3:56 PM

The Best Years of My Life

Posted by alex |

“Sayang, lihat, dia udah bisa mamam sendiri,” saya menjerit bangga melihat si bungsu yang hari ini berusia dua tahun memasukkan bihun goreng ke mulutnya. Wajahnya kotor belepotan bihun goreng yang menempel di sekitar mulutnya.

Lakhsmi tersenyum, menghampiri saya di meja makan. “Dua tahun lalu, dia baru keluar dari perut ya, Chay,” katanya, “inget nggak?”

“Inget banget...” saya menyahut tanpa melepaskan pandangan dari si kecil. Sementara dalam benak saya semua kenangan tentang kelahiran si kecil bersambar-sambaran laksana kilat.

Look, mommy, look,” kata si kecil memamerkan tangannya yang sama belepotannya dengan wajahnya.

Kemudian Lakhsmi mengambil tisu basah lalu mengelap tangan yang kotor itu sementara si kecil tertawa-tawa riang.

Dengan matanya yang besar si kecil memandang kami berdua, lalu bertanya imut, “Upuk?” katanya sambil menunjuk stoples berisi kerupuk.

No, no upuk for you...”

“Pisss... mommy, pisss.... upuk?” tanyanya lagi makin imut.

Oke, kami tahu bahwa seharusnya kami tegas tidak memberi kerupuk buat si kecil, apalagi kami sudah melarangnya tadi, tapi... melihatnya memandang kami dengan tampang imut dan inosen membuat hati kami langsung lumer.

“Oke, satu aja ya upuknya.”

Si kecil pun langsung berlari gembira memegang upuk, eh, kerupuk di tangannya.

“Yuk, chay, cepetan siap-siap... kita mesti beli segala persiapan buat pesta ultah si kecil nanti sore.”
“Bentar dong, Mom, aku belum selesai ngopi nih.” Saya menunjuk gelas kopi di meja yang masih tersisa setengah.

Lakhsmi mendekatkan kursinya dengan tempat duduk saya.
“Sayang...”
“Hm?”
“Kamu tau nggak sih? Aku memutuskan untuk punya si kecil karena kamu?”
“Sungguh?”
“Iya, aku kepingin punya anak bersama kamu.”
Saya meraih tangan Lakhsmi di atas meja makan, menggenggamnya erat-erat. Dia tersenyum manis, kami bertatapan lekat-lekat. Waktu seakan berhenti, dan suasana begitu romantis yang kemudian....

“Mommy, upuk, upuk... agi, agi...” Ternyata si kecil sudah berada di antara kami, seraya menunjuk-nunjuk stoples dengan tangannya yang sudah kosong.

Hahaha, seketika tawa kami meledak berbarengan. Si kecil jadi ikut-ikutan tertawa melihat kedua maminya ngakak. Susah deh beromantis kalau sudah ada anak... :) tapi kami tak pernah menyesali satu detik pun. Meskipun kini saya terpaksa tidak nonton American Idol karena bersaing dengan anak-anak yang kepingin nonton Save-Ums dan Jojo. Hiks.

“Oke, ini satu lagi ya... Terakhir. Nggak ada upuk lagi.” Si kecil langsung girang dan kembali berlari cepat ke depan rumah menunjuk kucing yang sedang tidur malas di taman.

“Yuk, Chay, buruan abisin kopinya... kita cabut, ini akan jadi hari yang panjang...”
Buru-buru saya menghabiskan kopi dengan dua kali tenggak... hmm.

***
Malamnya, ketika pesta ulang tahun selesai, dan si kecil sudah bersiap-siap tidur, saya memberikan kecupan selamat tidur buat si kecil.
"Happy birthday, baby." Yang disambut dengan ciuman basah penuh ludah dari si kecil di pipi saya.
Lakhsmi sudah mematikan lampu di kamar, dan saya berbisik padanya.
"Sayang... Aku nggak pernah menyangka bisa sejauh ini bersama kamu. Dua tahun terakhir rasanya hidupku penuh. Kadang hectic dengan kepentingan anak-anak... tapi aku bersyukur. It was the best years of my life."

@Alex, RahasiaBulan, 2008

2 comments:

Ryan_Boomery said...

Hai, Alex. Um... aku ga bermaksud prying or something, dan ini cuma ide, sih. Gimana kalo kamu post cerita tentang gimana kamu ketemu Lakhsmi? :) Aku sampe seumur ini belon pernah bisa ketemu any other gay people in Indonesia, dan gaydarku separah Dana. Hehe...

Anonymous said...

Lax and Alex,
aku jadi kangen ama Si Little Angle...Salam buat dia ya..Juga her sister yang smart. (KD)

Subscribe