Gerhana Kembar menjadi novel yang teramat penting dalam catatan sejarah sastra Indonesia. Mengikuti jejak novel fenomenal karya legenda sastra Indonesia, Marga T. dengan Karmila pada tahun 1973, Gerhana Kembar dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas sepanjang bulan Oktober 2007 hingga Januari 2008. Dan bisa dibilang, Gerhana Kembar adalah novel bertema lesbian yang dibaca oleh puluhan ribu pembaca koran setiap harinya.

Novel ini dibuat dengan kisah pararel antara tahun 1960-an dan masa sekarang. Mengisahkan tiga generasi nenek-ibu-cucu bernama Diana, Eliza, dan Lendy yang terangkai melalui sebuah naskah tua. Lendy yang berprofesi sebagai editor menemukan naskah yang diyakini sebagai naskah yang ditulis neneknya. Semakin lama Lendy membaca naskah itu, ia yakin naskah berjudul Gerhana Kembar tersebut merupakan kisah nyata.

Ber-setting pada tahun 1960-an, naskah Gerhana Kembar menceritakan tentang Fola dan Henrietta. Dua perempuan yang saling mencintai namun permainan takdir membuat mereka tidak bisa bersama. Setting tahun 1960-an mengingatkan kita bahwa lesbianisme bukanlah produk dari kebudayaan modern. Membuka mata kita bahwa sesungguhnya lesbianisme sudah ada sejak zaman nenek-nenek kita.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang lesbian, tapi juga tentang menjadi perempuan. Tentang menjadi istri dan ibu. Tentang menjadi anak dan cucu. Tentang cinta dan kebahagiaan. Beberapa novel gay/lesbian menyatakan “Cinta tak mengenal jenis kelamin”, tapi baru pada Gerhana Kembar, kita bisa perbandingan dari pernyataan di atas.

Clara Ng, sang pengarang, dengan manis mempararelkan adegan percintaan Fola dengan Henrietta di halaman 184-185 dengan adegan percintaan Eliza dan Martin pada halaman 201-202.

Dia ingin Henrietta berkata bahwa cinta tak pernah salah, dan jika kau mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu, kau sesungguhnya mendapat anugerah. (h.185)

Eliza ingin Martin mengatakan semuanya akan baik-baik saja, bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah salah. Tapi jikalau salah, Martin akan berada di sampingnya untuk memperbaikinya demi cintanya pada Eliza. (h. 202)

Di antara pengarang-pengarang yang muncul setelah tahun 2000, Clara Ng adalah ratu pembuat twist dalam cerita dan kenekatannya untuk membuat kisah yang terkadang di luar garis. Coba baca novel-novelnya seperti Tujuh Musim Setahun, The (Un)Reality Show, Utukki: Sayap Para Dewa, Dimsum Terakhir, dan Tiga Venus. Anda akan lihat bagaimana gilanya sang pengarang dalam menabrakkan diri untuk menulis tema yang mungkin tidak terpikir oleh pengarang-pengarang lain. Dia juga pengarang serbabisa, bukan hanya dikenal sebagai novelis, tapi juga cerpenis yang karya-karyanya menghiasi media massa nasional, serta penulis buku anak yang memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi selama dua tahun berturut-turut.

Gerhana Kembar tidak semata-mata bercerita tentang kisah lesbian. Sebagaimana Dimsum Terakhir, buku ini juga sangat perempuan. Tokoh-tokoh utama dalam novel ini adalah perempuan dan tidak ada peran antagonis ala sinetron di sini. Karakter lelaki di dalam Gerhana Kembar pun merupakan sosok lelaki-lelaki yang baik dan patut menerima cinta dari tokoh-tokoh perempuan.

Melalui Gerhana Kembar, sebagai lesbian kita akan terseret dalam dilema kebahagiaan yang dihadapi Fola dan Henrietta. Kebahagiaan adalah konsep yang bentuknya relatif. Seperti kata Diana pada halaman 314, “Bahagia itu memang pilihan. Melihat orang lain bahagia juga pilihan.” Dan bagi saya, novel ini memiliki ending bahagia yang “sempurna”. Sulit bagi saya membayangkan ending lain yang lebih baik dari ending yang diberikan oleh novel ini.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

5 comments:

Anonymous said...

saya menangis dua kali saat membaca novel ini, pertama saat fola akhirnya bisa bertemu henrietta lagi walaupun keadaan saat itu fola tengah bersuami dan pada saat henrietta pulang kembali untuk menemui fola di rumah sakit, agak terlambat bagi saya karena fola sudah "sangat sakit"...salut untuk Clara Ng! dengar - dengar clara menulis novel ini melakukan riset dulu terhadap beberapa narasumber, apakah cerita ini berdasarkan kisah nyata?? kalo iya, indah sekali perjalanan cinta ini... thank's alex:)

alex said...

waduh, saya nggak tau deh kisah nyata atau bukan. tapi saya yakin penulis yg baik harus melakukan riset agar tulisannya sempurna :)

hmm... entah berapa kali saya nangis baca novel ini... bocor abis deh. :p

Anonymous said...

sama.. aku jg nangis terus.. apalagi pas fola nangis2 d ayunan, trus bilang klo dy mo bkin pengakuan dosa.. hiks,, tmbah sedih..

sempet bete sih krn dah kluar duluan d kompas.. jd bacanya kputus mulu..

-dv-

Henny Y.Caprestya said...

sudah baca ini.feelnya dapet banget, abaikan deh cerita "lesbian"nya dan kamu bakal dapetin perasaan cinta yang benar-benar dalam antara 2 tokoh tersebut

eik said...

2 kali membaca...2 kali menangis...bagaimana jika lebih??
saya benar2 terpesona...dengan cerita ini...
"cinta butuh pengakuan..." huaaaaa...
benar2 tidak menyesal menemukan, membeli dan membaca buku ini

Subscribe