7:21 PM

Buku: Annie on My Mind - Let Love Win

Posted by alex |

Liza Winthop pertama kali bertemu dengan Annie Kenyon di Metropolitan Museum of Arts di New York ketika ia mendengar suara nyanyian Annie yang sedang duduk di jendela. Dua gadis berusia 17 tahun ini pun langsung menjalin persahabatan, walaupun keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Liza bersekolah di sekolah swasta dan tinggal di lingkungan elite New York, sementara Annie bersekolah di sekolah negeri dan tinggal di permukiman “tidak aman” di Brooklyn. Keduanya adalah gadis cerdas yang memiliki cita-cita dan impian. Liza bercita-cita menjadi arsitek dan melanjutkan kuliah di MIT, sementara Annie bermimpi untuk mengejar beasiswa di University of California, Berkeley melalui bakat nyanyinya. Singkat cerita, mereka adalah gadis baik-baik yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang.

Hubungan mereka makin akrab, bahkan tidak jarang Annie dan Liza main ke rumah satu sama lain dan masing-masing dari mereka diterima dengan baik oleh orangtua yang lain. Namun hidup mereka berubah 180 derajat ketika hubungan persahabatan mereka perlahan-lahan berubah menjadi hubungan cinta.

Liza---terutama---panik saat menyadari bahwa perasaannya terhadap Annie bukan sekadar persahabatan antar teman, dan keduanya kemudian bersama-sama belajar menghadapi cinta mereka. Karena satu dan lain hal, hubungan Liza dan Annie tertangkap basah oleh pihak sekolah Liza sehingga Liza pun diskors dan diadukan lesbian pada orangtuanya.

Annie on My Mind ditulis berdasarkan narasi Liza dan kita mengikuti segala gejolak perasaan Liza bersama Annie serta perasaannya terhadap orang-orang yang dia sayangi ketika hubungannya dengan Annie terungkap. Salah satu kekuatan Annie on My Mind, selain kisah cinta remaja yang diiringi hasrat menggebu adalah sesungguhnya tidak ada yang jadi “orang jahat” dalam buku ini. Semua orang melakukan apa yang mereka anggap benar dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Apalagi harus diingat bahwa buku ini terbit pertama kali pada tahun 1982, dan APA (Asosiasi Psikiater Amerika) baru menyatakan homoseksual bukanlah penyakit kejiwaan pada tahun 1973.

Meskipun sudah 25 tahun berlalu sejak pertama kali buku ini terbit, Annie on My Mind masih relevan dalam menggambarkan remaja SMA yang lesbian dengan segala kekalutannya. Bagaimana takut dan bingungnya Liza ketika menyadari dirinya mencintai Annie dan penerimaan terhadap kenyataan bahwa dirinya lesbian ditulis melalui gambaran realistis oleh Nancy Garden.

Nancy Garden adalah penulis kelahiran Boston, Massachusetts tahun 1938. Kini di usianya yang hampir 70 tahun, ia masih tetap menulis, dan kebanyakan adalah buku-buku remaja. Nancy Garden termasuk salah satu orang pertama yang mendaftarkan pernikahan sesama jenis di Massachusetts bersama pasangannya, Sandy Scott, yang kala itu sudah jadi partner hidupnya selama 35 tahun, yang juga cinta pertamanya sejak sekolah menengah.

Annie on My Mind bisa dibilang buku yang membuatnya terkenal karena untuk pertama kalinya ada novel remaja yang menggambarkan kisah lesbian yang berakhir bahagia. Dan terjadi kejadian menghebohkan ketika pada tahun 1993, buku tersebut jadi buku terlarang dan dibakar di sekolah di Kansas City karena sejumlah orangtua khawatir jika Annie on My Mind bisa memengaruhi anak-anak remaja agar menjadi homoseksual. Akan tetapi pada tahun 1995, buku tersebut akhirnya dikembalikan lagi di rak perpustakaan sekolah karena menurut pengadilan pelarangan tersebut adalah pelanggaran terhadap Amandemen Pertama, yaitu kebebasan berekspresi.

The American Library Association menyebut Annie on My Mind sebagai buku "Best of the Best Books for Young Adults." The School Library Journal juga mencantumkan buku ini dalam daftar 100 buku anak dan remaja yang paling berpengaruh dalam abad 20. Selain itu, juga terpilih sebagai buku pilihan reviewer Booklist tahun 1982, American Library Association Best Books, and the ALA Best of the Best lists. Pada tahun 2003, the American Library Association memberi Nancy Garden penghargaan seumur hidup untuk penulisan buku-buku remaja.

Annie on My Mind adalah salah satu dari sedikit buku yang saya beri bintang lima untuk penggambaran karakter-karakternya yang bisa dibilang nyaris sempurna. Mungkin untuk bacaan remaja Amerika zaman sekarang, cerita buku terbitan tahun 1982 ini tampak “basi”, apalagi dengan setting kota besar seperti New York. Namun dalam banyak hal kisah cinta dalam Annie on My Mind adalah kisah abadi yang tak lekang oleh waktu. Cinta, terutama cinta pertama, adalah hal paling menakjubkan dan juga paling membingungkan, terutama bagi remaja lesbian. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan oleh sang pengarang lewat buku ini, "Don't let ignorance win. Let love."

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

5:23 PM

Ketika Reuni Tiba

Posted by alex |

Malam minggu yang lalu saya menghadiri acara reuni SMP-SMA sekalian merayakan ulang tahun ke-25 sekolah saya itu. Acaranya luar biasa seru, kocak, mengharukan. Ketemu dengan teman-teman lama dan guru-guru sekolah dulu serta mengenang kebandelan masa SMA takkan bisa terulang lagi seumur hidup. Dan menyadari betapa kami sudah berubah begitu banyak setelah 10 tahun lebih berlalu namun dalam banyak hal kami tetap anak-anak sekolah yang manis dan bandel.

Sekian lama tak bertemu, pertanyaan ala, "apa kabar", "udah nikah belum, anak lo berapa?", "bini/laki lo mana, kok nggak dibawa?" "kerja di mana?" pun berseliweran masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Jawaban-jawaban ngaco, liar, dan ngawur ala anak SMA pun terlontar. Kenangan-kenangan lucu dan memalukan saat sekolah dulu pun diceritakan ulang. "Ingat nggak dulu kita..."

Oya, salah satu alasan saya datang adalah beberapa bulan lalu saya bertemu adik kelas saya yang ajaibnya ternyata dia lesbian sekarang, hehehe. Dalam jutaan tahun pun saya tidak pernah menyangka bahwa sahabat yang mulanya saya temui di dunia maya itu adalah adik kelas saya.... :) Tidak, adik kelas saya itu tidak datang, dia sudah bilang bahwa dia ogah datang.... namun reuni kemarin membuat saya teringat keberadaannya pada masa seragam putih biru dulu ketika melihat sahabat-sahabat angkatannya datang menyapa.

Saya jadi berpikir siapa saja ya kira-kira sahabat SMP-SMA saya yang juga lesbian? Secara katanya 10% populasi manusia adalah homoseksual. Saya jadi berusaha mengingat-ingat siapa saja calon potensial lesbian dari masa lalu saya. Sedang asyik-asyiknya saya melamun, tiba-tiba sahabat saya Cindy nyeletuk, “Eh, si Rani kabarnya gimana ya? Ada yang tau? Dia menghilang gitu, kayak ditelan bumi.”

Entah bagaimana semua mata di meja makan memandang ke arah saya. Oke deh... “Yey, mana gue tau gimana kabar si Rani? Lagian udah lama nggak ketemu dia,” saya menjawab dengan agak defensif.
“Gimana bisa nggak tau? Lo kan deket sama dia dulu, sering raba-rabaan di sekolah,” Cindy makin bernafsu mencecar saya.
Beberapa teman SMP-SMA saya tahu bahwa saya lesbian, tapi itu pun saya beritahu setelah lulus kuliah. Hm, saya jadi bertanya-tanya apakah sejak SMA mereka sebenarnya pernah punya feeling bahwa saya lesbian?

“Emangnya gue gimana sama Rani dulu?” Rani tidak pernah jadi pacar saya walaupun kami punya hubungan “dekat”.
Seorang teman cowok, sebut saja namanya Andy, langsung nyeletuk, “Huahaha, Lex, elo tuh kayak pakai plang tulisan 'lesbian' di atas kepala elo.”
Saya mendelik, pura-pura marah. Dalam hati saya bertanya, Masa sih?

Cindy menepuk bahu saya, “Secara elo dulu pernah naksir gue, ya jelas lah gue ‘berasa’. Elo kan sering memandang gue dengan penuh cinta.”
Kontan sahabat-sahabat saya ngakak mendengarnya. “Beneran lo pernah naksir Cindy?” tanya sobat saya yang lain.
“Bener, dan sekarang gue sudah nyesel ngasih tau si Cindy, karena dia malah nyebar-nyebarin info ini. Hehehe... Mungkin karena ditaksir gue adalah kebanggaan. Maklum deh, gue kan orang ngetop gitu. Hahaha.”

“Eh, balik lagi ke Rani dong, gimana ceritanya dulu. Lo pernah sama dia, Lex?”
“Nggak pernah.”
“Halah, gue pernah liat kalian ciuman kok di kelas,” si Andy nyeletuk.
“Iya, iya, bener, gue juga liat.” Tiga sahabat saya yang lain langsung menambahi.
“Hah? Jadi lo cium cewek lain selain gue, Lex?” Cindy bertanya, pura-pura marah.
“Ya ampun, gue aja udah lupa ciuman itu. Itu cuma memindahkan permen dari mulut gue ke mulutnya. Lagian itu kan bukan buat konsumsi publik.”
“Yey, elo ciumannya di kelas... ya wajar dong kalo semua mata memandang.”
Daripada kena cecar terus, lebih baik menghindar.“Udah ah, gue mau ke WC.”
“Ikut dong.” Tiga sahabat perempuan saya ikutan berdiri. “WC-nya di mana sih?” Entah kenapa cewek kalau ke WC sering banget rame-rame.

Lalu berjalanlah kami beriringan ke toilet. Samar-samar saya mendengar Sally bertanya pada Cindy, “Emang bener lo pernah ciuman sama Alex?”
“Bener, waktu itu kan kita masih muda dan penuh eksperimen ya, Lex,” Cindy menjawab sambil cengengesan.
“Terus habis ciuman, ngapain?”
Saya dan Cindy menjawab berbarengan. “Ketawa ngakak.”
Saya menambahkan. “Ciumannya sih enak ya, Cin. Cuma rasanya nggak bener aja. Kayak incest, huahaha.”
“Iya, iya, gue juga berasa gitu. Bukan jijik sih, lebih ke perasaan geli. Geli bukan karena cium perempuan, tapi karena ciuman sama teman perempuan, hehehe. Lagian kagak ada setrumnya.”
“Maksud lo ciuman gue buruk?”
“Nggak sih, lo termasuk salah satu best kisser. Cuma entah gimana, nggak ada setrumnya aja. Secara gue bukan lesbi kali ye?”

Kami pun menghentikan pembicaraan saat memasuki WC. Di dalam toilet saya berpikir betapa bersyukurnya saya memiliki sahabat-sahabat yang baik, yang selama ini selalu ada untuk saya. Sahabat-sahabat yang walaupun kadang-kadang menyebalkan ternyata bisa menerima saya apa adanya. Mungkin sejak SMP-SMA signal-signal lesbian dari dalam diri saya itu sudah memancar tanpa saya sadari. Selama rentang waktu hampir 20 tahun persahabatan kami sejak masuk SMP, beberapa sahabat masih jadi teman dekat saya. Dan ada beberapa sahabat selalu memiliki arti istimewa dalam hidup saya, karena kami selalu bisa bersahabat tanpa memandang hal-hal lain di luar persahabatan kami, seperti gaya hidup, orientasi seksual, jenjang si kaya dan si miskin, atau perbedaan agama.

Ketika sedang membasuh tangan di wastafel, kami masih cekikikan nggak keruan seperti cewek-cewek belasan tahun ketika dua perempuan manis masuk ke WC. Saya memandangi dua perempuan muda itu dua detik lebih lama daripada seharusnya ketika dua sahabat saya berteriak, “Plis deh, Lex. Mata lo jangan jelalatan gitu dong! Haiyah... dasar lesbi, nggak bisa ngeliat barang mulus lewat!" Duh, ampun deh, gue. Kenapa juga punya temen yang mulutnya bocor gini. Karena dua cewek tadi jadi memandangi saya dengan tatapan "gimana gitu" ketika akhirnya saya bergegas keluar dari WC sambil diiringi cekikikan sobat-sobat saya yang rasanya ingin saya cekik saat itu. :)

@Alex, RahasiaBulan, 2007
* Semua nama di atas adalah nama samaran, kesamaan nama hanyalah kebetulan belaka.

Setting dan karakter dalam film ini sudah membuat saya jatuh hati. New York. Novelis. Lesbian. Apa lagi yang kurang? Untuk tiga hal ini saja, saya akan memberinya dua dari lima bintang. Terserah deh kalau mau dibilang subjektif.

Puccini for Begginers dibuka dengan prolog ketika Allegra (Elizabeth Reiser) kedapatan menjalin hubungan cinta dengan Grace (Gretchen Mol) DAN Philip (Justin Kirk), lalu kisah pun dibuat flashback. Beberapa bulan sebelumnya, Allegra putus dari Samantha (Julianne Nicholson) karena Allegra adalah perempuan fobia komitmen, yang menganggap komitmen sama dengan perbudakan dan warisan budaya patriarki. Samantha yang tidak tahan terombang-ambing dalam ketidakpastian bersama Allegra, akhirnya kembali ke Jeff, pacar lelakinya sebelum Allegra.

Allegra yang patah hati kemudian bertemu Philip, dosen filsafat di Columbia University, yang membaca novelnya, sama-sama menggemari opera, dan sanggup bertahan ngobrol bersama Allegra selama berjam-jam. Tidak banyak kejutan jika kemudian Allegra yang keukeuh menyatakan diri lesbian kemudian tidur dengan Philip. Pada saat yang hampir sama Allegra juga menjali hubungan dengan Grace, yang berada dalam tahap rebound akibat putus dari pacar lelakinya setelah 6 tahun karena lelaki itu tidak mau berkomitmen menikahinya. Bisa dibilang Allegra dan Grace saling memanfaatkan. Allegra butuh perempuan untuk terus memantapkan status lesbinya meskipun menikmati hubungannya bersama Philip, dan Grace yang sedang patah hati berpikir untuk melakukan eksperimen seksual. Allegra terus menjalin hubungan dengan Philip dan Grace secara sembunyi-sembunyi dan nyaris pingsan ketika tahu Philip dan Grace adalah mantan kekasih.

Menonton Puccini for Beginners mau tidak mau mengingatkan saya pada film-film karya Woody Allen. Setting New York-nya saja sudah mengingatkan saya pada Annie Hall dan Manhattan. Dan masih ditambah dengan dialog-dialog panjang dan cerdas antar tokoh-tokohnya. Woody Allen banget deh pokoknya. Tidak heran karena Maria Maggenti, sang sutradara, adalah penggemar Woody Allen. Ia juga menyutradari film drama lesbian The Incredibly True Adventures of Two Girls in Love (1995), hampir 12 tahun sebelum film ini dibuat.

Buat saya, ada beberapa dialog yang saking cerdasnya hingga jadinya tidak lucu. Namun ada pula dialog-dialog yang ngena banget, seperti obrolan Philip dan Allegra di ranjang atau percakapan di luar restoran ketika keadaan jadi kacau karena muncul kesalahpahaman yang bikin pusing. Acungan jempol layak diberikan pada Elizabeth Reiser yang wajahnya mengingatkan saya antara Julia Roberts dan Debra Winger muda. Dia begitu pas berperan sebagai Allegra, dan tidak heran jika di masa mendatang Reiser akan jadi aktris yang diperhitungkan Hollywood.

Film tahun 2007 ini bisa dibilang lebih ringan dan lucu dibanding Kissing Jessica Stein yang memasukkan lebih banyak drama. Di mata saya, Puccini for Beginners adalah film romedi romantis dengan unsur sweet-satire tanpa maksud memperumit pikiran kita tentang label homo, lesbi, atau hetero. Seksualitas berada dalam wilayah abu-abu, tergantung pada siapa yang kautiduri saat itu. Dalam film ini kita akan menemukan perempuan yang tidur dengan perempuan untuk melakukan eksplorasi seksual. Lesbian yang tidur dengan laki-laki. Dan perempuan yang berkeras mengaku bukan lesbian tapi tidur dengan perempuan. Jadi apa pun label yang Anda pakai sekarang, silakan nonton film komedi ringan ini dengan santai dan berusaha menemukan humor di dalamnya....

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Film ini saya tonton pertama kali sebelum tahun 2000, dan saya dapatkan tanpa sengaja di rental VCD langganan. Film India biasanya identik dengan lagu dan tari serta bintang-bintang Bollywood yang tampan dan cantik, serta durasi film yang panjangnya minta ampun bahkan ada istirahat di tengah film, Fire tidak seperti itu. Durasi film ini hanya 108 menit, bisa dibilang tanpa lagu dan tari, dan pemeran utamanya bukanlah aktor-aktor tampan dan cantik.

Film kontroversial tahun 1996 ini disutradari oleh Deepa Mehta, sutradara keturunan India yang kemudian berimigrasi ke Kanada. Bersama Mira Nair, Deepa Mehta merupakan dua sutradara perempuan keturnan India yang namanya dihormati di dunia perfilman internasional. Fire ini adalah bagian dari trilogi elemen Fire (1996), Earth (1998), dan Water (2005). Ketiga film ini mengambil tema perempuan yang kontroversial. Saat pertama kali diputar di India, sejumlah bioskop yang memutar Fire diserang dan dibakar oleh para fundamentalis Hindu. Dan akhirnya film ini dilarang edar di India dan Pakistan. Bahkan untuk syuting Water, Deepa Mehta tidak mendapat izin untuk syuting di India sehingga terpaksa pindah ke Sri Lanka.

Fire berkisah tentang perempuan bernama Sita (Nandita Das), yang dijodohkan lalu dinikahkan dengan Jatin (Jaaved Jaaferi). Bersama suaminya, mereka tinggal di apartemen bersama kakak iparnya Ashok (Kulbushan Kharbanda), istri Ashok, Radha (Shabana Azmi), mertuanya Biji (Kushal Rekhi) dan Mundu (Ranjit Chowdhry), si pembantu.

Walaupun tidak saling mencintai, Jatin, yang punya kekasih gelap gadis keturunan Asia terpaksa menikahi Sita, gadis baik-baik keturunan India agar keluarga mereka bisa punya keturunan. Ashok dan Radha tidak bisa punya anak karena Radha mandul, bahkan Ashok sudah tidak menyentuh istrinya lagi secara seksual. Dalam kedekatan ruang apartemen yang sempit, kedua ipar ini pun bersahabat. Hingga akhirnya, Radha dan Sita, dua istri yang tidak bahagia ini, menemukan kebahagiaan dalam satu sama lain.

Memang untuk ukuran Bollywood, film ini dianggap melanggar norma-norma keharusan. Cinta sesama perempuan dan keberanian istri untuk menentang suami dan mengidamkan kebahagiaan dalam pernikahan tanpa cinta dianggap perempuan tak tahu diri dan tak bermoral. Sampai sekarang pun film India masih “mengharamkan” yang namanya perselingkuhan, terakhir tahun 2006 banyak penonton masih menganggap Kabhi Alvida Na Kehna sebagai cerita yang tidak memberi contoh baik karena lelaki dan perempuan dalam film ini melakukan perselingkuhan dan memutuskan untuk bercerai dari pasangan masing-masing. Apalagi dalam Fire ketika dua perempuan bersuami menjalin hubungan lesbian.

Dua karakter perempuan dalam film ini merupakan perempuan-perempuan yang terjebak dalam peran mereka sebagai perempuan. Secara tradisi, tugas istri adalah membahagiakan suami, melayani keluarga besar, dan melupakan kebahagiaan mereka sendiri. Radha dan Sita pun menemukan penghiburan dalam kedekatan persahabatan mereka yang kemudian berubah jadi hubungan cinta dan desakan hasrat.

Lama setelah saya menontonnya, gambar-gambar dalam film ini masih melekat dalam benak saya. Jika kebetulan Anda browsing DVD di lapak-lapak penjualan, cobalah membelinya karena Fire adalah film yang bagus, meskipun bukan film yang mudah disukai oleh banyak orang. Fire bukan sekadar film lesbian, tapi film yang membuka mata banyak orang tentang suatu kultur dan pandangan terhadap perempuan India.

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

3:31 PM

Hanya Hasrat untuk Berbagi Kebahagiaan

Posted by alex |

Beberapa orang pernah bertanya kenapa saya tidak meresensi buku lesbi berjudul anu atau itu. Dari pertanyaan-pertanyaan itu memang ada yang bukunya belum saya baca. Namun ada juga buku yang pernah saya baca, tetapi begitu jeleknya hingga tidak bisa saya resensi di sini karena saya tidak mau membuat blog ini jadi tempat sampah unek-unek kekesalan saya.

Dulu, dalam masa sebelum blog ini muncul saya pernah meresensi satu buku lesbian yang saya edarkan di milis dan diupload di sebuah situs lesbian, yang habis saya cabik-cabik hingga tetesan terakhir. Puaskah saya? Tidak. Saya makin marah dan kesal setiap kali membaca review itu

Dunia pun berputar lalu saya bersahabat dekat dengan seorang penulis yang menerbitkan buku bertema gay. Di mata saya, buku itu begitu bagus. Kemudian buku itu dibantai habis di sebuah media nasional sampai setengah halaman koran, hingga saya dan sang penulis bingung, kenapa sih ada orang bisa sejahat itu? Well, bukunya memang tidak sampai jadi masterpiece atau buku sempurna, tapi tetap saja tidak layak diperlakukan sekeji itu.

Dua kejadian ini membuat saya belajar banyak tentang selera pembaca. Bagaimana satu karya yang dilemparkan ke ruang publik menjadi satu karya yang bisa menimbulkan multitafsir. Bagaimana sesuatu yang dianggap bagus, bisa dianggap sebagai telur busuk oleh orang lain. Demikian pula sebaliknya. Saya sadar saya tidak bisa memaksakan kehendak dan pendapat saya terhadap satu karya agar orang juga ikutan sependapat dengan saya, karena selera itu amat berbeda sesuai pribadi masing-masing.

Bagaimana seseorang menilai suatu karya dipengaruhi oleh banyak hal. Bagaimana cara dia dibesarkan, masa lalunya, hobinya, lingkungannya, dll. Saya adalah pecinta buku fiksi dan belajar banyak dari buku-buku itu. Saya dibesarkan oleh buku-buku Mira W., Sidney Sheldon, Lima Sekawan, HC. Andersen dari perpustakaan sekolah. Semasa remaja saya menggali jiwa feminis saya bersama buku Nawal El-Sadawi dan Louisa May Alcott, belajar memberontak bersama JD. Salinger, dan perih bersama buku Elie Weisel. Tanpa melupakan cinta lama, saat ini saya sedang belajar mencintai buku remaja dan komik novel grafis, Neil Gaiman, Frank Miller, Alan Moore, dll.

Kini tidak ada satu hari pun yang saya lewatkan tanpa membaca dan saya masih terus haus mencari bacaan bagus, terutama fiksi. Saya jatuh cinta pada buku fiksi karena kemampuannya membuat saya belajar, terpukau, tertawa, atau menangis. Uniknya, saya hanya punya sedikit koleksi buku---mungkin jumlahnya cuma seratusan yang saya anggap personal best---karena sering kali selesai membaca saya memberikan buku itu buat orang lain supaya ikut merasakan bahagia yang saya rasakan.

Itu pula salah satu tujuan dari blog ini, berbagi kebahagiaan yang saya rasakan ketika membaca buku yang mengandung unsur LGBT yang membuat perasaan saya meluap-luap. Bukan berbagi kebencian terhadap satu karya. Saya tidak ingin membagi keburukan atau kekesalan di sini, tapi berusaha membagi kebaikan. Tolong ingatkan saya pada postingan ini jika seandainya suatu hari saya lupa dan marah.

Yang harus diasah adalah kemampuan pembaca memilah mana buku bagus dan mana buku jelek (paling tidak untuk dirinya sendiri). Dan saya tidak mau jadi penentunya, karena bisa saja selera kita berbeda, kan? Tapi saya yakin buku yang bagus akan bertahan abadi, dan menyentuh hati banyak pembacanya. Mengutip perkataan seorang sahabat baik saya, “Buku yang bagus akan menemukan pembacanya sendiri.” Blog ini berupaya menjadi penunjuk jalan dan sisanya adalah kehendak bebas pembaca yang membaca resensi buku di sini.

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Pada suatu hari Minggu saya bersama seorang sahabat janjian ketemuan di Grand Indonesia. Setelah berakrobat dengan waktu akhirnya kami janjian ketemu jam 2 siang di sana. Namun ternyata sahabat saya itu, hm, sebut saja namanya Jean, mengajak dua orang biksu dari Tibet....
Di mal supergede itu, saya dan Jean berjalan bersama dua biksu yang mengenakan jubah lengkap mereka yang mencolok mata. Jadi bisa kebayang kan bagaimana saya seperti cacing kena abu, tidak merasa nyaman saat ribuan mata memandangi kami... (well, ini cuma hiperbola, karena puluhan mata itu rasanya seperti ribuan). Saya perhatikan Jean tampak biasa-biasa saja... maklum dia dan biksu-biksu ini sering keluar ke tempat umum bersama, tidak seperti saya. Akhirnya, tidak tahan saya berbisik pada Jean, “Emang biasa diliatin gini ya?”
“Iya,” jawab Jean mengangguk.
“Elo nggak risi?”
“Jangan dipikirin, cuek aja lagi,” tukasnya sambil mengajak kami masuk ke Food Hall.

Mendadak saya jadi teringat cerita seorang sahabat lain, kali ini sahabat lesbian. Dia bercerita betapa dia merasa semua mata memandanginya saat dia jalan bersama kekasihnya di tempat umum. Dulu pas denger cerita itu sih saya pikir si sahabat lesbian ini, hm, sebut saja namanya Mon, mungkin menunjukkan afeksi berlebihan di depan umum sehingga “dilihatin” orang-orang. Tapi mereka bilang, mereka cuma pegangan tangan kok. Waktu itu saya jawab padanya, “agh, gue sih nggak pernah merasa diliatin gitu... perasaan elo aja, kali.” Mungkin, ternyata selama ini dengan atau tanpa saya sadari saya merasa nyaman pada diri saya sendiri sehingga tidak merasa salting saat berjalan di depan umum dengan partner. "Teori" itulah yang baru saya sadari saat saya dihujani tatapan orang-orang siang itu.

Saat saya dipandangi orang satu mal segede gaban itu, bahkan setelahnya kami berjalan kaki ke Plasa Indonesia, saya mengerti apa yang dialami Mon. Saya merasa tidak nyaman, gelisah, risi, dll. Saya jadi merasa salah tingkah alias self-concious. Pertama-tama muncul perasaan defensif, “Kenapa sih pada ngeliatin? Nggak pernah liat biksu jalan-jalan di mal ya?” Namun setelah saya melihat Jean bisa dengan santai mengobrol dan berjalan dengan cuek, saya jadi mikir, “Well, mungkin cuek is the best ya?” Cuek di sini maksudnya bukan cuek tetap leha-leha di tempat tidur saat banjir melanda, atau cuek ketika api mulai melahap rumah sebelah. Lalu mulailah saya membuat diri saya cuek, dan terutama berhenti memikirkan pendapat orang lain tentang diri saya. Akhirnya saya pun bisa berjalan bersama dan mengobrol dengan Jean dan biksu-biksu itu tanpa merasa salah tingkah.

Saya jadi teringat cerita komik Buddha karya Ozamu Tezuka, dalam seri ke-4 ketika Siddharta bertapa di Hutan Uruvela, ada seorang bocah ingusan (bocah ini benar-benar ingusan) yang sudah ditakdirkan mati pada umur tertentu. Namun bocah ini tampak tenang menghadapi kematiannya, dan ketika Siddharta yang kala itu belum menjadi Buddha bertanya pada bocah itu apa resepnya tidak takut menghadapi kematian, si bocah menjawab, “Cuek aja, lagi.” Yeah, betul juga. Terlalu mengkuatirkan sesuatu membuat kita malah tidak fokus pada sesuatu yang penting, yaitu hidup itu sendiri.

Mungkin itulah yang harus kita rasakan sebagai lesbian. Coming out atau tidak, kita harus nyaman pada diri kita sendiri. Tahu apa yang kita mau dan berkonsentrasi pada hal itu, bukannya berkonsentrasi pada, "Orang-orang bilang apa ya tentang gue?" Sekali lagi, maksudnya nyaman bukan nyaman saat jalan rame-rame bergerombol bersama lesbi lain dan caper (cari perhatian) di mal atau tempat umum ya. Tapi lebih ke nyaman pada diri sendiri, nyaman menjadi diri sendiri... apa pun bentuk, wujud, dan rupa kita. Bukan kepada diri lesbian kita saja, tapi juga kepada diri manusia kita seutuhnya. Percayalah, dengan ini penampilan Anda akan lebih berbinar dan menarik perhatian sesama jenis. (baca dengan suara ala iklan pemutih wajah :p)

Well, keesokan paginya saya tiba di kantor, dengan penampilan ala saya. Rambut awut-awutan, belum dandan, mata masih ngantuk---maklum, karena belum bangun kalau belum keseduh kopi, teman kerja saya langsung bilang, “Stop! Jangan bergerak!” Tangannya mengeluarkan ponsel berkamera.
Waks, saya pun kaget, buru-buru menghindar, “Ngapain sih mau motret gue?” Masih dengan rasa tidak nyaman, dalam hati berkomentar, Maksud lo?
“Udah, lu diem jangan bergerak deh. Gue mesti mengabadikan elo seperti ini, nanti gue post di blog gue dengan judul, 'Orang Paling Cuek Sedunia.'" Hhhh... :(


@Alex, Rahasia Bulan, 2007

*spoiler alert*

Oranges Are Not The Only Fruit adalah buku sudah lama kepingin saya baca, dan akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya kesampaian juga (thanks to Lakhsmi :p). Bukan semata-mata karena Oranges menampilkan isu lesbian, tapi lebih karena nilai sastra feminis yang terkandung dalam buku ini ketika pada tahun 2003 seorang praktisi media menulis di harian Kompas saat membandingkan buku ini dengan fenomena Inul.

Tokoh utama dalam novel semi-autobiografi ini bernama Jeanette--sama seperti nama sang pengarang, yang diadopsi oleh keluarga evangelist kelas menengah di wilayah utara Inggris pada tahun 1960-an. Di mata Jeanette hidup adalah Tuhan, Ibunya, dan Gereja dengan buku bacaan favorit: Alkitab. Bahkan sejak berusia tujuh tahun dia percaya dirinya ditakdirkan menjadi misionaris dan membebaskan dunia dari orang-orang kafir. Bab-bab dalam buku ini pun dibagi menurut nama-nama kitab dalam perjanjian lama.

Namun seiring bertambahnya usia, Jeanette yang mulanya sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah mulai mempertanyakan banyak hal yang berbeda dengan dunia yang diperkenalkan ibunya. Saat memasuki usia puber 14 tahun, dia mempertanyakan seksualitas dirinya ketika dia jatuh cinta pada sahabat perempuannya, Melanie.

Sebagai seorang Kristen lurus, awalnya Jeanette tidak menganggap perasaannya kepada Melanie adalah sesuatu yang salah, di matanya mereka hanya bersahabat akrab. Dia tidak menganggap dirinya dan Melanie menjalin hubungan yang disebut “Unnatural Passions”, sebagaimana sebutan ibunya terhadap dua perempuan yang tinggal bersama di kota itu. Dia tidak sadar dirinya lesbian, meskipun sahabat-sahabat ibunya sudah melihat tanda-tanda itu.

Dan akibatnya pada usia empat belas tahun tanpa sengaja Jeanette coming out pada ibunya saat dia dengan menggebu-gebu menceritakan perasaannya yang berlimpah ruah pada Melanie. Ibunya bersama pendeta mengadakan upacara pengusiran iblis dan memaksa Jeanette dan Melanie untuk mengakui dan menyesali dosa mereka karena saling mencintai. Namun di mata Jeanette dia tidak merasa dirinya melakukan hal yang salah, karena “Unnatural Passions” pastilah rasanya buruk, sementara cinta mereka begitu indah. Bahkan bersama Melanie, Jeanette merasa lebih mencintai Tuhan.

"I love her."
"Then you do not love God."
"Yes, I love both of them."
"You cannot."
(hal 103)

Demikian kata sang pendeta pada Jeanette ketika memaksanya mengaku dosa. Di mata sang pendeta, pilihannya adalah jika kau mencintai sesama jenis, kau tidak bisa mencintai Tuhan. Namun Jeanette mencintai Tuhan dan Melanie, dan dia tidak merasa ada yang salah dalam hal itu. Dua tahun kemudian, ketika Jeanette kedapatan (lagi) menjalin “hasrat yang tidak alami” dengan gadis lain, dia pun diusir dari rumah dan gerejanya.

Dalam kehidupan nyata, memang itulah yang terjadi dalam hidup Jeanette Winterston, sang pengarang. Setelah pergi dari rumah pada usia 16, dia bekerja serabutan di berbagai tempat pada malam hari dan akhir pekan untuk menghidupi dirinya pada tahun terakhir SMA-nya. Setelah setahun bekerja sebagai pembantu di RSJ, Jeanette mengumpulkan cukup uang untuk kuliah di Oxford. Oranges ditulis pada tahun 1983 saat dia berusia 23 tahun lalu diterbitkan pada tahun 1985 dan memenangkan Whitbread Prize.

Selain menulis novel, Jeanette Winterston juga menulis komik, buku anak-anak, esai, serta cerita pendek. Oranges juga diadaptasi ke dalam film pada tahun 1990 dan memenangkan Prix d'argent, Cannes Film Festival. Pada tahun 2006, dia mendapat gelar Order of British Empire (OBE) atas jasanya dalam bidang sastra.



Jeanette Winterston sendiri tidak ingin buku ini cuma dibaca oleh kaum lesbian saja, dia ingin membuka pikiran dan mata pembaca sebanyak-banyaknya dalam buku yang ditulis dari sudut pandang Jeanette kecil hingga remaja dengan sentuhan humor gelap di sana-sini. Dan buku ini memang bagus dibaca oleh semua perempuan. Bahkan belakangan Oranges dijadikan salah satu buku pilihan bacaan SMA-SMA di Inggris.

Oranges Are Not The Only Fruit bukan sekadar "buku lesbian", atau buku tentang “bagaimana coming out pada orangtuamu” atau “apa yang kaulakukan jika kau ketahuan lesbian oleh orangtuamu”. Tapi buku ini lebih tentang hidup dan harapan. Tentang mengikuti kata hati. Tentang menjadi perempuan dan tentang cinta. Tentang ikatan keluarga, bahwa se"gila"nya keluargamu, mereka tetaplah keluargamu. Dan tentang menyadari pilihan-pilihan yang diberikan hidup, karena bagaimanapun jeruk bukan satu-satunya buah.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Udah lama saya nggak mereview dua film bertema lesbian sekaligus. Kali Memento Mori dan Lost and Delirious. Dua film ini memiliki setting cerita yang sama. Cewek-cewek SMA, kecenderungan lesbian, bunuh diri, dan cerita disampaikan dari sudut pandang orang ketiga. Sebenarnya kedua film ini sudah lama saya tonton, VCD Memento Mori dijual resmi di Indonesia pada awal tahun 2000-an dan Lost and Delirious juga saya tonton dalam format VCD. Beberapa hari lalu baru saya tonton ulang lagi. Memento Mori dirilis tahun 1999, dua tahun lebih awal dibanding Lost and Delirious (2001).

“Kenangan kematian” demikian terjemahan bebas untuk Memento Mori. Seorang gadis SMA bunuh diri dengan terjun dari gedung dan meninggalkan buku harian misterius. Min-ah (Kim Min-sun) menemukan diari tersebut dan tertarik membaca kisah yang diceritakan dalam buku harian itu hingga dihantui oleh arwah gadis yang bunuh diri itu. Melalui tampilan flashback vs masa kini, kita membaca jalinan kisah hubungan lesbian Shi-eun (Lee Young-jin), dan Hyo-shin (Park Yeh-jin), gadis pemilik buku harian.

Memento Mori merupakan salah satu film lesbian Korea pertama, dengan cerdas sang sutradara menyamarkan kisah cinta lesbian dalam bungkusan cerita horor yang memang jadi cult dalam film-film Asia kala itu. Apalagi konon film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di sekolah khusus putri yang katanya berhantu di Korea. Persahabatan gadis-gadis SMA, gosip, serta pengkhianatan cinta pertama menjadi tema utama cerita Memento Mori, meskipun ujung film ini adalah film horor balas dendam arwah penasaran ala Carrie-nya Stephen King.

Lost and Delirious juga mengambil tema persahabatan ala gadis SMA, gosip, dan pengkhianatan cinta pertama. Film ini juga mengambil sudut cerita orang ketiga, yaitu Mary (Mischa Barton) yang menjadi narator kisah cinta antara Paulie (Piper Perabo) dan Tori (Jessica Pare). Walaupun diperankan oleh gadis-gadis Hollywood yaitu Piper Perabo pada masa sebelum Imagine and You dan sesudah Coyote Ugly, dan Mischa Barton (The OC), tapi Lost and Delirious dikategorikan sebagai film Kanada dan disutradari oleh Lea Pool asal Prancis.

Kisahnya ber-setting di asrama sekolah putri ketika Mary sebagai anak baru yang ditempatkan di kamar bersama Paulie dan Tori menyadari hubungan khusus antara kedua sahabat barunya. Tori yang panik saat hubungannya dengan Paulie ketahuan oleh adiknya yang juga berada di asrama yang sama buru-buru mengingkari hubungannya dengan Paulie. Tidak tahan digosipkan sebagai lesbian, akhirnya Tori menjauhi Paulie, yang tidak terima diputuskan oleh kekasih yang juga sahabat baiknya.


Lost and Delirious diperankan oleh gadis-gadis muda dengan akting menjanjikan, dan memang dari ketiga gadis itu kini Piper Perabo dan Micha Barton menjadi aktris yang dilirik di Hollywood. Film ini juga tidak buruk, walaupun tidak bisa dibilang film sempurna. Saya tidak bisa protes dengan ceritanya, karena memang begitulah yang terjadi. Cinta terlarang yang berakhir tragis bak Romeo and Juliet.

Dua film ini, walaupun dengan ending yang nggak enak dilihat, merupakan gambaran obsesi cinta remaja yang mungkin saja terjadi dalam realitas. Memento Mori dan Lost and Delirious menggambarkan tekanan homofobia di sekolah, kesadaran pertama kali pada orientasi seksual, dan pengalaman cinta pertama yang penuh gelora dan emosi hingga membuatmu rela mati demi cinta.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe