Charlize Theron patut mendapat penghargaan aktris terbaik untuk film ini. Dan sejauh ini, masih menjadi akting terbaiknya dalam film. Aktris cantik yang biasa berpanampilan glamor merombak habis penampilannya demi berperan sebagai pelacur jalanan dalam film Monster. Sebagaimana Hilary Swank, yang total mengubah diri menjadi "lelaki" dalam Boys Don't Cry, untuk memperoleh peran sebagai Aileen Wournos, Theron harus menambah berat badannya sebanyak lima belas kilogram. Tidak hanya itu, ia harus mengenakan gigi palsu yang membuat wajahnya jadi jelek dan rambut yang kusam serta tidak terurus. Hasilnya Golden Globe 2004 dan Academy Award 2004 untuk peran utama wanita berhasil diraihnya.

Untuk kesekian kalinya perempuan yang berperan sebagai lesbian memenangkan Oscar. Hilary Swank menyabet Oscar tahun 1999 ketika berperan sebagai Brandon Teena yang dalam Boys Don't Cry. Jika tidak menang, paling tidak peran lesbian atau lesbian "samar" mengantar sejumlah aktris mendapat nominasi Oscar/Golden Globe sebagaimana yang terjadi tahun 2002, ketika Nicole Kidman dan Julianne Moore mendapat nominasi Oscar dalam The Hours. Walaupun mereka tidak ditampilkan sebagai lesbian, tapi pesan subteks lesbianisme jelas terasa dalam film tersebut. Pada tahun yang sama Salma Hayek juga dinominasikan dalam Frida berdasarkan perannya sebagai Frida Kahlo yang biseksual. Jangan lupa pula dengan Judi Dench yang mendapat nominasi Oscar 2007 untuk perannya dalam Notes on Scandal.



Monster
adalah kisah tragis tentang perempuan yang mendambakan cinta, dan persahabatan, namun tak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuknya. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, berkisah tentang Aileen Wournos, pelacur jalanan di Florida yang dihukum mati karena membunuh pelanggan-pelanggannya. Tidak hanya itu, film ini juga mengisahkan kehidupan Wournos selama sembilan bulan pada tahun 1988-1989. Masa terindah dan terkelam dalam hidupnya. Masa ketika untuk pertama kalinya ia menemukan cinta dalam hubungan lesbian dan masa ketika ia harus menjadi pembunuh.

Kadang-kadang yang kita butuhkan hanya cinta. Dan itulah yang dirasakan Wournos ketika bertemu Shelby (Christina Ricci) yang lesbian. Meskipun pada dasarnya Wournos bukan lesbian, tapi satu-satunya hal terbaik dalam hidupnya yang berantakan adalah Shelby. Dan ia rela melakukan apa saja asal bisa terus bersama gadis itu, bahkan jika harus membunuh sekalipun.

Meskipun Monster yang berdurasi 109 menit ini tidak sekelam Boys don’t Cry, sebaiknya kita tidak menontonnya sebelum tidur karena akan bikin bete. Karena Monster bukanlah film yang menyenangkan. Film yang menguras emosi penonton ini juga merupakan debut sutradara muda Patty Jenkins. Menonton Monster, kita ditarik dalam perjalanan yang terus bertegangan tinggi menuju akhir yang menyisakan rasa pahit di dada.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

1:55 PM

Film: Boys Don't Cry

Posted by alex |

Boys Don't Cry adalah film yang HARUS ditonton, meskipun harus kuat hati menyaksikannya hingga akhir. Kita tahu sesuatu yang buruk akan menimpa sang tokoh utama, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya. Ditambah lagi, film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di kota kecil Nebraska pada akhir tahun 1993.

Film ini berkisah tentang Teena Brandon (Hilary Swank) yang terlahir perempuan namun menjalani hidup sebagai laki-laki bernama Brandon Teena. Agar identitasnya tidak diketahui, dia pun pindah ke Falls City, Nebraska. Di kota itu, Brandon bertemu Lana Tisedale (Chloƫ Sevigny). Ia juga bersahabat dengan John Lotter (Peter Sarsgaard) dan Tom. Brandon menjalin hubungan asmara dengan Lana yang tidak menyadari bahwa Brandon sebenarnya perempuan. Bahkan, Brandon kemudian tinggal bersama Lana dan ibunya.

John yang posesif marah besar mendapati kenyataan bahwa Brandon ternyata perempuan. Apalagi Lana ternyata tetap memilih Brandon meskipun sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Sebagai lelaki, John merasa kelelakiannya terinjak-injak oleh kebohongan Brandon. Bersama Tom, sahabatnya, John melakukan tindakan keji terhadap Brandon yang dia anggap layak mendapatkannya.


Hilary Swank begitu memukau sebagai Brandon Teena dan mendapat anugerah aktris terbaik dalam Academy Award tahun 1999. Selain Hilary Swank, Chloe Sevigny juga mendapat pujian atas aktingnya sebagai Lana Tisdel, kekasih Brandon, dan mendapat nominasi Academy Award untuk aktris pembantu terbaik.

Hilary Swank mengalahkan beberapa orang untuk mendapatkan peran sebagai Brandon Teena, termasuk Katherine Moenig yang tadinya diaudisi untuk peran ini. Namun sutradara Kimberly Peirce, yang terobsesi sejak lama untuk menyutradarai film ini, menjatuhkan pilihan pada Hilary Swank. Sebelum shooting, Hilary bahkan sudah hidup menjalani perannya selama satu bulan, termasuk membebat dadanya dan menyumpalkan kaus kaki di selangkangannya. Pada tahun 2006, majalah Premiere menempatkan akting Hilary Swank di film ini pada urutan 83 dalam daftar “The 100 Greatest Movie Performances of All Time”, dan filmnya sendiri masuk daftar "25 most dangerous films".

Buat yang belum nonton filmnya, bisa nonton di Q Film Festival 2007.
Boys Don’t Cry diputar tgl 27 Agustus pk 19.30 di Cemara 6 Galeri, Jakarta.

Penyuka film dokumenter, bisa menyaksikan
Brandon Teena Story yang diputar:
29 August 19.30 Kineforum, Jakarta
2 September 16.00 Subtitles, Jakarta
Informasi lebih lanjut lihat di: http://www.qfilmfestival.org

@Alex, RahasiaBulan, 2007


South of Nowhere adalah serial untuk remaja yang diputar di Amerika sejak tahun 2005 melalui channel The N yang merupakan saluran televisi berlangganan. Tanggal 10 Agustus 2007, adalah penayangan perdana South of Nowhere season 3. Sejujurnya saya terlambat menonton serial ini. Tadinya saya pikir ini cuma serial abege nggak penting dengan tokoh lesbian sebagai tempelan sebagaimana yang terjadi dalam serial The OC. Namun ternyata saya salah besar. Sejauh ini South of Nowhere adalah serial remaja terbaik yang menampilkan tokoh lesbian.

Season 1 dimulai ketika Spencer Carlin (Gabrielle Christian) pindah dari Ohio ke Los Angeles bersama keluarganya yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua kakak lelakinya. (Yeah, cerita anak baru di sekolah selalu menarik untuk jadi pembuka cerita). Keluarga Carlin ditampilkan sebagai keluarga harmonis, mengingatkan saya pada keluarga Walsh dalam Beverly Hills 90210.


Kiri: Spencer (Gabrielle Christian), Kanan: Ashley (Mandy Musgrave)

Di sekolah yang baru Spencer bertemu dengan Ashley Davies (Mandy Musgrave), putri bintang rock terkenal dari keluarga broken home yang dengan terbuka menyatakan preferensi seksualnya adalah dengan perempuan. Ia juga berkenalan dengan Aiden Dennison (Matt Cohen), cowok bintang basket yang ternyata adalah mantan kekasih Ashley. Sembari beradaptasi dengan kehidupan Los Angeles, Spencer dan Ashley dan Aiden menjalin semacam lingkaran persahabatan yang saling membelit. Lambat laun, Spencer merasa dirinya lebih tertarik pada Ashley dibandingkan Aiden.

Semua karakter dalam film ini ditampilkan secara manusiawi, ayah Spencer, Arthur, adalah pekerja sosial yang lebih banyak di rumah dibanding sang istri, Paula, yang menjadi dokter UGD di rumah sakit. Sementara itu kakak lelaki Spencer, Glen, menjadi bintang basket baru yang menyaingi Aiden. Dan Clay, kakak tiri Spencer yang berkulit hitam, menjalin hubungan dengan Chelsea, gadis kulit hitam yang pintar dan cantik.

Berbagai persoalan, tidak hanya isu lesbian, ditampilkan dalam serial remaja ini. Rasisme, kecanduan narkoba, peer pressure, homofobia, aborsi, kehamilan di luar nikah juga menjadi tema-tema yang diangkat. South of Nowhere membuat serial-serial remaja sebelum ini, seperti Dawson Creek atau The OC yang juga menampilkan sosok gay/lesbian tampak tidak ada apa-apanya. Ini karena serial dari channel The N ini memang menyajikan tokoh lesbian sebagai tokoh utama. Hm, gampangnya gini deh, ibarat nonton Dawson Creek, kita melihat tokoh utamanya Dawson dan Joey yang lelaki dan perempuan, atau zaman Beverly Hills 90210 dulu dengan tokoh utama Brandon dan Kelly, kali ini hubungan cinta yang jadi sorotan utama adalah Ashley dan Spencer.

Pada awal-awal episode season 1, kita sudah bisa melihat bagaimana Spencer dan Ashley sudah menunjukkan tanda-tanda akan “ke sana”, maksudnya... akan "jadian." Lirikan mata mereka, sentuhan mereka, obrolan mereka, semuanya membuat kita sebagai penonton tidak sabar menunggu Spencer dan Ashley jadian. Buat lesbian "berjiwa muda" yang selama ini menganggap The L Word adalah tontonan yang menampilkan "tante-tante" lesbian dan nggak banget buat anak muda, maka South of Nowhere adalah serial yang harus kudu mesti disaksikan.

Masing-masing episode South of Nowhere durasinya kurang lebih 22-25 menit tanpa iklan, dengan pilot episode dua kali panjangnya, sekitar 46 menit. Season pertama hanya terdiri atas 11 episode. Dan season 2 terdiri atas 13 episode.

Pilot episode season 1 adalah episode yang WAJIB ditonton. Episode favorit saya di season 1 adalah episode 106, berjudul Girl’s Guide to Dating, ketika Spencer mengakui pada Ashley kemungkinan dirinya juga tertarik pada perempuan, dan saya seakan hendak menjerit, “ya sutralah, buruan jadian.” Episode 110 dan 111 juga a must see, karena pada akhir episode 11, Spencer dan Ashley resmi jadian.... fiuhhh, setelah penantianku yang panjang itu. Akhir season satu ditutup dengan jadiannya Spencer dan Ashley. Yipiiiiiiii...

Bersama Spencer, Ashley yang biasanya kasar, sok cuek, dan membangun dinding emosi agar tak perlu sakit hati tampak jadi lebih dewasa. Bersama Ashley yang sifatnya bertolak belakang, Spencer bahagia bisa menemukan cinta pertama dan orientasi seksualnya. Namun dia tetap harus waspada karena Ashley adalah tipe cewek yang bisa mendadak membuat gadis patah hati karena Ashley, well adalah... Ashley.

Season 2 dibuka dengan The Morning After (yang jadi judul episode pertama season 2). Dalam season 2, kita melihat bagaimana Spencer dan Ashley beradaptasi dengan satu sama lain dan sahabat-sahabat mereka dengan status sebagai kekasih. Dalam season 2, muncul tokoh baru, yaitu Kayla, adik tiri Ashley yang tinggal bersamanya setelah kematian ayah Ashley. Hal paling penting dalam season 2 adalah ketika Spencer dan Ashley tertangkap basah oleh Paula, ibu Spencer, dalam episode 207, Come Out, Come Out, Wherever You Are. Bagaimana keluarga Carlin menghadapi Spencer yang lesbian bisa kita lihat dalam episode 208, That's the Way the World Crumbles.
Status terbukanya hubungan Spencer dan Ashley malah membuat Ashley tidak nyaman. Sehingga mendekati akhir season 2 Ashley kembali dekat dan Aiden dan membuat Spencer sedih. Akankah Ashley tetap bersama Spencer atau kembali ke Aiden? Well, keputusan ini masih mengambang di akhir season 2. Pada episode 213 Trouble in Paradise, Ashley belum sempat menyatakan keputusannya memilih Spencer atau Aiden, terjadi penembakan yang menutup season 2. Bagaimana selanjutnya? Apa yang terjadi di season 3? Kalau tidak ada halangan, saya akan mengupdate informasi serial ini secara berkala. Saya sih udah nonton dua episode season 3 ini melalui youtube, dan saya makin jatuh cinta pada serial ini. Tapi nanti ya update season 3-nya tunggu ada waktu luang. :)

Buat yang penasaran ingin menonton serial ini, sayangnya versi DVD originalnya belum beredar, sehingga bila ada pun kopiannya belum terlalu bagus. The N menjual versi asli melalui iTunes, tapi jika rajin mencari di tempat hosting video seperti youtube atau veoh, mungkin kalian bisa menontonnya secara gratis, itu pun syaratnya memiliki koneksi internet yang cepat.... Oya, nyarinya juga mesti niat banget dan banyak usaha karena banyak video South of Nowhere yang terpaksa dihapus karena uploading serial itu dianggap pelanggaran copyrights. Tapi percayalah, usahamu tidak akan sia-sia....

gambar dari:
http://www.the-n.com

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Setelah pasangan dalam serial TV, kini saya ingin menampilkan pasangan lesbian dalam film yang menurut saya manis dan sudah ditakdirkan berjodoh, dan saya harap bisa hidup bahagia selamanya. Sebenarnya saya kepingin membuat daftar lebih dari lima pasangan, cuma karena udah bikin lima pasangan di serial TV, ya sutra saya buat yang ini lima pasang juga. Kalau ada yang mau nambahin, silakan komentar ya.

Sekali lagi, urutan ini bersifat subjektif jadi wajar kalau ada yang tidak sependapat. Urutan berdasarkan ranking. Nomor satu adalah yang terfavorit.

5. Idgie and Ruth - Fried Green Tomatoes
Oke, mereka memang bukan ditampilkan sebagai pasangan lesbian. Idgie (Mary Stuart Masterston) adalah gadis tomboi yang hidup bersama Ruth (Mary Louise Parker) setelah Ruth meninggalkan suaminya yang penyiksa. Berdua, mereka membesarkan anak, membuka restoran, dan tinggal bersama hingga maut memisahkan. Yeah, Idgie dan Ruth tidak dilabeli pasangan lesbian, tapi hidup mereka adalah tujuan dari banyak pasangan lesbian yang ada. Jadi atas dasar penghargaan itulah, Idgie dan Ruth masuk daftar ini.


4. Amy Bradshaw and Lucy Diamond - D.E.B.S
Yang satu penjahat ulung. Satunya lagi adalah pembasmi kejahatan anggota D.E.B.S. Tidak ada yang lebih menarik dibanding opposite attract. Sebagai anggota D.E.B.S, Amy Bradshaw (Sara Foster) seharusnya menghabisi gembong penjahat Lucy Diamond (Jordana Brewster) dalam film aksi komedi ini. Namun apa daya, saat bertemu, bukannya berkelahi mereka malah jatuh cinta. Dan hasilnya adalah drama lesbian yang kocak dan asyik buat ditonton.


3. Jade and Takeko - Spider Lilies
Jade (Rainie Yang) adalah gadis webcam yang bertemu Takeko (Isabella Leong) di tempat tato milik Takeko. Rainie berkeras minta ditato bunga spider lily. Takeko menolak menato Jade karena tato spider lily itu punya arti mendalam untuknya. Namun Jade terus mendekati Takeko, hingga Takeko tidak sanggup menolaknya. Ternyata Takeko adalah cinta monyetnya Jade sewaktu dia berusia 9 tahun. Kini saat keduanya sama-sama dewasa, Jade tidak membiarkan dirinya dihalangi untuk bisa memasuki hati Takeko.


2. Rachel and Luce - Imagine Me and You
Imagine Me and You
adalah film tentang cinta pada pandangan pertama. Luce (Lena Headey) dan Rachel (Piper Perabo) saling bertukar pandang ketika Rachel berjalan menuju altar pada hari pernikahannya. Dan sehabis pernikahan, Rachel dan Luce langsung jadi sahabat akrab. Tidak lama kemudian persahabatan mereka berubah intens hingga suami Rachel pun harus menyingkir jika tidak mau tersingkir. Saya menonton ulang film ini minggu kemarin, dan saya rasa mereka layak berada di posisi 2, karena cinta yang mereka miliki adalah jenis yang hanya ada sekali seumur hidup.


1. Corky and Violet - Bound
Yeah, yeah. Pasangan Corky (Gina Gershon) dan Violet (Jennifer Tilly) ini memang pilihan yang subjektif banget. Saya nonton film ini kalau nggak salah sampai 3x di bioskop pada tahun 1996 saking kagumnya saya pada plot film ini. Belum lagi nonton di VCD dan DVDnya. Bound merupakan satu film lesbian mainstream yang cerita lesbiannya bukan cerita tempelan tidak jelas dan cuma asal mesum. Kenapa saya menjadikan mereka sebagai pasangan nomor 1? Karena selain punya hubungan cinta, hubungan Corky dan Violet adalah hubungan yang berlandaskan kepercayaan yang kuat dan mereka memercayakan nyawa mereka terhadap satu sama lain untuk bisa selamat dalam film thriller menegangkan ini.


@Alex, RahasiaBulan, 2007

10:00 AM

Tali Tak Kasatmata Bernama Surat Nikah

Posted by alex |

Peringatan: *nggak usah dibaca deh, ini cuma tulisan ngawur yg dibuat saat moody*

Akhir pekan kemarin saya makan siang dengan seorang sahabat SMA. Seperti biasa, bila sudah bertemu dengannya, kami selalu me-recharge diri kami dengan obrolan intelek dan cerdas ala perempuan. “Lo tau nggak sih betapa pentingnya surat nikah dan pernikahan?” Tiba-tiba Cindy bertanya. Belum sempat saya menjawab, dia sudah melanjutkan, “Gue udah bertahun-tahun pacaran sama sama suami orang. Belakangan ini gue sadar, secinta-cintanya dia sama gue, dia nggak akan meninggalkan istrinya. Legalitas pernikahan itu adalah tali komitmen yang tak kasatmata.” Terkadang ada hari-hari tertentu ketika Cindy amat bijaksana.

Saya teringat sahabat saya yang lain, yang sudah 7 tahun jadi “istri” pria beristri. Saya pernah menanyakan keseriusan si pria yang jadi pasangannya, dan si pria itu berkata dengan sok bijak, “Yah, kamu tau kan posisi saya gimana? Saya kan udah beristri. Dan saya Katolik, jadi saya tidak bisa bercerai dengan mudah. Sahabat kamu mestinya ngerti ini.” Pada saat itu saya ingin bangun dari sofa dan meludahi laki-laki bajingan itu. Bukan karena dia selingkuh, tapi karena caranya memanfaatkan agama sebagai tameng. Bersikaplah jantan, dan katakan, “Saya tidak akan meninggalkan istri saya. Kalau masih mau, mari kita jalani hubungan ini. Dan jangan tuntut macam-macam dari saya.” Nggak usah deh pakai janji-janji gombal. Nah kalau habis itu sahabat saya masih mau dengannya... silakan jalani hubungan itu dengan lapang dada.

“Sekarang nih ya, gue sih berusaha menghilangkan cinta itu dari hati gue. Buat apa?” Cindy melanjutkan. “Gue akan selalu jadi orang luar yang melihat ke dalam. Daripada sakit hati lebih baik gue menghapus rasa cinta itu. Apalagi doi udah punya anak. Gue tuh cuma urutan kesekian dalam hidupnya. Dia bilang dia udah nggak cinta lagi sama istrinya. Dia cuma mikirin anak-anaknya. Gue sih dulu bego ya, masih berharap muluk tentang ‘cinta akan mengalahkan segalanya’. But, my dear friend, itu cuma laris buat jadi bahan novel atau film. Kalau misalnya ada orang yang meninggalkan pasangannya demi orang lain, biasanya itu terjadi karena pasangan itu emang sudah bermasalah. Jangan mikir bahwa lo tuh begitu spesialnya bahwa dia akan meninggalkan kestabilannya demi elo. Dan jika dia meninggalkan keluarganya demi orang ketiga, elo akan dikutuk oleh 90% rakyat Indonesia. Liat aja Mayang-Bambang-Halimah. Berapa banyak sih orang yang bilang bahwa Bambang lelaki hebat karena mau bercerai dengan istrinya demi bisa sama Mayang? Paling sering yang muncul adalah, ‘dasar perempuan lonte, bisanya ngerebut laki orang.’”

Hm, gawat nih. Cindy sedang sinis. Saya berusaha jadi pendengar yang baik. Saya tidak pernah menganggap pentingnya legalitas pernikahan... sampai saat itu.

Mendadak saya sedih. Sedih, karena sebagai lesbian (di Indonesia) entah kapan saya mendapatkan tali komitmen yang tak kasatmata itu. Memang, saya tahu banyak orang yang meremehkan pentingnya lembaga pernikahan. Bagaimana kesucian pernikahan sudah dinodai banyak hal, terutama oleh perselingkuhan. Saya pernah menulis bahwa legalitas pernikahan itu tidak penting, yang penting adalah komitmen dalam hati. Saya tarik lagi kata-kata itu. Kertas tak penting yang bernama surat kawin itu ternyata begitu mengikat. Seperti cap darah yang tidak bisa dengan mudah dikesampingkan begitu saja.

Ada beberapa lesbian yang menyatakan pentingnya legalitas adalah untuk warisan bila salah satu pasangan meninggal. Buat saya, itu alasan yang tak masuk akal saya, karena kita bisa punya banyak cara untuk perlindungan semacam itu. Alasan utama yang terlupakan atau terkadang taken for granted adalah kemampuan surat nikah membuat ikatan yang bisa membuat lesbian memiliki tempat bernaung, tujuan pulang... dan terutama punya tujuan dari hubungan. Bukannya seperti sekarang, ketika banyak pasangan lesbian dengan mudah angkat koper meninggalkan pasangan kita walaupun “katanya” sudah ada komitmen.

Sewaktu saya berumur 20-an, saya merasa tidak peduli sama apa yang namanya surat kawin. Dengan sinis saya menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh dan nggak ngerti kenapa sih orang membesar-besarkan masalah pernikahan. Apalagi karena saya lesbian, jadilah saya orang yang makin sinis. Daripada sakit hati, lebih baik sinis dulu, kan? Seperti kata Scott Turow, “in a body of a cynic, beats a broken heart of a romantic.”

Sekarang terserah deh kalau orang lain tidak menganggap pernikahan penting. Terserah deh kalau saya dibilang kuno. Terserah deh kalau saya dibilang nggak cool. Terserah deh kalau saya dibilang rese. Saya tidak peduli.... saya ingin diikat oleh tali tak kasatmata itu.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Banyak pasangan lesbian yang sekarang bisa kita lihat wara-wiri di layar TV (Amerika), hm, mungkin kalo di TV kita melalui tayangan DVD, yang entah original atau bajakan... terserah deh. Keberadaan mereka ada yang cuma tempelan, ada yang menjadi tokoh utama serial, ada yang cuma tampil satu-dua episode lalu "hilang". Namun ada juga beberapa pasangan lesbian di televisi yang begitu melekat dalam benak saya dan menurut saya memang pasangan yang ditakdirkan untuk satu sama lain. Soulmate. Apa pun.

Oke, tulisan ini amat subjektif dan bertujuan untuk fun saja. Urutan berdasarkan ranking, nomor satu adalah yang terfavorit. Selamat membaca!

5. Tina and Bette - The L Word
foto: http://www.thelwordonline.com/

Secara ini serial terlesbi yang pernah ada di layar TV, rasanya nggak sah kalau saya tidak memilih di antara pasangan dalam The L Word. Yeah, tadinya saya bingung antara Tina dan Bette atau Lindsay dan Mel di Queer as Folk, atau memasukkan Shane dengan salah satu perempuannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya rasa Tina dan Bette lebih pantas di sini karena sampai saat ini, setelah season 4 berakhir, saya masih percaya Tina dan Bette akan balik lagi menjadi pasangan dan bersama kembali.



4. Jessie and Katie - Once and Again
Foto: http://www.jessie-katie.com/

Tidak banyak orang yang tahu tentang serial ini di Indonesia. Padahal Once and Again pernah ditayangkan tengah malam oleh Indosiar tahun 2006. Sebenarnya Once and Again adalah film drama yang lumayan bagus dengan pemain di antaranya Sela Ward dan Shane West, namun serial ini di-cancel pada season ke-3. Buat yang tidak pernah nonton, coba aja cari DVD-nya, rasanya saya pernah lihat di lapak DVD. Jessie (Evan Rachel Wood) bertemu Katie (Mischa Barton) pada season 3, dan sayangnya serial ini keburu berakhir di season tersebut. Namun pada akhir episode, kedua gadis muda ini tetap bersama.



3. Willow and Tara - Buffy the Vampire Slayer
foto: http://www.bbc.co.uk/cult/buffy/

Willow (Alyson Hannigan) dan Tara (Amber Benson) adalah pasangan lesbian dalam serial Buffy the Vampire Slayer. Ketika Joss Whedon (kreator Buffy) mengubah haluan Willow menjadi lesbian pada season 4, saya langsung menahan napas dan berkata, “O.M.G!!!” Dan menurut saya, itu adalah tindakan paling brilian yang bisa dilakukan. Sebagai penggemar berat Buffy, saya bisa mencium Joss untuk tindakannya ini. Buffy the Vampire Slayer habis masa tayangnya pada season 7, tahun 2005. Season favorit saya adalah season 6 ketika Willow menjadi Evil Willow yang membalas dendam atas kematian Tara.



2. Xena and Gabrielle - Xena the Warrior Princess
Foto: http://www.warriorprincess.com/

She was the warrior princess with a lovely girl as her sidekick... yeah, right! Xena (Lucy Lawless) dan Gabrielle (Renee O'Connor) bertemu sejak serial ini pertama kali tayang dan tak pernah berpisah. Mereka memang tidak pernah menyatakan diri sebagai pasangan lesbian, tapi buat saya mereka adalah pasangan abadi yang akan hidup berdua selamanya, sebagaimana yang bisa dilihat di akhir serial ini. Serial Xena the Warrior Princess berlangsung selama 6 season sejak tahun 1995 sampai 2001 dan semua seasonnya ditayangkan di SCTV. Dan hingga sekarang pun Xena dan Gabrielle masih jadi pasangan favorit saya.



1. Spencer and Ashley - South of Nowhere
foto: http://www.the-n.com/

Spencer Carin (Gabrielle Christian) dan Ashley (Mandy Musgrave) adalah pasangan lesbian dalam South of Nowhere yang merupakan serial remaja dengan tokoh lesbian sebagai karakter utama dalam cerita. Pertama kali ditayangkan di Amerika pada tahun 2005, dan saat ini sudah memasuki season ke-3. Di antara serial remaja yang menampilkan tokoh lesbian, South of Nowhere adalah yang terbaik.

Sejak awal tayang Spencer dan Ashley memang sudah ditakdirkan satu sama lain, kau harus melihat tatapan mereka, sentuhan mereka.... woooow!!! Bikin deg-degan. Spencer is sooooo sweet and Ashley is so sexy, especially her raspy voice. Moga-moga mereka bisa jadi pasangan terus meskipun di season 2 mereka sempat break.



@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Hasil polling iseng di blog ini menyatakan dari 27 pemilih, 13 orang alias 38% memilih Keira Knightley saat ditanya, “Di antara aktris muda Hollywood, siapa yang kauharap berperan sebagai lesbian dalam film?” Sambil menunggu filmnya yang ada adegan lesbian bersama Sienna Miller dalam The Best Time of Our Lives, kita mundur sejenak ke film tahun 2003 yang mengangkat nama Keira Knightley. Bend It Like Beckham.

Siapa sih yang tidak kenal David Beckham? Pemain sepak bola asal Inggris yang memiliki jutaan penggemar. Tidak terkecuali Jess Brahma (Parminder Nagra), gadis keturunan India berusia 18 tahun yang tinggal di London. Tidak seperti kebanyakan gadis muda, Jess lebih suka bermain sepakbola daripada harus berdandan cantik. Ia bahkan lebih memilih membeli sepatu bola dan BH sport.

Kemudian Jess bertemu dengan Jules Paxton (Keira Knightley), gadis tomboi pemain sepakbola putri yang setelah menyaksikan bakat Jess mengajaknya bergabung dalam tim sepakbolanya. Dengan senang hati Jess bergabung dalam tim meskipun harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Bend it Like Beckham adalah film komedi ringan, namun film ini sesungguhnya menampilkan banyak isu dan pesan tentang feminisme, rasisme, dan homoseksual. Isu feminis diangkat melalui keinginan Jess untuk bermain bola secara profesional meskipun pandangan tradisional (India) adalah wanita seharusnya mengenakakan sari dan tinggal di rumah, sementara olahraga adalah permainan laki-laki. Isu rasisme muncul melalui hubungan cinta Jess dengan Joe (Jonathan Rhys Meyers), sang pelatih sepakbola berkulit putih. Isu homoseksual ditampilkan melalui sahabat baik Jess yang gay dan terutama ketika ibu Jules menduga putrinya menjalin hubungan lesbian dengan Jess.

Jules: Anyway being a lesbian's not that big a deal
Jules’s Mom: Oh no of course not sweetheart no. I mean I've got nothing against it. I was cheering for Martina Navratilova as much as the next person.
Ceritanya yang nyambung dengan penonton gay/lesbian mungkin karena pada awalnya sutradara/penulis skrip film ini, Gurinder Chadha, ingin membuat Jess dan Jules sebagai pasangan lesbian. Namun pada saat terakhir Gurinder membatalkannya, dan membelokkan cerita dengan membuat Jess berpasangan dengan Joe. Salah satu alasannya adalah film bertema lesbian tidak akan menjaring banyak penonton atau malah dikategorikan sebagai film yang “tidak layak tonton” buat remaja di beberapa negara, terutama negara Asia. Siapa juga yang mau nonton film buatan Inggris tentang pemain sepakbola lesbian?


Gurinder Chadha akhirnya memutuskan berkompromi dengan membuat tokoh-tokohnya hetero, namun menyelipkan banyak isu homoseksual yang positif di dalamnya. Dengan demikian pesan-pesan positif itu akan menjangkau lebih banyak orang. Di Amerika Serikat sendiri film ini meraup angka box office sebesar lebih dari $32 juta. Angka yang lumayan untuk film Inggris dengan sutradara baru dan pemain yang tidak ngetop.

Bend it Like Beckham juga memperoleh banyak penghargaan, dan masuk nominasi film terbaik Golden Globe 2003. Sebelum Bend it Like a Beckham, Gurinder Chadha pernah menyutradari What’s Cooking yang menampilkan tokoh lesbian. Saat ini ia sedang menyutradai Dallas yang diangkat dari serial TV tahun 1980-an setelah sebelumnya sukses dengan Bride and Prejudice.

Saya menyukai film ini, karakter-karakternya begitu menarik dan alur ceritanya pun pas. Bend it Like Beckham adalah film yang bisa saya tonton berkali-kali. Ini adalah film yang membuat saya bisa tersenyum dan tertawa, bahkan merasa riang sehabis menontonnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe