9:51 PM

Love Song

Posted by Anonymous |

by Ranier Marie Rilke

How can I keep my soul in me, so that it doesn't touch your soul?
How can I raise it high enough, past you, to other things?
I would like to shelter it, among remote lost objects,
in some dark and silent place that doesn't resonate
when your depths resound.

Yet everything that touches us, me and you,
takes us together like a violin's bow,
which draws one voice out of two separate strings.
Upon what instrument are we two spanned?
And what musician holds us in his hand?
Oh sweetest song.


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:55 PM

Menonton Film Dewasa

Posted by Anonymous |

Di antara waktu senggang, saya punya hobi menonton film porno. Hobi ini dimulai sejak zaman video betamax duluuuu. Waktu itu saya mencuri pinjam video-video milik kakak saya, tapi sekarang saya punya koleksi sendiri. Bagi saya film porno alias film adult adalah art tersendiri, bukan sekadar ah-uh-ah-uh terus selesai. Atau yang paling menyebalkan adalah menonton film adult yang dibuat “gampang” dan “asal-asalan” ala home video. Malas deh nonton yang seperti itu. Sejatinya film semacam ini harus diperlakukan sama seperti jenis hiburan lain yang nggak boleh dibuat asal-asalan dan harus digarap dengan serius.

Pernah gara-gara berusaha “insaf” akibat memandang film porno secara salah, saya membagi-bagikan koleksi film adult saya sampai habis. Wah menyesal juga sih sekarang karena saya kehilangan banyak koleksi bagus. Kini saya memulai koleksi baru lagi dan memandang film porno sebagai satu bentuk hiburan digital yang menyenangkan dan harus disikapi secara dewasa.

Awalnya saya memulai koleksi saya dari film erotika klasik seperti Emmanuelle, lalu berlanjut ke film-film Eropa-nya Rocco Sifredi. He's the best, sayangnya dia sering rada rough gitu. Keseriusannya berkarya dalam film adult belum ada tandingannya sampai sekarang, walaupun belakangan ini Rocco lebih banyak bertindak sebagai sutradara. Kemudian saya juga mulai mengumpulkan film-film Asia, tentunya saya juga memiliki koleksi film adult-nya Miyabi alias Maria Ozawa, atau film-film kartun porno Jepang yang some what artistik tapi bukan buat saya.

Berdasarkan kegemaran, saya lebih menyukai film adult buatan Eropa atau Amerika dibanding Asia. Lucunya, saya pernah dikasih beberapa film porno lesbian oleh beberapa teman, tapi saya nggak suka tuh, rasanya nggak wajar aja melihatnya. Hahaha... Beri saya adegan seks yang antara lelaki dan perempuan yang wajar, jangan gory, S/M atau bestiality atau yang aneh-aneh entah apa gitu. Maaf deh nggak selera nontonnya.

Minggu lalu saya baru menambah koleksi adult movie ini dengan Pirates 2 Stagnetti's Revenge yang baru dirilis akhir tahun 2008 lalu. Saya beri film ini nilai 9 untuk keseriusan penggarapannya. Tidak heran karena film ini merupakan film adult yang dibuat dengan budget terbesar sepanjang sejarah film porno. Pirates, yang merupakan pendahulunya juga merupakan film adult dengan budget terbesar pada tahun 2005, yang dibuat dengan biaya satu juta dolar. Film ini lengkap dengan digital special effect yang wow deh! Kalau kamu penyuka Pirates of Carribean dan menyukai film porno, bolehlah mencari film ini. Highly recommended! Dua seri Pirates ini memenangkan banyak AVN Award, penghargaan untuk film-film adult terbaik di Amerika Serikat, yah, semacam Oscar-nya film porno gitu.

Menurut hemat saya, Pirates ini tidak bisa ditonton dalam sekali duduk, karena durasi filmnya yang lebih dari dua jam. Dan tidak seperti kebanyakan film adult yang menampilkan potongan-potongan cerita lepas, Pirates merupakan satu film panjang dengan skenario dan dialog yang penting dalam jalan cerita. Saya jadi ingat film adult buatan Jerman kalau nggak salah tentang Snow White yang juga berdurasi panjang dan lumayan oke juga. Tapi sayangnya ini termasuk salah satu film yang dulu saya bagikan entah ke siapa, jadi tidak bisa saya tonton ulang lagi.

Film adult sesuai namanya adalah tontonan dewasa, yang harus disikapi dengan pikiran dewasa. Nggak cocok ditonton oleh mereka yang kekanak-kanakan atau sok dewasa. Jelas bukan tontonan anak-anak di bawah umur. Dan jangan pula berpikir untuk belajar cara melakukan hubungan seks yang baik dan benar dari film-film ini, mendingan baca majalah Cosmopolitan sana kalau mau belajar trik dan tips seks.

Membeli film semacam ini pun harus punya trik khusus. Harus pede kalau beli ke mas penjual di lapak. Jangan kelihatan bingung atau bertanya, apalagi nanya dengan gugup. Kalau perlu lakukan kontak mata dengan si mas penjual saat membayar. Lihat, pilih, ambil! Buka mata di lapak, kamu pasti tahu mana film adult. Halah lagian harganya murah nggak sampai sepuluh ribu, kalau salah beli, ya sutralah. Belakangan ini juga banyak beredar film-film adult yang dipampatkan dalam satu keping DVD 8in1 atau 7 in1. Saya tidak menyarankan film-film seperti ini, karena kualitasnya biasanya di bawah rata-rata dan juga bukan kumpulan film “the best”, kualitas 3gp gitu deh, hehehe. Tapi bolehlah untuk menambah koleksi.

Jadi kalau ada yang pernah nanya lagi ngapain ke saya, dan saya jawab lagi nonton film adult, bokep atau apalah namanya, saya tidak bercanda. Karena bagi saya menonton film porno adalah hobi serius. Oya, saya tidak meminjamkan koleksi saya, kecuali membaginya dengan pacar :p. Jadi silakan cari sendiri koleksimu....

@Alex, RahasiaBulan, 2009

12:22 AM

Honeymoon, Fifth Anniversary

Posted by Anonymous |

Belanja, cuci mata, jalan-jalan di sepanjang Orchard sehabis berleha-leha di Bali merupakan tujuan kami ke Singapore. Iseng banget gara-gara bebas fiskal buat mereka yang sudah punya NPWP, yah orang bijak kan taat pajak, blablabla. Oya, secara kami juga pemilik kartu Mandiri Prioritas, segala urusan tetek-bengek sebelum keberangkan sudah dibereskan oleh para petugas eksekutif Bank Mandiri di bandara. Jadi enak tinggal duduk saja disuguhi kopi dan teh serta makanan kecil, tahu-tahu udah beres dan kami tinggal naik pesawat. Bank Mandiri oke deh. Ayo nabung yang banyak di Bank Mandiri, biar bisa jadi member Prioritas. (iklan mode on)

Di pesawat saya dan Lakhsmi tidur setengah nyenyak, karena mendadak ngantuk banget. Tadinya mau pura-pura tidur karena ada bapak-bapak bule yang sok akrab ngajak ngobrol melulu, tau-tau kami ketiduran beneran. Kami tiba di Changi menjelang sore dan langsung menuju hotel Four Seasons dengan taksi. Sesampainya di sana, ternyata kamar kami sudah di-upgrade ke premier room tanpa biaya tambahan, itulah gunanya sahabat, hehehe.

Tiba di kamar, kami sudah nyengir mendapati king size bed dan LCD TV entah berapa inci saking gedenya. Seringnya tangan saya otomatis menyalakan TV kalau masuk ke kamar hotel. Kalau tugas ke luar kota sendirian, biasanya saya tidur dengan TV menyala di channel khusus tayangan anak-anak atau fashion TV, biar rasanya nggak sendirian. Tapi kalau acara honeymoon seperti ini sih, saya nggak bakal sempat bermain dengan channel TV.

Sisa-sisa kepenatan hasil liburan di Bali membuat kami ingin beristirahat saja menghabiskan sisa malam. Jadi nggak heran kalau acara pertama kali di hotel adalah mandi. Bareng, tentu saja. Lakhsmi yang habis beli sabun entah apa di Bali lagi keranjingan mandi dan jadilah kami saling menggosok-gosokkan sabun itu tubuh satu sama lain. Gosok punggung jangan lupa, biar kayaknya disayang gitu.... Hihihi, asyik deh pokoknya.

Heran deh, kami seperti tidak pernah bosan ngobrol. Kadang-kadang saya bingung dengan topik-topik yang mendadak muncul seperti buih soda pop tanpa perlu kami cari-cari. Pop pop pop. Saat menjelang tidur, kami berbaring di ranjang yang empuk dan bantal yang kepingin kami curi untuk bawa pulang. Ada aja bahan omongan bagi saya dan Lakhsmi, mulai dari ngomongin orang sampai acara TV yang nggak penting. Kadang ada saat-saat tertentu ketika kami tidak bicara, hanya berpelukan, saling memandang, saling menyentuh, berciuman, bercinta. Duh, nulis gini aja, saya mendadak bisa mencium aroma tubuh Lakhsmi dan membayangkan senyumnya yang nakal.

Kami berdua adalah penggemar bangun siang, tapi penyuka makan. Jadi acara breakfast di hotel termasuk favorit kami. Dan biasanya breakfast kami sering kali mepet dengan waktu batas akhir breakfast. Lha wong, kami biasanya baru turun dari ranjang jam 9 kok, walaupun biasanya kami sudah bangun sejak satu jam sebelumnya. Itulah definisi liburan menurut saya, bisa punya waktu malas-malasan di ranjang berduaan pada pagi hari.

Tidak hanya mandi dan ngobrol dan beradegan ranjang alias tidur, acara makan dan belanja juga jadi acara kami. Ke toko buku merupakan tempat yang wajib kami kunjungi. Tidak boleh tidak. Lumayan, ketemu novel lesbian yang bisa jadi bahan review di sini. Belanja baju dan dompet tidak ketinggalan. Hampir saya beli jam tangan kalau tidak ingat harganya, hehehe. Capek juga jalan kaki sambil cuci mata.

Karena malas keluar kami memutuskan makan malam di resto di hotel. Kami makan di Jiang Nan Chun. Restoran Cina bergaya art deco mewah seperti masuk ke tempat makan raja Cina dulu, yang membuat saya dan Lakhsmi nyengir. Biasanya di Jakarta kami sering makan di restoran Cina bukan berdasarkan tempat yang mewah, tapi dari makanan yang TOP BGT walaupun restonya terkadang "kumuh-kumuh nikmat". Malam itu Lakhsmi memesan Foie gras and apple salad with peking duck. Lakhsmi tergila-gila dengan bebek. Sementara saya memesan lamb chop. Hm, nikmatnya. Chilled mango puddingnya juga nyam-nyam untuk makanan penutup.

Kembali ke kamar berarti kembali lagi dengan kegiatan basah-basah alias mandi. Eh, walaupun sebelumnya kami masih menyempatkan diri untuk posting tulisan di blog sepocikopi, :). Lalu sehabis itu kami berendam berdua dalam busa air hangat yang nikmat. Sambil ngobrol dan menghabiskan wine. Sampai di ranjang buru-buru kami bergelung di bawah selimut, saling berbagi panas tubuh yang mendadak kedinginan. Pelukan, sayang-sayangan, saling membelai. Ih, romantis banget deh pokoknya. Hm, jadi kepingin honeymoon tiap bulan :)

@Alex, RahasiaBulan, 2009

7:58 PM

Lazy, Eh, Busy Sunday

Posted by Anonymous |

Sejak punya anak, saya nggak pernah bisa bangun siang. Bahkan hari Minggu pun genderang perang sudah berbunyi sejak jam delapan pagi, kadang malah lebih pagi lagi. Saya yang hobi berat tidur ini terpaksa harus mencuri-curi waktu tidur di sofa pada sore atau malam hari ketika menemani anak nonton TV. Kadang-kadang saat sedang asyik tidur si bungsu menepuk-nepuk pipi saya dengan penuh semangat menyuruh saya melihat dinosaurus berkejaran. “Tante-tante banguuuunnnn... lihat, lihaaaaat!!!” Oke-oke, Tante udah bangun kok. Grrhhh...

Si sulung sudah ribut sejak hari Sabtu bahwa kami akan bersama-sama membuat donat. Ya, donat. Dari tepung dan segalanya. Nggak, nggak beli di J.Co atau Dunkin Donuts atau Krispy Kreme. Tapi bikin sendiri, saudara-saudara sekalian. Nggak, nggak pake mesin. Pake tenaga tangan. Tenaga siapa lagi? Ya tenaga tante Alex.

Hari Minggu jam sembilan si sulung sudah sibuk. “Tante, ayooooo, sekarang bikin donatnya.” Saya langsung melompat dari sofa. Pura-pura lupa bahwa hari Minggu ini kami sudah janjian bikin donat. “ Hah? Hari ini ya?”

Sulung menampilkan wajah kecewa. “Hihihih, Tante bercanda deh, Sayang. Yuk, siapin bahan-bahannya.”

Tepung terigu. Mentega. Gula. Susu. Telur. Yeast. Air. Apa lagi ya? Kayaknya ada yang lupa. Oh, well, nanti juga inget apa yang kelupaan.

Timbang dulu. Si sulung ribut mau melihat angka di timbangan. Bungsu mengekor mau ikut-ikutan, iseng dia mencelupkan tangannya ke tepung lalu mengibaskannya hingga kena baju dan mukanya juga. Hahaha. Seperti anak abege yang pakai obat jerawat... Aduh.

Campur semua bahan sehabis ditimbang. Mulai menguleni adonan sampai kalis. Anak-anak dengan penuh semangat membantu. Walaupun sebenarnya nggak jadi lebih cepat, malah memperlambat, tapi yang penting kan heboh dan lucu. Berisiknya.... ampun deh.

Setelah entah berapa puluh menit menguleni adonan, akhirnya kalis juga. Yah, udah keburu capek sih, anggap saja sudah kalis, huehehe, maksa banget. Dan dimulailah penantian selama setengah jam menunggu donat mengembang.

Lima menit sekali terdengar pertanyaan.
“Udah belum, Tante?”
“Belum.”
“Udah belum, Tante?”
“Belum.”
“Udah belum, Tante?”
“Ya, ya, ya... oke kita lihat ya.”

Kesibukan sesi dua pun dimulai. Saya suruh si sulung membolongi donat dengan tutup aqua (maklum deh, perlengkapan seadanya, cuma modal resep), si bungsu ikut-ikutan memelintir bola-bola sisa lubang buatan kakaknya. Terus seperti itu sampai semua adonan habis dibuat berbentuk donat dengan lubang di tengah. Sekali si bungsu nekat memasukkan adonan ke mulutnya.... "Ehhhhhhh, stop! Jangan!" Aduh, bikin jantungan aja, nanti kamu mencret, Nak!

Panaskan minyak. Kali ini anak-anak nggak boleh dekat-dekat. Huss... huss... sana. Nanti kalau donatnya udah matang, kalian boleh olesin mentega dan cokelat meises. Horeeee! Udah kebayang kan gimana adegannya? Oh, dan jangan lupa berantakannya. Dan yang terpenting bahagianya.... :)

Jam 11 lewat donat pun sudah bisa dimakan. Argghhh... sebentar lagi waktunya makan siang. Tapi, Tante, boleh kan cicipin satuuuu aja? Ya,ya,ya. Hati saya selalu lembek kalau anak-anak udah memohon begini. Mereka pun melahap donat dengan penuh nafsu sampai mulut dan tangan mereka belepotan.

"Donat buatan Tante emang yang paling enak," kata sulung.
"Iya, enak," timpal si bungsu.

Saya dan Lakhsmi cuma nyengir. Btw, ke mana aja si Lakhsmi sejak tadi ya? Hm, dia memang biasa jadi penonton kalau sudah adegan dapur. Seperti bapak-bapak di hari Minggu yang malas, dia baca koran dan bertolak pinggang memerhatikan kami sambil memberi perintah di sana-sini. Huehehe, kecuali giliran makan, biasanya langsung terlibat. Dan oya, anak-anak sekalian... memang donat buatan Tante is the best. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:37 PM

Dalam Rinai Hujan

Posted by Anonymous |

Pernahkah kamu mendengar suara hujan yang menghantam genteng atau jendela? Sama sekali tidak menyenangkan seperti lagu Rhythm of the Rain. Setiap kali hujan, jantung berdebar lebih cepat kuatir rumah bocor dan banjir.

Semasa kecil saya pikir hujan adalah saat yang menyenangkan. Main hujan-hujanan lalu pulang dan dimarahi Ibu, berada di dalam rumah dan mengamati tetes-tetes air yang jatuh ke aspal, hingga kenangan seru bersama teman-teman SMA bermain basket saat hujan.

Setiap kali hujan turun, saya berusaha mengenang kembali rasa gembira sederhana yang pernah saya rasakan itu. Tapi makin lama rasa itu begitu jauh tak tergapai tersimpan di pojokan ruang kenangan otak saya.

Pada masa dewasa, hujan sering membuat saya sendu. Boncengan motor bersama seseorang yang keras kepala tetap ingin pulang menembus hujan. Air mata yang terhapus hujan ketika kenangan kepedihan menghantam saya begitu deras di sepanjang jalan pulang. Penantian menunggu hujan berhenti sementara hati gelisah tak menentu.

Entahlah.

Tapi beberapa hari terakhir ini, hujan memercikkan rasa gembira yang tidak bisa menghentikan suasana hati saya. Seburuk apa pun mood saya, hujan takkan menghentikan saya pulang. Di bawah payung, dalam siraman air gila-gilaan, berdiri di luar pagar, saya tersenyum ketika melihat anak-anak sudah menanti saya di jendela. Berteriak-teriak penuh semangat. Tertawa girang melihat saya kehujanan. Hati saya pun menghangat. Dan saya temukan lagi kebahagiaan sederhana dalam rinai hujan.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe