12:30 AM

5 Cewek Bond Favorit

Posted by alex |

Kemarin malam nonton James Bond: The World is Not Enough gabung dengan The Lord of the Ring. Malam ini nonton James Bond: Octopussy bareng Harry Potter and the Sorcerer Stone. Iseng mode on tanpa kekasih tersayang, hhh... Babe, happy holiday ya, have fun. Aku mau bikin daftar cewek Bond aja daripada iseng nggak jelas. :)

Franchise James Bond 007 adalah favorit saya, walaupun tidak semua filmnya menjadi favorit saya. Bersama Tante, sejak kelas 2 SD saya sudah ke bioskop dan menonton semua film James Bond di layar lebar. Sisanya, film-film lama Bond mulai dari Dr. No produksi tahun 1962, saya tonton di TV melalui video dan DVD. Tante saya jatuh cinta pada Sean Connery, tapi saya kepingin jadi Bond, James Bond dengan cewek-ceweknya itu lho. Hihihi. Plus mobil Aston Martin-nya.

Saya nggak mau bahas soal siapa James Bond terkeren, well, oke. Kalau saya mengurutkannya: Sean Connery, Daniel Craig, Pierce Brosnan, Roger Moore, George Lazenby, dan Timothy Dalton.

Berikut ini daftar yang lebih penting dibanding siapa James Bond terkeren, yaitu daftar cewek Bond terseksi favorit saya. Buat saya, selain seksi, cewek Bond harus cantik, cerdas, tangguh, dan "berisi".
Diana Rigg - Tracy Bond (On Her Majesty Secret's Service, 1969)
Di antara begitu banyak cewek Bond, Tracy adalah satu-satunya yang menjadi istri James Bond. Melihat Tracy, kita bisa memahami bagaimana Bond memang menggemari cewek-cewek “bermasalah” yang cantik, pintar, dan dingin-dingin nyam-nyam. Saya sudah jatuh cinta pada Diana Rigg ketika dia berperan sebagai Emma Peel dalam serial TV The Avengers, dia membuat pakaian kulit jadi begitu sexyyyyy...

Honor Blackman - Pussy Galore (Goldfinger, 1964)
Entah karena namanya yang terkesan gimana gitu, Pussy Galore adalah salah satu cewek Bond yang mantap dan tak terlupakan. Dia membuat Bond bertekuk lutut sedemikian rupa, atau Bond yang membuatnya bertekuk lutut? Hm... pokoknya lutut mereka berdua tertekuk saat mereka saling merayu. Oya, dalam novelnya Pussy Galore konon lesbian yang kemudian “jadi straight” setelah jatuh cinta pada James Bond. Hahaha, ada-ada aja. :p

Famke Jansenn – Xenia Onatopp (Golden Eye, 1995)
Xenia Onatopp muncul dalam Bond pertama yang diperankan Pierce Brosnan, pada tahun 1995. Dia sebenarnya cewek penjahat dalam Bond, tapi karakternya membuat saya lupa siapa yang jadi cewek Bond satu lagi dalam film Golden Eye ini. Dia punya jurus mematahkan leher lawan dengan jepitan kepitingnya, yang bisa sekalian bikin Onatopp orgasme saat membunuh lawannya. Keren bo!

Eva Green – Vesper Lynd (Casino Royale, 2006)
Bermasalah, cantik, pintar, dan dingin. Well, duuuh, sudah pasti bikin James Bond klepek-klepek.Vesper adalah cinta pertama Bond. Dan mendalami karakter Bond melalui Vesper, kita bisa melihat James Bond sebagai lelaki yang terluka karena cinta yang traumatik sehingga setelah itu dia tidak mau membuka hati seluruhnya... yeah, yeah pembenaran buat lelaki buaya, maksudnya.

Ursulla Andress - Honey Ryder (Dr. No, 1962)
Tempat terhormat ini layak diberikan untuk Honey Ryder. Ursulla Andress adalah cewek Bond pertama pada tahun 1962 dalam Dr. No. Adegan ketika Honey muncul dari laut dengan bikini putih nan seksi itu merupakan adegan klasik yang tak terlupakan. Adegan tersebut berusaha dihidupkan lagi oleh Halle “Jinx” Berry dengan bikini oranye dan pisau di pinggang dalam Die Another Day. Ah, tapi kenapa saya terus membayangkan Ursulla Andress ya pas adegan itu? Well, yang pasti waktu pertama kali saya nonton Dr. No, saya ternganga saat menyaksikan adegan Honey dan bikininya. :p

Selain daftar Cewek Bond terfavorit, ada juga cewek-cewek Bond yang nggak layak banget. Yang bikin ill-feel nonton James Bond. Di antaranya adalah:

  • Carey Lowell sebagai Pam Bouvier dalam License to Kill. Mantan istri Richard Gere ini membuat saya nggak bersemangat nonton cewek Bond. Dia membuat film ini jadi seperti film serial TV.

  • Tanya Roberts sebagai Stacey Sutton dalam A View to A Kill. Mbak Tanya ini sebenarnya cantik, tapi tampak "kosong". Saya sih lebih memilih nonton film Mbak Tanya yang lain, yaitu Night Eyes yang agak-agak semiporn gitu deh, bener deh kalo film yang ini saya bisa nonton berkali-kali, hehehe.

  • Maud Adams sebagai Octopussy dalam Octopussy. Pas nulis ini, pas lagi nonton Octopussy. Maud Adams lebih mirip kepala sekolah galak dan judes dibanding cewek Bond. Malas banget deh, mending pindah channel ke Harry Potter.

  • Olga Kurylenko sebagai Camille dalam Quantum of Solace, yang katanya agen rahasia tapi kerjanya cuma nangis dan ketakutan melulu. Malas banget, plis, mati aja deh, Mbak!

  • Denise Richards sebagai Dr. Christmas Jones, yang berkeliling dengan celana hotpants dan baju tipis robek nggak jelas, dan katanya kita mesti percaya dia ahli fisika nuklir, gitu? Yeah, yeah.

Sekian terima kasih, demikian daftar cewek Bond dari saya. Selamat menonton....

@Alex, RahasiaBulan, 2008

1:16 PM

Kangen Berat

Posted by alex |

Ditinggal Lakhsmi yang lagi liburan duh asyik! Mau happy-happy sendiri, mau bikin pesta lajang, mau party-party sama ratusan teman. Ahhhhhhhhh, bebas!

Tapi pada hari H partner berangkat, kok rasanya nggak enak ya? Happy-happy sendiri kok jadi seperti orang bego? Pesta lajang? Ih, malas banget. Party-party? Gimana bisa party kalau bawaannya ingat partner melulu?

Seorang sahabat mengajak, “Ke Ohlala Thamrin yuk sekarang! Ada si ini nih. Dia kangen sama lo, katanya.” Haduh malas banget membayangkan diri ini harus nongkrong di sana malam-malam. Dan tiba-tiba saya teringat terakhir saya dan Lakhsmi nongkrong di Ohlala sana bersama sahabat-sahabat kami pada malam yang seru dan gila-gilaan penuh dengan diskusi yang memabukkan.

Sahabat lain mengirim SMS, menanyakan kenapa Lakhsmi tidak membalas ucapan selamat Natal yang dikirimnya melalui SMS. Saya menjelaskan bahwa partner sedang berada di kota antah berantah, baru pulang tahun depan, jadi harap maklum kalau dia belum membalas. Yeah, walaupun Lakhsmi selalu membalas SMS saya sih :).

Saat Lakhsmi menyempatkan diri online di YM, saya pun meringkuk rapi di depan komputer sampai lewat tengah malam karena jam online partner adalah jam orang hidup, sementara saya adalah jam zombie. Beneran deh di saat-saat seperti ini saya nggak bisa membayangkan hubungan LDR. Nggak ketemu sehari saja rasanya seperti layang-layang putus.

Saya dan Lakhsmi membutuhkan banyak sentuhan, walaupun cuma colek-colekan pantat pas dia lewat di depan saya pun rasanya memuaskan. Kami berdua tidak tahan berjauhan. Telepon dan YM sudah tidak bisa lagi memuaskan dahaga kami untuk mengobrol dan bercerita. Sayang, nggak enak melakukan apa-apa sendirian. Biasanya hampir setiap hari kami makan siang bersama. Malam juga ketemu. Weekend apalagi, sejak pagi kami sudah beredar berdua menikmati wisata kuliner.

Tahun lalu kami pun sempat ber-LDR selama dua minggu lebih karena saya yang harus memenuhi tugas dari kantor ke kota-kota romantis yang seharusnya bisa kami jelajahi bersama. Tahun ini kami terpisah jarak yang demikian jauh dan hanya bisa mendengarnya bercerita tentang kota-kota romantis yang kapan-kapan akan kami jelajahi bersama. Tahun depan, tahun depannya, tahun depannya lagi, pasti kami bisa menjelajahi kota-kota cantik dan indah berdua. Duduk di kafe tepi jalan, melihat museum-museum anggun, melewati jembatan-jembatan megah yang biasanya hanya kita lihat di film.

Sebelum ditinggal, saya sudah menyiapkan diri dengan membeli DVD Gossip Girls season 2. Berencana nonton maraton mulai dari Transporter sampai Madagascar. Menyelesaikan pekerjaan kantor yang saya bawa pulang untuk mengisi liburan. Menyiapkan buku-buku bacaan untuk menghilangkan bosan. Tapi saya malah blogging melulu, hehehe. Atau lebih seringnya tidur-tiduran sambil mengirim SMS untuk Lakhsmi, memikirkannya dan anak-anak. Rasanya ada rongga besar di dada ini tanpa berada di dekat mereka.

Hhhhh...

Tapi seperti kamu bilang, beib, waktu cepat berlalu kalau kita tidak fokus ke waktu itu sendiri. Aku fokus ke kamu, membayangkan kamu pulang. Yap, waktu cepat berlalu kok. Kiss buat kamu dan anak-anak ya. Kangen berat sama kamu dan mereka. Mwuahhhhh.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:45 AM

10 Cewek Jagoan dalam Film Sci-Fi/Fantasi

Posted by alex |

Ingin cari hiburan tontonan akhir tahun? Coba cari lagi di antara koleksi DVD lama dan temukan perempuan-perempuan jagoan ini, lalu nikmati pesta mata bersama mereka. Perempuan-perempuan cantik, berotak, berani, berkepribadian kuat, dan jagoan di antara jagoan.


Angelina Jolie (Lara Croft) – Tomb Raider
Angelina Jolie adalah icon bagi banyak lesbian. Secara pribadi saya bukan fansnya, tapi tidak memasukkan nama Angelina Jolie di sini rasanya ada yang kurang. Saya tidak pernah menganggapnya seksi. Bahkan dalam Tomb Raider pun dia lebih tampak seperti jagoan penggemar lelaki dibanding jagoan sungguhan. Tapi melihat payudara 36 DD-nya Lara Croft menjadi pemandangan mengasyikkan tersendiri.


Carrie Anne Moss (Trinity)– Matrix
Kacamata hitam. Baju kulit hitam. Rambut hitam licin. Tembak sana, tembak sini. Tambah tendangan kung fu, hajar si penjahat. Ciaaaat... Trinity adalah jagoan cool era tahun 2000 yang tidak boleh dilewatkan. Satu adegan yang boleh dilewatkan adalah adegan menyebalkan saat Trinty menghidupkan Neo kembali dengan ciuman. Bah!


Keira Knightley (Elizabeth Swann) - Pirates of the Carribean
Dari putri gubernur yang diculik hingga menjadi anggota kawanan bajak laut kehadiran Elizabeth Swann jelas layak jadi tontonan. Cantik, cerdas, jagoan, dan tidak menye-menye atau manja. Favorit saya adalah dua film pertamanya, Pirates of the Carribean: the Curse of the Black Pearl, dan Pirates of the Carribean: Dead Man Chest. Pirates ketiga terlalu romance buat saya, walaupun saya tetap menantikan Keira Knightley di layar bioskop.


Miranda Otto (Eowyn) – Lord of the Rings
Eowyn adalah keponakan Raja Thoeden dalam Lord of The Rings. Dia naksir berat pada Aragorn, tapi cintanya tak berbalas. Dalam pertarungan di Pelennor Fields dalam Return of The King, Eowyn yang menyamar sebagai laki-laki bertarung dengan Lord of Nazgul, yang dengan pongah berkata pada Eowyn, "No living man may hinder me!"
Lalu Eowyn membuka helmnya perangnya dan berkata, "No living man am I! You look upon a woman." Lalu dia menghunuskan pedang dan menghabisi Lord of Nazgul. Keren banget! Saya bisa mengulang-ulang adegan ini sampai puluhan kali.


Cewek-cewek di X-Men: Hale Berry, Famke Jansen, Rebecca Romijn
Storm, Jean Grey dan Mystique. Semuanya hot dan huebat. Jika suka yang muda ada Anna Paquin sebagai Rogue dan siapa lagi tuh namanya, yang bisa menembus tembok diperankan oleh Ellen Page. Favorit saya adalah Mystique, karena dia cewek jahat. Saya selalu suka cewek jahat, hehehe. Tapi Storm yang tenang dan Jean Grey yang gelisah selalu membuat mata saya nempel menghadap layar kaca setiap kali mereka muncul. Psst, boleh juga nonton James Bond untuk melihat Famke Jansen sebagai Xenia Onatopp dalam Golden Eye.


Milla Jovovitch (Alice) – Resident Evil
Mulai dari 5th Element, Resident Evil, hingga Ultra Violet, Milla Jovovich adalah cewek jagoan yang pantas masuk daftar ini, tapi terutama berkat perannya dalam tiga film Resident Evil. Resident Evil mungkin film paling menjijikkan melihat zombie-zombie busuk dan tak mati-mati. Tapi film ini mengangkat nama Milla Jovovitch sebagai Alice, sang jagoan cewek yang tangguh dan heroik. Milla memerankan seluruh adegan laga dalam Resident Evil pertama tahun 2002. Caranya menembakkan pistol dan menghabisi zombie-zombie itu uh, seksi banget.


Summer Glau – Serenity
Summer Glau-lah yang membuat Sarah Connor Chronicle jadi serial TV yang hidup. Sebagai Terminator yang dikirim untuk menjaga John Connor dalam serial televisi yang menurut saya ceritanya ngos-ngosan ini Summer Glau berhasil menjejakkan namanya sebagai jagoan cewek yang patut diperhitungkan. Sebelum berperan sebagai Terminator, Summer Glau bermain dalam film produksi Joss Whedon: Serenity sebagai River Tam. Wajahnya yang dingin dan kemampuannya menggabungkan seni bela diri dan balet membuatnya jadi jagoan yang mematikan. Buat penggemar Buffy the Vampire Slayer, Serenity adalah film yang kudu harus mesti ditonton.

Jagoan Kehormatan:
Linda Hamilton (Sarah Connor) – Terminator
Di film Terminator II Sarah Connor (Linda Hamilton) bertransformasi jadi perempuan tangguh yang ingin menyelamatkan John Connor, putranya nya dari kejaran Terminator yang dikirim dari masa depan. Adegan ketika Sarah Connor ber-gym di RSJ dan kabur dari sana merupakan adegan penting yang kudu disaksikan. Lalu pas adegan Sarah berkaus singlet menggenggam senapan untuk menyelamatkan John Connor ketika di gurun juga keren abis. Tampilannya mami-mami andro banget deh.


Sigourney Weaver (Ellen Ripley) - Alien
Sigourney Weaver mengangkat jagoan perempuan pada level bahwa perempuan bisa jadi pemimpin dan jagoan di antara lelaki pada Alien pertama tahun 1979. Favorit saya adalah Aliens, ketika Ripley harus menyelamatkan seorang anak kecil dan menghadapi serbuan alien yang sudah beranak-pinak. Atau kalau mau yang ada subteks lesbian, coba tonton Alien 3, yang ada Winona Ryder berperan sebagai android.


Princess Leia Organa – Star Wars
Walaupun tidak jago kelahi, Princess Leia memiliki keberanian, kecerdasan, dan humor yang membuatnya layak jadi ikon. Hubungan asmaranya dengan Han Solo juga memiliki chemistry yang seru dan menarik. Star Wars pertama dibuat tahun 1977 dan Princess Leia ditampilkan sebagai perempuan cerdas dengan otak yang tak kalah dengan laki-laki, sementara pada masanya, tokoh-tokoh perempuan dalam film aksi laga kebanyakan memamerkan tubuh indah dan menjerit-jerit minta tolong pada jagoan lelaki.


Yap, tadi adalah Daftar 10 Cewek Jagoan dalam film-film Sci-Fi/Fantasi favorit saya. Ini adalah daftar yang amat personal. Silakan beri komen jika ada masukan jagoan lain. Yuuuk... Nonton!

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2:30 AM

Vampir vs Homoseksual

Posted by alex |

Sejak dulu saya terobsesi dengan makhluk abadi yang bernama vampir. Entah kenapa. Mungkin karena pada dasarnya manusia memiliki pertanyaan-pertanyaan tak terjawab tentang kehidupan, kematian, dan keabadian.

Konsep makhluk jejadian yang bersosok manusia mati namun “bernyawa” di muka bumi dengan berbagai kutukan yang dibawanya membuat otak saya yang kerdil ini memikirkan banyak hal tentang apa, bagaimana, kenapa mereka hidup.

Saya memikirkan kehidupan imortal para vampir ini dalam konsep religiusitas, bagaimana mereka terkoneksi dengan penciptanya dan menjadi pencipta dalam kekuatan darah yang mengalirkan kehidupan.

Ada gagasan romantis, psikoseksual, dan religiusitas yang dekat dengan kehidupan homoseksual dalam kehidupan imortal vampir ini.

Kisah vampir nyaris tak lepas dari kisah cinta. Tentang cinta abadi yang tak kenal waktu. Tentang cinta yang menerabas kematian. Tapi saya tidak mau bicara soal gagasan romantisme di sini. Seisi dunia sedang tergila-gila pada Edward, bahkan saya juga, dan cukuplah dulu saya menuliskannya sekali.

Kisah vampir juga tidak lepas dari kutukan keabadian. Yang membawa saya dalam pertanyaan tentang kenapa vampir diciptakan. Siapa penciptanya. Apakah ada Tuhan di sini? Walaupun tujuan itu kembali lagi ke niatan si pengarang, tapi dilihat dari sudut mana pun vampir adalah produk agama Kristen. Atau lebih tepatnya pengingkaran terhadap ke-Kristen-an. Bisa dilihat bagaimana vampir hasil generasi awal digambarkan takut terhadap salib dan air suci.

Bram Stoker menulis novel Dracula pada tahun 1897, menggunakan kemarahan Count Dracula terhadap Tuhan karena tega merenggut istri yang dicintainya padahal dia sedang membela Tuhannya dalam Perang Salib. Dia marah karena para pemuka agama menyatakan istrinya tidak bisa masuk surga karena meninggal akibat bunuh diri. Jadilah sang count mengingkari Tuhannya dan menjadi makhluk terkutuk yang hidup dari darah.

Bercerita tentang vampir tidak bisa lepas dari nama Anne Rice. Sejak tahun 1976 dia menulis Vampire Chronicles-nya dalam konsep atheis. Sosok-sosok vampir yang diciptakan Anne Rice dalam karya-karya fiksinya memuat teori bahwa ada makhluk yang tercipta jauh sebelum Kristus muncul. Ketika manusia masih memuja matahari dan bumi ini sendiri. Ada kekuatan besar, makhluk abadi yang tak tersentuh oleh kematian yang menitiskan kekuatannya melalui darah.

Wes Craven, salah satu raja film horor, menciptakan teori baru tentang vampir. Teori ini begitu jauhhh hingga sulit diterima oleh, yeah, paling tidak oleh saya. Dalam film Dracula 2000, Wes Craven menyatakan bahwa Dracula sesungguhnya adalah Yudas Iskariot, yang dikutuk untuk berjalan di muka bumi sebagai makhluk yang tidak bisa mati, dan ditolak masuk surga dan neraka. Teori ini berusaha menjelaskan kenapa Dracula takut pada benda-benda perak, karena Yudas dibayar dengan perak untuk pengkhianatannya terhadap Yesus.

Bram Stoker dan Wes Craven memberikan ketenangan pada Dracula ciptaan mereka dengan memulangkan sosok imortal pada “surga”. Memberikan mereka kematian dan akhir yang mereka dambakan. Berbeda dengan Anne Rice dengan sosok-sosok vampir ciptaannya yang tidak takut pada hal-hal bersifat agama modern, yang menurutnya adalah produk ciptaan manusia. Mereka hidup jauh sebelum manusia modern muncul dan menciptakan agama.

Begitu banyak lesbian yang lari dari agamanya ketika mengetahui bahwa mereka dicap sebagai makhluk terkutuk. Agama hanyalah pengekang, dan dengan bangga mereka menolak Tuhan mereka. Tapi banyak dari mereka yang gelisah. Seperti halnya Dracula yang mencari cinta sejatinya pada Wilhemina Harker, lesbian-lesbian itu juga mencari Wilhemina Harker mereka. Mereka menganggap diri mereka sebagai makhluk kegelapan. Yang bisa musnah terbakar matahari jika berani keluar pada siang hari. Yang akan dikejar untuk dibunuh oleh para pemburu makhluk terkutuk ini. Dan jadilah mereka makin marah dan jahat. Mereka jadi menggertak lebih dulu, menyerang dan menakuti sebelum diserang. Dan jadilah lingkaran kebencian yang tak putus.

Begitu banyak kebencian dan kemarahan yang dirasakan oleh sang vampir dan lesbian-lesbian yang jauh dari intisari mereka sendiri. Kenapa aku? Itu juga pertanyaan yang ditanyakan oleh Dracula dan Lestat dalam Vampire Chronicles.

Pada era tahun 1990-an muncul teori baru “vampir berjiwa”. Joss Whedon memperkenalkan Angel sebagai sosok vampir berjiwa dalam Buffy the Vampire Slayer. Anne Rice juga menampilkan sosok Louis sebagai vampir berjiwa dalam Vampire Chronicles-nya. Vampir-vampir yang begitu simpatik sehingga bisa membuat manusia jatuh cinta dan rela menyerahkan diri mereka padanya. Dan yang terbaru adalah Edward ciptaan Stephenie Meyer yang gigitannya berhasil menciptakan histeria massa.

Sebut mereka vampir-vampir vegetarian. Louis, Angel, Spike, Edward. Mereka adalah vampir yang memutuskan untuk mengontrol dahaga mereka dengan tidak menyantap darah manusia. Kevegetarian mereka itulah yang menjual mereka menjadi budaya pop. Pencitraan ini secara tidak langsung juga memengaruhi cara pikir masyarakat untuk bisa menerima hal absurd sebagai suatu realitas romantis.

Konsep vampir untuk target remaja kebanyakan berkutat pada romantisme. Keseksian sang vampir yang selalu bisa menaklukkan makhluk mortal bernama manusia. Tapi tidak semua manusia. Hanya manusia-manusia terpilih yang bisa dicintai oleh vampir-vampir ini. Manusia-manusia kegelapan ini menemukan kembali inti dirinya melalui cinta. Vampir seharusnya makhluk mati, tapi mengapa ada manusia yang bisa membuat jantungnya serasa berdenyut kembali?

Saya selalu menarik benang merah antara percintaan vampir dengan manusia ini dengan kisah cinta homoseksual. Cinta terlarang yang tidak bisa bersatu. Sejak awal, vampir memang tidak lepas dari seksualitas dan sensualitas. Anne Rice bahkan menciptakan pertanyaan, “Jika kau hidup selamanya, apakah kau akan menghabiskannya hanya dengan satu gender atau kau mencoba segala kemungkinan?” Bahkan ketika mengetahui putranya gay, Anne Rice menyuruh putranya membaca Vampire Chronicles-nya.

Kini seiring dengan perubahan sosok vampir dalam budaya pop, dari makhluk sadis pemangsa manusia, vampir sering kali ditampilkan sebagai sosok dengan jiwa yang bersih. Jika selama seabad lamanya vampir menjadi tokoh pemangsa manusia, makhluk pengisap darah, kini mereka dianggap “selevel” dengan manusia. Jika memantulkan sosok vampir berjiwa ini dalam cermin kaum homoseksual, belakangan ini pencitraan homoseksual pun tidak semata-mata menunjukkan kevampirannnya, eh, kehomoseksualitasnya, di masyarakat, tapi menyorotkan jiwa mereka yang berkilau. Kaum lesbian/gay pun belakangan ini tidak melulu dianggap sebagai pemangsa kaum hetero.

Jadi teorinya, jika semakin sering manusia dipaparkan pada absurditas yang kemudian dianggap “normal”, paradigma masyarakat pun akan ikut berubah. Mungkin kita harus berterima kasih pada kreator-kreator cerita vampir ini yang membuat masyarakat bisa menerima keanehan cinta antara sesama jenis, eh, kisah cinta antara vampir dan manusia sebagai kisah cinta romantis yang wajar.

Ah, saya mengoceh panjang-lebar lagi tentang isi otak saya yang kebanyakan edannya. Sudah jam setengah tiga pagi... lebih baik saya sudahi dulu tulisan ini. Kapan-kapan kita lanjut lagi untuk topik ini :).

@Alex, RahasiaBulan, 2008

9:37 PM

Tips Menulis Skenario Sinetron!

Posted by alex |

  • Buat tokoh perempuan yang cantik dan miskin. Biasanya judul sinetronnya adalah nama si perempuan ini. Trailernya si perempuan sedang menangis di bawah siraman hujan. Atau hampir keserempet mobil, lalu kaca jendela diturunkan, di dalamnya ada lelaki melotot.

  • Buat tokoh lelaki yang kaya dan tampan. Pakai jas dan dasi walaupun nggak jelas apa kerjanya. Pokoknya bos gitu deh, dengan bapak yang juga berjas dan berdasi. Atau ibu yang cantik dengan rambut mekar.

  • Tokoh lelaki sudah bertunangan dengan perempuan jahat lalu ketemu si miskin dan cantik. Atau buat ada perempuan lain yang naksir berat pada si lelaki. Perempuan cantik tapi jahat.

  • Tokoh lelaki kemudian jatuh cinta sama si perempuan cantik dan miskin. Walaupun kadang-kadang kita nggak habis pikir bagaimana lelaki berjas dan berdasi yang katanya bos lulusan sekolah luar negeri itu jatuh cinta sama tukang cuci, pembantu, office girl, atau anak yatim dengan ibu sakit yang sekarat sementara kerjanya perempuan cantik dan miskin itu hanya berdoa tanpa pernah bekerja.

  • Buat si perempuan jahat itu menghalangi hubungan si tokoh lelaki tampan dan kaya dan tokoh perempuan cantik dan miskin. Pakai mulut monyong-monyong. Halalkan segala cara, tapi sejauh ini cara fitnah adalah yang paling efektif.

  • Setelah beberapa episode, ketauan bahwa si perempuan yang miskin dan cantik adalah anak haram dari pengusaha kaya. Pengusaha kaya ini bisa jadi bapaknya si perempuan kaya nan jahat yang naksir/tunangan pada lelaki yang jatuh cinta pada perempuan miskin dan cantik itu.

  • Intinya, perempuan miskin harus dibuat jadi orang baik. Sementara perempuan kaya dan cantik dan punya segalanya itu harus dibuat jahat. Yeah, right! Hahaha, nanti saya kenalin sama perempuan-perempuan miskin yang jahat dan perempuan-perempuan kaya yang baik hati.

  • Kalau iseng, boleh tambahkan tokoh gay banci atau persahabatan sesama perempuan yang bisa jadi subteks lesbian. Hahaha... Please no lesbian in sinetron, karena sejauh ini sinetron yang menayangkan tokoh lesbian biasanya punya rating jeblok atau nggak lama kemudian habis masa tayangnya.

  • Bungkus dengan lagu tema dengan lagu dari band indo yang lagunya mendayu menyayat hati tentang kisah cinta tak sampai atau semacamnya.

Selamat mencoba!

@Alex, RahasiaBulan, 2008
PS: Sedang-muak-sama-sinetron-saking-keseringan-nonton

1:00 AM

Family Potrait

Posted by alex |

Sewaktu menghadiri resepsi pernikahan sahabat, dan melihat foto-foto pre-wedding mereka di pintu masuk, saya iseng bilang ke Lakhsmi, “Say, kita juga bikin foto pre-wed yuk.” Lakhsmi mendelik memandang saya, “Mahal tau!” Huehehe...

Minggu lalu keisengan itu muncul di benak Lakhsmi. “Sayang, kita bikin foto keluarga yuk, berempat sama anak-anak di foto studio. Nanti kita sekalian foto-foto berdua. Kebetulan aku dapat voucher nih.” Saya pun langsung bersemangat menyambut ide itu. Iseng plus iseng jadinya kan serius.

Supaya nggak kena ramai dan kebetulan anak-anak liburan sekolah, jadilah kami berdua cuti pada hari kerja. Maksudnya biar bisa dua maminya sekalian pacaran habis foto-foto gitu. Sehari sebelum foto, kami sudah memilih kostum untuk dipakai pada foto keluarga ini. Merah, jadi warna pilihan. Bunga-bunga jadi motifnya.

Kalau sudah pergi bareng anak-anak, sudah bisa bayangin kan ribetnya? Kami membawa tas besar seperti ingin kemping. Si sulung sudah kegirangan sejak di rumah. Si bungsu ikutan girang melihat kakaknya girang. Mami dan tantenya juga girang bukan kepalang. Hihihi... berima nih, Say.

Sebelum foto dimulai, kami sibuk didandani. Si sulung makin girang karena rambutnya bisa dibuat ikal-ikal gitu, hingga dia bilang tidak mau keramas karena takut ikal rambutnya hilang. Dan si bungsu yang jadi pengangguran mulai naik-turun kursi jalan ke sana kemari sementara kami “tersangkut” di kursi rias.

Singkat cerita, akhirnya saatnya berfoto tiba...

Foto berempat lebih dulu. Ya, ibu lihat ke kiri, angkat kepalanya sedikit, ya. Adek lihat kanan ya, lihat maminya. Iya. Coba itu tantenya duduk, ya, peluk si kecil, Ya. Ganti pose, ganti gaya. Jepret. Jepret. Jepret. Senyum yang awalnya tegang mulai mencair menjelang akhir sesi foto berempat.

Oke. Sekarang giliran mami dan tante foto berdua. Waks, pokoknya kacau banget deh, ala pre-wedding gitu, hahaha... (Say, kayaknya mas tukang fotonya tau deh kita pacaran, masa posenya “akrab” gitu sih?). Ganti gaya ganti posisi, dalam hati kami kepengin ngakak, tapi ditahan. Sementara anak-anak yang ditinggal sudah menjajah mainan-mainan yang tersedia sebagai prop di sana.

Lanjut ke giliran anak-anak difoto. Bayangkan repotnya, kami berteriak-teriak memanggil si bungsu agar mau memandang ke kamera sementara dia kepingin naik kuda-kudaan yang bisa membal yang mejeng di dekat kaki mas tukang foto. Si sulung sudah bergaya manis ala anak-anak di acara Idola Cilik, sementara si bungsu tidak mau kooperatif sebelum mainan yang diinginkannya dia peroleh.

Sungguh deh saya salut sama kesabaran mas tukang fotonya.

Ganti kostum, foto sendiri-sendiri dulu. Sementara si sulung difoto, si bungsu sibuk dengan boneka mobil, bola basket, dan senapan. Yup. Tiga mainan itu yang dia pilih sebagai mainan favoritnya. Bersama sang tante dia bermain tembak-tembakan dengan senapan warna-warni itu, dan tante harus pura-pura mati ketika ditembak. Dalam satu adegan, si bungsu naik kuda-kudaan membal itu sambil menenteng senapan bak koboi.

Huahahaha...

Gantian si bungsu foto sendiri. Mari kita akali kali ini. Si bungsu berpose di antara hamparan mainannya. Tapi dia berteriak, masih ada mainan yang dia mau. Apa? Apa? Oh, senapannya. Ampun deh. Si sulung ikutan sibuk, membawa-bawa boneka yang diinginkan si bungsu. Coba foto berdua. Keduanya berdiri bak penjaga pintu tentara Mataram, hahaha. Mereka pun peluk-pelukkan. Si bungsu ogah dipeluk berusaha melepaskan diri. Mas tukang foto masih sabar. Tante mulai tegang. Mami, mami di mana sih? Oh, dia sibuk membersihkan riasan wajahnya....

Akhirnya mas tukang foto bilang, "Oke, dapat nih semuanya." Fiuhhh... acara foto-fotoan pun selesai.

Ganti baju yuk. Berempat kami masuk ke ruang ganti yang sempit. Belum lagi si bungsu mau membawa kuda-kudaannya itu ke dalam ruang ganti. Makin sempit dan makin panas. Si bungsu masih mau memembalkan dirinya di dalam ruang ganti. Mami berteriak, saya menjerit, si sulung mendorong-dorong. Kami bertabrakan di dalam ruang ganti, pastilah orang di luar mendengar suara bak-buk-buk-bak tak beraturan. Belum selesai, si bungsu berlarian hanya dengan celana dalam karena udah nafsu mengikuti kakaknya keluar dari ruang ganti. Untung mami dan tante sudah kelar ganti pakaian.

Anak-anak berteriak, lapar, lapar, lapar. Tunggu dong, tante masih makeup-an begini. Mami mulai gelisah, “Sayang, cepetan, anak-anak lapar nih.”
“Aduh, Mami. Bulu mata palsuku masih nangkring nih. Lima menit lagi.”
Anak-anak berteriak, "Main lagi yuk. Mana kuda-kudaannya? Mami, kuda-kudaannya boleh bawa pulang nggak?"

Mami melotot, saya nyengir.

Saya ngebut membersihkan riasan, kayaknya muka masih celemotan, tapi apa daya anak-anak sudah beringas lapar. "Kita mamam di rumah," kata Mami.

Pssst, habis foto rencananya Mami dan Tante mau lunch asyik buat ultah Tante gitu lhoo... dan kalau sempat Mami dan Tante mau mesra-mesraan berdua. Hihihi.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

Setiap kali menonton film atau serial TV saya selalu terpesona pada tokoh antagonis. Dulu saya ngefans banget sama Amanda (Heather Locklear) dalam serial Melrore Place, Brenda (Shannen Doherty) dalam serial Beverly Hills 90210, dan yang terbaru Blair (Leighton Meester) dalam serial Gossip Girls. Buat saya perempuan-perempuan seperti itu selalu menarik dan memesona. Perempuan harusnya bitchy seperti itu. Perempuan yang tidak ragu-ragu melibas lawannya jika dia tahu bahwa dia punya alasan melakukannya. Saya menyukai kejujuran mereka untuk menunjukkan kekejian dibanding bersikap manis layaknya serigala berbulu domba. Paling tidak, perempuan-perempuan ini adalah orang yang tidak munafik dan tidak pengecut.

Makin sadis perempuan-perempuan menghabisi lawannya, saya makin suka. Perempuan-perempuan itu bagai memanifestasikan sisi gelap dalam diri saya.

Dunia membutuhkan tokoh-tokoh seperti itu. Keberanian mereka bersikap antagonis membuat hidup jadi menarik. Saya dan sahabat saya di kantor saling menikam terang-terangan setiap hari. Apalagi kalau rapat, wah, kami saling menghabisi, dan peserta lain di kantor biasanya menanti dengan seru. Tapi dia sahabat terbaik saya di kantor, karena apa pun yang terjadi dia selalu bisa mengandalkan saya untuk menjadi penyeimbang sikap antagonisnya. Demikian pula sebaliknya. Ibarat film kalau tidak ada Hannibal Lecter, Joker, atau Lex Luthor kan mendingan pulang aja nggak usah nonton. Ukuran seorang pahlawan dinilai dari musuh yang dihadapinya.

Manusia selalu memiliki dua sisi. Demikian pula kalau kita memerhatikan tokoh-tokoh antagonis itu. Kebaikan dan kejahatan. Hitam dan putih. Tidak selamanya saya jadi miss nice, lebih sering saya jadi bad girl. Dan saya juga tidak suka pacaran sama cewek jaim yang sok manis. Plis deh, mendingan pulang aja ke kampung sana kalo mau jaim. Hayo tunjukkan kebengisanmu. Saya adalah orang yang egois, pemarah (you ain't see nothing yet, baby, kalau belum lihat saya ngamuk), saya bisa membuat orang sinting karena saya senang membuat hidup orang menderita kalau saya sudah membencinya.

Kalau di hadapan pasangan saja kita harus jaim, buat apa menjalin hubungan? Ketika saya kepingin jadi tokoh antagonis, pasangan juga harus menyeimbangkan saya. Saya paling benci punya pasangan yang sering sok ngasih nasihat, “plis jangan begitu, plis jangan begini.” Plis deh, jangan macam-macam sama saya. This is me. Take it or leave it.

Orang sering kali bilang, dia mencari pasangan yang bisa menerima dirinya apa adanya. Bagi saya, apa adanya ya seperti adanya. Bukan menerima keadaan yang sudah ada tapi menerima segalanya, bahkan yang terburuk dari pasangan. Menerimanya ketika dia berada dalam keadaan lemah dan buruk. Tapi di balik semua itu sang pasangan juga bisa menghasilkan yang terbaik dari hubungan karena hasil dari saling pengertian itu.

Kalau nggak suka sama sikap saya, jangan pacaran sama saya. Itu prinsip yang selalu saya junjung. Nggak usah deh ngasih-ngasih nasihat yang sok bener. Saya tahu apa yang benar dan apa yang salah. Jangan berusaha mengubah saya menjadi orang yang “benar” menurut versinya. Saya tahu saya jadi orang jahat saat saya ngamuk berat atau ketika emosi saya pecah tak terkendali. Tapi sehabis jadi penjahat, saya hanya ingin tahu bahwa masih bisa pulang ke pelukannya.

Saya ingin punya pasangan yang kepadanya saya bisa membuka seluruh topeng saya, memperlihatkan seluruh taring mengerikan yang saya miliki di hadapannya. Saya bisa jadi gabungan Amanda, Brenda, dan Blair, dan dia masih mau memeluk saya dan berkata, “Ssst, it's okay. Ada aku di sini mendampingimu.”

So what if I'm the bad guy? Do you still love me?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

9:55 PM

The Land Before Time

Posted by alex |

Adalah film kartun tentang dinosaurus yang bertualang mencari dunia baru setelah meteor menghantam bumi. Yah ibaratnya ini suasana menjelang kiamatnya bagi dinosaurus. Sedih sih. Biasanya si sulung nangis jejeritan sehabis menonton ini, karena sama seperti Bambi, mamanya Long Feet (dinosaurus tokoh utama dalam film ini) tewas dalam film ini. Tewasnya bukan seperti tewasnya mamanya Nemo, yang nggak kelihatan gitu. Tapi maminya Long Feet ini tewas karena berjuang menyelamatkan Long Feet.

Dan entah sudah berapa puluh kali saya menonton film kartun yang satu ini. Sampai hafal bo! Terutama ketika si bungsu juga mengidap kecanduan terhadap dinosaurus seperti kakaknya. Hampir setiap hari kami sekeluarga mesti menonton kumpulan dinosaurus ini. Kalau si bungsu sukanya sama The Great Long Neck Migration, sambungannya The Land Before Time. Pokoknya si bungsu udah nggak bisa dilarang deh untuk urusan yang satu ini. Pokoknya mau DVD ini, dan berharaplah kami semoga DVD itu tidak rusak walaupun sudah penuh goresan. Ngeri membayangkan DVD itu tidak bisa diputar lagi. Dibujuk nonton DVD lain si bungsu udah ogah. Pokoknya mau yang ini, Tante!

Masalahnya, si tante dan mami ini yang terpusing-pusing nonton film yang sama setiap hari.

Tapi sudut pandang anak-anak memang berbeda dengan orang tua. Sebenarnya keinginan anak yang kepingin nonton film yang sama berulang-ulang merupakan hal yang wajar. Saya pernah baca di majalah parenting atau dengar dari radio gitu soal ini. Bahwa pengulangan ini membuat anak merasa nyaman dan aman karena dia tahu dan mengenal cerita yang dia tonton ini.

Kemarin malam ketika saya sedang menemani anak-anak nonton, saya mencolek Lakhsmi untuk melihat si bungsu yang dengan seru mengikuti lirik lagu dalam film tersebut. Si sulung pun ikutan bernyanyi dengan lebih fasih, si bungsu berusaha mengikuti walau hanya beberapa patah liriknya. Dan suara mereka makin lama makin keras. Mami dan Tante pun jadi melongo melihat mereka. Dan kami pun jadi ikutan... Nyanyi!

Suara kami saling menimpali. Saya yang paling fals, Mami yang paling bener. Anak-anak di antaranya. Selagi seru-serunya, tiba-tiba drtt... drtt.... Ah, gambar DVD-nya terputus-putus. Si bungsu melongo, tampak kecewa. Si sulung berusaha memperbaiki dengan memencet-mencet tombol remote. Ahhh... tuh kan DVD-nya rusak karena keseringan dipegang sampe banyak goresan... Hiks.

Hhhh... Hening.

“Oke, mamam time!” Lakhsmi menepuk tangan mengalihkan perhatian.

Sedang asyik-asyiknya menyuapi anak-anak makan, sulung berlari, seakan ingat sesuatu. Dengan gerakan secepat Flash, dia balik ke meja makan, membawa sesuatu di tangannya. Cover DVD “itu”!

“Tante, nanti beliin DVD ini ya. Ada Land Before Time nomor dua dan nomor tiga.” Jarinya menunjuk dua gambar DVD dengan tampilan dinosaurus. “Tanteeeeeeeee, liat dong, DVDnya yang ini...!”
“Iya, ini Tante liat!”
Sementara si bungsu nyeletuk, “You never know!”
Saya memandang Lakshmi, “Maksudnya apa you never know?”
“Ya ampun, beb, kamu nonton tuh film udah ribuan kali nggak inget? Itu lirik lagunya.”
Si sulung menarik lengan saya, “Inget ya, Tante! Yang ini!” Tangannya masih menujukkan cover DVD.
“Iya, Sayang, Tante nggak lupa deh!”
Bagaimana bisa lupa, coba?



@Alex, RahasiaBulan, 2008

12:22 AM

Sudut Pandang Lelaki dalam Novel Grafis Lesbian

Posted by alex |

Saya paling sebal dengan pembaca yang sering kali menarik garis “pengalaman” antara pengarang dan karya yang dihasilkannya. Sering banget pengarang, terutama di Indonesia, yang “dituduh” menulis pengalaman pribadi dalam karya fiksi yang dihasilkannya. Ugh! Payah banget! Menurut saya, pengarang fiksi yang cuma menuliskan pengalaman pribadinya dalam karya yang dihasilkannya adalah pengarang payah. Kalau memang benar karya fiksi adalah pengalaman pribadi pengarang, saya sudah berhenti membaca fiksi sejak SMA. Pasti karya-karya seperti itu akan membosankan habis, dan pengarang itu hanya akan menulis novel dalam jumlah yang bisa dihitung dengan satu tangan.

Salah satu konsep cerita fiksi lesbian yang buat saya amat menarik adalah komik/novel grafis yang ditulis oleh lelaki hetero. Lihat saja buku-buku yang ditulis oleh Neil Gaiman. Brian K. Vaughn, Terry Moore, Alan Moore, Joss “The God” Whedon. Lelaki-lelaki ini bisa menulis tentang kisah lesbian yang ditulis mereka memiliki sudut keseksian yang berbeda dan segar. Ada pendekatan lain dari sudut pandang di luar konteks lesbian dari sudut “aku” yang berbeda daripada yang ditulis oleh pengarang lesbian.

Ya, ya, saya pernah mendengar bahwa membayangkan dua perempuan bercinta merupakan fantasi bagi banyak lelaki. Tapi jika kita melihat komik-komik atau novel grafis buatan mereka, saya tidak menemukan hal itu. Bukan semata tentang seks, tapi tentang wawasan dan gagasan yang tak termuatkan oleh otak lesbian.

Walaupun saya harus mengakui bahwa pengetahuan saya tentang novel grafis ini masih jauh dari mumpuni karena saya baru berkenalan dengan tema ini selama tiga tahun belakangan. Novel grafis ini belum banyak terjemahannya di Indonesia, dan buku aslinya termasuk buku-buku mahal dan hanya tersedia di toko-toko buku tertentu. Bisa dibayangkan berapa modal yang harus dikeluarkan jika kita harus membaca novel grafis dalam bentuk serial. Novel grafis sesunggunya bagian dari seni komik, namun novel grafis biasanya menampilkan karakter yang tidak hitam-putih, seperti jagoan vs penjahat dalam komik dan pada akhirnya jagoan menang. Kompleksitas dalam novel grafis juga lebih kental dibanding komik dengan cerita-cerita yang menawaran gagasan dan terkadang “keanehan” serta “absurditas” yang mencengangkan. Membuktikan bahwa imajinasi memang tak kenal batas.


Pertama kali saya menemukan lesbianisme dari padangan komikus lelaki ini adalah dalam novel grafis V for Vendetta yang amat penuh dengan gagasan. Alan Moore sebagai tukang cerita dan David Lloyd sebagai tukang gambar menampilkan karakter lesbian minor namun menjadi bagian dari saraf cerita V for Vendetta ini. Valerie dan Ruth adalah lesbian yang tak kenal kata meminta maaf atau ampunan atas kelesbianan mereka. Yang dengan keberadaannya melahirkan sebuah gagasan besar dalam misi V sebagai tokoh utama dalam novel grafis yang sudah diangkat ke layar lebar ini.


Mulai dari sini saya dipaparkan dengan karya-karya pengarang lain. Neil Gaiman, misalnya. Dengan The Sandman-nya dia membuat saya ketakutan dan gila setengah mati. Namun dari serial The Sandman, saya juga dipaparkan dengan pasangan lesbian. Pasangan lesbian Hazel dan Foxglove yang weird and odd, tapi tetap saja pasangan lesbian. Sandman ini terlalu dark dan aneh buat saya, walaupun bukan jadi novel grafis favorit, tapi tetap bisa jadi pilihan bacaan buat penggemarnya. Boleh jadi novel-novel karya Neil Gaiman pun bisa jadi pilihan bacaan untuk kita. Seperti Neverwhere, yang selalu saya yakini memiliki subteks lesbian, dengan tokoh Hunter.


Brian K. Vaughn, termasuk komikus grafis yang pernah beberapa kali menampilkan unsur lesbian dalam karya-karyanya. Sebut saja serial Y: The Last Man, yang sejauh ini merupakan novel grafis yang paling menggugah saya dengan beragam konsep dan gagasannya. Brian K. Vaughn, mengawali novel grafis ini dengan pertanyaan, “Bagaimana jika lelaki musnah di muka bumi ini? Dan hanya tersisa satu lelaki yang menjadi hero dan antiheronya?” Perempuan, feminisme, dan lesbian menjadi beberapa topik gagasan yang dibahasnya di sini. Bahkan di dunia tanpa lelaki, seorang yang bukan lesbian ya tidak bisa dipaksa juga jadi lesbian. Novel grafis pemenang berbagai penghargaan ini terdiri atas sepuluh seri dan bakal menghabiskan jutaan rupiah jika kita ingin mengoleksi serial bahasa Inggrisnya. Tapi kalau buat saya sih worth it banget.

Terry Moore juga termasuk komikus novel grafis yang dekat dengan dunia lesbian. Serial Strangers in Paradise-nya memperoleh Eisner Award, namun karena keterbatasan akses dan aset saya tidak membaca semua seri ini. Tokoh utama serial ini adalah perempuan biseksual dalam hubungan cinta segitiganya dengan seorang lelaki dan perempuan. Selain Strangers in Paradise ini, Terry Moore juga menjadi salah satu penulis di serial novel grafis Runaways, di mana dalam Runaways, terdapat seorang tokoh bernama Karolina yang lesbian, sayangnya saya belum pernah membaca dan memegang novel grafis Runaways secara fisik.

Selain Terry Moore, Joss Whedon merupakan salah satu penulis di Strangers in Paradise. Dia merupakan kreator yang saya kagumi. Mulai dari Buffy the Vampire Slayer di layar televisi hingga menjadi salah satu menulis dalam komik Runaways, dia selalu bisa menyampaikan gagasan lesbian dalam bentuk yang non-stereotipe dan cool. Dalam Buffy season 8 yang hanya dimunculkan dalam komik karena serial TV-nya berakhir pada season 7, Buffy yang tidur dengan perempuan, tapi tidak menjadikannya lesbian. Bukan pula eksperimen, tapi ya terjadi begitu saja. "Lesbianisme" dalam Buffy ini tidak mengejutkan karena dalam serial TV-nya berkali-kali penonton lesbian mengharapkan terjadinya hal semacam itu. Walaupun dalam serial TV, Joss "hanya" menjadikan Willow, salah satu sahabat Buffy sebagai lesbian yang bukan jenis lesbian biasa.


Pemujaan terhadap para lelaki ini tidak mengecilkan novelis atau komikus lesbian seperti Alison Bechdell yang saya kagumi, misalnya. Alison yang menulis comic strip Dykes to Watch Out For juga membuat novel grafis semi-autobiografi berjudul Fun Home. Fun Home adalah sedikit dari novel grafis yang diterbitkan dalam bentuk hard cover dan menjadi buku pemenang Lambda Award dan menjadi buku laris Amazon tahun 2006.

Tulisan ini hanyalah segelintir contoh novel grafis yang kebetulan bisa saya baca, masih banyak komik/novel grafis hasil karya lelaki semacam ini yang menunggu untuk kita temukan. Meskipun memang keberadaan penulis lelaki ini tidak akan cukup memuaskan dahaga lesbian-lesbian, namun membaca karya lelaki-lelaki ini membuka wawasan yang berbeda, memperkaya diri, dan memberi kita kesempatan melihat dari luar konteks mata dan benak penulis lesbian semata.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

7:05 PM

Pentas Si Bungsu

Posted by alex |

Hari Sabtu ini merupakan hari yang kami tunggu-tunggu karena pada siang ini si bungsu akan tampil menari bersama kelas sekolahnya. Sehari sebelumnya kami sudah memompa semangatnya supaya pas hari H dia tidak kena serangan panik dan malah mogok menari di panggung.

Sehabis makan siang kami sudah mulai ribet bin sibuk menyiapkan segalanya. Sejak di rumah si bungsu mau pakai topi, tapi tetap ingin rambutnya dikuncir dua. Nah lo, bagaimana caranya? Masa topinya mau dibolongin biar kuncirnya bisa tetap nangkring keluar dari topi? Setelah dibujuk rayu dan sedikit ditipu-tipu, hehehe, akhirnya si bungsu rela melepaskan topinya.

Perjalanan ke mal tempat si bungsu akan tampil pun diiringi dengan keramaian, karena posisi tempat duduk yang salah. Hari ini baby sitter diajak serta secara banyak barang bawaan dan dua maminya pasti akan sibuk motret sana-sini, belum lagi si sulung yang sudah punya kaki sendiri dan bakal ngelayap entah ke mana kalau tidak dipegangin. Posisi duduk yang salah ini membuat saya harus berpegangan tangan dengan si bungsu yang duduk di kursi penumpang depan sementara saya di belakang berpelukan dengan si sulung, yang lagi bete-betean dengan baby sitter sehingga tidak mau dekat dengannya. Untungnya sih di mobil tidak terlalu ribut dan berisik sampai-sampai si bungsu bisa mengikuti potongan-potongan lirik lagu Merindukanmu-nya d'masiv, sementara saya dan si baby sitter jadi membahas sinetron Sekar yang kebetulan lagu ini jadi soundtrack-nya.

Sampai di tempat pertunjukkan keadaan makin runyam, karena si bungsu mendadak panik melihat ramainya orang dan beberapa teman sekolahnya menangis sampai bercucuran air mata. Jadilah dia menempel pada saya tidak mau lepas. “Pokoknya mau sama Tanteeeeeeeeeeeee...!” raungnya. Ya sudah deh, akhirnya saya biarkan dia menempel pada saya sambil menunggu sang mami datang dari parkiran mobil. Bersama si sulung, saya dan si bungsu duduk di lantai menunggu saat tampil tiba. Ketika si bungsu mulai agak tenang, si sulung nyeletuk, “Tante, kita tinggalin aja dia di sini sama tante baby sitter, lalu kita ke Gramedia...” Mendengar ucapan kakaknya, si bungsu langsung jadi spider-man ke tubuh saya. Nempel makin erat deh.... “Ssst! Jangan ngomong gitu... Nanti aja.” Saya mengedipkan sebelah mata pada si sulung.

Mami akhirnya tiba. Fiuhhh, hehehe... jadilah kami nempel beramai-ramai nggak jelas sambil mengobrol off-topic supaya si bungsu bisa nyaman dengan kondisi pre-performance-nya. Si sulung menarik-narik tangan saya, sambil berbisik-bisik minta dibelikan komik di Gramedia. Mami melarang. Sulung kecewa. Saya kasihan. Saya bisiki si sulung,”Tunjukkin ke Tante buku komik apa yang kamu mau... tapi kita nggak beli sekarang ya.”

“Mom, nyari kopi dulu ya... aku sakit kepala nih.” (Beginilah kalau sudah punya anak, di depan anak-anak manggilnya bukan Say atau Beb, tapi Mom). Saya menarik tangan si sulung dan berjalan cepat ke Gramedia. Mumpung masih ada 15 menit sebelum si bungsu tampil di panggung.

Nggak sampai lima menit kami di Gramedia, karena si sulung langsung menunjukkan komik yang dia mau dan kami pun langsung keluar. “Oke. Sip. Nanti Tante beliin. Yuk.” Saya lihat jam, ah, masih sempat, dan mengajak si sulung berbelok dulu untuk nyari kopi di warung kopi cap duyung itu.

Belum lagi memesan, hape bergetar. “Kamu di mana? Buruan kemari. Udah mau mulai nih.”

Kepala nyut-nyut karena lidah belum menyentuh kopi sampai siang harus dilupakan dulu. Gandeng si sulung lagi, buru-buru ke belakang panggung. Di sana si bungsu sudah tampak tenang dan riang. Sudah tidak menempel dengan maminya. Dan tampak tersipu-sipu senang saat kami berdiri di kejauhan dan melambai padanya.

“Yuk cari tempat nonton yang kelihatan!” kata si sulung, setelah saya menolak permintaan dia untuk mendudukkan dia di bahu saya. (Bisa patah tulang punggung ini kalau saya okein, :p) Lakhsmi sibuk dengan kameranya, memotret si bungsu, saya sibuk mencari tempat nonton strategis bersama si sulung. Saya dan sulung berteriak-teriak dari kejauhan, melambai-lambai supaya si bungsu melihat kami ketika dia menari dengan lucunya.

Tarian cuma lima menit itu menghabiskan energi kami selama berjam-jam. Tapi tak terlupakan.
Karena dia lucuuuuuuuuuuuuu sekali. Dan untuk pertama kalinya kami melihatnya menari di panggung. So cute deh pokoknya.

Saat berbondong-bondong pulang pun tak kalah heboh tapi kepala saya sudah makin nyut-nyut nggak tak tertahankan lagi. Sampai nggak ingat apa yang terjadi sepanjang perjalanan pulang... Dasar pecandu kopi! Melihat saya yang tampil setengah teler karena belum dapat asupan kafein, Lakhsmi mengajak saya ke warung kopi cap duyung sehabis menurunkan anak-anak di rumah.

Dan sore pun ditutup dengan dua perempuan memesan hot coffee latte dan entah minuman "banci" apa yang dipesan Lakhsmi. Dua perempuan yang menghabiskan sisa ketegangan dari urusan berbondongan mengurusi pentas si bungsu dengan duduk di sofa warung kopi sambil membaca majalah, browsing internet, ngobrol, gosip, dan diskusi yang tak kunjung putus....

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Tadi pagi saya dan partner menonton preview film Twilight. Film ini baru beredar secara resmi di Indonesia tgl 2 Desember 2008, tapi yang fans berat bisa midnight show malam ini tanggal 29 November. Kalau saya sih, sudah kalap menunggu film ini sejak diputar di Amrik 21 November minggu lalu. Melihat bagaimana Bella dan Edward saling jatuh cinta membuat saya jadi luluh, lemas, dan konsentrasi penuh pada layar bioskop. Saya dan Lakhsmi terpaku pada layar dan nyaris tidak sempat komentar saking otak kami penuh banget dengan cintanya Bella dan Edward ini.

Oke, oke, mungkin masih ada yang tinggal di hutan belantara selama setahun terakhir jadi nggak tau saya ngomong apa. Twilight merupakan novel yang ditulis oleh Stephenie Meyer dan terbit pada tahun 2004, yang sejauh ini sudah dibuat tetralogi. Twilight, New Moon, Eclipse, Breaking Dawn. Ceritanya tentang remaja 16 tahun bernama Bella Swan yang jatuh cinta pada Edward Cullen. Masalahnya adalah Edward bukan manusia biasa, melainkan vampir.

Selama berbulan-bulan saya sudah merecoki semua orang dengan novel ini, tak terkecuali Lakhsmi. Hihihi... Sayang, kita tuh Edward dan Bella banget. Itu yang selalu saya katakan padanya. Kalau ada pertanyaan “Kenapa sih saya dan Lakhsmi masih bersama-sama sampai saat ini?” Baca aja Twilight dan kamu pasti ngerti. Nggak usah nunggu sampai 5 tahun pacaran untuk bisa menjawabnya... hahaha.

Balik ke filmnya. Film ini dibuat dengan bujet hanya 31 juta dolar untuk buku yang menghebohkan ini. Tidak banyak teknologi khusus seperti Harry Potter atau LOTR atau aktris-aktris ngetop sebagai pemerannya karena awalnya Twilight adalah film yang tidak dilirik perusahaan film raksasa. Saya suka sekali Kristen Stewart dan Robert Pattinson yang berperan sebagai Bella dan Edward. Ini merupakan lompatan karier terbesar bagi mereka berdua. Kristen Stewart pernah jadi anak perempuan Jodie Foster yang tomboi dalam The Panic Room. Sementara Robert Pattinson adalah Cedric Diggory dalam Harry Potter and the Goblet of Fire.

Kristen Stewart menampilkan Bella yang gelisah, kuper, dan bingung saat pertama kali harus pindah ke kota dan sekolah baru. Robert Pattinson juga sukses menjadi Edward oh Edward yang awalnya tampak tegang selalu dan makin lama makin santai dan rileks. Pertama kali lihat wajah Edward sih agak aneh gitu, tapi lama-lama saya sudah menganggap dia sebagai Edward beneran. Wuih, apalagi pas adegan di hutan.


Tokoh-tokoh vampir lain, terutama vampir perempuannya juga memiliki karakter kuar. Victoria, sang vampir jahat juga akan saya nantikan jika nanti film lanjutannya, New Moon, dibuat. Alice juga kelihatan cantik, Rosalie tampil dingin bagai es dan keduanya cocok banget dengan peran mereka.

Oke, tadinya saya agak ilfil dengan pemilihan Taylor Lautner sebagai Jacob, tapi tenyata pas di layar dia not bad kok. Apalagi pas adegan dia dipelototin sama Edward gara-gara Jacob berani “mendekati” Bella. Saya langsung berteriak, “Patahin! Patahin aja kakinya si Jacob...!” Hahaha, terpengaruh gituuuu... norak deh gue.

Selain filmnya yang setia pada novelnya, soundtrack filmnya juga keren bangeeet. Dan Robert Pattinson nyanyi dua lagu dalam soundtracknya. Pas adegan dansanya, waduh, saya hampir pingsan saking irinya dan langsung pegangin tangan Lakhsmi karena saya jatuh cinta sama Edward.

Film ini disutradari oleh sutradara perempuan Catherine Hardwicke dan ditulis skenarionya oleh Melissa Rosenberg. Produser film ini Summit Entertainment berhasil meraup untung besar dengan pemasukan box office 69,5 juta dollar pada minggu pertama pembukaannya. Melalui Twilight, dia menjadi sutradara perempuan dengan penghasilan box-office terbesar. Film ini langsung menggeser kedudukan Quantum of Solace yang cuma bertahan satu minggu di posisi pertama. Dan menyesalah eksekutif-eksekutif film yang kebanyakan lelaki berjas di Paramount Pictures, yang tadinya mau memutilasi habis-habisan cerita untuk film Twilight ini, namun ditentang oleh Stephenie Meyer, karena menurut mereka, “Siapa sih yang mau nonton film cewek abege yang jatuh cinta sama vampir?”

Maverick, perusahaan hiburan milik Madonna melihat potensi novel ini untuk menimbulkan histeria massa terbesar setelah Harry Potter dan memutuskan untuk membeli hak filmnya pada tahun 2004. Dan bisa dibilang inilah era kebangkitan perempuan dalam film Hollywood. Filmnya diangkat dari novelis perempuan, ditulis skenarionya oleh perempuan, disutradarai oleh perempuan, dieditori oleh perempuan. Bukunya sendiri sudah beredar sebanyak 25 juta eksemplar dan diterjemahkan ke 37 bahasa serta menimbulkan histeria bagi jutaan perempuan berusia 12-45 tahun. Mengutip kata Edward, "You can google it if you want."

Apa sih hebatnya Twilight? Apa yang membuat bahkan Barack Obama saja mengatakan bahwa dia juga ikut membacanya. Padahal ini cuma kisah cinta kacangan yang ditulis oleh ibu tiga anak dari Arizona Amerika Serikat, yang penganut agama Mormon yang taat pula. Beneran kok ceritanya roman nggak penting, tapi cara Stephenie Meyer menampilkan cinta yang sensual tanpa seks itulah yang membuat para pembaca tambah berdebar-debar, sampai menahan napas. Di filmnya, kobaran ini tidak sedahsyat dalam buku, namun tidak bisa dibilang gagal pula. Pas, tapi kurang. Kurang puas rasanya mendengar ungkapan-ungkapan cinta Edward pada Bella. Yah, yah, I'm a romantic fool.


Cinta. Patah hati. Kebaikan. Kejahatan. Manusia. Iblis. Itulah inti Twilight. Sebagai manusia kita akan terhubung dengan kejadian-kejadian dalam novel ini dengan komentar, “ya ampun ini gue banget ya!”

Siapa pun orang yang pernah jungkir-balik karena cinta, pasti akan ngerti buncahan perasaan Bella dan Edward dalam Twilight. Bagi yang pernah patah hati karena cinta, pasti akan langsung “kena” ketika baca New Moon. Bagi yang pernah merebut kembali pacarnya atau mencintai milik orang lain, pasti akan nyambung saat baca Eclipse. Terlebih lagi buat pembaca perempuan, ditambah bumbu cinta terlarang, hm, makin klop kan untuk pembaca lesbian?

Meskipun “terlahir” sebagai predator paling berbahaya di muka bumi, Edward dan keluarganya tidak berburu darah manusia, mereka hidup dengan darah binatang. Yang kalau diibaratkan, mereka adalah keluarga vegetarian. Dan mereka harus banyak melakukan kontrol diri untuk bisa menahan nafsu monster dalam diri mereka. Sama seperti manusia. Saat sudah punya pasangan, begitu besar kendali yang harus kita terapkan bagi diri kita kalau kita tidak mau “membunuh” pasangan kita. “Control your thrist.” Begitu banyak makanan di luar sana yang memohon untuk dicicipi, tapi pada akhirnya yang membedakan kita dari monster adalah kemampuan kita mengendalikan diri.

Eniwei, film sepanjang 121 menit ini bergerak dengan lambat di saat adegan roman dan bergerak cepat di saat adegan-adegan aksi. Jika kamu fans novel Twilight, film ini jelas kudu ditonton! Filmnya setia dengan buku. Bodo amat deh kalau ada komentar jelek tentang film ini... tapi buat saya, ini film yang berhasil mengangkat buku ke film dengan baik. Sampai saat ini otak saya masih dipenuhi wajah Edward. Ampun deh.

@Alex, RahasiaBulan, 2008


Tulisan Lakhsmi tentang Twilight,
http://treeofheart.blogspot.com/2008/11/twilight.html

11:19 PM

Stuck With Me Forever

Posted by alex |

*Peringatan: Membaca tulisan ini dapat menyebabkan mual, diabetes, dan gangguan pencernaan.

“Kamu di mana?”
“Di jalan,” jawab saya.
“Kok sepi?”
“Iya, lagi sepi,” jawab saya asal.
“Kalau di jalan kok nggak ada suara kendaraan? Bahkan suara angin aja nggak ada?”
“Aduh, udah ya, aku di jalan nih.”
“Kamu nggak di jalan nih, terlalu sepi.” Lakhsmi berkeras. “Kamu lagi sama siapa sih?”
“Udah ya, lagi di jalaaaan nih, Cay...”
“Yasud.”

Mengenal partner, saya tahu dia masih belum puas mendengar jawaban saya, secara saya memang belum di jalan karena saya sebenarnya masih di parkiran motor. Tapi karena saya sudah pamit pulang sejak sepuluh menit sebelumnya, saya malas menjelaskan kenapa saya masih nyangkut di parkiran dan belum di jalan juga. Saya malas menerangkan bahwa saya mesti mengambil bungkusan bakso dari rekan kerja saya dan mesti berbasa-basi sejenak dulu dengan pemberi bakso itu.

Pemikiran bahwa saya akan lebih cepat jalan dengan bilang saya sudah di jalan dan tak perlu menjelaskan perihal bakso tersebut ternyata salah besar. Hahahaha....

Lima belas menit kemudian hape saya bergetar lagi. Kali ini saya sungguhan sudah di jalan. Sebelum Lakhsmi mengucapkan Halo, saya sudah menjawab, “Udah mau masuk parkiran nih.”
“Aku jemput kamu nih. Udah di depan apartemen.”
“Hah?”
“Iya, buruan!”

Ampun deh! Saya buru-buru memarkir motor dan bergegas masuk. Melihat wajahnya yang nyengir nakal, saya langsung ketawa ngakak, “Cay, kamu tuh yaa... pasti mikir macam-macam, ngira aku bawa cewek ya di kamar sampai dijemput segala.”
“Iya, soalnya tadi tuh sepi banget. Aku nggak percaya kamu di jalan. Latar belakang suara kamu terlalu hening, seperti lagi di kamar.”
“Hahaha, untung kamu tadi papasan sama aku lengkap dengan jaket dan helm tukang ojekku yang nggak keren banget itu, sambil nenteng tas kerja.”
Saya pun kemudian menjelaskan perihal bakso dan blablabla, seperti yang sudah saya tulis di atas.

“Cay, you’re adorable when you’re jealous. Cemburuan kamu yang kali ini lucu cute gitu.”
“Menyebalkan!”
“Aku tuh cuma sama kamu, beb. Nggak ada cewek lain. Buat tidur aja, aku nggak ada waktu, apalagi buat selingkuh. Capek, Cay. Kamu tahu akulah, aku nggak bakal hidup tenang kalau selingkuh. Bisa-bisa aku kena stroke lalu mati.”

Tanpa dinyana, Lakhsmi berkata, “Sayang, aku bisa mati tanpa kamu.”
“Ouch, babe, kamu tuh hidupku. Dan aku nggak bakal bisa hidup dalam dunia tanpa kamu."
“Aku cinta kamu, Say. Dan plis kamu jangan mati. Kalau kamu mati, aku juga mati, Kasihan anak-anak.”
“Beb, aku nggak akan pergi ke mana-mana. You're stuck with me. Forever.”
"Stuck like a glue."
Kalau udah kayak gini ya, bawaannya mau peluk-pelukan dan cium-ciuman selama-lamanya deh. Hehehe...

"Kamu tau nggak sih, Cay? Jatuh cinta tuh hal yang mudah. Kamu dan aku pasti tahu benar hal itu. Tapi cinta nggak pernah cukup buat menjadikan dua manusia bisa bersama. Yang kita punya lebih dari itu. Ada ikatan di antara kita yang tidak bisa dihancurkan oleh jarak, waktu, atau orang ketiga. Kayak Edward dan Bella gitu deh, babe.
“Mulai deh kamu ngutip-ngutip si Edward...”
“Sayang, kamu tahu nggak sih seberapa pentingnya kamu buat aku? Bisa nggak kamu membayangkan sebesar apa cintaku padaku? Kamu tuh hidupku, dan jika ada selamanya di dunia ini, aku berjanji untuk mencintaimu setiap hari untuk selamanya.”
"Cintai aku seperti Edward mencintai Bella?"
"Selalu. Selamanya..."
Hihihi, Lakhsmi bisa muntah darah sebentar lagi kalau saya lanjut tentang obsesi saya terhadap Mas Edward dan Dik Bella dalam Twilight Saga. Dan jika kamu tidak tahu apa sih Twilight ini, mungkin selama tiga bulan terakhir kamu hidup di kerak bumi.

Tapi, babe, kalau nggak ngutip tuh buku nggak sah nih tulisan kali ini. Aku ngutip Eclipse ya... “Jikalau yang lain-lain lenyap, tapi kau tetap ada, aku akan tetap ada; namun jikalau yang lain-lain bertahan, tapi kau lenyap, jagat raya akan berubah menjadi tempat yang asing. Dan aku tahu tanpa siapa aku takkan bisa hidup.”

@
Alex, RahasiaBulan, 2008
PS: Cay, tolong jangan kepret aku pake sarung kamu itu ya sehabis baca ini, mwuah. Iya, iya, tulisannya memuakkan, kayak makan dua loyang martabak manis sekaligus... hihihi.

Bagaimana kau melanjutkan hidup setelah hatimu hancur dan hidupmu tak keruan setelah orang yang kaucintai pergi dari hidupmu?
Sebagian orang mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan hidup, sebagian lagi memilih bertahan dan menunggu.

Elizabeth (Norah Jones) adalah perempuan yang patah hati dan memutuskan untuk menunggu kekasihnya kembali. Dia menitipkan kunci apartemennya pada Jeremy (Jude Law) pemilik kafe yang tinggal di seberang apartemennya, seandainya kekasihnya memutuskan untuk kembali dia bisa mengambil kunci itu pada Jeremy.

Dan Elizabeth pun menunggu. Bersama Jeremy. Dalam malam-malam yang diisi dengan obrolan dan pie blueberry. Kenapa pie blueberry? Karena itulah jenis pie yang nyaris tidak pernah dipesan pelanggan kafe. Tapi Jeremy tetap membuat pie itu, untuk jaga-jaga kalau saja ada yang memesannya. Jeremy bercerita tentang kunci-kunci yang dititipkan padanya, dan ditaruh dalam mangkuk. Tidak berbeda dengan Elizabeth, Jeremy pun salah satu dari manusia soliter yang menunggu cintanya kembali. Mereka adalah manusia-manusia ngeyel yang keras kepala dalam romantisme penantian cinta tanpa akhir. Sesungguhnya hanya perlu “closure” untuk membuat mereka bangun dari kenyamanan semu itu, sebagaimana yang diperoleh Jeremy pada pertengahan film dan Elizabeth pada akhir film.

Sebagaimana film-film karya sutradara Wong Kar Wai lainnya, My Blueberry Nights bercerita tentang manusia-manusia soliter. Manusia-manusia yang nyaman dengan kesendirian mereka, namun tetap membutuhkan manusia lain untuk tetap hidup. Manusia-manusia yang bisa melewati hidup sendirian, namun tanpa suara menjerit lantang, “Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendirian.”

Seperti yang ditampilkan sutradara asal Hong Kong ini dalam Chungking Express dan In the Mood for Love, Wong Kar Wai bermain dengan bahasa warna visual (ungu dalam film ini) dan soundtrack/music score yang pas. Meskipun tidak sedahsyat film-filmnya yang berbahasa mandarin, My Blueberry Nights adalah film pertama berbahasa Inggris karya Wong Kar Wai yang diputar dalam pembukaan Cannes Film Festival ke-60 tahun 2008. Oya, ini bukan film lesbian, tapi tokoh-tokoh utama dalam film ini dikuasai oleh tiga perempuan. Norah Jones, Rachel Weisz, dan Natalie Portman. Dan ketiganya menampilkan akting terbaik mereka meskipun tidak fenomenal amat. Ini adalah film perempuan banget, dan tidak rugi melihat tiga perempuan cantik ini adu akting.

Film-film Wong Kar Wai selalu memiliki arti personal buat saya. Secara pribadi saya selalu jatuh cinta pada film-filmnya. Pada manusia-manusia yang ditampilkan dalam film-filmnya. Pada kesepian. Pada malam hari. Pada kesunyian. Saya kadang-kadang menganggap diri saya seperti makhluk soliter ciptaan Wong Kar Wai. Ada bagian diri saya yang mengisi malam dan sunyi. Malam-malam insomnia yang membuat saya tidak bisa tidur sebelum lewat tengah malam. Namun lebih seringnya, ada kenyamanan tidur bersama pasangan yang bisa memberikan pemenuhan bagi diri kita sedemikan rupa. Saya rasa penyerahan diri tertinggi pada orang yang kita cintai adalah ketika kita memiliki rasa nyaman bersama pasangan, yang salah satunya adalah saat kita bisa tidur rileks di sampingnya.

