3:56 PM

Stereotipe Lesbian di Mata Perempuan (Hetero)

Posted by alex |

Bagian I
Di antara kalian berdua, siapa yang jadi cowoknya?
Hayo, seberapa sering pertanyaan semacam itu kita dengar? Saya, yang bekerja di lingkungan yang didominasi perempuan, dan menjalin persahabatan dengan banyak perempuan hetero sampai hanya bisa memutar bola mata setiap kali mendengar pertanyaan seperti itu. Entah mengapa, konsep hubungan tanpa peran lelaki itu membuat mereka bingung, dan dalam pikiran mereka juga, lesbian yang cewek banget harus menjalin hubungan dengan lesbian macho bak laki-laki.
Biasanya pertanyaan itu hanya saya jawab dengan senyum manis, dan, “Mbak, ini nggak ada cowoknya gitu lho... dua-duanya cewek.”

Biasanya ada yang langsung menelan jawaban itu, namun ada pula yang keukeuh bertanya, “Bukannya ada tuh lesbi yang cowok banget? Yang kayak laki?” Hm, mulailah saya, yang tadinya enggan, memberi penjelasan panjang-lebar soal butch, femme, dan andro dalam hubungan lesbian. Halah, ternyata penjelasan saya itu membuat mereka jadi tambah yakin tentang pembagian peran laki-perempuan dalam hubungan lesbian. Waks, ternyata salah nih, mungkin tidak seharusnya saya cerita tentang butch, femme, dsb itu. Hhhh... aku dan mulut besarku :p

Hm, akhirnya setelah capek ngasih keterangan yang makin lama makin nggak jelas, saya bertanya, "Mau gue pinjemin film-film L gue nggak?"
"Bokep ya?" tanya teman saya dengan wajah jijik.
"Bukanlah, (plis deh, emangnya cewek apaan?) film drama lesbian biasa. Elo nonton aja deh, ambil kesimpulan sendiri. Pusing gue nerangin soal ini."
Akhirnya sahabat saya itu jadi satu sahabat yang rajin meminjam film-film saya... banyak film yang pernah diresensi di blog ini sudah dia tonton, bahkan ikutan milis The L Word... dasar gokil tuh cewek :).

Hhh, mendadak ingat The L Word season 2 saya dipinjam siapa ya?

Bagian 2
Bagaimana sih caranya? Well, sebenarnya sih ini pertanyaan yang juga muncul di benak lelaki hetero bahkan lelaki gay. Bagaimana caranya lesbian melakukan hubungan? Emangnya bisa menikmati hubungan tanpa “itu”--- "itu" maksudnya alat kelamin lelaki---? Atau beragam pertanyaan turunannya. Buat saya, jawaban, “Sini deh, gue praktekin,” adalah jawaban basi basi banget.

Biasanya kalau mendapat pertanyaan itu, saya menampilkan senyum semanis mungkin lalu saya menjawab dengan wajah prihatin, “Wah, lo kasian sekali ya nggak ngerti tentang konsep orgasme pada tubuh perempuan.” Lalu saya beri penjelasan panjang-lebar tentang orgasme klitoris, orgasme vaginal. Bagaimana tubuh perempuan itu begitu ajaibnya sehingga kita diberkahi klitoris yang gunanya cuma satu, yaitu menjadi pusat kenikmatan buat perempuan.

“Ah, elo belum pernah coba sih, jadi nggak tau enaknya sama lelaki,” timpal sahabat saya sambil cekikikan.
“Sapa bilang nggak pernah coba? Sebelum memutuskan suka burger atau tempe, harus coba dua-duanya dong,” sahut saya.
Sahabat saya kaget, dan bertanya lagi. “Lha emangnya lo pernah sama lelaki?”
Hihihi, saya hanya cengengesan dan berlalu tanpa menjawab.


Bagian 3
“Emang lo pernah disakitin laki-laki ya sehingga jadi lesbian?”
Haduh, gubrak, bletak... Pertanyaan ini tahun 90-an banget sih? Jadoel gitu lho, Sis! (maksudnys Sis di sini sister, bukan Siska :p) Huaaaaaaaaah. Jadi inget cerita-cerita di rubrik "Oh Mama Oh Papa" geto, “Aku Jadi Lesbian Karena Dikhianati Lelaki.” Halah.... plis deh.

“Sis, tau nggak sih, justru aku yang menyakiti laki-laki sampai bercucuran air mata terakhir kali putus ama laki.”
“Kamu belum ketemu lelaki yang baik, kali?” Dilanjutkan dengan ceramah sahabat saya bahwa di dunia ini masih banyak lelaki baik, tidak semua lelaki bajingan, dll... blablabla, yatayatayata...
“Duh, gini lho, mbak, eh, sis..., aku tuh nggak ada masalah sama lelaki.”
Sahabat saya itu memandang heran, di matanya terungkap pertanyaan yang tak ditanyakannya, Kalau nggak ada masalah, kok nggak sama laki aja?

Saya pun melanjutkan, menjawab pertanyaan tak terucapkan itu. “Gini lho, sis, aku tuh nggak benci atau sakit hati sama lelaki. Tapi masalahnya adalah ketidakmampuanku membayangkan hidup bersama lelaki. Eits, bukan soal seksnya... karena mekanismenya tidak ada masalah buatku. Tapi membayangkan diriku pulang ke rumah, pulang ke lelaki, itu yang tak pernah bisa membuatku nyaman dan bahagia.”

Melihat Si Sis ini masih bingung, saya lanjutkan, “Seperti kamu dan suamimu. Bagaimana kamu bahagia bisa berbagi bersama suamimu. Melakukan hal-hal yang mungkin sepele. Nonton TV, makan, pijat-pijatan, atau apalah. Pulang kerja ke rumah, menunggunya atau ditunggu olehnya... rasanya klop, kan? Rasanya at home? Nah itu yang hanya bisa aku rasakan dengan perempuan.”

Lalu sahabat saya mengangguk-ngangguk, entah mengerti atau tidak. Kalau dia masih bertanya lagi, biar nanti saya pinjami dia DVD The L Word atau film-film lesbian lain yang saya punya. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2007

Gray Matters adalah salah film chick flick alias film cewek dengan pemeran utama yang tampan dan cantik. Heather Graham, Tom Cavanagh, dan Bridget Moynahan berperan sebagai Gray, Sam, dan Charlie dalam film “lesbian” ala Imagine Me and You dan Kissing Jessica Stein. Duh, kalau di film seperti ini lesbiannya cantik semua... :)

Gray dan Sam adalah pasangan kakak-beradik berusia 30an yang seiya sekata. Mereka punya hobi yang sama seperti berdansa dan menyukai film-film lama, selalu bisa saling mengisi, dan tinggal seapartemen di wilayah elit New York. (Bukan, ini bukan film inses kok :p) Tapi ketika Gray dan Sam bertemu Charlie, hubungan mereka berubah. Sam langsung jatuh cinta dan melamar Charlie lalu berencana menikah di Las Vegas minggu depannya.

Bersama sang calon ipar, Gray menikmati kebersamaan antar-perempuan, seperti shopping, bergosip, gila-gilaan di bar, dan berendam bareng di bathtub (eh, yang terakhir ini rada maksa sebenarnya). Masalah timbul ketika tanpa sengaja Gray dan Charlie berciuman ketika Charlie mabuk berat. Gray panik berat menyadari dirinya kemungkinan lesbian dan jatuh cinta pada calon iparnya.


Dan di sinilah masalah dimulai. Bagi Gray dan juga bagi filmnya. Sang sutradara dan penulis skenario, Sue Kramer, tampaknya bingung dengan arah film karya pertamanya ini. Dan akhirnya dia memutuskan bermain aman dengan membahagiakan penonton lesbian maupun penonton hetero. Jadi jangan harapkan ending ala Imagine Me and You di film ini. Akibatnya Gray Matters akhirnya menjadi film yang “nanggung” buat penonton lesbian dan penonton hetero. Buat saya ada juga beberapa adegan “nggak penting” yang mestinya dihapus, dan diganti dengan adegan yg lebih terfokus pada cerita.

Bintang tamu Alan Cumming dan Rachel Shelley membuat penonton film ini jadi teringat The L Word, bahkan ada adegan mirip adegan di The L Word, ketika Gray dan Charlie ngobrol di akuarium. Akting Bridget Moynahan masuk kategori "plis deh".... untungnya dia sering pamer bodi dengan jalan-jalan memakai lingerie :p. Heather Graham yah gitu deh... seperti aktingnya biasa sebagai cewek pirang cantik dan manis ala Meg Ryan gitu. Nggak jelek, saya suka dia ketika meneteskan air mata. Yang bagus adalah akting Molly Shannon sebagai Carrie rekan kerja Gray yang heboh dan bisa mencuri layar beberapa kali.

Sejak Kissing Jessica Stein dirilis tahun 2001 dan Imagine Me and You tahun 2005, produser film mainstream di Hollywood sana tampaknya melihat kemungkinan membuat film cewek dengan twist lesbian. Namun sayangnya Gray Matters masih jauh di bawah kedua film sebelumnya. Setting di New York seperti Sex and the City, Serendipity, dan You’ve Got Mail, sebenarnya asyik untuk dibuat sebagai chick flick yang kuat dengan tokoh utama cewek lajang di kota besar. Sementara ini baru Kissing Jessica Stein yang berhasil dengan menambahkan twist lesbian. Seandainya sang sutradara lebih berani dan nakal sedikit, pasti hasil Gray Matters akan beda.

Duh, kok bikin reviewnya bikin orang ill-feel nggak mau nonton ya? Hm, gini deh, kalau Anda suka Helena di The L Word, senang liat film cewek ala Meg Ryan, Drew Barrymore, Sandra Bullock, suka setting New York, suka melihat cewek cantik berjalan-jalan dengan lingerie, dan suka happy ending, silakan nonton film ini. Tapi janganlah berharap terlalu banyak.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

10:36 PM

Mukzijat Berpikir Positif

Posted by alex |

Tidak, saya tidak ingin menulis resensi buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul The Secret karangan Rhonda Byrne yang bestseller di mana-mana. Tapi tulisan ini memang terinspirasi dari buku tersebut. Konon, pikiran positif akan menarik hal yang positif demikian pula pikiran negatif akan menarik hal negatif. Saya selalu percaya bahwa pikiranmu adalah yang menjadi surga atau nerakamu di bumi. Berpikir positif akan membuat kita sehat dan bahagia, sementara pikiran negatif aku memakanmu pelan-pelan seperti parasit. Merasa bahwa diri merupakan makhluk paling menderita di muka bumi ini dan mengeluh tanpa henti tentang betapa naas hidupnya bisa dipastikan itulah realitas yang terus-menerus terjadi padanya bak lingkaran setan.

Ah, izinkan saya bercerita tentang perjalanan hidup seorang perempuan. Alkisah, ada seorang perempuan, yang setamat sekolah menengah tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi karena pada zamannya perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya dia hanya perlu jadi istri dan ibu rumah tangga. Padahal dia punya kecerdasan dan potensi untuk meneruskan sekolah. Akhirnya perempuan itu pun menikah, yang untuk ukuran zamannya termasuk telat menikah. Bersama suaminya yang tampan namun mata keranjang, ia punya lima anak.

Hidupnya mengalir terus hingga mendekati setengah abad, dan suaminya meninggal, meninggalkan anak bungsu berusia 5 tahun dan anak kedua yang terpaksa tidak bisa kuliah karena keluarganya bisa dibilang bangkrut karena habis membiayai pengobatan almarhum suaminya yang menderita kanker. Untuk pertama kalinya saya melihat perempuan itu menangis ketika suaminya meninggal. Tapi ketika masa berkabung selesai, tangisannya berhenti dan hidupnya berlanjut. Dia tidak menganggap hidup tidak adil atau mengeluh pada semua orang tentang betapa menderita dirinya yang harus menjadi janda.

Untuk membiayai kebutuhan keluarga perempuan setengah baya ini harus kembali lagi masuk ke dunia kerja, apalagi karena salah seorang anaknya bersekolah di SLB yang biayanya cukup besar kala itu. Lalu perlahan-lahan hidupnya membaik, dan akhirnya dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri di rumah. Tiap hari bangun pukul 4 pagi, menyiapkan makanan untuk dijual, tapi menurutnya itu masih lebih baik daripada harus pergi bekerja ke luar rumah. Tidak ada satu hari pun dia merasa hidupnya menderita, tiap hari di rumahnya selalu ada tawa dan keramaian walaupun tidur beralaskan tikar.

Tidak pernah sekali pun saya mendengar keluhan terdengar dari mulutnya. Mengeluh capek pun tidak pernah. Bahkan saat kanker menyerangnya ketika usianya mendekati 70 tahun pun, dia menghadapinya dengan tenang. Tidak ada rasa takut mati saat dia didiagnosis menderita kanker. Ketika satu payudaranya harus diangkat akibat masektomi pun dia tetap berpikir positif. Sudah tua tidak perlu dua payudara lagi, itu katanya berusaha santai. Di rumah sakit dia jadi pasien favorit suster-suster di sana karena selalu ceria dan diajak jadi "motivator" pasien-pasien kanker lain. Bahkan pengobatan pasca-operasi yang melelahkan pun dilewatinya bak angin lalu dan tawa. Lima tahun lebih sejak dia diagnosis kanker payudara, dan sudah hampir lima tahun pula dia dinyatakan bersih dari kanker.

Cobaan untuknya ternyata belum berakhir, karena beberapa tahun lalu anak pertamanya meninggal dunia secara mendadak. Dia menangis, tapi tidak mengeluh dan bertanya kenapa Tuhan memperlakukannya tidak adil. Dia tidak pernah bertanya kenapa hidupnya tidak bisa “seenak” orang lain. Rumahnya selalu jadi “rumah singgah” orang-orang yang di mata orang lain loser. Tapi buat perempuan itu dia belajar bahwa hidupnya masih lebih beruntung dibanding orang-orang lain. Bukannya marah dengan rumah kontrakan yang bocor dan retak-retak, putra kesayangannya diambil Tuhan, atau menganggap anaknya tidak berbakti padanya, dia bersyukur setiap hari karena masih punya tempat bernaung, kesehatan yang baik walaupun tidak sempuna, dan makanan setiap hari.

Setiap hari seumur hidup saya, saya melihat perempuan yang juga ibu saya tersebut menjalani hari demi hari dengan pikiran positif. Sebut saja pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", "Semua Terjadi Karena Ada Alasannya." "Masih Ada Cahaya di Ujung Terowongan." dsb, itulah karakter ibu saya. Yah, ibu saya bukan manusia yang tak pernah salah dan tanpa cela, tapi dia adalah manusia yang paling berpikiran positif yang saya kenal. Saya kagum dengan kemampuannya untuk berpikir positif dan terus belajar... duh, ada berapa nenek-nenek sih yang minta diajari chatting dan video call?

Saya melihat bagaimana pikiran positif ibu saya itu menghasilkan mukzijat-mukzijat yang tak pernah terbayangkan. Uang masuk kuliah saya didapat dengan cara yang begitu ajaibnya hingga sampai sekarang saya sering merasa itu benar-benar hasil dari dukungan alam semesta berkat keinginan positif dan kuat kami berdua (udah bener-bener seperti sinetron deh...). Pekerjaan yang sekarang saya geluti merupakan pekerjaan impian saya sejak SMA, meskipun saya menghabiskan dua tahun setelah lulus kuliah jadi “pengangguran” demi memuluskan jalan memperoleh pekerjaan itu. Saya sadar jika dua tahun itu saya hanya menempatkan diri saya dalam kubang derita, mengasihani diri sendiri, dan tanpa mau belajar, pekerjaan itu takkan pernah saya dapatkan sampai sekarang.

Menjadi lesbian pun tidak pernah membuat saya meratap dan mengais-ngais derita buat diri saya sendiri. Saya tidak pernah merasa terbuang, terpinggirkan, terhina sebagai lesbian. Seperti yang saya katakan pada seorang sahabat baru saya, "Saya menolak 'menciptakan' neraka dalam hidup saya saat ini dengan membiarkan diri saya tidak bahagia dan jadi manusia yang tidak sehat dengan memandang diri saya secara negatif."

@Alex, RahasiaBulan, 2007

11:16 AM

After-Glow Sex, Orgasme, dan Masturbasi

Posted by alex |

Akhir pekan saya bertemu dengan seorang sahabat lesbian yang wajahnya memancarkan after-glow sex yang berbinar terang. Kebahagiaan tampak jelas di wajahnya. Dalam hati saya berpikir, after-glow ini pasti bukan sekadar seks atau orgasme multipel, pasti ada limpahan cinta mahadasyat antara sahabat saya dan partnernya yang sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun hingga membuat dia bisa bercahaya seperti itu. Ah, kok saya merasa seperti jadi Carrie Bradshaw di Sex and the City ya?

Saya percaya bahwa hubungan seks yang sehat dengan partner yang kita cintai akan membuat tubuh dan jiwa makin bugar dan segar. Para pakar seks (maksudnya pakar di sini bukan pelaku aktif ya, melainkan ilmuwan gitu) menyatakan bahwa kegiatan seks dengan orgasme secara teratur bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Misalnya; sakit kepala, stres, susah tidur, atau memperlancar peredaran darah, meningkatkan daya tahan tubuh, membakar kalori, bahkan mengurangi risiko kanker, dll.

Kenapa bisa demikian? Karena setiap kali orgasme tubuh melepaskan hormon oxytocin. Dan riset membuktikan peningkatan jumlah oxytocin dalam tubuh bisa mengilangkan sakit/nyeri, sakit kepala, keram PMS atau saat menstruasi, dan nyeri tubuh ringan lainnya. Makanya jika Anda flu atau sakit kepala ringan, jangan langsung beli obat di apotek, cobalah mengajak pasangan Anda untuk “mengobati”nya lebih dulu. Lho, tapi bagaimana jika partner tidak available saat dibutuhkan? Tenang aja.... masih ada yang namanya masturbasi.

Bagi saya sah-sah saja jika seseorang yang sudah punya partner lalu melakukan masturbasi. Perempuan yang orgasme secara teratur bersama partnernya maupun masturbasi biasanya lebih bahagia dan tidak mudah berselingkuh dari pasangannya. Lagi pula, tidak setiap saat partner available untuk jadi “mesin seks” Anda, kan? Masturbasi adalah cara yang sehat, gratis, dan aman buat perempuan untuk memperoleh orgasme. Kenapa? Seperti yang saya sebut di atas, oxytocin yang terlepas setiap kali terjadi orgasme, membuat tubuh rileks, tenang, dan tidur lebih mudah

Banyak mitos yang saya pikir aneh yang membuat seolah-olah masturbasi adalah tindakan “kotor” terutama buat perempuan. Masturbasi bukanlah sekadar fase yang kita lakukan semasa abege atau tidak pantas lagi dilakukan saat kita sudah dewasa dan terutama saat kita sudah punya partner. Lho, memangnya kalau umur bertambah gairah seks juga habis? Masturbasi bukanlah perbuatan orang-orang kesepian yang menyedihkan, tapi tindakan penyaluran kebutuhan seks sehat yang paling aman.

Anggapan bahwa perempuan yang sering melakukan masturbasi adalah bukan “perempuan baik-baik” karena tidak bisa menahan nafsunya adalah anggapan paling konyol yang pernah saya dengar. Lelaki dan perempuan yang normal dan sehat memiliki dorongan seks yang normal dan sehat pula, tapi bagaimana menyalurkannya adalah suatu tindakan yang membutuhkan kedewasaan. Anda bisa menyalurkannya dengan berganti-ganti pasangan, atau bisa dengan masturbasi, bagi saya kedewasaan lebih ditentukan dengan cara itu. Ada juga yang bilang keseringan masturbasi bisa bikin bego, gila, buta, jerawatan, rambut rontok, atau entah apa lagi hal buruk untuk kesehatan. Padahal riset sudah membuktikan bahwa orgasme rutin baik untuk kesehatan... yah, selama dilakukan dalam porsi wajar, karena kalau masturbasi dilakukan tiap hari 3x sehari seperti makan obat sih buat saya udah kelewatan...

Hal terpenting bagi saya adalah masturbasi membantu perempuan mengenali tubuhnya sendiri. Secara teori, perempuan yang tahu bagaimana memuaskan dirinya biasanya juga lebih piawai memuaskan pasangannya, terutama untuk pasangan lesbian. Duh, secara onderdilnya sama gitu lho... Perempuan juga jadi lebih tahu bagaimana cara respons tubuhnya terhadap rangsangan tertentu . Bila sudah demikian, perempuan tersebut akan tahu bagaimana cara melakukan hubungan yang lebih memuaskan dengan pasangannya sehingga hubungan pribadi pun bisa bertahan lama. Mau tidak mau harus diakui bahwa seks memegang peran penting dalam hubungan lesbian.... yah, kalau cuma pegangan tangan aja sih, sama teman juga bisa. :)

Perempuan yang tidak pernah merasakan orgasme biasanya juga tidak memancarkan sex appeal, dan membuatnya tampak tidak menarik dan kusam di hadapan orang lain. Di mata saya, sex appeal bisa terlihat jelas dari perempuan yang memperoleh orgasme secara rutin dan sehat. Ah, seperti kisah awal saya tadi, bagaimana sahabat saya tampak berbinar memancarkan after-glow sex yang dahsyat... saya yakin dia mendapat orgasme secara teratur....

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Sejujurnya, saya menganggap diri saya tidak cukup mumpuni untuk membahas Anais Nin. Bagi saya, menguliti buku karya Anais Nin mungkin selevel dengan menyelesaikan tesis. Tapi seorang sahabat baik memberikan buku Delta of Venus ini untuk saya pada tahun 2006 (thanks, Rose :p), dan buku itu teronggok terus di meja saya, memanggil saya untuk mereviewnya.

Anais Nin adalah salah satu dari pengarang perempuan legendaris. Dan Delta of Venus merupakan buku klasik yang keberadaannya tak terkikis masa. Ia lahir di Paris tahun 1903 berdarah campuran Spanyol, Kuba, dan Prancis dan meninggal pada tahun 1977 di Los Angeles. Anais Nin menghabiskan masa kecilnya di berbagai wilayah di Eropa hingga pindah ke Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1924-1939 bersama suaminya Anais Nin pindah ke Prancis. Ia menulis cerita-cerita pendek erotis ini pada tahun 1940-an untuk kolektor pornografi dengan bayaran satu dolar per halaman. Namun kumpulan cerita ini baru diterbitkan pada tahun 1969.

Bicara tentang karya Anais Nin, tidak bisa lepas dari erotika dan diari. Beberapa pengarang perempuan dari Indonesia seperti NH. Dini dan Ayu Utami sering dipersamakan dengan Anais Nin. NH. Dini dan Anais sama-sama diarist atau orang yang menulis novel berdasarkan kisah hidup mereka, NH Dini punya Seri Kenangan, sementara Anain Nin punya The Diary of Anais Nin. Dan Ayu Utami dianggap perempuan yang mendobrak budaya sastra Indonesia dengan bukunya yang “berani” dan mengandung unsur seks tinggi seperti karya-karya erotika Anais Nin. Meskipun, bagi saya setelah membaca Delta of Venus, unsur seks dalam Saman "tidak ada apa-apanya".

Membaca Delta of Venus berarti membaca imajinasi dan fantasi seksual seorang Anais Nin. Buat yang pernah menonton Henry and June---yang diangkat dari kisah hidup Anais ketika menjalin hubungan affair dengan pengarang Henry Miller dan istrinya June Mansfield---kita tahu bahwa Anais dipandang sebagai orang yang memiliki pandangan seksual bebas dan fluid.

Dalam Delta of Venus, kita bisa membaca pengalaman imajinasi seksual perempuan yang ditulis dengan sentuhan detail yang berbeda dengan tulisan yang ditulis laki-laki. Ya, 15 cerita pendek dalam Delta of Venus adalah cerita-cerita erotis dengan unsur pornografi di sana-sini. Incest, pedofilia, lesbian, homoseksual, biseksual semuanya ada di sini. Namun jangan bayangkan cerita-cerita dalam Delta of Venus ini adalah cerita yang cuma bikin horny. Beberapa cerita terasa gelap dan disturbing. Ambil contoh cerita pertama, The Hungarian Adventurer, yang mengambil tema pedofilia atau The Boarding School yang bercerita tentang perkosaan antara lelaki dan lelaki. Buat sebagian orang mungkin ada cerita yang begitu disturbing sehingga membuat muak.

Dua cerita favorit saya adalah Lilith dan Mallorca. Mallorca bercerita tentang Maria, putri nelayan yang cantik, yang suatu hari bertemu dengan perempuan yang memesona. Mereka bermain di air dan saling menggoda... lalu ternyata perempuan yang ditemui Maria itu berubah menjadi laki-laki dan mereka pun bercinta dengan penuh gairah. Lilith lebih mengandung unsur humor, dikisahkan bahwa Lilith perempuan yang tidak memilik hasrat seks, hingga suatu hari dia mengira dirinya habis menelan obat bius saat menonton bioskop bersama sahabat perempuannya. Dan saat Lilith mengira dirinya di bawah pengaruh obat, dia jadi “berani” mendekati sahabat perempuannya itu.

Bisa dibilang Delta of Venus merupakan salah satu karya terbaik dalam dunia sastra erotika. Anais Nin tidak main-main dalam mengekplorasi seks dalam 15 cerita yang terdapat dalam buku ini. Mulai dari sisi gelap, lembut, seksi, puitis, hingga kasar. Beberapa cerita memang ada yang mengutik unsur lesbian, tapi secara umum Delta of Venus adalah membaca pengalaman, imajinasi, dan fantasi seks serta erotika dari mata perempuan yang hidup melebihi zamannya.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Alasan utama saya menonton film ini adalah karena aktris-aktrisnya. Rainie Yang dan Isabella Leong adalah dua bintang muda yang sedang naik daun di kancah film Asia. Rainie adalah aktris/penyanyi Taiwan yang pernah bermain di serial ngetop Meteor Garden. Isabella adalah model/aktris asal Hong Kong kelahiran Makau berusia 19 tahun yang pernah bermain dalam film-film seperti Bug Me Not dan The Eye 10. Pertama kali saya menonton akting Isabella adalah sebagai gadis SMA yang bisa bicara dengan kumbang peliharaannya dalam Bug Me Not---yah pokoknya jenis film manis anak abege---dan saya jatuh hati padanya di film itu. Wajahnya mengingatkan saya pada Brigitte Lin Ching Shia muda. Makanya ketika saya mengetahui dia berperan sebagai lesbian dalam Spider Lilies, saya sudah siap-siap browsing di Mangga Dua agar bisa jadi orang pertama yang menontonnya. Ditambah lagi dia berpasangan dengan Rainie yang selama ini selalu berperan sebagai gadis imut baik-baik.

Spider Lilies menjadi film yang jadi topik hangat di Asia beberapa bulan terakhir ini ini karena dianggap sebagai film lesbian pertama dari Taiwan, apalagi diperankan oleh gadis-gadis cantik yang ngetop. Filmnya diputar di Singapura, tapi dipasang dengan rating R-21, hanya karena film ini mengandung unsur homoseksual padahal adegan panasnya bisa dibilang mild dan minim. Kemungkinan besar film ini juga dilarang edar di Cina dan Malaysia. Spider Lilies disutradarai oleh Zero Chou, sutradara asal Taiwan yang kerap membuat film bertema homoseksual, yang membuat dasar kisah ini dari gempa bumi besar yang terjadi di Taiwan tahun 1999.


Film ini dalam bahasa mandarin Ci-Qing berarti tato. Rainie berperan sebagai Jade si gadis webcam, yang menjual kemolekan dirinya di internet, sementara Isabella berperan sebagai Takeko, seniman tato yang menyimpan rahasia kelam tato di lengannya. Mereka bertemu di tempat tato Takeko ketika Jade ingin dibuatkan tato spider-lily seperti milik Takeko. Takeko menolak menato Jade, namun Jade tidak kunjung menyerah. Takeko yang menutup diri dari cinta perlahan-lahan luluh ketika makin lama dirinya juga "tersentuh" oleh "kekeraskepalaan" Jade.

Perlahan-lahan hubungan masa lalu dan rahasia demi rahasia antara mereka tersingkap melalui cerita yang mengambil alur antara masa kini dan flashback. Editing film ini patut dipuji karena mampu menjahit kisah masa lalu dengan masa kini dan menyelipkan potongan-potongan informasi dengan amat baik. Dalam Berlin Film Festival 2007, Spider Lilies memperoleh penghargaan Teddy award untuk Best Feature.

Rainie Yang dan Isabella Leong ketika di Berlin untuk Film Festival; gambar dari: www.rainie-yang.blogspot.com

Ternyata Jade dan Takeko adalah dua perempuan dengan masa lalu kelam yang saling berkaitan. Yang satu mencari cinta, satunya lagi menjauhi cinta. Keduanya sudah saling mengenal 8 tahun lalu ketika Jade masih berusia 9 tahun dan “jatuh cinta” pada Takeko yang saat itu sudah berusia belasan. Namun ketika tragedi menimpa Takeko akibat peristiwa gempa bumi yang membuat adiknya kehilangan ingatan, Takeko merasa bertanggung jawab terhadap sang adik dan membuat dirinya tidak pantas memperoleh kebahagiaan. Karena bagi Takeko, kebahagiaan untuk dirinya berarti akan ada kemungkinan buruk.

Sehabis menonton film ini, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai film ini, tapi saya juga tidak bisa bilang saya tidak menyukainya. Buat yang tidak suka cerita film yang perlu “mikir”, pastilah bakal bete menontonnya. Atau pas di ending, akan langsung berkomentar, “Maksudnya film ini apa sih?”

Isabella tampak terlalu muda untuk berperan sebagai Takeko, sehingga jadi berkesan "maksa". Di mata saya akting Rainie dan Isabella kurang menggigit (saya lebih suka dia di Bug Me Not). Untungnya chemistry di antara mereka lumayan klop sehingga saya tetap bisa bertahan hingga akhir. Dan satu lagi alasan saya tidak merasa rugi menontonnya, "sudahkah saya bilang betapa cantiknya kedua pemeran utama film ini?" Slurfffff....


@Alex, RahasiaBulan, 2007

9:22 AM

Film: Desert Hearts - Klasik Tapi Tidak Basi

Posted by alex |

Desert Hearts adalah salah satu film lesbian klasik yang hampir saya lupakan keberadaannya. Diproduksi dan disutradari oleh sutradara lesbian Donna Deitch pada tahun 1985 dengan biaya “hanya” $350,000. Film ini ber-setting pada tahun 1950-an, di mana pada masa itu jangankan lesbian, perempuan yang bercerai pun dianggap bukan perempuan “baik-baik”.

Vivian (Helen Shaver) adalah profesor berusia 35 tahun dari New York yang pergi ke Reno untuk mengurus perceraiannya. Di sana, dia tinggal di ranch milik Frances (Audra Lindley). Dan di ranch itu pula dia bertemu dengan Cay (Patricia Charbonneau), putri tiri Frances yang berusia 25 tahun. Dan mulailah benih-benih ketertarikan muncul di antara Cay yang liar dan memesona dengan Vivian yang lurus dan kaku. Well, mungkin lebih tepatnya Cay mengejar dan merayu Vivian.

Di mata saya, Desert Hearts mungkin akan lebih bagus bagi saya kalau Cay tidak memberi kesan bahwa dia mengejar-ngejar Vivian, dan Vivian dalam keadaan rapuh saat bercerai menanggapi “kejaran” Cay yang menurut saya terlalu “direct”. Mungkin akan lebih bagus kalau Vivian sejak awal menunjukkan ketertarikan yang lebih atau gimanalah. Ah, sutralah, saya kadang-kadang cerewet untuk urusan remeh seperti ini.... nggak penting juga kok sebenarnya.

Kedua aktris yang bermain di film ini bukanlah aktris terkenal, namun chemistry antara mereka begitu klop. Helen Shaver konon ditelepon Greta Garbo usai menonton film ini dan dipuji aktingnya oleh aktris senior tersebut. Helen juga pernah jadi bintang tamu dalam The L Word. Kalau tidak salah ini adalah film pertama Patricia Charbonneau dan dia sedang hamil anak pertamanya saat syuting film ini. Desert Hearts juga diangkat dari novel Desert of the Hearts karya Jane Rule.

Sundance Film Festival 1986 juga memberikan penghargaan Honorable Mention untuk Desert Heart. Dan beberapa penghargaan lain juga diterima film ini serta pujian untuk Helen Shaver dan Patricia Charbonneau. Hingga saat ini, lewat 21 tahun setelah dirilis, Desert Hearts dianggap sebagai salah satu pelopor film lesbian mainstream.

Namun pujian terbesar untuk film ini jatuh pada adegan ranjang antara Vivian dan Cay. Buat saya, di antara film-film (film hetero maupun film lesbian) yang pernah saya tonton itu termasuk adegan seks paling bagus dalam film. Tunggu, maksud saya bukanlah adegannya hot menggebu-gebu atau bagaimana... tapi adegan seks yang terjadi antara Cay dan Vivian jatuh pada tempatnya secara pas. Keintiman antara dua perempuan itu membangun aura romantis, mendebarkan, dan lembut. Dan dalam fantasi saya, itulah cara bercinta yang dilakukan oleh dua perempuan.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Sudahkah saya memberitahu betapa saya menyukai teenlit alias buku-buku bacaan remaja? Bagi saja, dunia remaja begitu memukau. Cinta pertama, ah, berjuta rasanya. Kepolosan remaja dalam memandang dunia yang penuh pelangi memberikan banyak cerita yang bisa dieksplorasi. Dan Julie Anne Peters adalah seorang penulis teenlit LGBT yang bagus.

Keeping You a Secret bercerita tentang Holland Jaeger, cewek dengan nilai bagus di sekolah, ketua OSIS, populer dan punya pacar cowok yang baik hati, namun hidupnya berubah ketika bertemu dengan Cece Goddard, anak baru di sekolah yang dengan lantang dan bangga mengakui dirinya lesbian.

Saat itu tahun terakhir Holland di SMA dan dia merasa hidupnya mentok, tidak tahu harus memilih kuliah di mana sementara ibunya terobsesi ingin agar dia diterima di universitas terkenal dan menjadi orang sukses nantinya. Pada tahun terakhir sekolah itulah Holland menemukan bakat yang tak pernah dia ketahui sebelumnya. Bakat seninya serta ketertarikannya pada sesama perempuan.

Saat pertama kali bertemu Cece, Holland merasakan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

First time I saw her was in the mirror on my locker door. I'd kicked my swim gear onto the bottom shelf and was reaching to the top for my calc book when she opened her locker across the hall. She had a streaked blond ponytail dangling out the back of her baseball cap.

Great. Now I was obligated to rag on her for violating the new dress code. Forget it, I decided. My vote - the only dissenting one in the whole student council - still counted. With me, anyway. People could come to school buck naked for all I cared. It wasn't about clothes. We slammed our lockers in unison and turned. Her eyes met mine.

"Hi," she said, smiling. My stomach fluttered.

"Hi," I answered automatically. She was new. Had to be. I would've noticed her. She sauntered away, but not before I caught a glimpse of her T-shirt. It said: IMRU? Am I what?

Itulah petikan dari Chapter 1, kalimat pembuka pada novel ini. Dan pada momen itulah Holland tertarik pada Cece.

Bersama Seth, cowoknya, Holland aktif melakukan kegiatan seksual, tapi bagi Holland hubungan seksual itu lebih seperti mengerjakan PR. Cece menimbulkan kepenasaran dalam dirinya untuk bisa selalu dekat pada gadis itu. Akhirnya keterarikan Holland terhadap Cece pun berbalas, karena diam-diam Cece juga jatuh cinta padanya. Dan mulailah hidup Holland bergerak di luar kendalinya. Ditambah lagi remaja di bawah 19 tahun memang konon berpikir dengan amygdala, yang melakukan pengambilan keputusan berdasarkan emosi bukannya nalar.

Cece yang sudah out and proud sebagai lesbian menyulitkan Holland untuk menutupi hubungannya. Meskipun Holland dan Cece berjanji menyimpan hubungan mereka sebagai hubungan rahasia, akhirnya mereka ketahuan juga. Holland diusir dari rumah oleh ibunya, nilai-nilainya merosot drastis, dijauhi teman-temannya, dan terancam kemungkinan tidak bisa kuliah.

Julie Anne Peters yang tahun ini meraih penghargaan Lambda Award untuk buku remaja LGBT terbaik tahun 2007 tidak menulis kisah hidup Holland dalam bentuk meratapi nasib. Perlahan-lahan Holland mengatur ulang hidupnya, menempatkan prioritas, dan yang terutama terus melanjutkan hidup walaupun dia harus tinggal di shelter bagi anak-anak pelarian LGBT yang tidak punya rumah. Dan pada akhirnya Holland berhasil mengubah haluan hidupnya ke arah positif, meskipun dengan pengorbanan yang amat besar.

Buku yang terbit tahun 2003 ini ditulis dengan amat sangat baik dan membuat kita tidak bisa berhenti membacanya. Namun sayangnya, bagi saya, ada beberapa bagian yang meluncur terlalu cepat di bagian menjelang akhir, mungkin akan lebih baik kalau hubungan Holland dan sahabat-sahabatnya atau saudara tirinya digali lebih dalam lagi. Jika dibanding Luna, novel remaja karya Julie Anne Peters setelah novel ini, terlalu banyak karakter di sini sehingga jadi kurang tergali sepenuhnya. Tapi itu bukanlah masalah besar karena pada dasarnya buku ini sudah lebih dari sekadar “bagus”.

Keeping You a Secret memperoleh banyak penghargaan, di antaranya 2003 Lambda Literary Award Finalist, Best of 2003 Young-Adult Books, Borders Books and Music, American Library Association Best Books for Young Adults, 2004 Nomination, An ALA Popular Paperbacks for Young Adults. Dan ini adalah buku yang amat direkomendasikan bukan hanya untuk bacaan remaja abege, namun juga untuk semua orang yang pernah merasakan kegalauan saat menyadari diri kita memiliki orientasi seksual yang berbeda.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Subscribe