11:11 PM

Stereotipe Lesbian di Mata Lelaki (gay)

Posted by alex |

Bagian I
Seorang sahabat gay bertanya pada saya, “kenapa sih kamu sering pakai baju warna hitam? Apakah itu warna identitas lesbian?” Selanjutnya dia menambahkan bahwa saudara sepupunya yang lesbian juga sering pakai warna hitam/gelap. Dan cewek-cewek lesbian yang dia kenal juga sering banget pakai warna hitam.

Saya bengong lima detik sebelum akhirnya ngakak mendengar pertanyaan itu. Saya bergegas membayangkan isi lemari dan mendapati kenapa baju saya kebanyakan warnanya merah, kuning, biru, ya? Ada sih hitam, cuma kayaknya tidak membuat warna tersebut sebagai warna identitas. Bahkan jumlah baju hitam saya sama dengan jumlah baju pink yang saya miliki.

Pertanyaan tentang pakaian ini bukanlah yang pertama kalinya ditujukan untuk saya. Seorang sahabat partner juga pernah berkomentar seperti itu. Saya jadi berpikir. Kenapa ya? Lalu saya dan sahabat gay saya yang bekerja di bidang fashion itu berdiskusi. Dia bilang, warna hitam itu membuat pemakainya tampak more powerful, confident, and manly. Saya jawab, "Heh? Masa sih?" Mungkin dia benar. Tapi sejujurnya, saya suka memakai warna hitam (terutama kalau saya ada janji meeting), karena memang warna itu membuat saya merasa aman dan percaya diri. Kenapa? Karena saya orang yang ceroboh dan jorok.

Saya selalu kagum pada orang yang bisa pakai baju warna putih. Saya angkat topi buat mereka. Buat saya, memakai baju warna putih, apalagi di musim hujan sama beraninya dengan mereka yang berjalan melewati ladang penuh ranjau di Irak. Karena kalau saya memakai putih, belum jam makan siang saja, kemeja/baju saya bakal kena berbagai noda. Entah itu noda kopi, teh, atau bekas remah makanan yang bisa dengan mudahnya nempel di baju.

Jikalau sahabat gay saya bertanya (lagi) kenapa lesbian menggemari warna hitam, mungkin jawabannya karena lesbian-lesbian itu pengecut seperti saya. Mereka tidak berani berjalan sambil memamerkan ranjau tetesan kuah soto atau gado-gado sisa makan siang.

Bagian II
Gara-gara obrolan dengan sahabat gay itu, saya jadi ingat obrolan saya via chat dengan seorang sahabat gay lain. Sahabat gay saya bercerita tentang gay night yang dia hadiri. Dia bercerita bagaimana di sana dia melihat cewek butch yang sok asyik. Sebagai lelaki berperasaan halus, dia gentar melihat lesbian butch nongkrong di tempat yang seharusnya GAY night.

Dia bertanya pada saya, “Kenapa sih lesbian itu tampangnya sangar-sangar?”
Saya pura-pura sensi dong. “Maksud lo?” tanya saya balik.
“Maksud gue bukan elo. Secara elo itu kan butch feminin.”
“Maksud lo?” tanya saya lagi, yang masih sok sensi gitu deh.
“Maksud gue, kalo cowok gay kan manis, terawat, harum. Sementara kenapa sih cewek-cewek lesbi itu nggak jaga penampilan? Badannya itu lho..., nggak keurus. Belum lagi penampilan secara keseluruhan, kebapakan gitu. Eh, tapi gue bukan refer ke elo lho."

Saya pun tertawa, tidak bisa berlama-lama sensi dengan sahabat saya ini. Bagaimanapun, dia kan cuma menanyakan pertanyaan yang jujur dari lubuk hatinya. Mulailah kami berdiskusi, beranalisis tentang penampilan para lesbian. Mungkin karena lesbian kan kebanyakan hormon cowoknya gitu ya, jadi penampilannya pun jadi berlagak cowok gitu, demikian ulasan teman saya.

“Eh, elo sendiri jarang dandan,” tiba-tiba dia nyeletuk.
“Gue nggak dandan karena gue udah cantik, tauk!” demikian jawaban saya. “Tapi soal perawatan mah, gini-gini eike meni-pedi lho. Belum lagi creambath rutin, pokoknya yang namanya ke salon mah kudu deh tiap 2 minggu sekali." Biar teteup disayang istri gitu lhoooo...

Bagian III
Dalam satu acara peluncuran buku, seorang sahabat pria (yang konon katanya gay) menarik saya ke pojok ketika saya baru mengambil makanan kecil. Dengan wajah penuh konspirasi dia bertanya pada saya, “Seberapa penting sih penetrasi pada hubungan seksual lesbian? Apakah berpengaruh besar pada kemampuan orgasme?”
Saya jawab, “Idih, penting nggak sih elo pengin tau hal kayak gini?”
“Ini bukan pertanyaan iseng, tahu! Ini dalam rangka riset pembuatan novel yang tokoh utamanya lesbian.”
“So?” tanya saya. “Ngapain juga elo masukin adegan gituan? Nyari sensasi ya? Udah nggak zaman lagi, tahu!” Entah kenapa saya jadi sensi dengan pertanyaannya tentang urusan seks ini.

Sahabat saya ini yang satu ini memang sudah terkenal gila. Kadang-kadang kegilaannya menjurus ke arah menyebalkan. Tapi setelah dipikir-pikir, pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak banyak orang yang bukan lesbian. Mungkin untuk hubungan seks sesama lelaki, mereka tidak akan bertanya dengan penuh semangat, karena kita bisa lebih mudah membayangkan bagaimana caranya.

Saya tahu kalau saya tidak menjawabnya, dia akan mencecar saya tanpa henti hingga akhir acara. Akhirnya sebelum beranjak pergi meninggalkan dia di pojok itu, saya jawab pertanyaannya secara tak acuh. "Ah, cewek lesbian itu mah paling hebat deh, nggak perlu penetrasi, dicolek aja bisa orgasme kok." Dan sahabat saya kontan ternganga sementara tangannya mengambang di udara memegang kue yang belum sempat masuk mulutnya. Hahaha, mati kutu dia. :)


@Alex, RahasiaBulan, 2007

Annie Leibovitz adalah seorang fotografer Amerika paling ternama di dunia. Begitu banyak selebriti dan orang-orang penting dunia yang pernah difoto oleh Annie Leibovitz. Selain spesialis fotografer selebriti, Annie Leibovitz juga terjun ke lapangan mengambil foto-foto perang di Bosnia dan foto-foto 9/11. Dan ia terkenal dengan persiapan dan ketelitiannya sebelum memotret, bahkan tidak jarang si objek foto harus bersiap selama berjam-jam.

Annie Leibovitz lahir di Waterbury, Connecticut, USA pada tahun 1949, dari enam bersaudara keluarga tentara. Dia mengambil kuliah malam di Fine Arts School of Photography, San Fransisco, padahal mata kuliah utamanya adalah Painting. Tahun 1970, Leibovitz bergabung dengan majalah Rolling Stones yang baru berdiri kala itu, dan menjadi chief photographer di sana pada tahun 1973. Lalu pada tahun 1983, Leibovitz pindah ke Vanity Fair dan semakin melebarkan reputasinya.

Semasa kerjanya di Rolling Stones, Annie Leibovitz menghasilkan foto legendaris John Lennon yang telanjang memeluk Yoko Ono, yang diambil pada pagi hari dua jam sebelum John Lennon tewas ditembak. Foto itu kemudian menjadi sampul majalah Rolling Stones edisi #335, 22 Januari 1981. Beberapa foto terkenal, seperti Demi Moore telanjang dalam keadaan hamil, Whoopi Goldberg dalam bak penuh susu, dan penampilan media pertama Suri Cruise, adalah hasil buah tangannya.

Dalam kehidupan pribadi, sebagaimana orang-orang yang bekerja di belakang lensa, Leibovitz lebih nyaman memotret kehidupan orang lain, daripada harus mengungkapkan kehidupan pribadinya. Barulah setelah kematian Susan Sontag, penulis terkenal Amerika yang meninggal pada usia 71 tahun tanggal 28 Desember 2004 akibat penyakit kanker, terungkap hubungan istimewa antara Leibovitz dan Sontag.

Setelah kematian Sontag, Newsweek menerbitkan artikel tentang Leibovitz yang menyatakan, "Mereka bertemu pertama kali pada akhir tahun 1980, ketika [Leibovitz] memotret Sontag untuk foto di sampul bukunya. Mereka tidak pernah tinggal bersama, tapi mereka tinggal di apartemen yang berhadapan. Keduanya menjalin hubungan sekitar 16 tahun, dan tidak pernah mengungkapkan hubungan mereka ke publik.” Bagi Leibovitz, Sontag adalah mentor, soulmate, dan the love of her life. Bersama Sontag, Leibovitz melanglang buana ke berbagai penjuru dunia untuk memotret. Walaupun dikenal sebagai biseksual, Sontag amat sangat menjadi privasi kehidupan pribadinya.

Ketika Sontag didiagnosis menderita kanker pada tahun 1998, Leibovitz memutuskan untuk cuti selama beberapa bulan agar bisa menemani Sontag dan kala itu Sontag berhasil sembuh dari kanker. Pada bulan-bulan menjelang kematian Sontag tahun 2004, Leibovitz benar-benar berhenti memotret. “Aku tidak ingin berada di sana sebagai fotografer,” katanya dalam wawancara dengan NY Times. “Aku hanya ingin di sana bersamanya. Pada saat-saat terakhir, aku memaksa diriku memotret beberapa foto. Aku tahu dia mungkin sedang sekarat."

Kematian Sontag mendorong Leibovitz untuk membuat photographic memoir, berjudul A Photographer's Life: 1990-2005. "Buku ini merupakan hasil dari kesedihan," kata Leibovitz, dalam wawancaranya dengan Edward Guthmann, dari San Fransisco Chronicle. Dan [buku ini] tak akan pernah dibuat, jika dia tidak bertemu dengan Sontag pada tahun 1988, jatuh cinta padanya dan menjawab tantangan Sontag. "Kau bagus," Sontag memberitahu Leibovitz, "tapi kau bisa lebih baik lagi." Pendapat Sontag jelas penting bagi Leibovitz, karena selain sebagai penulis, Sontag juga kritikus foto.

Annie Leibovitz, photographed by Susan Sontag

Buku foto tersebut selain membuat foto-foto selebriti, juga memuat foto-foto keluarga dan foto Sontag dalam keadaan sekarat serta foto sehari setelah kematiannya. Ada pula foto Leibovitz dalam keadaan telanjang dan hamil yang diambil oleh Sontag, satu hari sebelum operasi Caesar. Dalam kata pengantar buku tersebut, Leibovitz berbicara tentang hubungan romantis/intelektualnya dengan Sontag, dan menggambarkan buku ini sebagai proses dukacita akibat kematian Sontag serta kematian ayahnya yang meninggal enam minggu setelah Sontag.

Annie Leibovitz memang bukan perempuan biasa. Pada usia 52 tahun, dia melahirkan putrinya Sarah, sebagai single mother melalui inseminasi buatan, tidak lama setelah peristiwa 9/11. Kemudian pada Mei 2005, beberapa bulan setelah kematian Sontag, dua putri kembarnya lahir dari rahim pinjaman. Dia menamai putrinya Susan dan Samuelle, seperti nama ayahnya.

Dalam wawancara radio dengan Tom Ashbrook di NPR, On Point, Leibovitz jelas-jelas mengakui hubungan romantisnya dengan Sontag sebagai hubungan intim yang sangat dekat. Leibovitz mengatakan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungannya dengan Sontag adalah hubungan “kekasih”. Leibovitz juga mengulang pernyataannya pada San Francisco Chronicle: "Sebut kami kekasih. Aku menyukai kata ‘kekasih’. Kau tahu, ‘kekasih’ terdengar romantis. Maksudku, aku ingin jelas sejelas-jelasnya. Aku mencintai Susan.”

Leibovitz juga menjelaskan tentang hidupnya melalui deretan foto-foto dalam buku A Photographer's Life: 1990-2005, “Bersama Susan aku punya kisah cinta,” katanya. “Bersama orangtuaku, adalah hubungan seumur hidup. Dan bersama anak-anakku adalah masa depan. Aku hanya berusaha menciptakan karya yang jujur yang berisi semua hal tersebut di dalamnya.”

Sumber:
www.newsweek.com
http://www.sfgate.com
www.nytimes.com

Untuk mendengar wawancaranya Annie Leibovitz dengan Tom Ashbrook: klik: http://www.onpointradio.org/shows/2006/10/20061017_b_main.asp

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Sebagai salah satu ikon pembuat film “aneh”, David Lynch mengantar kita ke dalam dunia surealis Mulholland Drive yang dirilis tahun 2001. Diawali dengan kecelakaan yang terjadi pada malam hari di Mulholland Drive, Los Angeles. Seorang wanita berambut hitam diperankan oleh Laura Harring diancam pistol oleh dua lelaki di dalam mobil, namun mobilnya mengalami tabrakan dan si wanita berambut hitam tersebut selamat meskipun menderita amnesia. Setelah kecelakaan, dia berjalan hingga sampai ke sebuah rumah lalu tinggal di sana.

Keesokan harinya, seorang wanita ceria berambut pirang yang bercita-cita sebagai aktris bernama Betty (Naomi Watts) datang ke rumah itu. Mereka lalu berkenalan, si wanita amnesia itu mengaku bernama Rita setelah melihat poster film Gilda yang diperankan Rita Hayworth.

Betty dan Rita kemudian menjalin hubungan yang akrab dan berlanjut ke hubungan seksual sambil berusaha mencari petunjuk tentang siapa diri Rita sebenarnya. Berdua, mereka berusaha mengungkap misteri uang $50.000 dan kunci biru yang ada di dompet Rita.

Kemudian berbagai hal aneh dan absurd mengiringi perjalanan investigasi mereka. Mulai dari kemunculan sutradara bernama Adam Keshner (Justin Theroux) yang dikejar-kejar mafia, klub bernama Club Silencio, dan aktris bernama Camilla Rhodes. Itu baru chapter pertama dalam film ini.

Dalam chapter kedua kita dibawa untuk mempertanyakan mana realitas, mana mimpi, mana ilusi. Ketika Betty ternyata Diane Selwyn, Rita adalah Camilla Rhodes, dan Adam Keshner adalah sutradara yang calon suami Camilla. Diane ternyata kekasih Camilla, yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Camilla karena sakit hati akibat dicampakkan.


Sinopsis di atas walaupun mengandung banyak spoiler, percayalah, tidak akan mengurangi kenikmatan menonton, malah mungkin akan membantu banyak. Karena bersama David Lynch, selama 145 menit kau akan dibawa berputar-putar dalam dunia real, sureal, mimpi, dan ilusi. Jika kau pakai om Google untuk mencari tahu film ini, kau akan temukan banyak teori tentang apa sih sebenarnya cerita Mulholland Drive ini?

Untuk film ini, David Lynch yang sebelumnya menyutradarai Blue Velvet dan Wild at Heart, memperoleh nominasi sutradara terbaik di Oscar dan Golden Globe dan menang di Cannes sebagai sutradara terbaik. Naomi Watts juga memenangkan berbagai penghargaan atas perannya sebagai Betty/Diane. Film ini pula yang mengangkat nama Naomi Watts sebagai aktris biasa-biasa saja dari Australia sebagai aktris yang patut diperhitungkan di Hollywood. Dalam film ini, Naomi Watts dan Laura Harring melakukan adegan percintaan yang lumayan hot plus adegan masturbasi Naomi Watts yang jadi salah satu adegan masturbasi legendaris dalam film Hollywood.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Jika bukan aktor kawakan seperti Judi Dench dan Cate Blanchett, saya nggak tahu film ini bakal seperti apa. Kepiawaian akting Judi Dench sebagai perawan tua kesepian yang lesbian tapi tidak mengakui dirinya lesbian bagi saya layak mendapat Oscar. Cate Blanchett juga tidak kalah bagusnya di sini, jauh lebih bagus daripada ketika dia bermain dalam Babel. Keduanya mendapat nominasi Oscar dan Golden Globe sebagai aktris terbaik dan aktris pendukung terbaik.

Judi Dench berperan sebagai Barbara Covett seorang guru senior yang disegani. Blanchett berperan sebagai Sheba Hart, guru seni yang baru. Mulanya obsesi Barbara pada Sheba hanya dituang dalam bentuk diari. Namun kesempatan agar bisa lebih dekat dengan Sheba muncul ketika Barbara mengetahui Sheba menjalin affair dengan murid pria berusia 15 tahun.

Sebagai bayaran untuk tidak membocorkan rahasianya, Sheba harus menjadi sahabat Barbara. Dan Sheba pun harus berjanji untuk memutuskan hubungan dengan Steven, si anak remaja itu. Barbara memasuki kehidupan Sheba, masuk hingga ke dalam kehidupan Sheba dan keluarganya. Terikat dalam rahasia dan obsesi bersama. Jika Barbara terobsesi pada Sheba, Sheba tidak bisa menghentikan obsesi cintanya pada Steven. Sheba yang memiliki suami dan dua anak, bahkan anak perempuannya seumuran dengan remaja yang ditudurinya, tidak bisa tidak jatuh cinta terhadap bocah lelaki itu.

Makin lama obsesi Barbara pada Sheba makin gila. Hingga suatu hari kemarahan Barbara meledak ketika mendapati Sheba ternyata masih menjalin affair dengan si ABG dan tidak menomorsatukan dirinya dalam kehidupan Sheba.

Film ini disutradarai oleh Richard Eyre yang pernah menyutradarai Iris dan Stage Beauty. Dua film yang juga memiliki unsur homoerotisme. Jika Anda suka dua film tersebut, bolehlah menonton film ini, karena Notes on Scandal memiliki nuansa seperti karya Richard Eyre sebelumnya. Diangkat dari novel yang mendapat nominasi Booker Prize karya Zoe Heller, film ini mendapat banyak kritik karena dianggap menggambarkan tokoh lesbian secara negatif. Namun untungnya sekali lagi kepiawaian akting semua pemeran dalam film ini bisa membuat segalanya termaafkan.

Sejujurnya, saya tidak menyarankan Notes on Scandal sebagai film yang harus ditonton KECUALI kau orang yang bisa menikmati kepiawaian akting aktor-aktor dalam film. Kekuatan film ini jelas di akting tak bercela Judi Dench dan Cate Blanchett. Kau bisa merasakan betapa dahsyatnya akting mereka menembus layar yang kautonton hingga membuatmu merinding.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

9:54 PM

Filosofi Surga dan Jurang

Posted by alex |

Suatu malam partner berfilosofi, “Siapa yang kaupilih jadi pasanganmu bisa menyeretmu ke jurang kehancuran atau mengangkatmu ke surga tertinggi.”

Pernyataan tersebut mengingatkan pada seorang sahabat lesbian yang sudah saya kenal lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika pertama kali berkenalan, sebut saja namanya Ellie, tinggal bersama partnernya di sebuah rumah petak berkamar satu di dalam gang kecil yang cuma muat dilewati sepeda motor. Waktu itu dia sedang cuti kuliah, padahal tinggal 2 semester lagi selesai dan berusaha mencari bisnis kecil-kecilan sebelum uang tabungannya telanjur ludes untuk biaya hidup. Saat itu masanya krismon menjelang akhir tahun 90-an, dan partnernya yang pengangguran mengaku sedang kesulitan mencari pekerjaan.

Deraan kesulitan ekonomi sering membuat mereka bertengkar, ditambah lagi partnernya ternyata gemar berjudi membuat hubungan mereka makin buruk. Yang satu menyalahkan yang lain. Hingga suatu hari Ellie tidak tahan dan menelepon ibunya yang tinggal di kota lain sambil menangis bercucuran air mata, tak tahan lagi. Betapa kagetnya saya ketika tahu siapa ayah Ellie, rumah petak tempat tinggalnya mungkin cuma seukuran kamar tidurnya yang megah di rumah ayahnya yang seluas lapangan bola. Ayahnya adalah seseorang yang punya nama besar di negara ini. Dan ketika mendapati putri kesayangannya lesbian, tidak ada jalan lain bagi sang ayah yang punya karakter sama-sama keras kepala seperti putrinya selain “melepaskan” sang putri untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Kabur dari rumah dan rela hidup susah demi cinta asal bisa bersama dengan orang yang kita cintai mungkin romantis ketika kita baca dalam novel atau tonton dalam film. Tapi kenyataan begitu keras menimpa Ellie, sampai-sampai dia jatuh bergedebuk keras hingga memar sekujur tubuh. Untungnya ibu Ellie adalah mediator andal, ia diam-diam membantu putrinya dengan mengirim uang tanpa sepengetahuan ayahnya agar Ellie paling tidak bisa terus kuliah, sambil terus mendinginkan hati ayahnya dan mengingatkan lelaki tua itu bahwa Ellie adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga.

Ibunya adalah perempuan luar biasa. Ketika akhirnya saya berkesempatan bertemu dengan ibunya, dia bilang pada saya agar membantu menjaga Ellie. “Lex, tolong bantu jaga dia ya, Tante cuma berharap Ellie bisa ketemu pasangan yang baik, terserah deh laki atau perempuan. Tante nggak tahan liat Ellie hidup menderita kayak gini.”

Untungnya hati sang ayah pun perlahan-lahan ikut luluh, itu pun karena Ellie sudah putus dari pacar perempuannya karena si bajingan pengangguran itu kedapatan punya cewek lain. Agh, jangan bayangkan adegan ala sinetron di mana setelah bertengkar hebat sang ayah memeluk putri tercintanya kemudian berkata, “It’s okay, Nak. Papa nerima kamu apa adanya.” Tidak. Ayah dan anak perempuannya ini sudah melewati titik “point of no return” dan Ellie sudah tidak bisa lagi jadi gadis kecil kesayangan ayah saat memutuskan "keluar" dari rumah.

Berhentikah Ellie jadi lesbian ketika cintanya dikoyak dan dikhianati perempuan? Tidak. Dia menemukan perempuan lain yang mengisi hidupnya. Kali ini, ayah dan ibunya sudah “menutup mata”, terserah deh putrinya mau sama siapa, selama orang itu bisa menyayangi Ellie dengan baik. Kali ini Ellie menemukan perempuan karier yang sukses, yang dijamin takkan membuatnya tinggal di gang sempit. Ellie tinggal bersama sang kekasih barunya, mengikuti sang kekasih layaknya istri yang baik ketika sang kekasih ditugaskan ke luar negeri, tinggal berdua di rumah baru yang mereka beli berdua ketika kembali ke Jakarta. Ibu dan ayah Ellie pun tidak lagi menguarkan aroma kebencian saat berkumpul bersama putri kesayangan dan “menantu” mereka.

Life goes on, and sometimes shit happens. Suatu hari, selewat lima tahun hubungan mereka pupus karena konon sang kekasih berselingkuh dengan perempuan lain. Lalu mulailah episode baru patah hati yang menyakitkan ditambah perebutan harta gono-gini yang melelahkan dan seru ibarat nonton episode Insert secara langsung. Di antara kekesalan dan kekecewaannya ibu Ellie berkata, “jika Ellie bukan lesbian, sekarang dia pasti sudah punya anak dan suami yang sayang sama dia, bukannya seperti sekarang setiap beberapa tahun sekali harus sakit hati.” Penyesalan terbesar ibu Ellie ternyata bukan punya putri lesbian, tapi karena Ellie selalu menemukan pasangan yang menyeretnya ke jurang.

Saya percaya semua orang layak mendapat cinta, apa pun bentuknya. Demikian juga Ellie. Namun semestinya dia tidak perlu mencium 1000 kodok dulu agar bisa menemukan pangerannya (eh, mungkin dalam hal ini putri). Selama ini Ellie hanya menemukan kodok-kodok yang dikirannya jelmaan putri, namun nyatanya mereka cuma kodok yang hobi melompat hingga terjun bebas ke jurang dan menyeret Ellie ikut serta.

Menyesalkah Ellie terlahir sebagai lesbian? Jelas tidak.
Menyesalkah Ellie coming out pada orangtuanya? Maybe yes, maybe no.
Penyesalan terbesar Ellie adalah ia tidak mampu menunjukkan diri kepada orangtuanya bahwa dia bisa jadi lesbian yang punya hubungan solid dan pasangan yang bisa mengangkatnya ke surga tertinggi agar orangtuanya tidak selamanya menyesali dan bertanya, “Kenapa, Ellie? Kenapa?”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

1:38 PM

Come Out, Come Out Wherever You Are

Posted by alex |

Seorang selebriti pernah ditanya dalam suatu wawancara radio oleh penelepon. “Mbak, apakah mbak lesbian?”
Dug! Saya hampir jatuh dari kursi mendengar pertanyaan itu. Untungnya si mas penyiar radio tersebut dengan cerdas mengalihkan pertanyaan itu dengan menjawab secara bercanda, “Duh, Mas, kok nanya kayak gitu sih? Yang jelas lesbian itu saya. Karena saya pecinta wanita.”

Saya mengenal sang selebriti secara pribadi dan dia merupakan sosok yang dihormati, baik hati, dan ramah. Jujur, ketika pertama kali bertemu dengannya saya juga mengajukan pertanyaan yang sama, namun bedanya saya hanya mengajukan pertanyaan itu dalam hati. Setelah mengenal pribadi beliau lebih jauh daripada sosok yang ditampilkannya sebagai selebriti, pemikiran apakah dia lesbian atau tidak sudah tidak penting lagi.

Pernah juga sewaktu di Bali, bersama seorang sahabat perempuan, dan seorang selebriti lelaki kami mengunjungi kelab yang sering jadi tempat hangout gay di Bali. Saat sedang santai, kami didatangi seorang lelaki yang menyapa sahabat selebriti saya. “Mas X ya? Wah, nggak nyangka ketemu Mas di sini.” Lalu lelaki itu mengaku sebagai wartawan dan mengeluarkan kartu nama sebuah media dan ingin mewawancarai si Mas X itu jika ada waktu di Bali. Kami bertiga nyaris menahan napas bersamaan mengetahui lelaki itu wartawan... Namun untungnya si mas wartawan itu menghargai privasi sahabat selebriti saya itu dengan tidak mengajukan pertanyaan bodoh, “Mas gay ya karena mas hang out di sini?” Dengan bertemunya kami di kelab itu sudah ada pernyataan “I know you, you know me.” lah.

Majalah Out edisi Mei 2007, menampilkan cover Jodie Foster dan Anderson Cooper--jurnalis TV yang bekerja di CNN, dan memasukkan mereka dalam daftar "50 The Most Powerful Gay Men and Women in America." Yang jadi masalah adalah Jodie Foster dan Anderson Cooper tidak pernah mengklaim diri sebagai gay/lesbian, meskipun mereka juga tidak menyangkalnya. Edisi Out ini menimbulkan pro-kontra tentang seberapa jauh media boleh mempublikasikan orientasi seksual seseorang.

cover from www.out.com

Bahkan di Amerika pun yang konon dikenal sebagai negara mahabebas, orang tidak bisa begitu saya meng-outed seseorang kalau tidak mau dituntut balik oleh si selebriti. Hak untuk coming out ada di tangan si selebriti sendiri, bukan di tangan publik. Silakan saja paparazi atau wartawan tabloid mengejar dan berspekulasi, dan si selebriti juga berhak untuk tutup mulut.

Yeah, memang kita biasa ketemu dengan sesama teman dan bergosip tentang seleb mana yang gay/lesbian. Namun pertanyaan pentingnya adalah seberapa jauh gosip itu bisa disebarluaskan? Apalagi di dunia maya, ketika orang bisa saja memasang foto atau menyebarkan informasi atau bergosip tentang siapa yang gay/lesbian, seperti yang baru-baru ini terjadi pada Bertrand Antolin dan Indra Brugman ketika foto dan gosip tentang mereka beredar di internet.

Tidak mudah bagi selebriti/tokoh publik yang juga gay/lesbian untuk mengungkapkan orientasi seksualnya. Apalagi di Indonesia. Selain teror yang mungkin menimpa mereka, kemerosotan karier kemungkinan besar menanti di masa depan. Tidak mudah memang. Paling-paling kita tahu sama tahu sajalah, jika dari penampilan fisik sudah keliatan jelas tanpa perlu dipertanyakan lagi.

Jangan salahkan selebriti jika mereka tidak mau coming out. Maklum, publik di sini amat garang untuk urusan begini. Jangankan ketauan sebagai gay/lesbian, sering berperan sebagai tokoh antagonis aja bisa digampar orang di jalan. Berpose di majalah Playboy aja bisa jadi berurusan sama polisi. Yah, jelas tidak ada yang mau jadi martir. Biarlah omongan selebriti/tokoh publik mana yang gay/lesbian hanya jadi omongan private. Kadang-kadang ada panggilan yang lebih tinggi dalam hidup ini selain mendiskusikan siapa pacaran sama siapa, hanya demi kepentingan kolom gosip.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Tiga remaja tujuh belas tahun. Dua perempuan, satu lelaki. Tiga cinta.

Dua gadis SMA, Meng Ke-rou (Guey Lun-mei) dan Lin Yueh-chen (Liang Shu-hui) saling bersahabat. Yueh-chen terlalu malu mengungkapkan perasaannya ketika naksir Chang Shih-hao (Chen Bo-lin), cowok perenang di sekolahnya. Chang Shih-hau dengan lesung pipi dan senyum yang bisa membuat cewek mana pun meleleh.

Yueh-chen kemudian minta tolong pada Ke-rou untuk mendekati Shih-hao. Ke-rou yang mulanya enggan akhirnya mendekati Shi-hao mulai dari surat-suratan sampai ngobrol akrab. Hingga akhirnya Shi-hao yang naksir pada Ke-rou.

Masalahnya adalah Ke-rou merasa dirinya lesbian. Diam-diam Ke-rou yang tomboy ini naksir pada Yueh-chen yang manis. Persoalan makin rumit ketika Shi-hou pantang menyerah mendekati Ke-rou meskipun sudah ditolak. Dia menganggap Yueh-chen hanyalah tokoh fiktif karangan Ke-rou agar bisa mendekatinya. Bingung, Ke-rou pun menikmati persahabatannya dengan Shih-hou sehingga mereka jadi sahabat akrab. Dan bersama Shih-hou pula, Ke-rou menemukan ikatan persahabatan yang manis dan indah.


Film buatan Taiwan tahun 2002 ini masuk nominasi film terbaik Hong Kong Film Award. Ketiga pemeran utama film ini bermain apik. Walaupun dari ketiganya hanya Chen Bo-Lin yang juga dikenal sebagai Wilson Chen yang lebih naik daun. Setelah film ini dia bermain dalam beberapa film, di antaranya The Eye 10, Twin Effect 2, dan Bug Me Not.

Jatuh cinta, patah hati, persahabatan, dan kebingungan masa remaja tergambar manis dalam film ini. Nikmatnya bersepeda di jalan-jalan kota Taipei, sinar matahari, dan pahit-manis masa remaja membuat film ini tontonan yang enak dilihat.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Film ini beberapa kali diputar di Celestial Movies di TV Kabel.

9:29 AM

Film: Fried Green Tomatoes

Posted by alex |

Fried Green Tomatoes adalah film cewek buatan tahun 1991, di mana hampir semua tokoh utamanya dipegang oleh perempuan. Mulai dari Ninny Threadgoode (Jessica Tandy) dan Evelyn Couch (Kathy Bates) yang bersetting di tahun 1985. Dan Idgie Threadgoode (Mary Stuart Masterson) dan Ruth Jamison (Mary-Louise Parker) yang bersetting sejak tahun 1920-an. Film ini menampilkan kisah paralel dari kedua tahun tersebut. Dimulai ketika Evelyn bertemu dengan perempuan tua di panti wreda bernama Ninny.

Ninny yang masih penuh semangat hidup meskipun sudah berusia 80 tahun bercerita tentang kota kecil bernama Whistle Stop, Alabama, dengan fokus utama tentang hubungan Idgie dan Ruth. Idgie yang tomboy bersahabat dekat dengan Ruth sejak Ruth dekat dengan kakak lelaki Idgie, Buddy. Hubungan Ruth dan Idgie sempat menjauh ketika Buddy meninggal secara tragis, namun berlanjut ketika mereka makin dewasa.

Ruth menikah dengan lelaki kejam yang sering menyiksanya. Idgie kemudian membebaskan Ruth dari lelaki itu kemudian mereka tinggal berdua dan membuka restoran serta membesarkan anak lelaki Ruth bersama-sama. Cerita yang dituturkan Ninny ini membuat Evelyn yang berada dalam pernikahan yang buruk dengan suaminya jadi memiliki semangat juang untuk memperbaiki hidupnya. Dan Evelyn pun jadi bersahabat dekat dengan Ninny.

Film ini penuh dengan subteks lesbian, namun tak pernah ditampilkan secara jelas dan gamblang. Mungkin hanya penonton yang buta saja yang tidak menyadari bahwa Ruth dan Idgie merupakan gambaran terselubung dari pasangan lesbian. Ini jelas tidak aneh karena Fried Green Tomatoes diangkat dari novel Fried Green Tomatoes at the Whistle Stop Café karya Fannie Flagg yang terbit tahun 1987, dan dalam novelnya terdapat unsur-unsur lesbian yang lebih kental.

Walaupun Fannie Flagg--sang pengarang--adalah lesbian yang terbuka ia harus berkompromi banyak untuk menghapus bagian-bagian “lesbian” dalam bukunya agar film tersebut bisa lebih komersil. Dalam film, Idgie dan Ruth digambarkan sebagai perempuan yang bersahabat akrab seperti layaknya kakak-beradik yang saling menyayangi yang kebetulan membangun "keluarga" bersama. Bersama Carol Sobieski, co-writer dalam penulisan skenario film ini, Fannie Flagg memperoleh nominasi piala Oscar 1992.

Fried Green Tomatoes meskipun tidak dicap sebagai film "lesbian" menampilkan sosok perempuan-perempuan tegar dan suatu gambaran tentang kemungkinan kehidupan "rumah tangga" sepasang perempuan yang setia selamanya hingga maut menjemput.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Udah lama nonton film ini, sekitar awal tahun 2000, baru ketemu lagi DVDnya di Mangga Dua tahun 2006.

Tiga belas tahun sebelum Brokeback Mountain, Ang Lee sudah dikenal sebagai pionir sinema gay Asia dengan membuat Wedding Banquet (1992). Wedding Banquet berkisah tentang lelaki asal Taiwan Wai Tung (Winston Chao) yang sudah jadi warga negara Amerika yang harus menutupi homoseksualitasnya dengan menikah. Meskipun sudah hidup bahagia di Manhattan bersama partnernya, Simon (Mitchell Lichtenstein), Wai tidak bisa tidak membahagiakan orangtuanya dengan tidak menikah dengan perempuan.

Akhirnya Wai bertemu dengan Wei-Wei, gadis pelukis asal Cina yang mau menikah dengan Wai demi green card. Pernikahan yang tadinya cuma pura-pura malah jadi pesta pernikahan besar-besaran lengkap dengan kedatangan orangtua si Wai. Alhasil, akibat tradisi pernikahan Cina yang membuat mabuk pengantinnya, tanpa sengaja Wei-Wei hamil dan membuat kehidupan Wai, Simon, dan Wei-Wei jadi makin rumit.

Wedding Banquet mendapat sambutan internasional, menjadi film terbaik dengan memenangkan Golden Bear di Berlin Film Festival dan Sutradara Terbaik di Seattle Film Festival, serta nominasi film asing terbaik di Golden Globe and Academy Award. Sebagai film Asia, Wedding Banquet berhasil mengangkat isu homoseksual dalam kultur keluarga Asia yang lebih tertutup.

Ang Lee piawai membuat film tentang makna dan arti keluarga, terutama keluarga keturunan Cina. Hubungan Ang Lee yang sempat memburuk dengan ayahnya karena dia gagal masuk ujian universitas dan berkeras masuk sekolah film juga mendasari dua film pertama Ang Lee. Sebagai sutradara, selain dalam Wedding Banquet, beberapa kali Ang Lee mengetengahkan isu hubungan anak dan ayah, seperti dalam Eat Drink Man Woman bahkan dalam Hulk yang dikritik habis oleh para kritikus.
Selain hubungan keluarga, Lee juga mantap membuat cerita tentang cinta. Lihat bagaimana dia mengolah film silat terdahsyat dekade ini, Crouching Tiger Hidden Dragon yang sukses hingga mendunia pada awal tahun 2000 lengkap dengan bumbu roman silat yang tak terlupakan. Film yang mengangkat nama Ang Lee ke jenjang sutradara internasional yang paling dicari. Dan kisah cinta yang lebih mengejutkan muncul ketika Ang Lee memutuskan untuk menyutradarai Brokeback Mountain (2006).

Dalam kehidupan pribadi Ang Lee menikah dengan Jane Lin pada tahun 1983. Istrinya adalah ahli biologi molekular yang menjadi pencari nafkah keluarga dengan dua anak lelaki saat Ang Lee menganggur selama enam tahun sehabis lulus dari sekolah film di New York. Hingga pada tahun 1990 dua skenario Lee, Pushing Hands dan Wedding Banquet memenangkan kompetisi yang diadakan pemerintah Taiwan. Jadilah Ang Lee mendapat sponsor untuk memproduksi filmnya. Dan seperti kata pepatah, sisanya adalah sejarah.

Ketika ditawari menyutradarai Brokeback Mountain, Ang Lee sebenarnya ragu karena dia sama sekali tidak tahu kehidupan koboi di Wyoming. Namun ketika membaca cerita pendek karya E. Annie Proulx yang jadi dasar cerita Brokeback Mountain, Ang Lee tergugah hingga meneteskan air mata. Di mata Ang Lee, Brokeback Mountain bukan sekadar kisah cinta gay. Baginya cinta adalah universal, sebagaimana cinta bisa terjalin antara Lee dan istrinya, cinta antara dua lelaki juga bisa terjalin sedemikan rupa.

Brokeback Mountain adalah film yang kontroversial. Memenangkan deretan penghargaan dan dipuji serta dicaci maki oleh sejumlah kritikus. Film ini juga dilarang pemutarannya di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat serta di beberapa negara lain. Namun kontroversi terbesar tetaplah ketika Brokeback Mountain tidak memenangkan Oscar 2006. Namun Brokeback Mountain menjadi film terbaik di Golden Globe dan Ang Lee mendapat Oscar untuk sutradara terbaik, dan menjadi sutradara keturunan Asia pertama yang memperoleh Oscar. Tragisnya Brokeback Mountain dilarang beredar di RRC, meskipun oleh harian China Daily yang terbit di RRC disebutkan bahwa Ang Lee memberi kebanggaan bagi orang keturunan Cina di dunia.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

PS: Nonton Wedding Banquet di Mangga Dua tahun 1993 (gila, sebioskop menahan napas waktu liat dua cowok ciuman), nonton Brokeback Mountain di Citra 21, th. 2006.

Subscribe