8:38 AM

Sepotong Subuh buat Pacarku

Posted by SepociKopi |

Pacarku tersayang,
Pada suatu petang aku pergi keluar kamar dan menemukan senja seperti padang ilalang di langit-langit bumi. Kulihat tetangga-tetangga menjahit kesibukan menjelang malam; bapak-bapak mengumpulkan sarung dan ibu-ibu menjepit jendela. Matahari berwarna kesurupan, hendak pesiar ke tempat yang indah. Aku ingat cerita di buku kesukaanmu, Pacarku. Cerita tentang seorang lelaki yang mengambil senja buat pacarnya.

Angin menggelepar di antara daun-daun di kebunku saat petang sebentar lagi padam. Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu. Mungkin saja bisa kusemai mimpi-mimpiku, tapi mereka belum meranum. Musim panen tiba terlambat, Pacarku. Atau mungkin saja bisa kukapling berhektar-hektar angan buatmu, tapi aku cemas letaknya terlalu terpencil. Atau mungkin kugambar pelukan tubuh kita di bawah cahaya temaram, tapi gambar itu hancur terkena hujan yang kaya raya. Akhirnya aku mencabik-cabik jantungku untuk kuberikan padamu agar menjadi bantal tidurmu menemani malam nanti.

Jadi apa yang bisa kuberi untukmu, Pacarku selain cabikan jantungku. Kutunggu kau pulang ke rumahku. Telah kusediakan ranjang seluas pantai yang pernah kita sisiri tangga-tangga pasirnya. Tungku dapur sedang berpesta merayakan hangat nasi dalam kesepiannya. Dan kuseret jacuzzi yang kubeli di pasar tadi pagi ke kamar mandi, berwarna merah dan terbuat dari plastik, yang penting cukup besar dan tidak bocor untuk membasuh tubuh lelahmu.

Lalu kulihat kau pulang memanggul tas besar di punggung. Bayanganmu belum lagi hilang dari belakang tubuh, tanda kegelapan belum mampu memangsa raga. Tasmu berisi apa, tanyaku melompat-lompat kegirangan. Ini, katamu, kutemukan telur di pinggir kota, erami saja, syukur-syukur anak kita bisa lahir selamat.

Pacarku memberikan telur berisi bayi untukku. Kulempar pandang, kutemukan seribu tawa dan air mata berlabuh di rimbun wajahmu. Malam setengah matang, obrolan kami semakin nyenyak. Napasmu, Pacarku, memanggilku pelan, mengingatkanku tentang sepotong senja yang kini telah basi. Terlambat aku menggunting senja untuk kuberikan padamu sebagai tanda cintaku atas telur yang kini kuerami.

Malam mendidih di panci, tuhan lewat mengintip di lubang kunci, aku duduk di sarang tak menari-nari. Telur yang kuhangatkan pecah, bayi itu keluar dengan pipi putih brokat seperti seprai yang kita tiduri. Kugendong si pipi putih ke keluar kamar melihat bintang biru pucat sedang berkejar-kejaran dengan matahari. Kebunku pandai menanam pagi.

Aku kedatangan ilham di tengah-tengah seribu nyanyian lantang mengajak bibir bersembahyang. Bayi di tangan kiriku, arit di tangan kananku. Aku berjinjit untuk menggapai plafon bumi. Subuhmu luas dan tak terbatas, boleh kupinjam sepotong kecil, tuhan, tanyaku berbisik-bisik. tuhan tiba dengan bajunya yang kuyup. Kena hujan, kata beliau dengan senyum lucu, ambil saja subuh itu tidak usah dikembalikan, emangnya perpustakaan?

Kupotong subuh dengan arit, kukepak dalam kotak hujan yang rinainya empuk. Pacarku sayang, ini untukmu. Telah lama kupikirkan hadiah apa yang ingin kuberikan padamu sampai kepalaku berkarat dan engselnya nyaris putus. Subuh akan mati selewat jarum jam menjinjing waktu, jadi nikmati saja saat ia masih hangat. Mungkin esok atau kapan-kapan aku akan meminta izin tuhan untuk menggoreskan aritku di sana lagi.

Pacarku, sumpeh, aku mencintaimu setengah mati.

Dengan peluk, cium, dan subuh yang masih mengepul,
Lakhsmi

@Lakhsmi, RahasiaBulan, 2008

5:16 PM

Maaf

Posted by alex |

Dear Serena.
My world is falling apart and you're the only one who would understand. My father left my mother for a 31 year-old model. A male model. I feel like screaming because I don't have anyone to talk to. You're gone, my dad's gone, Nate's acting weird... where are you? Why don't you call? Why did you leave without saying goodbye? You're supposed to be my best friend. I miss you so much.
Love, Blair.


Itu adalah kutipan surat yang dibacakan oleh Blair Waldrof untuk Serena Van Der Woodsen dalam serial Gossip Girl. Saya suka sekali adegan ini. Adegan ini terjadi ketika Blair dan Serena saling marah dan membenci karena Blair mendapati Serena tidur dengan Nate, kekasih Blair. Kemudian Serena pergi meninggalkan Blair begitu saja karena takut Blair mengetahui kegiatan "makan temannya" ini. Blair membalas Serena sampai-sampai dia nyaris menghancurkan reputasi Serena.

Sulit sekali bagi kita untuk bisa memberi maaf kepada orang yang sudah menyakiti kita. Serena menyakiti Blair sedemikan rupa dengan tidur dengan Nate. Saya tahu sekali bagaimana sakitnya perasaan itu, ketika sahabat baik "tanpa sengaja dan tanpa rencana" tidur dengan partner. Oh, please... jangan hina kecerdasan saya dengan bilang begitu. Kalau, ups kakimu terkilir, itu sih bisa "tanpa sengaja." Atau ups, tangan saya melayang menampar mukamu, itu masih bisa "tanpa rencana."

Saya marah sekali saat itu. Marah yang tak terkira. Tidak pernah saya duga bahwa sahabat saya yang juga mantan saya bisa-bisanya makan teman sendiri dengan mendekati partner di saat kami sedang rawan. Kalau ada alu di samping saya saat itu dan dia ada di hadapan saya, sudah pasti saya hantam kepalanya. Belum sampai setahun lalu, saya maki dia habis-habisan sampai dia gelagapan.

Kemudian dia minta maaf dan partner juga berjanji akan meninggalkannya.

Beberapa minggu setelah itu, saya masih sering cemburu dan curigaan. Secara kantornya dekat dengan wilayah jajahan partner. Dan mereka masih sering chatting tiap hari... grrh...

Sahabat saya itu mengirim SMS, yang isinya permintaan maaf. Sulit bagi saya untuk memaafkannya hingga saya tersadar bahwa bagaimanapun dia berusaha membayar dosanya dengan meminta maaf. Menurut saya, dosa justru adalah saat kau tahu kau sudah berbuat salah dengan mengacak-ngacak hidup orang lain dan kau berlagak bodoh melihat luka yang kautimbulkan.

Saya pun belajar memaafkan dia. Karena dia tidak berlagak bodoh dan menyadari betapa terlukanya saya saat dia menginjak-nginjak hidup saya. Dia meminta maaf dengan tulus. Dan tidak ada yang bisa saya lakukan selain memberinya maaf secara tulus.

Menonton adegan Serena dan Blair, saya jadi teringat pada kisah maaf-memaafkan itu. Tapi permintaan maaf tidak selesai sampai di sana. Maaf berarti penyesalan yang mendalam. Penyesalan yang harus menimbulkan tekad bahwa kau tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada sahabatmu. Karena tanpa penyesalan dan janji sepenuh hati bahwa kau takkan mengulanginya lagi, maafmu akan mentah lagi dan jadi tambahan dosa untukmu. Itulah yang membuat saya dan dia bisa bersahabat lagi.

Jelas saya tidak bisa memaafkan orang yang berlagak bodoh padahal tahu bahwa dia sudah melakukan kesalahan dan berlindung di balik segala omong kosong soal cinta dan mengaku akan setia sampai mati hanya “menunggu” seseorang yang dicintai selamanya. Bagi saya itu menunjukkan kedewasaan dan kematangan diri. Ada orang yang terlalu takut dan pengecut untuk minta maaf dan lebih menikmati masturbasi cintanya sendiri. Atau yang lebih buruk lagi, dia tidak pernah merasa perlu minta maaf, karena dia tidak merasa salah. Karena "cinta" tak pernah salah. Dia tidak peduli betapa sakitnya luka yang dia timbulkan, dan mencari pembenaran dengan alasan-alasan sok romantis. Bagi saya dia seperti manusia berjiwa bobrok dan tak layak dicintai. Manusia-manusia rendah yang serajin apa pun ibadahnya takkan bisa membayar dosanya yang satu ini.

Blair kemudian melanjutkan hubungan dengan Nate. Serena menjalin hubungan dengan Dan. Hidup mereka berlanjut, Blair dan Serena tetap jadi BFF (Best Friends Forever). Paling tidak sahabat saya itu cukup jantan untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf, serta menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh. Di mata saya, kesadaran itulah yang menghapus dosanya. Dan kini kami bisa melanjutkan hidup kami dengan baik.

@Alex, RahasiaBulan, 2008


Affinity adalah film buatan tahun 2008 yang diangkat dari novel tahun 1999 karya Sarah Waters. Dengan genre Historical Fiction, Sarah Waters telah mencatatkan namanya sebagai novelis lesbian yang memiliki spesialisasi khusus tema lesbian berlatar belakang sejarah.
Novelnya sendiri memenangkan menjadi nomine Lambda Literary Award pada tahun 2000 serta beberapa penghargaan bergengsi lainnya. Dan Sarah Waters memperoleh penghargaan Sunday Times Young Writer Award berkat novelnya ini.

Novelnya diangkat ke layar lebar dengan penulis skenario Andrew Davies, yang menjadi co-writer skenario film Bridget Jones Diary dan Pride and Prejudice versi BBC. Film Affinity ditayangkan pertama kali pada tanggal 19 Juni 2008 pada malam pembukaan Frameline, San Fransisco International LGBT Film Festival di Castro Theatre.

Affinity bersetting pada tahun 1870-an di Inggris pada era Victoria, ketika perempuan masih mengenakan gaun 'sarang burung'. Tokoh utamanya adalah Margaret Prior (Anna Madeley) perempuan yang dianggap perawan tua (padahal sesungguhnya dia lesbian) dan depresi karena kematian ayahnya dan pernah mencoba bunuh diri, ditambah lagi dengan ibunya yang otoriter. Margaret menemukan setitik kebahagiaan ketika menjadi "Lady Visitor" alias semacam pembimbing bagi napi-napi perempuan di penjara.

Di penjara dia bertemu dengan Selina Dawes (Zoe Tapper), yang saat pertama kali dilihat Margaret sedang menggenggam setangkai bunga. Hal itu mengusik rasa ingin tahu Margaret, karena bunga adalah benda yang nyaris tak mungkin bisa ditemukan di penjara. Selina mengaku dirinya adalah medium arwah. Ia juga mengaku bahwa ada arwah jahat yang menjadi pelaku kejahatan yang didakwakan padanya.

Margaret pun jadi terobsesi pada Selina dan jatuh cinta pada sang napi. Ia rela melakukan apa saja demi Selina apalagi saat Selina menyatakan bahwa mereka adalah dua jiwa yang terpisah dan mereka ditakdirkan untuk bersama.

Dibanding dua film dari karya Sarah Waters sebelumnya, Tipping the Velvet dan Fingersmith, yang dibuat miniseri sepanjang 3 jam oleh BBC, Affinity adalah film singkat sepanjang 90 menit sehingga meninggalkan kesan kurang panjang. Film ini juga tidak menunjukkan adegan-adegan percintaan sesama perempuan seperti Tipping the Velvet dan Fingersmith. Yang ada hanya ciuman-ciuman singkat dan halus. Unsur yang mengganggu dalam film ini adalah permainan kamera close-up ala sinetron Punjabi. Seakan ada latar belakang musik, 'jreng-jreng', setiap kali si tokoh menunjukkan keterkejutan atau kepanikan. Namun semua itu tidak mengurangi kenikmatan menonton film ini.

Affinity lebih berpusat pada kisah misteri dibanding kisah cinta antara Margaret dan Selina. Misteri yang akan terungkap pada akhir film, dan akan jadi spoiler jika saya tulis semua di sini. Film ini bisa saja dibuat dengan tokoh hetero, misalnya. Ketegangan dan misterinya akan tetap sama. Tapi unsur lesbiannya membuat film ini memiliki twist yang sedikit lebih rumit. Dan dalam Affinity, kisah misteri ini kebetulan terjadi pada dua perempuan lesbian.

Sekali lagi acungan jempol untuk Sarah Waters. Kemampuannya membuat twist cerita dalam novel-novel lesbiannya belum ada lawan sampai sejauh ini. Saya rasa itulah yang membuat novel-novel Sarah Waters selalu jadi tontonan menarik saat diangkat ke layar TV atau layar lebar. Sebagaimana dua film yang diangkat dari novel Sarah Waters sebelumnya, Affinity adalah film yang layak ditonton.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

4:05 PM

Doa

Posted by alex |

Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berikanlah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.
Tiap minggu saya ke gereja, tapi saya tak pernah benar-benar menyimaknya, dan tidak menyadari betapa indahnya doa ini. Sampai dua malam yang lalu. Dua malam yang lalu (malam Jumat), sehabis membereskan pekerjaan dan cemas karena anak sakit, saya menemukan doa ini di dalam sebuah novel.

Saat itu saya sendirian, partner sudah tidur, kemudian saya masuk ke kamar dan mendapatinya di ranjang dengan selimut tertendang jauh. Saya raba suhu si baby yang demam. Saya selimuti dia lagi. Saya pandangi mereka berdua. Seperti apa hidup saya tanpa mereka? Seperti apa hidup mereka tanpa saya? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benak saya.

Setelah melewati setahun yang panjang akibat pengkhianatan yang kami berdua lakukan, saya sadar, sesadar-sadarnya. Beban ketakutan saya selama ini sudah hilang. Bahwa dia bisa selingkuh dan mengkhianati saya, sebagaimana saya juga bisa mengkhianati dia. Godaan tiap hari lewat di depan saya, secara fisik atau dunia maya. Saya mungkin memimpikan perempuan lain yang tidak akan pernah saya dekati karena saya tak merasa punya beban untuk mendekatinya. Saya tidak punya beban lagi untuk "selingkuh" duluan daripada dia. Atau semacam teori aneh bahwa daripada kita yang sakit hati, lebih baik punya "bemper" lebih dulu.
Godaan pun jadi tidak penting lagi karena tak ada beban untuk membuat kita tergoda untuk bertemu dengan mantan pacar yang masih bertahan menunggu, misalnya.

Saya tidak takut lagi partner akan mengkhianati saya dan saya akan kehilangan dia. Dan saat saya tak takut, segalanya lebih ringan. Saya percaya dengan kekuatan doa dan kebahagiaan diri sendiri.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

“Jeng seperti apa sih perasaan lesbian?”
“Ya, sama seperti perasaan manusia pada umumnya, nggak ada bedanya.”
“Beda nggak sih perasaannya dengan perasaan cewe hetero?”
“Sama aja tuh. Sama seperti perasaan kamu ketika naksir laki-laki. Perasaan cinta lesbian nggak lebih besar atau lebih kecil dibanding perasaan perempuan hetero yang jatuh cinta sama laki-laki.”

Saya bertemu dengan sahabat perempuan yang selama ini menganggap dirinya sebagai perempuan yang secara orientasi seksual masuk kategori Questioning. Jauh di dalam lubuk hatinya dia kepingin menjadi lesbian. Dalam beberapa kesempatan pun dia menyatakan keinginannya yang tidak lazim itu. “Kayaknya enak ya, bo, jadi lesbi.” Saya sering tertawa ngakak melihat niatnya ini. Heran juga makhluk yang satu ini, yang lesbian banyak yang kepingin jadi hetero, eh dia malah kepingin jadi lesbian.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dia lagi ketika sedang menonton Q! Film Festival. Kembali kami membahas soal isu Questioning ini. “Hai, jeng. Apa kabar?” tanyanya.
Kami pun bertukar kabar sambil menikmati makanan ringan di salah satu cafe di mal.
“Perempuan itu makhluk yang indah. Aku tuh suka melihat perempuan kuat, perempuan yang pintar,” demikian lanjut sahabat saya lagi. “Aku tuh kadang-kadang kepingin bisa naksir perempuan. Aduh.... kayaknya indah banget ya.”

“Percaya deh, jeng. Jadi lesbian itu nggak spesial-spesial amat. Sama perempuan juga nggak melulu enak. Sakit hatinya juga sama seperti ketika perempuan hetero disakiti laki-laki.”

Ternyata sahabat model begini tidak hanya satu orang. Saya juga pernah bertemu perempuan lain yang juga punya concern berlebih kepada kaum lesbian. “Saya tuh sering lho ditaksir lesbian,” demikian kata perempuan itu. “Tapi ya saya tolak, lha wong saya bukan lesbian kok. Tapi saya bangga ditaksir lesbian.”

Saya sebenarnya nggak ngerti di mana bangganya ditaksir lesbian. Kenapa mesti bangga? Dan di bagian mananya yang bikin seseorang mesti bangga ditaksir lesbian. Eniwei, dia terus bercerita bahwa meskipun dia belum menikah dan tidak punya pacar lelaki, dia bahagia dengan hidupnya.

Saya juga teringat kalimat yang sering dilontarkan sahabat baik saya di kantor. Suatu hari kami bertatapan mesra penuh cinta, lalu kami ngakak gila-gilaan. Kemudian dia berkata, “Kalau ada setitik darah lesbian mengalir dalam diri gue tadi, gue pasti udah naksir lo... Secara gue lagi kosong dan lo orang yang gue lihat setiap hari.”

Saya pun menjawab, "Iya. Gue bayangin adegannya gini. Kita duduk di apartemen, menikmati wine. Lo lagi patah hati sama laki-laki lo. Terus lo curhat. Kita setengah mabuk. Eh, kejadian deh... Lalu setengah tahun kemudian, lo nyadar bahwa lo minatnya sama cowok. Males banget nggak sih? Thanks, but no thanks."

Di mata perempuan-perempuan semacam ini, menjadi lesbian seolah-olah jadi keren, jadi semacam simbol status “lagi eksis nih”. Tapi saya yakin kok perempuan-perempuan ini hetero sejati, mereka hanya memiliki kekaguman berlebih saja terhadap keindahan perempuan.

“Kamu pernah sama laki-laki, nggak?” tanya sahabat saya.
“Pernah dong. Banyak malah. Dan, jeng...,” saya mendekatkan tubuh penuh konspirasi padanya, “aku nggak pernah punya masalah dengan mekanisme hubungan lelaki dan perempuan.”
Sahabat saya membelalakkan matanya. “Terus kok berhenti sama laki-laki?”
“Bukan berhenti, ya, jeng. Apa ya? Hm, aku nggak pernah merasa tepat aja sama laki-laki.”
“Maksudnya?”
“Aku nggak pernah membayangkan hidupku dengan laki-laki...” Saya terdiam sejenak. “Hm, gini deh, jeng. Pernahkah kamu membayangkan seperti apa hidup kamu? Hm, contohnya gini, aku punya teman, dia selalu bisa membayangkan seperti apa gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan dia, dan lelaki seperti apa yang bakal menjadi suaminya.”
Sahabat saya mengangguk mengerti.

“Nah, kalau aku tuh nggak pernah merasa at home dengan lelaki. Rasanya ada yang salah. Dan setiap kali aku membayangkan 'rumah', yang kubayangkan adalah perempuan dan sofa. Ruang temaram dan pelukan sambil nonton acara nggak jelas di TV.” Saya memandangnya lekat-lekat. “Kalau kamu bagaimana? Siapa yang kamu bayangkan? Laki-laki atau perempuan?”
Tanpa ragu dia langsung menjawab, “Laki-laki.”
“See? Masalah kamu selesai. Kamu tuh hetero. Dan plis deh, jangan jadi lesbian. Cari laki aja sana.”

“Aku baru ketemu nih lesbian yang menyarankan orang jadi hetero.”
“Ya iyalah. Buat apa coba mau jadi lesbian? Paling-paling kamu nyoba pacaran, tidur sama cewek, lalu apa? Mendadak suatu hari kamu terbangun dan memutuskan untuk jadi hetero (lagi)? Ih cape deh...”
“Iya, iya, bener tuh. Aku punya temen seperti itu. Dia hetero, terus coba-coba pacaran sama perempuan, setahun. Lalu putus karena merasa hubungannya sama perempuan tuh rasanya nggak bener.” Sahabat saya menyedot iced lemon tea-nya sebelum melanjutkan. “Terus apa bedanya dengan perempuan lesbian yang baru sadar dia lesbian setelah punya suami? Perempuan macam itu hetero atau lesbian?”

“Itu sih yang bisa jawab si perempuannya sendiri,” kata saya. “Ada yang memutuskan menikah meskipun tahu bahwa dia lesbian. Ada yang selalu menganggap dirinya hetero meskipun setengah kakinya sudah masuk dunia lesbian. Ada yang lesbian laten, yang butuh waktu lama untuk ngeh bahwa dia lesbian, mungkin setelah menikah dia baru sadar bahwa dia juga tertarik sama perempuan.”

"Aih, jeng, kok eike jadi puyeng ya?"
"Udah, jangan puyeng-puyeng. Lihat arah jam tiga. Ada cowok cute yang dari tadi liatin kita terus."
"Hihihi, si jeng ini... Merhatiin laki juga ternyata..." Sambil pura-pura mencari pelayan, sahabat saya pun menoleh ke arah cowok cute di arah jam tiga.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

10:55 PM

Wajah Pembaca Novel Lesbian Indonesia

Posted by alex |

“Aku nggak suka baca novel,” demikian kata seorang sahabat. “Aku cuma baca novel lesbian,” lanjutnya dengan bangga.

"Mana yang bagus?"

"Semuanya bagus. Semuanya gue banget."

Beberapa kali saya mendapat sambutan seperti itu saat chatting dengan sahabat-sahabat lesbian. Koleksi bukunya cuma novel-novel bertema lesbian dengan tokoh utama atau tokoh-tokoh minor yang lesbian. Saya prihatin dengan kondisi ini.

Sebagai orang yang hidup dan bernapas dalam buku, saya kecewa. Saya tidak melihatnya sebagai kebanggaan. Saya mengukur kecerdasan dan wawasan seseorang dari buku-buku yang dibacanya. Saya belajar banyak dari buku-buku yang saya baca. Di dalam buku saya bisa menyelam tanpa perlu tabung oksigen, saya bisa terbang walau tak punya sayap. Buku, baik fiksi dan non fiksi, selalu membuat saya tak habis kagum pada penulisnya. Untuk fiksi, ada kekaguman yang berbeda dari cara mereka menciptakan realitas melalui tulisan. Pada cara mereka menciptakan dunia yang membuat saya percaya. Pada cara mereka mengajak saya terbang ke sebuah alam di negeri yang punya nyawa dan hidup sendiri.

Seperti kata Tom Clancy "The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense."

Pembaca lesbian yang cuma membaca buku fiksi yang “gue banget” itu bukanlah pembaca buku fiksi. Dan di mata mereka semua buku fiksi lesbian itu gue banget dan bagus. Tidak ada buku fiksi lesbian jelek. Pokoknya asal lesbian, bagus punya deh! Mengharukan dan menyentuh, apalagi kalau ceritanya happy ending. Ya! Happy ending, itu yang paling penting! Asal happy ending buku menjadi bagus “banget”.

Pembaca fiksi lesbian masih tersaruk-saruk dan “nyangkut” di kisah happy ending. Walaupun cerita nggak masuk akal serta hukum sebab akibat tidak digarap dengan baik. Atau ditulis dengan bahasa acak-acakan seolah nggak pernah tahu bahwa kita punya kamus bahasa Indonesia. Atau pula plot yang lemah dan berantakan. Itu dianggap sebagai buku yang bagus oleh banyak lesbian. Apalagi jika ditulis oleh sesama sista, maka kualitasnya semakin menjanjikan seolah-olah terlupakan bahwa fiksi berbeda dengan menulis pengalaman pribadi. Nilai sastra tidak menjadi penting lagi, yang penting adalah sistahood-nya.

Pembaca lesbian seharusnya tidak terjebak dalam dikotomi hanya membaca buku fiksi lesbian sementara buku fiksi non-homoseksual dianggap tidak penting dan tidak perlu dibaca. Ini mengakibatkan, nilai pengetahuan atas kualitas sastra pembanding menjadi minim, kalau tak mau dikatakan nol. Jika ada tulisan yang berbeda dari jalur kelaziman langsung dipuja-puja. Atau langsung dilaknati. Sebut saja novel fenomenal seperti Da Vinci Code, berapa besar kepanikan yang ditimbulkan oleh ketakutan bahwa novel ini akan menggoyahkan iman? Jika kita sering membaca buku fiksi, kita tahu bahwa novel ini hanyalah fiksi yang dibuat dengan sangat baik oleh Dan Brown sehingga membuat kita "percaya". Dan kita tahu bahwa apa yang diangkatnya bukan “barang baru” dalam dunia fiksi.

Kepanikan sejenis itu terjadi dalam dunia sastra lesbian kita.

Ada pembaca lesbian yang langsung panik dan ngeri setengah mati saat melihat novel lesbian yang dikaitkan dengan narkoba. Pembaca lesbian yang tidak awam dengan keragaman fiksi langsung seperti cacing kena abu hanya dengan melihat judulnya saja. Padahal novel tersebut memenangkan salah satu penghargaan bergengsi dalam dunia sastra Indonesia. Atau saat melihat novel dengan mencantumkan judul “Lesbian” besar-besar, pembaca seperti ini langsung kalap kegirangan melihat ada novel lesbian yang beredar.

Cerita-cerita lesbian yang menyedihkan, teraniaya, curhat tak bertepi tentang kehidupan sebagai lesbian adalah cerita yang paling dicari oleh pembaca lesbian. Tentang konflik internal dalam diri. Masih sebatas itulah yang dicari pembaca-pembaca lesbian. Kalau lesbiannya terlalu bahagia atau tidak ada konflik batinnya itu dianggap tidak real. Jadi pola yang dicari oleh pembaca lesbian adalah sepanjang novel si lesbian harus terus-menerus dirundung derita lalu menjelang akhir dia akan menemukan happy ending seperti cerita-cerita sinetron yang sering kita lihat di televisi.

Fanatisme buta semacam itu bukanlah penghargaan terhadap pengarang sebagai pengarang. Dia tidak dihargai karena hasil karya sastranya. Jika dia tidak menulis novel lesbian lagi, apakah si pengarang masih akan dipuja oleh pembacanya yang notabene lesbian?

Akhirnya, karya-karya fiksi lesbian yang berkualitas rendah dalam bobot sastra tidak mendapatkan kritik proporsional dari para pembaca sastra (baca: pembaca lesbian) sendiri. Semuanya menjadi bias dan akhirnya studi ilmiah tentang sastra lesbian semakin melemah karena ketiadaan wacana yang sehat dan intelektual. Ini sungguh-sungguh menyedihkan dan memprihatinkan. Entah mau dibawa ke manakah para pembaca fiksi lesbian Indonesia?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

Caramel (dalam bahasa Arab: Sukkar Banat), adalah film panjang pertama dari sutradara asal Lebanon, Nadine Labaki. Film ini ditayangkan pertama kali pada tanggal 20 Mei 2007 di Cannes Film Festival dan menjadi nominee untuk penghargaan Caméra d'or. Selain mendapat banyak pujian di Cannes, Caramel juga masuk nominasi film asing terbaik pada Piala Oscar 2008. Film hanya dengan budget 1,6 juta dolar ini berhasil meraup pendapatan sebesar 12 juta dolar dari seluruh dunia.

Nadine Labaki sang sutradara juga menjadi pemeran utama dalam film ini. Ia berperan sebagai Layale, karyawan salon yang menjadi selingkuhan pria beristri. Saking cinta butanya pada lelaki beristri, dia tidak melihat ada lelaki baik, polisi tampan yang jatuh hati padanya Di salon itu juga ada Nisrine (Yasmine Al Masri), perempuan yang tidak perawan lagi dan akan menikah dengan lelaki muslim, dan berusaha mencari cara supaya calon suaminya tidak tahu tentang ketidakperawanannya. Ada pula Rima (Joanna Moukarzel), yang lesbian dan naksir dengan pelanggan tetap salonnya. Selain mereka bertiga ada Jamale (Gisele Aouad), janda parobaya yang mati-matian berusaha mempertahankan kemudaannya, dan Rose (Siham Haddad), penjahit tua yang tak pernah menikah dan tinggal dengan kakak perempuannya Lily (Aziza Semaan).

Perempuan-perempuan perempuan beragam usia dan masalah berkumpul dan bersahabat di salon kecantikan bernama Si Bella. Bersetting di Beirut, namun Labaki sama sekali tidak menampilkan wajah politik dan perang di Lebanon tapi bercerita tentang pahit-manis cinta dan kehidupan yang dihadapi lima perempuan di sini. Cinta terlarang, tradisi yang mengekang, tekanan seksual, usia tua, dan hasrat yang bertabrakan dengan tanggung jawab merupakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Layale yang tadinya mati-matian mencintai lelaki beristri itu dan sebagaimana harapan hampir semua selingkuhan, ia pun berharap si lelaki mau meninggalkan istrinya demi dia. Namun akhirnya ia terbuka matanya saat bertemu dengan perempuan yang menjadi istri sang lelaki.. Demi tradisi kolot, Nisrine kemudian memutuskan untuk menjalani operasi selaput dara agar dia bisa tetap perawan di malam pertama. Sementara Rima yang lesbian mendapatkan celah-celah cinta dari seorang pelanggan perempuan yang selalu mampir ke salon untuk cuci rambut hanya dengannya.

Film ini terasa amat perempuan, hangat dan lembut, selembut judulnya. Karamel di sini merupakan campuran gula, air, dan perasan jeruk yang dipanaskan. Hasilnya selain enak dimakan, karamel yang lengket seperti permen karet juga digunakan untuk me-wax bulu tubuh, dan percayalah diwax itu menyakitkan. Karamel juga menjadi metafora dalam film ini, bagaimana rasa pahit, manis, asam, dan sakit karamel itu juga menjadi rasa kehidupan. Dan lengketnya karamel juga seperti ikatan persahabatan kelima perempuan ini.

Dalam film berbahasa Arab campur Prancis ini, Nadine Labaki menampilkan gambar-gambar yang realistis namun manis. Sebagai bekas jajahan Prancis, tidak heran jika bahasa Prancis masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Lebanon. Kisah-kisahnya pun sederhana tapi perempuan banget. Dengan indah, ia menyelipkan keindahan beragama di era modern
Beirut, di mana penganut Kristen dan Muslim hidup damai dan bersahabat. Banyak orang yang salah kaprah dengan menganggap Lebanon sebagai negara Islam, padahal hampir 40% penduduk di Lebanon adalah penganut Kristen.

Tidak seperti sutradara-sutradara Arab lainnya, Labaki yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video klip ini, adalah keunikannya dalam menyentuh isu-isu yang tidak dilirik dalam film-film Timur Tengah. Biasanya film-film Arab menampilkan isu agama, politik, perang, perempuan tertindas, dan semacam itu, tapi Caramel menunjukkan kekuatan dan keindahan perempuan melalui pergolakan emosi dan jatuh bangun perasaan yang mereka rasakan.

@Alex, SepociKopi, 2008

4:21 PM

Your Body is a Wonderland

Posted by alex |

Saya sedang jatuh cinta. Setengah mati hingga sakit rasanya. Seakan jantung ini kecemplung Redoxon sehingga ada bunyi nyesssss ketika saya jatuh cinta bertubi-tubi pada perempuan ini. Saya tidak bisa berhenti memandangnya. Menatap bibirnya yang minta dicium. Memandang matanya yang berbinar indah. Saya ingin menyentuh tangannya. Mengelus pipinya. Membelai rambutnya. Saya ingin memeluknya. Merasakan lekuk-lekuk tubuh kami menyatu. Merasakan degup jantung kami berdegup bersama-sama.

Jangan tanya saya, kenapa saya jatuh cinta padanya. Saya tidak punya jawabannya. Ah, klise ya... sebenarnya saya bisa menjawab. Saya bisa mengutip ratusan film, buku, dan lirik lagu sebagai jawabannya. Saya bisa menyebut ratusan hingga ribuan alasan apa dan kenapa saya mencintainya. Karena dia begini dan karena dia begitu. Tapi itu tidak penting lagi setelah tahun-tahun berlalu.

Kau tidak lagi bertanya. Kau hanya merasakan. Saya berhenti bertanya. Saya merasakan. Saya memandangnya lagi, melihatnya sebagai perempuan yang selalu berevolusi selama bertahun-tahun perjalanan hidup saya dengannya. Dia bukan perempuan yang sama yang saya temui di lorong waktu lebih dari empat tahun lalu. Saya juga berubah. Hubungan kami bergerak, berputar, dan hidup.

Kadang-kadang perputaran hidup itu mengantar kami, untuk saling jatuh cinta lagi. Melihatnya dengan cinta yang berbeda dengan hati yang sama. Ah, kamu pasti mual ya baca tulisan ini. Manisnya nggak ketulungan... Saya pasti merasa begitu kalau baca tulisan semacam ini di blog lain.

Tadi siang saya menemukan kerutan di matanya. “Sayang, dulu waktu pertama kali pelukan sama kamu, belum ada kerutan ini,” kata saya sambil menunjuk kerutan di bawah matanya. “Kamu juga udah ada kerutan, chayang,” katanya. Jemarinya menyusuri lekuk wajah saya. Saya balas menyusuri wajahnya, tubuhnya... “Your body is a wonderland, babe.”

“Kamu masih mau sama aku sampai sepuluh tahun lagi?”
“Dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi juga mau...”
“Pelan-pelan dulu, chay. Nggak mau terlalu mengawang-awang. Kita baru lima tahun gini macam-macamnya udah banyak...”
“Hehehe, iya ya.... Kita lewati sehari demi sehari ya, chay.”

Ada saat-saat tertentu ketika saya ingin membawa partner ke pulau terpencil dan hanya hidup berdua dengannya. Terutama ketika partner sedang disibukkan dengan fans-fansnya. Hhh…

Saya jadi ingat dengan salah satu fans tersebut. Perempuan yang pernah saya damprat habis-habisan akhir tahun lalu gara-gara berlagak pilon. Yeah, pokoknya si pelaku ngerti dah… Pokoknya habis deh dia… tapi secara saya orangnya pemaaf, saat ini kami bisa kembali jadi sahabat lagi. Seperti Blair dan Serena di Gossip Girl gitu deh. But, I’ll be watching you, pal. Tetap waspada kalau-kalau dia macam-macam.

Ada satu fans lagi yang aneh. Dan sejak lebih dari setahun dia emang "superfans". Konyolnya dia nggak menganggap saya ada padahal dia pertama kali mengirim e-mail kepada saya. Dia bahkan meng-invi saya di YM. Padahal kalau dia nggak pengecut dan kekanak-kanakan gitu, mungkin aja saya akan menghormati dia. Saya nggak suka main belakang seperti itu, nggak jantan. Ini sih, aduh ampun deh, caranya terlalu SMP gitu….

Terakhir, ada satu fans lagi yang mengintai. Sejauh ini, dia fans yang paling menyebalkan (sometimes in a cute way) dan nyantol di YM yayang sejak bulan Juni. (Gue yakin deh lo pasti ngirim-ngirim puisi gombal!) Dan yang satu ini nggak berlagak pilon dan jantan banget mengejar yayang. Berani-beraninya ngajak bobo pula. Ampun deh… Hhh… Susahnya punya pacar seleb dunia maya. Like I said in YM, pal, I will hunt you down if you try anything. I mean, anything…!!! Dan ini juga peringatan buat calon-calon fans lainnya ya!!!

Ah, mendadak kangen yayang, see you at home, babe. Kangen! Nanti kita ngobrolin fans kamu lagi. :)

@Alex,RahasiaBulan, 2008

Subscribe