Kembali ke Elizabeth yang kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan New York, karena menunggu kekasihnya terlalu menyakitkan dan dia tak sanggup mengucapkan selamat tinggal. Satu-satunya cara adalah pergi dengan membawa luka. "How do you say goodbye to someone you can't imagine living without?

Elizabeth sampai ke Memphis dan bekerja sebagai pelayan bar. Di sana dia bertemu dengan polisi alkoholik yang masih menunggu cinta istrinya, sementara sang istri sudah bersama entah berapa banyak lelaki. Sementara sang istri (Rachel Weisz) kepingin suaminya berhenti mencintainya begitu dalam, berhenti menunggu, dan melepaskannya. Dalam film ini Rachel Weisz tampil teramat seksi dengan gaun ketat dan rambut acak-acakan. Dan di antara tiga perempuan dalam My Blueberry Nights, she's the Wow!

Dari Memphis, Elizabeth melanjutkan perjalanan ke Nevada dan bertemu dengan Leslie (Natalie Portman). Karena kalah judi, Leslie minta diantar oleh Elizabeth ke Texas. Bersama Leslie, Elizabeth belajar bahwa sudah saatnya dia menghargai apa yang dia miliki, bukannya berpegangan pada keinginan untuk menunggu.

Selain menjadi pemeran utama, Norah Jones juga mengisi soundtrack film ini. Suaranya yang renyah mendayu sangat pas untuk film ini. New York malam hari. Dua manusia soliter bertemu dan saling mengisi. Perjalanan hingga Memphis lalu Nevada juga perjalanan soliter yang harus ditempuh oleh Elizabeth untuk berhenti menunggu, belajar mengucapkan selamat tinggal, dan melanjutkan hidup.

Saat kau tidak bisa melepaskan, kau tidak bisa melanjutkan hidupmu. Seberapapun “bahagia”nya kau menunggu, hidupmu tak berlanjut. Kau hanya berputar-putar dalam lingkaran bahagia semu dalam hidup solitermu. Itulah inti My Blueberry Nights. Endingnya pun sebenarnya tidak sulit ditebak. Setelah menghabiskan hidup hampir setahun dalam perjalanan menjauh dari rasa sakitnya, Elizabeth pulang, dan menyeberangi jalan dari apartemennya menuju ke tempat di mana kunci-kunci dalam mangkuk itu tidak pernah diambil oleh orang yang diharapkan. Ke kafe tempatnya menghabiskan malam-malam Blueberry-nya bersama Jeremy.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2:51 PM

Gema Keheningan

Posted by alex |


"Sometimes one creates a dynamic impression by saying something,
and sometimes one creates as significant an impression by remaining silent."
(Dalai Lama)

Katakan padaku seperti apa suara kebenaran itu? Apakah suaranya itu bergaung lantang, membahana hingga ke pelosok desa? Ataukah suara kebenaran itu hanya bisa didengarkan melalui keheningan?

Suara kebenaran yang dilantunkan seseorang, dinyanyikan ceria oleh pendengar lain, menyebar ke seantero negeri. Diaransemen berulang-ulang sesuai mood si penyanyi, dibuat karaokenya, dipancarkan oleh anak-anak pengamen jalanan. Semua orang senang mendendangkannya setiap hari, seperti lagu-lagu dari radio yang membahana didengar kala perlu dimatikan saat membosankan.

Ada pula suara kebenaran lain yang disimpan dalam keheningan. Diperam dan meresap melalui sunya meditasi. Yang kemudian bergema dalam lantunan tanpa kata-kata, merasuk ke dalam benak mereka yang mau mendengarkan. Gema itu memantul, lalu menyebar ke dinding sukma, mengalir dalam darah.

Biarlah suara-suara sumbang, tuduhan, pengkhianatan versi XP, gosip paling pas, komentar-komentar sahih berseliweran dalam oksigen yang dihirup bersama-sama dengan riang gembira. Oksigen, untuk kebutuhan hidup. Oksigen, untuk mempertahankan diri. Oksigen, untuk yang lain-lain.

Biarlah semua orang mempercayai kebenarannya masing-masing. Apa pun yang kulakukan, pilihan apa pun yang kuambil, aku tetap salah, kau yang (tampak) benar - tanpa definisi yang jelas arti kebenaran itu.

Percuma, kan? Dan mungkin,
“Silence is sometimes the best answer" (Dalai Lama)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:45 PM

Hujan

Posted by alex |

Air menetes satu-satu. Awalnya perlahan. Tapi aku tahu beberapa detik kemudian tetesan air ini akan berubah menjadi duri-duri yang melesat bak panah dari langit. Kutarik tangannya. “Ayo, cepetan!” Dia pun bergegas mengikuti langkahku. Tangannya menutupi kepala seakan hal itu bisa menolongnya dari sergapan air.

“Sedikit lagi sampai, kalau kita lari, kita mungkin keburu sampai ke apartemen.”
Terlambat, hujan keburu mengguyurkan bah ketika jarak apartemen hanya tinggal selemparan lembing. Tanganku ditariknya ke depan toko yang sudah tutup. Dia bersandar di depan pintu toko, aku otomatis berdiri di hadapannya. Tubuh kami berdua terlindung dari terpaan hujan. Hanya ada cahaya kuning dari lampu bohlam di atas kepala kami, tapi aku bisa melihat wajahnya yang basah. Kuseka pipinya dengan jemariku, “Apakah ini hujan atau air mata di pipimu?”

Dia mendongak, tak menjawab. Tangannya meraih kepalaku. Bibir kami mendekat. Kurasakan bibirnya yang dingin tanpa lipstik, bergetar beradu dengan bibirku. Ciuman sepasang kekasih yang malu-malu seperti kupu-kupu menghinggapi bunga. Ciuman penuh belitan yang mampu menahan waktu. “Bercintalah denganku,” katanya. Dan aku pun menciumnya lagi. Ciuman sepasang kekasih yang sudah saling mengenal bentuk dan rasa selama bertahun-tahun.

“Ide siapa tidak membawa payung?”
“Kamu tahu apa arti payung buatku.”
“Benda milikmu yang paling sakral. Selevel dengan kitab suci.”
“Hujannya nggak deras-deras amat kok.”
Dan jadilah kami berlari menembus hujan, melintasi genangan air, menyeberangi jalan penuh mobil. Bergandengan tangan.

Kami seperti sepasang kucing yang kecebur got, melintasi satpam yang kebingungan melihat betapa tidak kerennya kami mencipratkan air di mana-mana. Terkikik, kami masuk ke lift dan memencet tombol 23. Bergegas kami masuk ke apartemen, melepaskan pakaian kami yang basah, lalu menuju kamar mandi. Berdua. Siraman shower yang hangat begitu nikmat menghajar tubuh kami yang menggigil. “Bibir kamu biru.” Lalu kukecup bibirnya lagi, lagi, dan lagi.

“Aku nggak pernah menangis, babe.”
Yes, you did. Kamu menangis saat kamu menyakitiku.”
Dan kali ini dia duluan menciumku. Lama dan dalam. Tidak ada air mata.

Kami hanya menyeka tubuh seadanya. “Dingin banget nih. Matiin AC-nya.”
“Ini udah mati, babe.”
“Masuk ke dalam selimut aja.”
“Kata di buku...”
Shut up, babe, jangan ngomong buku itu lagi, kita udah telanjang nih.”
“Berbagi panas tubuh...”
Kami tertawa terbahak-bahak, mengingat isi buku itu.

Kami bercinta seperti dua manusia yang pulang setelah bertahun-tahun tersesat di hutan. Tidak ada malu, tidak ada sungkan, tidak ada ragu. Segala sentuhannya begitu alami, begitu nyata, begitu familier.

“Untuk satu malam ini, bisakah kita melupakan segalanya selain hanya kita berdua? Rasanya tidak pernah ada waktu yang cukup seperti itu. I need to be with you. Just you,” bisikku.
“Babe, kamu harusnya tahu dunia di luar sana tidak menarik bagiku, tanpa kamu.”

“Cintai aku seakan hari esok tak pernah ada lagi,” bisiknya.
“I love you. I have always loved you, and I will always love you.”

Kurasakan tubuhnya bergerak dalam pelukanku. Kulepaskan dia, tanganku seakan mati rasa tertindih kepalanya. Lamat-lamat kubuka mataku. Jendela di luar masih basah oleh hujan. Hanya rintik-rintik kecil. Matahari pagi malu-malu menyapa di balik awan.
“Jam berapa, babe?”
“Nggak tahu.”
“Aku paling suka pagi-pagi seperti ini. Terbangun dalam pelukan kamu.”
Dia bergerak, menelikungkan tubuhnya sehingga berhadapan denganku.”Mulut kamu bau, babe.”
“Kamu juga.” Tapi tak menghalangi kami untuk berciuman.

Dia bangun dari ranjang. Tubuhnya yang telanjang berjalan menuju jendela. “You look... sexy,” kataku memandangnya. “Dan kurasa lima ratus orang dari apartemen seberang sana juga menganggap kamu sexy.”
“Hahaha, aku selalu suka memandang hujan dari jendela apartemen. Memandangi orang-orang yang bergerak di bawah.”
“Ya, dan orang-orang juga senang memandangimu dari jendela.”

Aku bangun melangkah ke arahnya, memeluknya dari belakang. Ikut memandangi rintik hujan yang menghantam sosok-sosok mungil berpayung di bawah sana. Kukecup bahunya dan kupeluk dia erat-erat. Dia masih memandang ke bawah ketika aku beranjak darinya. “Nih, pakai kemejaku, babe.” Kulemparkan kemeja pink milikku yang tersampir di kursi.

Aku mengambil sweter hijau dari lemari, berjalan menuju pantry, dan kembali dengan secangkir kopi. Dia sudah mengenakan kemejaku dan celana pendek, duduk di depan laptopnya, mengetik entah apa di sana. Matanya sesekali menerawang ke jendela. She's in one of her mood.

Aku duduk di ranjang, menaruh kopi di meja samping. Mengambil novel yang belum habis kubaca. Dan aku memulai pagiku dengan melanjutkan bacaan yang tertinggal. I'm in one of my mood too.

Hening. Hanya ada suara ketukan keyboard dan gesekan kertas dibalik. Sesekali ada suara kursi berdenyit dan cangkir kopi yang diletakkan kembali di meja. Sementara di luar hujan mengalir malas di jendela.

@Alex, RahasiaBulan, 2008
PS: Dear Lakhsmi, hujan mengingatkan aku pada kota yang romantis, tempat kita mengikat janji kita. Hujan mengingatkanku pada teriakan anak-anak yang gembira, pada parkiran Blitz Megaplex, pada romantisme tanpa henpon atau laptop. Kau pernah memberiku Pagi dan Malam Kegelapan Total. Kali ini kupersembahkan Hujan untukmu.

Oleh: Alex

Kemajuan teknologi membuat manusia merasa harus terus terkoneksi. Teknologi yang berubah demikian cepat membuat kita terkadang lelah harus berkejaran dengan kecepatan perubahan. Dan bagaimanapun, kita selalu kalah mengejar kecepatannya.

Saat kita bisa santai, kita merasa berdosa karena merasa terlalu egois, padahal kita harus stay connected demi teman-teman maya kita. Kita jadi manusia kesepian yang mencari dan terus mencari kebahagiaan di luar diri kita sendiri. Kita menarik siapa pun yang ada di dunia maya, berpikir bahwa maya itu bisa jadi realitas dan realitas adalah kenyataan yang bisa kita tunda kapan saja. Sahabat, kekasihmu, atau korban tepe-tepemu hidup di dalam laptop dan handphone.

Orang yang ada di depan mata kadang-kadang kita abaikan karena kita sering berpikiran, “Ah dia selalu ada.” Tapi yang jauh dan maya selalu kita cari-cari karena mereka tidak selalu ada dan karena ke-maya-an mereka itu, kita jadi merasa terus-menerus haus ingin “menyentuh”nya. SMS/MMS/YM/telepon yang masuk mengingatkan otak kita bahwa “Hai, aku di sini. Please stay connected with me.”

Kita jadi takut kehilangan tali koneksi yang rapuh itu. Rayuan, cinta, dan pemujaan lewat dunia maya terasa samar namun jiwa egois kita tidak mau kehilangan semua itu. Ibarat menggenggam udara. Kita terus berpegangan pada dunia semu yang rapuh karena takut kehilangan. “Masih ingat janjimu untuk mencintaiku selamanya?” Berapa lama selamanya dalam kemayaan? Seperti apa bentuk cinta yang semu? Saat dia jauh, kau berusaha menggapai-gapainya, menariknya kembali. Cukup dengan satu pesan pendek. SMS/YM/E-mail. “Masihkah ada aku dalam hatimu?”

Padahal perasaan itu perasaan yang semu. Ilusi. Yang mati-matian kita pertahankan karena kita takut kesepian. Kita mencari dan terus mencari sahabat, kekasih, atau siapa pun yang bisa kita pegang. Apalagi dalam dunia lesbian, yang konon mencari pacar sangatlah sulit. Kau berpegangan pada seseorang mati-matian. Terkadang, walaupun maya, kaupuaskan dirimu dalam kemayaan itu. Dan di antara itu ada manusia-manusia yang cuma berani di dunia maya tapi gentar menghadapi kerasnya kenyataan hidup. Ibarat burung onta memilih menyerudukkan kepalanya di pasir. Di dalam pasir dia berteriak, "Jangan tinggalkan aku ya. Aku takut tidak punya siapa-siapa."

Kita tidak perlu bertemu secara fisik, selama aku bisa curhat denganmu, menceritakan hari-hariku padamu, mengirimimu SMS, meneleponmu di saat senggang. Setelah telepon dimatikan, setelah SMS/YM berakhir lalu apa? Kamu tetap merasa haus, ibarat dahaga yang dituntaskan dengan air laut. Ada “it” yang hilang, yang tidak bisa tergantikan. Dan saat kau pulang ke dunia realitasmu di ujung waktu, kau baru sadar bahwa kau sudah mengenyahkan banyak orang untuk memegang “kesemuan” itu.

Makin lama kau merasa dirimu kosong. Hampa, walaupun kau berusaha menarik sebanyak mungkin udara ke paru-parumu. Semakin banyak kau menarik udara, kau tidak merasa penuh, tapi kau melayang. Dan itu makin membuatmu takut. Takut akan kehilangan kontrol diri dan jejakanmu di bumi. Rasanya gamang dan menakutkan.

Kita takut kehilangan rasa semu yang kita terima dari orang-orang di dunia maya. Kita ingin berpegangan dengan rasa itu tak peduli konsekuensinya. Kita menyimpan rasa itu dalam ruang kosong seperti kita menyimpan barang di gudang. Disimpan dulu, yang penting ada di gudang, dan bisa kita pakai kapan saja kita mau. Hingga lama kelamaan barang tersebut akan berdebu dan berubah fungsi menjadi sampah gudang dengan sendirinya.

Stay connected. Seharusnya teknologi membuat manusia terkoneksi, membuat manusia makin punya waktu untuk orang-orang yang disayanginya. Tetapi kenapa banyak manusia jadi makin kesepian?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:46 PM

Nonton Sinetron Yuk!

Posted by alex |

Sudah tahu kan saya penggemar sinetron? Menurut saya sinetron adalah tontonan hiburan yang paling pas buat penonton Indonesia, selain acara lagu-lagu gitu deh. Biasanya saya mengobrol tentang sinetron seru dan asyik ini dengan tante, rekan kerja, atau pembantu saya, tapi kali ini saya ingin sharing di blog. Menurut sata sinetron sebenarnya ada yang bagus-bagus kok, dan FTV di TransTV hari Kamis malam juga oke. Hehehe, promosi dikit boleh dong :)

Tadi malam saya nonton sinetron Khanza, itu lho yang diputar tiap hari di RCTI jam 20.30. Sehabis Sekar dan sebelum Yasmin, dan bareng jam tayangnya dengan Cinta Fitri 3. Huehehe, hafal banget yak. Khanza ini termasuk sinetron favorit saya setelah terbosan-bosan melihat Aqsa dan Madina yang entah kapan selesainya, plis deh bulan puasa udah lewat bentar lagi bulan haji.

Eniwei, jadi semalam si Khanza (Velove Vexia) ceritanya hamil tapi tidak tinggal sama suaminya, Nino (Jonas Rivanno). Jangan tanya saya kenapa dia bisa hamil padahal sebelumnya Nino punya istri Cilla (Alexandra Gotardo). Karena tiga hari saya nggak nonton, saya nggak tau deh kenapa Khanza akhirnya tinggal sama Cilla, dan Nino balik lagi tinggal sama bapak emaknya.

Cilla tadinya jahat, tapi pas tahu Khanza umurnya nggak lama lagi karena kanker otak atau apalah jadi baik banget sama Khanza. Dia bahkan nggak mau balik lagi sama Nino dan mutusin tinggal sama Khanza. Khanza juga karena nggak mau membuat Nino sedih memutuskan untuk menyembunyikan rahasia sakitnya dari Nino dan nggak mau tinggal bareng suaminya itu. Jadilah dua perempuan ini akrab dan tinggal bareng.

Jadi ada adegan lucu nih, yang subteks lesbiannya keras banget. Pas pemeriksaan kehamilan, di depan bu dokter Khanza menyuruh Cilla merasakan bayi dalam perutnya, “Karena bagaimanapun kamu akan jadi ibunya juga,” demikian kata Khanza pada Cilla. Lalu mereka tertawa bahagia sambil tangan Cilla memegang perut Khanza.

Adegan selanjutnya adalah adegan di toko pakaian bayi, ketika Khanza dan Cilla melihat-lihat baju untuk bayi “mereka”. So sweet deh, aduh, gimana ya adegannya, hm mesra gitu deh. Lalu di rumah pun Cilla khusus memasakkan makanan buat Khanza. Bukan adegan makan mewah dengan meja penuh makanan yang lengkap dengan jus jeruk dan lilin ya. Tapi makanan sederhana, secara Cilla cuma bisa masak fetucine dan spageti gitu. Jadi makanan yang disajikan pun makanan sepinggan. Ya ampyun, nggak pernah tuh nonton sinetron yang adegannya subteks banget. Huehehe.

Adegan-adegan dalam tayangan malam tadi jelas dibuat dengan sengaja menampilkan subteks lesbian secara halus. Penonton awam tidak akan merasakannya, tapi penonton lesbian akan berpikir, "Eits, apa nih?" Subteks ini bukan berarti Khanza dan Cilla sebenarnya punya perasaan satu sama lain dan akan dijadikan pasangan pada tayangan berikutnya. Tentu tidak. Tapi lebih berupa arti terselubung yang hanya bisa dilihat oleh mata tertentu yang paham dengan arti tersebut.

Yah, cuma mau sharing nggak penting sebenarnya, hehehe... Selamat menonton sinetron. Saya mau lanjut ke FTV di SCTV yang lucu nih. Cowoknya geblek dan gokil dengan akting alami, hahaha.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Oleh: Alex

Apa yang kaulakukan jika kau sudah menikah, memiliki tiga anak, dan jatuh cinta pertama kalinya dengan perempuan?


Alice Jordan memiliki kehidupan yang sempurna. Rumah idaman di pedesaan yang baru dibelikan oleh suaminya, Martin. Tiga anak yang melengkapi hidup berkeluarganya. Dan suami setia dan pekerja keras yang tak menuntut macam-macam darinya.

Akan tetapi, Alice tidak bisa menghilangkan perasaan depresinya. Perasaan bahwa dia menjalani hidup selama 31 tahun sambil “tidur”. Niatnya untuk meneruskan hobi melukis di rumah baru yang dinamai The Grey House di desa Pitcombe, Inggris, ternyata membuat Alice makin tertekan. Setelah melahirkan anak ketiganya, Charlie, Alice mandek dan tidak bisa melukis lagi.

Selama sepuluh tahun perkawinannya Alice Jordan tidak pernah merasakan gejolak perasaan yang membuncah terhadap suaminya, Martin. Dia bertemu dengan Martin pada awal usia dua puluhan, menikah karena jatuh cinta pada kebaikan Martin dan menyayangi ibu mertuanya yang memiliki taman indah idamannya. Tahun berlalu, kemudian Alice hamil anak pertama, Natasha, dilanjutkan dengan anak kedua, James, dan anak ketiganya, Charlie dalam masa sepuluh tahun. Namun selama itu Alice tidak pernah menjalani hidup sehidup-hidupnya.

Hingga akhirnya Alice bertemu dengan Clodagh Unwin, putri bungsu bangsawan di desa itu. Clodagh yang baru tiba dari New York adalah perempuan ugal-ugalan manja tipikal gadis kaya yang biasa mendapatkan apa yang dia mau. Menurut gosip yang beredar di desa, Clodagh pulang ke desa membawa patah hati dari New York. Namun yang tidak diketahui oleh semua orang adalah, Clodagh meninggalkan kekasih perempuannya di New York karena tidak tahan hidup bersamanya. Clodagh kemudian jatuh cinta pada Alice dan tanpa malu-malu masuk ke dalam hidup Alice dan menjadi bagian dari The Grey House. Kehadiran Clodagh pada awalnya memberikan warna dan kesegaran bagi hidup Alice yang tanpa warna. Anak-anak Alice pun jatuh sayang pada Clodagh yang mahir masak dan selalu menemani mereka sepanjang hari.

Alur cerita novel ini berjalan lambat, sesuai dengan karakter Alice yang lambat dan plegmatis melankolis. Baru pada halaman 100 dari novel setebal 270 halaman, Alice menemukan diri Clodagh yang sesungguhnya. Pada diri Clodagh, Alice menemukan dirinya sendiri yang lama mati suri. Bersama Clodagh pula, Alice menemukan arti kebahagiaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“What Clodagh has given me has enriched me. It hasn’t impoverished anything about me... It’s grown me up. It’s enabled me to love everyone else in my life properly, and as far as I can see only another woman would do for that instructive kind of love because only another woman could see I needed it and could understand about children and self and the permanent balancing act of motherhood and self.” (hal 238)

Novel ini diterbitkan pada tahun 1989, dan bersetting di pedesaan Inggris pada akhir tahun 1970-an hingga 1980-an. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kisah ini sangat “kampung Inggris”. Dan membaca judulnya saja, kita tahu bahwa affair Alice dan Clodagh pada akhirnya tercium dan berada di kampung membuat gosip yang beredar di pedesaan bisa menghancurkan keluarga. Dan pada akhirnya pilihan harus dibuat. Pilihan-pilihan yang jika dibaca dua puluh tahun sejak novel ini pertama kali terbit tampak "sesuai" sebagai keputusan dan pilihan era tahun 1980-an di desa.

Joanna Trollope, sang penulis novel ini, sudah menulis novel selama lebih dari 30 tahun. Berbagai penghargaan dan pujian telah diterimanya. Pada tahun 1996, dia memperoleh penghargaan OBE atas sumbangsihnya pada dunia sastra dari Ratu Ingrgis. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Lahir pada tahun 1943, Joanna Trollope masih menulis hingga sekarang. Dia menikah dua kali dan kini tinggal sendiri di London, dia memiliki dua anak perempuan dan dua anak tiri serta beberapa cucu.

Untuk kesekian kalinya Joanna Trollope menempatkan tokohnya dalam dilema Keinginan diri sendiri versus Tanggung jawab terhadap orang yang disayangi, sebagaimana yang terdapat dalam novel Trollope yang lain, Marrying the Mistress yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan pada akhirnya pilihan yang harus diambil oleh Alice juga dihadapkan pada dilema semacam itu.

Novel ini sudah diangkat ke layar televisi pada tahun 1994. Membandingkan novelnya dengan film, jelas dua hal yang berbeda. Novelnya jauh lebih kaya menampilkan pribadi sosok Alice hingga menjadi dirinya yang lesbian. Filmnya sendiri jauh lebih membosankan dibanding bukunya. Tapi paling tidak dalam novel, Joanna Trollope bisa menunjukkan perubahan karakter dan emosi Alice Jordan dari hanya sekadar ibu rumah tangga lemah hingga menjadi perempuan mandiri dengan segala konsekuensi keputusan yang harus diambilnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe