9:49 PM

Kecintaan Michelangelo terhadap Tuhan

Posted by alex |

Roma bukanlah tempat impian saya untuk berlibur. Namun satu dan lain hal menyebabkan saya akhirnya pergi berlibur ke Roma. Mendarat di Roma pada tengah hari setelah sebelumnya menghabiskan hari di Paris dan Jerman membuat saya langsung membuka jaket karena cuaca di sana ternyata lumayan bikin gerah. Kami (berlima) langsung berkunjung ke Vatican City ketika hari menjelang sore. Bukannya kami taat beragama atau apa... secara di antara kami berlima yang Katolik cuma satu orang. Tapi entah kenapa saya selalu terdorong untuk berkunjung ke Sistine Chapel dan melihat lukisan fresco Michelangelo.



Sayangnya kami kesorean sehingga tidak keburu ke Sistine, dan hanya bisa berharap masih punya waktu untuk mengantre untuk memasuki Basilika St. Pietro. Melihat antreannya saya sudah gentar... (gila, bisa berapa jam nih antre sepanjang ini?) tapi seorang sahabat saya bilang, “Tenang aja, sambil motret-motret, lalu ngobrol nggak lama kok. Palingan 45 menit.”

Kami pun berjalan memasuki ruangan Basilika tidak sampai satu jam kemudian. Tanda panah pertama yang kami ikuti adalah jalan menuju Tombs of Popes atau Makam Paus. Kami berjalan menuju ke bawah menyusuri tempat yang hening dengan lorong yang berisi makam Paus-Paus di masa lalu di kanan-kiri kami.

Tentu saja, makam yang jadi pusat perhatian utama adalah makam Paus Yohannes Paulus II yang wafat tahun 2005. Di depan makam, sejumlah pengunjung tampak berdoa dengan khusyuk. Di mata saya dia seperti kakek yang tidak saya kenal karena dia keburu meninggal sebelum saya lahir. Saya merinding dan nyaris berkaca-kaca ketika melihat makam beliau.

Setelah itu kami keluar dan melangkah memasuki ruang utama. Gema langkah di lantai marmer, dengungan orang yang mengobrol terpukau dengan kebesaran dan keagungan ruangan ini memantul dalam benak saya.



Sasaran kunjungan selanjutnya adalah patung Pieta. Sahabat saya sudah menjelaskan panjang lebar soal Pieta ini. “Ini patung Bunda Maria sedang memangku Yesus setelah disalib.” Pieta ini adalah hasil karya Michelangelo yang dibuatnya pada tahun 1498-1499. Sahabat saya melanjutkan, "Patung ini pernah rusak berat karena ada orang gila yang berusaha menghancurkannya dengan martil, patung yang kita lihat di ruang depan Basilika St.Pietro adalah patung hasil restorasi."

Selanjutnya kami melewati kapel yang dijaga oleh petugas. Tulisan yang tertera di sana adalah, “Dilarang Masuk Kecuali yang Ingin Berdoa. Dilarang Bicara. Dilarang Memotret.” Sahabat saya berbisik, “Mau masuk, kita berdoa sebentar.” Oke, tanpa babibu, saya ikutan masuk ke kapel itu. Berdoa di sana. Sepenuh hati untuk orang-orang yang saya sayangi. Saat itu saya merasa Tuhan adalah Sesuatu yang universal, masa Dia tidak akan mendengar doa saya di kapel itu karena saya bukan Katolik?

Dua hari kemudian saya kembali ke lapangan Basilika St. Pietro. Anehnya saya merasa nyaman di tempat itu setelah mengunjungi seantero tempat wisata di Roma. Saya merasa “pulang”, mungkin dalam kelahiran yang lampau saya pernah jadi pastor di sana. Entahlah.

Kali ini target kunjungan kami adalah Museum Vatican dengan tujuan utama Sistine Chapel. Dengan menerapkan The Law of Attraction kami berpikir positif bahwa hari itu antrean Sistine Chapel tidak panjang. Ternyata benar! Kami hanya perlu mengantre tidak sampai setengah jam untuk masuk ke museum Vatican yang terkenal itu. Yah, plus tiket masuk 13 Euro. :)

Di dalam kami berada kurang-lebih dua jam mengagumi pemujaan seniman-seniman Renaissance terhadap Tuhan, Katolik, dan Paus sebagai pemimpinnya. Dengan panduan jalur yang ditunjukkan anak panah, kami berjalan melewati berbagai galeri, patung, lukisan yang luar biasa indah karya-karya seniman Rennaisance Itali seperti Raphael dengan tapestrinya serta karya Botticelli, dengan lukisan-lukisan megah seperti The Temptation of Christ. Dan akhirnya tibalah kami ke Kapel Sistine. Tempat diadakannya conclave untuk memilih Paus baru.

Wow! Itulah perasaan saya ketika berjalan memasuki Kapel Sistine. Mulai dari dinding sampai atap kapel ini dipenuhi lukisan fresco buatan Michelangelo. Konon lukisan-lukisan tersebut dibuat antara tahun 1508 sampai 1512. Entah berapa besar biaya yang dihabiskan untuk membuat mahakarya seperti ini. Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan kemegahan dan “kegilaan” orang yang membuat lukisan-lukisan ini.

Lukisan besar The Last Judgement berukuran 1370 x 1200 cm berada di atas altar. Dibuat oleh Michelangelo tahun 1535-1541. It’s like “Triple Wow!” Saat mendongak, kita bisa melihat lukisan legendaris itu. Lukisan The Creation of Adam berada di tengah di antara adegan-adegan dalam Nine scenes from the Book of Genesis.
Mengutip dari wikipedia, urutannya adalah:

1. The Separation of Light and Darkness
2. The Creation of the Sun, Moon and Earth
3. The Separation of Land and Water
4. The Creation of Adam
5. The Creation of Eve
6. The Temptation and Expulsion
7. The Sacrifice of Noah
8. The Great Flood
9. The Drunkenness of Noah

Di bagian sisi-sisinya masih terdapat lukisan-lukisan yang tak kalah menakjubkan. Daripada saya salah memberi keterangan, secara saya juga nggak terlalu ngerti soal kisah-kisah dalam Alkitab, silakan lanjut baca di http://en.wikipedia.org/wiki/Sistine_chapel_ceiling

Melihat lukisan-lukisan di dinding dan langit-langit Kapel Sistine, saya serasa diberi kesempatan oleh Michelangelo untuk mengintip surga. Selain Leonardo Da Vinci, nama Michelangelo sering disebut dalam sejarah seni Itali. Keduanya adalah rival. Bersaing untuk menjadi yang terbaik. Bernama lengkap Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (1475-1564), pada masa mudanya memang dikenal sebagai pematung. Dua karya legendarisnya adalah Pieta dan David. Patung David telanjang ini amat terkenal dan siapa sebenarnya inspirasi Michelangelo dalam membuat David masih jadi misteri sampai sekarang. Ada yang bilang David dibuat berdasarkan kekasih Michelangelo. Yap, he’s gay.

Selama hampir 90 tahun usianya, Michelangelo tidak pernah menikah. Bahkan dalam sejumlah karya seninya, dia dianggap memuja maskulinitas lelaki, sebagaimana yang bisa kita lihat dalam patung David serta lukisan-lukisannya di Sistine. Bisa dibilang Michelangelo sedikit lebih beruntung dibanding Leonardo Da Vinci yang pernah dipenjara pada masa mudanya karena tuduhan sodomi. Sepanjang hidupnya konon Michelangelo mengingkari tuduhan homoseksualitas yang sering dituduhkan pada dirinya. Walaupun kegemarannya terhadap lelaki-lelaki muda sudah menjadi rahasia umum pada masa itu.

Ketika berusia 57 tahun, Michelangelo menjalin hubungan dengan Tommaso de Cavalieri yang saat itu berusia 20 tahunan. Tommaso disebut-sebut sebagai sumber inspirasi dari sejumlah karya Michelangelo, dan mereka terus bersama sampai akhir hayat Michelangelo. Tinggal di Roma membuat hidup Michelangelo mudah jadi sorotan Paus dan gereja Katolik. Akan tetapi Michelangelo juga dikenal sebagai penganut Katolik yang taat, meskipun dia mempertahankan hidup sebagai homoseksual.

