Sebelum Trilogi The Matrix, film yang membawa nama Wachowski Bersaudara ke jajaran sutradara berbakat adalah Bound yang dirilis tahun 1996. Film debutan mereka ini dianggap sebagai salah satu film noir-thriller terbaik tahun 1990-an.

Kisah Bound berkisar tentang dua perempuan, Violet (Jennifer Tilly) dan Corky (Gina Gershon) yang berupaya mencuri uang 2 juta dolar milik mafia. Setting film terpusat di sebuah apartemen yang dihuni oleh Violet bersama kekasihnya Caesar (Joe Pantoliano) yang merupakan anggota mafia, sementara Corky adalah mantan napi yang bekerja sebagai tukang di apartemen sebelah Violet.

Bersama Corky, Violet membuat rencana untuk mencuri uang 2 juta dolar itu sambil melarikan diri dari Caesar. Saat membuat rencana itulah, kedua perempuan ini juga terlibat dalam hubungan asmara. Namun rencana yang mereka buat, makin lama makin berantakan sehingga Corky dan Violet harus bisa saling memercayai satu sama lain dan berimprovisasi untuk meloloskan diri.

Bound memiliki unsur ketegangan yang tinggi, dengan akting pemeran-pemerannya yang patut diacungi jempol. Walaupun hanya bersetting di apartemen, film berbujet "hanya" 4 juta dolar ini mengingatkan penonton bahwa tidak melulu efek khusus yang membuat sebuah film jadi seru dan menegangkan. Plot cerita dan karakter yang kuat membuat film ini jadi punya magnet untuk membuat penonton diam di kursinya sampai akhir, menanti adegan demi adegan hingga akhir film.

Film ini jadi menarik karena sebagai "film lesbian", Wachowski Bersaudara yang juga jadi penulis skenario film ini, tidak menekankan Bound pada kisah lesbiannya melainkan lebih berfokus pada jalan cerita dan karakter tokoh-tokohnya. Ini adalah film yang patut ditonton oleh penggemar film thriller, yang saking serunya membuat kita "lupa" bahwa dua tokoh utamanya adalah pasangan lesbian.

gambar: www.amazon.com

12:01 PM

5 Yang Paling Keren

Posted by alex |

*Iseng mode on*:)
Saya mengumpulkan lima perempuan jagoan dan lima penjahat perempuan yang sejauh ini menurut saya paling keren di layar TV atau film. Dan inilah hasil nggak ada bos di kantor ...(urutan no.1 artinya yang paling keyen :p).

5 Tokoh Jagoan Cewek Paling Keren di Layar Kaca

5. Sydney Bristow (ALIAS)
Mau dia lagi menyamar dengan wig merah, wig pirang, kacamata, atau apalah, Jennifer Garner bisa membuat Sydney Bristow jadi tokoh mata-mata yang mahal senyum jadi amat sangat cool.

4. Ellen Ripley (Alien: film series)
Sigourney Weaver mengangkat jagoan perempuan pada level bahwa perempuan bisa jadi pemimpin dan jagoan di antara lelaki pada Alien pertama tahun 1979. Favorit saya adalah Aliens (Alien 2), ketika Ripley harus menyelamatkan planet dari serbuan alien yang sudah beranak-pinak.

3. Sarah Connor (Terminator II: Judgement Day)
Di film Terminator II Sarah Connor (Linda Hamilton) bertransformasi jadi perempuan tangguh yang ingin menyelamatkan anaknya dari kejaran Terminator yang dikirim dari masa depan. Adegan Sarah berkaus singlet menggenggam senapan untuk menyelamatkan John Connor dan dunia dari kiamat tidak pernah lepas dalam ingatan saya.

2. Buffy Summers (Buffy the Vampire Slayer)
Saya hampir menangis ketika serial Buffy harus habis masa tayangnya pada musim ketujuh. Hiks. Pemburu vampir yang satu ini emang luar biasa keren. Buffy adalah jagoan yang mampu memadupadankan fashion dan action. Jaket kulit dan sepatu bot yang keren abis setiap kali dia patroli di kuburan bikin mata jadi segar.

1. Xena (Xena the Warrior Princess)
Kayaknya saya nggak perlu memberi penjelasan panjang lebar deh tentang Xena. Dia adalah perempuan paling tangguh yang ada di layar televisi sepanjang tahun 1990-an. Belum lagi subtext hubungan lesbiannya dengan Gabrielle :p.


Juga tidak kalah keren: Nikita (Peta Wilson) dalam La Femme Nikita. The Bride (Uma Thurman) dalam Kill Bill. Catherine Willows (Marg Helgenberger) dalam CSI.


5 Tokoh Penjahat Cewek Paling Keren di Layar Kaca

5. Catherine Tramell (Basic Instinct)

Film ini membuat nama Sharon Stone mendunia. Catherine Tramell adalah penjahat manipulatif yang belum ada bandingannya sampai sekarang.

4. Irina Derevko (ALIAS)
Hihihi, ini sih guilty pleasure saya. Sejak dulu saya selalu suka pada Lena Olin. Maklum... tipe tante-tante, hehehe. Ibu Sydney Bristow ini adalah mantan anggota KGB yang sadis dan manipulatif. Saya selalu menunggu-nunggu kehadirannya dalam serial ini.

3. Yù Jiaolóng (Crouching Tiger Hidden Dragon)
Zhang-Ziyi yang memerankan peran ini begitu menyebalkan dalam film Crouching Tiger Hidden Dragon, hingga saya ingin menggamparnya bolak-balik.

2. O-Ren Ishii (Kill Bill)
Gayanya yang dingin setiap kali membunuh membuat penonton merinding. Fiuh... adegan tewasnya O-Ren Ishii di atas salju oleh The Bride adalah salah satu adegan kematian paling bagus dalam film.

1. Mystique (X-Men)
Ugh! Rebecca Romijn, eh, Mystique, uh, is so sexy! Mystique yang bernama asli Raven Darkholme bisa berubah bentuk jadi siapa saja dan hatinya benar-benar dingin, sebiru tubuhnya. Konon di dalam komik X-Men, Raven Darkholme alias Mystique adalah biseksual.

Juga tidak kalah keren: Willow (Allyson Hannigan) ketika dia jadi penyihir jahat dalam Buffy the Vampire Slayer. T-X (Kristanna Loken) dalam Terminator 3.

Silakan bagi-bagi komen tentang jagoan/penjahat favoritmu.

gambar: www.wikipedia.com

11:07 PM

Opini: Watch Your Step, How Far Can You Go?

Posted by alex |

Bagian I
Suatu hari partner saya berkomentar ketika saya berdiri di depannya. “Kenapa sih kamu kalau berdiri mengangkang begitu? Apa itu ciri khas lesbi? Jadi inget si xxx, yang kalau jalan keliatan lesbi banget ya? Dia keliatan lesbi dari cara jalannya... sama kaya si xyz.”
Kontan saya ngakak dan balik bertanya, “Masa sih?”
“Iya, bener. Coba deh inget-inget.”

Maka saya pun berusaha mengingat-ngingat dan mencontohkan cara jalan sahabat-sahabat lesbian kami. Partner saya bilang, cara jalan saya tidak bergaya “lesbi”. Tapi cara berdirinya, iya. Waks, pikir saya, lebih parah lagi dong. Belum jalan aja, udah ketauan ;p.

Lalu partner saya menjelaskan lagi tentang cara berjalan “mengayun” ala lesbian. Dan dia menambahkan gerakan-gerakan seperti menyilangkan tangan di depan dada atau memasukkan tangan ke saku celana yang sering dilakukan lesbian.

Mulailah saya memerhatikan cara berjalan dan cara berdiri teman-teman lesbian saya. Ayunan langkah, bahasa tubuh, serta gerakan-gerakan tanpa sadar yang mereka lakukan. Makin lama saya memerhatikan teman-teman lesbian saya, saya jadi makin pusing. Hiks. Akhirnya saya menyerah dan bilang ke partner saya bahwa saya jadi seperti ibu saya yang sering berkomentar tentang perawan atau tidaknya seorang perempuan dilihat dari bentuk pantatnya.
...

Bagian II
Pada malam Natal, saya dan partner memutuskan untuk makan malam romantis di sebuah restoran yang terletak di gedung perkantoran pencakar langit. Ketika kami dipersilakan duduk di meja yang sudah disediakan—kami sudah memesan meja di dekat jendela, di mana kami bisa memandang langit Jakarta melalui jendela yang berkabut bekas rinai hujan sore harinya—pelayan kontan menarik dua kursi bersebelahan, bukannya menarik kursi yang berhadapan. Langkah saya terhenti sedetik. Buset, emangnya saya dan partner saya ketauan banget pasangan sampai-sampai si mbak pelayan menarik kursi bersebelahan sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap pasangan lelaki dan perempuan.

Setelah duduk, saya memandang partner saya lalu kami tertawa berbarengan, ternyata kami berdua memikirkan hal yang sama. “Emangnya dia tau dari cara jalan kita ya?” tanya saya masih terpengaruh teori “jalan lesbi”. Partner saya tertawa. Dia bilang, “Say, sekarang malam Natal, candlelight dinner, nuansa restorannya romantis dengan lampu remang. Kalau ada dua perempuan makan malam di sini, pakai reservasi segala, emangnya dia nggak bisa mikir kalau satu tambah satu sama dengan dua?”
“Kan mungkin aja kita cuma teman yang mau makan malam bareng,” jawab saya keukeuh.
“Say, nggak usah sok lugu gitu deh.” Partner saya mulai sok ketus lalu kembali tertawa. “Apa kamu nggak liat yang berduaan makan di sini cuma pasangan?”
Saya langsung mengedarkan pandangan kemudian tertawa kecil. Partner saya benar, kalau tidak pasangan lelaki dan perempuan, tamu-tamu lainnya adalah rombongan keluarga.

Kami melanjutkan makan sambil ngobrol tentang “bagaimana jika”. “Bagaimana jika suatu hari kami memesan honeymoon suite lengkap dengan paket romantic candlelight dinner di Bali, misalnya?” Bakalan bikin bingung nggak sih? Yang mungkin bakal kami lakukan untuk perayaan anniversary kami nanti... :) Kami kembali tertawa-tawa, kemungkinan besar kami akan makan lagi di restoran yang menurut kami lesbian-friendly ini, karena para pelayannya tampak “terbiasa” dengan kehadiran pasangan sesama perempuan yang makan malam romantis sambil saling memandang penuh cinta.

Bagian III
Gara-gara acara makan malam itu, saya jadi berpikir, “Seberapa jauh keakraban sesama perempuan masih dinilai wajar?” Saya selalu merasa tingkat toleransi keakraban terhadap sesama perempuan jauuuuh lebih tinggi terhadap pasangan lelaki. Di tempat-tempat umum seperti di mal, kita sering melihat sesama perempuan bergandengan tangan, atau bahkan berpelukan tanpa merasa aneh atau menganggap mereka lesbian. Coba bayangkan dua lelaki yang bergandengan tangan... ugh, pasti dibilang gay, homo, atau banci atau apalah. Perempuan yang mengenakan kemeja, jins, rambut cepak paling-paling hanya dibilang tomboi, tidak langsung dicap lesbian atau banci, kan?

Duo RATU, Maia dan Mulan, misalnya. Kita terbiasa melihat mereka bernyanyi atau diwawancara media dengan tingkat keakraban yang tinggi, seperti bergandengan atau berpelukan, tapi kita tidak menganggap mereka pasangan lesbian, kan? Namun seberapa jauh keakraban itu masih bisa dikatakan wajar? Apakah cewek yang sering “main di kamar” sahabat ceweknya sampai nginep segala masih dianggap wajar? Atau teman perempuan yang akrabbbbb sekali sampai ke mana-mana pun berdua masih dianggap wajar? Atau apakah dua perempuan yang mandi bareng masih dianggap wajar?

Saya jadi ingat dulu ketika saya dan mantan saya tinggal bersama dan suatu hari ibu saya sidak ke kamar kami. Dia terpana menyaksikan ranjang singel yang kami tiduri berdua. Pertanyaan yang terucap dari mulutnya hanya, “Memangnya cukup ranjang sekecil ini buat tidur berdua?” *Waks... Gubrak!

8:21 PM

Film: Kissing Jessica Stein

Posted by alex |

*Warning: Spoiler Alert*

Apa yang bakal terjadi jika dua perempuan yang sedang “mencari” bertemu di saat yang tepat? Mungkinkah suatu hubungan bisa terjalin antara seorang perempuan “straight” dengan perempuan “biseksual”? Itulah dasar pertanyaan yang melandasi film ini. Suatu hari Jessica (Jennifer Westfeldt) membalas iklan jodoh yang dipasang oleh Helen (Heather Juergensen) yang memang biseksual karena dia kebetulan menyukai puisi Rilke yang dikutip Helen dalam iklan jodoh itu. Kedua perempuan yang “mencari” ini kemudian bertemu dan tanpa dinyana hubungan mereka pun berlanjut makin intim.

Jessica dan Helen memiliki pendekatan berbeda dalam memandang seks. Helen adalah tipe perempuan “asal tubruk” dalam urusan seks tidak peduli lelaki atau perempuan selama bisa memuaskan hasratnya. Sementara Jessica tipe yang “biar lambat asal selamat” dan memilih untuk serius dulu dalam hubungan sebelum terjun ke ranjang. Keduanya saling beradaptasi terhadap perbedaan satu sama lain dalam dialog-dialog yang menyegarkan.

Helen yang menarik, cerdas, dan menyenangkan membuat Jessica terpesona. Jessica yang pada dasarnya straight menemukan apa yang dia cari dalam diri laki-laki pada diri Helen. Orang yang bisa diajak berdialog, mengerti dirinya, dan bisa jadi sahabat bukan sekadar kekasih. Berapa banyak sih lelaki yang mengerti kalau diajak ngobrol soal campuran warna lipstik? :p

Dan hubungan mereka jadi makin rumit (dan juga kocak) ketika keluarga Jessica mengetahui hubungan mereka berdua. (Tenang saja, tidak ada lesbian yang meratap dalam film ini---red). Adegan-adegan kocak, menyentuh, dan segar mengalir dalam hubungan keluarga Jessica yang menganggap Helen sebagai bagian dari keluarga mereka.

Endingnya meskipun tidak “happy ending”, tapi bukanlah ending yang buruk buat film ini. Jika pada akhirnya Jessica memilih laki-laki, itu tidak terjadi karena Jessica mendadak terbangun suatu hari dan bilang, “ups, kayaknya kita nggak bisa melanjutkan hubungan ini karena aku bukan lesbian.” Hehehe. Tapi karena Jessica memang lebih memandang Helen sebagai sahabat, bukan sebagai kekasih. Dan sebelum persahabatan mereka rusak, hubungan asmara yang jalan di tempat memang sebaiknya diakhiri.

Kedua pemeran utama, Jennifer Westfeld dan Heather Juergensen, adalah penulis skenario film ini. Chemistry antara mereka pas, meskipun dua-duanya heteroseksual dalam kehidupan nyata. Kissing Jessica Stein adalah film unik, karena ini menjadi film “lesbian” yang dilihat dari sudut lesbian, biseksual, dan straight melalui dialog-dialog cerdas yang bergulir antara tokoh-tokohnya.

1:55 PM

Buku: Fingersmith - Sarah Waters

Posted by alex |


Sarah Waters adalah penulis historical (lesbian) fiction terbaik saat ini. Dua bukunya, Fingersmith dan The Night Watch masuk dalam daftar shorlist Man Booker Prize dan Orange Prize untuk tahun 2002 dan 2006. Dua penghargaan bergengsi untuk sastra dunia. Sarah Waters memang spesialis menulis novel-novel lesbian yang bersetting sejarah. Tema disertasi PhD-nya adalah gay and lesbian historical fiction yang kemudian menjadi dasar novel pertamanya Tipping the Velvet yang terbit pada tahun 1998.

Fingersmith bersetting di Inggris pada tahun 1800an. Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dimulai ketika gadis yatim piatu bernama Sue yang dibesarkan kelompok pencuri di London diminta untuk membantu lelaki yang dijuluki Gentleman untuk menipu harta seorang gadis lugu bernama Maud. Jadilah Sue menyamar menjadi pembantu pribadi Maud di daerah pedesaan. Di situ tugasnya memuluskan jalan Gentleman agar bisa menikahi Maud lalu menguasai harta gadis itu. Sama seperti Sue, Maud juga yatim piatu. Dia dibesarkan oleh pamannya dan harta yang dimiliki Maud baru bisa jatuh ke tangannya jika dia menikah.

Perlahan-lahan di antara Sue dan Mau terbentuk persahabatan yang melebihi persahabatan antara pembantu dan majikan. Dan Sue yang mulai jatuh cinta pada Maud makin lama jadi tidak enak hati mengingat sejak awal dia memang bertujuan menipu Maud. Namun cerita novel ini tidaklah sederhana karena pada akhir bagian pertama, pembaca disuguhi kejutan dahsyat. Pada bagian kedua, narasi pindah ke sudut pandang Maud. Dan baru ditutup lagi pada bagian ketiga oleh Sue.

Novel ini penuh dengan twist, yang bakal membuat pembaca terpelintir terseret masuk ke dalam plot novel. Saya tidak mau bercerita terlalu banyak tentang isi ceritanya karena bakal mengurangi kenikmatan membaca jika saya sudah membocorkan terlalu banyak di sini. Tapi dijamin Anda akan terpukau dengan kehebatan Sarah Waters dalam memesona Anda lewat tulisannya.

Buat Anda yang "malas" baca buku, mungkin bisa menggunakan jalan pintas dengan menonton filmnya yang sudah difilmkan oleh BBC. Filmnya juga tidak kalah seru dan termasuk film yang bisa memindahkan isi buku ke layar dengan baik, tapi kenikmatan membaca buku masih lebih tinggi dibanding menonton film yang berdurasi sekitar 3 jam ini.


10:08 PM

Opini: Kapan Seseorang Sadar dirinya Homoseksual?

Posted by alex |

Sesudah membaca blog ini, seorang rekan sekantor saya bertanya “Sejak kapan atau kejadian apa yang membuat seseorang menyadari dirinya homoseksual? Tadinya saya sudah membuat penjelasan panjang lebar untuk saya muat di blog ini, tapi kemudian saya batalkan karena penjelasan itu entah bagaimana melebar ke kiri dan ke kanan. Saya baru sadar bahwa jawabannya sederhana. “Saya sadar bahwa saya lesbian ketika saya patah hati habis-habisan dengan sesama perempuan namun tetap tidak kapok untuk menjalin hubungan dengan sesama perempuan.”

Dalam setiap hubungan, hetero atau homoseksual, risiko disakiti oleh pasangan dalam bentuk apa pun selalu ada. Saya pernah merasakan patah hati yang luar biasa dengan sesama perempuan hingga hati saya hancur berkeping-keping dan butuh waktu lumayan lama bagi saya untuk mengumpulkan serpihan hati saya lalu mengelemnya kembali satu per satu hingga utuh seperti sediakala.

Kalau di novel atau film kan ada beberapa kisah tentang perempuan yang jadi lesbian setelah disakiti laki-laki atau karena dendam kesumat pada ayahnya atau figur “bapak” lain dalam keluarga seperti paman atau kakak laki-laki, atau alasan-alasan lain yang menyebalkan. Seakan kita “jadi lesbian” itu akibat trauma tertentu. Please deh!

Saya orang yang percaya bahwa kita (manusia) tidak memilih menjadi homoseksual atau heteroseksual sama seperti kita tidak bisa memilih untuk lahir dengan hidung mancung, bulu mata yang lentik, atau bibir ala Angelina Jolie, atau terlahir dengan bakat seperti Mozart atau Leonardo Da Vinci. Bahkan kita juga tidak bisa memilih siapa orangtua kita, karena kalau bisa saya ingin jadi anaknya Papi Hilton.

Oya, tiba-tiba saya baru ingat satu alasan konyol lagi. “Hati-hati, jangan terlalu akrab sama dia lho, dia kan lesbi, nanti elo ketularan.” Hahaha, nasihat itu ditujukan untuk saya sewaktu saya kuliah agar saya tidak berteman dengan dengan seorang sahabat saya yang butch abis. Antara geli dan kesal, saya balas menasihatinya bahwa lesbian itu tidak menular, tidak seperti flu atau TBC.

Saya punya banyak teman hetero yang entah bagaimana kok nggak ada satu pun yang “tertular” oleh saya padahal mereka berinteraksi dengan saya setiap hari. Bahkan mereka sering saya pinjami DVD film lesbian, yang kata seorang sahabat saya asyik ditonton bareng suami. Seorang sahabat karib saya pernah ciuman dan raba-rabaan dengan sesama perempuan sewaktu dia SMA dulu, tapi karena memang tidak ada “bakat” lesbian dalam dirinya, ya dia tetap straight sampai sekarang. Dan “kebajaan” straight-nya tidak bisa dibengkokkan oleh saya sekalipun :p.

Meskipun pernah patah hati, putus cinta dengan sesama perempuan, tapi saya tidak kapok menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi tidak sekali pun terbersit dalam pikiran saya untuk mencari laki-laki untuk mengobati luka hati itu. Ini bukan karena saya membenci kaum lelaki atau tidak pernah menemukan lelaki yang baik lho, tapi masalahnya, saya menemukan kenyamanan dan keamanan yang saya cari dalam diri perempuan. Dan dalam setiap fantasi tentang kehidupan “berumah tangga” pun saya membayangkannya dengan sesama perempuan. Ya, sama seperti sahabat saya yang kebajaannya tidak bisa dibengkokkan, baja saja justru sudah bengkok membentuk clurit dan tak bisa diluruskan lagi.


1:26 PM

Buku: Dicintai Jo - Alberthiene Endah

Posted by alex |

Alberthiene Endah mungkin salah satu dari antara novelis terbaik di Indonesia sekarang ini. Selain sebagai novelis, dia juga piawai menulis biografi, sebut saja KD, Venna Melinda, dan Chrisye, di antara orang-orang yang biografinya dia tulis. Gaya khas Alberthiene Endah alias AE dalam novel-novelnya adalah berlama-lama foreplay, alias berlama-lama di bagian depan/perkenalan cerita. Buat sebagian orang ini mungkin bisa dianggap kekurangannya, namun buat sebagian lain ini memang kekuatan menulis AE. Itu juga yang terjadi dalam Dicintai Jo. AE berlama-lama memperkenalkan Santi, sang tokoh utama dalam novel ini, hingga Jo baru muncul pada halaman 72 sementara pembaca sudah tidak sabar untuk “berkenalan” dengan Jo.

Santi, sebagaimana ditulis AE di bagian awal novel, adalah karakter berusia 27 tahun yang tidak percaya diri dan kuper meskipun dia bekerja sebagai wartawan di majalah perempuan ternama. Dia naksir lelaki kaya dan tampan bernama Erlangga, namun hanya berani memendam cintanya dalam hati. Kemudian dia bertemu Jo yang mentransformasi hidupnya hingga dia jadi perempuan yang percaya diri dan tangguh. Meskipun kelihatannya transformasi lewat pakaian-pakaian bagus dan dandanan mahal tampak “cetek” tapi buat sebagian orang ini romantis. Lihat saja film-film seperti Pretty Woman atau Maid in Manhattan tentang perempuan-perempuan yang bertransformasi jadi angsa setelah didandani pakaian mewah oleh sang lelaki pemilik modal. Bedanya, "lelaki" pemilik modal di novel ini adalah butch simpatik yang keren bernama Jo.

Bagi Santi, Jo adalah pilar penunjang hidupnya. Dia membutuhkan Jo untuk bisa tetap membuatnya nyaman sebagai perempuan yang percaya diri. Bersama Jo, Santi terseret masuk dalam satu kehidupan baru yang asing baginya, namun ia tidak cukup mencintai Jo untuk bisa memilih Jo dalam hidupnya.

Isu lesbianisme di novel ini tidak jadi basi dan garing dengan sang tokoh meratapi hidupnya sebagai lesbian, atau menolak cinta sang lesbi dengan alasan cinta terlarang, atau apalah alasan-alasan garink lain. Bagian yang paling saya suka adalah obrolan Santi dan Shinta, teman sekosnya, yang bercerita tentang kehidupannya sebagai lesbian (hal. 240-252). “...Lesbian bukan penyakit. Nggak ada kata sembuh. Lesbian hanya cara alamiah individu yang berbeda dari garis lazim, tapi itu bukan kesalahan. Nggak ada kata kembali sembuh...”

Dalam Dicintai Jo, AE juga menampilkan sosok lesbian yang bersahabat, sehat, dan tidak sinting, tidak seperti streotipe masih sering terjadi terutama di sinetron-sinetron tidak bermutu di TV. Secara garis besar, AE menulis Dicintai Jo dengan apik. Dicintai Jo adalah novel yang menyenangkan dan mengangkat isu lesbian (dan) gay dari kacamata realitas kehidupan yang terjadi di masyarakat perkotaan zaman sekarang.


5:45 PM

Kenapa Perempuan (Lesbian) Menikah?

Posted by alex |

Apa saja sih alasan bagi perempuan untuk menikah? Banyak kemungkinan jawaban yang muncul. Karena cinta. Karena sudah sewajarnya perempuan dan lelaki menikah. Karena tujuan pacaran kan menikah. Karena sudah dijodohkan. Karena tidak mau tua sendirian. Karena tidak mau jadi perawan tua. Karena sudah kepalang hamil. Karena kepingin punya anak sebelum terlalu tua untuk hamil. Karena sudah malas mencari lelaki lain. Banyak lagi karena-karena lain yang bakal terlalu banyak untuk ditulis di sini.

Tapi berdasarkan apa yang terjadi di teman-teman saya, kebanyakan perempuan (lesbian) memutuskan menikah karena tidak tahan atas desakan orangtua. Mungkin 9 dari 10 lesbian yang menikah dengan laki2 melakukannya karena merasa terdesak. Terdesak cengkeraman kasih sayang dan/atau dorongan orangtua yang ingin putri tersayangnya cepat-cepat menikah.

Buat banyak lesbian, menikah adalah kesempatan untuk melepaskan diri dari orangtua. Melepaskan diri dari tekanan/ocehan/desakan dari orangtua yang bertanya-tanya kenapa dia tidak menikah/kapan akan menikah dst,dsb. Tapi apakah menikah dengan laki2 adalah solusinya? Mungkin jawabannya ya, untuk sebagian perempuan. Atau ini justru lolos dari mulut singa masuk ke mulut buaya?

Ada sahabat dan mantan saya yang kemudian memutuskan untuk menikah karena tidak tahan lagi didesak ocehan ibunya, dan “memungut” lelaki paling baik yang dekat dengannya untuk dinikahi. Apakah dia bahagia dengan keputusannya? Saya tidak tahu. Ada pula yang setelah menikah kemudian mempertanyakan kembali keputusannya sehingga mulai mempertimbangkan untuk bercerai. Ada pula yang kebetulan mendapat suami yang amat baik sehingga memutuskan belajar untuk mencintai suaminya itu. Ada pula yang punya pacar perempuan setelah menikah, dan menjalani kehidupan ganda. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sini.

Ada beberapa yang mencari berbagai cara untuk bisa “meloloskan diri” dari desakan menikah ini. Salah satunya mungkin dengan mencari pekerjaan atau menuntut ilmu sejauh mungkin ke luar pulau agar bisa tinggal terpisah dari orangtua. Atau memutuskan untuk tinggal terpisah dari orangtua. Akan tetapi sebagian orangtua di Indonesia kebanyakan belum memercayakan anak perempuannya tinggal terpisah sebelum menikah. Namun cara-cara itu semua tidak menjamin kita bisa lolos dari desakan pernikahan ini, secara teknologi makin canggih gitu lho... Mami-papi zaman sekarang kan ngerti internet dan tahu bahwa komunikasi sekarang murah. Biarpun raga jauh, tapi suara atau e-mail tetap sampai juga dalam hitungan sepersekian detik :p.

Jujur, saya tidak punya solusi atas "persoalan" ini. Apa pun pilihan yang diambil, menikah karena menuruti keinginan orangtua atau mencari jalan untuk meloloskan diri dari pernikahan, semua itu kembali ke diri kita sendiri sebagai anak. Kadang-kadang bukan hanya orangtua yang otoriter kepada anak yang membuat anak perempuannya yang lesbian terpaksa menikah, tapi kadang-kadang ikatan kasih sayang orangtua juga membuat kita terbelenggu oleh kasih sayang itu sehingga mau tidak mau kita tidak akan melakukan tindakan yang bakalan “menyakiti atau mempermalukan” orangtua.

Bagaimana dengan saya? Saya bukannya tidak mau menikah. Saya mau menikah, tapi dengan perempuan. Kalau perlu, saya rela menunggu hal itu sampai bulan kehilangan pijakannya di langit Kenapa saya ingin menikah? Karena pernikahan membuat seseorang punya rumah untuk pulang.

9:50 AM

Persona: Jalan Berliku Melissa Etheridge

Posted by alex |

Melissa Etheridge bernama lengkap Melissa Lou Etheridge lahir di Leavenworth, Kansas tanggal 29 Mei 1961. Karier musiknya sebagai penyanyi rock dimulai pada tahun 1988 setelah meluncurkan album pertamanya Melissa Etheridge yang memperoleh penghargaan Double Platinum.

Sepanjang kariernya Melissa Etheridge sudah memenangkan dua Grammy Award dan menghasilkan sembilan album, yang terakhir dirilis tahun 2005, The Greatest Hits: The Road Less Traveled, kumpulan lagu-lagu terbaiknya sejak 1988.

Melissa coming out pada tahun 1993 saat inagurasi Presiden Bill Clinton. Tadinya banyak yang mengkhawatirkan kariernya akan habis setelah itu, namun yang terjadi malah sebaliknya. Karena setelah itu album Yes I Am yang dirilis tahun 1993 bisa dibilang menjadi album tersukses Melissa Etheridge dan terjual 6 juta keping hanya di AS saja. Beberapa lagu dalam album ini menjadi hits, antara lain: I am the Only One, Yes, I am, dan Come to My Window.

Pada saat itu Melissa menjalin hubungan dengan Julie Cypher, mantan istri Lou Diamond Phillips. Pasangan Melissa dan Julie ini kemudian memiliki dua anak, Bailey Jean, 1997, dan Beckett, 1998, dengan donor sperma, David Crosby, yang merupakan sahabat baik Melissa. Namun pada tahun 2001, pasangan ini berpisah.

Pada tahun 2003, Melissa “mengikat janji” dengan Tammy Lynn Michaels, aktris yang bermain dalam serial TV remaja Popular, dalam commitment ceremony yang diadakan di California. Negara bagian ini memang belum mengakui pernikahan sesama jenis, tapi mengakui sejumlah hak pasangan sesama jenis yang sudah mendaftarkan “ikatan” mereka.

Namun kabar buruk menimpanya pada tahun 2004, karena Melissa didiagnosis kanker payudara sehingga harus menjalani kemoterapi dan lumpektomi. Dan masa-masa itu merupakan masa paling berat dalam hidupnya. Penampilannya dalam Grammy Awards tahun 2005, membawakan lagu lama Janis Joplin, Piece of My Heart, mengundang tepuk tangan riuh karena saat itu Melissa Etheridge dengan kepala botak plontos akibat kemoterapi tetap tidak kehilangan semangat dan kelincahan rockernya di atas panggung.

Dalam satu wawancara, Melissa mengatakan dukungan Tammy Lynn yang sangat besarlah yang membuatnya bisa bertahan melewati kanker dan kemoterapi yang bak neraka. Kini Melissa Etheridge sudah sembuh dari kanker dan pada tahun 2006 kebahagiaannya makin lengkap dengan kelahiran putra kembar dari Tammy Lynn Michaels dari donor sperma yang dirahasiakan pada bulan Oktober 2006. Saat ini, selain bernyanyi Melissa Etheridge menjadi aktivis untuk kanker payudara serta pendukung hak-hak asasi gay/lesbian.

sumber:
www.wikipedia.com, www.melissaetheridge.com, www.ivillage.com





Ayo, buat lesbian yang baca blog ini, angkat tangan kalau di antara kalian masih berteman baik dengan mantan kalian. Yap, yap, yap... Saya melihat banyak tangan teracung. (Termasuk saya :p)

Saya punya beberapa mantan (d’uh) dan saya masih menjalin hubungan akrab dengan beberapa dari beberapa mantan itu, yang kadang-kadang menimbulkan kecemburuan dari pasangan saya. Bukannya saya sengaja mau bikin partner saya cemburu atau apa dengan bersahabat dengan mantan, tapi keakraban saya dan mantan-mantan saya itu dilandasi rasa persahabatan yang tulus bukan karena masih belum melupakan cinta lama.

Kenapa ya fenomena ini terjadi di kalangan lesbian? Berbagai kemungkinan jawaban melintas dalam benak saya. Mungkin kita tetap menjalin hubungan baik dengan mantan karena susah cari sahabat sesama perempuan/lesbian yang sudah memahami diri kita apa adanya. Lagi pula, seperti kata seorang sahabat saya, "Pantang dong nyari musuh di zaman yang serba susah gini." Dan masih menjalin hubungan dengan mantan kan berarti kita bisa memperluas jejaring persahabatan antar sesama lesbian... halah, MLM banget sih?

Atau mungkin buat sebagian mantan masih ada yang berharap bisa balik lagi dengan pasangannya dulu, dan ciri-ciri mantan seperti ini biasanya rese, menyebalkan, dan mengganggu seperti nasi yang nempel di kaki... (Hayo, ada yg ngangguk-ngangguk setuju, kan? :p)

Atau MUNGKIN karena pola hubungan lesbian itu sendiri. Saat kita berkenalan atau copy darat pertama kali dengan sesama lesbian, yang pertama kali kita pikirkan adalah, “ini cewek kira-kira bisa gue pacarin nggak?” Jika sekiranya bisa, selanjutnya adalah pacaran, dan sebagaimana ciri khas suatu hubungan (straight atau homoseksual), kalau sekiranya perempuan itu tidak cocok atau apalah, hubungan tersebut putus. Dan hal positifnya... Kalau punya banyak pacar, ya mantannya juga banyak, dan artinya teman kita juga bakal banyak, kan? (d’uh)

Perempuan, sebagaimana yang sudah jadi rahasia umum, merupakan makhluk yang lebih peka perasaannya dan gemar curhat bahkan mereka yang lesbian sekalipun. Please, jangan bilang saya merendahkan kaum saya sendiri. Perusahaan tempat saya bekerja sudah melakukan survei pasar dan percayalah bahwa saya tidak salah dalam hal ini. Jadi dalam jalinan hubungan lesbian, selain ada ikatan fisik, terdapat ikatan emosional yang kuat antara dua perempuan yang peka perasaannya dan gemar curhat tadi. Saat hubungan buyar, kita tidak mau kehilangan tempat curhat dari seseorang yang pernah jadi tempat gantungan emosi kita. Jadi setelah putus hubungan asmara, kita tetap menjalin hubungan dengan mantan karena kita sudah merasakan satu kenyamanan yang tercipta dengan mantan tersebut dan kita tidak mau kehilangan kenyamanan itu.

Apakah hal ini berarti pasangan kita yang sekarang seharusnya waswas dan jadi waspada jika kita dekat dengan mantan kita? Saya rasa tidak. Seperti seorang sahabat saya yang memiliki partner yang masih menjalin hubungan baik dengan mantannya, dia bilang, “Kenapa mesti takut? Saya yakin saya yang terbaik untuk dia (partnernya, red), kalau tidak dia pasti masih bersama mantannya sekarang, bukan dengan saya.”

10:48 PM

5 buku +(1 cerpen) Favorit tahun 2006

Posted by alex |

Sekali lagi ingin iseng membagi cerita, membagi kebahagiaan dari buku-buku bagus yang saya baca. Sekali lagi pula, tidak apa-apa kalo tidak setuju dengan saya, karena daftar ini benar-benar murni berdasarkan selera pribadi. Dan ya, saya memang penggemar buku fiksi, jadi maaf kalo tidak ada buku nonfiksinya.

Brokeback Mountain - E. Annie Proulx
“Hah? Annie Proulx kan bukunya susah?”, demikian kata atasan saya di kantor. Yang kemudian dijawab, “Nggak kok, Mbak. Ini buku Annie Proulx yang paling gampang.” Bener deh, ini bukunya yang paling gampang, coba aja baca The Shipping News atau kumpulan cerpen Close Range: Wyoming Stories, yang mana di dalamnya terdapat novela Brokeback Mountain ini. Awalnya saya tidak percaya buku setebal 79 halaman ini bisa dibuat menjadi film berdurasi 2 jam oleh Ang Lee, tapi ternyata saya mengerti perasaan dan visi seorang Ang Lee setelah membacanya. Sudah lebih dari 10 kali saya membaca buku ini, mulai dari bahasa Inggris, lalu terjemahannya, bolak-balik sampai hafal. Sampai menangis. Sampai tersayat hati. Namun di situlah kenikmatan membaca Brokeback Mountain (Gunung Brokeback), karena ini adalah jenis buku yang bisa dibaca berulang-ulang kapan pun suasana hati memanggil dan setiap kali pula kita akan menemukan nuansa baru saat membacanya.


Dimsum Terakhir - Clara Ng
Buku ini bercerita tentang 4 perempuan yang harus pulang ke rumah orangtuanya karena ayah mereka sakit keras. Ditulis dengan gaya bahasa “ala Clara Ng” yang diselipi humor di sana-sini, namun tidak kurang menyentuh perasaan kita. Buku ini jadi istimewa karena Clara Ng bisa menyentuh berbagai isu sensitif seperti isu keturunan Cina di Indonesia, agama, perempuan, orientasi seksual dalam satu buku apik ini. Mengutip blurb dari Putu Fajar Arcana, “Dimsum Terakhir melakukan gugatan tidak dengan maksud menjadi hero, tetapi menyalakan “lampu kuning” bahwa ada hal yang harus diperbaiki dalam perikehidupan kita.”


The Kite Runner – Khaled Hosseini
Pertama-tama izinkan saya memuji sampul buku ini, yang membuat saya langsung jatuh cinta pada buku ini. Kalau saya boleh main-main memberi nilai ala Amazon, buku ini akan saya beri nilai 4,5 bintang. Berkisah tentang. Amir, putra pengusaha kaya di Kabul, Afghanistan, dan persahabatannya dengan Hassan, putra pembantu Amir. Persahabatan antara dua anak beda derajat ini menjadi mengharukan dan tragis ketika Amir yang pengecut harus mengambil keputusan yang disesalinya seumur hidup. Buat saya, buku ini hanya “terpeleset” sedikit di bagian klimaksnya, sehingga jadi agak Hollywood, tapi buat saya ini masih jadi salah satu novel terbaik yang saya baca tahun ini.


Between Mom and Jo – Julie Anne Peters
Seperti Sarah Waters yang mengangkat topik lesbian dalam novel-novelnya, Julie Anne Peters juga sering mengangkat topik GLBT dalam novel-novelnya, terutama isu-isu GLBT dalam dunia remaja. Salah satu bukunya yang berjudul Luna, tentang remaja lelaki yang merasa dirinya perempuan sudah diterbitkan di Indonesia. Kini dalam Between Mom and Jo, Julie Anne Peters memberanikan diri untuk menyentuh isu orangtua. Sepasang orangtua lesbian yang memiliki putra remaja berusia 15 tahun sedang berada di ambang perpisahan, dan si anak yang tadinya bangga dengan dua ibunya, kini harus menghadapi “perceraian” dua ibunya. Buku ini mengingatkan kita tentang arti keluarga dan bagaimana cinta dan kasih sayang bertahan dalam diri kita.


Godfather – Mario Puzo
Wah, saya benar-benar telat membaca mahakarya Mario Puzo ini dan mari kita salahkan Gramedia yang baru menerbitkan terjemahannya tahun ini :p. Saya bukan penggemar fanatik filmnya dan tadinya saya menganggap bukunya “biasa-biasa saja”. Ketika saya mulai membaca, makin lama saya sadar mengapa banyak orang yang jadi penggemar fanatik Godfather. Tokoh-tokoh dalam buku ini, seperti Don Vito Corleone, Michael Corleone, dll, begitu hidup, begitu bernyawa sehingga saya terenggut masuk dalam kisah hidup sang Godfather. Dan buku fiksi ini dianggap sebagai buku panduan kejahatan terorganisir di Amerika Serikat meskipun Mario Puzo berkeras menyatakan bahwa kisah yang ditulisnya fiksi semata.


Cerpen Lelaki yang Menetas di Tubuhku (Kumpulan Cerpen Dunia di Kepala Alice) – Ucu Agustin

Entah kenapa satu cerpen ini terngiang dalam otak saya. Khusus satu cerpen berjudul Lelaki yang Menetas di Tubuhku dalam kumcernya Ucu Agustin ini yang tidak bisa saya usir jauh-jauh dari kepala saya. Cerpen yang berkisah tentang perempuan yang merasa dalam dirinya "menetas" laki-laki ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 13 Agustus 2005, dan baru saya baca pertama kali ketika sudah dimuat dalam kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice. Dalam kumcernya sendiri ada 11 cerpen yang berisi berbagai tema antara lain child abuse dan homoseksualitas. Metafora puitis dan sajian eksplorasi bentuk yang dilakukan Ucu Agustin dalam cerpen-cerpennya membuat saya terpukau. Dan sama seperti kata Ayu Utami, “Di antara para penulis muda, Ucu Agustin adalah salah satu favorit saya.”


Buku-buku lain yang juga layak dibaca: Night Watch – Sarah Waters, American Gods - Neil Gaiman, Fun Home - Alison Bechdel, Dicintai Jo - Alberthiene Endah

10:23 PM

Ketika Menjadi Ibu Menjadi Pilihan

Posted by alex |

Ada peraturan baru yang tidak tertulis di perusahaan tempat saya bekerja. Dalam peraturan terdahulu, perusahaan menanggung “biaya” anak yang dimiliki oleh karyawan, baik itu karyawan pria atau perempuan. Biaya di sini maksudnya biaya pengobatan dan bantuan pendidikan sekadarnya. Dalam peraturan yang baru, secara tidak tertulis dinyatakan bahwa anak yang lahir dari ibu tunggal alias ibu yang memiliki anak tanpa suami yang sah kini ditanggung oleh perusahaan. *plok, plok, plok*

Sewaktu saya diangkat jadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat saya bekerja beberapa tahun lalu, saya menanyakan kepada bagian SDM, “Mas, kalau saya ingin punya anak tapi saya tidak mau punya suami, apakah anak saya akan ditanggung perusahaan?” Waktu itu Si Mas bagian SDM terenyak, terdiam selama beberapa detik, berpikir keras, lalu menunduk membuka-buka buku peraturan perusahaan. Kemudian dia bilang, “Ini masih jadi wacana.... Tapi biasanya yang dianggap anak adalah anak yang hasil dari perkawinan yang sah antara suami dan istri.... blablabla.” Saya masih berkeras menyatakan bahwa anak yang lahir dari rahim saya dengan atau tanpa ayah yang sah adalah anak saya yang sah menurut hukum dan harus ditanggung oleh perusahaan, tapi saya mulai kasihan sama si Mas SDM karena dia mulai tampak bingung dan “menyesal” telah mengangkat saya menjadi karyawan, hahaha. Akhirnya saya biarkan topik itu tetap jadi wacana.

Bukannya saya niat jadi ibu tunggal dan ingin punya anak sendirian. Tidak juga. Namun, menurut saya ini adalah langkah perusahaan yang amat bijak mengingat semakin banyaknya perempuan yang memilih untuk tidak menikah meskipun mengetahui dirinya hamil. Buat saya pribadi, perempuan semacam itu adalah perempuan yang luar biasa, karena membesarkan anak adalah tugas tersulit bagi perempuan, mungkin lebih sulit dibanding melahirkan itu sendiri apalagi dilakukan tanpa bantuan sang ayah. Beberapa perempuan yang saya kenal dalam lingkup pekerjaan dan pertemanan adalah ibu tunggal, baik yang bercerai atau memilih untuk tidak menikah. Apa pun alasannya, tetap saya merasa salut pada mereka. Karena kalau saya ditanya apakah saya ingin hamil, melahirkan, dan punya anak, saya akan menjawab, “Tidak, terima kasih. Kucing saya saja sering lupa saya kasih makan.” :)

Kini menjadi ibu sudah menjadi pilihan bagi sejumlah perempuan. Polanya kini tidak lagi menikah (dengan laki-laki), hamil, lalu punya anak. Buat sebagian perempuan pernikahan kini tidak diperlukan lagi untuk menghasilkan anak. Perempuan-perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu tunggal jelas punya alasan sendiri untuk melakukannya. Sudah cukup sulit membesarkan anak di zaman sekarang apalagi sebagai ibu tunggal, tanpa perlu dipersulit dengan berbagai anggapan negatif tentang perempuan yang menjadi ibu tunggal.

Saya memiliki sahabat lesbian yang juga kebetulan ibu tunggal. Saya amat salut pada keberaniannya. Saya pribadi takkan punya gigi untuk melakukannya. Buat saya, menjadi ibu adalah tugas yang paling berat. Membahagiakan, ya. Tapi menjadi ibu adalah tugas yang berlangsung 24/7. Tidak ada pengurangan masa kerja, pensiun dini, kenaikan jabatan atau kenaian gaji. Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri, seiring dengan jam biologis dalam diri saya yang berdetak makin cepat, apakah saya ingin meninggalkan jejak diri saya di dunia ini melalui anak yang saya lahirkan? Jujur, pernah ada satu-dua kali saya berpikir seperti itu, tapi mengingat kembali beban dan tanggung jawab mahabesar yang mengiringi “jabatan” sebagai Ibu, pikiran itu menghilang sebelum saya sempat mengedipkan mata.

Untungnya saya diberkahi dengan memiliki partner yang memiliki anak. Jadi saya bisa menjadi ibu secara instan tanpa perlu melalui proses melahirkan yang konon katanya menyakitkan seperti ketiban beton. Dan saya bisa terlibat langsung dalam hidup anak-anak “kami” itu bersama partner saya, sesuatu yang tadinya hanya bisa saya bayangkan. Saya tidak pernah tahu seperti apa sulitnya jadi ibu, dan well, kini saya terjun langsung ke dalam medan perang mendidik anak. Semua kesulitan dan kerepotan sebagai ibu yang sebelumnya cuma saya bayangkan benar-benar terjadi, ditambah 100 kali lipat. Kita seakan harus punya tangan seperti gurita, energi sekuat badak, kesigapan ala cheetah, dan kesabaran mahadewi. Namun, kesulitan 100 x lipat itu juga terbayar oleh kebahagiaan yang sama besarnya, hanya dengan senyum seorang anak yang berkata, “I love you, Tante Mami.”

12:05 AM

5+1 Film Favorit tahun 2006

Posted by alex |

Akhir tahun sebentar lagi tiba. Iseng-iseng ingin posting film2 yang saya anggap okeh banget sepanjang tahun 2006. Memang sih tahun ini belum berakhir, tapi nggak apa-apa kan kalau saya sudah kasih bocoran mulai 1 Desember? :p
Oya, film-film ini disusun berdasarkan selera pribadi banget, jadi kalau ada yang nggak sependapat, ya tidak masalah.... Yuuuk!


James Bond – Casino Royale.

Jujur waktu tahu Pierce Brosnan diganti oleh Daniel Craig saya termasuk yang protes keras, tapi melihat penampilannya dalam Bond kali ini saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Buat saya ini "The Best Bond of 21th century". Walaupun adegan mesra-mesranya dengan Eva Green rasanya agak terlalu manis, tapi nggak apa-apa deh, lumayan kita bisa lebih banyak melihat penampilan Eva Green yang seksi dan yahud.
Alasan lain untuk menontonnya: Eva Green (gak sabar deh mau nonton HDM: The Golden Compass dan Therese Raquin th 2007 nanti)

John Tucker Must Die
Oke, ini jiwa remaja saya lagi yang menjerit minta perhatian. John Tucker Must Die berkisah tentang pembalasan dendam 3 anak SMA yang dikadalin oleh John Tucker si cowok playboy di sekolah dan mereka bertekad membuat John Tucker kapok. Buat yang suka Mean Girls-nya Lindsay Lohan, ini a Must See Movie deh.
Alasan lain untuk menontonnya: Sophia Bush


Pirates of Caribbean 2 – Dead Man’s Chest
Well, ini termasuk film yang saya tunggu-tunggu sejak saya melihat Keira Knightley dengan gaun yang membuat buah dadanya tampak menyembul sedemikian rupa di Pirates of Caribbean 1. Oke, ini alasan yang amat tidak cerdas untuk menontonnya. :p Alasan lainnya adalah ini memang film yang seru dan kocak. Johnny Depp tampil luar biasa di sini dan jelas saya tidak sabar menunggu Pirrates of Carribean 3.
Alasan lain untuk menontonnya: Di mana lagi kita bisa melihat kapten bajak laut bergaya banci?

Brokeback Mountain
Kayaknya saya nggak perlu memberi penjelasan panjang-lebar tentang film kontroversial yang mengisahkan dua koboi jatuh cinta ini. Chemistry antara Jake dan Heath amat sempurna, nyaris membakar layar. Film yang menang Golden Globe 2006 ini dijagokan untuk menang Oscar namun terpaksa harus puas HANYA dengan kemenangan sang sutradara Ang Lee sebagai sutradara terbaik dalam Oscar tahun ini.
Alasan lain untuk menontonnya: Tidak perlu alasan lain! Harus nonton!


Kabhi Alvida Naa Kehna
Film India ini adalah film besutan salah satu sutradara favorit saya Karan Johar yang sukses berat membuat saya jatuh cinta (lagi) pada film India setelah Mas Karan ini membuat Kuch Kuch Hota Hai. Film ini berkisah tentang sepasang lelaki dan perempuan yang cintanya terhalang karena masing-masing sudah memiliki suami dan istri. Jadi maksudnya tentang selingkuh? Iya. Betul.
Alasan lain untuk menontonnya: SRK, Rani Mukerjhee, Preity Zinta


V For Vendetta
Saya sudah jatuh cinta pada Natalie Portman sejak dia jadi Queen Amidala di Star Wars. Dan saya jatuh cinta lagi padanya di film ini. IMHO, V for Vendetta merupakan film straight yang mengangkat isu homoseksualitas dengan amat bagus.
Alasan lain untuk menontonnya: Tadi saya sudah sebut Natalie Portman belum?




Film2 lain yang juga layak ditonton:
Berbagi Suami, X-Men 3: The Last Stand, The Devil Wears Prada

Makasih ya buat temen2 yang menyempatkan diri baca tulisan ngawur ini, hehehe.

11:20 PM

Opini: To Out or Not to Out

Posted by alex |

Sebagaimana yang diketahui oleh banyak orang, walaupun tidak oleh seantero dunia, sebagian besar sahabat saya tahu bahwa saya lesbian. Kebanyakan teman di kantor pun tahu bahwa saya lesbian, walaupun saya tidak mengumumkannya di papan pengumuman atau coming out di TV atau koran atau ke keluarga. Partner saya bilang saya begitu “out”nya sehingga kadang-kadang membuatnya jengah. Dari segi penampilan saya bukan tipe “bapak-bapak”, demikian teman-teman straight saya sering menyebut mereka yang “butch”, jadi banyak teman saya yang mempertanyakan keputusan saya untuk out, karena menurut mereka saya tipe lesbian yang bisa “menyamar” di antara manusia hetero.

Well, buat saya coming out bukanlah masalah pilihan. Bagi saya coming out adalah suatu keharusan. Karena saya ingat betapa menderitanya ketika saya masih in-the-closet. Saya merasa lebih berdosa bila harus berpura-pura atau berbohong kepada sahabat-sahabat baik saya yang sudah mendampingi saya sejak masa pra-pubertas. Sebelum saya out, saya nyaris tidak bisa memandang mata lawan bicara saya ketika berbicara karena ketakutan yang menghantui saya karena saya takut orang yang saya ajak bicara bisa mengetahui rahasia terdalam yang saya simpan jauh-jauh di dasar otak dan hati saya.

Coming out bukanlah cara saya mencari sensasi. “Secara biar beda gitu looh,” demikan istilah ABG zaman sekarang. Saya tidak bermaksud beda. Coming out buat saya adalah cara untuk menyelamatkan diri saya sendiri dari kebutaan, dari kegelapan yang saya rasakan ketika saya bersembunyi di dalam lemari gelap sementara di luar lemari sana ada dunia yang benderang. Dunia yang memanggil-manggil saya dengan suaranya yang ramah namun saya abaikan, karena saya terlalu takut untuk membuka lemari dan keluar dari dunia sempit yang gelap dan menyesakkan.

Hingga sampai satu titik ketika saya memutuskan untuk tidak lagi hidup dalam kegelapan seperti itu karena saya tidak sanggup lagi menanggung keletihan yang saya rasakan karena mencemaskan pendapat orang tentang diri saya. Dan saya amat bersyukur memiliki banyak sahabat sejati yang begitu suportif ketika saya coming out terhadap mereka, walaupun saya juga sedih karena kehilangan beberapa sahabat saya karena ini.

Coming out tidak berarti tanpa risiko. Saya tidak perlu bercerita berapa kali saya diajak ke tempat keagamaan oleh seorang teman untuk “disembuhkan”, atau ditanyai pertanyaan-pertanyan melecehkan yang bikin kuping panas atau dipandang dengan tatapan hina saat saya bersama pasangan saya menghadiri acara publik, atau yang lebih bikin saya sakit hati ada teman perempuan yang enggan menginap sekamar dengan saya seolah2 saya akan memerkosa mereka pada saat mereka tidur. Atau ada teman lelaki yang mengajak saya tidur supaya saya “sembuh”. Dll, dst. Tapi buat saya, semua itu cuma efek samping seperti kita jadi mengantuk setelah minum obat batuk. Saya berusaha tidak memasukkan semuanya ke hati karena kalau semua sampah itu harus masuk, hati yang seluas samudra pun takkan muat menampungnya.

Jika saya bisa memilih, saya takkan mau jadi homoseksual di dunia heteroseksual. Tapi saya bisa memilih untuk out atau tidak out. Coming out buat saya adalah terapi. Terapi yang perlahan-lahan membuat hidup saya lebih bahagia, lebih jelas, lebih terfokus. Ibarat kupu-kupu, coming out membuat saya bermetamorfosis menjadi orang yang lebih sehat.


6:05 PM

Buku: Relung-Relung Gelap Hati Sisi

Posted by alex |

Saya bukan pengamat sastra, atau pengamat sastra gay/lesbian di Indonesia, kebetulan saya hanya penggemar buku. Sepanjang pengetahuan saya Relung-Relung Gelap Hati Sisi merupakan novel bertema lesbian pertama di Indonesia yang terbit lebih dari dua puluh tahun lalu dan masih dicetak ulang hingga sekarang. Kalau tidak salah cetakan pertama adalah tahun 1983, dan kabarnya dicetak ulang lagi pada tahun 2006 ini.

Sewaktu pertama kali buku ini terbit saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertama kali saya baca pun, umur saya baru sepuluh tahun, dan saya benar-benar tidak mengerti isi buku ini. Lalu buku ini kembali saya baca hampir sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1993, ketika saya duduk di SMA dan mulai jatuh cinta pada perempuan dan saya merasa betapa novel ini menyentuh hidup saya lebih dari buku mana pun yang pernah saya baca saat itu.

Sisi dan Airin demikian nama tokoh dalam Relung-Relung Gelap Hati Sisi. Sisi yang pendiam dan Airin yang lincah menjalin persahabatan semasa SMA. Persahabatan yang lambat laun berubah menjadi kedekatan yang menimbulkan benih-benih asmara antara mereka. Tapi kejadian pada malam perpisahan sekolah membuat mereka harus dipisahkan, dijauhkan satu sama lain, karena orangtua mereka tidak mau anak-anak mereka jadi lesbian. Jadilah Airin dikirim bersekolah ke Amerika Serikat menyusul kekasih resminya, Frans, yang sudah lebih dulu kuliah di sana. Dan Sisi melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian dalam acara reuni SMA, Sisi dan Airin bertemu kembali, dan benih-benih cinta yang lama diredam pun muncul kembali. Membuncah tanpa bisa mereka hentikan. Tapi sekali lagi, cinta mereka harus kalah karena Sisi tidak mau meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama Airin di Amerika Serikat.

Cinta mereka pada satu sama lain ternyata tak padam walaupun Sisi kemudian memilih menikah dengan Handi, dan Airin memilih untuk merusak dirinya dalam minuman keras. Mereka bertemu kembali ketika Sisi sudah menjadi dokter dan memiliki seorang putri hasil pernikahannya dengan Handi. Kembali keduanya dihadapkan pada pilihan. Mengikuti kata hati mereka atau memilih menjalani hidup berdasarkan norma yang selayaknya. Penggemar Mira W. pasti tahu kepiawaian maestro kita dalam mengaduk-ngaduk emosi pembacanya. Entah sudah berapa kali saya menangis membaca novel-novel beliau. Namun hanya Relung-Relung Gelap Hati Sisi yang membuat saya menangis karena saya mengerti seperti apa rasanya mencintai namun tidak bisa bersatu seperti yang dialami Sisi dan Airin.

Jika dibandingkan dengan novel-novel yang mengangkat isu lesbian yang terbit setelah tahun 2000an di Indonesia, apa yang disajikan dalam Relung-Relung Gelap Hati Sisi rasanya masih relevan dalam kehidupan lesbian secara nyata meskipun sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak novel ini pertama terbit. Saya mungkin salah atau terlewat, tapi sepanjang ingatan saya selama tahun 1990-an saya tidak menemukan novel-novel Indonesia yang mengangkat isu ini. Baru satu generasi berikutnya muncul novel-novel yang mengambil tema lesbian.

Mira W. mencatat sebuah sejarah zaman yang dituang dalam bentuk fiksi tentang kisah cinta antara dua perempuan yang terjadi pada tahun 1980-an. Di dalamnya, kita akan dibawa dalam gejolak emosi Sisi dan Airin, pada masa ketika homoseksual baru saja dinyatakan BUKAN sebagai penyakit kejiwaan oleh asosiasi psikolog dunia. Sebuah catatan sejarah yang walaupun merupakan kisah fiksi membuat kita bisa menggunakannya untuk melihat kembali ke masa lalu tentang apa yang terjadi terhadap cinta dua perempuan. Masa berganti, waktu berlalu, namun buat saya pribadi, Relung-Relung Gelap Hati Sisi adalah sebuah masterpiece yang tak lekang oleh zaman dan harus dibaca oleh semua lesbian di Indonesia.




Apakah Anda penyuka film komedi remaja yang “nggak mutu”, nah inilah film pilihan buat Anda. “Nggak mutu” di sini bukan berarti jelek atau negatif. Kadang-kadang ada sisi remaja dalam sebagian dari diri kita (maksudnya, saya) yang menjerit minta dipuaskan. Dan bagi saya, salah satu cara memuaskannya adalah dengan menonton film-film remaja “nggak mutu” seperti Jossie and the Pussycats, Freaky Friday, John Tucker Must Die, High School Musical, dst, dst. Hehehe, atau ini cuma saya aja ya?

D.E.B.S adalah salah satu film remaja yang cukup menghibur buat saya. Ceritanya tentang cewek-cewek yang direkrut jadi mata-mata ala Charlie’s Angels melalui tes SAT di sekolah. Empat cewek yang jadi anggota D.E.B.S di sini adalah Amy Bradshaw (Sara Foster), Max Brewer (Meagan Good), Dominique (Devon Aoki), and Janet (Jill Ritchie).



Suatu hari D.E.B.S berhadapan dengan musuh utama mereka Lucy Diamond (Jordana Brewster), Amy yang membuat tesis tentang Lucy Diamond dalam ujian D.E.B.S-nya malah merasa “dekat” dengan sang musuh, dan Lucy pun jadi penasaran terhadap Amy. Jadilah Lucy menculik Amy yang ternyata senang-senang saja diculik Lucy karena rasa kagum Amy terhadap Lucy kini berubah jadi perasaan naksir. Dan yang namanya cinta kan bisa muncul kapan saja, tanpa memandang bahwa orang yang dicintai sebenarnya musuh.

D.E.B.S ini sebenarnya dibuat berdasarkan film pendek berjudul sama yang disutradari Angela Robinson. Ceritanya pada dasarnya sama, namun hampir semua pemeran utamanya diganti. Dalam versi film pendek nama panjang Lucy adalah Lucy in the Sky (sama seperti lagu Beatles itu lho). Dan versi film pendek yang berdurasi 11 menit ini memenangkan sejumlah penghargaan untuk film pendek, dan atas dasar itu pula, Angela Robinson mendapat kucuran dana dari Sony Pictures untuk mengangkatnya ke layar lebar dan menjadikannya film yang berdurasi 91 menit. Buat yang tertarik menonton film pendeknya, film pendek D.E.B.S bisa dilihat di sini.

Film ini pas banget untuk ditonton di DVD pada saat mood kita ingin nonton film ringan yang “nggak pake mikir” karena ceritanya yang dan ringan seperti kerupuk dan garing seperti kacang. Lucu, menyenangkan, dan bikin kita bisa nyengir serta ketawa-ketiwi.

foto: www.movies.yahoo.com

12:41 AM

Visibilitas Homoseksual di Layar Kaca

Posted by alex |

Sepuluh tahun lalu, tak sekali pun saya pernah bermimpi bisa menyaksikan serial televisi seperti Queer as Folk dan The L Word. Dalam mimpi paling liar pun tak pernah. Kini dua tayangan ini bisa kita peroleh di lapak-lapak penjual DVD di kota-kota besar di Indonesia atau Anda bisa beli DVD originalnya. Saya ingat pertama kali saya menonton serial TV yang menampilkan tokoh gay. Steven Carrington dalam serial Dynasty. Yang walaupun gay, entah bagaimana bisa juga tidur sama perempuan dan (kalau tidak salah) akhirnya punya istri dan anak. Aneh.

Pertama kali saya melihat sepasang perempuan berciuman di televisi kalau tidak salah dalam serial LA Law, tapi saya lupa siapa dengan siapa. Tokohnya juga tidak penting banget tapi saya kaget setengah mati waktu menontonnya. Maklum deh, namanya juga anak SMP yang lugu (:p) jadi masih gampang terkejut melihat hal-hal semacam itu.

Kemudian seiring berjalannya waktu saya termasuk orang yang menantikan Xena, The Warrior Princess setiap minggu di SCTV pada tahun 1990-an. Tiap minggu saya menunggu apakah Xena dan Gabrielle akhirnya “jadian”. Wuiiih, setiap kali ada adegan Xena dan Gabrielle yang nyaris-nyaris ciuman gitu, saya udah menahan napas.

photo: Brooke Palmer

Namun sekarang, setelah melihat adegan demi adegan gay/lesbian dalam Queer as Folk dan The L Word, saya tersadar. Seakan selama ini saya masih menahan napas menunggu, dan kini saya bisa melepaskannya. Lega!

Queer as Folk
dan The L Word merupakan dua tayangan yang disiarkan oleh Showtime di Amerika Serikat sana. Queer as Folk merupakan adaptasi dari serial dari Inggris berjudul sama. Tokoh utamanya adalah lima lelaki gay, Brian, Michael, Justin, Emmett, dan Ted. Bersetting di Pittsburgh, Amerika Serikat, Queer as Folk mengisahkan persahabatan, cinta, seks, dan kehidupan lelaki-lelaki gay ini. Plus sepasang lesbian bernama Mel dan Lindsay. Serial ini pertama kali tayang pada tahun 2000 dan habis masa tayangnya pada musim tayang kelima tahun 2005.

Episode pertama Queer as Folk dimulai ketika Justin berkenalan dengan Brian, lelaki player yang prinsipnya "fuck everything that moves". Episode satu ini berakhir dengan kelahiran Gus putra Lindsay hasil benih dari Brian. Maklum deh, pada masa tahun 2000-an itu kan sedang tren pasangan lesbian punya anak entah dari inseminasi buatan atau meminta sperma sahabat lelaki mereka.Cerita terus berlanjut dan saya tidak mau membuat ringkasan 83 episode dari 5 season Queer as Folk di blog ini. Jika mau tahu lebih banyak silakan lihat di sini.

Dari Queer as Folk, muncul semacam kegelisahan dari kalangan lesbian, yang merasa bahwa Mel dan Lindsay tidak cukup untuk merepresentasikan “wajah” lesbian di layar kaca. Kemudian produser Ilene Chaiken mengajukan The L Word kepada pihak Showtime dan seperti yang mereka bilang, “selanjutnya adalah sejarah”.

The L Word berkisah tentang enam perempuan lesbian, yaitu Bette, Tina, Dana,
Alice, Jenny, dan Shane. Dalam The L Word, kita bisa melihat sekelompok lesbian di Los Angeles yang saling bersahabat ala cewek-cewek di Sex and the City. Sejak pertama kali ditayangkan oleh Showtime pada 18 Januari 2004, The L Word mendapat banyak perhatian tidak hanya bagi penonton lesbian, tapi juga bagi penonton heteroseksual. Kenapa? Karena Shane itu cooooool banget gitu lho (ini jawaban teman sekantor saya yang straight tapi jadi fans The L Word, meskipun dia terlalu malu mencantumkannya di Friendster, hahaha...).
photo: James Dittiger
Kisah dalam season 1 dimulai ketika Bette dan Tina berusaha mencari calon ayah untuk bayi mereka (hhh, please ya buat yang mau bikin film lesbian, pleaseeeeee jangan topik ini lagi yang diangkat). Dana pemain tenis yang masih in-the-closet. Alice jurnalis yang biseksual. Jenny yang (masih) bingung dengan orientasi seksualnya. Dan Shane si cool yang bisa bikin cewek-cewek kelepek-kelepek hanya dengan tatapan mata dan senyumnya... arrrggghhh. Sekali lagi, silakan klik ini jika ingin tahu lebih banyak tentang jalan cerita The L Word.

Saya lebih ingin berbagi cerita tentang pengalaman menonton kedua serial ini. Pertama kali yang saya tonton adalah Queer as Folk dan saya hampir pingsan sewaktu melihat betapa banyaknya full frontal nudity yang ditampilkan dalam episode satu, season satu Queer as Folk. Wow! Buat saya ini pengalaman baru. Sumpah! Saya ibarat gadis lugu dari kampung dan pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, yang kagum melihat lampu-lampu di Jalan Thamrin lengkap dengan Monas dan air mancurnya. Tapi yang lebih penting buat saya adalah betapa jujurnya kisah dan tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam tayangan ini. Mereka bukan lagi jadi tokoh basa-basi yang jadi tempelan di serial televisi.

Setelah Queer as Folk, semangat saya makin menggebu menantikan The L Word. Tanyakan pada penjual DVD langganan saya di Mangga Dua, betapa bersemangatnya saya menunggu DVD-nya muncul (Bahkan lebih bersemangat dibanding saya menunggu season finale Buffy the Vampire Slayer.:p). Oke, kesan pertama adalah "I Love JB" alias Jennifer Beals. Dia jadi magnet untuk serial ini seperti Heather Locklear jadi magnet dalam Melrose Place. Namun selain JB, Shane yang cool atau Jenny yang menyebalkan biasanya jadi bahan obrolan saya dan teman-teman sekantor sewaktu makan siang setelah mereka habis menonton DVD The L Word yang saya pinjamkan pada mereka.Oya, kata teman saya, cewek-cewek dalam The L Word bajunya juga bagus2, meskipun masih lebih bagus Sex and the City. (Halaaaaaah, penting nggak sih???)

photo L Word: Max Vadakul

Dari segi cerita, saya merasa Queer as Folk lebih menampilkan cerita yang lebih "berisi" dibanding The L Word. Banyak isu berat yang muncul di serial ini, misalnya tentang HIV/AIDS, homofobia, gay-bashing, narkoba, dan beberapa isu tentang keluarga homoseksual. Dalam The L Word, meminjam istilah partner saya, dia bilang, The L Word itu memberi kesan bahwa cewek-cewek ini heterofobia karena tidak bergaul di luar lingkup komunitas lesbian. Walaupun saya tidak setuju-setuju amat, tapi anggapan ini mungkin terjadi karena The L Word lebih banyak bercerita "ke dalam" lingkaran persahabatan mereka sendiri dibanding mengangkat isu-isu yang menyentuh kehidupan di luar lingkaran hidup kalangan lesbian itu sendiri. Sejauh ini saya baru menonton sampai season 2, dan topik-topik yang diangkat dalam The L Word masih berputar pada rebutan pacar, kepingin punya anak, dan masalah psikologis Jenny (Sorry, but I hate Jenny...). Namun demikian saya tetap bakalan menunggu season-season selanjutnya, yang konon kata penjual langganan saya, "Season 3 belum ada, mungkin bentar lagi, Bu." Dan saya juga bakalan harap-harap cemas menantikan season 4 yang konon bakal diputar awal tahun 2007.

Jujur saja, sebelum saya menonton Queer as Folk dan The L Word, terutama Queer as Folk, tadinya saya pikir cuma serial biasa. Namun apa yang ditampilkan dalam kedua serial ini makin membuka mata saya tentang kehidupan gay, yang meskipun saya tahu ini merupakan kisah fiksi, tapi "kena" banget dalam kehidupan sehari-hari yang saya lihat dalam kehidupan nyata. Kedua tayangan ini memberikan visibilitas yang makin jelas tentang kehidupan homoseksual. Visibilitas yang menunjukkan keberadaan kita sebagai lesbian/gay/biseksual/transeksual di muka bumi ini. Keberadaan yang bukan dimaksudkan untuk jadi sesuatu yang menarik perhatian atau diistimewakan tapi berharap bisa jadi sesuatu yang umum, sesuatu yang sama biasanya dengan keberadaan manusia lain di muka bumi ini.


12:05 AM

Opini: Halo Apa Kabar, Sama Siapa Sekarang?

Posted by alex |

Saya menelepon seorang sahabat lesbian yang sudah lama tidak menjalin kontak dengan saya. Setelah mengobrol basa-basi menanyakan kabar dan lain sebagainya, keluar pertanyaan, “Ngomong-ngomong, kamu sama siapa sekarang?” Dan berceritalah dia dengan siapa dia “sekarang” menjalin hubungan.... blah-blah-blah. Ditambah cerita dengan mantannya plus pertanyaan balik darinya, “Elo masih sama yang dulu itu?”

Maka kami pun bertukar cerita, tentang sama siapa dia dan sama siapa saya, dan, pertanyaan tentang, “Oya, kalo si anu masih sama si itu? Wah, mereka udah lama juga ya...” Blah-blah-blah, dan akhirnya kami menutup obrolan setelah 15 menit berlalu.

Saat gagang telepon ditaruh, saya jadi merasa obrolan ini memiliki nuansa déjà-vu. Ini bukan pertama kalinya saya mengobrol dengan sesama teman lesbian yang sudah lama kehilangan kontak (maksud lama di sini adalah lebih dari 6 bulan--red). Dan dalam setiap obrolan itu, 99% pertanyaan yang pasti muncul adalah: “Sama siapa sekarang?” atau pertanyaan-pertanyaan turunannya seperti, “Elo masih sama yang itu?” “Eh, si itu (itu = nama mantan) gimana kabarnya? Sama siapa dia sekarang?”

Saya berusaha berpikir dalam konteks hubungan saya dengan sahabat-sahabat heteroseksual saya. Kenapa saya nyaris tidak pernah menanyakan pertanyaan, “Eh, udah lama nggak ketemu. Sama siapa lu sekarang?” Dan membuat saya bertanya, Apakah benar hubungan gay/lesbian tidak ada yang bersifat langgeng?

Tidak kok, saya tidak sinis. Ini cuma sharing pengalaman saja. Tulisan ini tidak bermaksud menyatakan bahwa hubungan lesbian identik dengan gonta-ganti pasangan dan tidak bisa langgeng mempertahankan hubungan. Tidak, sama sekali tidak. Saya yakin kok di luar sana banyak pasangan lesbian yang bisa menjalin hubungan jangka panjang.

Tunggu dulu, ngomong-ngomong soal hubungan jangka panjang, pernah dengar “teori” lesbian years = dog years? Konon satu tahun umur manusia sama dengan tujuh tahun umur anjing. Dan ada semacam “teori” pula bahwa masa hubungan pasangan lesbian juga harus dihitung seperti itu. Jadi satu tahun hubungan pasangan lesbian sama dengan tujuh tahun masa hubungan pasangan heteroseksual. Dan kalau sudah tujuh tahun berpasangan, siap-siaplah untuk merayakan kawin emas.:) Jadi dengan teori ini, mungkin kita harusnya bangga... atau malah miris ya?

Meminjam seorang sahabat saya, di sini saya tidak bisa “Meletakkan telunjuk saya di bagian yang retak.” Saya tidak tahu di mana bagian yang salah. Mungkin untuk memperbaikinya mulai sekarang kita harus mengubah kerangka berpikir kita. Mungkin sudah saatnya kita mulai bertanya, “Halo apa kabar? Kapan nih undangannya?”


4:15 PM

Film: Butterfly vs Amour de Femme

Posted by alex |


*Warning: Spoiler Alert*

Butterfly
adalah film Hong Kong karya kedua dari sutradara Yan Yan Mak, dan film ini terpilih menjadi film pembuka dalam Hong Kong Gay and Lesbian Film Festival 2004 serta mendapat nominasi Taiwan Golden Horse Awards 2004 untuk Best Adapted Screenplay (Yan Yan Mak) and Best New Performer (Tian Yuan). Amour de Femme adalah film Prancis, karya sutradara Sylvie Verheyde yang dibuat tahun 2001.

Kedua film ini memiliki basis cerita yang serupa. Perempuan muda yang sudah memiliki suami dan anak tiba-tiba jatuh cinta pada perempuan lain. Dalam Butterfly, Flavia (Josie Ho), guru yang memiliki suami dan seorang anak perempuan, jatuh cinta pada penyanyi bernama Yip (Tian Yuan). Sementara dalam Amour de Femme, Jeanne (Hélène Fillières), yang bekerja sebagai osteopath dan memiliki suami serta putra berusia tujuh tahun jatuh cinta pada Marie (Raffaëla Anderson) yang berprofesi sebagai penari. Saya tidak bicara tentang siapa yang memplagiat siapa, walaupun film ini memiliki kesamaan cerita dan penokohan, karena bagaimanapun Butterfly dan Amour de Femme adalah dua film yang berdiri sendiri.

Kisah cinta yang terjalin antara Jeanne dan Marie dalam Amour de Femme lebih memberi kesan bahwa Jeanne adalah istri kesepian yang bosan dalam rutinitas kesehariannya berumah tangga dan dia menemukan Marie sebagai pesona yang membangkitkan gairah hidupnya. Entah bagaimana saat saya menonton film ini, saya tidak merasakan percikan kimiawi yang pas antara mereka berdua. Percikan yang membuat saya percaya bahwa ada percikan asmara yang membakar kedua tokoh ini. Mungkin juga karena chemistry antara dua aktris ini tidak pas.

Sementara dalam Butterfly, pertemuan Flavia dengan Yip membangkitkan kembali bibit-bibit lesbianisme yang memang sudah pernah dirasakan Flavia semasa sekolah dulu. Bibit-bibit yang harus dipunahkan karena hubungan Flavia dengan sahabat perempuannya dulu ketahuan oleh orangtuanya.

Jeanne dan Flavia sama-sama mengikuti kata hati dengan menjalin hubungan terlarang bersama perempuan yang mereka cintai. Tidak ada yang mempertanyakan siapa yang salah atau yang benar dalam hal ini. Mereka perempuan yang jatuh cinta pada perempuan lain dan karena mereka sudah menikah, pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa yang akan terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya?"

Secara pribadi, saya melihat tokoh suami Ming dalam Butterfly yang diperankan oleh Eric Kot lebih mengundang simpati dibanding Anthony Delon sebagai David dalam Amour de Femme. Ibaratnya gini, kalo punya suami kayak David sih gue juga bakalan selingkuh...:p

Eric Kot menunjukkan kemampuan aktingnya, lepas dari peran-peran yang biasa dimainkannya dalam film komedi. Mau tidak mau emosi kita ikut tergugah melihat sang suami yang sakit hati saat mengetahui sang istri berselingkuh dengan perempuan lain. Tapi ini tidak menjadikan Flavia sebagai tokoh antagonis di sini. Seperti yang saya bilang, tidak ada yang salah dalam hal ini. Semuanya terjadi begitu saja. Flavia jatuh cinta pada Yip tanpa direncanakan. Mungkin karena beda kultur, rasa kedua film ini pun berbeda. Rasa bersalah, cintanya yang terbagi dan kesulitan yang dihadapi Flavia dalam Butterfly terasa lebih berat "mengoyak" karena dia hidup dalam masyarakat Timur.
Walaupun menurut saya endingnya terasa dibuat gampang, apa pun yang Anda pilih untuk Anda tonton, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, keduanya tidak akan mengecewakan Anda yang penggemar “happy end”. Secara garis besar kedua film ini mencerahkan sebagai tontonan. (Ya, ada adegannya kok... :p). Saya lebih memilih Butterfly, mungkin lebih karena kedekatan ras Asia dan setting yang menurut saya lebih oke. Atau mungkin karena Amour de Femme memberi kesan film yang dibuat dengan biaya irit dan pas-pasan.


Sumber: wikipedia dan imdb.com
Butterfly
Directed by Yan Yan Mak
Written by Xue Chen (novel)Yan Yan Mak (screenplay)
Starring:
Josie Ho, Tian Yuan, Eric Kot, Isabel Chen, Joman Chiang
Running time:129 min

Amour de Femme
Directed by Sylvie Verheyde
Written by: Sylvie Verheyde (story)
Starring:
Hélène Fillières , Raffaëla Anderson , Anthony Delon
Running Time: 89 min

10:03 PM

Opini: Rumput Tetangga (Memang) Tampak Lebih Hijau

Posted by alex |

Kejadian ini sebenarnya terjadi beberapa bulan lalu. Seorang sahabat perempuan saya, sebut saja namanya Fifi, mengirimi saya SMS, mengajak saya menemaninya ke acara pernikahan seorang kolega. Selama ini saya sudah terkenal paling malas datang ke acara pernikahan, bukan saya anti pernikahan atau apa, saya sering malas datang ke acara semacam itu karena bosan ditanyai pertanyaan standar seperti, "Kapan nyusul?" Buset deh, emangnya lagi balap karung pakai acara susul-susulan? Maklum umur saya yang sudah memasuki kepala tiga, meskipun masih berjiwa 20 tahun :-) ini membuat banyak orang bertanya-tanya kenapa sampai sekarang saya belum menikah.

Akhirnya dengan setengah niat, saya menemani sahabat saya itu. Dan datanglah kami ke acara pernikahan yang diadakan di wilayah Jakarta Utara itu. Setelah berjuang mencari parkir yang nun jauh dari lokasi pernikahan, saya dan Fifi memasuki tempat penerima tamu alias meja tempat kita memberikan hadiah (oya, zaman sekarang orang biasanya cuma menerima amplop aja biar lebih praktis). Well, baru sampai di sana, saya langsung ditegur oleh seorang gadis yang duduk di meja penerima hadiah. Kaget juga saya, kok bisa-bisanya ada yang kenal sama saya padahal saya cuma menemani sahabat saya ke acara ini. Setelah berbasa-basi sejenak, saya jawab pada cewek itu bahwa saya cuma menemani sahabat perempuan saya. Bahwa saya tidak kenal dengan kedua mempelai blablahblahhh... saya buru-buru cabut dari meja itu.

Fiuh, setelah memasuki ruangan tempat resepsi, belum sempat saya dan sahabat saya mengambil makanan, kembali saya ditegur oleh seseorang. Kali ini teman ibu saya... hhhh!!! Ini makin kacau, sahabat saya juga jadi bingung, kenapa saya bisa-bisanya yang kenal banyak orang di sini sementara Fifi belum menemukan orang yang dikenalnya. Dan teman ibu saya juga (tampaknya) heran melihat saya (menemani) sahabat perempuan saya ke acara semacam ini. Makin lama saya dan sahabat saya di tempat ini bisa-bisa kami dikira sepasang lesbian. Hm, sebenarnya bukan kali pertama saya dan sahabat saya ini ditatap dengan pandangan aneh. Beberapa bulan sebelumnya, sahabat saya itu yang menemani saya ke acara pernikahan saudara sepupu saya. Di sana keadaan lebih gawat lagi, karena ibu sang mempelai yang notabene masih tante saya bingung berat melihat saya datang bersama seorang perempuan, bukannya datang bersama lelaki atau ibu saya. (Note: Saya sebenarnya tidak mau datang ke acara pernikahan sepupu itu, tapi karena ibu saya sakit, jadi saya terpaksa mewakili keluarga, hiks). Aneh gitu lhoo... masa datang ke acara kawinan dengan teman sesama jenis. Sumpah, saya masih ingat tatapannya sampai sekarang, dan mungkin itu juga alasannya tidak mengundang keluarga saya ketika anak keduanya menikah beberapa bulan setelah acara itu.

Singkat cerita, saya dan sahabat saya terburu-buru "melarikan diri" dari acara ini. Karena saya udah nyaris bersembunyi di balik pohon, sementara sahabat saya memilih kabur daripada "dikenalkan" dengan kakak mempelai pria yang masih singel dan katanya jago nyanyi seperti Delon.

Kami tertawa terbahak-bahak ketika sampai di mobil, menertawai kelucuan yang terjadi. Sahabat saya bilang "elu tuh lebih beruntung karena elu lesbi, coba kayak gue nih, umur sama kayak elo belum punya cowok juga, kan kesannya gue tuh nggak laku."
Sejenak saya terdiam merenungkan kata-katanya. Rumput tetangga memang tampak lebih hijau. Sahabat saya melihat hidup saya lebih beruntung dibanding dirinya yang belum juga dilamar sampai sekarang, bahkan cowok pun selama ini cuma TTM. Padahal dari segi wajah dan body sahabat saya itu nggak beda jauh sama saya, halah, kalau saya mau jujur dia masih satu tingkat di atas saya dari segi penampilan :).

"Masa sih gue lebih beruntung? Emang menurut elo enak jadi lesbi?" tanya saya.
Fifi langsung tertawa, dan menjawab, "Ya, gue sih nggak pernah jadi lesbi untuk tau enak atau nggak. Tapi paling nggak, gue ngeliat hidup elu tuh sebenarnya enak. Elu enak masih bisa punya pacar, sementara gue? Orang-orang sibuk ngenalin gue sama temen atau saudara lelaki mereka, dan hampir ngecap gue perawan tua. Kalo elo kan orang-orang tau elo punya pacar (cewek), mungkin masalahnya elo cuma nggak bisa nikah resmi aja sama pacar elo. Tapi kan dari segi hubungan, elo tuh enak udah nggak sendirian lagi."

Beberapa bulan setelah ini, seorang sahabat perempuan, yang mengaku straight tapi sering dituduh lesbian karena keakrabannya dengan komunitas GLBT berkata, "Enak kali ya jadi lesbi." Dan saya kembali teringat pada pernyataan Fifi sebelumnya.

Saya berusaha melihat situasi ini dari mata seorang heteroseksual. Jangan-jangan memang benar ada anggapan semacam itu, bahwa memang enak jadi lesbi. Saya mikir setengah mati sambil menulis blog ini pun, saya tidak bisa menemukan di mana “lebih enaknya”, dan kita tidak sedang bicara soal hubungan seks lhoo, :p.

Beberapa sahabat perempuan saya, terutama sahabat-sahabat terbaik saya, yang sering jadi teman hang out bersama saya adalah perempuan-perempuan singel (heteroseksual) dengan problematika mereka masing-masing, yang kalau kisah hidup mereka dibuat novel mungkin bisa jadi 300 halaman. Buat sebagian perempuan singel yang sampai usia kepala tiga belum juga menemukan jodohnya, mereka mengalami kegelisahan yang luar biasa. Bukan karena mereka ngebet kawin atau apa, tapi lebih berupa kegelisahan dalam menghadapi hidup sendirian hingga usia tua. Belum lagi tekanan dari orangtua dan keluarga agar mereka cepat-cepat menikah, masih ditambah dengan jam biologis yang berdetak makin cepat, plus teror pertanyaan dari rekan-rekan sekantor atau yg lebih parah, pertanyaan dari teman-teman yang sudah menikah.

Masalahnya dengan perempuan-perempuan straight ini (terutama yang masih lajang), mereka tidak punya alasan sama sekali kenapa sampai sekarang mereka masih sendirian. Dan saat melihat sahabat mereka yang lesbi, mereka jadi berpikir, hhhh, kalau saja gue lesbian mungkin lebih enak ya karena gue jadi punya alasan kenapa gue masih “sendiri” sampai sekarang.

Well, itu cuma asumsi saya saja lho, dan saya juga tidak mau repot-repot bercerita kepada teman-teman perempuan saya yang straight tentang betapa menderitanya hidup sebagai lesbian... halaah! Akhirnya saya menjawab pada sahabat saya itu, "Fi, kalo dua puluh tahun lagi, elo masih sendirian, ya sudah kita tinggal bareng, elo tinggal sama gue dan partner gue aja, hahaha."

5:19 PM

Opini: Happy Ending = Utopia?

Posted by alex |

Seperti apa sih dunia dengan akhir bahagia buat kaum homo/lesbi? Apakah akhir yang bahagia cuma utopia bagi kita? Saya tidak bermaksud sinis lho. Ini cuma pertanyaan wajar yang timbul setelah ber-SMS-an dengan seorang sahabat. Dia (perempuan) bercerita bahwa kekasihnya (perempuan) hendak menikah dengan lelaki karena memang itulah yang seharusnya terjadi, kan? Perempuan menikah dengan lelaki lalu memiliki anak dan keluarga. Tidak peduli betapapun cintanya sahabat saya terhadap perempuan kekasihnya itu, mereka tidak bisa bersatu. Lalu sahabat saya bilang, kekasihnya mengajak mereka tetap menjalin hubungan setelah dia menikah nanti. Halah! (Saya sih menyarankan agar dia putus aja sama pacarnya sekarang, daripada sakit hati nanti, --red)

Duh, kenapa ya kasus-kasus semacam ini sering terjadi dalam banyak hubungan sesama jenis?

Dalam dunia utopia versi saya, dengan atau tanpa legalitas pernikahan sesama jenis, seharusnya kita bisa punya hak untuk bersama orang yang kita cintai. Namun jelas itu cuma utopia. Kita hidup berpagarkan norma-norma yang seharusnya jadi penjaga diri kita. Atau agama, misalnya, yang jadi pondasi hidup kita. Atau keluarga yang jadi atap dalam kehidupan kita. Dan semuanya tentu saja tidak bisa tinggalkan begitu saja. Untuk bisa hidup bersama orang yang kita cintai, sebagai homo/lesbi, banyak dari kita yang harus meninggalkan rumah yang nyaman tersebut, yang selama ini jadi tempat kita bernaung. Jelas tidak banyak yang memilih untuk itu. Dan hanya segelintir orang yang beruntunglah yang bisa mendapat pengakuan dari orang-orang terdekat dalam hidupnya.

Eniwei, balik lagi ke sahabat saya itu, dia bilang dia sudah terbiasa hidup “bersembunyi” karena itu satu-satunya cara bagi dia untuk bisa bersama kekasihnya. Saya bilang, saya tidak bisa hidup seperti itu. Dan sahabat saya bilang saya terlalu idealis karena saya sudah coming out. Partner hidup saya juga bilang saya menuntut terlalu banyak darinya soal pengakuan ini dan ingin menyeretnya menjadi orang yg dikenal sebagai lesbian. Halaaaah, bukannya dengan bersama saya pun dia sudah jadi lesbian? Bingung juga dengan logika berpikirnya.

Yah, mungkin akhir yang bahagia seperti hidup bersama pasangan kita hingga akhir hayat sampai maut memisahkan hanyalah utopia. Saya pribadi merasa saya tidak butuh selembar surat nikah yang resmi. Ayah dan ibu saya tidak pernah melegalkan pernikahan mereka hingga ayah saya meninggal, tapi orang-orang tetap menganggap saya anak dari ayah dan ibu saya. Ibu saya mendapat pengakuan di mata publik bahwa dia “menikah” dengan ayah saya, walaupun dalam banyak hal dia tidak mendapat hak istimewa yang seharusnya didapat oleh istri bila mereka menikah secara “legal”. Tapi paling tidak di mata saya mereka mendapat akhir yang bahagia. Paling tidak ibu saya bisa mendampingi ayah saya hingga akhir hayatnya.




 

1:25 PM

Buku: Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba)

Posted by alex |

Hal pertama yang terlintas ketika membaca sinopsis di sampul belakang Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba) adalah… “Hmmm, ada lagi satu buku yang mengeksploitasi lesbian dalam karya fiksi.” Karena kebetulan tokoh utama novel karangan Alberthiene Endah ini adalah seorang perempuan lesbian bernama Arimbi yang juga merupakan pecandu narkoba.

Buku ini ditulis dengan gaya laporan wawancara dengan Arimbi di panti rehab yang menceritakan kisah hidupnya kepada seorang wartawan. Kisah hidup Arimbi tertuang sangat lancar sehingga sulit bagi kita untuk meletakkan buku ini sebelum selesai. Halaman demi halaman menunturkan kisah hidup Arimbi yang anak orang kaya dan memiliki orangtua yang punya nama besar. Orangtua yang tampak harmonis dan bahagia meskipun di dalamnya bobrok dan saling menyakiti. Arimbi jadi anak yang bingung, apalagi ketika perlahan-lahan kesadaran bahwa dirinya beda dengan cewek-cewek lain mulai merayap masuk ke dalam kesadarannya. Hingga ia mulai berkenalan dengan narkoba di masa SMU, dan akhirnya jadi pecandu berat.

Narkoba juga yang mengenalkan Arimbi pada Vela, gadis yang yang dicintainya. Gadis yang membuatnya rela melakukan apa saja asal bisa bersamanya. Cintanya pada Vela pula yang menyebabkan ia mati-matian ingin melepaskan diri narkoba dan kehidupan yang dibencinya.

Mempertanyakan apakah Arimbi jadi lesbian karena narkoba, atau apakah karena narkoba Arimibi jadi lesbian, sama dengan mempertanyakan paradoks ayam atau telur, mana yang lebih dulu muncul?

Tidak hanya mengupas hubungan cinta antara dua perempuan, Alberthiene Endah yang biasa dipanggil AE, juga menceritakan perbedaan tentang si kaya dan si miskin. Arimbi yang berduit bisa menikmati panti rehabilitasi narkoba yang mewah ala hotel bintang lima, sementara Vela harus “menikmati” panti rehab ala penjara yang penuh kekerasan.

AE menulis buku ini dengan irama yang teratur, membuat kita bisa merasakan gejolak Arimbi yang marah pada dunia dan orang-orang sekitarnya. Marah pada keadaan yang tidak ramah pada dirinya dan Vela. Makin lama saya baca Detik Terkahir membuat saya harus menelan dugaan awal saya tentang buku ini karena ini adalah buku yang amat sangat bagus, namun sayangnya difilmkan dengan hasil yang amat mengecewakan.

Untunglah, tidak hanya saya seorang saja yang menganggap ini buku yang bagus, karena Jangan Beri Aku Narkoba berhasil jadi pemenang Adikarya Ikapi th. 2005 untuk buku remaja terbaik.

catatan: Novel Detik Terakhir ini pertama kali diterbitkan dengan judul Jangan Beri Aku Narkoba th 2004, lalu dicetak ulang pada th 2006 dan judulnya diganti menjadi Detik Terakhir (sama seperti film jelek yang diperankan oleh Cornelia Agatha dan Sausan)

Subscribe