8:29 PM

Rumah Umi

Posted by alex |

Di saat menjelang lebaran begini, saya sering terkenang pada Umi. Buat saya, Umi ibarat ibu kedua. Dia adalah perempuan tua tetangga sebelah rumah, janda yang usianya lebih tua sedikit daripada usia ibu saya. Sejak saya jadi anak yatim ketika berusia lima tahun, ibu saya harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi lima anaknya. Di rumah ada masanya ketika kami tidak punya televisi, sehingga akhirnya saya lebih sering main ke rumah Umi pada siang hari sepulang sekolah.

Umi memiliki usaha katering makanan Arab-Timur Tengah. Saya menikmati menonton kesibukan memasak diiringi teriakan-teriakan ibu-ibu tukang masak di sana. Dan biasanya saya mendapat jatah jika ada makanan lebih. Hampir setiap bulan saya bisa menikmati sajian nasi kebuli, roti maryam, atau gule kambing, atau diberi satu-dua butir kurma oleh Umi di kala puasa. Jangan tanya makanan apa yang disajikannya saat lebaran, pokoknya saya pasti kenyang banget sepulang dari rumah Umi. Dan Umi tahu saya paling doyan nasi kebuli kambingnya. Pada saat Imlek, Umi pasti mengantar makanan Arab buat Ibu, dan nasi kebuli jadi makanan favorit saya setiap Imlek, meskipun Ibu bilang saya jadi bau kambing sehabis makan.

Kalau Umi tidak sedang sibuk dengan kateringnya, saya duduk-duduk di rumah Umi, kadang-kadang duduk menikmati embusan angin di depan pintu sambil mencari kutu. Umi kadang-kadang terlalu pelit menyalakan TV hanya buat saya, jadi lebih sering saya memandangi TV berlemari yang tertutup itu kemudian membaca harian Lembergar Pos Kota yang saya bawa dari rumah. Tidak jarang saya tidur siang di atas karpet di ruang tamu sementara Umi duduk-duduk di dekat sumur di belakang rumah bersama ibu-ibu lain. Setiap kali saya masuk ke rumah Umi, saya sudah siap-siap mencium wangi minyak samin dan parfum Arab. Jika saya memejamkan mata saya sekarang, kenangan tentang aroma itu pasti akan menyerbu masuk menjelajahi indra penciuman saya.

Suatu hari saya pernah masuk ke kamar Umi dan melihat lukisan kaligrafi indah tergantung di dinding. Tidak ada hiasan foto di sana. Sewaktu melihat Umi salat, saya melihatnya dengan rasa takjub. Pernah sekali saya mengenakan sarung sebagai mukena dan mencoba mengikuti gerakan salatnya. Umi tertawa melihat saya, kemudian dia berkata, “Kamu nggak boleh salat, karena kamu bukan Islam.” Saat itu saya berusia enam tahun dan tidak mengerti kenapa saya tidak boleh jadi Islam seperti Umi.

Di rumah, Ibu tidak pernah memberi pelajaran agama. Saya hanya tahu bahwa saya keturunan Cina, dan semua orang Cina yang saya kenal punya keharusan untuk beragama Buddha. Tapi saya sama sekali buta tentang agama Buddha. Apalagi ibu saya bukanlah orang yang tahan beragama, tambahlah saya jadi tuli. Nanti semasa dewasa saya baru punya pengetahuan banyak tentang agama Buddha, tapi saat saya SD, saya sama sekali tidak mengerti. Dan saat dewasa barulah saya tahu bahwa agama Buddha yang saya kenal semasa SD ternyata agama Buddha bohongan.

Pada saat itu pengetahuan agama yang saya tahu berasal dari kuliah subuh KH. Kosim Nurzeha yang terdengar setiap pagi dari radio Umi yang disetel begitu keras sehingga suaranya terdengar sampai ke kamar saya dan Ibu. Setiap kali musik melantun mengakhiri kuliah subuh dari radio Kayu Manis itu saya tahu sudah saatnya saya bangun dari ranjang dan bersiap-siap ke sekolah. Biasanya kalau saya bangun pada saat kuliah subuh itu masih belum tamat, saya bisa melihat Ibu tertidur di kursi rotan di luar dengan si belang berbaring melingkar di perut Ibu. Tapi itu pemandangan langka, dan lebih sering saya tidak bertemu Ibu pada pagi hari karena dia pasti sudah berangkat kerja ke tempat yang buat otak enam tahun saya terdengar sejauh Alaska.

Kemudian ketika saya berusia sepuluh tahun, Umi meninggal dunia. Saya berdiri lama sekali di depan rumah Umi memakai celana pendek dan kaus warna putih. Bingung, karena saya tidak bisa masuk berlari ke rumah Umi seperti biasa. Rumah Umi begitu ramai oleh pelayat. Saya baru tahu melihat anak lelaki Umi yang bertubuh tinggi besar dan berbulu, dan saya juga baru melihat cucu Umi yang seumuran saya, yang tinggal di daerah Kebon Nanas. Saya baru tahu bahwa penyakit kencing manis ternyata bisa membuat orang meninggal, bukan cuma kanker seperti yang diderita ayah saya.

Saya berdiri di luar. Tidak pernah melangkah masuk ke dalam rumah Umi dan melihat jasadnya. Untuk pertama kalinya saya merasa tidak diinginkan di rumah itu. Tidak ada lagi Umi yang dengan suara keras menggelegar memanggil saya untuk bangun tidur karena sudah sore. Atau tawanya yang membahana setiap kali dia mengajukan pertanyaan favoritnya, “Kamu anak Cina atau anak Arab?” Dan biasanya saya akan langsung menjawab sambil ikut tertawa, “Anak A-ab, Umi.”

Sejak saat itu tidak ada lagi kuliah subuh, tidak ada lagi nasi kebuli, tidak ada lagi tidur siang di karpet berwarna merah marun di lantai rumah Umi.

Dan lebaran kali ini saya begitu rindu pada Umi.

Pernah saya bertanya dalam hati, Kalau saya meninggal nanti, akankah saya bertemu Umi lagi? Katanya, surganya orang Islam tidak sama dengan surganya orang Buddha. Katanya lagi, surganya orang Buddha tidak sama dengan surganya orang Kristen. Dan surganya orang Kristen tentu beda dengan surganya orang Islam. Belum lagi surganya manusia lesbian yang pasti akan beda dengan surganya manusia hetero. Pemikiran yang aneh, menurut saya, padahal katanya Tuhan itu satu.

Jika saja setiap manusia menciptakan surganya sendiri. Dalam surga ciptaan saya, saya akan bertemu lagi dengan Umi di dalam rumahnya. Duduk-duduk di karpetnya, mencomot roti maryam yang masih hangat sambil diteriaki oleh Umi, lalu berlari pulang dan mendapati ibu saya sedang berbaring di kursi malas dengan si belang tidur melingkar di atas perutnya. Di rumah Ibu, saya juga melihat partner sedang duduk membaca di ruang tamu, dan tersenyum memandang saya ketika melihat saya masuk. "Yuk, Sayang, kita ke rumah anak-anak dan cucu kita."

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:45 PM

Mencoba Untuk Tidak Selingkuh

Posted by alex |

Mbak, nanya dong, bagaimana mempertahankan diri dari godaan dalam hubungan?
Haduh nanya beginian ke aku? Aku kan cewek paling mudah tergoda sejagat raya... Pertanyaan yang aneh. Hahaha... Seperti kata Om Oscar Wilde, "I can resist everything, but temptation."

Oya, catet nih nomor hapeku. Tiga-tiganya... 24 jam available deh kalau buat kamu, siapa tau butuh buat nemenin.
Kamu lagi ngapain? Mendadak inget kamu nih.
Kamu ada di mana? Kapan nih kita bisa ketemuan?
Temenin aku chat sebentar dong... Lagi nunggu pacar mandi nih.

Haduuuuh, gimana coba kalau kita digempur dengan rayuan-rayuan seperti ini? Awalnya mungkin tidak berbahaya, tapi saat kita lemah tak berdaya dan kesepian, bisa aja kan godaan itu jadi tampak menjanjikan di malam yang sepi dan dingin plus hujan plus acara TV lagi busuk banget, pas SMS masuk yang isinya, “Lagi ngapain?” atau “Cuma ngetes nomor hape kamu masih aktif nggak.” Atau “Eh, hujan nih....”

Beneran deh, sebagai manusia lemah tak berdaya kadang tampak susah untuk menahan diri agar tidak tergoda dalam situasi semacam itu. Masa sih kita harus tinggal di hutan atau di pulau terpencil berdua saja sama pasangan? Bisa-bisa kami saling memakan satu sama lain saking bosannya.

Kok jadi saya yang curlong, padahal ceritanya saya mau memberi tips pada teman saya itu. Haduh, haduh, haduh... gimana ya?

Lagi mikir-mikir seperti itu, tiba-tiba SMS masuk. Dari partner.
“Lagi ngapain, Say?”
“Lagi mikirin kamu...”
“Bukannya buruan kemari, kamu malah ngelamun nggak jelas.”
“Aih, chayang, kamu galak sekali deh.”
“Iya, kamu tuh, aku udah nungguin kamu dari tadi. Buruan dong.”
“Oke, chayang. Oke.”

Huehehehe. Begitulah kalau sudah lima tahun, romantisme adalah kata yang sifatnya mewah. Kalau dulu nih pas masih awal-awal pacaran, nungguin SMS, telepon, dan kangen-kangenan sampai batas yang tidak wajar. Disuruh melintasi separo Jakarta demi untuk ketemuan pun dijabanin. Diminta nunggu setengah jam di halte di bawah terik matahari pun okeh aja. Coba sekarang? Baru nunggu lima belas menit di mal ber-AC aja, SMS yang masuk ke yayang sudah bertubi-tubi. “Sayang, aku sudah sempat nyangkul sawah dan jadi valet parking dua mobil selama nunggu kamu.” Hahahaha....

Biasalah kadang-kadang manusia tuh sering taken for granted. Kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung dianggap biasa. Sementara kalau di awal hubungan kan segalanya penuh pengetahuan baru tentang pasangan kita, dan segala cerita terdengar cool dan segar selalu. Sumpe deh, saya tuh sering banget ngakak (dan terkadang bete) kalau yayang keluar "naga"nya seperti itu. Sebagaimana dia juga pasti bete sama sikap saya yang semau gue dan kadang-kadang dia udah pasrah deh sifat pelupa saya.

Di saat seperti ini, bayangkan kalau saya didekati oleh perempuan muda, yah semisal sembilan tahun lebih muda daripada saya. Yang bisa memanggil Alex dalam puluhan versi fiksi dan nonfiksi. Yang single banget hingga bisa dibilang nyaris “melemparkan dirinya” ke saya. Yang bekerja di second coolest place on earth. Yang mendengarkan segala saran saya tentang buku yang kudu dibacanya. Yang punya koleksi film yang bikin saya iri. Yang memuja saya dengan caranya dan menganggap saya begitu cool. Stop it right there, Lex. Mulai khayal nih.

Eniwei, maksud saya adalah, kadang-kadang dalam hubungan yang sudah berlangsung stabil dan konstan, kita suka cari petualangan maut yang membuat adrenalin menggebu. Tanpa melihat risiko kadang-kadang kita sering cari mati duluan, mikir belakangan. Sumpah deh, saya pernah mati dan sekarang saya nggak mau mati lagi. Saya berusaha membayangkan hidup saya dengan perempuan lain ini. Misalnya kami bisa tinggal bareng di kos-kosan atau apartemen. Kami bisa jemput-jemputan sepulang kerja lalu pergi hang out di mal, nonton atau ngumpul bareng teman-teman. Atau langsung pulang ke rumah, makan malam, lalu duduk di depan TV nonton DVD. Secara kami berada di lingkungan pergaulan yang sama, mudah bagi saya dan dia untuk “tampil” kalau pacaran.

Tapi entah kenapa semakin saya bayangkan, semakin kabur bayangan itu ya? Itu bukan kehidupan yang saya inginkan. Kelihatannya pas, tapi bukan buat saya. Paling tidak, perempuannya tidak pas. Dalam bayangan saya, perempuan yang saya inginkan cuma satu. Cuma partner tersayang. Ibaratnya, dia seperti selimut tua yang nyaman di kala hujan turun di luar sana. Dia seperti rumah yang memeluk saya setiap kali saya pulang ke pelukannya. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan orang lain lagi mendampingi saya sepanjang hidup ini. Mengutip cerpen Malaikat Pun Tahu-nya Dewi Lestari, “Aku mencintaimu dari sekian banyak pilihan.”
Yup, cuma kamu, Lakhsmi Sayang.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

4:14 PM

Lelaki Dalam Dirinya...

Posted by alex |

Banyak yang mengira bahwa saya ini lesbian butch yang sebutch-butchnya, padahal jauh di dalam diri saya, saya ini femme banget. Dan orang mengira Lakhsmi tuh femme banget... ih, padahal salah BESAR. Itulah rahasia kecil dalam hubungan kami.

Mari kita buka-bukaan sedikit rahasia Alex dan Lakhsmi. Mungkin banyak yang nggak tahu bahwa Lakhsmi tuh ternyata cowok banget (saya tahu ini karena saya pernah pacaran sama cowok beberapa kali). Mulai dari urusan dapur, urusan romantis, hingga urusan ranjang, ih, cowok banget deh pikirannya. Saya sering bilang sama Lakhsmi bahwa caranya memberi hadiah itu seperti om-om. Saya seperti pacaran dengan Koh Ayung yang punya toko hape di Roxy, hahaha. Buat dia, memberi kartu ucapan yang lucu-lucu adalah tindakan yang tidak efisien. Huehehehe... tapi ada satu hal yang Lakhsmi romantis banget, dan ini rahasia yang nggak akan saya ungkap di sini dong.... Pokoknya, untuk satu urusan ini, nggak ada yang bisa mengalahkan romantismenya!

Sebaliknya, dengan penampilan ala Rambo ini, otak saya bekerja seperti perempuan-perempuan kebanyakan. Kalau lihat iklan sale di mana gitu, saya langsung kalap. (Lakhsmi paling jijay bajay lihat saya kalap sale). Kalau baca novel, saya sukanya novel-novel romance yang menguras air mata. Saya penggemar novel-novel Harlequin, bisa nangis sampai mata bengkak waktu baca novel-novel Mira W. zaman tahun 1980-an dan nangis meraung-raung ketika baca A Walk to Remember-nya Nicholas Sparks.

Nonton film juga begitu. Saya nangis setiap kali nonton The English Patient. Waktu nonton The Notebook di bioskop, Lakhsmi menoleh memandang saya yang sedang nyedot-nyedot ingus sambil menghapus air mata dengan tisu dengan pandangan heran. “Aduh, Sayang, memangnya sedih banget ya?” Hhhhhhhh.... gubrak deh pacar gue nggak sensitif banget ya?

Sejak dulu, perempuan idaman di hati saya memang mesti setangguh Linda Hamilton sebagai Sarah Connor dalam Terminator 2. Dan Lakhsmi di mata saya setangguh Sarah Connor, seberingas Letnan Ellen Ripley, dan seperkasa Xena the Warrior Princess. Bayangkan Sarah Connor dengan satu tangan mengokang senjata demi melindungi putranya, itulah Lakhsmi. Bayangkan Ripley menghabisi alien-alien (apalagi di Alien #2, waktu dia berusaha menyelamatkan anak kecil itu), ih, Lakhsmi banget deh. Dan membayangkan Xena bertarung melindungi Gabrielle? Nah, itu juga Lakhsmi. :p

Sementara saya? Wah, saya ini perempuan lemah tak berdaya, yang kalau di film-film itu diikat di tiang dan menunggu jagoan datang menyelamatkannya. Yah, kalau mau dibayangkan lebih oke sedikit, saya ini gadis Bond gitu deh. (Yeah, saya tahu ini rada maksa, tapi boleh dong, kan yang nulis blog ini saya :p) Nanti setelah diselamatkan, saya akan bercinta habis-habisan bersama sang jagoan itu. Di kapal, di ranjang, di kereta, di mobil, di mana-mana pokoknya, tergantung keinginan si jagoan. Hihihihi.

Saya tuh suka pekerjaan domestik, seperti memasak, mengurus anak, dan menonton sinetron (kalau menonton sinetron bisa dianggap kerja domestik). Nonton sinetron aja saya bisa seru sendiri kok, dan bisa ngobrolin sinetron itu sama ibu-ibu lain, dan membuat Lakhsmi biasanya ngoceh panjang-lebar melihat saya melakukan kegiatan nggak mutu seperti itu.

Kalau sehabis nonton infotainment, saya bilang ke Lakhsmi, “Sayang, sayang, tau nggak si anu katanya mau cerai lho.” Atau “Say, tau nggak artis X ternyata begini-begitu.”, dia cuma mengangguk-ngangguk mendengarkan tapi nggak ikutan ngegosip seperti ibu-ibu lain. Males deh, hahaha. Apalagi kalau saya cerita pas di mobil, sewaktu dia nyetir. Persis banget seperti istri-istri yang lagi ngobrol ke suaminya dalam perjalanan belanja ke hypermart atau carefour.

Wuih, kalau mau ditulis semua, bisa dua halaman lagi nih. Daripada "suami" saya nanti menegur gara-gara mengungkap banyak rahasia dapur, lebih baik saya berhenti sampai di sini. :)

Intinya, semua "kelelakian" itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya. Pada caranya dan sistem otaknya yang laki-laki. Pada maskulinitas dalam bungkusan femininnya. Pada ‘yang’ dalam dirinya. Dan pada diri perempuan bernama Lakhsmi itulah, saya menemukan lelaki yang saya cari.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Musim panas musim bercinta. Dua perempuan abege yang sedang liburan sekolah bertemu di wilayah pedesaan Yorkshire, Mona (Natalie Press) dan Tamsin (Emily Blunt). Sejak awal pertemuan, kita bisa melihat bahwa mereka berasal dari kelas dan latar belakang berbeda. Mona adalah gadis keluarga menengah ke bawah yang tinggal di desa bersama kakak lelakinya, Phil (Paddy Considine). Sementara Tamsin adalah gadis kaya yang kurang kasih sayang dan hanya berada di desa untuk liburan musim panas. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya adalah lelaki tukang selingkuh. Keduanya bertemu kemudian jatuh cinta dalam waktu singkat. Dan keduanya juga harus bersiap menghadapi kenyataan hidup.

Mona terpesona dalam keindahan Tamsin. Pada caranya yang eksotis, dengan kegemarannya pada lagu-lagu Edith Piaf, pada caranya yang tidak pedulian pada dunia. Keduanya hidup dalam dunia berbeda, dan itulah yang membuat Mona dan Tamsin saling tertarik. Berboncengan naik motor butut, berenang di sungai, berlarian di pandang rumput, siapa yang takkan jatuh cinta?

Tapi Phil yang baru saja menjalani kesembuhan dari kehidupan bejatnya dan menjadi penganut Kristen sejati mengetahui hubungan Mona dengan Tamsin. Ia marah besar dan langsung mengurung dan menghajar Mona ketika mengetahui adiknya ingin kabur bersama Tamsin. Dan ia ingin menyelamatkan adiknya dari jalan yang sesat.

Kalau kau meninggalkanku, aku akan membunuhmu, setelah itu aku akan bunuh diri. Aku mencintaimu. Demikian janji cinta yang mereka ucapkan saat kebahagiaan cinta pertama mengaliri mereka. Namun seperti yang kita tahu tentang cinta musim panas yang penuh gairah, apalagi ditambah dengan gejolak cinta pertama, kita tahu cinta ini akan berakhir buruk. Apalagi pas dialog itu terucap, penonton yang awas dalam hatinya akan berkata, “O-oh...”

My Summer of Love adalah film Inggris buatan tahun 2004. Film yang diangkat dari novel karya Helen Cross ini skenarionya ditulis dan disutradari oleh Pawel Pawlikowski. Dan film ini pula yang mengangkat nama Emily Blunt ke jajaran aktris pendatang baru dari Inggris. Emily Blunt yang kelahiran tahun 1983 ini selanjutnya hijrah ke Hollywood dengan perannya yang membuat dia dikenal khalayak ramai sebagai asisten Meryl Streep dalam The Devil Wears Prada. Dan ia juga bermain dengan apik dalam Jane Austen Book Club. Kariernya dalam dunia film Hollywood tampaknya akan semakin cerah dengan tiga filmnya yang sedang dalam proses produksi.

Film berdurasi 86 menit ini adalah film panjang pertama bagi kedua aktris pemeran utamanya. Natalie Press dan Emily Blunt menampilkan akting memukau sebagai gadis-gadis remaja yang jatuh cinta. Mona yang keras kepala dan sederhana dan Tamsin yang manja dan gadis kaya manipulatif. Kesepian dan kebosanan dalam musim panas membuat mereka bertemu lalu jatuh cinta. Masing-masing mengisi satu sama lain dalam peran mereka. Selain itu Paddy Considine yang berperan sebagai Phil juga menunjukkan akting yang baik. Ia menjadi born-again Christian yang sudah bertobat, namun jauh di dalam dirinya masih ada kenyataan yang tak bisa dia singkirkan begitu saja. Masih ada begitu banyak kemarahan dalam diri Phil, dan kita menunggu kapan saat kemarahan itu meledak.

Tokoh-tokoh dalam film ini tampak realistis, tanpa perlu berusaha keras. Walaupun adegan seks dalam film ini bisa dibilang minor, tapi Emily Blunt tampil telanjang dada dalam satu adegan ranjang. Nggak terlalu penting juga sebenarnya. Yang lebih menyenangkan dari My Summer of Love adalah soundtrack-nya yang lumayan asyik.

My Summer of Love dibuat hanya dengan budget 1,7 juta Poundsterling memperoleh sejumlah penghargaan dari Inggris dan Eropa. Alexander Kofta Award untuk Best British Film pada BAFTA Awards tahun 2005. Dalam British Independent Film Award 2004, film ini masuk nominasi sutradara terbaik untuk Pawel Pawlikowski. Pendatang Baru Terbaik untuk Emily Blunt, Aktri Terbaik untuk Natalie Press, dan Peran Pembantu Terbaik untuk Paddy Considine. Serta nominasi Best British Independent Film.

Film ini bukanlah film yang harus dipikir terlalu keras. Untuk endingnya, tidak seburuk itu kok. Film ini memiliki ending yang oke, dan apa adanya... Nikmati saja film ini seperti menikmati musim panas yang akan segera berakhir.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:33 PM

Tak Bisa Kubayangkan Hidupku Tanpa Dirimu

Posted by alex |

Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah.
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu.
...
Kau adalah darahku, kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku.
Oh, sayangku kau begitu sempurna.


Kau menciumku dengan mulutmu, meninggalkan jejak basah di wajahku.
Kuucapkan selamat malam untukmu. Selamat tidur, mimpi yang indah.
Kubelai wajahmu sekali lagi. I love you, baby.
Kututup pintu kamar, dan aku sudah kangen kamu lagi.

Kau begitu keras kepala, apa yang kau mau harus kaudapatkan.
Kau begitu jayus, dengan candaan-candaanmu yang jail seperti Pocoyo, serial favoritmu.
Kau begitu mandiri, semuanya ingin kaulakukan sendiri.
Kau persis seperti mommy-mu yang satu lagi.

Tadi malam, aku dan mommy-mu memandangmu, melihat tahun-tahun berlalu di hadapan kami. Melihatmu dengan giat berusaha mencoret-coret tembok sementara aku dan mommy-mu serta kakakmu berteriak-teriak melarang, dan kau hanya cengengesan tertawa melihat kepanikan kami.
Melihatmu dengan bangga saat bisa sikat gigi sendiri, memegang gagang shower dan mandi sendiri.
Melihatmu tertawa, berlarian sekeliling rumah, berteriak-teriak, meloncat-loncat girang, bernyanyi-nyanyi, menangis, ngambek, ngamuk.... Baby, aku takkan menukar pemandangan ini dengan apa pun.

Ada pagi ketika aku membayangkanmu sedang bangun tidur dengan malas.
Ada siang ketika aku membayangkanmu sedang menjajah rumah dan seluruh isinya.
Ada malam ketika aku begitu kangen ingin memelukmu.

Aku selalu rindu melihatmu berdiri di jendela menyambutku datang.
Aku selalu rindu pada celotehmu yang sering berusaha bercerita dengan kosakatamu yang makin lama makin bertambah.
Aku selalu rindu pada caramu membelai rambutku saat aku menggendongmu.
Aku selalu rindu pada ciumanmu yang lengket dan basah.
Aku selalu rindu padamu.

Mommy-mu tidak tahu, kita punya lagu favorit. Kemarin pas mommy-mu di kamar mandi, kita ketawa berdua sambil mendengarkannya. Kita nyanyi lagu Sempurna, sambil makan donat. Hm, habis dua donatnya, Mom... Hihihi. Lalu kita ganti lagu. Lagu yang pernah menyiksaku karena harus kudengar 12 kali dalam semalam karena kamu cuma mau dengar lagu ini saat bobo. Intronya sudah membuatmu ketawa...

Why do birds suddenly appear? Everytime you are near
Just like me they long to be close to you
Why do stars fall down from the sky? Everytime you walk by
Just like me they long to be close to you

On the day that you were born, the angels got together
and decided to create a dream come true
So they sprinkled moondust in your hair
Of gold and starlight in your eyes of blue

Just like me they long to be close to you

Setiap kali memandangmu, aku tak pernah berhenti takjub akan hadirnya dirimu dalam hidupku. Sungguh, Nak, aku ingin selalu dekat denganmu, tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dirimu...
I love you, baby... So big and more.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

11:18 PM

The L Word: Drama dan Uang

Posted by alex |

Apa sih yang membuat kita tertarik untuk terus-menerus menonton serial The L Word? Apakah semata-mata hanya karena cerita lesbiannya? Apa yang membuatnya bisa bertahan hingga musim tayang kelima? Jawabannya adalah DRAMA dan UANG. Rentetan kisah lesbian-lesbian dalam The L Word adalah standar kisah drama produk budaya televisi Amerika Serikat.

The L Word mulai ditayangkan pada tanggal 18 Januari 2004 oleh stasiun TV Showtime dengan durasi tayang per episode selama 50 menit. Rencananya season keenam dan terakhir akan ditayangkan pada tanggal 4 Januari 2009. Season 6 nanti hanya akan berlangsung sepanjang delapan episode dan akan berakhir tanggal 22 Februari 2009. Tapi tenang saja, penggemar The L Word sehabis ini bisa lega karena rencananya ada spin-off lanjutan The L Word sesuai kontrak produser dan pengiklan.

The L Word adalah drama kehidupan lesbian-lesbian yang tinggal di Los Angeles. Ada 5 tokoh utama dalam serial ini (yang tetap bertahan sejak season 1). Bette (Jennifer Beals) yang pada awal musim tayang sudah hidup bersama dengan Tina (Laurel Holloman) selama tujuh tahun dan sedang berusaha punya anak. Mereka kedatangan tetangga baru bernama Jenny (Mia Kischner) yang datang entah dari desa mana, yang awalnya tampak lugu kemudian “dibuat” jadi lesbian oleh Marina (Karina Lombard) dan mulailah perubahan Jenny hingga jadi tokoh yang makin eksentrik setiap episodenya. Bette dan Tina bersahabat dengan Shane (Katherine Moennig), lesbian player paling cool di muka bumi ini dengan penampilan andro yang keren abies. Dan terakhir Alice (Leisha Hailey), mantan Bette yang bekerja sebagai jurnalis.

Berbagai karakter lesbian dengan beragam profesi ditampilkan di sini. Stereotipe pekerjaan lesbian seperti atlet, penulis, seniman, penyiar/wartawan, pengusaha, dan pengacara dimunculkan dalam karakter-karakter awal. Walaupun sesungguhnya stereotipe ini belumlah ada pembuktian secara khusus. Oya, ada juga karakter Shane dengan pekerjaan sebagai penata rambut yang sayangnya punya tampilan rambut jelek pada season 3 yang bikin kita tidak percaya bahwa dia penata rambut. Dan kemudian Shane sempat jadi model di season 4. Seiring berjalannya season, muncul karakter-karakter baru dengan pekerjaan koki, DJ, perempuan sosialita, dosen. Setiap season menampilkan karakter-karakter baru seperti tentara, ibu rumah tangga/janda dengan satu anak, pebisnis, sutradara. Intinya, ada lesbian dalam nyaris semua profesi di muka bumi ini.

Yang menarik dari The L Word adalah melihat bagaimana karakter-karakter utamanya bergerak, hidup, dan berevolusi dalam kisah yang sebenarnya cuma kisah drama ini. Kisah cinta yang makin berbelit juga menjadi semakin drama.Selain melihat bagaimana hubungan Bette dan Tina yang putus- sambung. Shane yang player, insaf, jadi player lagi, insaf lagi, player lagi... aih, bosan deh. Atau keeksentrikan Jenny yang makin menjadi-jadi, apalagi setelah dia menjadi sutradara film yang diangkat dari bukunya. Dan bagaimana karier Alice bergerak mulai dari penyiar radio/wartawan freelance, pemilik situs lesbian, dan kini menjadi penyiar TV.

Drama. Itulah yang menjadi jiwa tayangan televisi. Siapa tidur dengan siapa. Siapa yang putus. Siapa selingkuh dengan siapa. Cinta yang dikhianati. Kesetiaan yang dilanggar. Kejujuran yang terombang-ambing. Komitmen yang perlu dipertanyakan. Itulah yang menjadi unsur utamanya, kelesbianan hanya jadi pembungkusnya. Bukan kampanye persamaan hak lesbian yang ditawarkan oleh serial macam The L Word.

Sejumlah kritik dan pujian pun terlontar untuk serial bertema homoseksual yang sejauh ini mencatat musim tayang terpanjang, lebih panjang satu season daripada pendahulunya Queer as Folk. Ada yang bilang karakter-karakternya terlalu cantik dan sedap dipandang. Ada yang bilang cerita-ceritanya terlalu gampang, tidak memperlihatkan kesulitan hidup menjadi lesbian. Ada yang bilang ceritanya tidak realistis. Semua orang yang memandang ke kotak kaca ajaib bernama televisi itu ingin melihat tontonan yang menyenangkan dengan tampilan-tampilan yang enak dilihat, dengan kisah drama yang membuat hati senang. Bagaimanapun, televisi adalah hasil kreativitas yang merefleksikan kehidupan nyata, dan bukan kehidupan nyata yang sesungguhnya. Aduh, bahkan tayangan-tayangan “TV realitas” pun mengandung unsur rekayasa... (tidak pernahkah ada yang bertanya kenapa hanya mereka yang cantik dan tampan saja yang terpilih?)

Kalau kita simak baik-baik setiap episodenya, kita bisa melihat bagaimana serial ini ditempeli beragam produk iklan, bahkan secara terang-terangan. Tidak jarang pula sejumlah produk menjadi sponsor dan iklan di sini. Inilah hebatnya Lesbiwood di Holywood yang kapitalis. Di mana ada uang di sana ada barang. Dan lesbian-lesbian di balik layar tidak malu-malu menjual kelesbianan ini sebagai pasar terbuka.

Showtime sendiri adalah stasiun TV berbayar sehingga tayangan The L Word ini tidak dijeda iklan di sela-sela tayangannya. Namun perusahaan pengiklan dengan cerdas menempatkan produk mereka secara terintregrasi dalam cerita. Bahkan dalam satu-dua episode, uang yang ditawarkan produk iklan ini mampu membuat penulis cerita mengadaptasi produk tersebut ke dalam cerita secara integral. Marketing terselubung ini berlangsung secara terang-terangan, terutama untuk produk minuman keras. Perhatikan betapa seringnya Shane minum bir merek Dos Equis dan Dana Fairbanks menyebut sejumlah produk seperti Absolute Vodka, Reebok, dan Subaru secara terang-terangan saat memilih pengiklan untuk dirinya. Apple Computers, Chevrolet, Mini Cooper, adalah sejumlah produk yang digunakan oleh karakter-karakter dalam The L Word.

Jika mau dilihat secara positif, penempatan produk dalam tayangan acara ini adalah hal yang wajar dalam dunia hiburan. Lihat saja bagaimana James Bond ditempeli rentetan produk sponsor, mulai dari mobil, ponsel, hingga minuman yang diminumnya. Atau Jason Bourne berlari-lari di bawah iklan three yang segede gaban. Atau pameran produk fashion dan gaya hidup dalam The Devil Wears Prada. Mungkin kesadaran kita sedikit terganggu saat melihat tebaran iklan terselubung ini.

Bahkan ada merek yang berani membayar hingga $300.000 untuk bisa menampilkan produknya sebagai bagian integral dari cerita The L Word. Sebut saja bersepeda bersama Subaru atau Shane yang menjadi model iklan Hugo Boss (sungguh, menurut saya menjadikan Shane sebagai model adalah cerita yang murni tempelan). Meskipun menurut Ilene Chaiken, sang kreator, dia tetap memegang hak penuh atas keputusan produk-produk apa saja yang bisa tampil di tayangannya. Namun secara The L Word adalah serial lesbian, sejumlah kritik mengkhawatirkan seolah-olah dengan penyebutan produk dan penempatan produk itu, penonton gay/lesbian dibuat percaya bahwa kalau kamu nggak memakai produk itu, kamu nggak mendukung produk yang gay-friendly.

Yah, drama seapik apa pun harus ada yang membiayainya. Untuk menjadi tayangan TV yang panjang, sang kreator harus berkompromi dengan menempatkan produk-produk sponsor dalam tayangannya. Karena bagaimanapun, ini bisnis, Mbak.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe