Banyak pasangan lesbian yang sekarang bisa kita lihat wara-wiri di layar TV (Amerika), hm, mungkin kalo di TV kita melalui tayangan DVD, yang entah original atau bajakan... terserah deh. Keberadaan mereka ada yang cuma tempelan, ada yang menjadi tokoh utama serial, ada yang cuma tampil satu-dua episode lalu "hilang". Namun ada juga beberapa pasangan lesbian di televisi yang begitu melekat dalam benak saya dan menurut saya memang pasangan yang ditakdirkan untuk satu sama lain. Soulmate. Apa pun.

Oke, tulisan ini amat subjektif dan bertujuan untuk fun saja. Urutan berdasarkan ranking, nomor satu adalah yang terfavorit. Selamat membaca!

5. Tina and Bette - The L Word
foto: http://www.thelwordonline.com/

Secara ini serial terlesbi yang pernah ada di layar TV, rasanya nggak sah kalau saya tidak memilih di antara pasangan dalam The L Word. Yeah, tadinya saya bingung antara Tina dan Bette atau Lindsay dan Mel di Queer as Folk, atau memasukkan Shane dengan salah satu perempuannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya rasa Tina dan Bette lebih pantas di sini karena sampai saat ini, setelah season 4 berakhir, saya masih percaya Tina dan Bette akan balik lagi menjadi pasangan dan bersama kembali.



4. Jessie and Katie - Once and Again
Foto: http://www.jessie-katie.com/

Tidak banyak orang yang tahu tentang serial ini di Indonesia. Padahal Once and Again pernah ditayangkan tengah malam oleh Indosiar tahun 2006. Sebenarnya Once and Again adalah film drama yang lumayan bagus dengan pemain di antaranya Sela Ward dan Shane West, namun serial ini di-cancel pada season ke-3. Buat yang tidak pernah nonton, coba aja cari DVD-nya, rasanya saya pernah lihat di lapak DVD. Jessie (Evan Rachel Wood) bertemu Katie (Mischa Barton) pada season 3, dan sayangnya serial ini keburu berakhir di season tersebut. Namun pada akhir episode, kedua gadis muda ini tetap bersama.



3. Willow and Tara - Buffy the Vampire Slayer
foto: http://www.bbc.co.uk/cult/buffy/

Willow (Alyson Hannigan) dan Tara (Amber Benson) adalah pasangan lesbian dalam serial Buffy the Vampire Slayer. Ketika Joss Whedon (kreator Buffy) mengubah haluan Willow menjadi lesbian pada season 4, saya langsung menahan napas dan berkata, “O.M.G!!!” Dan menurut saya, itu adalah tindakan paling brilian yang bisa dilakukan. Sebagai penggemar berat Buffy, saya bisa mencium Joss untuk tindakannya ini. Buffy the Vampire Slayer habis masa tayangnya pada season 7, tahun 2005. Season favorit saya adalah season 6 ketika Willow menjadi Evil Willow yang membalas dendam atas kematian Tara.



2. Xena and Gabrielle - Xena the Warrior Princess
Foto: http://www.warriorprincess.com/

She was the warrior princess with a lovely girl as her sidekick... yeah, right! Xena (Lucy Lawless) dan Gabrielle (Renee O'Connor) bertemu sejak serial ini pertama kali tayang dan tak pernah berpisah. Mereka memang tidak pernah menyatakan diri sebagai pasangan lesbian, tapi buat saya mereka adalah pasangan abadi yang akan hidup berdua selamanya, sebagaimana yang bisa dilihat di akhir serial ini. Serial Xena the Warrior Princess berlangsung selama 6 season sejak tahun 1995 sampai 2001 dan semua seasonnya ditayangkan di SCTV. Dan hingga sekarang pun Xena dan Gabrielle masih jadi pasangan favorit saya.



1. Spencer and Ashley - South of Nowhere
foto: http://www.the-n.com/

Spencer Carin (Gabrielle Christian) dan Ashley (Mandy Musgrave) adalah pasangan lesbian dalam South of Nowhere yang merupakan serial remaja dengan tokoh lesbian sebagai karakter utama dalam cerita. Pertama kali ditayangkan di Amerika pada tahun 2005, dan saat ini sudah memasuki season ke-3. Di antara serial remaja yang menampilkan tokoh lesbian, South of Nowhere adalah yang terbaik.

Sejak awal tayang Spencer dan Ashley memang sudah ditakdirkan satu sama lain, kau harus melihat tatapan mereka, sentuhan mereka.... woooow!!! Bikin deg-degan. Spencer is sooooo sweet and Ashley is so sexy, especially her raspy voice. Moga-moga mereka bisa jadi pasangan terus meskipun di season 2 mereka sempat break.



@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Hasil polling iseng di blog ini menyatakan dari 27 pemilih, 13 orang alias 38% memilih Keira Knightley saat ditanya, “Di antara aktris muda Hollywood, siapa yang kauharap berperan sebagai lesbian dalam film?” Sambil menunggu filmnya yang ada adegan lesbian bersama Sienna Miller dalam The Best Time of Our Lives, kita mundur sejenak ke film tahun 2003 yang mengangkat nama Keira Knightley. Bend It Like Beckham.

Siapa sih yang tidak kenal David Beckham? Pemain sepak bola asal Inggris yang memiliki jutaan penggemar. Tidak terkecuali Jess Brahma (Parminder Nagra), gadis keturunan India berusia 18 tahun yang tinggal di London. Tidak seperti kebanyakan gadis muda, Jess lebih suka bermain sepakbola daripada harus berdandan cantik. Ia bahkan lebih memilih membeli sepatu bola dan BH sport.

Kemudian Jess bertemu dengan Jules Paxton (Keira Knightley), gadis tomboi pemain sepakbola putri yang setelah menyaksikan bakat Jess mengajaknya bergabung dalam tim sepakbolanya. Dengan senang hati Jess bergabung dalam tim meskipun harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Bend it Like Beckham adalah film komedi ringan, namun film ini sesungguhnya menampilkan banyak isu dan pesan tentang feminisme, rasisme, dan homoseksual. Isu feminis diangkat melalui keinginan Jess untuk bermain bola secara profesional meskipun pandangan tradisional (India) adalah wanita seharusnya mengenakakan sari dan tinggal di rumah, sementara olahraga adalah permainan laki-laki. Isu rasisme muncul melalui hubungan cinta Jess dengan Joe (Jonathan Rhys Meyers), sang pelatih sepakbola berkulit putih. Isu homoseksual ditampilkan melalui sahabat baik Jess yang gay dan terutama ketika ibu Jules menduga putrinya menjalin hubungan lesbian dengan Jess.

Jules: Anyway being a lesbian's not that big a deal
Jules’s Mom: Oh no of course not sweetheart no. I mean I've got nothing against it. I was cheering for Martina Navratilova as much as the next person.
Ceritanya yang nyambung dengan penonton gay/lesbian mungkin karena pada awalnya sutradara/penulis skrip film ini, Gurinder Chadha, ingin membuat Jess dan Jules sebagai pasangan lesbian. Namun pada saat terakhir Gurinder membatalkannya, dan membelokkan cerita dengan membuat Jess berpasangan dengan Joe. Salah satu alasannya adalah film bertema lesbian tidak akan menjaring banyak penonton atau malah dikategorikan sebagai film yang “tidak layak tonton” buat remaja di beberapa negara, terutama negara Asia. Siapa juga yang mau nonton film buatan Inggris tentang pemain sepakbola lesbian?


Gurinder Chadha akhirnya memutuskan berkompromi dengan membuat tokoh-tokohnya hetero, namun menyelipkan banyak isu homoseksual yang positif di dalamnya. Dengan demikian pesan-pesan positif itu akan menjangkau lebih banyak orang. Di Amerika Serikat sendiri film ini meraup angka box office sebesar lebih dari $32 juta. Angka yang lumayan untuk film Inggris dengan sutradara baru dan pemain yang tidak ngetop.

Bend it Like Beckham juga memperoleh banyak penghargaan, dan masuk nominasi film terbaik Golden Globe 2003. Sebelum Bend it Like a Beckham, Gurinder Chadha pernah menyutradari What’s Cooking yang menampilkan tokoh lesbian. Saat ini ia sedang menyutradai Dallas yang diangkat dari serial TV tahun 1980-an setelah sebelumnya sukses dengan Bride and Prejudice.

Saya menyukai film ini, karakter-karakternya begitu menarik dan alur ceritanya pun pas. Bend it Like Beckham adalah film yang bisa saya tonton berkali-kali. Ini adalah film yang membuat saya bisa tersenyum dan tertawa, bahkan merasa riang sehabis menontonnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

7:21 PM

Buku: Annie on My Mind - Let Love Win

Posted by Anonymous |

Liza Winthop pertama kali bertemu dengan Annie Kenyon di Metropolitan Museum of Arts di New York ketika ia mendengar suara nyanyian Annie yang sedang duduk di jendela. Dua gadis berusia 17 tahun ini pun langsung menjalin persahabatan, walaupun keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Liza bersekolah di sekolah swasta dan tinggal di lingkungan elite New York, sementara Annie bersekolah di sekolah negeri dan tinggal di permukiman “tidak aman” di Brooklyn. Keduanya adalah gadis cerdas yang memiliki cita-cita dan impian. Liza bercita-cita menjadi arsitek dan melanjutkan kuliah di MIT, sementara Annie bermimpi untuk mengejar beasiswa di University of California, Berkeley melalui bakat nyanyinya. Singkat cerita, mereka adalah gadis baik-baik yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang.

Hubungan mereka makin akrab, bahkan tidak jarang Annie dan Liza main ke rumah satu sama lain dan masing-masing dari mereka diterima dengan baik oleh orangtua yang lain. Namun hidup mereka berubah 180 derajat ketika hubungan persahabatan mereka perlahan-lahan berubah menjadi hubungan cinta.

Liza---terutama---panik saat menyadari bahwa perasaannya terhadap Annie bukan sekadar persahabatan antar teman, dan keduanya kemudian bersama-sama belajar menghadapi cinta mereka. Karena satu dan lain hal, hubungan Liza dan Annie tertangkap basah oleh pihak sekolah Liza sehingga Liza pun diskors dan diadukan lesbian pada orangtuanya.

Annie on My Mind ditulis berdasarkan narasi Liza dan kita mengikuti segala gejolak perasaan Liza bersama Annie serta perasaannya terhadap orang-orang yang dia sayangi ketika hubungannya dengan Annie terungkap. Salah satu kekuatan Annie on My Mind, selain kisah cinta remaja yang diiringi hasrat menggebu adalah sesungguhnya tidak ada yang jadi “orang jahat” dalam buku ini. Semua orang melakukan apa yang mereka anggap benar dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Apalagi harus diingat bahwa buku ini terbit pertama kali pada tahun 1982, dan APA (Asosiasi Psikiater Amerika) baru menyatakan homoseksual bukanlah penyakit kejiwaan pada tahun 1973.

Meskipun sudah 25 tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, Annie on My Mind masih relevan dalam menggambarkan remaja SMA yang lesbian dengan segala kekalutannya. Bagaimana takut dan bingungnya Liza ketika menyadari dirinya mencintai Annie dan penerimaan terhadap kenyataan bahwa dirinya lesbian ditulis melalui gambaran realistis oleh Nancy Garden.

Nancy Garden adalah penulis kelahiran Boston, Massachusetts tahun 1938. Kini di usianya yang hampir 70 tahun, ia masih tetap menulis, dan kebanyakan adalah buku-buku remaja. Nancy Garden termasuk salah satu orang pertama yang mendaftarkan pernikahan sesama jenis di Massachusetts bersama pasangannya, Sandy Scott, yang kala itu sudah jadi partner hidupnya selama 35 tahun, yang juga cinta pertamanya sejak sekolah menengah.

Annie on My Mind bisa dibilang buku yang membuatnya terkenal karena untuk pertama kalinya ada novel remaja yang menggambarkan kisah lesbian yang berakhir bahagia. Dan terjadi kejadian menghebohkan ketika pada tahun 1993, buku tersebut jadi buku terlarang dan dibakar di sekolah di Kansas City karena sejumlah orangtua khawatir jika Annie on My Mind bisa memengaruhi anak-anak remaja agar menjadi homoseksual. Akan tetapi pada tahun 1995, buku tersebut akhirnya dikembalikan lagi di rak perpustakaan sekolah karena menurut pengadilan pelarangan tersebut adalah pelanggaran terhadap Amandemen Pertama, yaitu kebebasan berekspresi.

The American Library Association menyebut Annie on My Mind sebagai buku "Best of the Best Books for Young Adults." The School Library Journal juga mencantumkan buku ini dalam daftar 100 buku anak dan remaja yang paling berpengaruh dalam abad 20. Selain itu, juga terpilih sebagai buku pilihan reviewer Booklist tahun 1982, American Library Association Best Books, and the ALA Best of the Best lists. Pada tahun 2003, the American Library Association memberi Nancy Garden penghargaan seumur hidup untuk penulisan buku-buku remaja.

Annie on My Mind adalah salah satu dari sedikit buku yang saya beri bintang lima untuk penggambaran karakter-karakternya yang bisa dibilang nyaris sempurna. Mungkin untuk bacaan remaja Amerika zaman sekarang, cerita buku terbitan tahun 1982 ini tampak “basi”, apalagi dengan setting kota besar seperti New York. Namun dalam banyak hal kisah cinta dalam Annie on My Mind adalah kisah abadi yang tak lekang oleh waktu. Cinta, terutama cinta pertama, adalah hal paling menakjubkan dan juga paling membingungkan, terutama bagi remaja lesbian. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan oleh sang pengarang lewat buku ini, "Don't let ignorance win. Let love."

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

5:23 PM

Ketika Reuni Tiba

Posted by Anonymous |

Malam minggu yang lalu saya menghadiri acara reuni SMP-SMA sekalian merayakan ulang tahun ke-25 sekolah saya itu. Acaranya luar biasa seru, kocak, mengharukan. Ketemu dengan teman-teman lama dan guru-guru sekolah dulu serta mengenang kebandelan masa SMA takkan bisa terulang lagi seumur hidup. Dan menyadari betapa kami sudah berubah begitu banyak setelah 10 tahun lebih berlalu namun dalam banyak hal kami tetap anak-anak sekolah yang manis dan bandel.

Sekian lama tak bertemu, pertanyaan ala, "apa kabar", "udah nikah belum, anak lo berapa?", "bini/laki lo mana, kok nggak dibawa?" "kerja di mana?" pun berseliweran masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Jawaban-jawaban ngaco, liar, dan ngawur ala anak SMA pun terlontar. Kenangan-kenangan lucu dan memalukan saat sekolah dulu pun diceritakan ulang. "Ingat nggak dulu kita..."

Oya, salah satu alasan saya datang adalah beberapa bulan lalu saya bertemu adik kelas saya yang ajaibnya ternyata dia lesbian sekarang, hehehe. Dalam jutaan tahun pun saya tidak pernah menyangka bahwa sahabat yang mulanya saya temui di dunia maya itu adalah adik kelas saya.... :) Tidak, adik kelas saya itu tidak datang, dia sudah bilang bahwa dia ogah datang.... namun reuni kemarin membuat saya teringat keberadaannya pada masa seragam putih biru dulu ketika melihat sahabat-sahabat angkatannya datang menyapa.

Saya jadi berpikir siapa saja ya kira-kira sahabat SMP-SMA saya yang juga lesbian? Secara katanya 10% populasi manusia adalah homoseksual. Saya jadi berusaha mengingat-ingat siapa saja calon potensial lesbian dari masa lalu saya. Sedang asyik-asyiknya saya melamun, tiba-tiba sahabat saya Cindy nyeletuk, “Eh, si Rani kabarnya gimana ya? Ada yang tau? Dia menghilang gitu, kayak ditelan bumi.”

Entah bagaimana semua mata di meja makan memandang ke arah saya. Oke deh... “Yey, mana gue tau gimana kabar si Rani? Lagian udah lama nggak ketemu dia,” saya menjawab dengan agak defensif.
“Gimana bisa nggak tau? Lo kan deket sama dia dulu, sering raba-rabaan di sekolah,” Cindy makin bernafsu mencecar saya.
Beberapa teman SMP-SMA saya tahu bahwa saya lesbian, tapi itu pun saya beritahu setelah lulus kuliah. Hm, saya jadi bertanya-tanya apakah sejak SMA mereka sebenarnya pernah punya feeling bahwa saya lesbian?

“Emangnya gue gimana sama Rani dulu?” Rani tidak pernah jadi pacar saya walaupun kami punya hubungan “dekat”.
Seorang teman cowok, sebut saja namanya Andy, langsung nyeletuk, “Huahaha, Lex, elo tuh kayak pakai plang tulisan 'lesbian' di atas kepala elo.”
Saya mendelik, pura-pura marah. Dalam hati saya bertanya, Masa sih?

Cindy menepuk bahu saya, “Secara elo dulu pernah naksir gue, ya jelas lah gue ‘berasa’. Elo kan sering memandang gue dengan penuh cinta.”
Kontan sahabat-sahabat saya ngakak mendengarnya. “Beneran lo pernah naksir Cindy?” tanya sobat saya yang lain.
“Bener, dan sekarang gue sudah nyesel ngasih tau si Cindy, karena dia malah nyebar-nyebarin info ini. Hehehe... Mungkin karena ditaksir gue adalah kebanggaan. Maklum deh, gue kan orang ngetop gitu. Hahaha.”

“Eh, balik lagi ke Rani dong, gimana ceritanya dulu. Lo pernah sama dia, Lex?”
“Nggak pernah.”
“Halah, gue pernah liat kalian ciuman kok di kelas,” si Andy nyeletuk.
“Iya, iya, bener, gue juga liat.” Tiga sahabat saya yang lain langsung menambahi.
“Hah? Jadi lo cium cewek lain selain gue, Lex?” Cindy bertanya, pura-pura marah.
“Ya ampun, gue aja udah lupa ciuman itu. Itu cuma memindahkan permen dari mulut gue ke mulutnya. Lagian itu kan bukan buat konsumsi publik.”
“Yey, elo ciumannya di kelas... ya wajar dong kalo semua mata memandang.”
Daripada kena cecar terus, lebih baik menghindar.“Udah ah, gue mau ke WC.”
“Ikut dong.” Tiga sahabat perempuan saya ikutan berdiri. “WC-nya di mana sih?” Entah kenapa cewek kalau ke WC sering banget rame-rame.

Lalu berjalanlah kami beriringan ke toilet. Samar-samar saya mendengar Sally bertanya pada Cindy, “Emang bener lo pernah ciuman sama Alex?”
“Bener, waktu itu kan kita masih muda dan penuh eksperimen ya, Lex,” Cindy menjawab sambil cengengesan.
“Terus habis ciuman, ngapain?”
Saya dan Cindy menjawab berbarengan. “Ketawa ngakak.”
Saya menambahkan. “Ciumannya sih enak ya, Cin. Cuma rasanya nggak bener aja. Kayak incest, huahaha.”
“Iya, iya, gue juga berasa gitu. Bukan jijik sih, lebih ke perasaan geli. Geli bukan karena cium perempuan, tapi karena ciuman sama teman perempuan, hehehe. Lagian kagak ada setrumnya.”
“Maksud lo ciuman gue buruk?”
“Nggak sih, lo termasuk salah satu best kisser. Cuma entah gimana, nggak ada setrumnya aja. Secara gue bukan lesbi kali ye?”

Kami pun menghentikan pembicaraan saat memasuki WC. Di dalam toilet saya berpikir betapa bersyukurnya saya memiliki sahabat-sahabat yang baik, yang selama ini selalu ada untuk saya. Sahabat-sahabat yang walaupun kadang-kadang menyebalkan ternyata bisa menerima saya apa adanya. Mungkin sejak SMP-SMA signal-signal lesbian dari dalam diri saya itu sudah memancar tanpa saya sadari. Selama rentang waktu hampir 20 tahun persahabatan kami sejak masuk SMP, beberapa sahabat masih jadi teman dekat saya. Dan ada beberapa sahabat selalu memiliki arti istimewa dalam hidup saya, karena kami selalu bisa bersahabat tanpa memandang hal-hal lain di luar persahabatan kami, seperti gaya hidup, orientasi seksual, jenjang si kaya dan si miskin, atau perbedaan agama.

Ketika sedang membasuh tangan di wastafel, kami masih cekikikan nggak keruan seperti cewek-cewek belasan tahun ketika dua perempuan manis masuk ke WC. Saya memandangi dua perempuan muda itu dua detik lebih lama daripada seharusnya ketika dua sahabat saya berteriak, “Plis deh, Lex. Mata lo jangan jelalatan gitu dong! Haiyah... dasar lesbi, nggak bisa ngeliat barang mulus lewat!" Duh, ampun deh, gue. Kenapa juga punya temen yang mulutnya bocor gini. Karena dua cewek tadi jadi memandangi saya dengan tatapan "gimana gitu" ketika akhirnya saya bergegas keluar dari WC sambil diiringi cekikikan sobat-sobat saya yang rasanya ingin saya cekik saat itu. :)

@Alex, RahasiaBulan, 2007
* Semua nama di atas adalah nama samaran, kesamaan nama hanyalah kebetulan belaka.

Setting dan karakter dalam film ini sudah membuat saya jatuh hati. New York. Novelis. Lesbian. Apa lagi yang kurang? Untuk tiga hal ini saja, saya akan memberinya dua dari lima bintang. Terserah deh kalau mau dibilang subjektif.

Puccini for Begginers dibuka dengan prolog ketika Allegra (Elizabeth Reiser) kedapatan menjalin hubungan cinta dengan Grace (Gretchen Mol) DAN Philip (Justin Kirk), lalu kisah pun dibuat flashback. Beberapa bulan sebelumnya, Allegra putus dari Samantha (Julianne Nicholson) karena Allegra adalah perempuan fobia komitmen, yang menganggap komitmen sama dengan perbudakan dan warisan budaya patriarki. Samantha yang tidak tahan terombang-ambing dalam ketidakpastian bersama Allegra, akhirnya kembali ke Jeff, pacar lelakinya sebelum Allegra.

Allegra yang patah hati kemudian bertemu Philip, dosen filsafat di Columbia University, yang membaca novelnya, sama-sama menggemari opera, dan sanggup bertahan ngobrol bersama Allegra selama berjam-jam. Tidak banyak kejutan jika kemudian Allegra yang keukeuh menyatakan diri lesbian kemudian tidur dengan Philip. Pada saat yang hampir sama Allegra juga menjali hubungan dengan Grace, yang berada dalam tahap rebound akibat putus dari pacar lelakinya setelah 6 tahun karena lelaki itu tidak mau berkomitmen menikahinya. Bisa dibilang Allegra dan Grace saling memanfaatkan. Allegra butuh perempuan untuk terus memantapkan status lesbinya meskipun menikmati hubungannya bersama Philip, dan Grace yang sedang patah hati berpikir untuk melakukan eksperimen seksual. Allegra terus menjalin hubungan dengan Philip dan Grace secara sembunyi-sembunyi dan nyaris pingsan ketika tahu Philip dan Grace adalah mantan kekasih.

Menonton Puccini for Beginners mau tidak mau mengingatkan saya pada film-film karya Woody Allen. Setting New York-nya saja sudah mengingatkan saya pada Annie Hall dan Manhattan. Dan masih ditambah dengan dialog-dialog panjang dan cerdas antar tokoh-tokohnya. Woody Allen banget deh pokoknya. Tidak heran karena Maria Maggenti, sang sutradara, adalah penggemar Woody Allen. Ia juga menyutradari film drama lesbian The Incredibly True Adventures of Two Girls in Love (1995), hampir 12 tahun sebelum film ini dibuat.

Buat saya, ada beberapa dialog yang saking cerdasnya hingga jadinya tidak lucu. Namun ada pula dialog-dialog yang ngena banget, seperti obrolan Philip dan Allegra di ranjang atau percakapan di luar restoran ketika keadaan jadi kacau karena muncul kesalahpahaman yang bikin pusing. Acungan jempol layak diberikan pada Elizabeth Reiser yang wajahnya mengingatkan saya antara Julia Roberts dan Debra Winger muda. Dia begitu pas berperan sebagai Allegra, dan tidak heran jika di masa mendatang Reiser akan jadi aktris yang diperhitungkan Hollywood.

Film tahun 2007 ini bisa dibilang lebih ringan dan lucu dibanding Kissing Jessica Stein yang memasukkan lebih banyak drama. Di mata saya, Puccini for Beginners adalah film romedi romantis dengan unsur sweet-satire tanpa maksud memperumit pikiran kita tentang label homo, lesbi, atau hetero. Seksualitas berada dalam wilayah abu-abu, tergantung pada siapa yang kautiduri saat itu. Dalam film ini kita akan menemukan perempuan yang tidur dengan perempuan untuk melakukan eksplorasi seksual. Lesbian yang tidur dengan laki-laki. Dan perempuan yang berkeras mengaku bukan lesbian tapi tidur dengan perempuan. Jadi apa pun label yang Anda pakai sekarang, silakan nonton film komedi ringan ini dengan santai dan berusaha menemukan humor di dalamnya....

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Subscribe