3:32 PM

10 +1 Adegan Seks (Lesbian) Terbaik dalam Film

Posted by alex |

Iseng mode on lagi. Kali ini saya mengumpulkan beberapa adegan seks (lesbian) terbaik dalam film. Ada beberapa film yang disebutkan di sini yang bukan film lesbian, tapi adegan seksnya merupakan adegan yang tak terlupakan dan layak ditonton.
Daftar disusun berdasarkan abjad.

Better than Chocolate
Fun! Itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan adegan ini. Maggie (Karyn Dwyer) dan Kim (Christina Cox) melakukan body painting, lalu bereksperimen dengan tumpahan cat dan kain.... wowww!!! Bukan jenis fun yang saya suka sih, secara saya bawaannya mau mandi aja pas nonton. Yang, ehm, emang sih di film dilanjutkan dengan mandi... ugh, jadi kepingin, hehehe... Tapi, adegan ini jelas-jelas sexy dan FUN!

Bound
Bound adalah film yang tidak bisa saya lupakan karena ini film lesbian pertama yang saya tonton di bioskop. Pertama kali saya menonton film ini midnight di Sunter Mal. Akibat babatan gunting sensor yang kejam di bioskop, akhirnya saya penasaran dan memburu film ini lalu menontonnya berkali-kali di laserdisc, kemudian DVD. Adegan erotis dimulai ketika Corky (Gina Gershon) pertama kali berkunjung ke apartemen Violet (Jennifer Tilly). Sehabis memperbaiki pipa ledeng, mereka duduk di sofa diiringi “obrolan” yang penuh hasrat terselubung (gila deh, adegannya bikin deg-deg-an :p). Dengan tato dan kaus singlet, Corky tampil sebagai butch sangar mantan napi yang tunduk di bawah rayuan femme Violet. Adegan yang dimulai di mobil lalu berakhir di ranjang membuat penonton ikutan terengah kehabisan nafas.

Boys Don’t Cry
Saya memasukkan adegan dalam film ini karena ini adegan yang indah. Indah dalam arti, begini.... Adegan seks ini dilakukan oleh Brandon (Hillary Swank) dan Lana (Chloe Sevigny) di ruang terbuka di bawah langit di atas rumput. Lana mengira sedang bercinta dengan laki-laki, tapi ada satu detik saat ketika dia menyadari bahwa Brandon sebenarnya bukan lelaki namun Lana bersikap pura-pura tidak tahu dan melanjutkan adegan tersebut. So sweet...

Desert Hearts
Intim, romantis, mendebarkan. Itu perasaan saya ketika melihat adegan ranjang antara Cay (Patricia Charbonneau) dan Vivian (Helen Shaver). Vivian adalah janda berusia 35tahun yang baru pertama kali melakukan hubungan seks dengan sesama perempuan yang meskipun masih muda namun sudah jauh berpengalaman. Adegan ini dibuat tanpa latar belakang soundtrack lagu atau music score sehingga jadi berasa lebih alami. Duh, saya bisa ngulang-ngulang nonton cuma di bagian ini saja. :)

Gia
Adegan ciuman di antara jeruji antara Gia (Angelina Jolie) dan Linda (Elizabeth Mitchell) ketika mereka difoto telanjang adalah adegan seks yang masuk kategori layak dikenang. Ada adegan ranjangnya juga dan adegan Angelina Jolie telanjang, saya ulang ya, TELANJANG!!! Tidak full frontal sih, tapi lumayanlah. Ada adegan mandi bersama yang sebenarnya sedih, tapi indah.

If These Walls Could Talk #2
Hm, di antara ketiga adegan, antara tahun 1960-an, 1970-an, 2000-an, saya memilih adegan tahun 1970-an sebagai adegan seks terbaik. Linda (Michelle Williams) mahasiswi aktivis feminis/lesbian jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny) yang butch abis. Dan sehabis boncengan di Harley si butch, Linda pun mampir ke rumah Amy, yang diakhiri dengan percintaan manis di ranjang.

Lost and Delirious
Adegan seks antara Paulie (Piper Perabo) dan Tory (Jessica Paré) mengingatkan pada cinta pertama remaja yang pahit-manis. Adegan ranjang terjadi di kamar asrama, tidak peduli pada kondisi sekitar, meskipun ada satu teman lagi yang tidur di kamar itu. Remaja sering kali berpikir dengan emosi, sehingga adegan yang terjadi pun penuh dengan intensitas emosi yang tinggi dan tentu saja gairah cinta pertama.

Mulholland Drive
Entah DVD-nya yang buram atau mata saya yang rabun, atau kenyataannya adegan seks antara Rita (Laura Harring) dan Betty (Naomi Watts) dilakukan dalam kamar yang temaram. Agak gelap sih tapi ada bagian-bagian tubuh tertentu yang kelihatan kok, apalagi saat itu Naomi Watts belum setenar sekarang, jadi lebih berani pamer bodi. Ditambah lagi Laura Harring dan Naomi Watts super-duper cantik dalam film ini. Masih ada “bonus” pula dengan adegan masturbasi yang dilakukan Betty yang okeh punya.

Tipping the Velvet
Well, hm... menonton film ini membuat saya jadi "mendapat pengetahuan" bahwa dildo ternyata sudah ada sejak abad ke-18. Dalam film ini tokoh utama bernama Nan (Rachael Stirling) harus menjadi simpanan tante-tante kaya yang harus menjadi budak nafsunya. Dalam salah satu pesta, Nan yang kesal dengan sang tante melakukan hubungan seks dengan pembantu sang tante. Selain adegan itu, ada pula adegan ketika Nan melakukan hubungan seks dalam kamar sempit bersama kekasih perempuannya, sebelum dia dicampakkan dan akhirnya jadi budak nafsu tante-tante kaya.

Wild Side
Hot Steamy sex scene mulai dr meja rias, sampe bergulingan di ranjang. Telanjang. Dijamin HOT!!! Film ini sih cuma untuk ditonton adegan gituannya aja deh. Kalau buat saya sih udah masuk kategori film semi, yang kalau diputar di TV bisa diputar pada jam setan alias lewat tengah malam dan dipotong habis 25 menit :p. Cerita film yang diperankan oleh Anne Heche dan Joan Chen ini nggak penting banget sebenarnya, yah cerita standar erotic thriller ala Night Eyes gitu deh. Namun adegan seks lesbian dalam film ini sih layak tonton karena hot hingga bisa bikin melepuh.

Wild Things
Ini film yang saya tonton di bioskop karena ini satu-satunya film yang paling sepi di antara 4 teater. Saya inget banget nih pas beli tiketnya, saya dan teman saya bertanya, “Mbak, bioskop yang paling sepi yang mana?” Hehehe... niat banget ya, nontonnya :). Tapi ternyata filmnya okeh banget, jadi nggak nyesel juga nontonnya. Adegan hot antara Neve Campbell dan Denise Richards dimulai dengan ciuman panas di kolam renang. Dan adegan threesome antara Neve, Denise, dan Matt Dillon adalah adegan threesome klasik yang seksi. Film ini mengingatkan saya pada dua karya sutradara Paul Verhoeven, yaitu Basic Instict (karena kejeniusan penjahatnya) dan Showgirls (terutama pas adegan kolam renang :p).

Untuk sementara, karena cuma bekerja berdasarkan ingatan, film-film hot yang "terkumpul di otak" hanya 11 film di atas. Ada beberapa film lain seperti Love My Life yang juga lumayan berani, namun sayang adegannya cuma di awal dan akhir film. Loving Annabelle juga lumayan meskipun bukan favorit saya. Selamat menonton!

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Kalau kau ingin menyaksikan serial TV dengan karakter perempuan-perempuan kuat, tontonlah Battlestar Galactica versi tahun 2004 ini. Sekarang serialnya sudah masuk musim tayang keempat bulan Maret 2008. Di serial ini kau bisa melihat cewek tangguh seperti Kapten Kara ”Starbuck” Thrace (Katee Sackhoff), yang dalam serial asli Battlestar Galactica tahun 1980-an adalah laki-laki. Walaupun ditampilkan straight, tapi penampilan Starbuck bener-bener asyik buat dilihat. Pilot terhebat antar-galaksi, jagoan yang tidak kenal takut.

Selain Starbuck, perempuan pun menjadi presiden di masa ketika umat manusia di ambang kehancuran. Mary McDonnell berperan sebagai Presiden Roslin yang pendapatnya didengar dan diamini oleh umat manusia. Masih ditambah dengan karakter-karakter Cylon, yang diperankan oleh Tricia Helfer yang mantan model Playboy sebagai Number Six, dan Lucy Lawless sebagai Number Three (baru muncul di season 3). Sebelum bingung, Cylon adalah hybrid manusia/mesin dan bertujuan memusnahkan manusia dan menguasai jagad raya.

Dan pada Season 2 kita diperkenalkan sebentar dengan Admiral Helena Cain (Michelle Forbes) pemimpin Battlestar Pegasus yang bengis, no-nonsense, dan dingin. Walaupun tampil hanya beberapa episode, Admiral Cain jelas karakter yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Dan itu yang membawa kita pada Battlestar Galactica: Razor ini. Razor sendiri merupakan sempalan FTV sepanjang dua jam yang ditayangkan pada bulan Oktober 2007, bukan serial. Kenapa dibahas di sini? Karena Admiral Cain ternyata lesbian, dan hubungan lesbiannya itu walaupun tidak dijelaskan secara terperinci dan jelas memiliki arti penting dan kaitan dalam cerita Battlestar Galactica.


Battlestar Galactica: Razor dibuka tepat sebelum serangan Cylon dan flashforward sepuluh bulan kemudian. Dan kita melihat semua kejadian itu dari mata Kendra Shaw (Stephanie Jacobsen), yang pada hari pertama kerjanya pada Admiral Cain langsung menghadapi serangan Cylon yang menghabisi umat manusia di bumi.

Dalam Razor, terungkap bahwa Admiral Helena Cain ternyata menjalin hubungan khusus dengan netwok administrator bernama Gina alias Cylon Number Six (Tricia Helfer). Pada season 2, serial Battlestar Galactica kita bisa melihat bagaimana sadisnya perlakuan Admiral Cain pada Cylon, terutama pada Gina, dan di Battlestar Galactica: Razor kita bisa melihat alasannya. Mungkin bagi yang tidak pernah menonton serial Battlestar Galactica, akan sedikit "kejeduk" bingung pada saat menonton Razor. Karena bisa dibilang Battlestar Galactica: Razor merupakan semacam mata rantai yang hilang dari serialnya.

Hubungan Cain dan Gina, yang dilihat dari mata Kendra, ditampilkan secara samar seperti sentuhan yang beberapa detik lebih lama daripada seharusnya atau lirikan yang mesra. Dan itu membawa Kendra untuk menaruh kepercayaan lebih pada Gina. Padahal Gina sebenarnya mata-mata Cylon yang disusupkan ke kapal perang Admiral Cain.


Gina: Here I thought we were being so discreet. I guess that's hard when you truly care for someone. To satisfy your curiosity, we met a few months ago when I presented the plans for the retrofit. Spent a lot of time together working out the details, and I guess one thing led to the other. You seem so surprised.

Kendra: It's just that Cain seems so self-sufficient.

Gina: She has needs, just like the rest of us. No one can survive entirely on their own. Trust me, Lieutenant, in the end we're all just human.

Dan memang kemarahan Cain setelah mengetahui pengkhianatan Gina amat sangat manusiawi. Emosional, tapi tetap manusiawi. Bukankah emosi dan perasaan yang menjadikan kita manusia? Ada dua kubu dalam memandang cerita lesbian dalam Battlestar Galactica: Razor. Ada yang memandangnya sebagai hal negatif dengan penggambaran lesbian sebagai lesbian mati dan bengis. Ada pula yang memujinya sebagai langkah positif dengan penggambaran lesbian dalam serial sci-fi. Tapi saya pribadi, jika kau mengerti esensi Battlestar Galatica dalam perang manusia vs Cylon, bagaimana manusia berada dalam kondisi perang dan "kiamat" akibat serangan Cylon, bagaimana Cylon-Cylon spesial yang bertubuh manusia dan berjiwa mesin ingin menjadi manusia "seutuhnya", kau akan mengerti bahwa apa yang dilakukan Cain terhadap Gina adalah hal yang amat sangat wajar dalam keganasan perang.

Buat saya pribadi, menampilkan Admiral Cain sebagai lesbian adalah satu langkah teramat maju dalam serial TV bertema sci-fi. Selama bertahun-tahun saya menonton Star Trek, belum pernah ada karakter gay/lesbian yang signifikan, padahal konsepnya adalah “to explore strange new worlds, to seek out new life and new civilizations, to boldly go where no man has gone before.” Sehingga timbul pertanyaan dalam benak saya, apakah jauh di masa depan di peradaban baru atau dunia baru tidak ada lagi gay/lesbian? Apakah mereka “disembuhkan” atau “dihabisi”? Atau cuma kreatornya saja yang malas menampilkan karakter gay/lesbian? Yah, semoga dugaan saya yang terakhir yang benar. Walaupun dalam hati saya sering curiga dengan kedekatan Kapten Kirk dan Mister Spock.

Pada akhir tahun 1990-an, dalam serial Babylon 5 ada hubungan cinta teramat samar antara Commander Susan Ivanova (Claudia Christian) dan telepath Talia Winters (Andrea Thompson), meskipun kemudian Ivanova digambarkan sebagai biseksual dengan tertarik pada laki-laki. Beberapa tahun kemudian, dalam Star Trek: Deep Space Nine ada satu episode ketika Jadzia Dax dan Lenara Kahn, yang diperankan dua perempun menjalin hubungan intim (walaupun hanya digambarkan dengan adegan ciuman). Namun sayangnya keduanya merupakan makhluk Trill yang tidak jelas jenis kelaminnya.

Menjadikan seorang Admiral tersohor---manusia dan jelas jenis kelamin perempuannya, yang memimpin armada kapal perang Battlestar sebagai lesbian merupakan langkah besar dalam menampilkan visibilitas lesbian dalam dunia sci-fi televisi. Paling tidak, jika di bumi ini sulit bagi kita untuk berpijak, ada ruang dan tempat di galaksi di masa depan dalam dunia sci-fi yang jadi tempat bagi gay/lesbian untuk hidup dan bernapas dengan lega.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

9:31 PM

Kronologi 25 Tahun Sastra Lesbian di Indonesia

Posted by alex |

Buku-buku lesbian termasuk salah satu genre yang menjadi lirikan saya setiap kali ke toko buku. Terutama buku-buku fiksi. Saat melihat kembali buku-buku yang berderet di rak buku, tangan saya menelusuri buku-buku tersebut dan mata saya membaca kembali tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya sehingga terbersit niat untuk membuat semacam kronologi singkat sejarah sastra lesbian di Indonesia selama 25 tahun.


Relung-Relung Gelap Hati Sisi - Mira W. (1983)
Dimulai pada tahun 1983, ketika Mira W. menerbitkan Relung-Relung Gelap Hati Sisi yang menjadikannya novel populer pertama di Indonesia yang mengangkat isu lesbian. Buku ini mengisahkan sepasang gadis SMA bernama Sisi dan Airin yang jatuh cinta terhadap satu sama lain, namun memutuskan untuk membunuh hasrat tersebut. Airin memutuskan pergi ke Amerika, sementara Sisi berkonsentrasi pada kuliah kedokteran. Namun cinta mereka terlalu besar untuk dipadamkan begitu saja dan baik Sisi maupun Airin tidak bisa melupakan cinta mereka. Hingga bertahun-tahun kemudian Sisi dan Airin bertemu lagi ketika Airin menjadi pasien, dan Sisi menjadi dokter.

Sampai saat ini, Relung-Relung Gelap Hati Sisi masih terus dicetak ulang dan mencapai cetakan ketujuh. Mira W. Sendiri adalah salah satu pengarang senior papan atas Indonesia yang sudah berkarya selama lebih dari 30 tahun dan telah menghasilkan lebih dari 70 buku. Kisah cinta Airin dan Sisi dalam novel yang terbit pertama kali 25 tahun lalu masih menjadi kisah yang relevan untuk dibaca sampai zaman sekarang tidak hanya oleh pembaca lesbian, namun juga untuk pembaca heteroseksual.

Menguak Duniaku: Kisah Sejati Transeksual - R. Prie Prawirakusumah dan Ramadhan KH (1988)
Menguak Duniaku: Kisah Sejati Transeksual pertama kali terbit tahun 1988, ditulis oleh R. Prie Prawirakusumah dan Ramadhan KH. Buku ini dicetak ulang dengan beberapa revisi di sana-sini pada tahun 2005. Mungkin buku ini akan “lewat” begitu saja dan hanya akan jadi buku ala biografi yang dipandang sebelah mata jika bukan ditulis oleh Ramadhan KH. Ramadhan KH. adalah sastrawan terkemuka yang telah menulis puluhan biografi orang penting, termasuk biografi Soekarno dan yang biografi terakhir sebelum Ramadhan KH. meninggal dunia tahun 2006 lalu adalah biografi Adnan Buyung Nasution, yang ditulisnya bersama Nina Pane.

Menguak Duniaku adalah novel semi-biografi yang berkisah tentang perempuan bernama Hen yang merasa terlahir di tubuh dan kelamin yang salah. Meskipun lahir sebagai perempuan, Hen merasa dirinya 100% laki-laki, dan jatuh-bangun dalam menjalin cinta dengan perempuan. Hen berusaha menjalani operasi ganti kelamin agar bisa menjadi lelaki sejati, namun apa dinyana tubuhnya dianggap tidak bisa menjalani operasi besar tersebut dan terpaksa harus tetap menjalani hidup sebagai “perempuan”. Menguak Duniaku adalah novel tentang kisah transeksual yang ditulis dengan baik, dan tidak hanya semata-mata curhat tentang derita menjalani hidup sebagai transeksual.

Saman - Ayu Utami (1998)
Saman sesungguhnya bukan novel lesbian, tapi tidak menyebut Saman dalam konteks ini rasanya tidak fair. Novel ini mengangkat nama Ayu Utami, sang penulisnya, ke level tertinggi dunia sastra Indonesia. Empat perempuan dalam Saman ditampilkan dengan karakter yang berbeda. Yasmin, Cok, Laila, dan Shakuntala adalah perempuan-perempuan yang mengalami “kegelisahan” seksual. Ada perempuan yang tidur dengan suami orang, perempuan yang tidur dengan pastor, perempuan yang menganut paham seks bebas, dan perempuan yang biseks. Konsep novel dengan perempuan baik hati dan cantik, yang menunggu cinta dari lelaki dihancurkan habis-habisan di sini. Dalam Saman, tokoh-tokoh perempuan memegang kendali atas tubuhnya sendiri dan melakukan pengambilan keputusan atas dasar itu.

Saman adalah novel yang terbit dalam momen yang teramat tepat, yaitu beberapa minggu sebelum kejatuhan Soeharto dan Orba pada bulan Mei 1998. Saman juga menjadi pemenang pertama novel DKJ tahun 1998 serta jadi novel yang paling dibicarakan satu dasawarsa lalu. Novel ini pula yang membuka kesempatan bagi penulis-penulis perempuan dengan tema-tema “berani”. Buku ini pula yang membuka pintu kesempatan untuk tokoh-tokoh lesbian atau gay menjadi karakter penting dalam novel. Kehadiran Saman melahirkan generasi perempuan penulis yang tidak malu buka-bukaan dan menelanjangi perempuan (dan laki-laki) habis-habisan dalam tulisan mereka serta membuka mata penerbit di Indonesia untuk menerbitkan tema-tema yang di luar garis.

Lines: Kumpulan Cerita Perempuan di Garis Pinggir - Ratri M. (2000)
Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada Lines: Kumpulan Cerita Perempuan di Garis Pinggir karya Ratri M. yang diterbitkan secara indie tahun 2000 adalah kumpulan cerpen lesbian pertama di Indonesia. Kumpulan cerpen ini terbagi atas tiga bagian Kasih, Keraguan, dan Penantian. Hampir semua cerpen di sini ditulis dengan gaya bercerita ala “curhat” yang banyak berisi kegalauan dan kegelisahan sebagai lesbian. Kebingungan dan keresahan sebagai lesbian disampaikan dengan jelas di sini.

Ratri M. tidak berusaha sok nyastra dalam kumpulan cerpen ini dan menjadikan kesederhanaan sebagai hal yang ditonjolkannya. Realitas yang diangkat dalam cerpen-cerpen ini terasa amat “sehari-hari”. Kau bisa menemukan kisah yang ada di sini pada lesbian tetanggamu atau sahabat lesbianmu atau bahkan pada dirimu sendiri. Membaca kumpulan cerpen ini seakan berkaca pada dunia abu-abu lesbian.

Jangan Beri Aku Narkoba - Alberthiene Endah (2004)
Terbit pertama kali pada tahun 2004, Detik Terakhir (d/h Jangan Beri Aku Narkoba) adalah novel yang menjadi inspirasi film berjudul Detik Terakhir dengan peran utama Cornelia Agatha dan Sausan. Novel ini bercerita tentang gadis remaja bernama Arimbi yang berasal dari keluarga broken home hingga kemudian dia lari pada narkoba. Kasih sayang yang didambakan Arimbi akhirnya dia temukan pada diri Vela. Buku ini tidak terjebak dalam paradigma bahwa lesbian dan narkoba adalah semacam simbiosis. Justru cinta antara Arimbi dan Vela-lah yang membuat mereka mau berusaha keras melepaskan diri dari jerat narkoba. Hebatnya, buku ini memberikan kejutan manis kepada pembaca novel di Indonesia dengan menjadi pemenang I Adikarya Ikapi sebagai buku remaja terbaik tahun 2005.

Selain dikenal sebagai novelis, Alberthiene Endah sudah malang melintang di dunia media selama 15 tahun dan menjadi pemimpin redaksi majalah Prodo serta dosen jurnalistik. Spesialisasi lainnya adalah menulis biografi dan skenario. Biografi KD, Venna Melinda, Raam Punjabi, dan Chrisye adalah hasil buah tangannya. Buku-bukunya kerap diangkat ke layar film dan TV, di antaranya Detik Terakhir dan Dicintai Jo, yang dua-duanya bertema lesbian. Sebelumnya Alberthiene Endah juga mengarang sebuah novel lesbian bergenre MetroPop berjudul Dicintai Jo pada tahun 2005.

Dicintai Jo - Alberthiene Endah (2005)
Ditulis dengan bahasa zaman sekarang yang ngepop dan gurih tidak membuat Dicintai Jo terperosok jadi novel garing yang nggak penting. Novel ini menghadirkan sosok lesbian butch yang keren, kaya, dan baik hati. Pokoknya sosok butch impian deh. Dan Jo ini mencintai Santi---tokoh utama dalam novel ini---yang sayangnya adalah straight. Namun Jo tidak kemudian serta-merta berubah jadi lesbian sakit jiwa yang obses terhadap perempuan straight yang jadi objek cintanya, sebagaimana image yang sering ditampilkan dalam koran-koran lampu merah. Dia tetap jadi Jo yang keren, kaya, dan baik hati. Hal ini menjadikan Jo sebagai ikon lesbian butch yang sehat dan menyenangkan. Hingga tulisan ini dibuat, Dicintai Jo dan Jangan Beri Aku Narkoba masing-masing sudah memasuki cetakan ketiga dan mencapai oplah @15.000 eksempar hingga kini.

Rahasia Bulan - Is Mujiarso (ed.) (2006)
Bicara soal literatur queer, jelas kita tidak bisa meninggalkan antologi Rahasia Bulan. Ini adalah kumpulan cerpen antologi pertama bertema LGBT yang terbit pada tahun 2006. Cerpen-cerpen di dalamnya ditulis oleh sederetan penulis “beken” dan “pemula” dalam konsep yang mencampuradukkan gaya “sastra”, “pop” dan “in-between”.

Gado-gado jelas menjadi kekuatan dan kelemahan antologi ini. Alasan pemilihan cerpen tampak rancu, tidak jelas apakah cerpen-cerpen yang termuat di sini dipilih berdasarkan pengarangnya atau cerpennya itu sendiri. Tidak semua pengarangnya adalah gay/lesbian, dan tidak semua cerpennya pernah dimuat di media massa. Akan tetapi kegado-gadoan itu pula yang menjadi kekuatan karena antologi ini dalam niatannya untuk menampung segala aspek yang ada dalam sastra queer. Dan Rahasia Bulan juga lahir berdasarkan semangat mengusung tema LGBT sehingga menjadi satu antologi yang kehadirannya layak dicatat dalam catatan sejarah literatur Indonesia.

Gerhana Kembar - Clara Ng (2007)
Gerhana Kembar mungkin cerita lesbian yang dibaca oleh pembaca terbanyak di Indonesia sejak Oktober 2007, karena sebelum diterbitkan menjadi novel, Gerhana Kembar menjadi cerita bersambung di harian Kompas. Secara hitungan kasar, puluhan ribu pembaca, entah itu pembaca homoseksual atau heteroseksual, membacanya setiap hari.

Novel kesembilan karya Clara Ng ini dibuat dengan kisah pararel antara tahun 1960-an dan masa sekarang. Sebuah naskah tua dan lembaran-lembaran surat yang ditemukan seorang editor bernama Lendy perlahan-lahan membuka tabir rahasia hidup neneknya. Naskah itu pula yang membuat Lendy menelusuri kembali jejak masa lalu Nenek dan ibunya dan membantu Lendy menemukan arti cinta yang sebenarnya.

Tulisan di atas hanya menampilkan beberapa novel, kumpulan cerpen, dan antologi yang mengangkat tema lesbian selama 25 tahun terakhir. Karya-karya di atas memiliki arti penting karena menjadi pionir dalam caranya sendiri untuk menembus dunia penerbitan dan sastra Indonesia yang konon dingin dan tak terjangkau. Dan kini menapaktilas kembali sejarah panjang dunia sastra kita, kita bisa melihat jejak kehadiran buku-buku tersebut dalam dunia sastra (lesbian) Indonesia.

Buku-buku yang memiliki unsur lesbian, baik itu dalam tema utama ataupun tokoh sekunder, merupakan suatu cara untuk menunjukkan visibilitas lesbian di Indonesia. Fiksi menggunakan medium seni untuk menjangkau yang tidak terjangkau melalui gerakan non-seni. Dan meminjam kata pepatah, selama 25 tahun tampak bahwa "mata pena (ternyata) lebih tajam daripada mata pedang."

@Alex,RahasiaBulan, 2007

Gerhana Kembar menjadi novel yang teramat penting dalam catatan sejarah sastra Indonesia. Mengikuti jejak novel fenomenal karya legenda sastra Indonesia, Marga T. dengan Karmila pada tahun 1973, Gerhana Kembar dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas sepanjang bulan Oktober 2007 hingga Januari 2008. Dan bisa dibilang, Gerhana Kembar adalah novel bertema lesbian yang dibaca oleh puluhan ribu pembaca koran setiap harinya.

Novel ini dibuat dengan kisah pararel antara tahun 1960-an dan masa sekarang. Mengisahkan tiga generasi nenek-ibu-cucu bernama Diana, Eliza, dan Lendy yang terangkai melalui sebuah naskah tua. Lendy yang berprofesi sebagai editor menemukan naskah yang diyakini sebagai naskah yang ditulis neneknya. Semakin lama Lendy membaca naskah itu, ia yakin naskah berjudul Gerhana Kembar tersebut merupakan kisah nyata.

Ber-setting pada tahun 1960-an, naskah Gerhana Kembar menceritakan tentang Fola dan Henrietta. Dua perempuan yang saling mencintai namun permainan takdir membuat mereka tidak bisa bersama. Setting tahun 1960-an mengingatkan kita bahwa lesbianisme bukanlah produk dari kebudayaan modern. Membuka mata kita bahwa sesungguhnya lesbianisme sudah ada sejak zaman nenek-nenek kita.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang lesbian, tapi juga tentang menjadi perempuan. Tentang menjadi istri dan ibu. Tentang menjadi anak dan cucu. Tentang cinta dan kebahagiaan. Beberapa novel gay/lesbian menyatakan “Cinta tak mengenal jenis kelamin”, tapi baru pada Gerhana Kembar, kita bisa perbandingan dari pernyataan di atas.

Clara Ng, sang pengarang, dengan manis mempararelkan adegan percintaan Fola dengan Henrietta di halaman 184-185 dengan adegan percintaan Eliza dan Martin pada halaman 201-202.

Dia ingin Henrietta berkata bahwa cinta tak pernah salah, dan jika kau mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu, kau sesungguhnya mendapat anugerah. (h.185)

Eliza ingin Martin mengatakan semuanya akan baik-baik saja, bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah salah. Tapi jikalau salah, Martin akan berada di sampingnya untuk memperbaikinya demi cintanya pada Eliza. (h. 202)

Di antara pengarang-pengarang yang muncul setelah tahun 2000, Clara Ng adalah ratu pembuat twist dalam cerita dan kenekatannya untuk membuat kisah yang terkadang di luar garis. Coba baca novel-novelnya seperti Tujuh Musim Setahun, The (Un)Reality Show, Utukki: Sayap Para Dewa, Dimsum Terakhir, dan Tiga Venus. Anda akan lihat bagaimana gilanya sang pengarang dalam menabrakkan diri untuk menulis tema yang mungkin tidak terpikir oleh pengarang-pengarang lain. Dia juga pengarang serbabisa, bukan hanya dikenal sebagai novelis, tapi juga cerpenis yang karya-karyanya menghiasi media massa nasional, serta penulis buku anak yang memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi selama dua tahun berturut-turut.

Gerhana Kembar tidak semata-mata bercerita tentang kisah lesbian. Sebagaimana Dimsum Terakhir, buku ini juga sangat perempuan. Tokoh-tokoh utama dalam novel ini adalah perempuan dan tidak ada peran antagonis ala sinetron di sini. Karakter lelaki di dalam Gerhana Kembar pun merupakan sosok lelaki-lelaki yang baik dan patut menerima cinta dari tokoh-tokoh perempuan.

Melalui Gerhana Kembar, sebagai lesbian kita akan terseret dalam dilema kebahagiaan yang dihadapi Fola dan Henrietta. Kebahagiaan adalah konsep yang bentuknya relatif. Seperti kata Diana pada halaman 314, “Bahagia itu memang pilihan. Melihat orang lain bahagia juga pilihan.” Dan bagi saya, novel ini memiliki ending bahagia yang “sempurna”. Sulit bagi saya membayangkan ending lain yang lebih baik dari ending yang diberikan oleh novel ini.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe