Tidak pernah lupa dalam ingatan saya kejadian mengejutkan di arena loncat indah dalam Olimpiade Seoul 1988. Dalam salah satu loncatannya, kepala Greg Louganis terjeduk papan loncat indah hingga dia jatuh terpelanting ke dalam air dengan kepala mengucurkan darah. Semua penonton terkesiap menyaksikan adegan itu, saya nyaris bisa merasakan napas-napas tertahan penonton yang memandang ngeri. Namun kecelakaan itu tidaklah menghentikan Greg memperoleh 2 medali emas loncat indah untuk papan 3 meter dan 10 meter. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, dan Greg Louganis adalah tujuan saya menyaksikan siaran langsung olimpiade setiap pulang sekolah. Di mata saya saat itu, Greg Louganis adalah seorang hero.

Pria bernama lengkap Gregory Efthimios Louganis ini lahir pada tanggal 29 November 1960 di El Cajon, California, dan dianggap peloncat indah terbaik di dunia. Ia pensiun dari kariernya sebagai peloncat indah setelah olimpiade 1988. Greg Louganis adalah atlet yang mengikuti olimpiade sebanyak 3 kali, yaitu 1976, 1984, 1988, dan memperoleh emas ganda dalam dua olimpiade terakhirnya. Kalau AS tidak memboikot olimpiade 1980 di Uni Soviet, daftar prestasinya mungkin bakal lebih panjang.

Pada tahun 1995 Greg Louganis mengeluarkan buku autobigrafinya berjudul Breaking the Surface. Di dalam buku itu, ia mengungkapkan banyak hal, selain pengakuan bahwa dia homoseksual, ternyata dia menderita HIV positif. Pengakuan soal status HIV-nya menggegerkan banyak pihak karena ternyata dia sudah tahu dirinya menderita HIV sebelum Olimpiade 1988, namun memilih tetap diam padahal darahnya menetes ke dalam kolam sehabis kecelakaan. Meskipun setelah itu tidak ditemukan penularan HIV kepada atlet lain akibat kejadian tersebut, selama bertahun-tahun Greg dirundung perasaan bersalah karena menyembunyikan kebenaran.

Olimpiade 1988, Kepala Greg Louganis Terantuk Papan

Buku yang ditulisnya bersama Eric Marcus ini juga mengungkapkan sisi lain selain sosok Greg Louganis yang tampan terpahat bak dewa Yunani (bahkan sempat berpose bugil untuk majalah Playgirl pada tahun 1987), berprestasi, dan dipuja banyak orang. Greg tidak mengenal ayah dan ibu kandungnya karena diadopsi sejak usia sembilan bulan. Ia sulit beradaptasi di sekolah karena disleksia dan sering jadi bahan ejekan anak-anak lain karena kulitnya yang cokelat sebab ayah kandungnya konon masih keturunan Samoa.

Pada usia sembilan tahun, ia mulai mengenal loncat indah dan langsung menunjukkan prestasi luar biasa. Pada usia 16 tahun, ia terpilih menjadi atlet olimpiade untuk Olimpiade Montreal 1976, dan meraih medali perak di sana. Selain itu, ia juga memperoleh puluhan medali emas dari berbagai kejuaraan di Amerika.

Namun semua prestasi itu tidak membuat Greg berhasil mengangkat dirinya dari rasa rendah diri dan perasaan tidak aman yang sejak kecil dialaminya—belum lagi masalah homoseksualitas yang harus disembunyikannya rapat-rapat. Dalam Breaking the Surface yang ditulis dengan amat sangat terus terang itu, ia mengungkapkan betapa dirinya menjadi korban dari sederet hubungan buruk dengan lelaki-lelaki yang memanfaatkan ketenaran dan uang yang dimilikinya. Bahkan dalam salah satu hubungan, dia juga mengalami sejumlah kekerasan fisik.

Kata bahagia seakan asing dalam kamus Greg. Bahkan ketampanan dan fisik yang sempurna, kekayaan dan prestasi yang luar biasa, tidak bisa membuat hidupnya utuh. Dia tetap jadi sosok anak malang yang rendah diri. Hubungan demi hubungan yang buruk dengan orang-orang terdekatnya, serta kisah cinta yang menyakitkan, membuatnya depresi dan terpuruk. Dan hanya loncat indah yang memberi makna dalam kehidupan Greg Louganis.

Membaca buku ini bukan berarti membuat Greg Louganis minta dikasihani, namun ia lebih ingin menunjukkan kekuatan kejujuran dan cinta pada diri sendiri. Buku ini seakan menjadi terapi dan semacam obat buat Greg Louganis dengan mencurahkan segala rahasia yang terpendam dalam dirinya melalui tulisan. Breaking the Surface menggambarkan apa yang ada di balik sosok idola dengan pengakuan jujur yang menyembuhkan diri sendiri.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

NB: Breaking the Surface dicetak ulang kembali tahun 2006.

8:40 PM

Buku: Pages for You - Sylvia Brownrigg

Posted by alex |


Tokoh utama dalam novel ini bernama Flannery Jansen, gadis berusia 17 tahun yang baru masuk perguruan tinggi. Di kampusnya itulah dia mengenal cinta pertamanya terhadap dosen muda berusia 28 tahun bernama Anne Arden. Kesepian karena tinggal di asrama dan jauh dari keluarga membuat Flannery berharap bisa menemukan siapa pun yang bisa jadi tempatnya bersandar. Dan Anne datang di saat yang tepat. Flannery tergila-gila pada Anne, sebagaimana yang wajar dialami remaja yang jatuh cinta pertama kalinya. Anne yang cantik, cerdas, dan berkarisma memberi makna dalam hidup Flannery.

Perbedaan usia membuat Flannery makin memandang Anne dengan penuh kekaguman seorang gadis 17 tahun terhadap sosok perempuan dewasa yang dipujanya. Di mata Flannery, Anne adalah perempuan sempurna, dan segala yang dilakukan Anne dianggapnya keren. Kisah ini ditulis berdasarkan narasi Flannery, jadi kita memandang seisi buku ini hanya dari sudut pandangnya. Kita tahu bagaimana akhir novel ini karena di bagian prolog sang narator sudah menuliskan akhir kisah cinta mereka. Dan keseluruhan isi novel ini dipersembahkan “seakan-akan” untuk sang perempuan yang pernah dipujanya.

Hubungan Flannery dan Anne sejak awal hingga akhir menjadi inti cerita dalam novel terbitan tahun 2001 ini. Pages for You tidaklah semata-mata novel “lesbian”, namun lebih sebagai kisah kesadaran seksual seorang gadis remaja dan wanita yang lebih dewasa. Sylvia Brownrigg berhasil menangkap pesona asmara dan kegetiran cinta pertama dan menuangkannya dengan sangat baik ke dalam novel ketiganya, yang kebetulan juga masuk nominasi Lambda Award untuk kategori novel.

Pembaca (lesbian) yang sudah melewati masa remajanya, dan pernah mengalami manis-pahitnya cinta pertama, seakan dibawa dalam nostalgia masa-masa cinta remaja, ketika apa yang kita lihat dan rasakan pada saat itu segalanya seindah pelangi. Kata-kata dalam novel ini terangkai begitu indah, apalagi bagian puisinya... fiuh. Semua bagian dalam novel ini jatuh tepat pada tempatnya, hingga membuat kita ingin menikmati rasa setiap kata halaman demi halaman perlahan-lahan.


@Alex,RahasiaBulan, 2007

12:45 AM

Opini: Fobia? Siapa Takut?!

Posted by alex |

Kata Heterofobia baru muncul dalam kosakata saya ketika partner saya berkomentar bahwa lesbian-lesbian dalam serial TV L Word memberi kesan heterofobia karena tidak bergaul dengan kalangan heteroseksual alias cuma bergaul dengan kalangan sendiri. Tadinya saya tidak terima, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, partner saya ada benarnya juga.

Jika seseorang mengalami homofobia artinya dia merasakakan ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang berbau homoseksual. Demikian pula sebaliknya, jadi heterofobia artinya ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang berbau heteroseksual. Coba tanya pada diri kita sendiri, seberapa banyak di antara kita yang merasa tidak nyaman atau bahkan amat sangat takut ketika berada di lingkungan heteroseksual? Tapi sebaliknya, jika berada dalam komunitas homoseksual orang tersebut merasa seakan di surga.

Memang kita pasti merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berkumpul dengan sesama teman-teman gay/lesbian. Perasaan menjadi bagian dalam pergaulan. Tapi interaksi terus-menerus setiap hari dengan “kalangan sendiri” itu nyaris tidak mungkin. Akibatnya gay/lesbian semacam itu hanya mau berteman dan membuka diri terhadap sesama mereka, memproteksi diri berlebihan saat masuk ke lingkungan heteroseksual. Aduh, bagaimana kita bisa diterima dengan baik jika kita tidak bergaul dengan orang yang kita harap bisa memandang kita secara positif? Tunjukkan dong bahwa kita bukanlah seperti stereotipe lesbian yang selama ini jadi santapan berita murahan, atau image negatif yang ditampilkan di sinetron busuk di TV.

Tidak, saya tidak menganjurkan untuk coming out, paling tidak jadilah lesbian/gay yang memiliki watak baik dan cerdas--kecerdasan emosi, intelektual, dan spritual. Jadi, SEANDAINYA suatu hari kamu ketahuan oleh lingkungan hetero-mu bahwa kamu gay/lesbian, percayalah mereka tidak akan meninggalkanmu.

Menilik kembali ke belakang, ketika saya masih di dunia antah-berantah, demikian saya mengistilahkan masa-masa “bingung” terhadap orientasi seksual saya dulu. Saya mendapat dukungan yang sangat besar dari seorang teman kuliah yang juga lesbian, ups, sori, dia bisa marah kalau saya sebut lesbian karena transeksual bukanlah lesbian. Dia adalah orang yang saya anggap mentor, teman sehati, dan tempat curhat, dan dia adalah satu dari beberapa sahabat akrab saya pada masa itu. Sahabat-sahabat akrab saya yang lain berasal dari kalangan heteroseksual, yang beberapa di antaranya masih menjalin hubungan baik dengan saya meskipun tahu saya lesbian.

Kita adalah kaum minoritas, kita hidup dalam dunia yang mayoritas hetero, jelas kita tidak mungkin bisa menjauhkan diri dari lingkungan pergaulan dengan rekan-rekan hetero. Ya, memang, sekali lagi saya mengakui ada hal-hal tertentu yang memang hanya bisa dimengerti dan dirasakan dalam persahabatan antara sesama lesbian atau sesama gay. Namun ini tidak berarti bersahabat dengan sesama lesbian atau homo juga 100% menyenangkan.

Yang paling membuat saya sebal, ada sejumlah gay/lesbian yang menggunakan ke”homo”an mereka untuk mendapat proyek atau bantuan dari saya karena entah bagaimana saya seakan berutang pada mereka secara kami berasal dari “kelompok” yang sama. Benar-benar tidak cerdas!

Ada yang pernah meminta dicarikan pekerjaan freelance di kantor saya, yang pas saya bilang sedang tidak ada lowongan, dia beralasan “tapi dia kan gay.” So? Saya punya utang sama dia kalo dia gay? Atau ada lagi lesbian menyebalkan yang kebetulan memiliki proyek kerjasama dengan perusahaan saya bekerja, dan bertingkah seolah-olah saya harus memuluskan proyeknya, karena kami saling tahu rahasia masing-masing, padahal proyeknya jelas tidak menguntungkan untuk perusahaan saya? Please deh! Ampun! Orang-orang seperti ini yang membuat saya kesal setengah mati. Bukan salah saya kalau dia tidak bisa mendapat pekerjaan dari kantor saya bekerja, bukan salah saya kalau proyek mereka gagal. Ingat, diskriminasi terjadi karena ada pihak yang minta diistimewakan. Jadi, jangan minta diistimewakan atas dasar orientasi seksual kalau tidak mau didiskriminasikan.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

The Children’s Hour adalah film klasik Amerika buatan tahun 1961 yang pada zamannya boleh dibilang sebagai film kontroversial. Audrey Hepburn dan Shirley McLaine berperan sebagai Karen Wright dan Martha Dobie yang menjadi kepala sekolah dan guru di sekolah asrama khusus putri. Akibat tuduhan bohong salah seorang anak perempuan bernama Mary Tilford yang nakal, pembangkang, dan pembohong, Karen dan Martha dituduh menjalin “kedekatan yang tidak alami”.

Tidak penting apakah Karen dan Martha menjalin hubungan asmara atau tidak, namun tuduhan itu telanjur menyebar dan merusak nama baik dan karier mereka, bahkan merusak hubungan Karen dengan tunangannya Dr. Joe Cardin (James Wagner). Sepanjang film tidak ada satu pun kata "lesbian" yang terlontar. Maklumlah, kata "lesbian" masihlah tabu dan dianggap aib zaman itu.

Isu lesbian yang tabu itu membuat film ini jadi punya sejarah panjang. Sebenarnya The Children’s Hour merupakan naskah drama karya Lillian Hellman yang dibuat tahun 1934, dan sempat masuk nominasi Pulitzer. Isu kontroversial itu pula yang menyebabkannya diganjal di Pulitzer dan pertunjukan teater The Chidren’s Hour dilarang tampil di Boston, London, dan Chicago, namun menjadi pertunjukan yang memecahkan rekor dengan tampil 691 kali secara berturut-turut di New York.

Naskah ini pernah dilayarlebarkan pada tahun 1936 dengan judul These Three, namun isi filmnya dirombak habis-habisan dengan menghapus unsur lesbian agar bisa memenuhi syarat sensor Hollywood Production Code pada masa itu. Barulah seperempat abad kemudian, The Children’s Hour bisa kembali diangkat ke layar lebar seutuh-utuhnya. Hebatnya These Three dan The Children’s Hour disutradarai oleh sutradara yang sama yaitu William Wyler dan skenario adaptasi kedua film ditulis Lillian Hellman sendiri, yang membuktikan kompromi dan kesabaran kadang-kadang memiliki hikmahnya sendiri.



Jarang orang mengingat Audrey Hepburn di film ini, karena orang lebih mengingatnya sebagai Holly Golightly di Breakfast at Tiffany’s yang dirilis pada tahun yang sama. Dan perannya sebagai Holly itulah yang membuahkannya nominasi Oscar untuk aktris terbaik, bukan di film ini. Shirley McLaine---yang masih bisa kita saksikan kepiawaian aktingnya pada usia lebih dari 70 tahun sekarang ini---mendapat nominasi Golden Globe tahun 1962 untuk aktris terbaik dalam film ini. The Children's Hour memperoleh 3 nominasi Golden Globe namun tidak memenangkan satu piala pun. Film ini termasuk film "gagal" karena sepinya penonton yang datang ke bioskop untuk menyaksikannya.

Audrey Hepburn dan Shirley McLaine tampil luar biasa dengan akting tanpa cela dalam dialog-dialog penuh perasaan di film hitam-putih ini. Saya bisa berkali-kali menonton adegan “pengakuan” Martha yang diperankan Shirley McLaine dan tetap terpukau setiap kali melihatnya.

Berikut cuplikan dialognya:

Martha: There's always been something wrong. Always, just as long as I can remember. But I never knew what it was until all this happened.
Karen: Stop it, Martha! Stop this crazy talk!
Martha: You're afraid of hearing it, but I'm more afraid than you.
Karen: I won't listen to you!
Martha: No! You've got to know. I've got to tell you. I can't keep it to myself any longer. I'm guilty!
Karen: You're guilty of nothing!
Martha: I've been telling myself that since the night I heard the child say it. I lie in bed night after night praying that it isn't true. But I know about it now. It's there. I don't know how, I don't know why. But I did love you! I do love you! I resented your plans to marry. Maybe because I wanted you. Maybe I've wanted you all these years. I couldn't call it by name before, but maybe it's been there since I first knew you.

Konon, The Children's Hour terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di Skotlandia pada tahun 1810, tentang kepala sekolah yang dituduh menjalin kedekatan yang tidak wajar dengan sesama guru perempuan, namun belakangan terbukti itu hanyalah fitnah dari murid yang tidak senang pada mereka. The Children's Hour adalah film yang memperlihatkan betapa dahsyatnya kekuatan fitnah dan tuduhan bohong dalam merusak hidup seseorang. Dan dalam hal ini lesbianisme dijadikan dasar fitnah. Seabad lebih berlalu, namun kisah dalam film ini jelas masih relevan sampai sekarang, selama homoseksual masih dipandang sebagai sesuatu yang dianggap aib.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

gambar: www.wikipedia.org

*spoiler alert*


Sekali lagi saya ingin mereview film secara 2in1, secara dua film ini serupa tapi tak sama. Common Ground adalah film televisi tahun 2000 hasil produksi Showtime yang berisi tiga cerita pendek kehidupan gay di kota kecil (fiktif) bernama Homer di Connecticut. Film ini disutradarai oleh Donna Deitch, yang pernah menyutradari film lesbian, Dessert Hearts. Masing-masing skenario dalam tiga cerita di film ini ditulis oleh Paula Vogel, Terrence McNally,dan Harvey Fierstein. Dalam Common Ground kita bisa melihat bagaimana mereka yang hidup dan tinggal di Homer melalui sudut pandang Johnny Burroughs (Eric Stoltz) menyaksikan perubahan sosial hingga akhirnya mereka “menerima” kaum homoseksual di kota itu.

Segmen pertama film ini berlangsung tahun 1954, ketika Dorothy Nelson (Brittany Murphy) pulang ke Homer, Connecticut, setelah dipecat secara tidak hormat dari US Navy gara-gara kedapatan berada di bar khusus homoseksual. Ketika penduduk kota tahu Dorothy dipecat dari ketentaraan karena lesbian, bahkan ibunya pun mengusirnya dari rumah. Akhirnya Dorothy menyadari bahwa Homer mungkin belum bisa menerima kehadiran homoseksual. Dan tidak ada jalan lain bagi Dorothy kecuali pergi dari kampung halamannya.

Segmen kedua bersetting tahun 1974, tentang penganiayaan yang dialami siswa SMA bernama Tobias (Jonathan Taylor Thomas) karena ketahuan gay. Dan bagaimana guru bahasa Prancisnya, Gil Roberts (Steven Weber) yang juga gay, membela Tobias. Gil terpaksa coming out ketika Tobias dihajar sampai luka parah dan Tobias akhirnya memilih meninggalkan Homer untuk melanjutkan kuliahnya.

Segmen terakhir berlangsung pada tahun 2000. Berkisah tentang Amos (James LeGros) yang gugup menjelang pernikahannya dengan Andy. Pernikahan itu sendiri diwarnai dengan demonstrasi oleh penduduk Homer yang menentang pernikahan sesama jenis. Percakapan Amos dan Ira (Ed Asner), ayahnya, mengangkat berbagai isu homoseksual menjadi penutup dan klimaks dari perjuangan homoseksual di Homer sejak lebih dari setengah abad lalu.

Jika Common Ground berfokus pada kisah gay, If These Walls Could Talk 2 yang diproduksi HBO juga dalam tahun yang sama, berfokus pada kehidupan lesbian. Selain itu masing-masing segmen cerita dalam If These Walls Could Talk 2 disutradari oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya perempuan.
Benang merah yang menghubungkan ketiga cerita yang berlangsung selama hampir setengah abad adalah rumah yang sama yang jadi setting tempat cerita ini.

Pada tahun 1961, rumah itu dihuni pasangan lesbian manula bernama Edith (Vanessa Redgrave) dan Abby (Marian Seldes). Ketika Abby meninggal dunia, keluarga Abby yang tidak memahami hubungan Abby dan Edith malah berencana menjual rumah tempat tinggal pasangan itu. Edith yang tak berdaya hanya bisa pasrah karena rumah itu memang terdaftar atas nama Abby dan tidak ada ikatan legal antara mereka meskipun mereka sudah berpasangan selama puluhan tahun.
(Saya angkat topik pada akting Vanessa Redgrave dalam segmen ini.--red)

Pada tahun 1972, rumah itu jadi tempat tinggal anak kuliahan, Michelle (Amy Carlson), Linda (Michelle Williams) Karen (Nia Long), and Jeanne (Natasha Lyonne). Empat perempuan itu kebetulan feminis lesbian yang aktif dalam gerakan di kampus. Masalah muncul ketika Linda jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny), butch yang menjurus ke transeksual. Bagi sahabat-sahabatnya, Amy adalah sosok yang tidak sesuai bagi perjuangan feminis/lesbian yang mereka perjuangkan selama ini, karena Amy dianggap sosok yang tidak perempuan dan juga tidak laki-laki.

Pada tahun 2000, Fran (Sharon Stone) and Kal (Ellen DeGeneres), pasangan yang sudah hidup bersama selama beberapa tahun di rumah itu memutuskan untuk memiliki anak untuk melengkapi ikatan mereka. Berbagai cara mereka diskusikan agar mereka bisa punya anak, mulai dari adopsi, bank sperma, hingga meminta sperma pada sahabat gay mereka.

Dalam ketiga cerita di dua film di atas kita bisa melihat bagaimana masa berganti dan masyarakat mengalami perubahan cara pandang atau bahkan ada yang masih tidak berubah sejak setengah abad lalu. Common Ground dan If These Walls Could Talk 2 mengajak kita kembali ke belakang, merefleksikan kembali perjuangan yang mungkin terlupakan saat hidup sudah lebih nyaman sekarang dengan melihat kehidupan yang dialami oleh pendahulu kita. Dua film ini lumayan jadi tontonan yang mengisi otak bersama pasangan kita pada akhir pekan. Dijamin habis nonton pasti kita bisa debat sama pasangan nonton kita tentang segmen-segmen dalam kedua film itu.

gambar: www.amazon.com
@Alex, RahasiaBulan, 2007

1:46 PM

Opini: Awas! Area Berbahaya! Jangan Lewat Sana!

Posted by alex |

Tadi malam partner saya bilang, “Persahabatan sesama lesbian sebenarnya berbahaya ya.”
“Heh? Maksudnya?” tanya saya lugu.
“Gini, kalau dalam hubungan suami-istri lelaki dan perempuan kan biasanya sudah jelas di bagian mana wilayah persahabatan yang nggak boleh dimasuki. Secara logika istri akan membatasi persahabatannya dengan sahabat lelaki dan suami juga membatasi persahabatannya dengan sahabat perempuan. Bahkan kalau bisa tidak pernah lagi kontak-kontakan dengan mantan. Sementara dalam hubungan sesama jenis, kan saat kita berteman dengan sesama perempuan (atau sesama lelaki, untuk gay) kita bisa saja memasuki area berbahaya tanpa kita sadari.”

Saya mengerti kegalauan partner saya. Menurut saya, keabu-abuan wilayah itulah yang menjadi salah satu penyebab turn over pasangan sesama jenis menjadi tinggi. Sahabat lesbian yang baru dikenalkan oleh sahabat lesbian lain. Atau iseng-iseng browsing internet lalu mencari-cari kenalan baru di situs pertemanan GLBT. Belum lagi ditambah dengan persahabatan dengan mantan yang umum di kalangan sesama lesbian dan selalu berisiko menimbulkan CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Hhhh... semuanya berisiko tinggi buat pasangan lesbian.

Kadang-kadang kita tak pernah tahu bagaimana persahabatan yang awalnya “tidak berdosa” dan “tanpa maksud apa-apa hanya murni persahabatan” lambat laun memasuki wilayah yang sebenarnya tidak boleh dimasuki. SMS yang awalnya cuma, “Hai apa kabar? Lagi ngapain?” Lama-kelamaan diiringi curhat kiri-kanan bisa berubah jadi “Udah makan belum?” atau “Jangan bobo malam2 ya, mimpi indah.”

Nah, lo, sekarang gimana solusinya? Masa kalau sudah punya pasangan, kita nggak boleh berteman lagi dengan sahabat sesama lesbian? Idih, nanti dibilang, “ugh, si anu cuma kalo mau cari pacar aja baru mau ngumpul sama kita-kita.” Kalau meminjam pendapat seorang sahabat saya, dia bilang, “Ya, nggak mungkin dong kita hidup cuma berdua aja, kaya katak dalam tempurung. Kita pasti nyari temen-temen sesama L biar ketemu temen yang obrolannya nyambung.” Kok jadi seperti makan buah simalakama ya? Nggak temenan salah, temenan juga salah. Jadi gimana dong?

Saya juga bukan pakar dalam masalah beginian. Secara saya pernah terjebak dalam situasi seperti ini, hehehe. Mungkin kalau masih ada niat untuk menyelamatkan hubungan, dalam hal ini kita mesti belajar dari tragedi lumpur panas Lapindo. Sebelum lumpurnya meluap ke sana kemari hingga memutus jalan tol dan menghancurkan puluhan desa, dan membuat banyak pihak menderita, kita harus menghentikannya dengan cara apa pun. Kita tidak bisa berleha-leha dan bilang, “Ah, tenang aja..., lumpurnya pasti bisa berhenti sendiri kok.”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

2:42 PM

Persona: Kebangkitan Ellen DeGeneres

Posted by alex |

Ellen DeGeneres lahir di kota kecil di wilayah New Orleans pada tgl 26 Januari 1958. Ayahnya adalah salesman asuransi dan ibunya yang akrab dipanggil Betty adalah agen real estat. Ketika Ellen berusia 13 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Tidak lama kemudian, Betty menikah lagi lalu pindah ke Atlanta, Texas. Lulus SMA, Ellen bekerja sebagai klerek di firma hukum, pelayan restoran, bahkan pembuka kerang.

Namun nasib dan bakatnya ternyata bicara lain. Ellen yang memang terkenal sering melucu dan melawak di antara teman-temannya akhirnya mencoba menjadi komedian di kelab-kelab kecil di New Orleans. Kesedihan dan berbagai kesulitan hidup yang dihadapi Ellen membuatnya menggunakan humor untuk menghibur diri dan orang-orang sekitarnya. Ellen mengatakan sebagai komedian dia ingin “menjangkau semua orang” dan membuat semua orang tertawa “karena ini tentang humor” dan bukan tentang menjadi gay. Pada tahun 1982 dia memenangkan kontes “Funniest Person in America” yang diadakan oleh Showtime.

Pada tahun 1994, mulailah karier Ellen di bidang televisi dengan ditayangkannya sitkom Ellen di ABC. Namun serial TV Ellen menjadi sorotan publik pada tahun 1997 ketika tokoh Ellen Morgan yang diperankan Ellen DeGeneres coming out sebagai lesbian dalam salah satu episodenya. Episode itu merupakan episode dengan rating tertinggi. Nama Ellen, yang waktu itu berpasangan dengan Anne Heche, langsung membubung sebagai ikon lesbian. Bahkan dia sempat menjadi cover majalah Time dengan tagline, “Yep, I’m gay.” Meskipun dalam interviu di majalah tersebut Ellen mengatakan dirinya tidak pernah mau menjadi “aktris lesbian”, dan sesungguhnya dia tak pernah mau jadi “juru bicara” untuk komunitas gay/lesbian. Yang dia lakukan hanyalah jujur pada dirinya sendiri.

Sayangnya episode coming out itu juga meruntuhkan karier Ellen. Pada tahun 1998, sitkom Ellen dihentikan penayangannya karena rating yang jeblok. Meskipun awalnya khawatir, namun Ellen tidak menyesali keputusannya untuk coming out meskipun dalam banyak hal menyebabkan kemunduran kariernya. Tabloid-tabloid gosip juga mencecar habis kehidupan pribadinya bersama Anne Heche, yang dianggap mendompleng Ellen untuk mengangkat karier filmnya.

Setelah sitkom Ellen dihentikan, Ellen sempat menggunakan waktu “istirahat”nya untuk bermain di sejumlah film seperti EdTV dan FTV: If This Walls Could Talk 2 pada tahun 2000. Tahun 2001, kembali ke televisi dengan sitkom terbaru di CBS berjudul The Ellen Show dengan karakter utama Ellen yang lesbian. Sayangnya, rating serial itu pun rendah sehingga dihentikan setelah satu season.

Tahun 2003 adalah awal tahun kebangkitan Ellen. Dia mengisi suara sebagai Dory, ikan yang pelupa kelas berat dalam film Disney, Finding Nemo. Sejumlah kritikus pun memuji kepiawaiannya dalam mengisi suara Dory yang dinilai sangat pas dan hidup. Pada tahun yang sama, Ellen juga menerbitkan buku kumpulan esai humor yang kedua berjudul, The Funny Thing Is… yang masuk dalam daftar New York Times bestseller. Sebelumnya, pada tahun 1996 buku pertamanya, My Point... And I Do Have One, juga menjadi bestseller di New York Times.

Pada bulan September 2003, Ellen meluncurkan acara talkshow siang hari, The Ellen DeGeneres Show. Acara ini mendapat 11 nominasi untuk Emmy Awards pada season pertama, dan memenangkan empat Emmy, termasuk Best Talk Show. Selama tiga season, acara ini telah memenangkan 15 Emmy Awards.

Dalam kehidupan pribadi, Ellen terpaksa membiarkan hubungannya jadi sorotan publik. Setelah putus dari Anne Heche tahun 2001, dia sempat menjalin hubungan dengan aktris/fotografer Alexandra Hedison, namun hubungan tersebut tidak bertahan lama. Sejak tahun 2004, Ellen berpasangan dengan Portia De Rossi (Arrested Development, Ally McBeal), yang masih bertahan hingga sekarang.

Ellen mungkin tak pernah mau jadi ikon lesbian, tapi apa yang dilakukannya memberi pengaruh pada banyak lesbian di dunia serta mengubah wajah lesbian dalam dunia hiburan. Keberhasilannya untuk bangkit kembali setelah penurunan karier dan cercaan yang dialaminya akibat coming out memberi contoh positif bagi komunitas GLBT. Di usianya yang ke-49, karier Ellen DeGeneres tampaknya akan terus bersinar karena konon Ellen terpilih sebagai pembawa acara 79th Academy Awards yang akan berlangsung tanggal 25 Februari 2007.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

gambar dari: www.time.com
KWAKU ALSTON / CORBIS OUTLINE

8:45 PM

Hark! The Herald Angels Sing

Posted by alex |

Salah seorang famili partner saya, sebut saja paman dari partner saya akhirnya ketauan gay oleh keluarganya. Saya belum pernah bertemu dengan sang paman, tapi partner saya bilang, sekali lihat pun dia tahu bahwa pamannya gay. Sang paman yang berusia lebih dari 40 tahun dan berpenampilan “sopan, manis, dan lemah lembut” baru ketahuan gay sekarang. Herannya tidak satu pun anggota keluarganya yang memerhatikan hal itu. Karena bukan ketahuan akibat coming out frontal yang dilakukan sang paman, keluarganya sendiri belum (mungkin takkan pernah) melakukan konfrontasi langsung dengan sang paman.

Kini setelah sang paman ketahuan gay, reaksi keluarga pun beragam. Ada yang masih berada dalam tahap pengingkaran, ada yang nggak tega untuk mempertanyakan lebih lanjut, ada yang tidak peduli, ada yang masa bodoh, ada yang menganggap ini sesuatu yang harus dirahasiakan, ada yang menganggap ini tabu. Dan entah reaksi apa lagi yang masih tersimpan dalam hati.

Mungkinkah sesungguhnya anggota keluarga yang lain sebenarnya sudah menyadari bahwa sang paman “beda”? Namun mereka memilih untuk merabunkan mata dari melihat perbedaan-perbedaan sang paman. Lebih baik hidup dalam tempurung “pura-pura tidak tahu” daripada dihajar kebenaran yang menyakitkan. Karena bagi banyak orang hetero, menuding anggota keluarga sendiri sebagai gay sama beratnya seperti si gay mengaku pada keluarganya bahwa dia gay.

Berbagai rasa, seperti keterkejutan, kebingungan, kesedihan, kesadaran menghantam mereka yang mendengar kabar bahwa orang terdekat mereka adalah gay/lesbian. Sahabat, saudara, anak, orangtua, atau kekasih mereka yang mendengar informasi tersebut butuh waktu untuk mencerna kabar yang mereka terima. Tidak mudah memang. Semoga bila saatnya tiba, mereka akan memandang orang terkasih mereka dari sudut pandang yang baru namun dengan kasih sayang yang sama.

Saya jadi ingat kata-kata Anne Rice--salah satu pengarang favorit saya--ketika mendapati putra tunggalnya, Christopher, ternyata gay. Anne Rice yang dekat dengan kaum gay serta sejumlah novelnya sesak dengan nuansa homoerotik, tetap saja sedih dan kaget ketika mengetahui putranya gay. Meskipun cintanya untuk sang putra tak kurang setetes pun setelah tahu, dia bilang “Saya menghabiskan sebagian besar hidup saya sebagai ibu untuk melindungi anak saya dari derita. Dan kini anak saya yang sudah dewasa memberitahu saya bahwa dia akan memilih jalan hidup yang jauh lebih menderita daripada jika dia menjalaninya sebagai orang heteroseksual.”

10:17 PM

Buku: Luna - Julie Anne Peters

Posted by alex |

Di antara lautan Teenlit, saya menemukan beberapa permata. Salah satunya adalah Luna karangan Julie Anne Peters. Menurut saya, tidak banyak buku remaja yang bagus yang diterbitkan di Indonesia. Makanya saat menemukan Luna karangan Julie Anne Peters dalam kategori Teenlit, terkejutlah saya. Sejujurnya, saya lebih suka membaca buku Teenlit terjemahan karena topik-topik yang diangkat tidak melulu tentang cinta atau persahabatan ala AADC.

Julie Anne Peters adalah pengarang yang banyak menulis buku-buku remaja bertema GLBT, sebut saja judul-judul sebelumnya seperti Keeping You a Secret dan Define Normal yang meraih penghargaan ALA Best Book for Young Adults. Luna sendiri memperoleh sejumlah penghargaan, di antaranya Chicago Public Library Best of the Best 2004 Book for Great Teens, 2005 Stonewall Honor Book, 2004 National Book Award Finalist in Young People’s Literature.

Luna berkisah tentang remaja berusia 17 tahun bernama Liam yang merasa dirinya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Setiap malam dia bermetamorfosis menjadi gadis bernama Luna di hadapan adik perempuannya, Regan. Dan melalui mata Regan-lah cerita tentang Liam/Luna mengalir dalam buku ini. Melihat hidup Liam/Luna dari sudut pandang Regan membantu pembaca melihat kondisi ini tidak hanya dari sudut Liam. Dari sudut pandang ini, kita bisa melihat apa yang dirasakan Regan terhadap “perubahan” kakaknya, dan kita juga bisa melihat bagaimana efek keadaan Liam alias Luna terhadap orang-orang terdekatnya.

Regan memberi dukungan dan pengertian untuk kakaknya, meskipun kadang-kadang dia juga sebal terhadap kakaknya sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan bersaudara. Apalagi dalam hal ini, Regan merasa kadang-kadang hidupnya terganggu akibat “kemunculan” Luna. Di mata semua orang, Liam adalah cowok pintar dan ganteng. Di mata Regan, Liam adalah Luna, remaja perempuan yang tertekan dan hanya bisa keluar di saat-saat tertentu. Regan menyayangi Luna sebagaimana dia menyayangi Liam, tidak ada diskon dalam kasih sayang Regan terhadap kakak tercinta bagaimanapun keadaannya.

Di Indonesia, buku remaja yang mengangkat isu homoseksualitas termasuk barang langka. Luna memberikan suatu pandangan baru tentang remaja transeksual. Remaja kebanci-bancian di sekolah biasanya menjadi bahan ejekan teman-temannya. Melalui Luna, remaja bisa memahami pergulatan yang dialami remaja yang mengalami masalah “orientasi diri” seperti yang dialami Liam, namun bukan untuk dikasihani. Buku ini tidak hanya layak dibaca oleh remaja, namun juga oleh orangtua dan guru, atau siapa saja yang tertarik untuk membaca buku bagus.



@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Looking for Alibrandi – Melina Marchetta juga buku yang HARUS dibaca oleh semua remaja. Dua jempol!

Subscribe