8:06 PM

Saya dan Kopi

Posted by Anonymous |

Belakangan ini yang namanya warung kopi modern pasti bisa ditemukan di setiap mal yang ada di kota besar Indonesia. Kopi bukan lagi jadi minuman warung, sebagaimana bisa ada istilah warung kopi. Ah, tapi saya mesih suka menggunakan istilah warung walaupun lokasinya berada di mal atau di kedai-kedai tepi jalan yang populer.

Saya tidak bisa berbagi kenikmatan minum kopi ini dengan Lakhsmi, karena dia bukan peminum kopi. Baginya kopi adalah minuman penyiksa lidah yang cuma memberi rasa pahit. Minuman yang dipilihnya di warung kopi modern pun kopi “rasa banci” demikian saya menyebutnya. Yang isinya lebih banyak krim atau susunya dibanding kopi. Lakhsmi lebih suka menikmati yogurt ala Sour Sally sementara saya pasti meleletkan lidah jika mesti makan yogurt... nggak macho deh makan yogurt stroberi dengan buah kiwi dan mochi di atasnya. Halah :)

Entah siapa penemu minuman ini, yang pasti saya berterima kasih padanya karena telah membuat manusia mencicipi kenikmatan rutin kedua setelah seks. :p Nggak bahas seks ya kali ini... kembali ke kopi.

Partner biasanya tahu kebiasaan saya ini. Sori, nggak bisa diajak ngomong beneran. Kepala pusing. Ngantuk berat. Semuanya menjadi alasan kalau kerongkongan saya belum dialiri kopi seharian. Kecuali diganti dengan kegiatan seks gila-gilaan sehingga saya lupa ngopi, lain daripada itu tak ada alasan yang cukup kuat untuk membuat saya tidak ngopi sehari.

Di kota mana pun saya berada, jika saya harus menginap di sana, kopi menjadi minuman yang harus dicicipi. Pendiri Starbucks pasti merasakan sensasi kopi yang menggetarkan saat dia menikmati espresso di kedai kopi di Italia sehingga memutuskan “memindahkan” kedai kopi itu ke Amerika.

Selain itu mulai dari kopi instan, kopi tubruk, hingga kopi racikan kedai mewah yang harganya bisa bisa membeli berenceng-renceng kopi Kapal Api semuanya memberi tujuan yang sama. Afrodisiak... Maksudnya, efek perangsang otak bukan pembangkit "gairah". Sel-sel kelabu di otak saya bergerak selambat sperma yang berenang menuju sel telur jika belum kena kopi.

Saya tidak pernah bermasalah dengan partner yang tidak paham dengan “apa sih enaknya kopi?” Menurut saya, menikmati kopi adalah kenikmatan yang sifatnya masturbasi, karena bagaimanapun kamu menikmatinya sendirian. Nggak perlu sampe berantem kok kalo pasangan nggak suka kopi. Tapi yang terpenting adalah, “I like my woman, how I like my coffee... hot and gotta have it everyday.”

@Alex, SepociKopi, 2009

7 comments:

Lakhsmi said...

Menemanimu mendapatkan suntikan kafein seperti menemaniku mendapatkan sebotol yogurt atau semangkuk pinklicious Sour Sally.

Yummy... :*

Anonymous said...

I love this Turkish proverb about coffee:
Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love... (nemu di Bakoel Koffie)

Chiaki Kanagaki said...

Alex dan kopi sepertiny ga akan tpisahkan,sama seperti kebersamaan alex dan lakhsmi..he2x
^-^

miCHA said...

same as me,
ga bisa idup kal0 ga num k0pi..
l0ve this bl0g !

cross independent said...

ak seorg perokok berat, gak lengkap bila rokok ini tak berteman,..
serasa makan nasi goreng panas, pedes, tanpa ada minuman sama sekali,..sangat kering dikerongkongan ini...
kerja tanpa kopi+rokok seakan mati semua ide2 untuk berimajinasi...

chubby-gal said...

pasti sudah merasakan kopi aceh yang mantep, maklum ga terlalu pencinta kopi tapi doyan from time to time aja, part timer coffee lover hehehe..

mellyalfina said...

saya candu kopi, tp hrs yg kental.. lex coba kopi sidikalang deh.... muantep tau...

Subscribe