10:56 PM

Faraway, So Close

Posted by alex |

Selama seminggu saya ditinggal Lakhsmi yang harus pergi ke luar negeri. Selama seminggu tanpa keberadaannya, saya berusaha menikmati diri saya sendiri. Dengan cara saya sendiri. Ya, saya berhasil kok. Saya tidak meratap kangen tiap hari padanya. Saya menjalani hidup saya dengan baik. Apalagi Lakhsmi yang memang sibuk berat membuat saya tidak bisa terus-terusan berhubungan dengannya sepanjang waktu semau kami seperti jika kami tinggal berdekatan. Belum lagi mahalnya, duh, siap-siap tagihan sejuta lagi deh, beib.

Kami tidak kehilangan kontak, setiap hari selalu diisi dengan SMS, telepon, chatting, atau e-mail. Tapi entah bagaimana saya merasa bumi tidak berputar pada porosnya. Saya merasa menggapai-gapai Lakhsmi dari jauh. Faraway, so close, itu yang saya rasakan. Jauh, tapi dekat, namun tak tersentuh. Selama seminggu kami punya hidup kami sendiri. Hidup kami berjalan secara pararel, lurus tapi tak bersinggungan. Kami memang bisa bercerita satu sama lain, tapi tetap saja cerita hanyalah sebatas cerita. Kami tidak saling berbagi hidup bersama, kami hanya sebatas berbagi cerita. Titik. Kami seperti orang yang berdiri di luar jendela dan berusaha masuk rumah.

Rasa rindu saya terdiri atas banyak hal. Saya merindukan keberadaan dirinya. Merindukan rutinitas kami. Merindukan obrolan kami. Merindukan kegiatan meja makan dan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat keberadaan kami nyata. Bahkan saya merindukan kemarahannya, ledakan emosinya yang menggairahkan, segala hal yang membuatnya tampak hidup. Semangatnya ketika menceritakan topik-topik yang dia gemari. Kesetiaannya mendengarkan saya bicara tanpa henti nggak jelas arahnya ke mana, dan (kadang) saya tahu kapan saya harus berhenti kalau melihat reaksinya sudah "cape deh, Say."

Saya tidak bisa melihat kedip di matanya ketika dia menyembunyikan sesuatu atau binar matanya ketika dia bersemangat. Sama seperti dia tidak bisa melihat saya bersikap aneh atau gelisah atau berapi-api. Kami tidak bisa saling menegur kalau kami melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. "Say, jangan gitu dong." atau "Say. plis deh, kamu geblek banget." dengan cara kami yang sangat cute. Itulah yang menjadikan hubungan jadi terasa nyata dan hidup. Atau yang lebih sering, saya tidak bisa melihat kerling nakalnya ketika dia keluar dari kamar dan tersenyum begitu manisnya ketika saya bermain bersama anak-anak di rumah.

Lewat alat komunikasi berjarak, kami bisa saling mengiyakan, saling menuruti mau satu sama lain, berusaha keras untuk menjaga hubungan tetap baik karena kami berjauhan. Karena selain cinta, tidak ada yang kami miliki selain “menjaga hubungan”. Rasanya melelahkan sekali. Saya tidak pernah tahan dengan apa yang namanya long distance relationship. Jarak dan waktu membunuh saya dan perasaan saya pelan-pelan.

Begitu banyak cerita yang tak terceritakan. Begitu banyak kisah yang tak bisa kami bagi bersama. Begitu banyak hidup yang tak kami jalani berdua. Saya gelisah setengah mati memendam cinta yang tidak bisa saya bagi bersamanya. Buat Lakhsmi, yang baginya jarak Cibubur- Kelapa Gading saja sudah masuk kategori LDR, gimana jarak Jakarta – Hong Kong? Untungnya kami terpisah cuma seminggu, dan saya terhibur dengan SMS-SMS dari orang iseng yang tidak saya jawab, tapi lucu juga buat hiburan. Itu jenis hal kecil yang tidak bisa saya ceritakan pada Lakhsmi lewat SMS atau telepon karena urusan itu nggak penting dan sepele deh untuk komunikasi jarak jauh.

Rasanya ada rongga besar berisi ruang hampa yang tak bisa diisi jutaan SMS, e-mail, telepon, tulisan di blog, atau bahkan muah-muah setiap hari. Saya bisa mengucapkan ratusan kata cinta dan ribuan kata kangen dalam satu hari, tapi itu tak bisa memuaskan dahaga saya padanya. Ada jarak yang tak mengenakkan. Jarak yang membuat haus dan tak terpuaskan oleh apa pun kecuali merasakan kehadiran Lakhsmi dalam bentuk tiga dimensi, nyata dan tersentuh.

Jarak dan waktu adalah pencuri. Pencuri yang diam-diam masuk ke ruang hati kita dan perlahan-lahan dia mencuri bayangan kita terhadap orang yang kita cintai. Mencuri sosok wajahnya hingga kita berusaha mengingatnya dengan melihat foto atau jejak yang ditinggalkannya di ruang maya karena kita perlahan-lahan lupa pada wajahnya. Dan pada akhirnya dia mencuri perasaan kita hingga kita suatu hari terbangun dan menyadari bahwa perasaan itu sudah hilang. Yang tersisa hanyalah sisa.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:51 PM

Love Song

Posted by alex |

by Ranier Marie Rilke

How can I keep my soul in me, so that it doesn't touch your soul?
How can I raise it high enough, past you, to other things?
I would like to shelter it, among remote lost objects,
in some dark and silent place that doesn't resonate
when your depths resound.

Yet everything that touches us, me and you,
takes us together like a violin's bow,
which draws one voice out of two separate strings.
Upon what instrument are we two spanned?
And what musician holds us in his hand?
Oh sweetest song.


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:55 PM

Menonton Film Dewasa

Posted by alex |

Di antara waktu senggang, saya punya hobi menonton film porno. Hobi ini dimulai sejak zaman video betamax duluuuu. Waktu itu saya mencuri pinjam video-video milik kakak saya, tapi sekarang saya punya koleksi sendiri. Bagi saya film porno alias film adult adalah art tersendiri, bukan sekadar ah-uh-ah-uh terus selesai. Atau yang paling menyebalkan adalah menonton film adult yang dibuat “gampang” dan “asal-asalan” ala home video. Malas deh nonton yang seperti itu. Sejatinya film semacam ini harus diperlakukan sama seperti jenis hiburan lain yang nggak boleh dibuat asal-asalan dan harus digarap dengan serius.

Pernah gara-gara berusaha “insaf” akibat memandang film porno secara salah, saya membagi-bagikan koleksi film adult saya sampai habis. Wah menyesal juga sih sekarang karena saya kehilangan banyak koleksi bagus. Kini saya memulai koleksi baru lagi dan memandang film porno sebagai satu bentuk hiburan digital yang menyenangkan dan harus disikapi secara dewasa.

Awalnya saya memulai koleksi saya dari film erotika klasik seperti Emmanuelle, lalu berlanjut ke film-film Eropa-nya Rocco Sifredi. He's the best, sayangnya dia sering rada rough gitu. Keseriusannya berkarya dalam film adult belum ada tandingannya sampai sekarang, walaupun belakangan ini Rocco lebih banyak bertindak sebagai sutradara. Kemudian saya juga mulai mengumpulkan film-film Asia, tentunya saya juga memiliki koleksi film adult-nya Miyabi alias Maria Ozawa, atau film-film kartun porno Jepang yang some what artistik tapi bukan buat saya.

Berdasarkan kegemaran, saya lebih menyukai film adult buatan Eropa atau Amerika dibanding Asia. Lucunya, saya pernah dikasih beberapa film porno lesbian oleh beberapa teman, tapi saya nggak suka tuh, rasanya nggak wajar aja melihatnya. Hahaha... Beri saya adegan seks yang antara lelaki dan perempuan yang wajar, jangan gory, S/M atau bestiality atau yang aneh-aneh entah apa gitu. Maaf deh nggak selera nontonnya.

Minggu lalu saya baru menambah koleksi adult movie ini dengan Pirates 2 Stagnetti's Revenge yang baru dirilis akhir tahun 2008 lalu. Saya beri film ini nilai 9 untuk keseriusan penggarapannya. Tidak heran karena film ini merupakan film adult yang dibuat dengan budget terbesar sepanjang sejarah film porno. Pirates, yang merupakan pendahulunya juga merupakan film adult dengan budget terbesar pada tahun 2005, yang dibuat dengan biaya satu juta dolar. Film ini lengkap dengan digital special effect yang wow deh! Kalau kamu penyuka Pirates of Carribean dan menyukai film porno, bolehlah mencari film ini. Highly recommended! Dua seri Pirates ini memenangkan banyak AVN Award, penghargaan untuk film-film adult terbaik di Amerika Serikat, yah, semacam Oscar-nya film porno gitu.

Menurut hemat saya, Pirates ini tidak bisa ditonton dalam sekali duduk, karena durasi filmnya yang lebih dari dua jam. Dan tidak seperti kebanyakan film adult yang menampilkan potongan-potongan cerita lepas, Pirates merupakan satu film panjang dengan skenario dan dialog yang penting dalam jalan cerita. Saya jadi ingat film adult buatan Jerman kalau nggak salah tentang Snow White yang juga berdurasi panjang dan lumayan oke juga. Tapi sayangnya ini termasuk salah satu film yang dulu saya bagikan entah ke siapa, jadi tidak bisa saya tonton ulang lagi.

Film adult sesuai namanya adalah tontonan dewasa, yang harus disikapi dengan pikiran dewasa. Nggak cocok ditonton oleh mereka yang kekanak-kanakan atau sok dewasa. Jelas bukan tontonan anak-anak di bawah umur. Dan jangan pula berpikir untuk belajar cara melakukan hubungan seks yang baik dan benar dari film-film ini, mendingan baca majalah Cosmopolitan sana kalau mau belajar trik dan tips seks.

Membeli film semacam ini pun harus punya trik khusus. Harus pede kalau beli ke mas penjual di lapak. Jangan kelihatan bingung atau bertanya, apalagi nanya dengan gugup. Kalau perlu lakukan kontak mata dengan si mas penjual saat membayar. Lihat, pilih, ambil! Buka mata di lapak, kamu pasti tahu mana film adult. Halah lagian harganya murah nggak sampai sepuluh ribu, kalau salah beli, ya sutralah. Belakangan ini juga banyak beredar film-film adult yang dipampatkan dalam satu keping DVD 8in1 atau 7 in1. Saya tidak menyarankan film-film seperti ini, karena kualitasnya biasanya di bawah rata-rata dan juga bukan kumpulan film “the best”, kualitas 3gp gitu deh, hehehe. Tapi bolehlah untuk menambah koleksi.

Jadi kalau ada yang pernah nanya lagi ngapain ke saya, dan saya jawab lagi nonton film adult, bokep atau apalah namanya, saya tidak bercanda. Karena bagi saya menonton film porno adalah hobi serius. Oya, saya tidak meminjamkan koleksi saya, kecuali membaginya dengan pacar :p. Jadi silakan cari sendiri koleksimu....

@Alex, RahasiaBulan, 2009

12:22 AM

Honeymoon, Fifth Anniversary

Posted by alex |

Belanja, cuci mata, jalan-jalan di sepanjang Orchard sehabis berleha-leha di Bali merupakan tujuan kami ke Singapore. Iseng banget gara-gara bebas fiskal buat mereka yang sudah punya NPWP, yah orang bijak kan taat pajak, blablabla. Oya, secara kami juga pemilik kartu Mandiri Prioritas, segala urusan tetek-bengek sebelum keberangkan sudah dibereskan oleh para petugas eksekutif Bank Mandiri di bandara. Jadi enak tinggal duduk saja disuguhi kopi dan teh serta makanan kecil, tahu-tahu udah beres dan kami tinggal naik pesawat. Bank Mandiri oke deh. Ayo nabung yang banyak di Bank Mandiri, biar bisa jadi member Prioritas. (iklan mode on)

Di pesawat saya dan Lakhsmi tidur setengah nyenyak, karena mendadak ngantuk banget. Tadinya mau pura-pura tidur karena ada bapak-bapak bule yang sok akrab ngajak ngobrol melulu, tau-tau kami ketiduran beneran. Kami tiba di Changi menjelang sore dan langsung menuju hotel Four Seasons dengan taksi. Sesampainya di sana, ternyata kamar kami sudah di-upgrade ke premier room tanpa biaya tambahan, itulah gunanya sahabat, hehehe.

Tiba di kamar, kami sudah nyengir mendapati king size bed dan LCD TV entah berapa inci saking gedenya. Seringnya tangan saya otomatis menyalakan TV kalau masuk ke kamar hotel. Kalau tugas ke luar kota sendirian, biasanya saya tidur dengan TV menyala di channel khusus tayangan anak-anak atau fashion TV, biar rasanya nggak sendirian. Tapi kalau acara honeymoon seperti ini sih, saya nggak bakal sempat bermain dengan channel TV.

Sisa-sisa kepenatan hasil liburan di Bali membuat kami ingin beristirahat saja menghabiskan sisa malam. Jadi nggak heran kalau acara pertama kali di hotel adalah mandi. Bareng, tentu saja. Lakhsmi yang habis beli sabun entah apa di Bali lagi keranjingan mandi dan jadilah kami saling menggosok-gosokkan sabun itu tubuh satu sama lain. Gosok punggung jangan lupa, biar kayaknya disayang gitu.... Hihihi, asyik deh pokoknya.

Heran deh, kami seperti tidak pernah bosan ngobrol. Kadang-kadang saya bingung dengan topik-topik yang mendadak muncul seperti buih soda pop tanpa perlu kami cari-cari. Pop pop pop. Saat menjelang tidur, kami berbaring di ranjang yang empuk dan bantal yang kepingin kami curi untuk bawa pulang. Ada aja bahan omongan bagi saya dan Lakhsmi, mulai dari ngomongin orang sampai acara TV yang nggak penting. Kadang ada saat-saat tertentu ketika kami tidak bicara, hanya berpelukan, saling memandang, saling menyentuh, berciuman, bercinta. Duh, nulis gini aja, saya mendadak bisa mencium aroma tubuh Lakhsmi dan membayangkan senyumnya yang nakal.

Kami berdua adalah penggemar bangun siang, tapi penyuka makan. Jadi acara breakfast di hotel termasuk favorit kami. Dan biasanya breakfast kami sering kali mepet dengan waktu batas akhir breakfast. Lha wong, kami biasanya baru turun dari ranjang jam 9 kok, walaupun biasanya kami sudah bangun sejak satu jam sebelumnya. Itulah definisi liburan menurut saya, bisa punya waktu malas-malasan di ranjang berduaan pada pagi hari.

Tidak hanya mandi dan ngobrol dan beradegan ranjang alias tidur, acara makan dan belanja juga jadi acara kami. Ke toko buku merupakan tempat yang wajib kami kunjungi. Tidak boleh tidak. Lumayan, ketemu novel lesbian yang bisa jadi bahan review di sini. Belanja baju dan dompet tidak ketinggalan. Hampir saya beli jam tangan kalau tidak ingat harganya, hehehe. Capek juga jalan kaki sambil cuci mata.

Karena malas keluar kami memutuskan makan malam di resto di hotel. Kami makan di Jiang Nan Chun. Restoran Cina bergaya art deco mewah seperti masuk ke tempat makan raja Cina dulu, yang membuat saya dan Lakhsmi nyengir. Biasanya di Jakarta kami sering makan di restoran Cina bukan berdasarkan tempat yang mewah, tapi dari makanan yang TOP BGT walaupun restonya terkadang "kumuh-kumuh nikmat". Malam itu Lakhsmi memesan Foie gras and apple salad with peking duck. Lakhsmi tergila-gila dengan bebek. Sementara saya memesan lamb chop. Hm, nikmatnya. Chilled mango puddingnya juga nyam-nyam untuk makanan penutup.

Kembali ke kamar berarti kembali lagi dengan kegiatan basah-basah alias mandi. Eh, walaupun sebelumnya kami masih menyempatkan diri untuk posting tulisan di blog sepocikopi, :). Lalu sehabis itu kami berendam berdua dalam busa air hangat yang nikmat. Sambil ngobrol dan menghabiskan wine. Sampai di ranjang buru-buru kami bergelung di bawah selimut, saling berbagi panas tubuh yang mendadak kedinginan. Pelukan, sayang-sayangan, saling membelai. Ih, romantis banget deh pokoknya. Hm, jadi kepingin honeymoon tiap bulan :)

@Alex, RahasiaBulan, 2009

7:58 PM

Lazy, Eh, Busy Sunday

Posted by alex |

Sejak punya anak, saya nggak pernah bisa bangun siang. Bahkan hari Minggu pun genderang perang sudah berbunyi sejak jam delapan pagi, kadang malah lebih pagi lagi. Saya yang hobi berat tidur ini terpaksa harus mencuri-curi waktu tidur di sofa pada sore atau malam hari ketika menemani anak nonton TV. Kadang-kadang saat sedang asyik tidur si bungsu menepuk-nepuk pipi saya dengan penuh semangat menyuruh saya melihat dinosaurus berkejaran. “Tante-tante banguuuunnnn... lihat, lihaaaaat!!!” Oke-oke, Tante udah bangun kok. Grrhhh...

Si sulung sudah ribut sejak hari Sabtu bahwa kami akan bersama-sama membuat donat. Ya, donat. Dari tepung dan segalanya. Nggak, nggak beli di J.Co atau Dunkin Donuts atau Krispy Kreme. Tapi bikin sendiri, saudara-saudara sekalian. Nggak, nggak pake mesin. Pake tenaga tangan. Tenaga siapa lagi? Ya tenaga tante Alex.

Hari Minggu jam sembilan si sulung sudah sibuk. “Tante, ayooooo, sekarang bikin donatnya.” Saya langsung melompat dari sofa. Pura-pura lupa bahwa hari Minggu ini kami sudah janjian bikin donat. “ Hah? Hari ini ya?”

Sulung menampilkan wajah kecewa. “Hihihih, Tante bercanda deh, Sayang. Yuk, siapin bahan-bahannya.”

Tepung terigu. Mentega. Gula. Susu. Telur. Yeast. Air. Apa lagi ya? Kayaknya ada yang lupa. Oh, well, nanti juga inget apa yang kelupaan.

Timbang dulu. Si sulung ribut mau melihat angka di timbangan. Bungsu mengekor mau ikut-ikutan, iseng dia mencelupkan tangannya ke tepung lalu mengibaskannya hingga kena baju dan mukanya juga. Hahaha. Seperti anak abege yang pakai obat jerawat... Aduh.

Campur semua bahan sehabis ditimbang. Mulai menguleni adonan sampai kalis. Anak-anak dengan penuh semangat membantu. Walaupun sebenarnya nggak jadi lebih cepat, malah memperlambat, tapi yang penting kan heboh dan lucu. Berisiknya.... ampun deh.

Setelah entah berapa puluh menit menguleni adonan, akhirnya kalis juga. Yah, udah keburu capek sih, anggap saja sudah kalis, huehehe, maksa banget. Dan dimulailah penantian selama setengah jam menunggu donat mengembang.

Lima menit sekali terdengar pertanyaan.
“Udah belum, Tante?”
“Belum.”
“Udah belum, Tante?”
“Belum.”
“Udah belum, Tante?”
“Ya, ya, ya... oke kita lihat ya.”

Kesibukan sesi dua pun dimulai. Saya suruh si sulung membolongi donat dengan tutup aqua (maklum deh, perlengkapan seadanya, cuma modal resep), si bungsu ikut-ikutan memelintir bola-bola sisa lubang buatan kakaknya. Terus seperti itu sampai semua adonan habis dibuat berbentuk donat dengan lubang di tengah. Sekali si bungsu nekat memasukkan adonan ke mulutnya.... "Ehhhhhhh, stop! Jangan!" Aduh, bikin jantungan aja, nanti kamu mencret, Nak!

Panaskan minyak. Kali ini anak-anak nggak boleh dekat-dekat. Huss... huss... sana. Nanti kalau donatnya udah matang, kalian boleh olesin mentega dan cokelat meises. Horeeee! Udah kebayang kan gimana adegannya? Oh, dan jangan lupa berantakannya. Dan yang terpenting bahagianya.... :)

Jam 11 lewat donat pun sudah bisa dimakan. Argghhh... sebentar lagi waktunya makan siang. Tapi, Tante, boleh kan cicipin satuuuu aja? Ya,ya,ya. Hati saya selalu lembek kalau anak-anak udah memohon begini. Mereka pun melahap donat dengan penuh nafsu sampai mulut dan tangan mereka belepotan.

"Donat buatan Tante emang yang paling enak," kata sulung.
"Iya, enak," timpal si bungsu.

Saya dan Lakhsmi cuma nyengir. Btw, ke mana aja si Lakhsmi sejak tadi ya? Hm, dia memang biasa jadi penonton kalau sudah adegan dapur. Seperti bapak-bapak di hari Minggu yang malas, dia baca koran dan bertolak pinggang memerhatikan kami sambil memberi perintah di sana-sini. Huehehe, kecuali giliran makan, biasanya langsung terlibat. Dan oya, anak-anak sekalian... memang donat buatan Tante is the best. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:37 PM

Dalam Rinai Hujan

Posted by alex |

Pernahkah kamu mendengar suara hujan yang menghantam genteng atau jendela? Sama sekali tidak menyenangkan seperti lagu Rhythm of the Rain. Setiap kali hujan, jantung berdebar lebih cepat kuatir rumah bocor dan banjir.

Semasa kecil saya pikir hujan adalah saat yang menyenangkan. Main hujan-hujanan lalu pulang dan dimarahi Ibu, berada di dalam rumah dan mengamati tetes-tetes air yang jatuh ke aspal, hingga kenangan seru bersama teman-teman SMA bermain basket saat hujan.

Setiap kali hujan turun, saya berusaha mengenang kembali rasa gembira sederhana yang pernah saya rasakan itu. Tapi makin lama rasa itu begitu jauh tak tergapai tersimpan di pojokan ruang kenangan otak saya.

Pada masa dewasa, hujan sering membuat saya sendu. Boncengan motor bersama seseorang yang keras kepala tetap ingin pulang menembus hujan. Air mata yang terhapus hujan ketika kenangan kepedihan menghantam saya begitu deras di sepanjang jalan pulang. Penantian menunggu hujan berhenti sementara hati gelisah tak menentu.

Entahlah.

Tapi beberapa hari terakhir ini, hujan memercikkan rasa gembira yang tidak bisa menghentikan suasana hati saya. Seburuk apa pun mood saya, hujan takkan menghentikan saya pulang. Di bawah payung, dalam siraman air gila-gilaan, berdiri di luar pagar, saya tersenyum ketika melihat anak-anak sudah menanti saya di jendela. Berteriak-teriak penuh semangat. Tertawa girang melihat saya kehujanan. Hati saya pun menghangat. Dan saya temukan lagi kebahagiaan sederhana dalam rinai hujan.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

"Only unfullfilled love can be romantic." Itu satu kalimat yang menjadi poin cerita dari film Vicky Cristina Barcelona. Film karya Woody Allen ini terpilih sebagai film terbaik kategori film musikal/komedi Golden Globe 2009.

Dua perempuan---Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson), mengunjungi Barcelona. Vicky dalam rangka meraih gelar masternya sementara Cristina untuk liburan musim panas. Sejak awal, narator (khas film Woody Allen) menjelaskan bahwa dua perempuan yang bersahabat ini memandang hidup dan cinta dengan cara berbeda. Vicki lebih tradisional memandang hidup, dia tahu apa yang diinginkannya dalam hidup dengan berkomitmen dan bertunangan dengan lelaki yang meskipun membosankan tapi diyakini Vicki bisa memberinya kehidupan berkeluarga yang mapan dan “lurus”. Sementara Cristina lebih spontan dan tidak bertindak sesuai aturan, serta tak yakin pada apa yang diinginkannya dalam hidup atau cinta.

Vicky dan Cristina bertemu dengan pelukis Juan Antonio (Javier Bardem). Cristina langsung tertarik pada Juan Antonio dan tanpa ragu mengikutinya ketika Juan Antonio mengajak mereka liburan eksotis dengan pesawat pribadi ke kota Oviedo. Walaupun enggan, Vicky mengikuti mereka dengan alasan, “melindungi Cristina.”

Juan Antonio tanpa sungkan mengajak Vicky dan Cristina untuk menemaninya tidur. Vicky jelas menolak, sementara Cristina langsung setuju, walaupun sialnya Cristina jatuh sakit malam itu. Selama Cristina terbaring sakit, Vicky jadi dekat dan menghabiskan waktu intim bersama Juan Antonio.

Sekembalinya ke Barcelona, Vicky menjauhkan diri dari Juan Antonio karena merasa bersalah pada tunangannya dan Cristina. Cristina dan Juan Antonio kemudian makin intim dan memutuskan untuk tinggal bersama.


Film yang nyaris tergelincir jadi blah karena kebanyakan Scarlett Johansson jadi hidup sejak kedatangan Maria Elena (Penelope Cruz), mantan istri Juan Antonio. Maria Elena adalah sumber inspirasi, mentor, dan cinta sejati Juan Antonio. Awalnya terjadi ketegangan antara Maria Elena dan Cristina apalagi Cristina menyadari bahwa mantan suami-istri ini masih menyimpan cinta membara. Tapi kegemaran Cristina terhadap fotografi dan jiwa seni Maria Elena yang tinggi membuat mereka akhirnya bersahabat.

Maria Elena tidak merasa Cristina sebagai masalah atau cemburu pada hubungan Cristina dengan Juan Antonio, tapi ia malah menganggap kehadiran Cristina sebagai “rantai yang hilang” dalam hubungannya dengan Juan Antonio. Juan Antonio dan Maria Elena selalu menganggap mereka adalah pasangan yang memang ditakdirkan bersama, namun kadang-kadang mereka butuh bumbu dalam hubungan agar percik-percik itu bisa membuat hubungan mereka tetap panas. Dan jadilah Maria Elena, Juan Antonio, dan Cristina menjalin hubungan polyamorous yang sexy dan menggairahkan.

Musim panas berakhir, Cristina yang masih tidak tahu apa yang sesungguhnya dia inginkan gelisah dan memutuskan keluar dari hubungannya dengan Maria Elena dan Juan Antonio. Vicky yang selama ini berdiam dalam ilusi romantisme karena cintanya yang tak kesampaian pada Juan Antonio kepingin mencicipi hidup Cristina pun mendekati seniman sexy itu. Tapi amukan dan ledakan Maria Elena membuat Vicky tersadar bahwa bukan hidup semacam ini yang dia inginkan.

Film pun ditutup dengan Vicky dan Cristina kembali ke Amerika. Kembali ke awal film ketika dua perempuan ini datang dengan prinsip hidup yang berbeda dan pulang dengan prinsip yang sama.

Javier Bardem tampil sexy sebagai seniman perayu dengan kata-katanya yang lugas menggoda dan tatapannya yang sensual. Tipikal lelaki latin yang penuh perasaan dan keflamboyanan yang membuat perempuan mana pun bertekuk lutut.

Acungan jempol harus diberikan pada Penelope Cruz yang berakting amat prima dalam film ini. Dia menampilkan sosok Maria Elena yang penuh ledakan emosi dalam bentuk kemarahan atau kesedihan. Maria Elena adalah perempuan yang tahu apa yang dia mau, berapi-api, penuh semangat walaupun terkadang amukannya bisa membakar dunia sekelilingnya. Amukan yang menurut saya amat sexy dan mendebarkan. Penelope Cruz menampilkan Maria Elena dengan tampilan “tidak pedulian”, seniman gila, namun memiliki aura sensual dan seduktif yang tidak bisa ditolak lelaki atau perempuan.

Setiap kali Javier Bardem dan Penelope Cruz berinteraksi, layar pun menjadi hidup dan membuat Scarlett Johansson jadi keliatan blah. Penelope Cruz memberikan arti baru tentang kata sexy. Marah = Sexy. Wow! Rasanya saya jatuh cinta pada Penelope Cruz di sini. Di mata saya Penelope Cruz adalah aktris berbakat yang menampilkan kecantikan klasik dan sensualitas perempuan latin yang setara Sophia Loren pada zamannya. Dia layak memperoleh nominasi Oscar atau Golden Globe dalam film ini atau bahkan mungkin memenangkannya.

Sayangnya, objek cinta Woody Allen alias Scarlett Johannson hanya menampilkan akting standar. Cantik ya, tapi emosinya tidak keluar. Apalagi saat adu akting dengan Penelope Cruz, dia jadi kelihatan “bengong”. Tapi musim panas di Barcelona memberinya keuntungan dengan rambut pirangnya serta bibir sensual Scarlett Johansson tetap memukau untuk mata.

Woody Allen adalah salah satu sutradara favorit saya, yang biasanya menampilkan dialog-dialog panjang nan cerdas serta selipan humor di sana-sini. Sayangnya, saya tidak menemukan banyak dialog “nendang” seperti itu dalam film ini. Karakter-karakter dalam film ini pun, terutama Vicky dan Cristina, kurang lebay karena sebagai film drama-komedi yang menunjukkan konsep absurd seharusnya dibuat lebih ekstrem, yang di antara semua pemerannya ditampilkan dengan baik oleh Penelope Cruz. Secara keseluruhan Vicky Cristina Barcelona merupakan film yang menawarkan pemandangan indah. Musim panas di Bacelona. Perempuan-perempuan cantik. Menage a trois. Ciuman Penelope Cruz dan Scarlett Johansson. Sudah cukup kan alasan untuk menontonnya?

@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:32 PM

Ekstrovert dan Introvert

Posted by alex |

Saya ekstrovert. Ternyata. Tidak menyangka bahwa saya ekstrovert. Hahaha, bercanda deh. Saya tahu kok saya ekstrovert tapi tidak sangka bahwa kadar ekstrovert saya cuma sedikit. Saya punya banyak teman, ramah, mudah teralih perhatiannya, dan gemar bicara. Walaupun kerap berpikir logis, saya seringnya mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Prinsip hidup saya yang utama adalah,"kalau bisa diselesaikan besok kenapa mesti beres hari ini?" Saya membenci rutinitas dan disiplin, tapi untungnya saya sefleksibel bambu dan mudah beradaptasi, mungkin itu sebabnya sampai sekarang saya tidak dipecat perusahaan karena tiap hari masuk terlambat. Saya memandang hidup dengan santai dan menjalaninya berdasarkan hari demi hari. Berantakan adalah nama tengah saya, belum lagi sifat pelupa dan kecepatan saya untuk berubah pikiran mengikuti suasana hati terkadang membuat saya jadi makhluk berbahaya.

Saya membutuhkan pasangan yang introvert agar dia tidak mengambil sinar yang disorotkan ke saya ketika saya sedang jadi pusat perhatian. Tapi dia tidak boleh introvert culun yang kuper, dia harus punya ketegasan dan kemampuan mengontrol saya agar saya tidak bablas cuek gila-gilaan terhadap hidup. Pasangan saya haruslah orang yang memiliki pesona Don Vito Corleone, kekuatan Ellen Ripley, dan kecerdasan Hannibal Lecter. Tapi walaupun jadi pengambil keputusan, dia haruslah mau mendengarkan saya. Ibaratnya dia bisa jadi Hillary, tapi saya yang jadi Bill. Saya senang mendapat sorotan di panggung dan suka memengaruhi orang lain. Namun ketika tirai ditutup dan saya pulang ke rumah, saya ingin mengisi baterai saya lagi dalam waktu sendirian bersama orang yang saya tahu bisa jadi tempat saya bersandar.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

9:31 AM

Kristen Stewart vs Kate Moennig

Posted by alex |

Well, well, menurutku Kristen "Bella" Stewart tuh seperti mirip sama Kate "Shane" Moennig. Bisa jadi adiknya gitu deh...

Hihihi, tapi Kristen Stewart emang andro-look gitu, dan suaranya juga rada berat seperti Kate. Ada yang inget dia di Panic Room bareng Jodie Foster? Sampai setengah film saya pikir dia cowok, hahaha... goblok banget deh. Coba lihat fotonya bareng Mami Jodie.



Mau liat Kristen Stewart tampil asyik dan sexy, yang tampak "akrab" banget sama Nikki Reed? Lihat di video belakang layar pemotretan pemeran Twilight untuk Vanity Fair.



Ohhhh, Kristen-oh-Kristen... :)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2:52 AM

Tahun Baru

Posted by alex |

Tahun Baru ini saya lewati dengan setitik aura kesedihan. Entahlah. Mungkin karena tahun kemarin saya mengalami banyak kehilangan dan perubahan dalam ritme kehidupan. Biasanya saya selalu menganggap Tahun Baru sebagai satu hari yang berganti dan lewat seperti hari biasa. Tidak ada kembang api. Tidak ada keliling kota. Tidak ada keramaian. Lebih seringnya, saya menghabiskan Tahun Baru di rumah. Menonton televisi. Tidur. Sama seperti hari-hari saya lainnya.

Menjelang akhir tahun dua orang sahabat baik saya memutuskan untuk pindah negara. Rasa kehilangan sejak mereka pergi menetes pelan-pelan hingga membuncah penuh pada hari-hari liburan menjelang tahun baru kemarin. Saya merasakan kehilangan yang amat sangat pada mereka, seakan setengah dari hidup saya terenggut begitu saja. Kami memang masih berkomunikasi lewat sarana teknologi yang tidak pernah bisa mengantikan keberadaan dan kehadiran fisik mereka. Tidak ada teknologi secanggih apa pun yang bisa menggantikan keberadaan persahabatan mereka dalam hidup saya.

Dua sahabat ini mendampingi saya dalam keadaan senang maupun susah. Mereka adalah sahabat straight yang mengenal saya hingga borok terbaru. Saya selalu memperkenalkan kekasih saya pada mereka, seperti memperkenalkan menantu kepada calon mertua. Tanpa anggukan dan acungan jempol dari mereka, saya belum merasa tenang. Berkat dukungan dan uluran tangan dan persahabatan mereka, saya bisa jadi manusia utuh seperti sekarang. Dan kehilangan mereka membuat saya oleng.

Tahun baru menyadarkan banyak dari kita betapa waktu bergerak amat cepat sementara kita hanya berdiri diam. Ah, mungkin saya salah. Kita juga bergerak dan berubah. Menjelang tahun baru saya mendapat kabar bahagia tentang kehamilan seorang sahabat saya yang lain. Saya ikut berbahagia untuk dia dan suaminya. Namun sayang ketika tahun baru masih dalam hitungan jemari satu tangan, saya mendengar berita bahwa dia keguguran. Rasa kehilangan ikut menghantam saya. Untuk pertama kalinya saya merasa Tuhan sedang bermain dadu, dan Dia berkata, “Ups kamu kalah!”

Seorang sahabat saya juga mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya. Dan saya cuma bisa berdiri memandangnya dari kejauhan. Saya kenal dia, dia pasti terlalu gengsi untuk mencari saya. Tapi dalam hati saya menyampaikan padanya bahwa saya ada untuknya jika dia membutuhkan teman. Apa pun yang pernah terjadi dalam hubungan kami berdua, saya juga tidak bisa membayangkan hidup di dunia tanpa dirinya.

Tahun Baru membuat otak sering kali jadi kurang kerjaan dan menjelajah sudut ruangan hingga menemukan kotak melankoli yang sudah lama berdebu. Saya menyingkirkan sarang laba-laba di tutup kotak itu, menyeka kotoran dan debu di sana, seraya mengingat-ingat isi kotak yang sudah lama tidak pernah saya buka. Mengambil napas dalam-dalam sebelum kotak itu terbuka, debu membuat hidung saya gatal, saya bersin sekali-dua kali ketika isi kotak mulai terlihat. Cahaya terang menyilaukan nyaris membutakan pada awalnya. Aneh rasanya ketika saya melihat isinya yang mulai tampak asing dan jauh. Kemudian saya tutup lagi kotak itu dan menyimpannya di pojok ruangan, yang entah kapan lagi akan saya buka.

Banyak orang tidak mau sendirian pada malam Tahun Baru. Saya ditemani kekasih dan sahabat melalui koneksi dunia maya, sementara di luar suara petasan dan kembang api bersahut-sahutan. Apakah itu dihitung sendirian? Berlanjut dengan maraton nonton TV dan DVD, mengutak-atik profil Facebook, ber-SMS dengan beberapa sahabat. Malam Tahun Baru idaman saya selalu berlangsung di rumah. Setiap kali saya bilang ke Lakhsmi bahwa saya “cewek rumahan” dia sering tertawa. Kurang ajar memang. Bahkan setelah lima tahun bersama dia masih sering ngetawain saya soal ini.

Idaman saya tentang acara malam Tahun Baru ideal adalah tinggal di rumah bersama “istri”, ketiduran di sofa nyaman dengan TV menyala ketika menunggu istri selesai mandi, menikmati midnight snack, dan suara musik jazz lembut mengalun di kamar temaram ketika kami ngobrol di ranjang yang mungkin berakhir dengan bercinta. Bukan percintaan panas dan menggebu dengan gairah bercinta pertama, tapi keintiman percintaan dengan seseorang yang sudah kaukenal luar-dalam. Bukan sekadar penyatuan fisik namun juga ledakan sel-sel otak yang membuatmu harus memejamkan mata kuat-kuat. Memikirkan semua ini saya jadi tersenyum.

Tujuh hari sudah tahun 2009 ini berlangsung, rasa kehilangan itu masih sedikit mencubit. Saya pikir lama-lama luka kehilangan itu mungkin akan menjadi keloid. Biarlah. Ritme kehidupan kini mulai berjalan dalam rel rutinitas yang terkontrol. Resolusi dan harapan perlahan-lahan mulai terbangun seiring dengan hari berlalu. Selamat Tahun Baru.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2:01 PM

Obsesi

Posted by alex |

Seminggu terakhir ini saya writer's block berat. Saya tidak bisa menulis apa-apa. Otak saya penuh, tapi tidak ada kata yang mengalir keluar. Semuanya mampet. Saya hanya ingin berbaring dan melamun.

Saya sudah berjanji tidak akan memikirkan dia lagi. Obsesi saya yang tak habis-habis. Hari ini terjadi lagi. Entah kenapa dia tidak mau pergi. Dia terus berlalu-lalang dalam benak saya. Membuat hati saya sesak. Pikiran saya tidak fokus. Saya ambil HP, lalu mengetikkan SMS.

"Aku nggak sanggup lagi begini. Tolong aku melupakan dia."
Dijawab oleh orang di seberang sana. "Gue lebih parah lagi. Nggak sanggup nulis apa-apa lagi kecuali dia, dia, dan dia."

Saya tidak pernah seperti ini. Ini seperti jatuh cinta pertama kali, jatuh cinta pada seseorang yang tak selayaknya membuat saya jatuh cinta padanya. Apalagi ketika sosok itu begitu jauh dan tak terjangkau. Saya tidak ingin mengenalnya. Saya ingin berhenti memikirkan dia. Saya ingin dia segera enyah. Tapi entah ya... Dia jadi obsesi yang menggila, membakar pikiran saya. Terus-menerus.

Sudah dua hari terakhir saya nyaris tidak produktif. Bahkan tidak nafsu makan. Sepertinya saya rada tidak sehat bahkan bisa dibilang sakit. Mungkin betul kata sahabat saya, "Too much Edward will kill you."

@Alex, SepociKopi, 2008

Subscribe