Proyek-proyek besar di St. Pietro yang juga diarsiteki Michelangelo serta proyek Kapel Sistine membuat petinggi-petinggi Vatican berusaha "menulis ulang" hidup Michelangelo dalam catatan sejarah gereja dengan menampilkannya menjadi pria taat beragama yang hetero. Pria hetero yang kebetulan tidak pernah menikah dan menjalin hubungan dengan seorang janda ketika usia Michelangelo sudah lewat setengah abad, dan hanya tercatat menjalin hubungan surat-menyurat.

Sejumlah sumber menyatakan Michelangelo tidak menyukai Paus dan gereja Katolik. Mungkin dia tidak menyukai orang yang kebetulan menjadi Paus. Tapi setelah melihat hasil karyanya di Vatican City, rasanya sulit bagi saya untuk percaya bahwa orang ini tidak mencintai Tuhan dan gereja. Semata-mata dorongan keinginan untuk menghasilkan mahakarya tidaklah cukup bagi siapa pun untuk bisa menciptakan keindahan yang luar biasa semacam itu. Butuh cinta dan bakti yang tak terbatas untuk bisa membuat pahatan marmer Pieta, kubah di St. Pietro, pahatan-pahatan makam di bawah basilika, dan lukisan-lukisan di langit-langit Sistine. Di mata saya semua itu adalah hasil dari kecintaan seorang seniman gay bernama Michelangelo terhadap Tuhan dan agamanya.



@Alex, RahasiaBulan, 2007

Nick has a three-legged dog named Lucky, some pet fish, and two moms who think he's the greatest kid ever. And he happens to think he has the greatest Moms ever, but everything changes when his birth mom and her wife Jo start to have marital problems. Suddenly, Nick is in the middle, and instead of having two Moms to turn to for advice, he has no one.

Demikian sinopsis buku Between Mom and Jo ini. Nick remaja lelaki 14 tahun yang bernama lengkap Nicholas Nathaniel Thomas Tyler memiliki dua ibu. Satu ibu kandungnya, Erin, dan partner ibunya, Jo. Mom dan Jo memiliki sifat yang bertentangan. Mom orang yang hati-hati dan bertanggung jawab, sementara Jo serampangan dan tidak pedulian. Namun di mata Nick, keduanya adalah ibu yang terbaik. Yang satu mengisi kekurangan yang lain.

Dibesarkan dalam keluarga yang “berbeda” jelas membuat Nick sering jadi anak yang “unik”. Dia tidak punya banyak teman, atau saudara, bahkan ada gurunya yang tidak menyukainya lantaran dia anak dari pasangan lesbian. Namun Nick tidak peduli, karena cukup mendapat kasih sayang kedua ibunya. Terutama Jo, karena Mom lebih sering di luar rumah untuk bekerja. Sementara Jo adalah ibu yang asyik, yang bisa menemaninya bermain dan menghiburnya di kala sedih.

Namun dunia Nick runtuh ketika Mom dan Jo memutuskan untuk berpisah setelah belasan tahun bersama. Meskipun keluarga mereka telah melalui banyak hal bersama.... Kanker yang dialami Erin, ibunya, dan masalah kecanduan alkohol yang dihadapi Jo.

Karena Jo tidak pernah mengadopsinya, Nick harus tinggal bersama ibu kandungnya, Erin. Meskipun tidak mau kedua ibunya berpisah, namun Nick tidak berdaya. Keadaan makin runyam ketika ibunya memiliki kekasih baru bernama Kerri. Nick makin merasa kehilangan Jo. Meskipun Erin adalah ibu kandungnya, bagi Nick, Jo adalah ibu sejatinya.

“You’re my birth mom. I know that. I get that... But Jo...” I hesitate because I don’t know how Mom’s going to react to this. She has to know, though. Deep in her heart I think she does, and that’s the problem. That’s what makes it so hard to say. “Jo’s my real mom.” (hlm. 204)

Jika dalam buku-buku sebelumnya, seperti Luna dan Keeping You a Secret, Julie Anne Peters berkutat dalam permasalahan remaja transeksual dan lesbian, dalam Between Mom and Jo, sang pengarang selangkah lebih maju. Ia menuliskan suatu kisah tentang anak remaja yang memiliki sepasang ibu lesbian. Kisah yang membuat saya berkaca-kaca membacanya. Suatu kisah yang mengingatkan saya pada kebijaksanaan Salomo menghadapi dua perempuan yang memperebutkan bayi.


Kutipan dari: Between Mom and Jo - Julie Anne Peters, Hardcover edition, 232 pages, May 2006, Little, Brown and Company.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

4:37 PM

Film: Mulan - Ketika Anak Perempuan jadi Pahlawan

Posted by alex |

Mulan adalah film animasi Disney favorit saya. Selain Finding Nemo, tentu. Mungkin bisa dibilang Mulan adalah film animasi pertama Disney yang menyentuh isu gender/androgini serta menjadikan perempuan sebagai sosok jagoan.

Saya ingat, dulu saya suka sekali pada Superman hingga pernah nekat “terbang” dari meja dengan taplak terikat di leher hingga kepala saya benjol. Hal itu mengingatkan betapa apa yang kita tonton semasa kecil bisa berpengaruh pada hidup kita, dan mungkin saja melekat hingga kita dewasa.

Saat menonton Mulan, saya membayangkan diri saya masih kanak-kanak. Dan melihat Mulan berkuda, berlatih bersama pasukan serdadu yang isinya laki-laki semua. Melihat Mulan sama tangguhnya dengan lelaki-lelaki itu, menjadi pahlawan dalam film. Wow. Ternyata anak perempuan bisa jadi pahlawan.

Film Mulan yang dirilis tahun 1998 ini diangkat dari dongeng klasik Cina berusia 2000 tahun. Berkisah tentang gadis muda bernama Fa Mulan yang nekat menggantikan ayahnya yang sakit untuk maju ke medan perang untuk melawan pasukan Hun yang menyerang Cina. Oya, sebelum lanjut, Mulan bukan lesbian kok. Dan nggak ada subteks lesbi pula dalam film ini. :p


Mulan adalah gadis tomboi yang oleh makcomblang dicap tidak punya harapan mendapat jodoh lelaki yang baik karena sikapnya yang ugal-ugalan. Melihat ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan dipanggil tugas perang, Mulan tidak tega. Karena keluarga Fa tidak punya anak lelaki, maka sudah tugas ayahnya untuk membawa nama keluarga ke medan perang.

Setelah mencuri surat tugas ayahnya, Mulan pun memotong pendek rambutnya, menyamar sebagai lelaki untuk bergabung bersama pasukan yang dilatih menuju medan perang. Bersama sidekick-nya si Naga kecil yang bawel, Mu-Shu, Mulan berlatih dan bertempur melawan invasi bangsa Hun. Hingga akhirnya ketauan bahwa Mulan sebenarnya perempuan yang menyamar sebagai lelaki. Namun itu setelah Mulan berhasil menghambat langkah pemimpin musuh dengan taktik cerdasnya. Sang kapten marah ketika tahu, dan mengusir Mulan dari pasukan.

Walaupun karakter perempuan tangguh ini bukan seperti film Disney biasanya, namun pola standarnya tetap sama, akhirnya semua berakhir bahagia. Mulan kembali membuktikan diri sebagai pahlawan dan dia pun menikah dengan pak kapten yang tampan.

Sebenarnya dalam film-film silat Cina era tahun 1970-80an, perempuan yang menyamar sebagai lelaki untuk bertualang adalah hal yang biasa. Namun sebagai film buatan Disney untuk penonton anak-anak, Mulan memberikan semacam “pengajaran” terutama bagi anak-anak perempuan... bahwa kau juga selevel dengan laki-laki. Bahwa kau juga bisa jadi pahlawan.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

gambar dari: www.movies.yahoo.com

12:59 AM

Dalam Belanga Persahabatan

Posted by alex |

Beberapa hari terakhir ini saya bertugas di suatu tempat di luar Indonesia. Bersama beberapa rekan sekantor, saya harus menghadiri event besar tahunan tempat saya bekerja. Walaupun kadang-kadang saya tidak merasa di luar negeri karena sepanjang hari terperangkap dalam ruangan di antara satu meeting dan meeting lain dan sarapannya tetap nasi. :)

Eniwei, di antara jeda meeting, bos saya mendadak berkomentar, "Abis ini kita meeting sama orang-orang X. Kayanya orang-orang X lesbi semua deh." Saya langsung ketawa kecil mendengarnya. Kemudian saya melongokkan kepala melihat orang-orang X yang dimaksudnya. Ada dua perempuan bule di sana. Yang satu berambut pendek cepak, satu lagi berambut sebahu.

Seakan membaca pikiran saya, mbak bos berkomentar, "Yang pirang cepak itu kayanya lesbi deh. Yang satu lagi aku nggak tau, nggak pernah ketemu. Tapi yang dulu juga modelnya sama seperti itu." Kembali saya memanjang-manjangkan leher melihat perempuan itu. Dan gara-gara komentar bos saya itu, pas meeting bukannya konsentrasi, saya malah ngeliatin perempuan itu. Halah, bener-bener ngawur deh.

Untungnya sengawur apa pun saya, meeting berlangsung lancar. Kemudian bos saya berkomentar, "Di sini kebanyakan perempuan ya?" Saya kembali menoleh ke kiri-kanan melihat sekeliling dan mendapati memang mayoritas peserta dan orang-orang yang kami temui adalah perempuan. Termasuk kami.

Sudah lama saya menyadari bahwa perempuan memang memegang peran mayoritas dalam bidang pekerjaan yang saya geluti. Bukan bermaksud sexist, tapi saya paham laki-laki akan sulit mengerjakan bidang pekerjaan ini karena selain target market kami memang mayoritas perempuan, pekerjaan ini membutuhkan naluri dan kepekaan yang besar dalam urusan perasaan. Dan dalam hal ini saya setuju sekali bahwa
Men are From Mars and Women are from Venus.

Balik lagi ke isu lesbian.
Setelah menghabiskan malam-malam di hotel bersama rekan kerja, saya mendapati kami menjalani keakraban lebih daripada keakraban yang kami peroleh jika hanya bertemu di kantor. Plus ditambah penerbangan belasan jam yang membuat kami jadi makin akrab. Dari sana saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya belajar bagaimana rekan-rekan kerja saya yang hetero memandang saya sebagai lesbian. Bagaimana tanggapan mereka terhadap diri saya, bagaimana penerimaan mereka terhadap saya.

Bukan masalah besar, sebenarnya. Hanya hal-hal kecil yang membuat nyaman. Hal-hal kecil seperti peristiwa di atas, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Gimana kabar Lakhsmi?” atau “Sudah berapa lama sama dia?” Atau ketika SMS masuk, rekan kerja bertanya, “Lakhsmi ya?” Atau seorang rekan kerja bercerita tentang hubungannya dan kami berakhir dengan saling cerita tentang kehidupan cinta kami masing-masing. Mereka tidak memandang saya “beda” atau “lebih” atau “kurang”.

Beberapa hari bersama kolega dan rekan kerja itu membuat kami berada dalam satu melting pot. Saya merasa terjalinnya keakraban lepas batas dan lumernya perbedaan dalam belanga persahabatan adalah kelebihan istimewa yang tak dapat digantikan oleh aneka hubungan persahabatan yang lain.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Dua film ini adalah film jenis biopic yang mengisahkan kehidupan dua seniman biseksual. Henry and June berkisah tentang penulis Anais Nin, dan Frida berkisah tentang pelukis Frida Kahlo. Kedua perempuan ini adalah perempuan-perempuan hebat yang hidup melebihi zamannya. Jika Anais Nin lahir pada tahun 1903, Frida Kahlo lahir pada tahun 1907. Dan kedua film ini bersetting pada sekitar tahun 1930-an.

Kisah Henry and June dimulai di Paris tahun 1931, berkisah tentang cinta segi tiga antara Anais Nin (Maria de Medeiros) dengan Henry Miller (Fred Ward) dan June Miller (Uma Thurman), yang juga istri Henry. Film buatan tahun 1990 ini dibuat berdasarkan buku karya Anais Nin, Henry and June: From A Journal of Love: the Unexpurgated Diary of Anais Nin (1931-1932) yang terbit tahun 1986. Buku ini sendiri menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup Anais Nin pada bulan Oktober 1931 sampai Oktober 1932, ketika Anais terlibat hubungan asmara gila-gilaan bersama Henry dan June Miller.

Saat affair berlangsung Anais Nin sendiri masih istri Ian Hugo, yang saat itu baru pindah ke Paris. Pertama kali bertemu Henry, Anais mendambakan petualangan seksual dari Henry Miller yang pada saat itu sedang menyelesaikan novelnya, Tropic of Cancer. Anais sendiri digambarkan memiliki ketertarikan seksual terhadap Henry dan June. Petualangan Anais bersama pasangan Miller ini membangkitkan sisi dalam dirinya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Film berdurasi lebih dari 2 jam ini menampilkan sejumlah adegan seks yang bisa dibilang semi-erotic, dan setting Paris tahun 1930-an yang menawan. Namun secara pribadi saya kecewa menonton Henry and June karena penampilan Maria de Medeiros yang tidak bisa menghidupkan sosok Anais Nin.

Frida Kahlo adalah seorang seniman besar dengan perjalanan hidup yang luar biasa. Film ini dibuka ketika Frida (Salma Hayek) berusia 18 tahun ketika ia mengalami kecelakaan bus yang membuat tubuhnya lumpuh. Satu-satunya semangat bagi Frida adalah melukis. Ia melukis di mana saja mulai dari gipsnya hingga saat tubuhnya disangga dengan besi pun ia terus melukis.

Ketika sudah bisa berjalan, Frida mendatangi seniman Meksiko terkenal bernama Diego Rivera (Alfred Molina) yang umurnya nyaris dua kali lipat umur Frida, dan menyatakan bahwa Frida punya bakat besar. Diego yang juga terkenal dengan sifat buaya daratnya, kemudian menikah dengan Frida. Bersama-sama mereka menjalani kehidupan sebagai seniman yang saling memengaruhi satu sama lain.

Namun keduanya saling menghancurkan dalam kehidupan personal. Diego tidak berhenti tidur dengan perempuan mana pun yang diinginkannya, bahkan dia juga kedapatan tidur dengan adik perempuan Frida. Akan tetapi, Frida juga menjalani kehidupan yang bisa dibilang sama bebasnya. Selama menikah dengan Diego, Frida juga tidur dengan beberapa lelaki dan perempuan. Dan beberapa orang tersebut adalah lelaki dan perempuan ternama.

Puncaknya adalah ketika Frida menjalin hubungan dengan Leon Trotsky, seorang tokoh penting komunis, yang tinggal di Meksiko karena mendapat suaka politik. Ketika Trotsky ditemukan tewas, Diego bahkan sempat dicurigai sebagai pembunuhnya. Kala itu Frida sempat bercerai dengan Diego, tapi kemudian menikah lagi. Hubungan mereka tetap memburuk bahkan sampai akhirnya Frida meninggal pada tahun 1954.

Salma Hayek mendapat nominasi Oscar sebagai aktris terbaik 2002 dalam perannya sebagai Frida Kahlo. Film Frida ini merupakan film yang saya tunda-tunda terus menontonnya hingga suatu ketika saya mendapat kesempatan menyaksikannya di suatu pusat kebudayaan. Walaupun buat saya bukan termasuk film yang masuk kategori "Bagus Banget", namun Frida adalah film yang luar biasa menarik, dan memberi banyak pengetahuan bagi saya tentang hidup seorang seniman besar bernama Frida Kahlo.

§Alex, Rahasia Bulan, 2007

Masa remaja selalu membingungkan... tanpa jadi lesbian pun segalanya tampak kacau dan membingungkan seiring terjadi perubahan hormon dalam tubuh remaja. Bahkan tidak hanya remaja, terkadang orang dewasa pun masih banyak yang bingung, kacau, dan galau kala berdamai dengan lesbian dalam dirinya.

Empress of the World, adalah kisah tentang persahabatan dan cinta yang datang dari arah yang tak terduga. Nicola Lancaster berusia 16 tahun dan mengambil kelas liburan musim panas untuk anak berbakat di Siegel Summer Institute. Di sana ia mengambil kelas arkeologi karena bercita-cita menjadi arkeolog karena hobinya dalam melakukan analisis dan klasifikasi. Di asrama itu dia bertemu dengan beberapa teman yang membawa hidupnya ke arah yang tak terduga. Katrina si jenius komputer. Isaac cowok baik yang bingung. Kevin si pemusik menyebalkan... dan Battle penari cantik berambut pirang bermata hijau dari North Carolina. Nic alias Nicola tak pernah menyangka di antara sahabat-sahabat barunya, dia akan mengalami cinta pertama di musim panas yang indah dengan Battle Hall Davies.

Karena asrama perempuan terpisah dengan asrama laki-laki, maka Nic, Battle, dan Katrina menjalin persahabatan akrab dengan kenakalan-kenakalan wajar anak remaja. Katrina merokok seperti cerobong asap, sering ngomong tanpa pikir panjang, adalah tempat curhat Nic saat dia merasa gelisah ketika menyadari perasaannya terhadap Battle ternyata makin lama makin intens.

Musim panas. Gejolak cinta remaja. Semuanya mempercepat proses hubungan antara Nic dan Battle yang bab-babnya disusun berdasarkan tanggal. Nic menolak menyatakan diri lesbian karena sebelum dengan Battle di sekolah dia pernah naksir cowok keren bernama Andre. Apakah itu menjadikannya biseksual? Lesbian? Lesbian bingung? Apa? Penting nggak sih untuk tahu siapa diri kita? Lesbian,biseksual, straight? Bisa nggak kita jalanin aja hubungan ini, dan nggak perlu dibahas? Itulah yang mungkin ada dalam benak Battle ketika Nic berusaha membahas hubungan mereka, apalagi Battle bukan tipe yang piawai berkata-kata.


"Why are you so obsessed with the whole lesbian thing? I've liked boys before, I probably will again, so I believe that the appropriate word is bisexual, since you so desperate to give me label."
"Why are you obsessed with not being one? I believe that the appropriate word is denial." (h.139)

Demikian debat antara Nic dan sahabatnya, Katrina, ketika Nic berusaha mengklasifikasikan dirinya dalam label. Nic lupa bahwa terkadang cinta hanya perlu dirasakan, karena cinta bukanlah semacam ilmu pasti yang bisa dibahas, dipilah, dan dijelaskan.

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Dari sudut pandang Nic seorang, jadi segalanya hanya bisa kita lihat dari mata Nic. Itulah yang membuat buku ini jadi tampak gagap karena kita hanya melihat satu sudut pandang. Ditambah lagi begitu banyak tokoh dalam buku ini sehingga tampak sejumlah tokoh yang tak tergali sepenuhnya dan membuatnya jadi terkesan tempelan semata. Namun untungnya Sara Ryan, sang pengarang, mampu mengangkat realitas remaja dalam novel pertamanya yang terbit tahun 2001 ini. Buku Empress of the World ini juga mendapat penghargaan ALA Best Book for Young Adults, Lambda Book Award Finalist, A Booklist Top Teen Romance, dan pemenang Oregon Book Award.

Empress of the World tidak repot-repot membahas masalah coming out, atau bagaimana-kalau-ortu-dan-teman-tahu-kita-pacaran. Isu besarnya bukan di sana, tapi tentang kisah asmara remaja, ketika kau jatuh cinta pertama kali, dan ternyata objek cintamu memiliki jenis kelamin yang sama denganmu. Tidak seperti Keeping You a Secret atau Annie on My Mind, yang menyentuh masalah penerimaan lingkungan terhadap lesbian. Dan Empress of the World adalah salah satu dari sedikit buku remaja yang menyentuh topik biseksual, tanpa menghakiminya. Seakan sang pengarang ingin berkata, "It's okay. Wajar kalau kamu bingung dengan orientasi seksualmu. Itu manusiawi."

@Alex, RahasiaBulan, 2007
PS: Buku ini saya peroleh di toko buku Kinokuniya Singapura $14.75

Subscribe