10:17 PM

Cinta yang Masokis dalam Dunia yang Sadis

Posted by alex |

Dunia ini sudah gila. Sungguh! Coba lihat bagaimana seorang Kevin Federline bisa dianggap sebagai ayah yang lebih layak untuk mengasuh anak-anaknya. Britney Spears, sang ibu, dengan sukarela menyerahkan hak asuhnya kepada sang mantan suami.

Itulah topik bahasan di kantor tadi sore. Entah kenapa hari ini anak-anak kantor tidak ada yang langsung melesat pulang ketika bel pulang berbunyi. Masih kami asyik melihat-lihat blog gosip, sahabat saya, Sis, nyeletuk.

“Lex, setel lagu Sadis dong."
“Ntar ya, abis Matahariku, Sadis-nya Afgan nih.”
“Sama seperti D’Cinammons, Agnes Monica ini cina yang bisa nyanyi,” ujar Sis.
“Cina-cina cakep selera Alex tuh,” sambar Vi yang duduk di belakang saya.
“Tau aja lo selera gue...”
“Ya iyalah, Alex gitu lhoooo... Kebaca deh...”
Sebelum mereka mengoceh lebih lanjut, saya menukas, “Diem deh, mau denger Sadis nggak? Bawel semua ya...”

Tapi dasar anak-anak gila yang sudah telanjur buka mulut, bukannya dengerin mereka malah membahas lagu. “Ini lagu najis banget ya?” demikian Sis berkomentar.
“Ember,” sahut saya. “Goblok banget gitu lho... udah disadisin masih mau aja sama tuh cewek.”
“Kan romantis, namanya juga cinta banget,” celetuk Vi.
“Yeah, right!” saya dan Sis menjawab berbarengan.
"Emang lo umur berapa? Empat belas? Memandang cinta sampe segitunya..."
“Emang lirik lagunya gimana sih?”

“Terlalu sadis caramu, menjadikan diriku pelampiasan cintamu agar dia kembali padamu tanpa peduli sakitnya aku. Tega niannya caramu menyingkirkan diriku dari percintaan ini agar dia kembali padamu tanpa peduli sakitnya aku... Semoga tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku suatu saat nanti. Hingga kausadari sesungguhnya yang kau punya hanya aku tempatmu kembali sebagai cintamu...”

Sis mendadak menyela, “Wait, wait... jadi ceritanya nih cowok sengaja dipacarin buat ngedapetin cinta pacarnya tuh cewek? Lalu setelah disakiti dan dimanfaatkan, nih cowok memohon sama Tuhan supaya dia bisa balik lagi sama tuh cewek yang pernah nyadisin dia?”

“Iya, masokis banget nggak sih?”
“Judulnya mesti diganti jadi Cinta Masokis. Huahahaha...” Vi tertawa ngakak.
“Padahal Afgan ganteng gitu...,” kata Sis. “Gue juga mau sama dia, kayak nggak ada cewek lain aja... Masih ada gue di sini gitu lho...”
“Lha elo cewek mauan sih... apalagi ama berondong. Ashton dan Demi kan panutan lo... :p Btw, Sis, lo nggak tau sekarang kita lagi jadi bangsa yang meratap. Menunggu cinta dan meratapi cinta atau menjadi orang ketiga jadi punya nuansa romantis?”

“Maksud?”
“Ya, maksud gue, lo liat aja lagu-lagu yang belakangan ini muncul. Ikhlas jadi orang ketiga. Kutunggu dirimu selamanya meskipun kau dimiliki orang lain. Cintaku begitu besar untukmu hingga aku mau meratapimu selamanya. Aku rela jadi pacar gelapmu meskipun cuma dipake saat dibutuhkan?”

“Lex, lo pikir semua cowok di dunia ini Fahri?”
“Ayat-ayat cinta banget sih lo, Vi?”
“Ya iyalah... Selingkuh itu nggak romantis tau... Punya istri muda itu menyakitkan buat si istri maupun madunya. Kalo suami gue selingkuh, gue akan minta cerai. Kalau perlu gue yang talakin dia!”
Kalau udah menyerempet isu poligami, Vi biasanya langsung berapi-api seperti gubernur yang kampanye pilkada.

Sis memotong ucapan Vi, “Tapi Alex kan lesbi. Di hubungan lesbian kan nggak mengenal poligami ya? Apa yang mau dipoli, mono aja nggak bisa? Ya nggak, Lex?”
Saya terdiam sejenak, lalu nyengir. “Ada aja tuh yang mau dipoli-in saking cintanya...”
“Geblek banget?” tukas Sis cepat. “Masokis banget tuh pasti.”
“Emangnya kenapa?” saya balik bertanya.

“Yah, lo bayangin aja, secara lo lesbian gitu kan nggak ada surat nikah resmi. Atau ikatan agama yang mengikat kalian. Apa alasannya dia nggak bisa meninggalkan pasangannya?”
Sejenak saya terdiam. “Ngggg.... dia nggak bisa ninggalin pasangannya karena nggak mau kehilangan pasangannya demi orang lain?”

“Itu namanya serakah. Tolol banget sih? Kalian nggak punya alasan untuk tidak berpisah.... Dan yang jadi selingkuhannya adalah idiot mutlak. Ditipu abis-abisan deh tuh. Lagian apa sih yang lo dapetin? Terus buat pelaku selingkuh, kalau ketauan sama pasangan lo, bukannya lo juga bakal nangis darah!”

Vi berusaha meniupkan udara perdamaian. “Eh, tapi, Sis, kan cari pasangan sesama jenis itu susah... makanya kalau udah dapat satu, dia nggak rela diputus.”
“Halah, bullshit! Tuh si Alex dapetin pacar gampang banget. Kayak ganti kolor doang...”
"Eh, gue udah insaf ya... Cinta gue udah mentok nih."
"Iya, iya, btw, Lakhsmi kapan datang lagi? Minta dia bawain JCo atau apa gitu kalau mampir...," kata Sis tanpa malu-malu.

Huahahaha, giliran saya yang tertawa gila-gilaan.”Anjrit! Lo pada gila ya, nanti gue tulis di blog nih...”
“Tulis, pake huruf gede bold, merah.... Cewek yang rela jadi ‘madu’, apalagi dalam hubungan lesbian adalah manusia paling menyedihkan di muka bumi ini.”
"Ih, jangan kejam gitu dong," saya menukas.
"Yeah, whatever deh, Lex... Abis ini lagu apa di mp3 lo?"

Duh, ampun deh... mulainya dari Britney Spears, lalu kenapa bisa endingnya begini sih? Afgan oh Afgan... Terlalu sadis caramu, memang.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Dua tokoh utama dalam novel ini melakukan begitu banyak perjalanan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang cinta. Galih mencintai Krasnaya. Raras mencintai Violet. Namun sejak awal kita tahu cinta mereka adalah cinta yang tak dipersatukan karena dipisahkan maut. Bahkan dalam daftar isi yang terbagi atas empat bagian pun kita sudah tahu. In Memoriam: Krasnaya. In Memoriam: Violet. Ego Distonik. Ego Sintonik.

Dalam Tabula Rasa, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan setting waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.

Selama bertahun-tahun Galih berhenti membuka hatinya untuk cinta karena ia keukeuh menambatkan cintanya pada Krasnaya meskipun hatinya pedih dan kesepian. Ia yakin takkan bisa menemukan cinta yang lain seperti cintanya pada Krasnaya. Bertahun-tahun kemudian pula Galih bertemu Raras. Perempuan muda, mahasiswinya, yang menyimpan banyak kegundahan terhadap dirinya sendiri. Melalui Raras, Galih berusaha mengisi hatinya yang sekarat dengan rasa.

Tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak atas nama cinta. Dalam perjalanan awal, Raras dan Galih menggenggam rasa mencintai itu dalam hati mereka. Mati-matian mereka berpikir beranggapan bahwa itulah hakikat cinta. Dengan terus bertahan menggenggam rasa cinta tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengepalkan tangan. Dan saking kuatnya mengepal, Galih menutup hatinya untuk cinta. Sementara saking kuatnya mengepal, Raras tidak membuka hatinya untuk berbagai kemungkinan atas cinta.

Raras adalah perempuan dengan masa lalu kelam dan berada dalam kondisi bimbang terhadap siapa diri dia sebenarnya. Ia berada di persimpangan jalan antara membalas cinta lelaki yang baik bernama Galih ini atau terus mempertanyakan cintanya pada Violet. Raras berusaha menyelami kembali siapa dirinya. Apakah dia lesbian, apakah dia hetero, apakah dia biseks? Pertanyaan-pertanyaan yang kian lama tampak wajar dalam dunia modern ini.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang cinta itu terjawab dengan sendirinya oleh hidup itu sendiri. Oleh pengalaman-pengalaman dan keputusan-keputusan yang diambil pada setiap belokan yang mereka temui dalam perjalanan hidup.
Hal-hal bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Selalu anehnya pada waktu itu kita berpikir bahwa itu adalah yang terbaik... Ada suara hati yang berbisik dan kita mendengarkannya. Dan dari semua hal, nafsu adalah hal yang paling abadi, dominan, permanen... Pusat pikiran serta konsentrasi kita padanya melebihi pegangan hidup kita lainnya seperti iman dan segala aturan, baik agama maupun negara, yang katanya untuk membimbing hidup. Apa lagi yang mengendalikan hidup kita selain hati? Akal, dan hanya itu yang bisa kita harapkan. (h.134-135)

Lesbianisme dalam Tabula Rasa bukanlah jadi wacana "mengapa" dan "bagaimana" tapi merupakan sesuatu yang memang sudah ada dan menunggu untuk ditemukan oleh Raras, si lesbian dalam novel ini. Cintanya pada Violet dan hubungannya dengan Galih menjadi sesuatu yang sifatnya empiris.

Tabula Rasa adalah pemenang ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003. Dan ini merupakan novel pertama Ratih Kumala, perempuan kelahiran tahun 1980, lulusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret. Selain menulis novel, cerpen-cerpen Ratih Kumala juga dimuat di berbagai media massa nasional. Pada tahun 2005, ia menerbitkan sebuah novel berjudul Genesis dan kumpulan cerpen berjudul Larutan Senja tahun 2007. Meskipun memperoleh penghargaan bergengsi, Tabula Rasa sebenarnya bukan novel “berat”. Ini adalah novel yang santai, namun sayangnya ada beberapa bagian yang seharusnya diedit dengan lebih rapi. Kesalahan-kesalahan ketik dan penggunaan bahasa yang berlapis dengan terjemahan menganggu kenyamanan pembaca.

Menurut wikipedia, Tabula Rasa yang berasal dari bahas latin berarti kertas kosong, merujuk pada pandangan pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.

Dan di sinilah konsep lesbianisme yang ditawarkan Ratih Kumala, sang pengarang. Raras menjadi lesbian berdasarkan hasil pengalaman, yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku dilahirkan sebagai batu yang kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. (h.183)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

5:05 PM

Tina Fey, 30 Rock dan Ikon Lesbian

Posted by SepociKopi |

Bulan Juni 2008, situs lesbian www.afterellen.com menempatkan Tina Fey sebagai perempuan nomor 1 dalam daftar perempuan Hot 100. Daftar Hot 100 tersebut memuat nama 100 perempuan (selebriti) yang jadi idola lesbian berdasarkan hasil polling oleh ribuan lesbian/biseksual.

Tina Fey mengalahkan Jennifer Beals, pemeran Bette dari The L Word yang menduduki urutan kedua. Bahkan mengalahkan Kate “Shane” Moennig yang hanya menduduki urutan 9. Nama-nama seperti Angelina Jolie, Jodie Foster, dan Ellen Degeneres bahkan tidak masuk 10 besar. Pintar, sexy, lucu, dan membumi. Menurut afterellen.com itulah alasan mengapa banyak lesbian menyukai Tina Fey meskipun dia straight.

Saya pribadi adalah penggemar perempuan yang lahir pada tanggal 18 Mei 1970 ini. Dia adalah aktris, komedian, penulis skenario, dan produser. Selama enam tahun ia menjadi kepala penulis di acara Saturday Night Live (SNL), yang jiplakannya di Indonesia kita kenal sebagai Extravaganza. Dan Tina Fey adalah perempuan pertama yang menjadi kepala penulis di SNL. Saya bisa ketawa ngakak tak habis-habisnya melihat duetnya dengan Jimmy Fallon dan Amy Poehler di SNL.

Namanya melejit sebagai penulis skenario andal ketika Mean Girls, film yang dibintangi oleh Lindsay Lohan, menjadi film remaja yang sukses mendunia pada tahun 2004. Namun yang membuat mata semua orang tertuju padanya adalah ketika dia menjadi kreator, produser ekskutif, dan pemeran utama serial komedi 30 Rock yang mulai tayang pada tahun 2006.


Serial kocak dengan dialog-dialog humor yang cerdas ini berkisah tentang kehidupan Liz Lemon, yang diperankan oleh siapa lagi kalau bukan Tina Fey sendiri. Dalam 30 Rock, Liz Lemon adalah kepala penulis serial sitkom di NBC yang harus berhadapan dengan para anak buahnya yang nyentrik. Belum lagi tingkah bos gendheng yang diperankan oleh Alex Baldwin sebagai Jack Donaughy, yang kadang-kadang berlebihan ikut campur dalam kehidupan Liz Lemon.

Beberapa episode dalam serial 30 Rock membahas isu lesbian/gay dengan cara yang kocak dan normal. Seperti dalam season 1, episode The Blind Date, Jack menjodohkan Liz dengan perempuan lesbian karena melihat sikap Liz yang dingin terhadap laki-laki, dia menduga Liz adalah lesbian. Atau dalam season 2 ketika ada seorang lelaki muda yang ganteng naksir pada Liz, seorang laki-laki anak buah Liz menyatakan dirinya rela jadi gay demi lelaki muda yang ganteng itu. Dalam episode-episode lain, isu lesbian/gay juga disentil dengan cara yang tidak melecehkan dalam komedi cerdas ini. (Tidak seperti tayangan-tayangan TV kita yang terkadang menjadikan banci/gay sebagai objek penderita,--red)

Bagi saya, 30 Rock yang kini memasuki season 3, termasuk kategori serial yang Mesti Ditonton, selain Gossip Girls,:p. Meskipun tidak mendapat rating tinggi, namun serial ini mendapat banyak penghargaan, antara lain nominasi bagi Tina Fey sebagai Outstanding Actress in a Comedy Series dalam penghargaan Emmy tahun 2007. Serial 30 Rock sendiri memenangkan penghargaan Emmy tahun 2007 sebagai Outstanding Comedy Series. Pada tahun 2008, Tina Fey memenangkan Golden Globe untuk Best Actress in a Comedy or Musical, dan ia juga memenangkan Screen Actors Guild Award untuk Outstanding Performance by a Female Actor in a Comedy Series.

Dalam kehidupan pribadi, pada tahun 2001 Tina Fey menikah dengan Jeff Richmond, komposer di SNL setelah berpacaran selama tujuh tahun, dan kini mereka memiliki putri berusia 3 tahun. Dipuja sebagai ikon lesbian, membuat Tina Fey sering digosipkan sebagai lesbian. Tina Fey sendiri tidak peduli pada gosip itu, ia malah sering menjawab pertanyaan seperti itu dengan jawaban yang asbun. Namun secara serius Tina Fey menyatakan dirinya bangga dan terhormat dengan pujian sebagai ikon lesbian.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Kadang-kadang perempuan butuh perempuan lain untuk membantunya membangkitkan inner beauty dalam dirinya. Itulah makna dari film Love on the Side. Eve Stuckley (Marla Sokoloff) adalah waitres di kota kecil. Selama bertahun-tahun ia naksir pada cowok ganteng sahabat kakaknya, Jeff Sweeney (Barry Watson). Meskipun manis dan berbakat, penampilan Eve yang culun sering membuatnya tidak diperhatikan oleh laki-laki.

Sampai suatu hari Linda (Monika Schnarre) datang ke kota itu. Linda yang cantik bertubuh semampai ala supermodel itu membuat semua lelaki di kota tersebut terpana dan naksir berat. Termasuk kakak Eve dan Jeff. Tapi Linda yang lesbian ternyata tidak tertarik pada laki-laki, dan dia tidak malu-malu menunjukkan ketertarikannya pada Eve.

Mendadak Eve yang selama ini tidak pernah dilirik lelaki idamannya kini jadi pusat perhatian semua orang. Penduduk kota kecil itu kini melihat Eve dengan cara yang berbeda. Bagaimana seorang gadis pemalu bisa menjadi pusat perhatian gadis kota besar yang cantik, cerdas, dan sexy?

Love on the Side sendiri adalah film buatan Kanada tahun 2004 yang disutradarai oleh sutradara kelahiran India, Vic Sarin, yang banyak menyutradarai film-film televisi. Pemeran Linda, Monika Schnarre, memang model asal Kanada dan telah membintangi beberapa serial televisi antara The BeastMaster dan The Bold and the Beautiful. Ia juga menjadi model pakaian renang di negara asalnya, Kanada. Kehadiran Jennifer Tilly dalam film ini sebagai Alma, sahabat tempat curhat Eve juga menyegarkan. Dia yang pernah tampil dalam film Bound membuat film ini jadi "sedikit lebih lesbi".

Sesungguhnya Love on the Side bukanlah film yang lesbian-lesbian amat. Ceritanya sendiri standar film remaja. Ada cewek yang selama bertahun-tahun naksir seorang cowok ganteng, tapi cowok ganteng itu tidak pernah memerhatikannya. Kemudian muncul tokoh lain yang membuat si cowok itu memerhatikan cewek itu. Tapi lesbian twist di sinilah yang membuatnya punya bumbu berbeda.

Seperti halnya film The Color Purple karya Steven Spielberg, Love on the Side menampilkan ide tentang bagaimana kadang-kadang perempuan hanya perlu dibangkitkan secara seksual oleh perempuan lain tanpa berarti bahwa perempuan tersebut adalah lesbian. Karena ada hal-hal tertentu yang tak kasatmata oleh lelaki, namun bisa dilihat oleh sesama perempuan.


@Alex, RahasiaBulan, 2008

Subscribe