4:30 PM

Lima Lelaki yang Ingin Saya Tiduri

Posted by Anonymous |

Kadang-kadang saya membayangkan laki-laki, huehehehe... nggak lesbi banget ya :). Hmmm... saya masih lesbian kok, tapi berikut ini kandidat seleb lelaki yang ada dalam khayalan saya.

Bon Jovi: Saya selalu cinta Jon Bon Jovi sejak SMP. Titik. Kira-kira sehabis bercinta, apakah dia akan bernyanyi untuk saya, dengan gaya John Mayer dalam videoklip Your Body is a Wonderland... Huehehe... khayal banget deh!!!

Paul Walker: Ah, Paul... bagaimana saya menjelaskannya ya. Saya suka lelaki berpenampilan dekil dengan t-shirt dan jins tapi tetep cool dan keren. Yah, pokoknya penampilan dia di The Fast and the Furious deh... Tapi dia mesti tetap mandi ya... dan pake parfum lelaki gitu. Begitu seksi. Begitu lelaki. Dengan janggut yang belum dicukur sehari. Uh... membayangkan gesekannya sewaktu ciuman, hehehe...

James Bond: Kalau sama lelaki yang ini sih cuma seks doang. Kepingin tau aja seperti apa rasanya sama lelaki yang bisa bikin semua cewek bertekuk lutut di ranjangnya. Oya, note to myself.... harus pakai kondom sama James, dan tetap berdoa semoga saya tidak kena penyakit kelamin.... hahaha.

Tony Leung: Jauh di lubuk hati, saya adalah tipe penyuka cowok Cina model engkoh-engkoh macam Koh Tony. Saya membayangkan adegannya gini. Dia berjalan menyusuri jalan sunyi, kami berpapasan di tikungan, lalu tanpa sengaja tubuh kami bersinggungan. Saya menoleh sekali lagi memandangnya, dia menoleh ke belakang memandang saya. Tapi kami hanya diam, tersenyum pun tidak. Lalu suatu hari saya berpapasan lagi dengannya di dalam lift, karena dia ternyata satu apartemen dengan saya... Saat itu saya menoleh memandangnya, dan berkata, “Dasi kamu bagus.” Dan dia menjawab, “Tas kamu juga bagus.” Dan saat itulah kami menyadari bahwa pasangan kami berselingkuh, dan akhirnya kami pun saling bersandar untuk saling menguatkan. Huaaaaaaaaaaaahhhhahahah... In the Mood for Love banget nggak sih???

Neil Gaiman: Karena tulisannya, karena isi otaknya, karena imajinasinya. Menyentuh sampul buku yang ditulisnya saja bisa membuat saya bergairah, dan ketika selesai membaca bukunya... bisa-bisa saya orgasme, hehehe. Saya membayangkan tidur dengannya dan bisa menyesap, mengintip isi otaknya, melihat bagaimana sel-sel kelabu di sana berkerlip-kerlip ketika ide dan gagasan menulisnya muncul. Dan saat orgasme tiba, untuk sepersekian detik, saya bisa melihat ledakan dahsyat yang berkecamuk membentuk warna-warni magis dalam imajinasinya yang dahsyat itu. Aghhh.... Neil.

Everybody has a secret world inside of them. All of the people of the world, I mean everybody. No matter how dull and boring they are on the outside, inside them they've all got unimaginable, magnificent, wonderful, stupid, amazing worlds. Not just one world. Hundreds of them. Thousands maybe. -The Sandman by Neil Gaiman


@Alex, RahasiaBulan, 2008

9:13 PM

Being a Mother

Posted by Anonymous |

"Iki mos, iki mos...," demikian teriak si kecil ketika kami sedang memilih piama. Dengan keras kepala dia memaksa untuk memakai piama bergambar Miki Mouse yang sudah dipakainya kemarin. Berkali-kali kami menjelaskan padanya bahwa Miki Mouse tidak bisa dipakai karena sedang dicuci, tapi coba beritahukan hal itu pada anak dua tahun yang keras kepala. Jadilah kami harus adu mulut dengannya... hingga akhirnya diiringi jerit tangis dan teriakan memaksa akhirnya si kecil pun manut memakai piama bermotif penguin.

Itulah ritual yang kami lakukan beberapa malam terakhir. Tak pernah terbayang oleh kami bagaimana anak yang dulu kami lihat hanya sebagai bayi merah tak berdaya kini mulai bisa melawan ibunya.

Sehabis berhasil memakaikan piama, si kecil pun menarik tangan saya, mengajak membuat susu. Biasanya kami menggodanya dengan bilang, "Sama mami aja ya bikin susunya..." Tapi si kecil akan menggeleng dan menjawab, "Mau ama tante mami!" Dan kami biasanya akan pura-pura tarik-menarik dengan si kecil sampai dia akhirnya memeluk saya erat-erat tidak mau lepas sebelum dibuatkan susu.

Saat si kecil menyusu dengan lahap, saya dan maminya berusaha mencuri waktu dengan mengobrol selama beberapa menit yang berharga. Bercengkerama dengan manis, yang kadang-kadang dibumbui dengan sentuhan sayang atau ciuman indah. Yang biasanya diakhiri dengan teriakan si sulung yang berteriak minta dibersihkan sehabis pup.

Sebagai lesbian, menjadi ibu dan memiliki anak tak pernah terbayang dalam benak saya. Kini ketika kenyataan menghadapkan saya pada kondisi menjadi ibu kedua. Saya ingat pertama kali di rumah sakit ketika si kecil baru lahir, saya bilang ke maminya, "Aku nggak berani gendong dia ya sampai udah 3 bulan." Sang mami hanya tersenyum penuh arti... dan beberapa jam kemudian ketika si kecil dibawa ke hadapan kami, dia berkata, "Say, coba kamu gendong dia lalu bawa kemari." Tanpa ada keraguan sedikit pun, walaupun dengan canggung, saya menggendongnya dengan tangan gemetar dan perasaan tak terlukiskan. Bagai menggenggam anugerah terindah di tangan saya.

Setelah susu habis diminum, si kecil bergegas menarik tangan saya, meminta diambilkan buku. Sebagaimana persoalan piama, kadang-kadang kami harus saling bersitegang sejenak karena dia mau membaca buku yang sama setiap hari. Maminya membacakan buku buat si sulung, sementara saya membacakan buku buat si kecil... kadang-kadang kami bergantian. Karena saya parah sekali membacakan cerita, biasanya anak-anak minta dibacakan ulang oleh sang mami yang lebih piawai berekspresi. :)

Sehabis membaca buku, ritual malam sebelum tidur itu nyaris berakhir. Anak-anak langsung naik ke ranjang jika waktu sudah larut, atau bermain peluk-pelukan, atau bermain petak umpet sebelum naik ranjang. Setelah itu, kami saling mengucapkan selamat malam, selamat tidur, dan memberikan ciuman bergantian... lalu lampu pun dimatikan. Dan ritual yang terjadi setiap malam pun berakhir.

Serutin dan sesederhana apa pun kegiatan itu, kini saya tidak bisa membayangkan hidup saya tanpa anak-anak.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

12:35 PM

Apa Pun Terjadi, Kujanjikan Aku Ada

Posted by Anonymous |

Sin is for one man to walk brutally over the life of another and to be quite oblivious of the wounds he has left behind.
– (Silence - Shusako Endo)

Untuk pertama kalinya saya merasa berdosa sebagai lesbian. Saat melihat orang yang saya cintai dalam keadaan kalut dan kepayahan, menderita karena cinta kami ternyata membuka pintu menuju satu jalan derita yang tak terbayangkan sebelumnya. Dan parahnya, dalam keadaan seperti itu, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Saya terkesiap, tercengang, dan tersentak.

Saya merasa amat berdosa kepadanya.

Saya bukan perempuan kuat, saya tahu itu. Dialah yang kuat. Dan ketika orang yang kuat menjadi begitu tak berdaya dan kehilangan kontrol, ahhh... rasanya begitu memilukan. Saya ulurkan tangan saya, mencoba menggapainya. Mencoba memberinya kekuatan lebih melalui genggaman tangan kami. Pelukan kami. Belaian di punggung. Atau pijatan di kaki.

Cinta seharusnya tak pernah salah. Tapi kenapa saya merasa bersalah sekarang?

Saya didera perasaan yang membuat saya mual. Perasaan yang membuat saya tidak bisa makan selama berhari-hari. Perasaan yang membuat saya masuk angin. Perasaan tertusuk setiap kali memandang mata orang yang saya cintai dan menemukan kegalauan serta kegelisahan di sana.

Ah, tapi tulisan ini tidak akan jadi tulisan menye-menye yang lembek dan menyebalkan. Saya sudah berjanji untuk jadi orang yang kuat, jadi tempatnya bersandar di saat dia butuh. Be man enough for her.

Mendadak saya teringat pada lagu Hallelujah, yang pernah jadi soundtrack film Shrek. Mulai dari versi Jeff Buckley, Leonard Cohen, Rufus Wainwright, sampai Allison Crowe. Lagu yang bercerita tentang kejatuhan manusia (Raja Daud dan Samson) akibat dosa karena nafsu.

Well I heard there was a secret chord
That David played, and it pleased the Lord
But you don't really care for music, do ya?
Well it goes like this
The fourth, the fifth
The minor fall and the major lift
The baffled king composing Hallelujah
Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah

Well Your faith was strong but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to her kitchen chair
And she broke your throne and she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah
Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah

Well baby I've been here before
I know this room and I've walked this floor
I used to live alone before I knew ya
I've seen your flag on the marble arch
Love is not a victory march
It's a cold and it's a broken Hallelujah
Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah

Well there was a time when you let me know
What's really going on below
But now you never show that to me do you?
And remember when I moved in you?
And the holy dove was moving too
And every breath we drew was Hallelujah
Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah

Well maybe there's a God above
But all I've ever learned from love
Was how to shoot somebody who'd out drew you
And it's not a cry that you hear at night
It's not somebody who's seen the light
It's a cold and it's a broken Hallelujah
Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah

Hallelujah Hallelujah Hallelujah Hallelujah


@Alex, RahasiaBulan, 2008

6:18 PM

The Road Less Traveled

Posted by Anonymous |

Valentine tinggal satu hari, baru tadi malam saya menyadari bahwa saya tidak membeli hadiah apa-apa untuk partner. Tadi malam sebelum tidur, ketika kami bergelung dalam kegelapan, di bawah selimut, dengan jemari bertautan saya berbisik padanya. “Sayang, aduh, aku nggak beliin kamu apa-apa untuk Valentine tahun ini.”

“Hehehe, aku juga belum,” jawab Lakhsmi sambil memperlihatkan senyum andalannya.
“Sayang, kamu mau apa untuk Valentine?”
“Aku mau kebahagiaan.”
“Kamu bahagia nggak sama aku?”
“Bahagia sekali.”
Saya raih Lakhsmi ke dalam pelukan dan mengecup puncak kepalanya.

Apa yang bisa kauminta dan kauberikan pada pasangan yang sudah bersamamu selama empat tahun? Pada orang yang kaulihat setiap hari, sejak bangun tidur hingga matamu terpejam di malam hari. Pada orang yang jadi sahabatmu untuk berdiskusi berbagi cerita tentang kejadian setiap hari yang terkadang begitu konyol dan nggak penting. Pada orang yang sudah kaukenal kebiasaan-kebiasaannya. Pada orang yang jadi tempatmu berbagi mimpi bersama. Pada orang yang jadi teman bercintamu.

Beberapa bulan terakhir adalah masa-masa penuh gejolak dalam hubungan kami. Ibaratnya, hubungan kami kala itu bak air tenang yang menghanyutkan. Dan kami pun hanyut... Kami bukanlah pasangan lesbian ideal dari negeri La-La-Land. Kami manusia biasa yang rentan dengan kesalahan. Beberapa bulan terakhir adalah masa yang berat untuk kami. Kami berjalan ke dua cabang jalan yang berbeda.

Bukan, ini bukan eksperimen atau akibat dari rasa bosan. Ini terjadi karena kami ternyata cuma manusia biasa. Manusia yang lemah dan tak berdaya ketika berhadapan dengan godaan dan sakit hati.

Kami sama-sama berdarah dan terluka. Hati kami tercuri, dan tak pernah sama lagi. Hati kami juga pecah, retak, bahkan sempat hancur berkeping-keping. Kami berdua memungutinya pelan-pelan, saling menjilat luka masing-masing. Membagi bahagia dan nestapa kami kepada satu sama lain.

Saya tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Saya tidak yakin dia takkan tergoda untuk menoleh ke arah lain, demikian pula saya yakin saya akan tergoda menoleh ke arah lain. Tapi yang saya yakini pula, kami akan terus berjalan melintasi pemandangan yang terkadang indah dan terkadang menyedihkan, dengan tangan kami bergenggaman.

Saya menyadari bahwa dia tak tergantikan dalam hidup saya. Bukan karena dia kaya, terkenal, atau cantik... sama sekali bukan itu alasannya. Tapi bersama dia, saya seakan menemukan sebelah sandal yang selama ini saya cari. Dan meminjam istilah sahabat saya, kami seperti panci presto ketemu tutupnya. Kehilangan yang satu berarti membuatnya tak lengkap.

Tanpa melepaskan genggamannya, Lakhsmi tertidur perlahan-lahan di bahu saya. Di ambang sadarnya, saya berbisik. “Sayang, aku hanya mau bahagia sama kamu. Itu saja.”

Happy Valentine, Switipai! :)


Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

--Taken from The Road Not Taken by Robert Frost

@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:15 PM

Film: Jane Austen Book Club - What Would Jane Do?

Posted by Anonymous |

Jane Austen Book Club adalah film yang diangkat dari buku berjudul sama karangan Karen Joy Fowler, yang entah bagaimana tidak pernah bisa tuntas saya baca :p. Namun untuk film ini, buat saya pribadi, Jane Austen Book Club adalah feel good movie untuk perempuan di atas 30 tahun. Film yang ceritanya perempuan banget, dengan beragam masalah perempuan dewasa.

Di film ini kau akan menemukan perempuan berusia 45 tahun masih bisa menemukan cinta dari lelaki lebih muda. Perempuan yang ditinggalkan suaminya setelah 25 tahun pernikahan, namun menemukan blessing in disguise dari perpisahan itu. Perempuan yang tidak pernah menganggap suaminya cukup baik untuknya dan tergoda berselingkuh dengan remaja yang gantengnya bisa bikin orgasme hanya dengan melihatnya. Serta lesbian yang bisa menemukan pacar semudah menjentikkan jari.

Sepanjang karier menulisnya, Jane Austen (1775 – 1817) menerbitkan enam buku. Dan dari ide inilah Bernadette (Kathy Baker) perempuan berusia 60 tahun dengan keceriaan dan jiwa persahabatan yang tinggi memulai kelompok buku Jane Austen. Dia merasa kelompok buku ini akan membantu menghibur Jocelyn (Maria Bello), perempuan kaya, lajang, control freak yang sulit punya hubungan dengan manusia, dan sedang sedih karena baru ditinggal mati anjingnya. Juga menghibur Sylvia (Amy Brenneman) yang baru dicerai suaminya Daniel (Jimmy Smits) karena kepincut wanita lain setelah 25 tahun pernikahan mereka yang bahagia.

Karena ada enam buku, mereka mencari tiga orang lagi untuk menggenapinya. Prudie (Emily Blunt), guru bahasa Prancis di SMA yang tidak bahagia dengan pernikahannya karena dia merasa sang suami tak pernah memahami dirinya. Allegra (Maggie Grace), gadis berusia 20 tahunan, putri Sylvia dan Daniel yang out and proud lesbian. Dan karena masih kurang satu orang, akhirnya mereka mengambil Grigg (Hugh Dancy), satu-satunya lelaki dalam kelompok buku ini, yang tadinya dibawa Jocelyn untuk menghibur Sylvia.


Keenam masing-masing membaca dan mengulas novel-novel Jane Austen dan bertemu beberapa bulan sekali. Mansfield Park, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Bagaimana saat mengulas buku ini satu per satu, tokoh-tokoh dalam film ini memiliki hidup yang berpararel dengan tokoh-tokoh dalam novel-novel Jane Austen. Dan apa yang akan dilakukan Jane bila berada dalam posisi tersebut? Buku yang bagus kadang-kadang bisa mencerahkan pembacanya, dan buku-buku Jane Austen memiliki kekuatan seperti itu. Buat saya, novel-novel Austen bercerita tentang perempuan-perempuan berkarakter, hasrat untuk menemukan cinta, dan happy ending.

Tokoh-tokoh lelaki dalam film ini juga ditampilkan begitu laki-laki. Grigg membuat film ini jadi kelihatan Jane Austen-nya, dengan caranya dia mengingatkan saya pada Mr. Darcy dan Mr. Knightley. Bagaimana dia diam-diam mencintai Jocelyn yang keukeuh menjodohkannya dengan Sylvia. Dan bagaimana Grigg bisa tampil sebagai lelaki (non-gay) yang bisa masuk dalam lingkaran perempuan, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Daniel ditampilkan sebagai lelaki yang sesungguhnya suami dan ayah yang baik, namun 25 tahun adalah waktu yang lama untuk pernikahan.... dan setelah bercerai dengan Sylvia, Daniel justru baru bisa melihat hidup yang selama ini dijalaninya sebagai orang luar.

Aktor-aktornya memiliki chemistry yang pas. Maria Bello adalah alasan saya menonton film ini pada mulanya, namun acungan jempol untuk Emily Blunt atas aktingnya yang tak bercela sebagai Prudie. Adegan ketika dia menghampiri suaminya dan menyuruh suaminya membaca Persuasion setelah nyaris berselingkuh dengan salah satu siswanya yang hot dan menggoda membuat saya berkaca-kaca.

Banyaknya tokoh membuat film ini memberi kesan menggampangkan dalam penyelesaian masalah. Tapi bukan masalah besar juga karena film ini memang dibuat seperti itu. Allegra yang lesbian pun ditampilkan sebagai sosok cantik yang bahagia, dan kemudian sedih karena dikhianati oleh kekasihnya, lalu dengan mudah menemukan pengganti.

Ini bukan film yang akan menghasilkan Oscar atau film yang harus mesti ditonton semua orang. Ini adalah film cewek, yang perlu ditonton di saat yang tepat, sendirian atau berdua dengan kekasihmu, bergelung di sofa ditemani segelas susu hangat, dan ketika film berakhir kau akan tersenyum dan bahagia menjadi perempuan

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe