Melissa Etheridge bernama lengkap Melissa Lou Etheridge lahir di Leavenworth, Kansas tanggal 29 Mei 1961. Karier musiknya sebagai penyanyi rock dimulai pada tahun 1988 setelah meluncurkan album pertamanya Melissa Etheridge yang memperoleh penghargaan Double Platinum.
Sepanjang kariernya Melissa Etheridge sudah memenangkan dua Grammy Award dan menghasilkan sembilan album, yang terakhir dirilis tahun 2005, The Greatest Hits: The Road Less Traveled, kumpulan lagu-lagu terbaiknya sejak 1988.
Melissa coming out pada tahun 1993 saat inagurasi Presiden Bill Clinton. Tadinya banyak yang mengkhawatirkan kariernya akan habis setelah itu, namun yang terjadi malah sebaliknya. Karena setelah itu album Yes I Am yang dirilis tahun 1993 bisa dibilang menjadi album tersukses Melissa Etheridge dan terjual 6 juta keping hanya di AS saja. Beberapa lagu dalam album ini menjadi hits, antara lain: I am the Only One, Yes, I am, dan Come to My Window.
Pada saat itu Melissa menjalin hubungan dengan Julie Cypher, mantan istri Lou Diamond Phillips. Pasangan Melissa dan Julie ini kemudian memiliki dua anak, Bailey Jean, 1997, dan Beckett, 1998, dengan donor sperma, David Crosby, yang merupakan sahabat baik Melissa. Namun pada tahun 2001, pasangan ini berpisah.
Pada tahun 2003, Melissa “mengikat janji” dengan Tammy Lynn Michaels, aktris yang bermain dalam serial TV remaja Popular, dalam commitment ceremony yang diadakan di California. Negara bagian ini memang belum mengakui pernikahan sesama jenis, tapi mengakui sejumlah hak pasangan sesama jenis yang sudah mendaftarkan “ikatan” mereka.Namun kabar buruk menimpanya pada tahun 2004, karena Melissa didiagnosis kanker payudara sehingga harus menjalani kemoterapi dan lumpektomi. Dan masa-masa itu merupakan masa paling berat dalam hidupnya. Penampilannya dalam Grammy Awards tahun 2005, membawakan lagu lama Janis Joplin, Piece of My Heart, mengundang tepuk tangan riuh karena saat itu Melissa Etheridge dengan kepala botak plontos akibat kemoterapi tetap tidak kehilangan semangat dan kelincahan rockernya di atas panggung.
Dalam satu wawancara, Melissa mengatakan dukungan Tammy Lynn yang sangat besarlah yang membuatnya bisa bertahan melewati kanker dan kemoterapi yang bak neraka. Kini Melissa Etheridge sudah sembuh dari kanker dan pada tahun 2006 kebahagiaannya makin lengkap dengan kelahiran putra kembar dari Tammy Lynn Michaels dari donor sperma yang dirahasiakan pada bulan Oktober 2006. Saat ini, selain bernyanyi Melissa Etheridge menjadi aktivis untuk kanker payudara serta pendukung hak-hak asasi gay/lesbian.
sumber:
www.wikipedia.com, www.melissaetheridge.com, www.ivillage.com
Opini: Dari Pacar jadi Sahabat, Fenomena Hubungan Lesbian
Ayo, buat lesbian yang baca blog ini, angkat tangan kalau di antara kalian masih berteman baik dengan mantan kalian. Yap, yap, yap... Saya melihat banyak tangan teracung. (Termasuk saya :p)
Saya punya beberapa mantan (d’uh) dan saya masih menjalin hubungan akrab dengan beberapa dari beberapa mantan itu, yang kadang-kadang menimbulkan kecemburuan dari pasangan saya. Bukannya saya sengaja mau bikin partner saya cemburu atau apa dengan bersahabat dengan mantan, tapi keakraban saya dan mantan-mantan saya itu dilandasi rasa persahabatan yang tulus bukan karena masih belum melupakan cinta lama.
Kenapa ya fenomena ini terjadi di kalangan lesbian? Berbagai kemungkinan jawaban melintas dalam benak saya. Mungkin kita tetap menjalin hubungan baik dengan mantan karena susah cari sahabat sesama perempuan/lesbian yang sudah memahami diri kita apa adanya. Lagi pula, seperti kata seorang sahabat saya, "Pantang dong nyari musuh di zaman yang serba susah gini." Dan masih menjalin hubungan dengan mantan kan berarti kita bisa memperluas jejaring persahabatan antar sesama lesbian... halah, MLM banget sih?
