
Ikatan Tak Kasatmata antara Anak dan Ayah
Menurut sang pengarang, Alison Bechdel, Fun Home adalah family tragic comic.
Ini merupakan autobiografi Alison Bechdel, kisah hidupnya yang dibuat dalam bentuk grafis alias bergambar alias komik. Seperti Persepolis karya Marjane Satrapi, Alison Bechdel menuang kisah masa kecilnya ke dalam bentuk graphic memoir. Alison Bechdel lahir pada tahun 1960 di Lock Haven, Pennsylvania, dan sejak tahun 1986 sudah membukukan comic strip Dykes To Watch Out For, yang berkisah tentang kehidupan lesbian dan sahabat-sahabat mereka.
Alison lahir dalam keluarga Katolik dan “lurus”, anak pertama dan satu-satunya perempuan dari tiga bersaudara. Ayahnya yang merupakan guru bahasa Inggris dan juga pengurus rumah pemakaman Fun Home alias Funeral Home, begitu istilah keluarga Bechdel. Selain itu, ayahnya juga memiliki hobi merestorasi rumah-rumah bersejarah dan mendekorasi rumah. Di mata Alison kecil, ia dan ayahnya memiliki sifat yang bertolak belakang. Alison bersikap asal-asalan sementara ayahnya menghargai keindahan. Alison lebih bersifat “laki-laki”, sementara ayahnya lebih bersifat “perempuan”.
Bruce Bechdel, demikian nama ayahnya, tewas tertabrak truk ketika sedang menyeberang jalan. Alison menganggap tabrakan itu bukan kecelakaan tetapi upaya bunuh diri sang ayah. Alison tidak tahu alasan pasti mengapa ayahnya bunuh diri, namun dalam buku Fun Home ini, menunjukkan bahwa ayahnya ternyata merupakan homoseksual yang in the closet. Ayahnya bahkan pernah ditangkap polisi karena memberikan minuman keras pada anak laki-laki di bawah umur. Entah itu ada kaitannya atau tidak, tapi Alison menganggap paling tidak itu berperan dalam keputusan ayahnya untuk bunuh diri.
Buat yang pernah membaca Dykes to Watch Out For, mungkin tidak asing lagi dengan gaya gambar Alison Bechdel dalam Fun Home. Gambar hitam-putih yang bisa membuat emosi kita tersentil di sana-sini. Sejak kecil, ternyata Alison sering membuat coretan gambar dan tulisan-tulisan dalam diarinya sejak dia berusia 10 tahun. Dan hasil kumpulan tulisan dan gambar itulah yang dia tuang dalam memoar ini.
Saat Alison mulai kuliah di kota lain, dia coming out kepada orangtuanya bahwa dia lesbian. Coming out itu ternyata mendekatkan hubungan Alison dengan ayahnya melalui buku-buku yang mereka baca bersama sebagai proses pencarian jati diri. Hubungan ayah-anak perempuan digambarkan dengan apik oleh Alison, sejak dari Alison berusia 10 tahun hingga memasuki usia 20 tahunan. Perubahan karakter dan sudut pandang si anak terhadap ayahnya pun berubah seiring waktu. Dan kedekatan antara ayah dan anak jadi makin terhubung tali tak kasatmata saat keduanya sama-sama menyadari bahwa mereka memiliki persamaan. Alison lesbian sementara Bruce, ayahnya, adalah gay.
gambar dari www.powells.com

Akibat hiruk-pikuk Piala Dunia, Wimbledon 2006 yang bersamaan waktunya dengan final Piala Dunia jadi "terpendam" gaungnya. Sebagian orang Prancis mungkin masih bersedih akibat kekalahan Prancis dari Italia dalam final Piala Dunia 2006 di Berlin. Tapi sebagian lagi mungkin sedang merasa bangga karena Amelie Mauresmo berhasil menjadi juara Wimbledon 2006 ini. Mauresmo adalah perempuan Prancis pertama yang berhasil memenangkan Wimbledon sejak tahun 1925. Di final pada hari Sabtu 8-7-2006 ia mengalahkan Justinne Henin-Hardenne dari Belgia dengan angka 2-6, 6-3, 6-4.
Saat ini Amelie Mauresmo merupakan petenis Ranking 1 dunia, dan ini merupakan gelar Wimbledon pertama petenis kelahiran Laye, Prancis, 5 Juli 1979 sejak memasuki tenis profesional tahun 1997.
Pada tahun 1999, Amelie Mauresmo menghebohkan dunia tenis dengan coming out pada Australian Open pada bulan Januar1 1999 saat usianya 19 tahun. Mauresmo yang saat itu berpacaran dengan Sylvie Bourdon menyatakan kesuksesannya berkat cinta dan "penerimaannya" terhadap orientasi seksualnya. Banyak pihak yang menyesalkan keputusannya untuk coming out karena dianggap akan memengaruhi kariernya, sebagaimana yang terjadi pada Martina Navratilova. Dukungan dari publik Prancis, dan sponsor seperti Reebok dan Dunlop tetap mengalir untuknya. Walaupun selentingan kata-kata tidak enak pun sering mampir di telinganya, salah satunya seperti ucapan Martina Hingis yang menyebutnya "setengah laki-laki." Sejak tahun 2002, setelah putus dari Sylvie Bourdon, Mauresmo lebih menjaga privasi dalam hubungannya dengan kekasih barunya.
Sejak coming out, karier Mauresmo memang naik-turun, ketidakstabilan emosi Mauresmo yang masih muda sering dianggap sebagai penyebabnya. Barulah pada tahun 2004 dia menjadi petenis nomor satu dunia, meskipun dia belum pernah menjuarai satu ajang Grand Slam tenis. Grand Slam pertamanya baru diperolehnya tahun 2006, yaitu dengan menjuarai Australian Open 2006 dan kini Wimbledon. Bisa dibilang tahun 2006 merupakan tonggak baru bagi karier Mauresmo yang kini lebih matang dan dewasa.
foto dari http://www.wtnphotos.com
Hah? Yap! Jadi Imagine Me and You ini adalah film komedi romantis (lesbian) yang manis. Jenis film yang membuat penonton pada akhir cerita tersenyum dengan perasaan berbunga-bunga, dan berkata, “Ohhh, manisnya.”
Piper Perabo yang pernah berperan sebagai ABG lesbian dalam Lost and Delirious kali ini berperan sebagai Rachel yang akan menikah dengan Heck (Matthew Goode). Dan saat berjalan menuju altar, tatapannya tertuju pada Luce (Lena Headley), yang bertugas sebagai penata bunga di acara pernikahan. Dan cinta pada pandangan pertama pun bersemi.
Oya, Rachel dan Heck tetap menikah kok, namun Rachel dan Luce dan Heck jadi bersahabat karena tadinya mereka berniat menjodohkan Luce dengan sahabat mereka, namun batal saat tahu Luce lesbian. Dan perasaan Rachel dan Luce kemudian berkembang lebih daripada sekadar sahabat. Walaupun sama-sama memendam perasaan terhadap satu sama lain, namun mereka menahan diri. Apalagi karena Rachel sudah menikah dengan Heck yang superbaik, yah pokoknya tipe lelaki idaman untuk dijadikan suami.
Sayangnya film ini kurang mengeksplorasi perasaan-perasaan tokohnya, mungkin karena sang sutradara takut membuat film ini "terpeleset" jadi film lesbian berat. Saya maklum deh, karena namanya juga film romantis yang manis...
Jadi buat penggemar film komedi romantis ala British, dengan gambar-gambar yang indah (duh, jadi kepingin ke London), dan pemeran utama yang cantik dan tampan, Imagine me and You jelas film yang harus ditonton. Dan seperti film komedi romantis pada umumnya, walaupun klise Imagine me and You memberikan akhir yang bahagia untuk... Rachel dan Luce. Dan pada saat film usai, kita akan berkata... “Ohhh, manisnya.”
gambar dari: www.imdb.com

Setiap kali membuka situs yang mereferensi buku-buku lesbian, buku ini selalu masuk tiga urutan teratas, meskipun The Price of Salt adalah buku yang terbit tahun 1953. Patricia Highsmith menerbitkan buku ini dengan menggunakan nama Claire Morgan. Penerbitnya menolak menerbitkan novel ini karena pemaparannya yang jujur dalam tema homoseksual, sehingga Highsmith terpaksa harus mengganti namanya untuk bisa menerbitkan novel ini. Sebelum The Price of Salt, Highsmith dikenal sebagai novelis thriller, dengan bukunya Strangers on a Train, yang sukses secara komersil dan difilmkan oleh Alfred Hitchcock. Atau banyak orang belakangan ini mungkin lebih mengenalnya sebagai Patricia Highsmith yang menulis The Talented Mr. Ripley, dan sudah difilmkan dengan bintang utama Matt Damon.
Pada masa itu tidak banyak penulis yang berani menulis tema homoseksual. Jika ada, biasanya buku-buku itu bersifat erotika atau tokoh-tokoh dalam novel mengalami nasib tragis atau akhir yang sedih. Dan ini jelas berbeda dengan apa yang dilakukan Highsmith dalam The Price of Salt. Oleh penerbitnya, The Price of Salt dianggap akan mencoreng nama Highsmith dan mencapnya sebagai novelis lesbian. Demikian penjelasan dalam afterword yang ditulis Highsmith dalam edisi revisi terbitan tahun 1984.
The Price of Salt bercerita tentang Therese Belivet, seorang (calon) desainer panggung yang terpaksa harus bekerja sebagai SPG department-store menjelang Natal. Dalam kebosanannya saat bekerja, dia bertemu dengan Carol, seorang ibu rumah tangga yang perkawinannya berada di ambang perceraian, yang hendak membeli boneka untuk putrinya.
Therese dan Carol bertemu pada waktu dan tempat yang tepat, dan keduanya pun jatuh cinta. Seandainya cinta selalu berlangsung mudah, tentu kisah mereka tidak akan jadi cerita. Therese memutuskan untuk ikut bersama Carol dalam petualangan bermobil lintas Amerika. Dalam perjalanan itu kita diajak mengikuti perkembangan hubungan cinta antara dua perempuan ini melalui dialog dan deskripsi yang berlangsung lambat namun mengalir lancar. Namun, tanpa mereka ketahui ternyata perjalanan mereka pun diikuti oleh detektif swasta yang dibayar oleh suami Carol. Hingga akhirnya membuat Carol harus memilih antara kekasih dan putrinya.
Highsmith mengambil sudut pandang Therese dalam The Price of Salt, sehingga pembaca bisa merasakan segala gundah gelisah, kebimbangan, dan naik-turun emosi yang dialami Therese sejak sebelum menyadari orientasi seksualnya dan tak tahu apa yang dia inginkan dalam hidup hingga akhirnya dia menyadari apa yang dia mau dan inginkan dalam hidupnya.
Mungkin karena ditulis pada tahun 1953, dalam The Price of Salt tidak satu kali pun disebut kata "lesbian" untuk menggambarkan hubungan mereka. Dan pembaca bisa mendapat bayangan tentang seperti apa homoseksualitas di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Dan sebagaimana suatu mahakarya, meskipun sudah setengah abad lebih berlalu, The Price of Salt masih relevan untuk kita baca saat ini.
gambar dari: www.amazon.com

Seberapa pentingnya menjadi “normal”?
Mungkin itu pertanyaan penting yang harus kita jawab dalam X-Men: The Last Stand. Bukan rahasia lagi jika dalam X-Men dan X 2 kita bisa menemukan gay/lesbian subtext dalam berbagai dialog dan cerita film itu. Jadi ketika saya membaca tentang telah ditemukannya obat untuk “menyembuhkan” mutan, saya pikir, tunggu dulu... maksudnya apa nih? Jika mutan = homoseksual, dan 2+2=4, Anda tau dong apa maksudnya.
Sebelum saya komplain lebih jauh tentang X-Men: The Last Stand, izinkan saya merefresh ingatan kita. Dalam X-Men dan X 2, kita berkenalan dengan tokoh-tokoh mutan di bawah naungan Charles Xavier (Patrick Steward). Mungkin bukan kebetulan jika dua X-Men pertama bisa lebih bagus karena sutradaranya Bryan Singer. Saya nggak bermaksud apa-apa lho, tp karena Oom Singer ini kabarnya gay, jd dia bisa lbh "nangkep” esensi-superhero-subteks-gay-dlm-komik-dan-film. Sementara dalam X-Men 3 selain kekecewaan karena berkisah tentang adanya obat buat “menyembuhkan” mutan, seakan-akan mrk itu sakit atau apa... *grrrhhh*, karakter-karakter utama seperti seperti Wolverine, Storm, Jean Grey, Cyclops, Magneto, bahkan Prof. Xavier yg karismatik pun terasa cuma “lewat” begitu saja di layar. Belum lagi ditambah
rombongan/pasukan/gerombolan/geng mutan yang entah muncul dari mana. Sehingga penonton jadi dibuat kesal melihat mutan-mutan anarkis itu ibarat melihat nyamuk-nyamuk yang beterbangan di atas got. Bahkan adegan aksinya pun masih lebih seru X-2, oke, oke... memang sih spesial efeknya luar biasa dan adegan memindahkan jembatan Golden Gate itu keren banget, tapi rasanya kok kurang greget karena tidak banyak adegan pertarungan satu lawan satu, seperti ketika Wolverine bertarung melawan Yuriko.
Saya merindukan X-2 dengan dialog-dialog berlumur metafora, seperti ketika Iceman (Shawn Ashmore) “coming out” pada orangtuanya, eh, maksud saya memberitahu orangtuanya tentang ke”mutan”nannya. "Have you tried not being a mutant?", demikian pertanyaan sang ibu kepada Iceman, dan penolakan dari keluarga yang dirasakan oleh sang mutan membuat penonton bisa mengaitkannya dengan homoseksualitas. Betapa orangtua malu jika punya anak mutan, dan dianggap sebagai satu aib.
Bahkan dalam X Men: the Last Stand, Angel alias Warren Worthington III, yang mengetahui dirinya mutan semasa remaja (oya, mutan-mutan itu biasanya mengetahui diri mereka mutan saat memasuki usia puber, mengingatkan kita akan sesuatu, kan? :p) Angel berusaha memotong sayapnya agar bisa tetap “normal”, dan betapa sang ayah kecewa dan sedih melihat putranya ternyata mutan. Dan kekecewaan itulah yang membuat sang ayah, Warren Worthington II, mencari obat penyembuh mutan.
Dalam film ini, homo superior alias mutan dihadapkan pada pilihan. Jika ada obat untuk menyembuhkan mutan, apakah kau akan memilihnya dan berubah jadi “normal”?
Beberapa mutan, antara lain Storm (Halle Berry) atau Mystique (Rebecca Romijn Stamos) menganggap tidak ada yang salah pada mutan, mereka tidak sakit dan mereka tidak perlu obat untuk “sembuh”. Tapi lain halnnya dengan Roque (Anna Paquin), sang penyedot energi, yang selama ini bisa menyentuh kekasihnya, Iceman, tanpa membuat sang kekasih kelojotan hingga nyaris mati. Roque mewakili banyak mutan atau kita sebut saja homoseksual yang ingin “sembuh”, dan ingin bisa jadi bagian manusia
“normal”.
Tapi kekecewaan saya terobati ketika di akhir film, Magneto yang dianggap sudah “diobati” menggerakkan buah catur dengan kekuatan mutannya. Jadi pesan moral film ini adalah, kalian bisa menemukan obatnya, tapi kalau mutan itu bukan penyakit yang harus diobati dan sudah menjadi bagian dari diri kita, mau gimana lagi?
gambar: www.movies.yahoo.com
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai17 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)
