*spoiler alert*


Sekali lagi saya ingin mereview film secara 2in1, secara dua film ini serupa tapi tak sama. Common Ground adalah film televisi tahun 2000 hasil produksi Showtime yang berisi tiga cerita pendek kehidupan gay di kota kecil (fiktif) bernama Homer di Connecticut. Film ini disutradarai oleh Donna Deitch, yang pernah menyutradari film lesbian, Dessert Hearts. Masing-masing skenario dalam tiga cerita di film ini ditulis oleh Paula Vogel, Terrence McNally,dan Harvey Fierstein. Dalam Common Ground kita bisa melihat bagaimana mereka yang hidup dan tinggal di Homer melalui sudut pandang Johnny Burroughs (Eric Stoltz) menyaksikan perubahan sosial hingga akhirnya mereka “menerima” kaum homoseksual di kota itu.

Segmen pertama film ini berlangsung tahun 1954, ketika Dorothy Nelson (Brittany Murphy) pulang ke Homer, Connecticut, setelah dipecat secara tidak hormat dari US Navy gara-gara kedapatan berada di bar khusus homoseksual. Ketika penduduk kota tahu Dorothy dipecat dari ketentaraan karena lesbian, bahkan ibunya pun mengusirnya dari rumah. Akhirnya Dorothy menyadari bahwa Homer mungkin belum bisa menerima kehadiran homoseksual. Dan tidak ada jalan lain bagi Dorothy kecuali pergi dari kampung halamannya.

Segmen kedua bersetting tahun 1974, tentang penganiayaan yang dialami siswa SMA bernama Tobias (Jonathan Taylor Thomas) karena ketahuan gay. Dan bagaimana guru bahasa Prancisnya, Gil Roberts (Steven Weber) yang juga gay, membela Tobias. Gil terpaksa coming out ketika Tobias dihajar sampai luka parah dan Tobias akhirnya memilih meninggalkan Homer untuk melanjutkan kuliahnya.

Segmen terakhir berlangsung pada tahun 2000. Berkisah tentang Amos (James LeGros) yang gugup menjelang pernikahannya dengan Andy. Pernikahan itu sendiri diwarnai dengan demonstrasi oleh penduduk Homer yang menentang pernikahan sesama jenis. Percakapan Amos dan Ira (Ed Asner), ayahnya, mengangkat berbagai isu homoseksual menjadi penutup dan klimaks dari perjuangan homoseksual di Homer sejak lebih dari setengah abad lalu.

Jika Common Ground berfokus pada kisah gay, If These Walls Could Talk 2 yang diproduksi HBO juga dalam tahun yang sama, berfokus pada kehidupan lesbian. Selain itu masing-masing segmen cerita dalam If These Walls Could Talk 2 disutradari oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya perempuan.
Benang merah yang menghubungkan ketiga cerita yang berlangsung selama hampir setengah abad adalah rumah yang sama yang jadi setting tempat cerita ini.

Pada tahun 1961, rumah itu dihuni pasangan lesbian manula bernama Edith (Vanessa Redgrave) dan Abby (Marian Seldes). Ketika Abby meninggal dunia, keluarga Abby yang tidak memahami hubungan Abby dan Edith malah berencana menjual rumah tempat tinggal pasangan itu. Edith yang tak berdaya hanya bisa pasrah karena rumah itu memang terdaftar atas nama Abby dan tidak ada ikatan legal antara mereka meskipun mereka sudah berpasangan selama puluhan tahun.
(Saya angkat topik pada akting Vanessa Redgrave dalam segmen ini.--red)

Pada tahun 1972, rumah itu jadi tempat tinggal anak kuliahan, Michelle (Amy Carlson), Linda (Michelle Williams) Karen (Nia Long), and Jeanne (Natasha Lyonne). Empat perempuan itu kebetulan feminis lesbian yang aktif dalam gerakan di kampus. Masalah muncul ketika Linda jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny), butch yang menjurus ke transeksual. Bagi sahabat-sahabatnya, Amy adalah sosok yang tidak sesuai bagi perjuangan feminis/lesbian yang mereka perjuangkan selama ini, karena Amy dianggap sosok yang tidak perempuan dan juga tidak laki-laki.

Pada tahun 2000, Fran (Sharon Stone) and Kal (Ellen DeGeneres), pasangan yang sudah hidup bersama selama beberapa tahun di rumah itu memutuskan untuk memiliki anak untuk melengkapi ikatan mereka. Berbagai cara mereka diskusikan agar mereka bisa punya anak, mulai dari adopsi, bank sperma, hingga meminta sperma pada sahabat gay mereka.

Dalam ketiga cerita di dua film di atas kita bisa melihat bagaimana masa berganti dan masyarakat mengalami perubahan cara pandang atau bahkan ada yang masih tidak berubah sejak setengah abad lalu. Common Ground dan If These Walls Could Talk 2 mengajak kita kembali ke belakang, merefleksikan kembali perjuangan yang mungkin terlupakan saat hidup sudah lebih nyaman sekarang dengan melihat kehidupan yang dialami oleh pendahulu kita. Dua film ini lumayan jadi tontonan yang mengisi otak bersama pasangan kita pada akhir pekan. Dijamin habis nonton pasti kita bisa debat sama pasangan nonton kita tentang segmen-segmen dalam kedua film itu.

gambar: www.amazon.com
@Alex, RahasiaBulan, 2007

0 comments:

Subscribe