Atau mungkin buat sebagian mantan masih ada yang berharap bisa balik lagi dengan pasangannya dulu, dan ciri-ciri mantan seperti ini biasanya rese, menyebalkan, dan mengganggu seperti nasi yang nempel di kaki... (Hayo, ada yg ngangguk-ngangguk setuju, kan? :p)
Atau MUNGKIN karena pola hubungan lesbian itu sendiri. Saat kita berkenalan atau copy darat pertama kali dengan sesama lesbian, yang pertama kali kita pikirkan adalah, “ini cewek kira-kira bisa gue pacarin nggak?” Jika sekiranya bisa, selanjutnya adalah pacaran, dan sebagaimana ciri khas suatu hubungan (straight atau homoseksual), kalau sekiranya perempuan itu tidak cocok atau apalah, hubungan tersebut putus. Dan hal positifnya... Kalau punya banyak pacar, ya mantannya juga banyak, dan artinya teman kita juga bakal banyak, kan? (d’uh)
Perempuan, sebagaimana yang sudah jadi rahasia umum, merupakan makhluk yang lebih peka perasaannya dan gemar curhat bahkan mereka yang lesbian sekalipun. Please, jangan bilang saya merendahkan kaum saya sendiri. Perusahaan tempat saya bekerja sudah melakukan survei pasar dan percayalah bahwa saya tidak salah dalam hal ini. Jadi dalam jalinan hubungan lesbian, selain ada ikatan fisik, terdapat ikatan emosional yang kuat antara dua perempuan yang peka perasaannya dan gemar curhat tadi. Saat hubungan buyar, kita tidak mau kehilangan tempat curhat dari seseorang yang pernah jadi tempat gantungan emosi kita. Jadi setelah putus hubungan asmara, kita tetap menjalin hubungan dengan mantan karena kita sudah merasakan satu kenyamanan yang tercipta dengan mantan tersebut dan kita tidak mau kehilangan kenyamanan itu.
Apakah hal ini berarti pasangan kita yang sekarang seharusnya waswas dan jadi waspada jika kita dekat dengan mantan kita? Saya rasa tidak. Seperti seorang sahabat saya yang memiliki partner yang masih menjalin hubungan baik dengan mantannya, dia bilang, “Kenapa mesti takut? Saya yakin saya yang terbaik untuk dia (partnernya, red), kalau tidak dia pasti masih bersama mantannya sekarang, bukan dengan saya.”
Sekali lagi ingin iseng membagi cerita, membagi kebahagiaan dari buku-buku bagus yang saya baca. Sekali lagi pula, tidak apa-apa kalo tidak setuju dengan saya, karena daftar ini benar-benar murni berdasarkan selera pribadi. Dan ya, saya memang penggemar buku fiksi, jadi maaf kalo tidak ada buku nonfiksinya.Brokeback Mountain - E. Annie Proulx
“Hah? Annie Proulx kan bukunya susah?”, demikian kata atasan saya di kantor. Yang kemudian dijawab, “Nggak kok, Mbak. Ini buku Annie Proulx yang paling gampang.” Bener deh, ini bukunya yang paling gampang, coba aja baca The Shipping News atau kumpulan cerpen Close Range: Wyoming Stories, yang mana di dalamnya terdapat novela Brokeback Mountain ini. Awalnya saya tidak percaya buku setebal 79 halaman ini bisa dibuat menjadi film berdurasi 2 jam oleh Ang Lee, tapi ternyata saya mengerti perasaan dan visi seorang Ang Lee setelah membacanya. Sudah lebih dari 10 kali saya membaca buku ini, mulai dari bahasa Inggris, lalu terjemahannya, bolak-balik sampai hafal. Sampai menangis. Sampai tersayat hati. Namun di situlah kenikmatan membaca Brokeback Mountain (Gunung Brokeback), karena ini adalah jenis buku yang bisa dibaca berulang-ulang kapan pun suasana hati memanggil dan setiap kali pula kita akan menemukan nuansa baru saat membacanya.
Dimsum Terakhir - Clara Ng
Buku ini bercerita tentang 4 perempuan yang harus pulang ke rumah orangtuanya karena ayah mereka sakit keras. Ditulis dengan gaya bahasa “ala Clara Ng” yang diselipi humor di sana-sini, namun tidak kurang menyentuh perasaan kita. Buku ini jadi istimewa karena Clara Ng bisa menyentuh berbagai isu sensitif seperti isu keturunan Cina di Indonesia, agama, perempuan, orientasi seksual dalam satu buku apik ini. Mengutip blurb dari Putu Fajar Arcana, “Dimsum Terakhir melakukan gugatan tidak dengan maksud menjadi hero, tetapi menyalakan “lampu kuning” bahwa ada hal yang harus diperbaiki dalam perikehidupan kita.”The Kite Runner – Khaled Hosseini
Pertama-tama izinkan saya memuji sampul buku ini, yang membuat saya langsung jatuh cinta pada buku ini. Kalau saya boleh main-main memberi nilai ala Amazon, buku ini akan saya beri nilai 4,5 bintang. Berkisah tentang. Amir, putra pengusaha kaya di Kabul, Afghanistan, dan persahabatannya dengan Hassan, putra pembantu Amir. Persahabatan antara dua anak beda derajat ini menjadi mengharukan dan tragis ketika Amir yang pengecut harus mengambil keputusan yang disesalinya seumur hidup. Buat saya, buku ini hanya “terpeleset” sedikit di bagian klimaksnya, sehingga jadi agak Hollywood, tapi buat saya ini masih jadi salah satu novel terbaik yang saya baca tahun ini.
Between Mom and Jo – Julie Anne Peters
Seperti Sarah Waters yang mengangkat topik lesbian dalam novel-novelnya, Julie Anne Peters juga sering mengangkat topik GLBT dalam novel-novelnya, terutama isu-isu GLBT dalam dunia remaja. Salah satu bukunya yang berjudul Luna, tentang remaja lelaki yang merasa dirinya perempuan sudah diterbitkan di Indonesia. Kini dalam Between Mom and Jo, Julie Anne Peters memberanikan diri untuk menyentuh isu orangtua. Sepasang orangtua lesbian yang memiliki putra remaja berusia 15 tahun sedang berada di ambang perpisahan, dan si anak yang tadinya bangga dengan dua ibunya, kini harus menghadapi “perceraian” dua ibunya. Buku ini mengingatkan kita tentang arti keluarga dan bagaimana cinta dan kasih sayang bertahan dalam diri kita.Godfather – Mario Puzo
Wah, saya benar-benar telat membaca mahakarya Mario Puzo ini dan mari kita salahkan Gramedia yang baru menerbitkan terjemahannya tahun ini :p. Saya bukan penggemar fanatik filmnya dan tadinya saya menganggap bukunya “biasa-biasa saja”. Ketika saya mulai membaca, makin lama saya sadar mengapa banyak orang yang jadi penggemar fanatik Godfather. Tokoh-tokoh dalam buku ini, seperti Don Vito Corleone, Michael Corleone, dll, begitu hidup, begitu bernyawa sehingga saya terenggut masuk dalam kisah hidup sang Godfather. Dan buku fiksi ini dianggap sebagai buku panduan kejahatan terorganisir di Amerika Serikat meskipun Mario Puzo berkeras menyatakan bahwa kisah yang ditulisnya fiksi semata.
Cerpen Lelaki yang Menetas di Tubuhku (Kumpulan Cerpen Dunia di Kepala Alice) – Ucu Agustin
Entah kenapa satu cerpen ini terngiang dalam otak saya. Khusus satu cerpen berjudul Lelaki yang Menetas di Tubuhku dalam kumcernya Ucu Agustin ini yang tidak bisa saya usir jauh-jauh dari kepala saya. Cerpen yang berkisah tentang perempuan yang merasa dalam dirinya "menetas" laki-laki ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 13 Agustus 2005, dan baru saya baca pertama kali ketika sudah dimuat dalam kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice. Dalam kumcernya sendiri ada 11 cerpen yang berisi berbagai tema antara lain child abuse dan homoseksualitas. Metafora puitis dan sajian eksplorasi bentuk yang dilakukan Ucu Agustin dalam cerpen-cerpennya membuat saya terpukau. Dan sama seperti kata Ayu Utami, “Di antara para penulis muda, Ucu Agustin adalah salah satu favorit saya.”
Buku-buku lain yang juga layak dibaca: Night Watch – Sarah Waters, American Gods - Neil Gaiman, Fun Home - Alison Bechdel, Dicintai Jo - Alberthiene Endah
Ada peraturan baru yang tidak tertulis di perusahaan tempat saya bekerja. Dalam peraturan terdahulu, perusahaan menanggung “biaya” anak yang dimiliki oleh karyawan, baik itu karyawan pria atau perempuan. Biaya di sini maksudnya biaya pengobatan dan bantuan pendidikan sekadarnya. Dalam peraturan yang baru, secara tidak tertulis dinyatakan bahwa anak yang lahir dari ibu tunggal alias ibu yang memiliki anak tanpa suami yang sah kini ditanggung oleh perusahaan. *plok, plok, plok*
Sewaktu saya diangkat jadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat saya bekerja beberapa tahun lalu, saya menanyakan kepada bagian SDM, “Mas, kalau saya ingin punya anak tapi saya tidak mau punya suami, apakah anak saya akan ditanggung perusahaan?” Waktu itu Si Mas bagian SDM terenyak, terdiam selama beberapa detik, berpikir keras, lalu menunduk membuka-buka buku peraturan perusahaan. Kemudian dia bilang, “Ini masih jadi wacana.... Tapi biasanya yang dianggap anak adalah anak yang hasil dari perkawinan yang sah antara suami dan istri.... blablabla.” Saya masih berkeras menyatakan bahwa anak yang lahir dari rahim saya dengan atau tanpa ayah yang sah adalah anak saya yang sah menurut hukum dan harus ditanggung oleh perusahaan, tapi saya mulai kasihan sama si Mas SDM karena dia mulai tampak bingung dan “menyesal” telah mengangkat saya menjadi karyawan, hahaha. Akhirnya saya biarkan topik itu tetap jadi wacana.
Bukannya saya niat jadi ibu tunggal dan ingin punya anak sendirian. Tidak juga. Namun, menurut saya ini adalah langkah perusahaan yang amat bijak mengingat semakin banyaknya perempuan yang memilih untuk tidak menikah meskipun mengetahui dirinya hamil. Buat saya pribadi, perempuan semacam itu adalah perempuan yang luar biasa, karena membesarkan anak adalah tugas tersulit bagi perempuan, mungkin lebih sulit dibanding melahirkan itu sendiri apalagi dilakukan tanpa bantuan sang ayah. Beberapa perempuan yang saya kenal dalam lingkup pekerjaan dan pertemanan adalah ibu tunggal, baik yang bercerai atau memilih untuk tidak menikah. Apa pun alasannya, tetap saya merasa salut pada mereka. Karena kalau saya ditanya apakah saya ingin hamil, melahirkan, dan punya anak, saya akan menjawab, “Tidak, terima kasih. Kucing saya saja sering lupa saya kasih makan.” :)
Kini menjadi ibu sudah menjadi pilihan bagi sejumlah perempuan. Polanya kini tidak lagi menikah (dengan laki-laki), hamil, lalu punya anak. Buat sebagian perempuan pernikahan kini tidak diperlukan lagi untuk menghasilkan anak. Perempuan-perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu tunggal jelas punya alasan sendiri untuk melakukannya. Sudah cukup sulit membesarkan anak di zaman sekarang apalagi sebagai ibu tunggal, tanpa perlu dipersulit dengan berbagai anggapan negatif tentang perempuan yang menjadi ibu tunggal.
Saya memiliki sahabat lesbian yang juga kebetulan ibu tunggal. Saya amat salut pada keberaniannya. Saya pribadi takkan punya gigi untuk melakukannya. Buat saya, menjadi ibu adalah tugas yang paling berat. Membahagiakan, ya. Tapi menjadi ibu adalah tugas yang berlangsung 24/7. Tidak ada pengurangan masa kerja, pensiun dini, kenaikan jabatan atau kenaian gaji. Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri, seiring dengan jam biologis dalam diri saya yang berdetak makin cepat, apakah saya ingin meninggalkan jejak diri saya di dunia ini melalui anak yang saya lahirkan? Jujur, pernah ada satu-dua kali saya berpikir seperti itu, tapi mengingat kembali beban dan tanggung jawab mahabesar yang mengiringi “jabatan” sebagai Ibu, pikiran itu menghilang sebelum saya sempat mengedipkan mata.
Untungnya saya diberkahi dengan memiliki partner yang memiliki anak. Jadi saya bisa menjadi ibu secara instan tanpa perlu melalui proses melahirkan yang konon katanya menyakitkan seperti ketiban beton. Dan saya bisa terlibat langsung dalam hidup anak-anak “kami” itu bersama partner saya, sesuatu yang tadinya hanya bisa saya bayangkan. Saya tidak pernah tahu seperti apa sulitnya jadi ibu, dan well, kini saya terjun langsung ke dalam medan perang mendidik anak. Semua kesulitan dan kerepotan sebagai ibu yang sebelumnya cuma saya bayangkan benar-benar terjadi, ditambah 100 kali lipat. Kita seakan harus punya tangan seperti gurita, energi sekuat badak, kesigapan ala cheetah, dan kesabaran mahadewi. Namun, kesulitan 100 x lipat itu juga terbayar oleh kebahagiaan yang sama besarnya, hanya dengan senyum seorang anak yang berkata, “I love you, Tante Mami.”
Akhir tahun sebentar lagi tiba. Iseng-iseng ingin posting film2 yang saya anggap okeh banget sepanjang tahun 2006. Memang sih tahun ini belum berakhir, tapi nggak apa-apa kan kalau saya sudah kasih bocoran mulai 1 Desember? :p
Oya, film-film ini disusun berdasarkan selera pribadi banget, jadi kalau ada yang nggak sependapat, ya tidak masalah.... Yuuuk!
James Bond – Casino Royale.
Jujur waktu tahu Pierce Brosnan diganti oleh Daniel Craig saya termasuk yang protes keras, tapi melihat penampilannya dalam Bond kali ini saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Buat saya ini "The Best Bond of 21th century". Walaupun adegan mesra-mesranya dengan Eva Green rasanya agak terlalu manis, tapi nggak apa-apa deh, lumayan kita bisa lebih banyak melihat penampilan Eva Green yang seksi dan yahud.
Alasan lain untuk menontonnya: Eva Green (gak sabar deh mau nonton HDM: The Golden Compass dan Therese Raquin th 2007 nanti)John Tucker Must Die
Oke, ini jiwa remaja saya lagi yang menjerit minta perhatian. John Tucker Must Die berkisah tentang pembalasan dendam 3 anak SMA yang dikadalin oleh John Tucker si cowok playboy di sekolah dan mereka bertekad membuat John Tucker kapok. Buat yang suka Mean Girls-nya Lindsay Lohan, ini a Must See Movie deh.
Alasan lain untuk menontonnya: Sophia Bush
Pirates of Caribbean 2 – Dead Man’s Chest
Well, ini termasuk film yang saya tunggu-tunggu sejak saya melihat Keira Knightley dengan gaun yang membuat buah dadanya tampak menyembul sedemikian rupa di Pirates of Caribbean 1. Oke, ini alasan yang amat tidak cerdas untuk menontonnya. :p Alasan lainnya adalah ini memang film yang seru dan kocak. Johnny Depp tampil luar biasa di sini dan jelas saya tidak sabar menunggu Pirrates of Carribean 3.
Alasan lain untuk menontonnya: Di mana lagi kita bisa melihat kapten bajak laut bergaya banci?Brokeback Mountain
Kayaknya saya nggak perlu memberi penjelasan panjang-lebar tentang film kontroversial yang mengisahkan dua koboi jatuh cinta ini. Chemistry antara Jake dan Heath amat sempurna, nyaris membakar layar. Film yang menang Golden Globe 2006 ini dijagokan untuk menang Oscar namun terpaksa harus puas HANYA dengan kemenangan sang sutradara Ang Lee sebagai sutradara terbaik dalam Oscar tahun ini.
Alasan lain untuk menontonnya: Tidak perlu alasan lain! Harus nonton!
Kabhi Alvida Naa Kehna
Film India ini adalah film besutan salah satu sutradara favorit saya Karan Johar yang sukses berat membuat saya jatuh cinta (lagi) pada film India setelah Mas Karan ini membuat Kuch Kuch Hota Hai. Film ini berkisah tentang sepasang lelaki dan perempuan yang cintanya terhalang karena masing-masing sudah memiliki suami dan istri. Jadi maksudnya tentang selingkuh? Iya. Betul.
Alasan lain untuk menontonnya: SRK, Rani Mukerjhee, Preity ZintaV For Vendetta
Saya sudah jatuh cinta pada Natalie Portman sejak dia jadi Queen Amidala di Star Wars. Dan saya jatuh cinta lagi padanya di film ini. IMHO, V for Vendetta merupakan film straight yang mengangkat isu homoseksualitas dengan amat bagus.
Alasan lain untuk menontonnya: Tadi saya sudah sebut Natalie Portman belum?
Film2 lain yang juga layak ditonton:
Berbagi Suami, X-Men 3: The Last Stand, The Devil Wears Prada
Makasih ya buat temen2 yang menyempatkan diri baca tulisan ngawur ini, hehehe.
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai16 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)