*spoiler banget*



Salam buat penggemar South of Nowhere, terima kasih atas e-mail dan komentar-komentarnya. Maaf banget saya nggak bisa meng-update blog ini dengan update per episode setiap kali tayang, maklum deh kadang-kadang saya harus bergantung pada kebaikan koneksi internet kantor, ups, hehehe.

Season 3 South of Nowhere mulai tayang tgl 10 Agustus 2007 dengan episode The Valley of the Shadows yang ditayangkan dua kali lebih panjang. Dimulai dengan adegan setelah penembakan di sekolah pada malam prom. Beberapa orang kena tembak, termasuk Clay dan Aiden. Clay tewas namun Aiden berhasil bertahan hidup.

Sekolah dimulai tiga bulan setelah malam prom mengenaskan. Clay tewas meninggalkan Chelsea dalam keadaan hamil. Hubungan Spencer dan Ashley off sesaat karena berbagai tragedi yang terjadi. Apalagi selama liburan musim panas Ashley pergi ke Eropa meninggalkan Spencer tanpa kabar berita. Dalam episode pertama season 3 ini, Spencer memutuskan untuk berteman saja dengan Ashley.

Kedatangan cewek baru di sekolah, Carmen, dijadikan tempat rebound oleh Spencer. Saya yang sejak pertama kali melihat Carmen pun sebenarnya sudah ilfil, dan mulai kesal dengan pihak produser yang entah kerasukan apa dengan gagasan menampilkan cewek baru yang nggak banget buat Spencer.

Sementara itu Spencer berhenti sekolah setelah mendapat warisan besar dari kematian bokapnya. Dia dan Kyla memutuskan untuk membeli apartemen dan tinggal berdua di sana. Yeah, buat apa sekolah kalo udah punya uang puluhan juta dolar? Secara mereka sudah bisa hidup ala Hilton bersaudara. Kakak-beradik Davies ini juga digambarkan menjalani hidup ala Paris dan Nicky.

Aiden belum bisa menghapus trauma pengalaman nyaris tewasnya. Hubungan asmaranya dengan Ashley pun,---sebagaimana yang bisa kita duga---putus. Setelah sempat menjalin TTM dengan Madison, Aiden tampaknya perlu terapi psikologi untuk mengatasi traumanya.

Oke, balik lagi ke Spencer. See, gue bilang juga apa, kan? Nonton sendiri deh gimana dia nggak cucok banget sama Carmen. Akhinya hubungan Spencer dan Carmen pun putus, yeah, kalo hubungan sesingkat itu bisa disebut hubungan. Secara Carmen itu kasar dan kampungan banget deh, wajar aja kalo Spencer mutusin hubungan dengan dia. Lagian, sebagai role model lesbian remaja yang baik, tentu Spencer nggak mau dong nunjukin hubungan yang nggak sehat dengan Carmen di acara TV yang ratingnya konon tinggi ini.

Ashley dapat tawaran menarik untuk jadi penyanyi, ya iyalah, secara bokapnya dulu penyanyi rock tenar gitu. Nah, pada saat bertemu dengan produser itulah, Ashley mengajak Spencer untuk menemaninya. Yippiiii… mereka kelihatan mulai saling PDKT gimana gitu. Namun sang produser inginnya Ashley tampil bersama saudara tirinya Kyla, yang lagi jadi cewek “beredar” banget dan tengil setengah mati. Oke, itu masalah gampang. Secara Kyla kepingin banget ngetop, jadi dia pasti mau jadi penyanyi, masalahnya Ashley nggak rela banget kalo Kyla ikut tenar.

Sementara itu hubungan Spencer dan Paula, nyokapnya, jadi rada renggang karena nyokapnya masih tampak nggak terima dengan kelesbianan anak perempuannya. Malah Paula sempat membuat blind date sama cowok yang bener-bener nggak banget buat Spencer. Yang akhirnya bikin Spencer marah beneran sama nyokapnya.



Puncak semua cerita ini adalah pada episode 308. Gay Pride. Spencer kepingin banget ngajak nyokapnya ke acara gay pride, tapi nyokapnya nggak bisa karena harus kerja. Ashley juga lagi sibuk banget karena mesti mengadakan konferensi press buat album barunya dan pesta buat melepaskan Madison jadi penari latar Justin Timberlake. Tapi dengan manisnya Ashley menyempatkan waktu buat datang menjemput Spencer, so sweeet… tapi Spencer udah keburu pergi ke acara pride bareng Aaron, bokapnya.

Di rumah Spencer, Ashley ketemu Paula yang lagi sedih. Akhirnya Ashley berhasil merayu Paula untuk datang ke gay pride. Again, so sweeet… dan di sana mereka ketemu dengan Spencer dan Aaron di acara pride. Ending episode ini ditutup dengan ending yang Wow! Viva Spashley! Pada menit-menit terakhir, Ashley membuka pintu apartemennya dan mendapati Spencer berdiri sana. Spencer masuk melepaskan coat-nya dan memperlihatkan tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa di balik coat. Mereka pun berciuman, selanjutnya terserah Anda. Adegan klasik, tapi tidak basi.

Sayangnya kita masih harus menunggu sampai Februari 2008 untuk mengetahui kelanjutan episode South of Nowhere ini. Jadi tunggu tahun depan, sementara ini silakan berjuang menontonnya di internet. Saya menontonnya di Veoh. Kalau saya bisa menemukan serial ini dan menontonnya di internet, kalian pasti bisa. :)

Buat yang nggak punya akses internet secepat cheetah, coba baca recaps-nya di:
http://www.afterellen.com/archive/ellen/TV/southofnowhere.html

Urutan episode season 3 dan skor:
Ep. 301 "The Valley of the Shadows" (Skor: 9)
Ep. 302"Can't Buy Me Love" (Skor:8)
Ep. 303 "The It Girls" (Skor: 8)
Ep. 304 "Spencer's New Girlfriend" (Skor: 7)
Ep. 305. "The Truth Hurts" (Skor: 7)
Ep. 306 Fighting Crime" (Skor: 7)
Ep. 307. "Saturday Night is for Fighting" (Skor: 7,5)
Ep. 308 Gay Pride" (Skor: 9)

Pemeran South of Nowhere:
• Gabrielle Christian: Spencer Carlin
• Chris Hunter: Glen Carlin
• Danso Gordon: Clay Carlin
• Mandy Musgrave: Ashley Davies
• Matthew Cohen: Aiden Dennison
• Eileen Boylan: Kyla Woods (Davies)
• Valery Ortiz: Madison Duarte
• Aasha Davis: Chelsea Lewis
• Austen Parros: Sean Miller
• Rob Moran: Arthur Carlin
• Maeve Quinlan: Paula Carlin

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

Ini adalah salah satu film yang nyaris saya lewatkan keberadaannya, karena Intimates adalah film yang pamornya tertutup film lain yang lebih bunyi. Mungkin kalau saya tidak iseng-iseng browsing dan menemukan film ini di youtube, saya takkan pernah menontonnya.

Film ini adalah produksi tahun 1997, yang diperankan oleh dua aktris kenamaan Hong Kong, Charlie Yeung dan Carina Lau. Pada tahun itu saya sibuk mencari film produksi Hong Kong yang lain, yaitu Comrades, Almost A Love Story (film Hong Kong Terbaik 1997), dan Happy Together, film gay dengan peran utama Leslie Cheung dan Tony Leung.

Carina Lau mendapat nominasi Hong Kong Film Awards atas perannya di Intimates, tapi harus kalah dari Maggie Cheung yang bermain dalam Soong Sisters. Padahal menurut saya, dalam film ini Carina Lau menampilkan akting terbaiknya dalam karier filmnya.

Film ini dibuka pada setting tahun 1997 ketika seorang perempuan muda bernama Wai (Theresa Lee) ditugasi ayahnya untuk menemani seorang perempuan tua bekas pengasuh ayahnya ke Cina untuk mencari jejak masa lalu perempuan tua tersebut. Kisah pun selanjutnya dibuat flashback antara masa kini dan masa lalu.

Kisah masa lalu dibuka tahun 1930-an ketika Foon (Charlie Yeung) kabur dari rumah karena menolak dinikahkan. Wan (Carina Lau), istri ketujuh pemilik pabrik sutra, menyelamatkan Foon dan menjadikan gadis itu pembantu di pabriknya.

Perlahan-lahan hubungan Wan dan Foon makin akrab, dan sang majikan memendam perasaan lebih dari persahabatan terhadap pembantunya. Namun Foon menolak cinta Wan karena mereka berdua sama-sama perempuan. Foon kemudian jatuh cinta pada lelaki miskin di desa itu dan hamil di luar nikah. Ketika Foon sakit keras akibat aborsi, Wan menyelamatkan dan merawat Foon. Dan ketika Wan dikhianati suaminya, kepada Foon-lah Wan berpaling. Cinta mereka begitu besar dan sudah ditakdirkan satu sama lain hingga perpisahan dan perang akibat kedatangan tentara Jepang pun tak sanggup memudarkannya.

Tampilan flashback dalam Intimates membantu penonton memahami kisah pararel cinta moderen Wai dan calon suaminya yang tak kunjung melamar versus cinta Wan dan Foon pada zaman “susah” di Cina. Alur semacam itu pun saling mendukung dalam film yang panjangnya lebih dari dua jam ini.

Intimates adalah drama tingkat tinggi dengan penampilan luar biasa aktris-aktrisnya, sekali lagi penampilan apik Carina Lau patut diacungi jempol. Adegan percintaan antara Wan dan Foon digarap dengan lembut dan halus, menyisakan rasa manis bagi penonton. Dan pada akhirnya film ini ditutup dengan mempertemukan masa lalu dan masa kini pada akhir sebuah perjalanan.


@Alex, Rahasia Bulan, 2007

10:41 PM

Tanggal Kedaluwarsa

Posted by alex |

Seorang sahabat baik di kantor mengutip cerita yang baru dibacanya. Begini kisahnya,
Seorang gadis remaja berusia 16 tahun berlari masuk ke kamarnya dan menangis meraung-raung. Ada apakah gerangan? Oh, ternyata ayah si gadis ingin menikahkannya dengan lelaki yang usianya 2 kali lipat usianya. Dan jelas gadis itu menolak. Hari gini dipaksa kawin sama lelaki tua? Emangnya Sitti Nurbaya?

Sahabat saya menutup bukunya lalu berkata, “Habis baca bagian ini gue kepingin lempar tuh buku.”
“Kenapa?” tanya saya bingung.
“Tersinggung gue!”
Saya makin bingung. “Heh?”
“Dua kali lipat umurnya kan 32 tahun. Lebih muda daripada gue, lagi. Tiba-tiba gue jadi berasa tua...”
Kami pun ngakak bersama-sama.

Sebagai seorang lesbian, pada saat usia tiga puluhan ini, saya tidak merasakan bahwa saya sudah “tua”. Saya malah merasa hidup saya justru baru memulai suatu era baru. Suatu usia matang, yang menjadikan saya lesbian bijaksana dan jadi idola lesbian-lesbian muda, huahahaha.... *bercanda.*

Seorang sahabat lesbian yang usianya sudah nyaris mendekati 40 beberapa hari lalu meng-SMS saya, menyatakan bahwa dia mau memperkenalkan saya dengan pacar barunya yang berumur 26 tahun. Buset deh. Kebayang nggak sih kalo dia cewek straight usia 40-an? Kalo cewek straight seusia sahabat saya pacaran sama cowok seumuran gitu udah dibilang tante girang doyan berondong.

Buat perempuan heteroseksual usia 30-an sudah memasuki usia sulit untuk mencari pacar. Banyak yang akhirnya mencari cowok bule atau duda karena lelaki lajang berusia di atas 35 tahun kalau tidak gay konon biasanya cowok bermasalah---Ini katanya, lho-red) Buat perempuan lesbian, banyak yang dalam usia 30-an masih beredar alias masih mencari-cari pacar dengan aktif.

Lampu kuning sudah menyala buat perempuan hetero pada usia 30-an, terutama yang belum menikah. Salah satu hal adalah karena pandangan bahwa perempuan seharusnya menikah dan punya anak. Lampu kuning bakal lebih terang lagi jika usia perempuan sudah di atas 35 tahun, karena perempuan sudah memasuki usia rawan melahirkan. Dan pada usia 40 tahun, bisa dibilang perempuan (straight) memasuki masa kedaluwarsanya.

"Lex, Lex, kok bengong?" Hampir saya lupa pada sahabat saya yang wajahnya menampilkan curhat mode on.
"Sori, tadi ngelamun, ngitungin umur, hehehe..."
"Cariin gue pacar dong..."
"Lo pikir gue germo?"
"Nggak lah, germo kan dibayar, elo kan nggak."
Saya nyengir sambil menggerutu, "Kampret!"
Akhirnya sahabat saya bilang gini, “Eh, gimana kalo gini, gue sama elo aja. Gue rela deh pacaran sama elo, diduain sama Lakhsmi gue juga mau. Daripada nggak punya sapa-sapa.... Mau ya, mau, kan?”
Saya menampilkan wajah jijik. "Idih? Ama lo? Lo pikir udah nggak ada lesbian lagi di muka bumi ini, sampe mesti pacaran sama elo? Secara gue punya yayang yang lebih seksi dan bahenol daripada elo?"
Sahabat saya ngakak setengah mati. "Dasar kuya!" katanya, sambil melempar buku yang dipegangnya ke arah kepala saya.
Wakakakak.... beginilah yang terjadi di kantor jika karyawannya belum ngopi pagi.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

5:12 PM

5 Alasan untuk Menonton TV

Posted by alex |

Emmy Award, penghargaan untuk serial dan tayangan televisi baru saja lewat. Dan bulan September biasanya serial-serial TV di Amerika masuk tayangan musim gugur. Hm, sebagai maniak TV, saya ingin berbagi kecintaan dan alasan saya nangkring di depan TV. Walaupun serial-serial ini tidak mengandung unsur lesbian, tapi perempuan-perempuan cantik di sini bisa jadi alasan bagus untuk menontonnya.

1. Brainy Chicks with Guns
Hm, saya teringat masa tahun 1990-an ketika SCTV menayangkan The X-Files, dengan duo Mulder dan Scully. Dulu saya tergila-gila pada keseriusan Scully... dan bete ketika Scully dan Mulder dibuat jadian. Kini pada era tahun 2000an, muncul agen-agen FBI atau polisi perempuan yang cerdas dan tangguh. Sebut saja serial seperti Law & Order: SVU, CSI, dan yang terbaru adalah Bones.


Law & Order (Special Victim Unit) adalah spin-off dari Law & Order: Criminal Intent yang ceritanya terpusat pada kejahatan seksual. Serial ini sudah masuk season 9 sejak ditayangkan pertama kali tahun 1999. Season-season awalnya pernah diputar di RCTI dan kini penggemarnya masih bisa nonton di TV berlangganan, Star World. Alasan saya menonton: Mariska Hargitay yang berperan sebagai Det. Olivia Benson. Pada Emmy Award 2007 dia memperoleh nominasi untuk Aktris Drama Terbaik.



CSI – Las Vegas. Ini adalah CSI favorit saya, walaupun saya juga tidak ketinggalan menyaksikan CSI – Miami dan CSI – New York. CSI berkisah tentang petugas forensik unit TKP yang berusaha menyingkap kasus-kasus pembunuhan rumit. Saat ini CSI – Las Vegas sudah memasuki season 8 pada bulan September 2007. Dua karakter jagoan perempuan yang paling saya suka adalah Catherine Willows (Marg Helgenberger): Orang kedua dalam tim CSI yang pernah jadi penari eksotis di kelab malam di Las Vegas.

Dan Sara Sidle (Jorja Fox): Sara adalah CSI Level III di LVPD yang terobsesi pada pekerjaannya. Pada musim tayang ketujuh, Sara menjalin asmara dengan Grissom, atasannya, dan pada akhir musim tayang terakhir berada dalam kondisi antara hidup/mati terimpit mobil. Keadaannya masih belum diketahui karena Jorja Fox yang berperan sebagai Sara mengalami masalah kontrak dengan CBS yang menayangkan serial ini. Sebelum berperan sebagai Sara, Jorja pernah berperan sebagai Dr. Maggie Doyle yang biseksual di serial ER.

Bones: Ini sebenarnya masih tayangan baru karena baru akan tayang season ke-3 pada September 2007. Alasan saya menontonnya? Yah, saya penggemar David Boreanaz, secara saya penggemar serial Buffy gitu lhooo... Tapi setelah saya nonton, saya jadi jatuh hati pada Dr. Temperance Brennan yang diperankan oleh Emily Deschanel. Dr. Brennan adalah ahli forensik antropolog yang berpasangan dengan Agen Booth (David Boreanaz). Saya baru beberapa kali nonton film ini, dan saya telat tidak nonton dari awal, tapi saya akan mencari DVD-nya karena dokter, eh, doktor Ph.D yang cantik nan pintar ini.


2. Need Heroes?
Heroes: Oke deh, saya ngaku, saya nonton ini karena Claire Bennet (Hayden Patinierre). Dia cheerleader yang paling HOT dengan kemampuannya untuk menyembuhkan diri sendiri! Rasanya saya berdosa melihat gadis abege 18 tahun ini di TV dengan segala pikiran saya yang ehem, hehehe. Sori, :p

Selain Hayden, ada Ali Carter yang berperan sebagai Niki Sanders yang juga punya kekuatan super dan kepribadian ganda. Pepaduan yang pas buat saya. Selain cewek-ceweknya yang cantik, pemeran-pemeran cowoknya juga cakep. Heroes merupakan serial TV yang lagi “in” dengan promosi besar-besaran, berkisah tentang manusia-manusia dengan kekuatan super yang diburu pembunuh berantai dan berusaha menyelamatkan bumi dari ledakan nuklir.

Kata teman-teman kantor, kalo nggak nonton Heroes, elo nggak gaul, hehehe.... TransTV menanyangkan serial ini pada pukul 18.00, saya nggak tahu gimana ratingnya, karena serial ini mesti bersaing dengan sinetron stripping, tapi saya berharap, serial ini tetap ditayangkan untuk season-season selanjutnya.

3. Sexy Doctors



Grey's Anatomy:
Sebagai penonton setia ER dan Chicago Hope, saya menantikan serial yang satu ini. Ceritanya berpusat pada kehidupan Meredith Grey (Ellen Pompeo), putri ahli bedah terkenal, yang menjadi dokter magang di Seattle Grace Hospital. Di sana dia bersahabat dengan dokter-dokter magang lainnya Cristina Yang (Sandra Oh), Isobel "Izzie" Stevens (Katherine Heigl), dan George O'Malley (T.R Knight). Meredith, Cristina, dan Izzie adalah dokter-dokter muda yang seksi dan cantik dengan segala problematika hidup.



Serial Grey’s Anatomy yang juga serial favorit Bill Clinton, sempat menarik perhatian media karena salah satu pemeran dalam serial ini Isaiah Washington mengatai T.R Knight sebagai “faggot”. T.R. Knight sendiri yang memang gay yang sudah coming out. Walaupun sudah meminta maaf akibat pernyataan yang kasar tersebut, produser memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Isaiah Washington untuk musim tayang keempat yang mulai tahun 2007 ini.

4. Suburban Wives

Desperate Housewives bisa dibilang masuk kategori opera sabun. Ceritanya yang ngalor-ngidul dengan hubungan cinta antara tokoh-tokohnya tetap menarik untuk dilihat. Bersetting di tempat fiktif Wisteria Lane, hidup perempuan-perempuan cantik bertetangga yang terhubung melalui kematian mengejutkan salah satu dari ibu rumah tangga yang juga tetangga mereka. Pada ibu rumah tangga cantik ini adalah: Susan (Teri Hatcher) (Lynette) Felicity Huffman, Bree (Marcia Cross), Gabrielle (Eva Longoria), dan Edie (Nicollette Sheridan).

Sejak pertama kali tayang tahun 2004, serial ini sering mendapat berbagai nominasi dan penghargaan Emmy dan Golden Globe. Ratusan juta penonton di seluruh dunia diperkirakan telah menonton tayangan yang sekarang masuk musim tayang keempat.

5. Funny Lady

30 Rock: Alasan saya menonton serial ini adalah Tina Fey. Saya sudah jatuh cinta pada Tina Fey sejak dia di SNL, eh, Saturday Night Live. Tina adalah wanita terlucu kedua di muka bumi ini, setelah Ellen Degeneres. Selain sebagai produser, Tina berperan sebagai Liz Lemon, pemeran utama serial ini. 30 Rock berkisah tentang kehidupan di jaringan TV NBC, dengan Liz Lemon sebagai penulis kepala serial sitkom. Karakter-karakter manusia yang unik, gila, dan kocak ada di serial ini. Alex Baldwin juga muncul sebagai Jack Donaghy, bos Liz yang licin. Ada satu episode yang kocak banget waktu Liz disangka lesbian oleh Jack dan diatur kencan buta dengan seorang perempuan lesbian sahabat bosnya itu. Pokoknya kacau banget deh.

Meskipun baru ditayangkan satu season, serial ini memenangkan Emmy Award 2007 sebagai serial komedi terbaik.

Oke deh, itulah beberapa serial di antara tontonan yang membuat saya betah berlama-lama mengolahragakan jemari dan mata saya di depan TV. Selamat menonton!

@Alex, Rahasia Bulan, 2007

10:29 AM

Uban

Posted by alex |

Ada berhelai-helai uban yang terlihat di rambut saya ketika saya bercermin barusan. Uban itu tampak tanpa saya perlu repot-repot menyibakkan rambut. O.M.G!

Sesampainya di ruang kerja, saya bertanya pada sekretaris, "Keliatan nggak?"
"Apa, Mbak?" tanyanya bingung.
"Uban saya."
"Hm..." Sang sekretaris tampak mengamati rambut saya dengan serius. "Perlu jawaban jujur ya, mbak?"
Gubrak!

"Udah, semir aja, repot amat sih," tukas sahabat saya di kantor ketika makan siang.
Sambil mengunyah, saya menjawab, "Percuma, nanti balik lagi."
"Iya, bener juga. Bukannya rambut lo baru disemir?"
"Bo, jangan pake kata semir, napa sih?"
"Emang kenapa?"
"Lo kata sepatu disemir? Diwarnain gitu lho, biar lebih bermartabat. Kalau disemir tuh kayak rambut nenek-nenek. Lagian rambut gue kemarin kan diwarnain merah gitu lhoooo... Bukan diwarnain hitam seperti nenek-nenek nutupin uban."
Sahabat saya hanya nyengir lebar mendengar, "Bukannya itu alasan lo nyemir, eh warnain?"
Uh, cape deh.

"Apaan sih ribut?" tanya seorang bos saya.
"Itu lho, mbak, Alex lagi krisis paruh baya karena uban."
Mbak bos memandangi rambut saya sejenak. "Oh, uban."
"Haloooo....??? Nggak ada yang peduli gitu ya sama perasaan gue, hiks."
Sambil berlalu menjauh, bos saya berkata, "Tenang aja, tren untuk tahun depan, yang dicari adalah perempuan matang dan mandiri."
Grrrr...... segera tawa pecah di antara kami. Berbagai komentar muncul, "Mengkal... matang... emang mangga?"
"Nggak apa-apa, Lex. Biar lo bisa jadi tokoh panutan lesbian-lesbian muda."
"Biar punya alasan cari berondong lesbi, hueheheh....," tukas sahabat saya yang lain.
Ugh, saya mencibir. "Biar deh ubanan, yang penting berjiwa muda, punya yayang yang okeh, dan jadi tren tahun depan, hahaha...."

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Nggak tau kenapa sejak dulu saya nggak terlalu berminat pada film Jepang dan Korea, mungkin karena film dari dua negara itu biasanya mempunyai alur ceritanya yang lambaaaat, yang saking lambatnya bisa disalip mobil lain, hehehe. Nonton Love My Life saya kembali diingatkan dengan alur lambat ala film Jepang ini.

Love My Life
bercerita tentang mahasiswi 18 tahun bernama Ichiko (Rei Yoshii) yang menjalin hubungan lesbian dengan Eri (Asami Imajuku), yang juga masih berstatus anak kuliahan meskipun Eri tidak pernah diceritakan berada di kampus. Ichiko tinggal bersama ayahnya setelah kematian ibunya 7 tahun lalu. Ichiko kemudian memutuskan untuk memperkenalkan Eri sebagai kekasihnya. Sang ayah, yang bekerja sebagai penerjemah buku, tampak cool menerima keadaan putrinya yang lesbian. Malah gantian Ichiko yang shock karena ayahnya mengungkap rahasia keluarga. Ayah dan ibu Ichiko ternyata sepasang gay dan lesbian yang memutuskan menikah karena kepingin punya anak. Dan dari “pernikahan semu” itu lahirlah Ichiko. Dari topik ini, saya pikir, wah lumayan bagus juga nih film.

Tapi ternyata berangkat dari sana, topik ini tidak berkembang sesuai harapan. Entah bagaimana, saat berdua di pantai, Ichiko dan Eri bisa kebetulan bertemu dengan mantan kekasih ibu Ichiko dan kekasihnya yang sekarang. Ichiko juga kemudian bertemu dengan kekasih gay ayahnya. Saya yakin pertemuan itu penting, tapi nggak ngerti di mana pentingnya karena laju film kemudian melambat drastis, bahkan kalau bisa dibilang cuma muter-muter di sekitar hidup Ichiko. Dan saya juga nggak ngerti kenapa bapaknya Ichiko tampak "obses" sama terong dan ditampilkan gay hanya sebatas sering melihat majalah berisi gambar lelaki. Oya, satu hal yang saya nggak suka dari film Jepang adalah cewek-ceweknya sering banget tersenyum pamer gigi dengan mata terbelalak lebar. Dan itu yang dilakukan Ichiko hampir sepanjang film. Di antara Ichiko dan Eri saya lebih suka penampilan akting Isami Imajuku sebagai Eri yang tampak cool, walaupun dia tampak "tua" sebagai mahasiswi, secara dia aslinya berumur 29 tahun.

Mendekati ending, saya dan partner makin banyak ribut mencela film ini. “Kenapa juga sih Ichiko mesti lari ala pelari maraton menemui Eri? Kenapa dia nggak balas aja SMSnya? Atau balas nelepon? Atau naik taksi kek, atau apalah?” partner mulai mengajukan rentetan pertanyaan.
“Mungkin dia nggak punya pulsa, Say. Dan dompetnya ketinggalan, jadi dia nggak bisa naik taksi.”
“Duh, sok dramatis deh pake lari sampai dua menit. Si Eri udah bosan nungguin dia,” partner masih berkomentar. “Biar ada drama dikit, Say. Sejak awal nih film kan datar aja, mungkin biar ada serunya dikit gitu, hehehe,” saya menjawab ngawur.


Memang sih Love My Life tidak menampilkan ketegangan tingkat tinggi, kisahnya sendiri memang cuma seputar hidup Ichiko, bersama kekasih, orangtua, dan sahabat-sahabatnya. Jadi kalau penonton film ini mulai bosan pada sekitar setengah jam film ini dan bertanya-tanya, “Mana nih adegannya? Katanya nih film 18+?” Silakan langsung fast forward ke jam ke-1 menit ke-28. Di situ adegan yang dicari-cari, beberapa menit sebelum film berakhir.

Sepanjang menonton film ini saya yakin seyakin-yakinnya film ini dibuat oleh lesbian. Fiuh, aroma lesbinya kental sekali. Ternyata benar. Love My Life diangkat dari yuri---manga yang ceritanya mengandung unsur lesbian---karya Ebine Yamaji, lesbian yang sudah coming out. Beberapa karya komik Ebine Yamaji selain Love My Life, juga bertema lesbian dan Ebine Yamaji dianggap sebagai salah satu seniman manga yuri terbaik di Jepang. Buat saya sih film ini masuk kategori “ya gitu deh”, tapi kalau Anda lesbian penggemar manga dan penyuka drama Jepang, Love My Life bisa jadi pilihan tontonan yang sesuai untuk Anda.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

9:29 AM

Q Film Festival, Penting Nggak Sih?

Posted by alex |

“Lex, lo nonton QFF nggak?” Pertanyaan itu muncul dari beberapa sahabat saya. Mulai dari sahabat gay, lesbian, hingga sahabat hetero. Tahun ini adalah tahun keenam diadakannya QFF alias Queer Film Festival di Jakarta, di mana di ajang ini diputar film-film pilihan bertema LGBT. Sejak dua tahun lalu, festival ini juga merambah ke luar Jakarta, yaitu Bali dan Yogyakarta. Saya, selalu ikut festival ini sejak tahun pertama. Kata “ikut” di sini berarti nonton. Mulai dari festival ini memutar film yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan hingga makin akbar dan jadi liputan media seperti sekarang.

Semakin banyak film yang diputar, anehnya makin sedikit film yang saya tonton jika saya membuat perbandingan jumlah film yang diputar vs film yang ditonton. Kenapa ya bisa begitu? Mungkin karena acara ini sudah jadi rutinitas tiap tahun sehingga kurang spesial lagi? Mungkin karena film-film yang diputar makin mudah dicari DVD-nya? Mungkin karena saya mulai taken for granted terhadap acara ini? Hhh, entahlah.

Jangan salah, saya tetap bersemangat untuk hadir. Berdandan rapi, berjanji temu dengan beberapa sahabat untuk ketemu di Opening QFF yang diadakan di Blitz Megaplex, Jumat 25 Agustus 2007. Opening begitu meriah, Blitz di-queer-kan oleh QFF. Ramai suasana dengan sejumlah selebriti, dan sebagian besar yang hadir di sana adalah gay/lesbian/transgender, ditambah sejumlah sahabat hetero yang GLBT-friendly. Makin meriah dengan hiburan musik yang menggelegar.

Apakah saya merasa at home? Entahlah, ada perasaan-perasaan tidak berada di "rumah" pada tahun ini. Saya merasa tersesat dan ingin pulang, sebagaimana perasaan yang saya rasakan ketika hadir ke perta pernikahan saudara sepupu yang tidak terlalu saya kenal dengan baik. Ah, saya putuskan setelah tugas saya selesai, yaitu setelah bertemu teman-teman yang sudah janjian ketemu di sana, saya akan langsung cabut.

Tiktoktiktok. Acara utama pemutaran film pun sebentar lagi akan dimulai. Saya sudah memutuskan tidak akan nonton, karena sahabat gay saya bilang, “Nggak usah nonton film ini deh, lo bisa ketiduran. Boring abis.” Okelah, bagus, saya akan pulang. Selagi berpamitan dengan sahabat-sahabat di sana, bahu saya ditepuk oleh lelaki gay sahabat saya sesama mantan volunteer di QFF dulu.

“Sombong ya, nggak balas e-mailku,” katanya. Sahabat saya, sebut saja namanya Handi melanjutkan, “Mau nonton?”
“Nggak, aku mau pulang bentar lagi. Kamu? Kok belum masuk?”
“Aku udah nonton film ini. Tapi nanti jam 10 mau nonton Rush Hour sama yayangku dan adiknya.”
Handi mengeluarkan katalog QFF, “Nonton film apa aja tahun ini?”
Sambil ikutan browsing daftar film dalam katalog, saya menjawab, “Nggak banyak sih. Lebih ikut acara off-air-nya.”
“Ikutan juga tahun ini?” tanyanya lagi.
“Iya, dua,” kata saya, sambil menunjuk acara yang dimaksud.
Handi dengan bersemangat berceloteh tentang film-film yang ingin ditontonnya, sehingga saya pun tertular semangatnya hingga lupa akan keinginan saya untuk pulang

Mendadak Handi mendongak, memandang ke sekeliling ruangan. “Aku senang sekali lho acara ini. Coba kamu lihat. Gay, lesbian, trans, straight, semuanya beredar di ruangan ini.”

Saya memandang ke ruangan yang luas tersebut. Suasananya tidak seramai satu jam sebelumnya, namun kita masih bisa melihat tamu-tamu Q dan tamu-tamu Blitz yang datang untuk nonton.

“Kita nggak perlulah demo teriak-teriak di jalanan minta pengakuan. Cara ini lebih efektif. Kamu liat, gimana kita tuh secara nggak langsung mendapat pengakuan. Kita ada. Di sini. Di tempat publik. Punya acara sendiri.” Saya terdiam, perlahan mencerna kata-kata Handi.

“Lihat katalog ini, lihat makin banyak sponsornya. Lihat bagaimana perusahaan-perusahaan komersil memasang iklan di sini. Mereka melihat kita sebagai aset penting yang perlu “digandeng”.

Saya mengambil napas dalam-dalam memandang Handi yang masih penuh semangat bercerita. Perlahan-lahan saya sadar saya tahu apa yang membuat saya lupa dan tersesat di tempat ini. Seperti kisah Peter Pan yang bisa terbang hanya dengan berpikir bahagia, saya mungkin terlalu lama tinggal di Neverland atau mungkin tak sadar bahwa saya sudah kembali ke alam realitas dan umur saya pun bertambah tidak seperti Peter Pan yang tetap jadi anak-anak. Saya tidak bisa terbang lagi, namun Handi meniupkan debu peri pada saya sehingga saya pun kembali terbang dan ingat alasan saya berada di Neverland.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Seorang Bre Redana pernah menulis tentang Jodie Foster di harian Kompas pada tahun 2002. Hingga saat ini, tulisan berjudul “Jodie Foster: Setelah Hujan Menyiram LA...” merupakan tulisan yang masih terngiang dalam benak saya. Dalam tulisan itu, Jodie Foster yang biasanya tampil sebagai sosok perempuan tangguh dikisahkan sebagai sosok lembut seorang perempuan dan ibu yang rela melakukan apa saja demi keluarga dan anak-anaknya.

Perannya sebagai ibu dalam dunia realitas pula yang membuatnya mengambil peran sebagai ibu dalam film. Lihatlah Panic Room dan Flightplan, dua film yang dikritik habis, di mana dia berperan sebagai ibu yang berusaha menyelamatkan dan melindungi anak perempuannya. Sehabis melahirkan, Jodie mundur sejenak dari dunia film tanpa takut namanya akan dilupakan orang. Ia memilih menutup perusahaan filmnya, lebih banyak di rumah, mengurus anak, dan mengajak anjingnya jalan-jalan.

Jodie Foster adalah ibu tunggal dari Charles dan Kit yang lahir dari rahimnya sendiri pada tahun 1998 dan 2001. Ia tidak pernah memberitahu siapa ayah kandung dari kedua putranya atau mendiskusikan tentang kehidupan pribadinya. Orang boleh menebak-nebak bahwa Jodie Foster tinggal bersama Cydney Bernard, partnernya, yang sudah hidup bersamanya lebih dari sepuluh tahun, tapi Jodie tetap tutup mulut. Terserah orang mau bilang apa, selama privasinya tidak diganggu.

Privasi adalah hal yang teramat mahal bagi perempuan bernama asli Alicia Christian Foster ini. Pada awal tahun 1980-an, Jodie Foster yang pada masa itu kerap dipuji aktingnya dalam film Taxi Driver sebagai pelacur cilik, diteror dan dikuntit oleh seorang pria bernama John Hinckley Jr., Lelaki itu adalah penggemar fanatik dan terobsesi pada Jodie, bahkan Hinckley juga membuntuti Jodie hingga di kampusnya di Yale. Pada tanggal 30 Maret 1981, Hinckley menembak presiden Ronald Reagan dan tiga orang lainnya untuk membuat kagum Jodie Foster.

Hidup perempuan kelahiran 19 November 1962 ini bisa dibilang selalu jadi sorotan sejak kanak-kanak, karena sejak usia 8 tahun Jodie sudah menjadi aktris cilik. Berasal dari keluarga kaya, namun ditinggal ayah kandungnya sejak masih dalam kandungan, Jodie dan tiga kakaknya hidup dalam asuhan ibunya yang menjadi produser di LA.

Selain Taxi Driver, beberapa peran lain juga melambungkan namanya hingga memperoleh berbagai penghargaan. Perannya sebagai perempuan yang diperkosa beramai-ramai dalam The Accused membuahkan gelar aktris terbaik dalam Oscar dan Golden Globe 1988. Gelar ganda aktris terbaik Oscar dan Golden Globe juga diperoleh Jodie ketika dia berperan sebagai Clarice Starling, agen FBI yang dingin, dalam The Silence of the Lambs.

Menonton film-film yang diperankan Jodie Foster, kita belajar tentang dirinya. Jodie bukanlah aktris yang memilih film yang ingin diperankannya atas dasar uang atau kemegahan diri. Film-filmnya kebanyakan menyentuh sisi pilihan manusia dalam hidup. Ia tidak pernah berperan sebagai perempuan cengeng dan lemah.

Tangguh, namun tetap menampilkan sisi keperempuanan, itulah peran-peran dewasa Jodie Foster. Sebut saja film-film seperti Inside Man, The Silence of the Lambs, dan Contact. Versi yang menampilkan sisi perempuan lebih besar (namun tetap tangguh) bisa dilihat di Sommersby, Maverick, dan Anna and The King (btw, film ini aslinya berjudul The King and I, tapi kehadiran Jodie Foster dalam film ini membuat “Anna” mendapat penekanan di depan). Nalurinya sebagai ibu muncul dalam Little Man Tate (yang juga disutradarainya), Flightplan, dan Panic Room. Dalam Contact, kita tahu bagaimana Jodie bukanlah penganut agama tertentu namun menghormati keberadaan agama. Di dalam film itu, ia berperan sebagai Dr. Ellie Aroway yang atheis dan menemukan arti "Tuhan" dalam jagat raya.

Jodie Foster juga dikenal sebagai aktris yang cerdas. Lulus B.A dalam bidang literatur dari Yale dengan magna cum laude. Dan pada tahun 2006, University of Pennsylvania memberinya gelar Doctor of Arts (honoris causa) atas prestasinya dalam film, untuk bidang akting dan penyutradaraan.



Dalam film yang akan rilis September 2007, The Brave One, kita juga bakal melihat ketangguhan seorang Jodie Foster sebagai perempuan yang memutuskan untuk melakukan aksi balas dendam setelah kematian kekasihnya.

Kini pada usia 44 tahun---walaupun memutuskan lebih fokus pada keluarga, bersikap pemilih dalam film yang ingin dia perankan, sutradarai, dan produseri, menutup diri dari publisitas kehidupan pribadinya---Jodie Foster masihlah salah satu perempuan tangguh di Hollywood.

Photo The Brave One: http://movies.yahoo.com
Photo Jodie Foster: Jamie McCarthy, Wireimage.com
@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe