Bayangkan film Inggris yang menampilkan kisah cinta ala Notting Hill, Four Wedding and Funerals, dan Love Actually, tapi kali ini bayangkan Mas Hugh Grant diganti dengan tokoh perempuan.
Hah? Yap! Jadi Imagine Me and You ini adalah film komedi romantis (lesbian) yang manis. Jenis film yang membuat penonton pada akhir cerita tersenyum dengan perasaan berbunga-bunga, dan berkata, “Ohhh, manisnya.”

Piper Perabo yang pernah berperan sebagai ABG lesbian dalam Lost and Delirious kali ini berperan sebagai Rachel yang akan menikah dengan Heck (Matthew Goode). Dan saat berjalan menuju altar, tatapannya tertuju pada Luce (Lena Headley), yang bertugas sebagai penata bunga di acara pernikahan. Dan cinta pada pandangan pertama pun bersemi.

Oya, Rachel dan Heck tetap menikah kok, namun Rachel dan Luce dan Heck jadi bersahabat karena tadinya mereka berniat menjodohkan Luce dengan sahabat mereka, namun batal saat tahu Luce lesbian. Dan perasaan Rachel dan Luce kemudian berkembang lebih daripada sekadar sahabat. Walaupun sama-sama memendam perasaan terhadap satu sama lain, namun mereka menahan diri. Apalagi karena Rachel sudah menikah dengan Heck yang superbaik, yah pokoknya tipe lelaki idaman untuk dijadikan suami.

Sayangnya film ini kurang mengeksplorasi perasaan-perasaan tokohnya, mungkin karena sang sutradara takut membuat film ini "terpeleset" jadi film lesbian berat. Saya maklum deh, karena namanya juga film romantis yang manis...
Jadi buat penggemar film komedi romantis ala British, dengan gambar-gambar yang indah (duh, jadi kepingin ke London), dan pemeran utama yang cantik dan tampan, Imagine me and You jelas film yang harus ditonton. Dan seperti film komedi romantis pada umumnya, walaupun klise Imagine me and You memberikan akhir yang bahagia untuk... Rachel dan Luce. Dan pada saat film usai, kita akan berkata... “Ohhh, manisnya.”

gambar dari: www.imdb.com

10:49 AM

Buku: The Price of Salt – Patricia Highsmith

Posted by alex |


Setiap kali membuka situs yang mereferensi buku-buku lesbian, buku ini selalu masuk tiga urutan teratas, meskipun The Price of Salt adalah buku yang terbit tahun 1953. Patricia Highsmith menerbitkan buku ini dengan menggunakan nama Claire Morgan. Penerbitnya menolak menerbitkan novel ini karena pemaparannya yang jujur dalam tema homoseksual, sehingga Highsmith terpaksa harus mengganti namanya untuk bisa menerbitkan novel ini. Sebelum The Price of Salt, Highsmith dikenal sebagai novelis thriller, dengan bukunya Strangers on a Train, yang sukses secara komersil dan difilmkan oleh Alfred Hitchcock. Atau banyak orang belakangan ini mungkin lebih mengenalnya sebagai Patricia Highsmith yang menulis The Talented Mr. Ripley, dan sudah difilmkan dengan bintang utama Matt Damon.

Pada masa itu tidak banyak penulis yang berani menulis tema homoseksual. Jika ada, biasanya buku-buku itu bersifat erotika atau tokoh-tokoh dalam novel mengalami nasib tragis atau akhir yang sedih. Dan ini jelas berbeda dengan apa yang dilakukan Highsmith dalam The Price of Salt. Oleh penerbitnya, The Price of Salt dianggap akan mencoreng nama Highsmith dan mencapnya sebagai novelis lesbian. Demikian penjelasan dalam afterword yang ditulis Highsmith dalam edisi revisi terbitan tahun 1984.

The Price of Salt bercerita tentang Therese Belivet, seorang (calon) desainer panggung yang terpaksa harus bekerja sebagai SPG department-store menjelang Natal. Dalam kebosanannya saat bekerja, dia bertemu dengan Carol, seorang ibu rumah tangga yang perkawinannya berada di ambang perceraian, yang hendak membeli boneka untuk putrinya.

Therese dan Carol bertemu pada waktu dan tempat yang tepat, dan keduanya pun jatuh cinta. Seandainya cinta selalu berlangsung mudah, tentu kisah mereka tidak akan jadi cerita. Therese memutuskan untuk ikut bersama Carol dalam petualangan bermobil lintas Amerika. Dalam perjalanan itu kita diajak mengikuti perkembangan hubungan cinta antara dua perempuan ini melalui dialog dan deskripsi yang berlangsung lambat namun mengalir lancar. Namun, tanpa mereka ketahui ternyata perjalanan mereka pun diikuti oleh detektif swasta yang dibayar oleh suami Carol. Hingga akhirnya membuat Carol harus memilih antara kekasih dan putrinya.

Highsmith mengambil sudut pandang Therese dalam The Price of Salt, sehingga pembaca bisa merasakan segala gundah gelisah, kebimbangan, dan naik-turun emosi yang dialami Therese sejak sebelum menyadari orientasi seksualnya dan tak tahu apa yang dia inginkan dalam hidup hingga akhirnya dia menyadari apa yang dia mau dan inginkan dalam hidupnya.

Mungkin karena ditulis pada tahun 1953, dalam The Price of Salt tidak satu kali pun disebut kata "lesbian" untuk menggambarkan hubungan mereka. Dan pembaca bisa mendapat bayangan tentang seperti apa homoseksualitas di Amerika Serikat pada tahun 1950-an. Dan sebagaimana suatu mahakarya, meskipun sudah setengah abad lebih berlalu, The Price of Salt masih relevan untuk kita baca saat ini.

gambar dari: www.amazon.com

5:42 PM

Film: X-Men:The Last Stand

Posted by alex |


Seberapa pentingnya menjadi “normal”?
Mungkin itu pertanyaan penting yang harus kita jawab dalam X-Men: The Last Stand. Bukan rahasia lagi jika dalam X-Men dan X 2 kita bisa menemukan gay/lesbian subtext dalam berbagai dialog dan cerita film itu. Jadi ketika saya membaca tentang telah ditemukannya obat untuk “menyembuhkan” mutan, saya pikir, tunggu dulu... maksudnya apa nih? Jika mutan = homoseksual, dan 2+2=4, Anda tau dong apa maksudnya.

Sebelum saya komplain lebih jauh tentang X-Men: The Last Stand, izinkan saya merefresh ingatan kita. Dalam X-Men dan X 2, kita berkenalan dengan tokoh-tokoh mutan di bawah naungan Charles Xavier (Patrick Steward). Mungkin bukan kebetulan jika dua X-Men pertama bisa lebih bagus karena sutradaranya Bryan Singer. Saya nggak bermaksud apa-apa lho, tp karena Oom Singer ini kabarnya gay, jd dia bisa lbh "nangkep” esensi-superhero-subteks-gay-dlm-komik-dan-film. Sementara dalam X-Men 3 selain kekecewaan karena berkisah tentang adanya obat buat “menyembuhkan” mutan, seakan-akan mrk itu sakit atau apa... *grrrhhh*, karakter-karakter utama seperti seperti Wolverine, Storm, Jean Grey, Cyclops, Magneto, bahkan Prof. Xavier yg karismatik pun terasa cuma “lewat” begitu saja di layar. Belum lagi ditambah
rombongan/pasukan/gerombolan/geng mutan yang entah muncul dari mana. Sehingga penonton jadi dibuat kesal melihat mutan-mutan anarkis itu ibarat melihat nyamuk-nyamuk yang beterbangan di atas got. Bahkan adegan aksinya pun masih lebih seru X-2, oke, oke... memang sih spesial efeknya luar biasa dan adegan memindahkan jembatan Golden Gate itu keren banget, tapi rasanya kok kurang greget karena tidak banyak adegan pertarungan satu lawan satu, seperti ketika Wolverine bertarung melawan Yuriko.

Saya merindukan X-2 dengan dialog-dialog berlumur metafora, seperti ketika Iceman (Shawn Ashmore) “coming out” pada orangtuanya, eh, maksud saya memberitahu orangtuanya tentang ke”mutan”nannya. "Have you tried not being a mutant?", demikian pertanyaan sang ibu kepada Iceman, dan penolakan dari keluarga yang dirasakan oleh sang mutan membuat penonton bisa mengaitkannya dengan homoseksualitas. Betapa orangtua malu jika punya anak mutan, dan dianggap sebagai satu aib.

Bahkan dalam X Men: the Last Stand, Angel alias Warren Worthington III, yang mengetahui dirinya mutan semasa remaja (oya, mutan-mutan itu biasanya mengetahui diri mereka mutan saat memasuki usia puber, mengingatkan kita akan sesuatu, kan? :p) Angel berusaha memotong sayapnya agar bisa tetap “normal”, dan betapa sang ayah kecewa dan sedih melihat putranya ternyata mutan. Dan kekecewaan itulah yang membuat sang ayah, Warren Worthington II, mencari obat penyembuh mutan.

Dalam film ini, homo superior alias mutan dihadapkan pada pilihan. Jika ada obat untuk menyembuhkan mutan, apakah kau akan memilihnya dan berubah jadi “normal”?

Beberapa mutan, antara lain Storm (Halle Berry) atau Mystique (Rebecca Romijn Stamos) menganggap tidak ada yang salah pada mutan, mereka tidak sakit dan mereka tidak perlu obat untuk “sembuh”. Tapi lain halnnya dengan Roque (Anna Paquin), sang penyedot energi, yang selama ini bisa menyentuh kekasihnya, Iceman, tanpa membuat sang kekasih kelojotan hingga nyaris mati. Roque mewakili banyak mutan atau kita sebut saja homoseksual yang ingin “sembuh”, dan ingin bisa jadi bagian manusia
“normal”.

Tapi kekecewaan saya terobati ketika di akhir film, Magneto yang dianggap sudah “diobati” menggerakkan buah catur dengan kekuatan mutannya. Jadi pesan moral film ini adalah, kalian bisa menemukan obatnya, tapi kalau mutan itu bukan penyakit yang harus diobati dan sudah menjadi bagian dari diri kita, mau gimana lagi?

gambar: www.movies.yahoo.com


V for Vendetta adalah salah satu film straight yg menjadikan tema gay/lesbian sebagai nadi dlm cerita. Film ini kalau diputar di zaman Soeharto mungkin bakal dianggap mengandung unsur subversif. Ber-seting tahun 2020, saat itu Inggris Raya dipimpin oleh kanselir megalomaniak bernama Adam Sutler (John Hurt).

Kisah film ini dimulai ketika Evey (diperankan dgn sangat baik oleh Natalie Portman) yang melanggar jam malam dan hendak ditangkap oleh polisi khusus, dan seorang lelaki yang mengenakan topeng Guy Fawkes menolongnya. Lelaki bertopeng itu mengaku bernama V (Hugo Weaving) yang merupakan kependekan dari Vendetta (balas dendam). Evey jadi terjebak bersama V karena malam ketika V menolongnya V ternyata meledakkan gedung dan membuat wajah Evey terekam kamera dan polisi mencurigai dirinya.

V for Vendetta diangkat dari graphic novel karya Alan Moore dan ilustrator David Lloyd. Skenario ditulis Andy dan Larry Wachowski, sutradara Bound dan trilogi Matrix. Dan disutradarai James McTeigue yg merupakan film perdananya.

Adam Sutler mengingatkan saya pada Hitler tentang bagaimana dia menganggap sesuatu yang berbeda harus dimusnahkan. Muslim, homoseksual, atau etnis minoritas. Pembodohan terhadap publik dilakukan melalui berbagai propaganda dan televisi merupakan salah satu cara untuk membuat masyarakat makin bodoh dan diyakinkan oleh propaganda pemerintah... (hehehe, jd inget tayangan televisi kita sendiri)

Oke, balik ke tema lesbian. Saat Evey sedang ditahan di sel, dia mendapat surat lewat lubang tikus. Surat2 itu ditulis oleh Valerie yang lesbian tentang perjalanan hidupnya. "Autobiografi" Valerie Page yang ditulis di kertas toilet memotivasi Evey untuk bertahan. Surat Valerie itu mengubah hidup Evey. Dan surat-surat Valerie itulah yang mendorong kelahiran kembali Evey (dan V) sehingga menjadikan mereka sebagai pahlawan dalam film ini.

Selain Valerie, masih ada tokoh pembawa acara TV, Gordon Dietrich(Stephen Fry) yang menjadi gay in-the-closet. V for Vendetta adalah film yang berani, dengan cerita yang luar biasa dahsyat dan cocok untuk ditonton di zaman sekarang saat pemerintah dikuasai oleh orang-orang yang gila kekuasaan, munafik, dan membodohi masyarakatnya.

gambar dari: www.wikipedia.com
==========================================================
This "Valerie's Letter" is an excerpt from Alan Moore's graphic novel, V for Vendetta.
Taken from http://www.shadowgalaxy.net/Vendetta/valerie.html

I don't know who you are. Please believe. There is no way I can convince you that this is not one of their tricks. But I don't care. I am me, and I don't know who you are, but I love you.

I have a pencil. A little one they did not find. I am a women. I hid it inside me. Perhaps I won't be able to write again, so this is a long letter about my life. It is the only autobiography I have ever written and oh God I'm writing it on toilet paper.

I was born in Nottingham in 1957, and it rained a lot. I passed my eleven plus and went to girl's Grammar. I wanted to be an actress.

I met my first girlfriend at school. Her name was Sara. She was fourteen and I was fifteen but we were both in Miss. Watson's class. Her wrists. Her wrists were beautiful. I sat in biology class, staring at the picket rabbit foetus in its jar, listening while Mr. Hird said it was an adolescent phase that people outgrew. Sara did. I didn't.

In 1976 I stopped pretending and took a girl called Christine home to meet my parents. A week later I enrolled at drama college. My mother said I broke her heart.

But it was my integrity that was important. Is that so selfish? It sells for so little, but it's all we have left in this place. It is the very last inch of us. But within that inch we are free.

London. I was happy in London. In 1981 I played Dandini in Cinderella. My first rep work. The world was strange and rustling and busy, with invisible crowds behind the hot lights and all that breathless glamour. It was exciting and it was lonely. At nights I'd go to the Crew-Ins or one of the other clubs. But I was stand-offish and didn't mix easily. I saw a lot of the scene, but I never felt comfortable there. So many of them just wanted to be gay. It was their life, their ambition. And I wanted more than that.

Work improved. I got small film roles, then bigger ones. In 1986 I starred in "The Salt Flats." It pulled in the awards but not the crowds. I met Ruth while working on that. We loved each other. We lived together and on Valentine's Day she sent me roses and oh God, we had so much. Those were the best three years of my life.

In 1988 there was the war, and after that there were no more roses. Not for anybody.

In 1992 they started rounding up the gays. They took Ruth while she was out looking for food. Why are they so frightened of us? They burned her with cigarette ends and made her give them my name. She signed a statement saying I'd seduced her. I didn't blame her. God, I loved her. I didn't blame her.

But she did. She killed herself in her cell. She couldn't live with betraying me, with giving up that last inch. Oh Ruth. . . .

They came for me. They told me that all of my films would be burned. They shaved off my hair and held my head down a toilet bowl and told jokes about lesbians. They brought me here and gave me drugs. I can't feel my tongue anymore. I can't speak.

The other gay women here, Rita, died two weeks ago. I imagine I'll die quite soon. It's strange that my life should end in such a terrible place, but for three years I had roses and I apologized to nobody.

I shall die here. Every last inch of me shall perish. Except one.

An inch. It's small and it's fragile and it's the only thing in the world worth having. We must never lose it, or sell it, or give it away. We must never let them take it from us.

I don't know who you are. Or whether you're a man or a woman. I may never see you or cry with you or get drunk with you. But I love you. I hope that you escape this place. I hope that the world turns and that things get better, and that one day people have roses again. I wish I could kiss you.

Valerie

X

from V for Vendetta
Written by Alan Moore.
Art by David Lloyd.

6:01 PM

Buku: Gunung Brokeback - E. Annie Proulx

Posted by alex |


Brokeback Mountain ditulis oleh Annie Proulx, pertama kali novella ini dimuat di majalah New Yorker th 1997, lalu mendapat O Henry Short Story Award.
Kemudian ketika Annie Proulx menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Close Range: Wyoming Stories, Brokeback Mountain termasuk cerita pendek yg ada di sana.

Brokeback Mountain berkisah tentang dua koboi bernama Ennis Del Mar dan Jack Twist yang menjalin hubungan intim ketika menggembalakan domba di Gunung Brokeback. Koboi yg selama ini jadi icon kejantanan Amerika digambarkan sebagai lelaki yang punya perasaan dan jatuh cinta dengan sesama lelaki. Wajar jika berbagai protes bermunculan ketika Brokeback Mountain difilmkan. Karena orang Amerika tidak pernah membayangkan koboi mereka gay. Mungkin John Wayne bisa bangkit dari kuburnya jika dia tahu.

Ennis dan Jack tidak pernah menyangka penggembalaan domba yg mereka lakukan bersama pada tahun 1963 mengubah hidup mereka selamanya. Mereka berdua tidak pernah mengangap diri mereka gay. Tapi di malam yang dingin, saat Ennis dan Jack tidur berdua di dalam tenda yang sempit, gairah pun meletup. Tapi sekali lagi, mereka mengira apa yang mereka lakukan hanyalah selingan untuk menghabiskan waktu di gunung yang dingin.

Sekembalinya dari Gunung Brokeback, masing-masing menikah dengan wanita pilihan mereka dan memiliki anak, namun kehidupan perkawinan mereka tidak bahagia. Hingga empat tahun sesudah mereka berpisah keduanya bertemu kembali. Dan tahulah mereka apa yang selama ini "kurang" dalam hidup mereka. Kartu pos dari Jack untuk Ennis menyatukan pasangan ini kembali.

Buku ini adalah kisah cinta. Sesederhana itu. Tentang dua anak manusia yang kebetulan sesama jenis hingga tidak bisa memproklamirkan hubungan mereka. Dua puluh tahun Jack dan Ennis menjalin hubungan rahasia karena hidup mengharuskan mereka "bersembunyi". Hingga satu saat tragedi menimpa mereka dan menyebabkan kita sebagai pembaca harus menelaah kembali tentang pilihan-pilihan yg kita ambil dalam hidup ini.
Dan seperti kata Ennis, saat menjalani hidup, "Kalau kau tidak bisa memperbaikinya, kau harus bisa menghadapinya."

Posted by alex |


Untuk menghormati asal nama blog ini, post pertama tentu tentang buku tersebut.
TERBIT: 18 Januari 2005
KUMPULAN CERPEN: Rahasia Bulan
Pertama di Indonesia, sebuah kumpulan cerpen bertema gay, lesbian, biseksual, dan transgender.

Sinopsis (dari cover belakang buku):
Dalam buku ini, Anda tidak hanya akan menjumpai nama-nama yang sudah beken dengan karya-karya yang pernah dimuat di media massa, tapi sekaligus Anda juga akan bertemu dengan nama-nama "asing", dengan karya yang barangkali memang sengaja dibuat untuk keperluan antologi ini. Jangan heran jika usai membaca buku ini Anda akan merasa seperti habis makan gado-gado: ada cerpen yang "nyastra banget", ada juga yang "ngepop" dan selebihnya mungkin "in-between".

Sosok-sosok gay dan lesbian mendiami ruang-ruang yang sebelumnya kosong dalam karya fiksi. Apakah lantas kita bisa berkata, telah lahir sebuah genre baru dalam fiksi kita? Atau, kita hanya boleh berprasangka bahwa semua ini tren belaka, yang lahir dari tuntutan instan komodifikasi seiring dengan fenomena booming buku fiksi? Baca dan buktikanlah sendiri dalam kumpulan cerpen ini.

Subscribe