2:51 PM

Gema Keheningan

Posted by Anonymous |


"Sometimes one creates a dynamic impression by saying something,
and sometimes one creates as significant an impression by remaining silent."
(Dalai Lama)

Katakan padaku seperti apa suara kebenaran itu? Apakah suaranya itu bergaung lantang, membahana hingga ke pelosok desa? Ataukah suara kebenaran itu hanya bisa didengarkan melalui keheningan?

Suara kebenaran yang dilantunkan seseorang, dinyanyikan ceria oleh pendengar lain, menyebar ke seantero negeri. Diaransemen berulang-ulang sesuai mood si penyanyi, dibuat karaokenya, dipancarkan oleh anak-anak pengamen jalanan. Semua orang senang mendendangkannya setiap hari, seperti lagu-lagu dari radio yang membahana didengar kala perlu dimatikan saat membosankan.

Ada pula suara kebenaran lain yang disimpan dalam keheningan. Diperam dan meresap melalui sunya meditasi. Yang kemudian bergema dalam lantunan tanpa kata-kata, merasuk ke dalam benak mereka yang mau mendengarkan. Gema itu memantul, lalu menyebar ke dinding sukma, mengalir dalam darah.

Biarlah suara-suara sumbang, tuduhan, pengkhianatan versi XP, gosip paling pas, komentar-komentar sahih berseliweran dalam oksigen yang dihirup bersama-sama dengan riang gembira. Oksigen, untuk kebutuhan hidup. Oksigen, untuk mempertahankan diri. Oksigen, untuk yang lain-lain.

Biarlah semua orang mempercayai kebenarannya masing-masing. Apa pun yang kulakukan, pilihan apa pun yang kuambil, aku tetap salah, kau yang (tampak) benar - tanpa definisi yang jelas arti kebenaran itu.

Percuma, kan? Dan mungkin,
“Silence is sometimes the best answer" (Dalai Lama)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:45 PM

Hujan

Posted by Anonymous |

Air menetes satu-satu. Awalnya perlahan. Tapi aku tahu beberapa detik kemudian tetesan air ini akan berubah menjadi duri-duri yang melesat bak panah dari langit. Kutarik tangannya. “Ayo, cepetan!” Dia pun bergegas mengikuti langkahku. Tangannya menutupi kepala seakan hal itu bisa menolongnya dari sergapan air.

“Sedikit lagi sampai, kalau kita lari, kita mungkin keburu sampai ke apartemen.”
Terlambat, hujan keburu mengguyurkan bah ketika jarak apartemen hanya tinggal selemparan lembing. Tanganku ditariknya ke depan toko yang sudah tutup. Dia bersandar di depan pintu toko, aku otomatis berdiri di hadapannya. Tubuh kami berdua terlindung dari terpaan hujan. Hanya ada cahaya kuning dari lampu bohlam di atas kepala kami, tapi aku bisa melihat wajahnya yang basah. Kuseka pipinya dengan jemariku, “Apakah ini hujan atau air mata di pipimu?”

Dia mendongak, tak menjawab. Tangannya meraih kepalaku. Bibir kami mendekat. Kurasakan bibirnya yang dingin tanpa lipstik, bergetar beradu dengan bibirku. Ciuman sepasang kekasih yang malu-malu seperti kupu-kupu menghinggapi bunga. Ciuman penuh belitan yang mampu menahan waktu. “Bercintalah denganku,” katanya. Dan aku pun menciumnya lagi. Ciuman sepasang kekasih yang sudah saling mengenal bentuk dan rasa selama bertahun-tahun.

“Ide siapa tidak membawa payung?”
“Kamu tahu apa arti payung buatku.”
“Benda milikmu yang paling sakral. Selevel dengan kitab suci.”
“Hujannya nggak deras-deras amat kok.”
Dan jadilah kami berlari menembus hujan, melintasi genangan air, menyeberangi jalan penuh mobil. Bergandengan tangan.

Kami seperti sepasang kucing yang kecebur got, melintasi satpam yang kebingungan melihat betapa tidak kerennya kami mencipratkan air di mana-mana. Terkikik, kami masuk ke lift dan memencet tombol 23. Bergegas kami masuk ke apartemen, melepaskan pakaian kami yang basah, lalu menuju kamar mandi. Berdua. Siraman shower yang hangat begitu nikmat menghajar tubuh kami yang menggigil. “Bibir kamu biru.” Lalu kukecup bibirnya lagi, lagi, dan lagi.

“Aku nggak pernah menangis, babe.”
“Yes, you did. Kamu menangis saat kamu menyakitiku.”
Dan kali ini dia duluan menciumku. Lama dan dalam. Tidak ada air mata.

Kami hanya menyeka tubuh seadanya. “Dingin banget nih. Matiin AC-nya.”
“Ini udah mati, babe.”
“Masuk ke dalam selimut aja.”
“Kata di buku...”
“Shut up, babe, jangan ngomong buku itu lagi, kita udah telanjang nih.”
“Berbagi panas tubuh...”
Kami tertawa terbahak-bahak, mengingat isi buku itu.

Kami bercinta seperti dua manusia yang pulang setelah bertahun-tahun tersesat di hutan. Tidak ada malu, tidak ada sungkan, tidak ada ragu. Segala sentuhannya begitu alami, begitu nyata, begitu familier.

“Untuk satu malam ini, bisakah kita melupakan segalanya selain hanya kita berdua? Rasanya tidak pernah ada waktu yang cukup seperti itu. I need to be with you. Just you,” bisikku.
“Babe, kamu harusnya tahu dunia di luar sana tidak menarik bagiku, tanpa kamu.”

“Cintai aku seakan hari esok tak pernah ada lagi,” bisiknya.
“I love you. I have always loved you, and I will always love you.”

Kurasakan tubuhnya bergerak dalam pelukanku. Kulepaskan dia, tanganku seakan mati rasa tertindih kepalanya. Lamat-lamat kubuka mataku. Jendela di luar masih basah oleh hujan. Hanya rintik-rintik kecil. Matahari pagi malu-malu menyapa di balik awan.
“Jam berapa, babe?”
“Nggak tahu.”
“Aku paling suka pagi-pagi seperti ini. Terbangun dalam pelukan kamu.”
Dia bergerak, menelikungkan tubuhnya sehingga berhadapan denganku.”Mulut kamu bau, babe.”
“Kamu juga.” Tapi tak menghalangi kami untuk berciuman.

Dia bangun dari ranjang. Tubuhnya yang telanjang berjalan menuju jendela. “You look... sexy,” kataku memandangnya. “Dan kurasa lima ratus orang dari apartemen seberang sana juga menganggap kamu sexy.”
“Hahaha, aku selalu suka memandang hujan dari jendela apartemen. Memandangi orang-orang yang bergerak di bawah.”
“Ya, dan orang-orang juga senang memandangimu dari jendela.”

Aku bangun melangkah ke arahnya, memeluknya dari belakang. Ikut memandangi rintik hujan yang menghantam sosok-sosok mungil berpayung di bawah sana. Kukecup bahunya dan kupeluk dia erat-erat. Dia masih memandang ke bawah ketika aku beranjak darinya. “Nih, pakai kemejaku, babe.” Kulemparkan kemeja pink milikku yang tersampir di kursi.

Aku mengambil sweter hijau dari lemari, berjalan menuju pantry, dan kembali dengan secangkir kopi. Dia sudah mengenakan kemejaku dan celana pendek, duduk di depan laptopnya, mengetik entah apa di sana. Matanya sesekali menerawang ke jendela. She's in one of her mood.

Aku duduk di ranjang, menaruh kopi di meja samping. Mengambil novel yang belum habis kubaca. Dan aku memulai pagiku dengan melanjutkan bacaan yang tertinggal. I'm in one of my mood too.

Hening. Hanya ada suara ketukan keyboard dan gesekan kertas dibalik. Sesekali ada suara kursi berdenyit dan cangkir kopi yang diletakkan kembali di meja. Sementara di luar hujan mengalir malas di jendela.

@Alex, RahasiaBulan, 2008
PS: Dear Lakhsmi, hujan mengingatkan aku pada kota yang romantis, tempat kita mengikat janji kita. Hujan mengingatkanku pada teriakan anak-anak yang gembira, pada parkiran Blitz Megaplex, pada romantisme tanpa henpon atau laptop. Kau pernah memberiku Pagi dan Malam Kegelapan Total. Kali ini kupersembahkan Hujan untukmu.

9:10 AM

Stay Connected – Berjanjilah Kau Selalu Ada Untukku

Posted by Anonymous |

Oleh: Alex

Kemajuan teknologi membuat manusia merasa harus terus terkoneksi. Teknologi yang berubah demikian cepat membuat kita terkadang lelah harus berkejaran dengan kecepatan perubahan. Dan bagaimanapun, kita selalu kalah mengejar kecepatannya.

Saat kita bisa santai, kita merasa berdosa karena merasa terlalu egois, padahal kita harus stay connected demi teman-teman maya kita. Kita jadi manusia kesepian yang mencari dan terus mencari kebahagiaan di luar diri kita sendiri. Kita menarik siapa pun yang ada di dunia maya, berpikir bahwa maya itu bisa jadi realitas dan realitas adalah kenyataan yang bisa kita tunda kapan saja. Sahabat, kekasihmu, atau korban tepe-tepemu hidup di dalam laptop dan handphone.

Orang yang ada di depan mata kadang-kadang kita abaikan karena kita sering berpikiran, “Ah dia selalu ada.” Tapi yang jauh dan maya selalu kita cari-cari karena mereka tidak selalu ada dan karena ke-maya-an mereka itu, kita jadi merasa terus-menerus haus ingin “menyentuh”nya. SMS/MMS/YM/telepon yang masuk mengingatkan otak kita bahwa “Hai, aku di sini. Please stay connected with me.”

Kita jadi takut kehilangan tali koneksi yang rapuh itu. Rayuan, cinta, dan pemujaan lewat dunia maya terasa samar namun jiwa egois kita tidak mau kehilangan semua itu. Ibarat menggenggam udara. Kita terus berpegangan pada dunia semu yang rapuh karena takut kehilangan. “Masih ingat janjimu untuk mencintaiku selamanya?” Berapa lama selamanya dalam kemayaan? Seperti apa bentuk cinta yang semu? Saat dia jauh, kau berusaha menggapai-gapainya, menariknya kembali. Cukup dengan satu pesan pendek. SMS/YM/E-mail. “Masihkah ada aku dalam hatimu?”

Padahal perasaan itu perasaan yang semu. Ilusi. Yang mati-matian kita pertahankan karena kita takut kesepian. Kita mencari dan terus mencari sahabat, kekasih, atau siapa pun yang bisa kita pegang. Apalagi dalam dunia lesbian, yang konon mencari pacar sangatlah sulit. Kau berpegangan pada seseorang mati-matian. Terkadang, walaupun maya, kaupuaskan dirimu dalam kemayaan itu. Dan di antara itu ada manusia-manusia yang cuma berani di dunia maya tapi gentar menghadapi kerasnya kenyataan hidup. Ibarat burung onta memilih menyerudukkan kepalanya di pasir. Di dalam pasir dia berteriak, "Jangan tinggalkan aku ya. Aku takut tidak punya siapa-siapa."

Kita tidak perlu bertemu secara fisik, selama aku bisa curhat denganmu, menceritakan hari-hariku padamu, mengirimimu SMS, meneleponmu di saat senggang. Setelah telepon dimatikan, setelah SMS/YM berakhir lalu apa? Kamu tetap merasa haus, ibarat dahaga yang dituntaskan dengan air laut. Ada “it” yang hilang, yang tidak bisa tergantikan. Dan saat kau pulang ke dunia realitasmu di ujung waktu, kau baru sadar bahwa kau sudah mengenyahkan banyak orang untuk memegang “kesemuan” itu.

Makin lama kau merasa dirimu kosong. Hampa, walaupun kau berusaha menarik sebanyak mungkin udara ke paru-parumu. Semakin banyak kau menarik udara, kau tidak merasa penuh, tapi kau melayang. Dan itu makin membuatmu takut. Takut akan kehilangan kontrol diri dan jejakanmu di bumi. Rasanya gamang dan menakutkan.

Kita takut kehilangan rasa semu yang kita terima dari orang-orang di dunia maya. Kita ingin berpegangan dengan rasa itu tak peduli konsekuensinya. Kita menyimpan rasa itu dalam ruang kosong seperti kita menyimpan barang di gudang. Disimpan dulu, yang penting ada di gudang, dan bisa kita pakai kapan saja kita mau. Hingga lama kelamaan barang tersebut akan berdebu dan berubah fungsi menjadi sampah gudang dengan sendirinya.

Stay connected. Seharusnya teknologi membuat manusia terkoneksi, membuat manusia makin punya waktu untuk orang-orang yang disayanginya. Tetapi kenapa banyak manusia jadi makin kesepian?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:46 PM

Nonton Sinetron Yuk!

Posted by Anonymous |

Sudah tahu kan saya penggemar sinetron? Menurut saya sinetron adalah tontonan hiburan yang paling pas buat penonton Indonesia, selain acara lagu-lagu gitu deh. Biasanya saya mengobrol tentang sinetron seru dan asyik ini dengan tante, rekan kerja, atau pembantu saya, tapi kali ini saya ingin sharing di blog. Menurut sata sinetron sebenarnya ada yang bagus-bagus kok, dan FTV di TransTV hari Kamis malam juga oke. Hehehe, promosi dikit boleh dong :)

Tadi malam saya nonton sinetron Khanza, itu lho yang diputar tiap hari di RCTI jam 20.30. Sehabis Sekar dan sebelum Yasmin, dan bareng jam tayangnya dengan Cinta Fitri 3. Huehehe, hafal banget yak. Khanza ini termasuk sinetron favorit saya setelah terbosan-bosan melihat Aqsa dan Madina yang entah kapan selesainya, plis deh bulan puasa udah lewat bentar lagi bulan haji.

Eniwei, jadi semalam si Khanza (Velove Vexia) ceritanya hamil tapi tidak tinggal sama suaminya, Nino (Jonas Rivanno). Jangan tanya saya kenapa dia bisa hamil padahal sebelumnya Nino punya istri Cilla (Alexandra Gotardo). Karena tiga hari saya nggak nonton, saya nggak tau deh kenapa Khanza akhirnya tinggal sama Cilla, dan Nino balik lagi tinggal sama bapak emaknya.

Cilla tadinya jahat, tapi pas tahu Khanza umurnya nggak lama lagi karena kanker otak atau apalah jadi baik banget sama Khanza. Dia bahkan nggak mau balik lagi sama Nino dan mutusin tinggal sama Khanza. Khanza juga karena nggak mau membuat Nino sedih memutuskan untuk menyembunyikan rahasia sakitnya dari Nino dan nggak mau tinggal bareng suaminya itu. Jadilah dua perempuan ini akrab dan tinggal bareng.

Jadi ada adegan lucu nih, yang subteks lesbiannya keras banget. Pas pemeriksaan kehamilan, di depan bu dokter Khanza menyuruh Cilla merasakan bayi dalam perutnya, “Karena bagaimanapun kamu akan jadi ibunya juga,” demikian kata Khanza pada Cilla. Lalu mereka tertawa bahagia sambil tangan Cilla memegang perut Khanza.

Adegan selanjutnya adalah adegan di toko pakaian bayi, ketika Khanza dan Cilla melihat-lihat baju untuk bayi “mereka”. So sweet deh, aduh, gimana ya adegannya, hm mesra gitu deh. Lalu di rumah pun Cilla khusus memasakkan makanan buat Khanza. Bukan adegan makan mewah dengan meja penuh makanan yang lengkap dengan jus jeruk dan lilin ya. Tapi makanan sederhana, secara Cilla cuma bisa masak fetucine dan spageti gitu. Jadi makanan yang disajikan pun makanan sepinggan. Ya ampyun, nggak pernah tuh nonton sinetron yang adegannya subteks banget. Huehehe.

Adegan-adegan dalam tayangan malam tadi jelas dibuat dengan sengaja menampilkan subteks lesbian secara halus. Penonton awam tidak akan merasakannya, tapi penonton lesbian akan berpikir, "Eits, apa nih?" Subteks ini bukan berarti Khanza dan Cilla sebenarnya punya perasaan satu sama lain dan akan dijadikan pasangan pada tayangan berikutnya. Tentu tidak. Tapi lebih berupa arti terselubung yang hanya bisa dilihat oleh mata tertentu yang paham dengan arti tersebut.

Yah, cuma mau sharing nggak penting sebenarnya, hehehe... Selamat menonton sinetron. Saya mau lanjut ke FTV di SCTV yang lucu nih. Cowoknya geblek dan gokil dengan akting alami, hahaha.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Oleh: Alex

Apa yang kaulakukan jika kau sudah menikah, memiliki tiga anak, dan jatuh cinta pertama kalinya dengan perempuan?


Alice Jordan memiliki kehidupan yang sempurna. Rumah idaman di pedesaan yang baru dibelikan oleh suaminya, Martin. Tiga anak yang melengkapi hidup berkeluarganya. Dan suami setia dan pekerja keras yang tak menuntut macam-macam darinya.

Akan tetapi, Alice tidak bisa menghilangkan perasaan depresinya. Perasaan bahwa dia menjalani hidup selama 31 tahun sambil “tidur”. Niatnya untuk meneruskan hobi melukis di rumah baru yang dinamai The Grey House di desa Pitcombe, Inggris, ternyata membuat Alice makin tertekan. Setelah melahirkan anak ketiganya, Charlie, Alice mandek dan tidak bisa melukis lagi.

Selama sepuluh tahun perkawinannya Alice Jordan tidak pernah merasakan gejolak perasaan yang membuncah terhadap suaminya, Martin. Dia bertemu dengan Martin pada awal usia dua puluhan, menikah karena jatuh cinta pada kebaikan Martin dan menyayangi ibu mertuanya yang memiliki taman indah idamannya. Tahun berlalu, kemudian Alice hamil anak pertama, Natasha, dilanjutkan dengan anak kedua, James, dan anak ketiganya, Charlie dalam masa sepuluh tahun. Namun selama itu Alice tidak pernah menjalani hidup sehidup-hidupnya.

Hingga akhirnya Alice bertemu dengan Clodagh Unwin, putri bungsu bangsawan di desa itu. Clodagh yang baru tiba dari New York adalah perempuan ugal-ugalan manja tipikal gadis kaya yang biasa mendapatkan apa yang dia mau. Menurut gosip yang beredar di desa, Clodagh pulang ke desa membawa patah hati dari New York. Namun yang tidak diketahui oleh semua orang adalah, Clodagh meninggalkan kekasih perempuannya di New York karena tidak tahan hidup bersamanya. Clodagh kemudian jatuh cinta pada Alice dan tanpa malu-malu masuk ke dalam hidup Alice dan menjadi bagian dari The Grey House. Kehadiran Clodagh pada awalnya memberikan warna dan kesegaran bagi hidup Alice yang tanpa warna. Anak-anak Alice pun jatuh sayang pada Clodagh yang mahir masak dan selalu menemani mereka sepanjang hari.

Alur cerita novel ini berjalan lambat, sesuai dengan karakter Alice yang lambat dan plegmatis melankolis. Baru pada halaman 100 dari novel setebal 270 halaman, Alice menemukan diri Clodagh yang sesungguhnya. Pada diri Clodagh, Alice menemukan dirinya sendiri yang lama mati suri. Bersama Clodagh pula, Alice menemukan arti kebahagiaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“What Clodagh has given me has enriched me. It hasn’t impoverished anything about me... It’s grown me up. It’s enabled me to love everyone else in my life properly, and as far as I can see only another woman would do for that instructive kind of love because only another woman could see I needed it and could understand about children and self and the permanent balancing act of motherhood and self.” (hal 238)

Novel ini diterbitkan pada tahun 1989, dan bersetting di pedesaan Inggris pada akhir tahun 1970-an hingga 1980-an. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kisah ini sangat “kampung Inggris”. Dan membaca judulnya saja, kita tahu bahwa affair Alice dan Clodagh pada akhirnya tercium dan berada di kampung membuat gosip yang beredar di pedesaan bisa menghancurkan keluarga. Dan pada akhirnya pilihan harus dibuat. Pilihan-pilihan yang jika dibaca dua puluh tahun sejak novel ini pertama kali terbit tampak "sesuai" sebagai keputusan dan pilihan era tahun 1980-an di desa.

Joanna Trollope, sang penulis novel ini, sudah menulis novel selama lebih dari 30 tahun. Berbagai penghargaan dan pujian telah diterimanya. Pada tahun 1996, dia memperoleh penghargaan OBE atas sumbangsihnya pada dunia sastra dari Ratu Ingrgis. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Lahir pada tahun 1943, Joanna Trollope masih menulis hingga sekarang. Dia menikah dua kali dan kini tinggal sendiri di London, dia memiliki dua anak perempuan dan dua anak tiri serta beberapa cucu.

Untuk kesekian kalinya Joanna Trollope menempatkan tokohnya dalam dilema Keinginan diri sendiri versus Tanggung jawab terhadap orang yang disayangi, sebagaimana yang terdapat dalam novel Trollope yang lain, Marrying the Mistress yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan pada akhirnya pilihan yang harus diambil oleh Alice juga dihadapkan pada dilema semacam itu.

Novel ini sudah diangkat ke layar televisi pada tahun 1994. Membandingkan novelnya dengan film, jelas dua hal yang berbeda. Novelnya jauh lebih kaya menampilkan pribadi sosok Alice hingga menjadi dirinya yang lesbian. Filmnya sendiri jauh lebih membosankan dibanding bukunya. Tapi paling tidak dalam novel, Joanna Trollope bisa menunjukkan perubahan karakter dan emosi Alice Jordan dari hanya sekadar ibu rumah tangga lemah hingga menjadi perempuan mandiri dengan segala konsekuensi keputusan yang harus diambilnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe