Film ini saya tonton pertama kali sebelum tahun 2000, dan saya dapatkan tanpa sengaja di rental VCD langganan. Film India biasanya identik dengan lagu dan tari serta bintang-bintang Bollywood yang tampan dan cantik, serta durasi film yang panjangnya minta ampun bahkan ada istirahat di tengah film, Fire tidak seperti itu. Durasi film ini hanya 108 menit, bisa dibilang tanpa lagu dan tari, dan pemeran utamanya bukanlah aktor-aktor tampan dan cantik.
Film kontroversial tahun 1996 ini disutradari oleh Deepa Mehta, sutradara keturunan India yang kemudian berimigrasi ke Kanada. Bersama Mira Nair, Deepa Mehta merupakan dua sutradara perempuan keturnan India yang namanya dihormati di dunia perfilman internasional. Fire ini adalah bagian dari trilogi elemen Fire (1996), Earth (1998), dan Water (2005). Ketiga film ini mengambil tema perempuan yang kontroversial. Saat pertama kali diputar di India, sejumlah bioskop yang memutar Fire diserang dan dibakar oleh para fundamentalis Hindu. Dan akhirnya film ini dilarang edar di India dan Pakistan. Bahkan untuk syuting Water, Deepa Mehta tidak mendapat izin untuk syuting di India sehingga terpaksa pindah ke Sri Lanka.
Fire berkisah tentang perempuan bernama Sita (Nandita Das), yang dijodohkan lalu dinikahkan dengan Jatin (Jaaved Jaaferi). Bersama suaminya, mereka tinggal di apartemen bersama kakak iparnya Ashok (Kulbushan Kharbanda), istri Ashok, Radha (Shabana Azmi), mertuanya Biji (Kushal Rekhi) dan Mundu (Ranjit Chowdhry), si pembantu.
Walaupun tidak saling mencintai, Jatin, yang punya kekasih gelap gadis keturunan Asia terpaksa menikahi Sita, gadis baik-baik keturunan India agar keluarga mereka bisa punya keturunan. Ashok dan Radha tidak bisa punya anak karena Radha mandul, bahkan Ashok sudah tidak menyentuh istrinya lagi secara seksual. Dalam kedekatan ruang apartemen yang sempit, kedua ipar ini pun bersahabat. Hingga akhirnya, Radha dan Sita, dua istri yang tidak bahagia ini, menemukan kebahagiaan dalam satu sama lain.
Memang untuk ukuran Bollywood, film ini dianggap melanggar norma-norma keharusan. Cinta sesama perempuan dan keberanian istri untuk menentang suami dan mengidamkan kebahagiaan dalam pernikahan tanpa cinta dianggap perempuan tak tahu diri dan tak bermoral. Sampai sekarang pun film India masih “mengharamkan” yang namanya perselingkuhan, terakhir tahun 2006 banyak penonton masih menganggap Kabhi Alvida Na Kehna sebagai cerita yang tidak memberi contoh baik karena lelaki dan perempuan dalam film ini melakukan perselingkuhan dan memutuskan untuk bercerai dari pasangan masing-masing. Apalagi dalam Fire ketika dua perempuan bersuami menjalin hubungan lesbian.
Dua karakter perempuan dalam film ini merupakan perempuan-perempuan yang terjebak dalam peran mereka sebagai perempuan. Secara tradisi, tugas istri adalah membahagiakan suami, melayani keluarga besar, dan melupakan kebahagiaan mereka sendiri. Radha dan Sita pun menemukan penghiburan dalam kedekatan persahabatan mereka yang kemudian berubah jadi hubungan cinta dan desakan hasrat.
Lama setelah saya menontonnya, gambar-gambar dalam film ini masih melekat dalam benak saya. Jika kebetulan Anda browsing DVD di lapak-lapak penjualan, cobalah membelinya karena Fire adalah film yang bagus, meskipun bukan film yang mudah disukai oleh banyak orang. Fire bukan sekadar film lesbian, tapi film yang membuka mata banyak orang tentang suatu kultur dan pandangan terhadap perempuan India.
@Alex, Rahasia Bulan, 2007
Beberapa orang pernah bertanya kenapa saya tidak meresensi buku lesbi berjudul anu atau itu. Dari pertanyaan-pertanyaan itu memang ada yang bukunya belum saya baca. Namun ada juga buku yang pernah saya baca, tetapi begitu jeleknya hingga tidak bisa saya resensi di sini karena saya tidak mau membuat blog ini jadi tempat sampah unek-unek kekesalan saya.
Dulu, dalam masa sebelum blog ini muncul saya pernah meresensi satu buku lesbian yang saya edarkan di milis dan diupload di sebuah situs lesbian, yang habis saya cabik-cabik hingga tetesan terakhir. Puaskah saya? Tidak. Saya makin marah dan kesal setiap kali membaca review itu
Dunia pun berputar lalu saya bersahabat dekat dengan seorang penulis yang menerbitkan buku bertema gay. Di mata saya, buku itu begitu bagus. Kemudian buku itu dibantai habis di sebuah media nasional sampai setengah halaman koran, hingga saya dan sang penulis bingung, kenapa sih ada orang bisa sejahat itu? Well, bukunya memang tidak sampai jadi masterpiece atau buku sempurna, tapi tetap saja tidak layak diperlakukan sekeji itu.
Dua kejadian ini membuat saya belajar banyak tentang selera pembaca. Bagaimana satu karya yang dilemparkan ke ruang publik menjadi satu karya yang bisa menimbulkan multitafsir. Bagaimana sesuatu yang dianggap bagus, bisa dianggap sebagai telur busuk oleh orang lain. Demikian pula sebaliknya. Saya sadar saya tidak bisa memaksakan kehendak dan pendapat saya terhadap satu karya agar orang juga ikutan sependapat dengan saya, karena selera itu amat berbeda sesuai pribadi masing-masing.
Bagaimana seseorang menilai suatu karya dipengaruhi oleh banyak hal. Bagaimana cara dia dibesarkan, masa lalunya, hobinya, lingkungannya, dll. Saya adalah pecinta buku fiksi dan belajar banyak dari buku-buku itu. Saya dibesarkan oleh buku-buku Mira W., Sidney Sheldon, Lima Sekawan, HC. Andersen dari perpustakaan sekolah. Semasa remaja saya menggali jiwa feminis saya bersama buku Nawal El-Sadawi dan Louisa May Alcott, belajar memberontak bersama JD. Salinger, dan perih bersama buku Elie Weisel. Tanpa melupakan cinta lama, saat ini saya sedang belajar mencintai buku remaja dan komik novel grafis, Neil Gaiman, Frank Miller, Alan Moore, dll.
Kini tidak ada satu hari pun yang saya lewatkan tanpa membaca dan saya masih terus haus mencari bacaan bagus, terutama fiksi. Saya jatuh cinta pada buku fiksi karena kemampuannya membuat saya belajar, terpukau, tertawa, atau menangis. Uniknya, saya hanya punya sedikit koleksi buku---mungkin jumlahnya cuma seratusan yang saya anggap personal best---karena sering kali selesai membaca saya memberikan buku itu buat orang lain supaya ikut merasakan bahagia yang saya rasakan.
Itu pula salah satu tujuan dari blog ini, berbagi kebahagiaan yang saya rasakan ketika membaca buku yang mengandung unsur LGBT yang membuat perasaan saya meluap-luap. Bukan berbagi kebencian terhadap satu karya. Saya tidak ingin membagi keburukan atau kekesalan di sini, tapi berusaha membagi kebaikan. Tolong ingatkan saya pada postingan ini jika seandainya suatu hari saya lupa dan marah.
Yang harus diasah adalah kemampuan pembaca memilah mana buku bagus dan mana buku jelek (paling tidak untuk dirinya sendiri). Dan saya tidak mau jadi penentunya, karena bisa saja selera kita berbeda, kan? Tapi saya yakin buku yang bagus akan bertahan abadi, dan menyentuh hati banyak pembacanya. Mengutip perkataan seorang sahabat baik saya, “Buku yang bagus akan menemukan pembacanya sendiri.” Blog ini berupaya menjadi penunjuk jalan dan sisanya adalah kehendak bebas pembaca yang membaca resensi buku di sini.
@Alex, Rahasia Bulan, 2007
Pada suatu hari Minggu saya bersama seorang sahabat janjian ketemuan di Grand Indonesia. Setelah berakrobat dengan waktu akhirnya kami janjian ketemu jam 2 siang di sana. Namun ternyata sahabat saya itu, hm, sebut saja namanya Jean, mengajak dua orang biksu dari Tibet....
Di mal supergede itu, saya dan Jean berjalan bersama dua biksu yang mengenakan jubah lengkap mereka yang mencolok mata. Jadi bisa kebayang kan bagaimana saya seperti cacing kena abu, tidak merasa nyaman saat ribuan mata memandangi kami... (well, ini cuma hiperbola, karena puluhan mata itu rasanya seperti ribuan). Saya perhatikan Jean tampak biasa-biasa saja... maklum dia dan biksu-biksu ini sering keluar ke tempat umum bersama, tidak seperti saya. Akhirnya, tidak tahan saya berbisik pada Jean, “Emang biasa diliatin gini ya?”
“Iya,” jawab Jean mengangguk.
“Elo nggak risi?”
“Jangan dipikirin, cuek aja lagi,” tukasnya sambil mengajak kami masuk ke Food Hall.
Mendadak saya jadi teringat cerita seorang sahabat lain, kali ini sahabat lesbian. Dia bercerita betapa dia merasa semua mata memandanginya saat dia jalan bersama kekasihnya di tempat umum. Dulu pas denger cerita itu sih saya pikir si sahabat lesbian ini, hm, sebut saja namanya Mon, mungkin menunjukkan afeksi berlebihan di depan umum sehingga “dilihatin” orang-orang. Tapi mereka bilang, mereka cuma pegangan tangan kok. Waktu itu saya jawab padanya, “agh, gue sih nggak pernah merasa diliatin gitu... perasaan elo aja, kali.” Mungkin, ternyata selama ini dengan atau tanpa saya sadari saya merasa nyaman pada diri saya sendiri sehingga tidak merasa salting saat berjalan di depan umum dengan partner. "Teori" itulah yang baru saya sadari saat saya dihujani tatapan orang-orang siang itu.
Saat saya dipandangi orang satu mal segede gaban itu, bahkan setelahnya kami berjalan kaki ke Plasa Indonesia, saya mengerti apa yang dialami Mon. Saya merasa tidak nyaman, gelisah, risi, dll. Saya jadi merasa salah tingkah alias self-concious. Pertama-tama muncul perasaan defensif, “Kenapa sih pada ngeliatin? Nggak pernah liat biksu jalan-jalan di mal ya?” Namun setelah saya melihat Jean bisa dengan santai mengobrol dan berjalan dengan cuek, saya jadi mikir, “Well, mungkin cuek is the best ya?” Cuek di sini maksudnya bukan cuek tetap leha-leha di tempat tidur saat banjir melanda, atau cuek ketika api mulai melahap rumah sebelah. Lalu mulailah saya membuat diri saya cuek, dan terutama berhenti memikirkan pendapat orang lain tentang diri saya. Akhirnya saya pun bisa berjalan bersama dan mengobrol dengan Jean dan biksu-biksu itu tanpa merasa salah tingkah.
Saya jadi teringat cerita komik Buddha karya Ozamu Tezuka, dalam seri ke-4 ketika Siddharta bertapa di Hutan Uruvela, ada seorang bocah ingusan (bocah ini benar-benar ingusan) yang sudah ditakdirkan mati pada umur tertentu. Namun bocah ini tampak tenang menghadapi kematiannya, dan ketika Siddharta yang kala itu belum menjadi Buddha bertanya pada bocah itu apa resepnya tidak takut menghadapi kematian, si bocah menjawab, “Cuek aja, lagi.” Yeah, betul juga. Terlalu mengkuatirkan sesuatu membuat kita malah tidak fokus pada sesuatu yang penting, yaitu hidup itu sendiri.
Mungkin itulah yang harus kita rasakan sebagai lesbian. Coming out atau tidak, kita harus nyaman pada diri kita sendiri. Tahu apa yang kita mau dan berkonsentrasi pada hal itu, bukannya berkonsentrasi pada, "Orang-orang bilang apa ya tentang gue?" Sekali lagi, maksudnya nyaman bukan nyaman saat jalan rame-rame bergerombol bersama lesbi lain dan caper (cari perhatian) di mal atau tempat umum ya. Tapi lebih ke nyaman pada diri sendiri, nyaman menjadi diri sendiri... apa pun bentuk, wujud, dan rupa kita. Bukan kepada diri lesbian kita saja, tapi juga kepada diri manusia kita seutuhnya. Percayalah, dengan ini penampilan Anda akan lebih berbinar dan menarik perhatian sesama jenis. (baca dengan suara ala iklan pemutih wajah :p)
Well, keesokan paginya saya tiba di kantor, dengan penampilan ala saya. Rambut awut-awutan, belum dandan, mata masih ngantuk---maklum, karena belum bangun kalau belum keseduh kopi, teman kerja saya langsung bilang, “Stop! Jangan bergerak!” Tangannya mengeluarkan ponsel berkamera.
Waks, saya pun kaget, buru-buru menghindar, “Ngapain sih mau motret gue?” Masih dengan rasa tidak nyaman, dalam hati berkomentar, Maksud lo?
“Udah, lu diem jangan bergerak deh. Gue mesti mengabadikan elo seperti ini, nanti gue post di blog gue dengan judul, 'Orang Paling Cuek Sedunia.'" Hhhh... :(
@Alex, Rahasia Bulan, 2007
*spoiler alert*
Oranges Are Not The Only Fruit adalah buku sudah lama kepingin saya baca, dan akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya kesampaian juga (thanks to Lakhsmi :p). Bukan semata-mata karena Oranges menampilkan isu lesbian, tapi lebih karena nilai sastra feminis yang terkandung dalam buku ini ketika pada tahun 2003 seorang praktisi media menulis di harian Kompas saat membandingkan buku ini dengan fenomena Inul.
Tokoh utama dalam novel semi-autobiografi ini bernama Jeanette--sama seperti nama sang pengarang, yang diadopsi oleh keluarga evangelist kelas menengah di wilayah utara Inggris pada tahun 1960-an. Di mata Jeanette hidup adalah Tuhan, Ibunya, dan Gereja dengan buku bacaan favorit: Alkitab. Bahkan sejak berusia tujuh tahun dia percaya dirinya ditakdirkan menjadi misionaris dan membebaskan dunia dari orang-orang kafir. Bab-bab dalam buku ini pun dibagi menurut nama-nama kitab dalam perjanjian lama.
Namun seiring bertambahnya usia, Jeanette yang mulanya sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah mulai mempertanyakan banyak hal yang berbeda dengan dunia yang diperkenalkan ibunya. Saat memasuki usia puber 14 tahun, dia mempertanyakan seksualitas dirinya ketika dia jatuh cinta pada sahabat perempuannya, Melanie.
Sebagai seorang Kristen lurus, awalnya Jeanette tidak menganggap perasaannya kepada Melanie adalah sesuatu yang salah, di matanya mereka hanya bersahabat akrab. Dia tidak menganggap dirinya dan Melanie menjalin hubungan yang disebut “Unnatural Passions”, sebagaimana sebutan ibunya terhadap dua perempuan yang tinggal bersama di kota itu. Dia tidak sadar dirinya lesbian, meskipun sahabat-sahabat ibunya sudah melihat tanda-tanda itu.
Dan akibatnya pada usia empat belas tahun tanpa sengaja Jeanette coming out pada ibunya saat dia dengan menggebu-gebu menceritakan perasaannya yang berlimpah ruah pada Melanie. Ibunya bersama pendeta mengadakan upacara pengusiran iblis dan memaksa Jeanette dan Melanie untuk mengakui dan menyesali dosa mereka karena saling mencintai. Namun di mata Jeanette dia tidak merasa dirinya melakukan hal yang salah, karena “Unnatural Passions” pastilah rasanya buruk, sementara cinta mereka begitu indah. Bahkan bersama Melanie, Jeanette merasa lebih mencintai Tuhan.
"I love her."(hal 103)
"Then you do not love God."
"Yes, I love both of them."
"You cannot."
Demikian kata sang pendeta pada Jeanette ketika memaksanya mengaku dosa. Di mata sang pendeta, pilihannya adalah jika kau mencintai sesama jenis, kau tidak bisa mencintai Tuhan. Namun Jeanette mencintai Tuhan dan Melanie, dan dia tidak merasa ada yang salah dalam hal itu. Dua tahun kemudian, ketika Jeanette kedapatan (lagi) menjalin “hasrat yang tidak alami” dengan gadis lain, dia pun diusir dari rumah dan gerejanya.
Dalam kehidupan nyata, memang itulah yang terjadi dalam hidup Jeanette Winterston, sang pengarang. Setelah pergi dari rumah pada usia 16, dia bekerja serabutan di berbagai tempat pada malam hari dan akhir pekan untuk menghidupi dirinya pada tahun terakhir SMA-nya. Setelah setahun bekerja sebagai pembantu di RSJ, Jeanette mengumpulkan cukup uang untuk kuliah di Oxford. Oranges ditulis pada tahun 1983 saat dia berusia 23 tahun lalu diterbitkan pada tahun 1985 dan memenangkan Whitbread Prize.
Selain menulis novel, Jeanette Winterston juga menulis komik, buku anak-anak, esai, serta cerita pendek. Oranges juga diadaptasi ke dalam film pada tahun 1990 dan memenangkan Prix d'argent, Cannes Film Festival. Pada tahun 2006, dia mendapat gelar Order of British Empire (OBE) atas jasanya dalam bidang sastra.

Jeanette Winterston sendiri tidak ingin buku ini cuma dibaca oleh kaum lesbian saja, dia ingin membuka pikiran dan mata pembaca sebanyak-banyaknya dalam buku yang ditulis dari sudut pandang Jeanette kecil hingga remaja dengan sentuhan humor gelap di sana-sini. Dan buku ini memang bagus dibaca oleh semua perempuan. Bahkan belakangan Oranges dijadikan salah satu buku pilihan bacaan SMA-SMA di Inggris.
Oranges Are Not The Only Fruit bukan sekadar "buku lesbian", atau buku tentang “bagaimana coming out pada orangtuamu” atau “apa yang kaulakukan jika kau ketahuan lesbian oleh orangtuamu”. Tapi buku ini lebih tentang hidup dan harapan. Tentang mengikuti kata hati. Tentang menjadi perempuan dan tentang cinta. Tentang ikatan keluarga, bahwa se"gila"nya keluargamu, mereka tetaplah keluargamu. Dan tentang menyadari pilihan-pilihan yang diberikan hidup, karena bagaimanapun jeruk bukan satu-satunya buah.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Udah lama saya nggak mereview dua film bertema lesbian sekaligus. Kali Memento Mori dan Lost and Delirious. Dua film ini memiliki setting cerita yang sama. Cewek-cewek SMA, kecenderungan lesbian, bunuh diri, dan cerita disampaikan dari sudut pandang orang ketiga. Sebenarnya kedua film ini sudah lama saya tonton, VCD Memento Mori dijual resmi di Indonesia pada awal tahun 2000-an dan Lost and Delirious juga saya tonton dalam format VCD. Beberapa hari lalu baru saya tonton ulang lagi. Memento Mori dirilis tahun 1999, dua tahun lebih awal dibanding Lost and Delirious (2001).
“Kenangan kematian” demikian terjemahan bebas untuk Memento Mori. Seorang gadis SMA bunuh diri dengan terjun dari gedung dan meninggalkan buku harian misterius. Min-ah (Kim Min-sun) menemukan diari tersebut dan tertarik membaca kisah yang diceritakan dalam buku harian itu hingga dihantui oleh arwah gadis yang bunuh diri itu. Melalui tampilan flashback vs masa kini, kita membaca jalinan kisah hubungan lesbian Shi-eun (Lee Young-jin), dan Hyo-shin (Park Yeh-jin), gadis pemilik buku harian.
Memento Mori merupakan salah satu film lesbian Korea pertama, dengan cerdas sang sutradara menyamarkan kisah cinta lesbian dalam bungkusan cerita horor yang memang jadi cult dalam film-film Asia kala itu. Apalagi konon film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di sekolah khusus putri yang katanya berhantu di Korea. Persahabatan gadis-gadis SMA, gosip, serta pengkhianatan cinta pertama menjadi tema utama cerita Memento Mori, meskipun ujung film ini adalah film horor balas dendam arwah penasaran ala Carrie-nya Stephen King.
Lost and Delirious juga mengambil tema persahabatan ala gadis SMA, gosip, dan pengkhianatan cinta pertama. Film ini juga mengambil sudut cerita orang ketiga, yaitu Mary (Mischa Barton) yang menjadi narator kisah cinta antara Paulie (Piper Perabo) dan Tori (Jessica Pare). Walaupun diperankan oleh gadis-gadis Hollywood yaitu Piper Perabo pada masa sebelum Imagine and You dan sesudah Coyote Ugly, dan Mischa Barton (The OC), tapi Lost and Delirious dikategorikan sebagai film Kanada dan disutradari oleh Lea Pool asal Prancis.
Kisahnya ber-setting di asrama sekolah putri ketika Mary sebagai anak baru yang ditempatkan di kamar bersama Paulie dan Tori menyadari hubungan khusus antara kedua sahabat barunya. Tori yang panik saat hubungannya dengan Paulie ketahuan oleh adiknya yang juga berada di asrama yang sama buru-buru mengingkari hubungannya dengan Paulie. Tidak tahan digosipkan sebagai lesbian, akhirnya Tori menjauhi Paulie, yang tidak terima diputuskan oleh kekasih yang juga sahabat baiknya.
Lost and Delirious diperankan oleh gadis-gadis muda dengan akting menjanjikan, dan memang dari ketiga gadis itu kini Piper Perabo dan Micha Barton menjadi aktris yang dilirik di Hollywood. Film ini juga tidak buruk, walaupun tidak bisa dibilang film sempurna. Saya tidak bisa protes dengan ceritanya, karena memang begitulah yang terjadi. Cinta terlarang yang berakhir tragis bak Romeo and Juliet.
Dua film ini, walaupun dengan ending yang nggak enak dilihat, merupakan gambaran obsesi cinta remaja yang mungkin saja terjadi dalam realitas. Memento Mori dan Lost and Delirious menggambarkan tekanan homofobia di sekolah, kesadaran pertama kali pada orientasi seksual, dan pengalaman cinta pertama yang penuh gelora dan emosi hingga membuatmu rela mati demi cinta.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai16 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)