10:44 PM

Mirip si Kecil

Posted by alex |

Ketika membongkar-bongkar foto lama, saya menemukan foto saya masih balita. Yah, kira-kira foto saya seumuran si bungsu sekarang. Ketika melihatnya, saya terkejut... kok saya mirip si bungsu ya? Ah, saya menepis pemikiran itu. Maklum deh, mami-mami memang sering berpikir seperti itu. Sok bangga dengan kemiripan dengan anaknya.

Lalu saya memperlihatkan foto itu ke Lakhsmi. “Say, lihat deh fotoku...”
Lakhsmi membelalak, “Hah, kok mirip banget sama si bungsu?”
“Beneran?”
“Iya...”
Ah, saya juga nggak percaya sama Lakhsmi, pasti ini salah satu asbunnya... :p

Saat itu pembantu kami lewat, dan saya memperlihatkan foto kecil saya padanya. “Aduh, dari tadi saya kirain ini fotonya si bungsu lho, Non. Mirip banget.”
Mendengar itu, Lakhsmi memandang saya dengan tatapan, gue-bilang-juga-apa-nggak-percaya-sih.

“Heran deh, si bungsu kok bisa mirip kita ya, beib?”
Lakhsmi mengangkat bahu, lalu tersenyum dan berkata, “Mungkin karena kamu maminya juga.”
Saya tersenyum manis sekali mendengar jawabannya.

Saya jadi teringat adegan tidak lama sebelum ini, ketika kami sibuk memilih goody bag untuk ultah si bungsu. Barbie atau princess? Hello Kitty atau Winnie the Pooh? Ribet dan rusuh. Sementara si bungsu sibuk main dengan telepon-teleponan Hello Kitty. “Hawoo? Hawoooo?” katanya.

Dua maminya nggak sempat memperhatikan karena habis itu kami sibuk memilih kue. Strawberry Shortcakes atau Cars? Hah? Cars? Nggak salah anak perempuan kuenya Cars?
“Beib, dia suka Cars,” kata saya.
“Yang bener?” tanya Lakhsmi.
“Iya.” Saya mengangguk membenarkan.
Si mbak yang melayani kami memandang kami bergantian lalu bertanya lugu, “Mamanya yang mana sih?”
Gantian saya dan Lakhsmi jadi saling memandang lalu tertawa terbahak-bahak. Hampir kami menjawab, “Dua-duanya maminya!”
Tapi daripada si mbak pingsan di tempat, saya menunjuk Lakhsmi. “Ini maminya. Saya tantenya.”
Si mbak tersenyum, “Saya kita Ibu yang maminya... soalnya tau banyak sih.”
Kembali saya dan Lakhsmi tertawa ngakak, yang hanya bisa kami mengerti artinya.

Akhirnya setelah memilih-milih kue dan goody bag, kami menemukan si bungsu masih main telepon Hello Kitty dan tidak mau melepasnya. Tanda minta dibelikan... hehehe. Akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan telepon Hello Kitty itu sebagai hadiah ultahnya. “Buat telepon Tante dan Mami kalo di kantor,” katanya.
Bagaimana kami bisa menolak membelikannya kalau si bungsu bilang begitu, coba?

@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:31 AM

Tanda

Posted by SepociKopi |

Ada lipstik di sepraiku. Aku tahu ada lipstik di sepraimu. Aku berguling di ranjang sementara jari-jari halusmu menjelajahi pundak telanjangku. Salah siapa kalau lipstik itu berbekas? Aku mau mengelapnya tapi tidak sempat. Kau mendesakku – kelembutan yang penuh tenaga, mengunci tubuhku di sepanjang sisi sampai aku tidak mampu bergerak dalam pelukanmu. Pagi itu bukan hanya lipstik yang tertinggal di sana, tapi aroma tubuhmu menempel di sekujur kulitku.

Aku pernah meninggalkan noda lipstik di bahu kemejamu kala kita berpelukan. Noda merah jambu tampak samar-samar sebenarnya, kecuali kalau seseorang berdiri agak dekat denganmu. Dalam hati aku berharap seorang teman kantormu memperhatikan dan memberi komentar isengnya.

Komentar yang sudah pasti akan mengantarkanku sebagai si tertuduh dengan rasa yang menyenangkan bagi kita berdua.
Tapi mereka tidak pernah berkomentar tentang lipstik itu. Mereka berbicara tentang dompetmu yang pernah tertinggal di sana. Mereka berbicara tentang foto anak-anak yang memenuhi meja kerjaku. Mereka berbicara tentang bunga yang pernah kau kirim ke kantor. Mereka berbicara tentang benda-benda hadiah untukku; Valentine, ulangtahun, Natal, dan hari apa saja yang menurutmu menjadi hari kejutan. Mereka berbicara tentang hari-hari liburan kita yang sering kusebut sebagai honeymoon.

Mereka menggodaku tentang telepon gila-gilaanmu. Itu sama saja bukan? Itu berarti mereka melihat jejak-jejakku pada dirimu. Pikirkanlah. Aku sering memikirkan hal ini. Aku tidak hanya bersama di sisimu saat kita berdua, tapi juga aku bersamamu dalam setiap detik kesendirianmu. Aku mencecap hal yang sama. Kau menggerayangi duniaku tanpa malu-malu. Menawanku seperti caramu menawanku di ranjang. Lihat saja ruang kerjaku. Isinya penuh kamu. Buku-bukumu. Berkas kerjamu. Pulpenmu. Foto kita berdua. Catatan-catatanmu. Surat cintamu yang berceceran di berbagai tempat; tentu kusembunyikan dengan hati-hati.

Tapi Sayang, bukan itu yang paling penting. Semua yang terlihat oleh mata telanjang hanya sekadar benda padat yang secara fisik dapat lenyap dengan mudah. Kau dapat menghapus lipstikku dengan tisue. Aku dapat menyingkirkan foto-fotomu. Kau dapat mencampakkan hadiah-hadiahku di tong sampah. Aku dapat membakar surat-surat cintamu dalam kalapku. Setelah semuanya pergi, akankah aku... oh, akankah kau lenyap begitu saja? .

Apa boleh buat, aku tak dapat dienyahkan. Keberadaanku lekang dalam hatimu; aku hidup di sana. Di kepalamu penuh aku. Siapa yang memiliki kontak denganmu pasti melihat bayanganku pada dirimu. Kau membawaku ke mana-mana, malaikatku. Aku menjelajahi tempat-tempat yang kau datangi sendirian. Aku mendengar degup jantungmu di tengah celotehanmu dengan orang lain. Aku meraba kegelisahanmu, kegembiraanmu, kesedihanmu; aku menguping kekacauanmu, kerumitanmu. Aku melompati pikiranmu; menggerayangi kemarahanmu; memerkosa kecemburuanmu. Aku mengetahui hal-hal tersembunyi yang abstrak dilukis lewat kata-kata. Aku mencium bibirmu dengan gairah saat kau melirik pada perempuan berkaos itu yang lewat di sampingmu.

Singkatnya, aku memiliki telepati; telepati kedekatan antara dua orang yang tak memiliki jeda apapun di antaranya. Bukannya kau tahu aku seperti itu juga? Bahwa aku berada pada dirimu, merumah di sana, memeluk tubuh telanjangmu setiap saat. Aku uring-uringan kala kau diam-diam menyembunyikan kejengkelan tentang sesuatu. Aku patah hati kala kau berusaha keras tidak membunuhku. Aku memikirkan hal-hal yang buruk kala kau berahasia tentang perempuan itu. Aku menyentuh dadamu, menyetubuhimu kala kau berbaring sendirian melakukan tarian masturbasi. Kita berdua terkoneksi seperti langit dengan hujan. Aku menjembatanimu. Di antara mimpi dan labirin.

Di antara matahari dan garis kathulistiwa. Pagi ini ketika kau berkata ada lipstikku di sepraimu, aku tergenapi. Berkat ucapanmu, rasanya tubuhku menjadi semakin baik. Bara di dadaku berhenti menghangus. Matahari tidak menjadi basi lagi. Aku tidak pernah takut lagi kehilanganmu karena bagaimana sesuatu dapat hilang kalau aku tahu dia selalu ada di sana? Aku tidak akan asing sebab aku menandaimu. Kau tidak terselip seperti daun di ranting; tak tercecer seperti bulan yang menyabit. Malaikatku, kapan-kapan kutinggalkan lagi lipstik di sepraimu setelah kita selesai bercinta dini hari yang remang. Kau dapat memulai kerja dengan mengirimku selarik SMS yang mendatangkan bintang buatku. Ada lipstik di sepraiku.

@Lakhsmi, RahasiaBulan, 2009

9:24 AM

Alex Memutuskan Mati

Posted by alex |

Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.

Kejadian 2:17

10:34 PM

Si Nakal

Posted by alex |

Si Nakal. Kadang-kadang kami menyebut dia seperti itu. Badungnya nggak ketulungan si bungsu ini. Nakal, badung, keras kepala, persis maminya :)). Pokoknya saya (kadang-kadang) harus jadi penengah antara maminya dan si bungsu yang adu keras. Udah biasa gitu menghadapi maminya... jadi versi mininya (seharusnya) udah bisa di-handle deh, walaupun kenyataannya sering kali saya yang teraniaya atas-bawah, hahaha.

Jadi ingat satu cerita lucu soal kaus kaki. Sekali waktu si bungsu nggak mau pakai kaus kaki sebelum tidur. Dia menarik lepas kaus kakinya. Lalu maminya memakaikannya lagi. Begitu terus sebanyak 3x, hingga akhirnya si bungsu menyerah. Dalam hati saya yakin si bungsu tidak menyerah sungguhan. Ternyata... Tuh betul, kan? Beberapa jam kemudian, ketika si bungsu sudah tidur, Lakhsmi bertanya, “Say, mana kaus kakinya si bungsu?” Tangannya meraba-raba dalam gelap.
“Nggak tau... terakhir liat sih masih di kakinya,” saja menjawab cuek.
“Nggak ada...!”
“Ada!”
Lakhsmi meraba-raba lagi, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Dia menemukan kaus kaki itu. Di mana? Hayo tebak...! Ternyata kaus kaki itu memang masih dipakainya... di kedua tangan. Huahaha... Ada-ada aja, kan?

Well, sebenarnya nggak mau cerita soal nakalnya kali ini. Tapi lebih tentang kekaguman dua maminya terhadap anak ini (lebih ke kekaguman tante maminya sih :p).

Beberapa hari lalu, Lakhsmi ber-chat dengan saya ketika saya sedang di kantor, sementara dia mengambil cuti sakit.

Lax: Tadi si bungsu pinter deh...
Lex: Knp?
Lax: Dia gambar doggie bagus banget.
Lex: Oya? Ntar pulang kuliat ya. Simpen gambarnya nggak?
Lax: Simpen dong.
...(5 menit kemudian)...
Lex: Beb...
Lax: Ya?
Lex: Fotoin dong gbrnya... Nggak sabar nih mau liat... nanti bebein ke aku.
...(5 menit berlalu)
Lex: Wuaaaaaaaaaah gbrnya bagus amat? (Hm... buat saya masterpiece deh :))
Lax: iya, bagus ya... aku mau simpen gk boleh sama dia...
Lex: Jadi?
Lax: Udah dicoret-coret krayon (Versi yang saya lihat masih goresan pensil dgn wujud anjing yang jelas)
Lex: Gk kamu larang?
Lax: Bisa dilarang dia?
Lex: Hahahaha :))

Malam harinya ketika saya menemui si bungsu, dengan wajah manis dia menjawab, “Gambar apa? Dogi apa? Ga ada dogi,” ketika saya bertanya, mana gambar doginya. “No dogi. I want to watch TV.” Untungnya Lakhsmi sudah menyelamatkan gambar yang udah tidak jelas wujudnya. Coretan-coretan pensil yang “dulunya” bergambar anjing yang wajah dan tubuhnya diwarnai krayon merah dan hijau. Mesti pake tatapan laser untuk bisa melihat dengan jelas.

Mungkin ini yang namanya kebanggaan orangtua ya. Pokoknya apa pun yang dilakukan oleh anak yang kelihatannya “lebih” sedikit udah membuat hati membuncah bangga. Coba lihat isi henpon, isinya foto-foto anak dalam berbagai pose dan karya-karyanya.... :)

@Alex, RahasiaBulan, 2009

Subscribe