Dalam kehidupan normal saja, masa remaja adalah masa yang sulit untuk dilalui. Tapi jika sejak remaja kau sudah merasa bahwa kau gay/lesbian/transeksual, masa itu akan berpuluh-puluh kali lipat lebih sulit. Kesendirian dan ketakutan yang dialami remaja homoseksual sering menyebabkan timbulnya depresi yang berlebihan. Kadang-kadang bunuh diri dilakukan untuk mencegah agar orang-orang tidak tahu bahwa dia homoseksual. Selain itu desakan pergaulan atau peer pressure, tekanan orangtua, atau akibat coming out yang terlalu dini di usia muda bisa menyebabkan remaja homoseksual mengambil tindakan nekat.

Dunia remaja tidaklah seindah novel-novel teenlit atau semanis gulali. Banyak dari kita yang sudah melewati masa remaja pasti mengakuinya. Memasuki masa puber dan remaja, biasanya gay/lesbian/transeksual menyadari bahwa diri mereka berbeda dari teman-temannya karena mereka tertarik pada sesama jenis.

Perbedaan bukanlah sesuatu yang disukai oleh remaja, maka bisa kaulihat bagaimana remaja sering bergerombol ke sana kemari demi untuk jadi bagian dari suatu kelompok (dan moga-moga kau bisa masuk kelompok populer). Saat kau berbeda, kau jadi makhluk freak, nerd, atau si homo. Saat kau berbeda, kau akan jadi sasaran bullying mereka yang mayoritas. Belum lagi jika kau berasal dari keluarga yang kurang harmonis, di mana keluarga tidak bisa jadi pilar tempatmu bersandar. Meskipun keluarga harmonis juga tidak menjamin 100% anak tidak melakukan bunuh diri.

Bayangkan betapa takutnya dirimu saat mengetahuinya. Kau tentu tidak mau dipanggil si homo, banci, lesbi, bencong, lines, atau apalah sebutan lainnya selama di sekolah, kan? Atau bahkan kau bisa dipukuli di sekolah setiap hari karena alasan bahwa dirimu “beda”. Rasa takut dan bingung itu membuat banyak remaja seakan-akan merasa berada dalam lubang hitam tergelap dalam hidupnya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Satu kali. Berpikir untuk mengakhiri hidup agar orang tidak perlu tahu bahwa saya lesbian. Dan kini tiap hari saya bersyukur niat itu hanya sebatas niatan dan saya tidak jadi melakukannya. Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan seperti itu.

Bunuh diri sering dianggap sebagai cara mudah untuk menyelesaikan masalah. Apalagi karena remaja berpikir masih dengan amygdala, sehingga segala keputusan biasanya dilakukan atas dasar emosi bukannya nalar. Alexander Stevens, Asst. Professor di Oregon Health and Science University, menjelaskan bahwa otak remaja adalah “pekerjaan yang belum selesai.” Riset terbaru menyatakan jaringan saraf di otak bagian depan yang diperlukan untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan berpikir secara logis dan nalar baru akan selesai terbentuk pada usia 20 tahunan.

Akibatnya remaja sering mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat tanpa dipikirkan akibatnya kemudian. Tapi ini juga yang menyebabkan cinta yang dialami oleh remaja terasa begitu indah karena emosi mereka membanjir mengalir drastis dalam otak mereka.

Oleh karena itu coming out, tidaklah disarankan untuk kaum remaja terutama yang masih berusia di bawah 19 tahun. Cobalah untuk beradaptasi sekarang, kau bisa coming out nanti kalau kau sudah sukses dan berprestasi sehingga debu pun menyingkir saat kau hendak berjalan. Coming out butuh kemandirian diri yang amat sangat besar dan pertimbangan rasional yang dipikirkan secara saksama, bukan dilakukan secara impulsif.

Banyak yang tidak merasa aman untuk “come out” dengan orientasi seksual mereka. Dan sayangnya, mereka benar. Banyak remaja GLBT yang jadi sasaran siksaan fisik dan verbal. Dan bullying terus-menerus ini bisa mendorong bunuh diri. Sumber: http://www.suicide.org/gay-and-lesbian-suicide.html

Proses penerimaan diri seseorang menyadari bahwa mereka gay/lesbian/transeksual adalah proses yang panjang berliku dan menyakitkan. Semakin muda seseorang menyadari orientasi seksualnya, semakin banyak kebingungan dan kesulitan yang mereka hadapi yang bisa mendorong risiko terjadinya pikiran atau tindakan bunuh diri. Biasanya mereka yang bunuh diri adalah mereka yang secara fisik tampak “berbeda”. Transeksual yang tidak tahan harus menjadi orang yang bukan dirinya juga banyak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka. Banyak lesbian/gay yang setelah melewati usia 20 tahun akhirnya memutuskan untuk kompromi, terutama terhadap keluarga dan juga melakukan adaptasi sosial.

Menurut statistik di Amerika Serikat tahun 2001 dari situs http://www.suicide.org/, remaja usia 15-24 meninggal akibat bunuh diri setiap 2 jam 12 menit. Dan kurang-lebih 30%-nya adalah remaja gay/lesbian/transeksual. Menurut data statistik dari http://www.lambda.org/youth_suicide.htm, 35% gay dan 38% lesbian pernah serius berpikir untuk bunuh diri.

Di Indonesia sendiri menurut majalah Tempo dalam terbitan Maret 2007, tidak ada data pasti tentang statistik bunuh diri di Indonesia. Dan sayangnya, di Indonesia kepedulian terhadap tingkat bunuh diri ini sangat rendah. Hampir tidak ada referensi pencegahan bunuh diri atau hotline untuk remaja yang bisa ditemukan untuk menangani hal ini. Padahal support group amat diperlukan dalam hal ini.

Masalah bunuh diri ini bukanlah karena “perbedaan” orientasi seksual, tapi lebih kepada cara memandang hidup. Tidak ada seorang remaja pun, homoseksual atau hetero, yang seharusnya berpikir untuk melakukan bunuh diri. Percayalah suatu hari kau akan menemukan cinta yang kau cari. Ingatlah bahwa kau tidak sendirian. Dirimu terlalu berharga. Bunuh diri bukanlah jawaban. Carilah bantuan.

Klik beberapa situs di bawah ini untuk memulai langkah awal mencari bantuan jika ada teman atau kau sendiri yang punya niatan mengakhiri hidup.
http://www.suicide.org/index.html
http://www.lambda.org/youth_suicide.htm

@Alex, RahasiaBulan, 2007

12:03 AM

The First Year

Posted by Anonymous |

Aku ingat saat pertama kali ibumu memberitahuku bahwa dia hamil. Begitu banyak perasaan yang mengaliriku saat itu. Yeah, mommy-mu yang satu itu selain keras kepala, memang penuh kejutan. Aku ingat malam-malam bergelung di ranjang bersama mommy-mu dengan perutnya yang buncit. Dengan mood swing-nya yang kadang-kadang membuatku berjalan di atas titian bambu :). Oya, Nak, sewaktu mengandungmu, aku sering bilang pada mommy-mu bahwa dia adalah perempuan hamil terseksi. Sungguh, mommy-mu memang luar biasa seksi kala itu.

Aku ingat ketika menemani mommy-mu ke dokter kandungan setiap bulan. Berdua duduk di kursi tunggu mulai dari perut mommy-mu yang masih rata hingga perutnya sebesar pompa air. Aku ingat ketika melihatmu di layar USG mulai dari bintik kecil yang membuatku bertanya pada sang dokter, “Di mana, Dok? Kok nggak keliatan?” Dan si dokter berusaha keras menunjukkannya padaku.

Aku ingat ketika hari kau dilahirkan setahun lalu. Awal-awal bulan yang menghebohkan. Malam-malam zombie, ketika aku dan mommy-mu bergiliran tidur hanya 2 jam untuk meninabobokanmu. Dulu hobiku adalah menidurkanmu sampai-sampai kau hanya bisa ditidurkan dalam buaianku, hingga mommy-mu pernah stres berat dan membuatku tunggang-langgang pulang menjelang tengah malam karena kau muntah dan tidak mau tidur kecuali dalam pelukanku.

Aku ingat ketika kau sakit yang bikin cemas semua orang, apalagi kau menangis tanpa henti dan hanya bisa ditenangkan oleh mommy-mu. Hiks, rasanya ingin ikutan menangis melihatmu kala itu. Namun di saat seperti itu ada momen fun ketika mommy-mu mengajakmu berendam di bathtub untuk menurunkan panasmu. Duh, mommy-mu yang satu itu memang penuh ide.

Nak, kita punya ritual pribadi antara kita berdua yang bahkan membuat mommy-mu terheran-heran. Kita berdua bisa cekikikan saat membuat susu botolmu setiap malam. Atau ketika kita tertawa riang sewaktu bermain balon. Atau acara korek kuping yang membuatmu keenakan hingga liurmu menetes. Semua itu adalah momen berharga yang kubingkai rapi dalam ruang hatiku.

Aku ingat langkah pertamamu yang membuat aku dan mommy-mu menahan napas ketika kau jatuh tersungkur. Mommy-mu meneleponku ketika untuk pertama kalinya kau bisa berjalan. Fiuhhh... betapa serunya menyaksikan kau berjalan mulai dari langkah malu-malu hingga berusaha berlari.

Semalam mommy-mu bilang, “Say, tahun depan kita nggak punya baby lagi.” Yup, mommy-mu betul. Tahun depan kau sudah tidak bisa dibilang bayi lagi. Selamat ulang tahun yang pertama, Nak. Dan seperti yang sering kubisikkan di telingamu tiap malam. “I love you, baby. Very Much.”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

5:52 PM

Film:Tipping the Velvet

Posted by Anonymous |

Tipping The Velvet adalah film tahun 2002 yang diangkat dari novel karya Sarah Waters. Berhubung saya tidak membaca novelnya, maka saya tidak akan membahasnya di sini. Film ini bersetting abad 19, ketika perempuan masih pakai rok mengembang ala sarang burung. Tokoh utamanya bernama Nan Astley (Rachael Stirling), seorang gadis muda yang tinggal di kota kecil pinggir laut penghasil kerang.

Kali pertama dia bertemu Kitty (Keeley Hawes), penyanyi terkenal yang berpakaian laki-laki saat manggung, Nan langsung jatuh cinta. Saking cintanya Kitty kemudian mengikuti Nan hingga ke London dan menjadi bintang musik populer di panggung. Namun hubungan asmara mereka hancur ketika Kitty memutuskan untuk memilih hidup “aman” bersama Walter, manajer musik mereka.

Akibat pengkhianatan Kitty, Nan terpaksa hidup di jalanan dengan menjadi pelacur. Dan saat itulah, dia bertemu janda kaya bernama Diana. Nan menjadi simpanan dan budak nafsu Diana hingga suatu hari dia tidak tahan lagi dan melarikan diri.

Cerita tidak selesai sampai di sini. Seperti biasa, film-film BBC yang diangkat dari novel Sarah Waters berdurasi hampir 3 jam dan dibagi dalam 3 bagian, karena di Inggris sana film ini memang miniseri. Pada akhirnya, setelah melewati jalan berliku, Nan menemukan kebahagiaan dalam cinta yang dicarinya.

Film ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang menyukai film Fingersmith yang juga diangkat dari novel Sarah Waters. Cocok untuk mereka yang menyukai historical romance. Saya sendiri bukan fans historical romance, tapi saya amat terhibur menyaksikan film ini.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

10:11 AM

Cinta Seharusnya Tidak Membuatmu Menangis

Posted by Anonymous |

KDRT biasanya identik dengan kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri, lelaki terhadap perempuan. Padahal bisa saja kekerasan dilakukan perempuan terhadap lelaki, atau lelaki dengan lelaki, atau perempuan terhadap perempuan. Tidak semua kekerasan sifatnya secara fisik, ada yang namanya kekerasan secara mental. Kekerasan mental atau kadang-kadang dalam versi berbeda bisa disebut emotional blackmail inilah yang sering terjadi dalam hubungan cinta. Tidak hanya dalam hubungan antara lelaki-perempuan, hubungan lesbian pun tidak lepas dari kekerasan ini.

Pernahkah dalam suatu hubungan awalnya kau merasa dipuja bak putri lalu kau merasa terjebak dalam hubungan yang makin lama makin tidak sehat? Itulah salah satu petunjuk awal emotional blackmail. Sang pelaku pemeras emosi ini akan melakukan segala cara untuk mempertahankan sang korban agar tidak meninggalkannya. Pola-pola pelaku ada berbagai macam.Berikut ini adalah ilustrasi kata-kata yang digunakan para pelaku emotional blackmail yang pernah menimpa saya dan seorang sahabat saya yang hetero. Mungkin pelaku yang lain tidak menggunakan kata-kata yang sama, namun intinya biasanya kurang-lebih sama.

Pernahkah pasangan Anda mengatakan hal-hal seperti, “Tidak ada yang mencintaimu sebesar cintaku padamu.” (Kata-kata ini awalnya membuat yang mendengar merasa pasangannya romantis, tapi kemudian berlanjut ke sikap posesif berlebihan yang mengharuskanmu berbakti pada pasanganmu dan melaporkan keberadaanmu padanya sepanjang waktu).

“Aku bisa mati kalau kita berpisah.” (Dan dilanjutkan dengan ancaman bunuh diri, mulai dari minum racun atau mengiris nadinya di hadapanmu, hendak menabrakkan mobilnya, atau terjun dari gedung, atau tingkah-tingkah lainnya yang membuat kita ketakutan).

“Aku sudah melakukan segalanya untukmu, tapi kamu begitu egoisnya dan tidak peduli pada segala pengorbananku.” (Ini akan membuat si korban merasa tidak enak hati dan akhirnya terus mempertahankan hubungan karena tidak mau dianggap sebagai sosok egois).

Ada juga pelaku yang menggunakan guilty trap alias jebakan rasa bersalah dengan menjadikan diri mereka sebagai sosok korban. Misalnya dengan menjadi sosok tidak bahagia di rumah dengan orangtua yg tidak pernah menyayanginya. Mengaku sakit dan umurnya tidak lama lagi. Membuat hidupnya seolah-olah selalu berada dalam titik terendah, sehingga mau tidak mau kamu tidak tega meninggalkannya. Kata-kata yang mungkin digunakan si pelaku antara lain: “Aku benci orangtuaku karena mereka tidak peduli padaku.” Atau “Kamu tega ninggalin aku di saat sekarang aku lagi banyak masalah?” atau “Aku sudah menyerahkan keperawananku padamu, sekarang habis manis sepah dibuang?” Atau pelaku membuatmu merasa bersalah tidak mengirim SMS tentang keberadaanmu, atau membuatmu bersalah dengan keseringan mengirim SMS. Itu tadi hanya contoh singkat, masih banyak contoh jebakan rasa bersalah yang bisa dibuat pemeras terhadap diri korbannya.

Biasanya si pelaku ini memiliki topeng sosial yang amat baik. Sukses secara karier, pintar, berperilaku sempurna dan tanpa cacat di hadapan orang banyak. Hebatnya dalam beberapa kasus yang saya temui, pelaku biasanya bisa lolos psikotes perusahaan besar dengan lancar. Kenapa? Karena pelaku ini biasanya adalah seorang achiever, dia adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya. Perusahaan besar biasanya suka tipe achiever seperti ini. Karena sosok sempurna itulah, saat hubungan putus kaulah yang akan disalahkan dalam putusnya hubungan. Dianggap perempuan tak tahu diuntung, bisa-bisanya melepaskan orang yang begitu sempurna. Oya, pelaku kekerasan ini biasanya tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarganya. Ini bisa kita ketahui dari cerita yang terlontar dari mulut pelaku sendiri.

Pada awal hubungan, sikapnya luar biasa baik/romantis sehingga kau dibutakan oleh segala manis gulali itu. Namun jika kau sudah pernah lepas dari hubungan tidak sehat semacam itu, kau pasti akan tahu bahwa instingmu dulu pernah memperingatkanmu. Dalam beberapa kasus mereka melakukan sejumlah tindakan drastis untuk membuktikan pengorbanan cintanya. Contohnya, si pelaku rela berhenti kerja agar bisa selalu dekat dengan korban. Atau memutuskan menolak beasiswa sekolah di luar negeri demi sang kekasih (Ini akan membuat korban merasa bersalah).

Si pelaku mencari cara untuk bisa terus berdekatan dengan korban, mungkin dengan pindah tempat tinggal atau bekerja di tempat yang dekat dengan korban. (Ini akan membuat pelaku bisa mengawasi korban sepanjang waktu). Biasanya pelaku akan memutus lingkup persahabatan si korban dengan memasang tembok tak kasatmata di sekeliling korban dan perlahan-lahan korban tidak punya teman lagi, selain teman-teman yang sudah di-approve oleh pelaku.

Si pelaku awalnya memanfaatkan rasa empati dan rasa iba kita melalui jebakan rasa bersalah saat si pelaku menempatkan diri sebagai korban. Jika dia tidak bisa lagi “memegang” si korban dengan cara halus, pelaku mulai menggunakan ancaman untuk mempertahankan si korban. Mulai dari ancaman menyakiti diri sendiri sampai ancaman teror kepada pasangannya. Dan mulailah babak baru kekerasan dalam hubungan yang mungkin menjurus pada kekerasan fisik.

Untungnya, saya dan sahabat saya akhirnya berhasil keluar juga dari hubungan yang tidak sehat itu walaupun hati kami hancur lebur biru lebam dikoyak cinta yang menyakitkan. Kami saling curhat dan berkata, "We've been to hell and back." Berhubung kami pecinta buku, salah satu kesamaan kami adalah menyadarkan diri kami melalui literatur. Mata kami jadi lebih terbuka karena kami membaca sosok-sosok korban lain dalam buku yang kami baca. Saya tersadar ketika membaca Rosemadder karya Stephen King. Sahabat saya tersadar ketika membaca Love Me Better karya Rosalind B. Penfold, dan kami mulai saling sharing sehabis membaca The Guardian - Nicholas Sparks.

Jika kau sekarang merasa menjadi korban, segeralah keluar dari hubungan yang tidak sehat itu. Keluarlah selagi bisa, cari dukungan dari teman-teman dekatmu atau orangtuamu. Percayalah, masih ada orang di luar sana yg layak mendapatkan cintamu. Dan percayalah bahwa dirimu begitu berharga untuk dicintai secara sehat. Jangan bersikap sok heroik dengan berusaha menolong si pelaku dari derita, segala yang terjadi pada si pelaku itu bukan salahmu. Ingatlah, ada batas antara romantisme yang sehat dan romantisme yang membabibuta. Cinta seharusnya membebaskan dan membuatmu tersenyum bukan membuatmu terperangkap dan menangis.

@Alex,RahasiaBulan, 2007

10:57 AM

To Out or Not To Out II

Posted by Anonymous |

Gara-gara tulisan saya To Out or Not to Out, saya ditanya beberapa orang; apakah Anda menganjurkan para gay/lesbian untuk coming out? Sama sekali TIDAK. Saya tidak menganjurkan coming out secara membabibuta pada semua orang, hingga membuatmu tidak punya identitas lain selain si Polan yang lesbian. Keputusan untuk coming out harus dilakukan dengan pemikiran matang dan masak. Kenapa? Sekali kau coming out, kau memasuki jalan yang tak ada titik balik. Kau tidak bisa meng-undo-nya. Bahkan sampai sekarang pun saya harus menghadapi konsekuensi coming out saya setiap hari di kantor, tempat saya menghabiskan setengah dari 24 jam saya setiap hari.

Kebanyakan sahabat saya tahu bahwa saya lesbian. Namun saya tidak pernah coming out pada orangtua atau keluarga besar saya. Dan tidak ada niat sedikit pun untuk melakukannya. Ibu saya sudah berumur 74 tahun, pernah menderita kanker dan katarak, dan saya tidak akan membuatnya tewas akibat sakit jantung dengan coming out pada beliau. Jangan salah, kami punya hubungan yang sangat dekat dan bisa saling bercerita, tapi saya merasa beliau tidak perlu mengetahui siapa diri saya sebenarnya. Saya yakin ibu saya akan menerima saya apa adanya jika saya coming out. Orang-orang yang kenal dengan ibu saya pasti akan bilang begitu. Tapi saya tahu pengakuan saya pasti akan membuatnya sedih dan gagal sebagai ibu. Dan saya tidak mau menjadi anak durhaka dengan membuatnya merasa jadi orang gagal. Bullshit dengan segala cerita bahwa kita tidak ingin orangtua kita meninggal tanpa tahu tentang diri kita yang sebenarnya, seperti yang sering kita lihat di film.

Saya juga tidak terpikir untuk coming out kepada keponakan-keponakan saya yang hampir semuanya sudah dewasa, meskipun saya dan mereka bersahabat layaknya orang yang seumur karena perbedaan umur kami yang tidak jauh. Buat apa? Supaya tante mereka kelihatan cool, karena lesbian jadi tren masa kini? Atau biar rasanya gimana gitu punya tante lesbi? Atau malah membuat mereka shock dan sedih? Nggak perlulah semua pengumuman itu.

Coming out saya hanya sebatas pergaulan dengan sahabat-sahabat hetero saya baik teman SMA, kuliah, bahkan sampai di tempat kerja. Kenapa saya melakukannya, bisa dibaca pada tulisan sebelum ini. Di tempat kerja, saya termasuk beruntung bisa bekerja di lingkungan yang amat terbuka dan menerima “perbedaan” serta keunikan masing-masing pribadi.

Butuh waktu belasan tahun bagi saya untuk coming out pada sahabat-sahabat karib saya yang sudah mengenal saya sejak di sekolah. Butuh 4-5 tahun bagi saya untuk akhirnya coming out di kantor, meskipun tidak semua orang tahu, dan sebagian besar hanya gosip dan desas-desus dan saya juga tidak punya waktu untuk menanggapi dan bilang pada semua orang, "Yes, I am a lesbian." Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menancapkan karier dan posisi saya dengan baik lebih dulu sebelum coming out karena saya tidak mau dikenal sebagai Alex yang lesbian. Saya tidak mau menjadikan lesbian sebagai status saya apalagi menempelkannya sebagai status pekerjaan.

Saya coming out di kantor setelah menimbang baik-buruknya. Bagaimana orientasi seksual saya akan memengaruhi identitas profesi saya. Bagaimana hal itu kadang-kadang jadi batu sandungan atau lebih seringnya jadi batu lompatan. Bagaimana kadang-kadang saya terbantukan karena punya jejaring persahabatan lesbian/gay yang bisa saya ajak kerja sama dalam bentuk simbiosis mutualisma dengan profesi dan perusahaan saya bekerja. Jika tidak, buat apa saya melakukannya? Memangnya saya sudah gila? Jika saya lihat kondisi perusahaan tempat saya bekerja tidak kondusif untuk pengakuan saya, tentu saya tidak akan melakukannya. Tapi tentu saya tidak akan petentengan ke sana kemari dengan mengaku lesbian di mana-mana atau bahkan masuk televisi, misalnya. Saya juga harus menjaga nama baik perusahaan tempat saya bekerja. Tidak mungkin dong jika habis coming out di media massa, besoknya saya menerima teror atau semacamnya hingga membuat satpam kantor ikut kelabakan atas aksi konyol saya seperti itu.

Coming out punya dua sisi. Kau bisa mendapat kelegaan luar biasa, atau kau bisa kehilangan banyak. Saya tidak keberatan mendapat banyak cemooh atau sindiran dari kolega bisnis atau rekan kerja atau sahabat-sahabat dekat akibat orientasi seksual saya. Saya tidak keberatan kehilangan beberapa teman yang menjauhi saya saat mereka tahu saya lesbian. Tapi saya tidak bisa jika saya harus kehilangan keluarga atau mendapat cemooh dari keluarga. Buat saya teman baru bisa dicari lagi, tapi keluarga adalah sesuatu yang tak tergantikan.


You can't undo something that's happened; you can't take back a word that's already been said out loud. ---Nineteen Minutes by Jodi Picoult


@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe