup-nutupin soal "preferensi" itu. Tapi caranya itu lhooooo... Gue jadi inget beberapa bulan sebelumnya, bos gue yg lebih bijaksana (atasannya si bos "lugu" itu), kita namain aja dia B1, menanyakan pertanyaan yang kurang-lebih sama. Tapi dia menanyakannya dengan cara yg jauh lebih bijaksana dan (menurut gue) elegan.
B1 bilang, "Saya tau soal "pilihan" hidup kamu. Dan buat saya tidak ada masalah. Apa kamu pernah merasa terdiskriminasi di tempat kerja ini karena "pilihan" kamu? Tidak, kan?"
Yup! Tanpa perlu B1 bilang pun, gue tidak pernah merasakan diskriminasi apa pun di tempat kerja saya. Bahkan gue berani bilang bahwa tempat gue bekerja merupakan tempat kerja yg gay-friendly. Dan banyak orang tau betapa bangganya gue kerja di tempat gue sekarang.
Gue tau omongan soal preferensi seksual gue udah digosipin orang sekantor. Yah, namanya juga gue nggak pernah nutup-nutupin kok. Ada juga beberapa teman kantor yg menanyakan soal itu, dan gue selalu menjawab jujur. Yes, I'm a lesbian. So what gitu loooh...
Fiuhhh, akhirnya dengan kesabaran ekstra, gue menjawab si bos dengan jawaban yang gue anggap pantas di depan selusin orang lain. “Yah, saya sih mengikuti ke mana angin bertiup, Bos.”
Puasssssssss, Bos??? Kalo masih nggak ngerti juga, silakan tanya lagi! Tapi sekali lagi ya, cara nanyanya itu lhoo!
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai16 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)