10:49 PM

Cinta Memang Butuh Pengakuan

Posted by alex |

Bersamamu, Lex, aku melewati hari-hari semanis anggur dan sewangi bunga.

Lax, cintaku seperti angin, selalu ada, berembus sepoi-sepoi menyejukkanmu.


Itu yang tercantum dalam status message kami di YM beberapa hari lalu. Itu cara kami mengakui keberadaan cinta kami dalam dunia maya.

Cinta butuh pengakuan. Itu jelas. Saya mendapat pengakuan ketika saya diajak bertemu dengan teman-teman straight-nya, yang kini jadi teman-teman baik saya. Saya mendapat pengakuan ketika saya diajak bertemu keluarganya.

Lakhsmi mendapat pengakuan besar dari keluarga saya. Bagaimana dia memanggil ibu saya dengan sebutan, “Mama.” Bagaimana dia punya kursi sendiri di kantor saya. (Kursi merah itu lho, chayang). Kursi yang oleh teman-teman kantor saya dibilang “milik Alex.”

Entah bagaimana kami selalu bisa mendapat pengakuan itu. Rekan-rekan kerja saya, atasan saya, sahabat-sahabat saya tahu dan mengenal Lakhsmi. Saya jadi ingat ketika salah satu sahabat SMA saya menikah, dan di kartu undangannya dia menulis Alex dan Partner. Lalu kami datang membawa si kecil yang waktu itu masih belum satu tahun.

Di kantor, sewaktu acara ultah perusahaan, saya membawa Lakhsmi. Hehehe, kami sempat suap-suapan tiramisu saat duduk di sebelah bos saya. :p

Di acara keluarga, saya selalu diajak makan malam bersama keluarganya. Seperti yang kami lakukan secara rutin setiap kali ada yang berulang tahun atau perayaan lain.

Kami menjadi pasangan yang nyata, yang muncul bukan dalam bentuk dunia maya atau khayalan. Kami mendapat pengakuan dari orang-orang terdekat kami. Maksudnya, saat saya bicara soal pacar/partner/istri, orang langsung tahu bahwa Lakhsmi bukan khayalan yang cuma hidup dalam benak saya. Kami ada, hidup, bernyawa, dan bergerak. Dia bukan cuma sosok yang fotonya cuma saya simpan di hape dan saya pamerkan ke teman-teman saya, lalu saya bilang "Ini lho pacar gue..." Sementara teman-teman saya nggak pernah bertemu dia sama sekali, dan makin lama teman-teman saya menganggap saya cuma mengarang indah.

Bersama Lakhsmi, saya selalu menjadi prioritas hidupnya. Saya tak pernah merasa jadi orang nomor dua, atau nomor 108, atau nomor kesekian. Atau saya jadi perempuan yang cuma mendapat kesempatan beberapa jam dalam seminggu di antara hari-harinya yang padat. Atau perempuan yang menunggu di tepi jalan siap sedia dijemput kala Lakhsmi siap bertemu. Waktu Lakhsmi (hampir) selalu tersedia untuk saya.

“Lex, nanti malam kalau bisa datang ya ke acara launching. Ajak Lakhsmi sekalian,” demikian kata seorang kolega saya saat kami bertemu untuk ngupi-ngupi.

“Lex, besok malam undangan premier nonton di Blitz. Datang bareng Lakhsmi, kan?” demikian pesan yang terpampang di Yahoo Messenger saya.

“Mbak, cuma mau confirm aja nih, hari Sabtu nonton premiere bareng Mbak Lakhsmi, kan?” demikian pertanyaan sekretaris di kantor.

Minggu ini acara saya lumayan padat dengan undangan nonton dan launching, huehehe, sok penting mode on nih. Dan dari semua undangan itu, semuanya menyertakan nama Lakhsmi. Bagi saya, ini merupakan suatu bentuk pengakuan atas hubungan kami.

Kami memang bukan pasangan konvensional. Dalam dunia yang menganut paham kekinian pun, bisa dibilang kami pasangan ajaib. Namun entah bagaimana, dalam dunia hetero yang katanya sadis dan menghakimi ini, kami hidup, bergerak, bernyawa. Dan yang terpenting kami mendapat pengakuan dengan caranya sendiri.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

3:56 PM

The Best Years of My Life

Posted by alex |

“Sayang, lihat, dia udah bisa mamam sendiri,” saya menjerit bangga melihat si bungsu yang hari ini berusia dua tahun memasukkan bihun goreng ke mulutnya. Wajahnya kotor belepotan bihun goreng yang menempel di sekitar mulutnya.

Lakhsmi tersenyum, menghampiri saya di meja makan. “Dua tahun lalu, dia baru keluar dari perut ya, Chay,” katanya, “inget nggak?”

“Inget banget...” saya menyahut tanpa melepaskan pandangan dari si kecil. Sementara dalam benak saya semua kenangan tentang kelahiran si kecil bersambar-sambaran laksana kilat.

Look, mommy, look,” kata si kecil memamerkan tangannya yang sama belepotannya dengan wajahnya.

Kemudian Lakhsmi mengambil tisu basah lalu mengelap tangan yang kotor itu sementara si kecil tertawa-tawa riang.

Dengan matanya yang besar si kecil memandang kami berdua, lalu bertanya imut, “Upuk?” katanya sambil menunjuk stoples berisi kerupuk.

No, no upuk for you...”

“Pisss... mommy, pisss.... upuk?” tanyanya lagi makin imut.

Oke, kami tahu bahwa seharusnya kami tegas tidak memberi kerupuk buat si kecil, apalagi kami sudah melarangnya tadi, tapi... melihatnya memandang kami dengan tampang imut dan inosen membuat hati kami langsung lumer.

“Oke, satu aja ya upuknya.”

Si kecil pun langsung berlari gembira memegang upuk, eh, kerupuk di tangannya.

“Yuk, chay, cepetan siap-siap... kita mesti beli segala persiapan buat pesta ultah si kecil nanti sore.”
“Bentar dong, Mom, aku belum selesai ngopi nih.” Saya menunjuk gelas kopi di meja yang masih tersisa setengah.

Lakhsmi mendekatkan kursinya dengan tempat duduk saya.
“Sayang...”
“Hm?”
“Kamu tau nggak sih? Aku memutuskan untuk punya si kecil karena kamu?”
“Sungguh?”
“Iya, aku kepingin punya anak bersama kamu.”
Saya meraih tangan Lakhsmi di atas meja makan, menggenggamnya erat-erat. Dia tersenyum manis, kami bertatapan lekat-lekat. Waktu seakan berhenti, dan suasana begitu romantis yang kemudian....

“Mommy, upuk, upuk... agi, agi...” Ternyata si kecil sudah berada di antara kami, seraya menunjuk-nunjuk stoples dengan tangannya yang sudah kosong.

Hahaha, seketika tawa kami meledak berbarengan. Si kecil jadi ikut-ikutan tertawa melihat kedua maminya ngakak. Susah deh beromantis kalau sudah ada anak... :) tapi kami tak pernah menyesali satu detik pun. Meskipun kini saya terpaksa tidak nonton American Idol karena bersaing dengan anak-anak yang kepingin nonton Save-Ums dan Jojo. Hiks.

“Oke, ini satu lagi ya... Terakhir. Nggak ada upuk lagi.” Si kecil langsung girang dan kembali berlari cepat ke depan rumah menunjuk kucing yang sedang tidur malas di taman.

“Yuk, Chay, buruan abisin kopinya... kita cabut, ini akan jadi hari yang panjang...”
Buru-buru saya menghabiskan kopi dengan dua kali tenggak... hmm.

***
Malamnya, ketika pesta ulang tahun selesai, dan si kecil sudah bersiap-siap tidur, saya memberikan kecupan selamat tidur buat si kecil.
"Happy birthday, baby." Yang disambut dengan ciuman basah penuh ludah dari si kecil di pipi saya.
Lakhsmi sudah mematikan lampu di kamar, dan saya berbisik padanya.
"Sayang... Aku nggak pernah menyangka bisa sejauh ini bersama kamu. Dua tahun terakhir rasanya hidupku penuh. Kadang hectic dengan kepentingan anak-anak... tapi aku bersyukur. It was the best years of my life."

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2:19 PM

Obrolan Malam

Posted by alex |

Beberapa waktu lalu saya menonton acara Victoria’s Secret Show di TV. Yeah, yeah saya ngaku deh, saya emang lesbian yang suka ngeliat cewek-cewek cantik berseliweran di TV. Favorit saya adalah Adriana Lima, yang meskipun kata teman saya agak tonggos, tapi di mata saya tampak HOT hingga bisa menyalakan kompor. Miranda Kerr, fiuhhh... gadis Victoria's Secret asal Australia yang mengingatkan saya kepada keponakan saya, huehehe... dasar tante mesum. Heidi Klum dengan nickname The Body, dengan tubuh aduhai molek memesona. Atau Alessandra Ambrosio, yang namanya saja sudah terdengar sexyyyy...

Saya habis-habisan menonton acara itu dengan seru. Saya kagum bagaimana produk pakaian dalam untuk perempuan bisa punya kekuatan magis begitu besar. Victoria’s Secret mungkin bukan produk pakaian dalam terbaik tapi jelas terbaik dalam segi publisitas dan marketing. Walah... kok jadi bicara soal brand ya?

Balik lagi ke cewek-cewek sexy, hot, menggairahkan...

Melihat cewek-cewek cantik ini saya jadi teringat obrolan saya dengan Lakhsmi. Dia pernah bertanya, “Ngeri nggak sih dilahirkan dengan kecantikan seperti itu?”
"Ngeri," jawab saya lugas.

Sungguh saya sih ngeri kalau secantik, sekaya, dan setenar model-model itu. Gimana nggak takut? Kalau saya jadi mereka, saya tidak tahu apakah orang-orang mengejar hanya kecantikan atau ketenaran saya, dan apakah karena ingin tidur dengan orang sehebat saya? Hahaha, ini jawaban pembenaran dari orang gak cantik, gak ngetop, dan gak tajir ya.... wakakakak.... :p

Saat sedang melamun sambil memerhatikan busana minim yang dipakai para model itu, Lakhsmi keluar dari kamar tidur dalam keadaan setengah mengantuk berbalut piama Strawberry Shortcake yang imut. Saya tersenyum memandang Lakhsmi mendekat dengan langkah gontai, masih dengan "bantal look" yang selalu bikin saya teringat "rumah" bersamanya.

“Lagi nonton apa?” tanyanya, seraya duduk di samping saya. “Ya ampun, nonton beginian? Haduh kamu tuh nggak ada kerjaan banget ya.... Om-om sekali...”

Saya hanya nyengir sok imut. “Ceweknya cakep-cakep nih, Chay. Nonton deh... seru.”

“Kamu mau nggak pacaran sama cewek-cewek itu?” tanyanya.
“Nggak mau ah...,” jawab saya cepat.
“Kenapa?”
“Ogah. Lagi pula buat apa? Emangnya penting gitu pacaran sama supermodel? Aku udah punya kamu kok, hehehe...”
Kami duduk semakin dekat, mengawasi TV dan acara yang makin nggak penting karena kami pindah ke channel E!

***
“Chay...”
“Hmmm?”
“Kalau aku udah nggak secantik supermodel itu dan bodiku udah nggak seperti bodi Heidi Klum, kamu masih mau sama aku?”
Saya menoleh memandang Lakhsmi, dalam tatapan yang berakhir dengan gelak tawa bak orang gokil menjelang tengah malam... Halah, cape deh...

Aku membayangkan menyiapkan cokelat panas untukmu, menyarungkan kaus kaki tebal di kakimu yang telah keriput. Bersama-sama kita berdua duduk di balkon apartemen, di kursi goyang seperti layaknya tempat duduk bagi dua nenek, memandangi para pasangan muda yang saling mencintai.
(Gerhana Kembar - Clara Ng)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Bulan Januari 2008, saya melihat foto dan artikel singkat tentang Irshad Manji di majalah Out, dan saya tergerak mencari tahu tentang perempuan yang amat menarik ini.

Irshad Manji adalah feminis muslim yang juga penulis, wartawan, dan aktivis yang terkenal dengan gerakan ijtihad, pemikiran kritis dalam tradisi Islam. Operasi Ijtihad yang diluncurkan Irshad Manji adalah organisasi yang menciptakan jaringan muslim yang tertarik dalam reformasi liberal Islam.

Perempuan warga negara Kanada ini lahir di Uganda tahun 1968 dari keluarga keturunan Gujarat. Ia berasal dari keluarga kelas menengah ke atas selama tinggal di Uganda. Namun keluarga Irshad Manji terpaksa berimigrasi ke Kanada pada tahun 1972 karena pemerintah Idi Amin mengusir keturunan Asia Timur dari negara itu.

Menurut Irshad Manji tinggal di Kanada ibarat memenangkan lotre. Ia bersekolah di sekolah umum di Vancouver, namun tetap menimba ilmu di madrasah hingga dikeluarkan dari madrasah pada usia 15 tahun karena terlalu banyak “bertanya”. Pada tahun 1990, ia lulus dengan pujian dari University of British Columbia, memenangkan penghargaan Governer General’s untuk prestasi akademis terbaik.

Lulus dari universitas, Irshad Manji memulai karier sebagai penulis dan penyiar. Pada usia pertengahan dua puluhan itulah dia menyadari bahwa dirinya ternyata lesbian. "Saya terkejut ketika saya jatuh cinta pada perempuan,” katanya. Namun keterkejutannya tidak berlangsung lama. Pada tahun 1998, di Kanada dia memproduksi dan menjadi pembawa acara QueerTV, salah satu program TV komersial pertama yang mengeksplor kehidupan gay dan lesbian. Dan acara tersebut juga disiarkan melalui portal Web planetout.com.

Irshad Manji menyatakan dirinya sebagai Muslim Refusenik. Bukan berarti ia menolak menjadi seorang muslim, ia sendiri tetap menjadi muslim yang taat. Muslim Refusenik berarti menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Kelantangannya bersuara membuat Manji sering mendapat ancaman maut. Bahkan rumahnya didesain dengan kaca antipeluru dan tidak jarang dia menggunakan tenaga bodyguard setiap kali di luar rumah.

Pada akhir tahun 1990-an, Irshad Manji bertemu dengan Michelle Douglas yang kemudian tinggal bersamanya di Toronto. Dalam halaman persembahan buku The Trouble with Islam Today, Manji menulis, "Aku memakai dua cincin, satu cincin melambangkan cintaku pada Tuhan, dan satu lagi simbol komitmenku pada Michelle Douglas, partnerku.”

The Trouble with Islam Today yang terbit tahun 2004 konon sudah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa. Menurut Manji, The Trouble with Islam Today adalah alarm untuk membangkitkan kejujuran dan perubahan dalam diri semua orang. Buku ini sendiri telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bisa dibaca dan didownload secara gratis di http://www.irshadmanji.com/

Berbagai review positif dan hujatan kepada Manji muncul dari buku ini. The New York Times menyebut Manji sebagai “mimpi buruk Osama bin Laden”. Tahun 2005, Oprah Winfrey memberikan penghargaan Chutzpah pada Manji karena berani, lantang, dan teguh dalam menyuarakan keyakinan dan perjuangannya. The World Economic Freedom Forum memilihnya sebagai Young Global Leader. The Jakarta Post menyebut Manji sebagai salah satu dari tiga perempuan Islam yang memberi perubahan positif pada Islam masa kini. Majalah Out edisi Januari 2008 menampilkan Irshad Manji sebagai salah satu sosok "Out 100 sebagai The Men and Women Who Made 2007 a Year to Remember."

Mengenai keadaan dirinya yang lesbian, Manji mengatakan, “Aku menerima kemungkinan bahwa orientasi seksualku mungkin dosa. Tapi hanya sang pencipta bisa membuat penilaian itu. Al-Quran menyatakan segala yang diciptakan Tuhan adalah baik, dan tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Jika sang pencipta tidak mau menciptakan aku sebagai lesbian, kenapa Dia tidak menciptakan orang lain menggantikan diriku? Karena Tuhan yang Maha Kuasa bisa saja tidak menjadikanku lesbian.”

Isu lesbian ini sering “menampar” Manji dan membuat idenya tentang reformasi Islam dikait-kaitkan dengan seksualitasnya. Ketika ditanya mengapa dirinya harus membuka diri tentang orientasi seksualnya itu, Irshad Manji menjawab, “Karena aku mengajak umat muslim untuk jujur, aku harus memberi contoh.” Itulah yang terus dilakukan oleh Irshad Manji, sebagaimana yang tertulis dalam situs webnya untuk terus menyuarakan ijtihad, reformasi Islam, dan keberanian moral.

My name is Irshad. I’m a faithful muslim. I speak out against violence and human rights abuses in the name of God. Courage is not the absence of fear. Courage is the recognition that some things are more important than fear.

@
Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe