Ini adalah film buatan Jerman tahun 2005 tentang perempuan lesbian yang harus lari dari Iran karena ketahuan menjalin hubungan cinta dengan istri orang. Fariba (Jasmine Tabatabai) mendarat di Jerman dari Teheran tanpa surat-surat yang lengkap dan berharap bisa mendapatkan suaka politik di sana. Fariba ditangkap di bandara dan harus tinggal di penjara imigrasi menunggu proses deportasi. Di penjara, Fariba bertemu dengan Siamak, lelaki muda yang kabur dari Iran karena alasan politis. Keduanya menjalin persahabatan singkat karena Siamak ternyata memutuskan untuk bunuh diri sebelum statusnya sebagai pengungsi suaka dikabulkan.

Mendapati Siamak tewas, Fariba yang terancam deportasi karena tidak punya kasus kuat untuk mengajukan suaka, memanfaatkan identitas Siamak sebagai laki-laki untuk bisa tetap tinggal di Jerman. Mulailah hidup Fariba berubah 180 derajat menjadi Siamak. Dia memangkas rambutnya dan membungkus payudaranya erat-erat dengan kain. Dia harus berbagi kamar dengan lelaki Jerman dan terpaksa jarang mandi agar tidak ketahuan identitasnya sebagai perempuan.

Mau tak mau film ini mengingatkan saya pada Boy’s Don’t Cry. Apalagi ketika Siamak mulai bekerja di pabrik dan bersahabat dengan para buruh pabrik yang tingkah polahnya mirip pria-pria sahabat Brandon Teena dalam Boy’s Don’t Cry. Di pabrik, Siamak berkenalan dengan Anne (Anneke Kim Sarnau), single mom yang naksir pada perhatian dan keluguan Siamak.

Sayangnya film ini tidak mengembangkan karakter Fariba alias Siamak yang cerdas. Saat tinggal di Iran, Fariba adalah penerjemah dan fasih berbicara dalam 3 bahasa. Kepintaran Fariba ini hanya muncul ketika dia memberi jawaban TTS pada penjaga. Unveiled juga mengingatkan saya pada novel grafis Persepolis dalam versi yang berbeda, atau mungkin segala cerita tentang perempuan yang kabur dari Iran selalu mengingatkan saya pada karya memoar Marjane Satrapi itu? :)

Kedua aktris yang berperan dalam film berbahasa Jerman dan Farsi ini memiliki chemistry yang pas. Adegan ketika Anne perlahan-lahan membuka pembungkus kain dada Fariba saat mereka akan bercinta tampak begitu indah, seakan cinta tidak perlu dibatasi jenis kelamin. Walaupun dalam hemat saya, saya yakin Anne sudah punya “perasaan” bahwa Siamak bukanlah laki-laki sejak dia memegang tangan Siamak yang lembut di dalam mobil.

Film ini adalah karya kedua sutradara Angelina Maccorone, yang berasal dari Jerman. Ide film ini digodok selama empat tahun bersama Jasmine Tabatabai yang berperan sebagai Fariba/Siamak. Jasmine adalah keturunan Jerman/Iran yang juga meninggalkan Iran pada masa kejatuhan Shah Iran akhir tahun 1970-an hingga akhirnya menetap bersama sang ibu di dekat Munich, Jerman. Selain sebagai aktris, ia juga dikenal sebagai penyanyi di Jerman.

Unveiled bukanlah film politik atau berusaha mengangkat isu-isu homoseksual di negara Timur Tengah. Film ini mengambil tema tersebut sebagai bagian dari suatu cerita tentang cinta yang tak sampai. Tentang orang yang harus dipisahkan dari rumah dan cinta karena alasan politik dan moral.


@Alex, RahasiaBulan, 2007

5:19 PM

Yang Tercecer dari Fun With Writing

Posted by alex |

Bagaimana cara menuangkan kata-kata yang ada di dalam kepala ke dalam tulisan? Bagaimana melanjutkan tulisan yang tak selesai? Bagaimana mengatasi writer's block? Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dalam Kongkow Lez yang diadakan oleh IPP pada Sabtu sore 26 Mei 2007.

Ah, saya jadi teringat pada novel saya yang tak pernah selesai. Berbagai tips dari pengarang-pengarang terkenal sudah saya coba, tapi hasilnya nihil. Setiap kali selesai menulis, saya selalu menganggap tulisan saya tidak cukup bagus. Pernah ada satu novel saya yang “nyangkut” sejak tahun 2000, dan ketika saya baca lagi saat ini, saya malah ketawa sendiri membaca tulisan saya yang tak berjiwa itu. Sejujurnya, saya tidak perlu segala tips atau trik dari pengarang-pengarang itu, saya sudah tahu jawabannya. Hingga satu titik saya menyadari bahwa saya bukanlah Jonathan Stroud, dan tidak punya bakat yang cukup besar untuk menjadi penulis fiksi profesional. Saya putuskan untuk menjadi blogger yang baik dan semoga bisa menjadi blogger profesional suatu hari nanti. Maklumlah, saya orang yang percaya bahwa untuk menjadi penulis besar dibutuhkan bakat yang juga besar.

Itulah pernyataan yang tak sempat saya nyatakan dalam Fun with Writing yang diadakan oleh IPP dalam salah satu Kongkow Lez-nya. Acara tersebut dihadiri oleh Cok Sawitri (cerpenis, novelis, dan seniman teater asal Bali), Clara Ng (novelis, cerpenis, penulis buku anak-anak), Is Mujiarso (pengamat sastra), Hetih Rusli (editor). Acara berlangsung fun, seru, dan menyenangkan. Jika gelap belum menjelang, mungkin acara tak juga usai. Saya tidak akan bercerita tentang jalannya acara, untuk itu silakan baca blog sahabat saya, Mumu.

Hari itu saya gembira akhirnya bisa bertemu dengan Cok Sawitri, yang namanya cuma saya pernah saya dengar-dengar sambil lalu. Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya bertanya kiri-kanan siapa sih Cok Sawitri, dan kesimpulannya dia adalah pengarang, penyair, dan pemain teater hebat, dan saya jadi malu karena tidak kenal pada kebesaran nama beliau. Juga Clara Ng, walaupun saya sudah mengenal beliau, dalam beberapa kali acara creative writing bersamanya saya selalu mendapat pelajaran baru darinya. Clara Ng adalah jenis penulis yang haus untuk belajar, di sana saya melihat bagaimana dia membagi ilmu dan belajar bersama.

Dalam setiap acara diskusi creative writing atau how to be a writer, saya selalu mendapat banyak pelajaran untuk menjadikan saya penulis yang baik atau editor yang lebih bijak. Selain “merasa” tidak punya bakat cukup besar untuk menjadi penulis, saya juga tidak bisa menjawab jika ditanya, “Kenapa kamu ingin jadi penulis?” Sejujurnya, saya tidak merasa terpanggil jadi penulis. Tidak ada kegelisahan besar dalam diri saya yang harus saya salurkan melalui tulisan. Cukup melalui media blog, saya sudah puas. Menjadi blogger, memberikan saya kesempatan yang amat besar untuk menuangkan begitu banyak ide yang berkecamuk dalam kepala saya. Menjadi blogger yang anonim memberikan saya keleluasaan yang lebih luas untuk mengekspresikan diri.

Menjelang akhir acara, tampak antusiasme beberapa peserta yang punya niatan menerbitkan novel/karya bertema lesbian. Hm, mungkin saya bisa memberi satu-dua tips dalam hal ini... secara alter ego saya sebagai editor hadir dalam acara Fun with Writing tersebut :p. Agh, cukup sudah novel atau kisah lesbian penuh derita tak berujung. Lebih baik kaukirimkan saja cerita semacam itu ke redaksi “Oh Mama, Oh Papa.” Atau jangan lagi kaujejali pembaca Indonesia dengan cerita pengalaman hidup yang kaupikir ceritamu adalah cerita paling menarik tak ada bandingannya. Cobalah keluar dari kerangkeng itu, buatlah karya yang tak bisa ditolak oleh penerbit saking memukaunya cerita yang kaubuat.

Lihatlah bagaimana penulis sekaliber E. Annie Proulx membuat Brokeback Mountain. Belajarlah dari penulis-penulis luar negeri seperti Julie Anne Peters, Sarah Waters, atau Alison Bechdel, dll, yang karya-karyanya tidak hanya jadi bacaan “khusus lesbian”, tapi bisa diterima umum bahkan memperoleh banyak penghargaan sastra internasional. Atau belajar dari Alberthiene Endah yang membongkar ulang naskah Jangan Beri Aku Narkoba (Detik Terakhir) dari 600 halaman menjadi 248 halaman, yang akhirnya menjadi buku pemenang Adikarya Ikapi 2005. Atau belajar dari perkataan Cok Sawitri, “Gali cerita dari unsur budaya Indonesia.”

Sambil menunggu adanya novel-novel lesbian berkualitas, yang perlu dilakukan saat ini adalah membangkitkan minat baca di kalangan lesbian. Minat baca yang sebesar-besarnya dan secerdas-cerdasnya, agar pernyataan Mumu bahwa lesbian menyukai hal yang bersifat intelektual terbukti benar. Dan jika nanti makin banyak buku bertema lesbian yang terbit, mereka tidak membelinya asal tubruk cuma karena ada unsur lesbiannya walaupun ditulis asal-asalan dan sekadar mencari sensasi.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

10:36 AM

Wajah-Wajah Lesbian dalam The L Word

Posted by alex |


Setelah serial Queer as Folk dimulai tahun 2000, The L Word mungkin menjadi satu serial yang memuaskan keinginan penonton yang ingin menyaksikan serial televisi dengan karakter utama sekelompok lesbian. Sejak pertama kali ditayangkan oleh Showtime pada 18 Januari 2004, The L Word mendapat banyak perhatian tidak hanya bagi penonton lesbian, tapi juga bagi penonton heteroseksual. Kalau Sex and the City ber-setting di New York, The L Word ber-setting Los Angeles (walaupun kenyataannya shooting dilakukan di Vancouver, British Columbia) yang menceritakan kehidupan, karier, dan hubungan cinta perempuan-perempuan lesbian.

Pilot episode Season satu dimulai dengan keinginan Bette (Jennifer Beals) dan Tina (Laurel Holloman), yang kepingin punya anak melalui donor sperma. Pada saat yang sama, mereka kedatangan tetangga baru bernama Jenny (Mia Kishner)yang baru tiba di Los Angeles untuk tinggal bersama kekasihnya Tim (Eric Mabius). Tak disangka Jenny malah kemudian jatuh cinta pada Marina (Karina Lombard), pemilik kedai kopi, tempat hangout perempuan-perempuan ini.

Cerita pun mulai bergulir makin seru, seiring kita diperkenalkan dengan Shane (Katherine Moennig), penata rambut yang jadi cewek paling cool se-L Word. Dana (Erin Daniels) si pemain tenis yang masih in-the-closet dan Alice (Leisha Hailey) jurnalis yang biseksual.

Memasuki season kedua dan ketiga, muncul beberapa tokoh baru seperti Carmen (Sarah Shahi), DJ berdarah latin yang seksi dan menjalin hubungan dengan Shane. Muncul pula Helena Peabody (Rachel Shelley), yang tertarik pada Tina. Selain muncul tokoh-tokoh baru, sejumlah aktor dan aktris terkenal seperti Alan Cumming, Eric Roberts, dan Cybil Sheperd pun menjadi bintang tamu dalam serial ini.

Secara garis besar kehidupan dalam The L Word mungkin tidak jauh berbeda dengan kehidupan Ilene Chaiken, kreator dan produser eksekutif The L Word. Dalam kehidupan nyata Chaiken tinggal di L.A bersama partnernya yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari dua puluh tahun dan memiliki sepasang anak kembar.

Sejak Queer as Folk ditayangkan oleh Showtime, Chaiken sudah mengajukan ide pembuatan serial TV drama lesbian ini kepada Showtime namun idenya baru bisa terwujud pada tahun 2004. Meskipun serial The L Word mulai mendapat banyak kritik, salah satunya karena dianggap hanya mengisahkan siapa-tidur-dengan-siapa-dalam-episode-kali-ini, namun Showtime tidak ragu mengontrak serial ini untuk musim tayang kelima yang akan mulai syuting 4 Juni 2007.


Profil Pemeran The L Word

Bette Porter (JENNIFER BEALS)
Flashdance, nama Jennifer Beals sebelumnya identik dengan film tahun 1983 tersebut. Namanya sempat tenggelam pada era tahun 90-an, namun The L Word kembali mengangkat namanya dan menjadikannya ikon dalam serial ini. Jika suka Jennifer Beals, coba nonton Flashdance. Great dance, great body, great music. Jennifer Beals adalah lulusan Sastra Amerika dari Yale University, dan pernah main dalam lebih dari 50 film. Jennifer Beals juga sempat hamil pada masa syuting namun sutradara dan kameraman berhasil menutupi kehamilannya dengan baik.

Tina Kennard (LAUREL HOLLOMAN)
Ia menikah dengan Paul Macherey pada tahun 2002 dan pada akhir season 1, Laurel Holloman hamil sehingga produser The L Word harus mengubah jalan cerita dengan membuat Tina hamil. Dalam season 2, Laurel Holloman bahkan melakukan adegan panas dengan Helena (Rachel Shelley) dalam keadaan hamil tua. Pada tahun 1995, Laurel pernah berperan sebagai remaja lesbian dalam The Incredibly True Adventure of Two Girls in Love. Laurel juga dikenal sebagai biseksual.

Kit Porter (PAM GRIER)
Kit Porter adalah saudara tiri Bette, yang ternyata separuh kulit hitam. Pam Grier adalah aktris senior ini sudah berakting dalam film-film yang tidak terlalu ngetop sejak tahun 1970-an. Film paling menonjol yang pernah diperankannya adalah Jackie Brown, karya sutradara Quentin Tarantino. Ia pernah divonis menderita kanker pada tahun 1988, namun berhasil sembuh walaupun dokter menyatakan hidupnya tidak lama lagi.

Jenny Schecter (MIA KIRSHNER)
Aktris kelahiran Kanada ini mengambil jurusan sastra Rusia di McGill University, Montreal. Tahun 2006, Mia mendapat peran dalam film karya Brian De Palma, Black Dahlia sebagai aktris Elizabeth Short, yang dibunuh pada tahun 1947, dan dianggap sebagai adegan “mati” yang penting dalam film. Selain menjadi aktris, Mia Kishner juga berprofesi sebagai penulis.

Shane McCutcheon (KATHERINE MOENNIG)
Aktris ini adalah sepupu Gwyneth Paltrow. Sebelum The L Word, dia mengambil peran-peran kecil di film dan TV. Pernah diaudisi untuk peran Brandon Teena dalam Boys Don’t Cry namun gagal dan peran itu jatuh ke Hillary Swank yang akhirnya memperoleh Oscar. Sebelum The L Word, perannya dalam serial TV Young Americans sebagai Jacqueline "Jake" Pratt, cewek yang menyamar sebagai cowok di sekolah khusus putra dan jatuh cinta pada putra kepala sekolah, membuatnya mendapat peran sebagai Shane.

Dana Fairbanks (ERIN DANIELS)
Aktris ini adalah lulusan Vassar College dan menetap di New York untuk mengejar karier teaternya. Buat banyak orang, profesi Dana Fairbanks merepresentasikan petenis lesbian seperti Martina Navratilova atau Amelie Mauresmo. Pada season 3, tokoh Dana dibuat meninggal akibat kanker payudara.


Alice Pieszecki (LEISHA HAILEY)
Sebelum muncul Daniela Sea, Leisha Hailey satu-satunya aktris dalam L Word yang coming out sebagai lesbian. Pernah menjalin hubungan asmara selama beberapa tahun dengan penyanyi k.d Lang. Selain menjadi aktris, dia juga memiliki grup musik sendiri. Aktris kelahiran Okinawa ini juga pernah mendapat peran sebagai lesbian dalam film drama lesbian tahun 1997, berjudul All Over Me.

Marina (KARINA LOMBARD)
Sebelum menjadi aktris, dia memulai karier sebagai model. Ia berperan sebagai istri Brad Pitt dalam The Legend of the Falls. Di akhir season 1, tokoh Marina dihilangkan oleh produser. Namun fans begitu menggemari tokoh ini sehingga Marina muncul sebentar dalam season 4. Karina juga secara samar mengakui bahwa dirinya biseksual.


Carmen (Sarah Shahi)
Bernama asli Aahoo Jahansouzshahi, dan masih keturunan salah satu shah Iran abad-19. Semasa remaja, dia sering ikut kontes kecantikan dan berlatih karate hingga menyandang sabuk cokelat. Mantan cheerleader Dallas Cowboys ini lebih dikenal sebagai model dan namanya masuk daftar Hot 100 majalah Maxim pada tahun 2005 dan 2006. Tokoh Carmen hanya muncul di season 2 dan 3, dan dianggap sebagai tokoh lesbian terseksi di layar kaca.

Helena Peabody (Rachel Shelley)
Rachel lahir pada tanggal 25 August 1969 di Swindon, Inggis. Dia lulusan sastra Inggris dan Drama dari Sheffield University. Salah satu peran terpentingnya dalam film adalah ketika berperan sebagai Elizabeth Russell dalam film India, Lagaan sebagai gadis Inggris yang jatuh cinta pada pria India (Aamir Khan). Lagaan dianggap film penting dalam sejarah Bollywood karena menjadi film berbahasa Hindi ketiga yang dinominasikan untuk Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 2001

Moira/Max (Daniela Sea)
Bersama Leisha Hailey, Daniela Sea adalah pemeran The L Word yang sudah coming out sebagai lesbian. Ia juga dikenal sebagai anak band. Daniela dibesarkan di Malibu, California oleh orangtua seniman/hippie. Ia pergi dari rumah pada usia 16 tahun, dan melakukan perjalanan ke Asia dan Eropa, bahkan pernah tinggal di India selama delapan bulan dengan menyamar sebagai laki-laki. Daniela juga dikenal sebagai penganut agama Buddha, bisa berbahasa Polandia, dan piawai bermain beberapa alat musik.


@Alex, RahasiaBulan, 2007
NB: Sebagian tulisan ini pernah dimuat di majalah Mu-phi
Photo from: http://tv.yahoo.com/

Dua serial baru di Amerika yang akan tayang pada musim gugur tahun 2007 ini adalah The Sarah Connor Chronicles. Sarah Connor adalah perempuan tangguh dalam Terminator yang diperankan oleh Linda Hamilton (ingat dia dengan kaus dan kacamata hitam sambil membawa senapan?). Dalam serial televisi ini, peran Sarah Connor jatuh ke tangan aktris asal Inggris, Lena Headley yang pernah bermain sebagai lesbian di Imagine Me & You. Kali ini dalam The Sarah Connor Chronicles, dia berperan sebagai ibu yang mati-matian berusaha menyelamatkan putranya.


Kiri: Lena Headley, kanan: Michelle Ryan

Serial satu lagi adalah The Bionic Woman. Mungkin sebagian dari pembaca di sini masih terlalu muda untuk tahu bahwa ada masanya di Indonesia ini kita cuma punya SATU channel TV. Ya, SATU channel. TVRI. Dan pada masa gemilang TVRI, Bionic Woman pernah ditayangkan pada tahun 1980-an, dengan peran utama Lindsay Wagner yang berperan sebagai Jaime Sommers, sang cewek bionik. Kali ini pada versi tahun 2007, Jaime diperankan oleh Michelle Ryan. Tapi yang lebih saya tunggu kehadirannya adalah kemunculan bionik jahat yang diperankan oleh Katee Sackhoff. Katee sebelumnya berperan sebagai Starbuck dalam BattleStar Galactica. Katee keren banget di BSG sebagai pilot tempur tangguh yang bisa mengalahkan pilot lelaki mana pun di seantero jagat.

Gara-gara membaca berita di atas saya jadi teringat aksi-aksi cewek jagoan di televisi. Beberapa tahun terakhir, serial TV dipenuhi serial-serial jagoan lelaki seperti Jack Bauer dalam 24, atau jagoan beramai-ramai ala Heroes atau Lost. Ingatkah Anda pada Sydney Bristow? Agen ahli menyamar yang diperankan oleh Jennifer Garner? Atau mungkin ada yang masih ingat La Femme Nikita, Dark Angel, dan dua serial favorit saya Buffy the Vampire Slayer dan Xena the Warrior Princess? Setiap kali melihat cewek-cewek jagoan di TV, saya pasti langsung lengket di depan TV. Xena dan Buffy adalah dua serial yang punya penggemar setia dari kalangan nerd dan lesbian.

Entah ya, mungkin ini cuma saya aja, tapi setiap kali saya nonton serial TV dengan peran utama jagoan perempuan, dalam hati saya berharap mereka lesbian :p. Mungkin karena mereka hebat, tangguh, dan jago kelahi, dan kadang-kadang bergaya andro dan butch? Hhhh, atau mungkin saya emang cetek :p

Mari kita bahas satu per satu.

ALIAS, pada masa Jen Garner sebelum nikah dengan Ben Affleck—artinya pada season 1-3 menampilkan Sydney Bristow yang tangguh dan mendebarkan. Aksinya menghajar musuh dan penyamarannya setiap minggu begitu menggoda mata untuk tetap melihatnya. Masuk season 4 sih masih ada Jennifer Garner, cuma dia keliatan payah, apalagi pas season 5 ketika Sydney Bristow alias Jennifer Garner alias Nyonya Affleck hamil.


La Femme Nikita adalah serial yang tayang tahun 1997-2001. Nikita diperankan oleh Peta Wilson yang bertubuh jangkung, di mana ini adalah satu serial pertama di televisi yang menampilkan perempuan sebagai sosok jagoan utama. Walaupun Nikita “dipasangkan” dengan Michael dalam beberapa episode tersirat Nikita sebagai tokoh yang heterofleksibel alias jelas-jelas hetero namun menyiratkan ajakan samar dengan perempuan.


Dark Angel, ini salah satu serial yang salah asuh. Entah kenapa ceritanya jadi blah... skrip yang buruk membuat serial ini jadi dihentikan penayangannya hanya dalam dua season. Ada sih temannya tokoh utama yang lesbian, tapi saking nggak pentingnya sampai saya lupa. Namun serial ini mengangkat nama Jessica Alba sebagai sosok perempuan tangguh baru bernama Max dengan jaket kulit dan celana kulit ketat di atas motor gede...



Buffy the Vampire Slayer adalah salah satu tayangan favorit saya yang kadang-kadang saya tonton ulang DVD-nya di saat senggang. Sarah Michelle Gellar terlahir untuk perannya sebagai Buffy. Sebenarnya aroma lesbian sudah muncul saat kedatangan Faith (Eliza Duskhu) pada season 2, sebagai calon pembasmi vampir. Gayanya yang andro/butch sempat membuat cemas kreator serial ini sehingga mereka harus “mematikan” tokoh Faith, karena judul serial ini kan Buffy bukan Faith. Untungnya, pada season 4 Joss Whedon sang kreator melakukan “lesbianisasi” tokoh Willow, salah satu sidekick Buffy, dan menjadikan tayangan ini sebagai cult tersendiri dalam dunia televisi.


Xena the Warrior Princess seperti halnya Buffy juga menjadi salah satu serial yang punya penggemar fanatik. Buat mata yang melihat dengan hati, hubungan Xena dan Gabrielle bukan sekadar persahabatan, namun mengandung unsur lesbian yang tak terucap dalam kata-kata. Subteks lesbiannya begitu kental hingga membuat saya berdebar-debar setiap kali menontonnya.

Battlestar Galactica. Ini adalah serial yang di-remake dari serial TV lama tahun 1970-an. Sebenarnya setelah tayang 4 season hingga tahun 2007 ini tidak ada unsur lesbian dalam serial ini. Namun penampilan Katee Sachkoff yang andro dan tukang kelahi, ditambah letnan cantik keturunan Korea bernama Sharon Valerii yang diperankan Grace Park yang masuk daftar 100 wanita terseksi majalah Maxim tahun 2006 dan Tricia Helfer, model yang foto-foto seksinya masuk majalah Playboy membuat saya jadi bersemangat menontonnya. Oya, plus Lucy Lawless alias pemeran Mbak Xena jadi bintang tamu di serial ini.

Well, selamat menonton. Mungkin serial-serial di atas bisa jadi alternatif tontonan selain The L Word. Dan semoga tidak ada penggerebekan di lapak-lapak DVD pada saat kita mau membeli DVD-DVD ini. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2007

4:52 PM

Love is...

Posted by alex |

Setiap kali mendengar kabar putusnya hubungan seorang sahabat lesbian yang sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun dengan pasangannya, kesedihan selalu mengaliri pembuluh darah saya. Rasanya ada keseimbangan yang goyah, sesuatu yang saya percayai direnggut begitu saja. Yah, memang saya tidak bisa mengatur hubungan cinta seseorang. Sebagaimana kata seorang sahabat saya, “Sometimes we just fall out of love.” Kita tidak bisa menentukan seberapa lama seseorang harus mencintai dan dengan siapa dia seharusnya jatuh cinta.

Kadang-kadang dalam hubungan kita menemukan cinta yang baru, kadang-kadang cinta terlepas dari genggaman begitu saja. Cinta adalah makhluk paling kompleks yang sama kompleknya dengan manusia itu sendiri. Bahkan konon katanya cinta yang membuat dunia berputar. Seperti kata Martina McBride dalam lagu berjudul Anyway;

You can love someone with all your heart
For all the right reasons
In a moment they can choose to walk away
Love 'em anyway

Tapi ke mana arah cinta lesbian? Apa sih idealnya suatu hubungan lesbian? Legalisasi pernikahan sesama jenis supaya kita punya ikatan yang sah menurut hukum? Ah, kita tidak perlu berpikir semuluk itu. Secarik kertas tidak membuat orang bertahan untuk mencintai. Saya pesimis bukan karena pernikahan sesama jenis tidak mungkin terjadi di sini. Karena pernikahan BUKAN tentang agama. Pernikahan adalah tentang keluarga. Tentang cinta. Tentang komitmen.

Seorang teman hetero yang amat religius, yang jadi tempat curhat saya pertama kali saat coming out dengan bijak berkata, “Elo tuh ya jangan ganti-ganti pacar melulu dong. Itu yang bikin dosa. Mestinya elo cari satu pasangan, lalu berkomitmenlah sama orang itu. Halah, nggak usah mikirin surat kawin. Yang penting dalam hati elo. Orang zaman film silat itu aja nggak pake surat kawin kok. Tinggal tancepin hio, udah deh kawin.” Maafkan analogi sahabat saya yang kebanyakan nonton film silat, namun buat saya kata-katanya begitu mengena.

Menurut saya, masalah utama kehidupan lesbian adalah rasa bosan dan sindrom rumput tetangga tampak lebih hijau. Kita bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja. Saat mencapai jangka waktu tertentu dalam hubungan, biasanya hubungan memasuki masa tenang dan kita menjalani rutinitas tertentu. Di sanalah muncul rasa bosan. Saat kita bosan, ada bisikan yang memunculkan ide di kepala kita, “Benarkah dia the one? Soulmate yang kita cari? Bagaimana jika ada seseorang di luar sana yang menungguku?” Atau tanpa sengaja muncul orang baru dalam hati kita yang rasanya lebih seru dan menantang untuk dikejar dibanding kita harus terus terbelenggu dalam pola hidup rutin.

Seperti kata seorang sahabat lesbian saya, “Duh, kok hubungan gue kayaknya gitu-gitu aja ya? Nggak ada tantangannya lagi. Udah lima tahun sih.” Padahal di mata banyak lesbian yang baru menjalin hubungan, hubungan sahabat saya dan partnernya bisa dibilang membuat iri. Bagaimana tidak? Dia dan pasangannya sudah tinggal bareng dan hidup bersama berdua tanpa diutak-atik oleh orangtua. Ya, itu tadi. Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Saya tidak bisa memberi nasihat. Saya tidak layak. Saya hanya berusaha menjalani hari demi hari dengan partner saya. Berusaha menjadi partner yang baik, dan setiap kali melihat rumput tetangga yang hijau dan meriah, saya berkata, “Say, akhir minggu ini kita rapiin lagi rumput di depan rumah kita yuk.... Biar subur dan hijau seperti rumput tetangga.”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Ini salah satu film lesbian yang ditonton untuk hiburan. Sebenarnya sudah cukup lama saya nonton film ini, hingga beberapa malam lalu saya mesti mengulang kembali menontonnya. Better Than Chocolate berkisah tentang Maggie (Karyn Dwyer), penjaga toko di toko buku lesbian yang memutuskan berhenti kuliah untuk menemukan jalan hidupnya. Ia bertemu dengan seniman bernama Kim (Christina Cox) dan langsung jatuh cinta. Ketika van milik Kim diderek, mereka memutuskan untuk tinggal bersama.

Sialnya, ibu Maggie, Lila (Wendy Crewson), dan adiknya lelaki Maggie yang masih ABG memutuskan untuk menumpang tempat tinggal bersama Maggie karena dia butuh tempat tinggal sementara mengurus perceraian. Yang membuat ribet adalah Maggie belum coming out dengan ibunya, sehingga Maggie dan Kim harus kucing-kucingan dengan keluarga Maggie.

Film ini juga bercerita tentang persahabatan Maggie dengan Frances, perempuan pemilik toko buku lesbian tempatnya bekerja. Yang unik adalah kehadiran Peter Outerbridge sebagai Judy, transeksual lelaki yang merasa dirinya perempuan tapi juga lesbian dan naksir Frances. Nah lo?

Better than Chocolate diproduksi tahun 1999 dengan sutradara Anne Wheler dan merupakan film independen yang sukses di negara asalnya, Kanada. Judul Better than Chocolate diambil dari lirik lagu Sarah McLachlan berjudul Ice Cream, "Your love is better than chocolate". Cerita film ini ringan dan garing dengan sentuhan humor di sana-sana. Pada endingnya, semua lesbian pun mendapat kebahagiaan. Ibarat makan kacang goreng, film ini cocok ditonton di waktu senggang saat tak ada kegiatan lain.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Ellen Degeneres mungkin manusia terlucu yang hidup di muka bumi zaman sekarang ini. Saya sampai ngakak nggak berhenti menonton dan mendengar pertunjukan ini. Hingga ditegur mbak bos di kantor karena ketawa cekikikan nggak jelas. Ups. :)

Dua pertunjukan ini adalah stand-up comedy yang ditayangkan HBO. Ellen DeGeneres: The Beginning dirilis tahun 2000 dan Ellen DeGeneres: Here and Now pada tahun 2003. Kedua pertunjukan ini direkam langsung di Beacon Theatre, New York City di hadapan ribuan penonton.

Untuk Here and Now, saya menontonnya via youtube. Saya makan siang sambil menonton stand-up comedy Here and Now di youtube yang butuh kesabaran luar biasa karena video sepanjang 60 menit terpotong-potong menjadi 7 bagian. Capek sih, tapi sepadan. Ellen berdiri di atas panggung besar sendirian ditemani sebotol air yang ditaruh di bangku. Menonton Ellen sambil makan siang ternyata kesalahan, karena saya nyaris tersedak ayam goreng. Bagaimana tidak? Kalau setiap beberapa menit sekali saya tertawa geli.



Dalam pertunjukan ini, Ellen DeGeneres banyak melawak tentang kehidupan modern dan kerepotan-kerepotannya. Beberapa topik seperti procrastination alias menunda-nuda pekerjaan, iklan TV, ponsel, kertas toilet, elevator, dan kejadian-kejadian memalukan dalam kehidupan modern menjadi lelucon-lelucon lucu yang membuat kita tertawa sambil menyadari betapa benarnya dia. Ambil contoh tentang ponsel, bagaimana kita tidak bisa berkomunikasi dengan seseorang tanpa terganggu dering ponsel atau berbicara blablabala tanpa henti via ponsel tanpa benar-benar mendengarkan. Humor ala Ellen mengalir renyah dan lancar selama pertunjukan 1 jam tanpa jeda ini.

Sayangnya saya cuma mendapat rekaman mp3 The Beginning, bukan videonya, berkat kebaikan hati seorang teman yang me-rip DVD-nya. The Beginning dimulai dengan tarian Ellen sebagai caranya untuk mengisahkan hidupnya setelah coming out pada tahun 1997. Ketika Ellen mengalami kejatuhan karier dan kritik habis-habisan setelah keputusannya untuk coming out. Dan ini merupakan pertunjukan komedi pertamanya setelah coming out. Bagian tentang pernikahan sesama jenis dalam pertunjukan ini juga lucu. Ellen mengatakan penentang pernikahan sesama jenis mengatakan jika mengizinkan pernikahan sesama jenis, nanti bisa-bisa ada orang yang menuntut persamaan hak untuk menikahi binatang, tapi dengan kocaknya Ellen bilang, “But I don’t wanna marry a goat.” Bagian yang paling mengharukan adalah bagian ketika Ellen bertanya-jawab dengan seorang penonton yang menganggap Ellen sebagai “pahlawan”nya.

Ellen adalah sosok komedian yang bisa menggunakan kelesbianannya sebagai lelucon. Isu lesbian yang dilontarkan Ellen tidak bersifat mengancam malah berkesan ramah dan menyenangkan. Bahkan dalam Here and Now, Ellen mengatakan paling tidak dia harus melontarkan lelucon tentang lesbian, karena kalau tidak nanti dia tidak dianggap “leader” lagi. Ellen DeGeneres adalah salah satu komedian yang bisa melontarkan humor-humor lucu dan cerdas tanpa perlu melontarkan lelucon yang sifatnya porno atau rasis atau kasar. Tidak heran jika Ellen bisa bangkit dari keterpurukannya setelah coming out dan menjadi salah satu perempuan tersukses di dunia entertainment saat ini.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Lebih lanjut tentang Ellen DeGeneres bisa dibaca di sini.


*Spoiler Alert

Ini adalah salah satu film guilty pleasure saya. Entah sudah berapa kali saya nonton film ini, dan saya tidak pernah bosan. Dirilis tahun 2002 dengan sutradara Corey Yuen, So Close merupakan salah satu dari sedikit film dengan peran utama perempuan, yang selain cantik juga jago berantem. Tiga perempuan di sini Shu Qi, Vicky Zhao dan Karen Mok berperan sebagai penjahat dan jagoan yang saling berhadapan. Shu Qi (Lynn) dan Vicky Zhao (Sue) adalah kakak-beradik pembunuh bayaran yang menggunakan teknologi canggih warisan ayah mereka dalam melaksanakan tugas mereka sebagai pembunuh. Karen Mok (Hong) adalah detektif cantik yang mengejar mereka.

Setelah tugas terakhirnya Lynn memutuskan untuk pensiun apalagi karena Lynn bertemu kembali dengan lelaki pujaan hatinya sejak remaja. Sue tidak terima dengan keputusan Lynn dan membandel untuk menerima tugas baru. Kejar-kejaran pun terjadi antara polisi dan pembunuh. Namun penjahat utamanya bukanlah dua kakak-beradik cantik ini. Penjahat utamanya adalah orang yang menyewa mereka sebagai pembunuh bayaran.

Karena ingin menutup jejak, si penyewa memutuskan untuk menghabisi Lynn dan Sue. Setelah adegan baku kebut dan baku tembak yang seru, Lynn tewas. Sue akhirnya harus bekerja sama dengan Hong agar bisa membalas dendam kematian kakaknya.

Hubungan antara Sue dan Hong ini bisa dianggap mengandung subteks lesbian walaupun tidak sejelas di film Naked Weapon, misalnya. Dalam film Hong Kong ini, puluhan perempuan dilatih untuk jadi pembunuh bayaran dan di antara dua perempuan itu terjadi persahabatan yang luar biasa akrab. “Hubungan lesbian” dalam Naked Weapon disamarkan sedemikian rupa dalam bentuk “persahabatan penuh kasih sayang”. Saya sengaja tidak mau bercerita tentang Naked Weapon karena ceritanya begitu cheesy dan bikin saya mau cakar-cakar muka saya sendiri saking kesalnya.

Kembali lagi ke So Close. Hubungan Sue dan Hong yang jadi akrab setelah kematian Lynn bukan lagi jadi hubungan antara penjahat vs polisi, apalagi setelah Hong difitnah membunuh. Mereka menunjukkan ketertarikan terhadap satu sama lain yang meskipun samar tetap terasa manis. Dan pada akhirnya setelah bahu-membahu bertarung seru lawan Yasuaki Kurata dan menghabisi penjahat sebenarnya, Sue memberikan kecupan singkat di bibir Hong.

Yeah, ini memang bukan film yang bakal dicap highly recommended oleh kritikus film, tapi jelas highly recommended oleh saya. Setelah sekian kalinya nonton film ini, partner bertanya, “Kenapa sih nonton film ini (lagi)?” Saya hanya nyengir dan menjawab “Di mana lagi ada film dengan cewek jagoan yang cantik, bajunya bagus, rambutnya keren, berantemnya seru, plus ada subteks lesbiannya?”


@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe