Dua orang mantan saya merekomendasikan buku Waiting karangan Ha Jin untuk saya baca. Buku ini yang dibuka dengan kalimat pertama, “Every summer Lin Kong returned to Goose Village to divorce his wife, Shuyu”, bercerita tentang seorang lelaki yang bertahun-tahun ingin menceraikan istrinya untuk bisa menikah dengan selingkuhannya. Namun karena sang istri tidak mau dicerai, dan Lin Kong tidak sanggup menceraikannya, ia terpaksa menunggu sesuai peraturan untuk bisa bercerai. Dan ketika akhirnya dia berhasil menceraikan istrinya lalu menikah dengan selingkuhannya, bahagiakah Lin Kong setelah sekian lama menunggu akhirnya memperoleh apa yang diinginkannya?

Mungkin cuma kebetulan ketika dua mantan saya menyuruh saya membaca buku ini. Ketika pertama kali membacanya, saya tidak mengerti di mana bagusnya buku ini. Belakangan ini saya baru menyadari bahwa Lin Kong adalah lelaki yang teramat menyedihkan, kesepian, dan tidak bahagia karena hatinya selalu bercabang. Dan dia membuat semua orang yang mencintainya jadi sakit hati.

Saat seseorang “berlari” menuju orang lain atau bahkan tidur dengan orang lain yang bukan partnernya, hal itu adalah perbuatan yang amat sangat menyakitkan bagi sang partner.
Ulangi: Amat. Sangat. Menyakitkan.

Apa pun alasannya.

Ketidaksetiaan menghancurkan kepercayaan dalam hubungan. Ketidaksetiaan apa pun bentuknya menimbulkan abses dan nanah dalam hubungan. Dan saya tak pernah bisa mengerti di mana nikmatnya berpoligami atau poliandri, dalam hal ini. Selingkuh itu tidaklah indah, melainkan melelahkan dan membuat kesepian. It's All Wrong, and It's Not All Right. Ibarat meminum air laut, tak pernah bisa memuaskan dahaga. E-mail-e-mail rahasia yang hanya bisa disimpan di ruang paling pojok. SMS atau telepon secara sembunyi-sembunyi seakan menjadikan si pelaku seperti pencuri di rumah sendiri. So pathetic. Ketidakjujuran menimbulkan jarak dengan pasangan hidup dan itu membuatmu jadi makin sepi dan sendiri karena kau dengan sia-sia menggapai pasanganmu dengan hatimu yang tertutup nanah.

Bagi saya, partner bukan sekadar partner seksual, dia juga partner emosional, partner spiritual untuk saya. Pasangan jiwa bagi saya. Tempat saya pulang ketika saya terjatuh. Dan percayalah, saya jatuh berkali-kali. Dan partnerlah yang menangkap saya setiap kali saya oleng dan jatuh. Partnerlah tempat saya pulang setelah mengarungi perjalanan hari yang panjang dan melelahkan.

Kau tahu kau berada di rumah ketika kau bisa pulang pada seseorang yang bisa menerimamu apa adanya. Seseorang yang bisa kauajak bicara tentang segala masalahmu, ketakutanmu, kegelisahanmu, dan tempatmu mengakui segala kebejatan yang kaulakukan. Orang yang bisa melihatmu telanjang hingga ke jiwamu yang terdalam dan tetap menyambutmu dalam pelukannya yang penuh kasih sayang dan pengampunan. Isn’t it wonderful?

Mungkin dalam kehidupan berpasangan kita harus menjadi koki di dapur, pelacur di ranjang, dan pastor di ruang hati. Saya dan partner pernah melakukan pengakuan gila-gilaan... membuka ruang hati kami selebar-lebarnya dan saya tidak pernah merasa lebih mencintainya saat itu. Partner berdiri di hadapan saya dengan segala kesedihan dan kelemahannya, dengan segala noda dan permohonan. Saya hanya bisa memeluknya, dengan perasaan cinta yang begitu membuncah saat dia menunjukkan ketidakberdayaannya sebagai manusia.

Begitu mudah mencintai seseorang karena dia baik, cantik, perhatian, sexy... Pernahkah kau mencintai seseorang hingga cintamu menyembur dari setiap pori-pori tubuhmu ketika dia berdiri di hadapanmu dengan segala kelemahannya?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

The door of my heart is open to you, no matter what you do with all of your mistake. I always be your friend. I will never critize you or put you down. I will understand you. I will never measure you or compare you. I accept you for who you are.
-Ajahn Brahmavamso

7 comments:

Anonymous said...

Aduhhh Alex tulisannya dalem banget.. Iya lex sebenarnya hidup setia itu enak... gk ada beban.. apalagi kalau kita sudah menemukan pasangan hidup yg pas.. bisa menerima kekurangan n kelebihan kita. Kita juga sudah bisa mencintai kekurangan n kelebihannya. Semoga bisa tidak menyia2kan apa yg sudah dimiliki, apalagi menyakiti. Selingkuh itu memang ngk bikin bahagia, bikin pikiran bercabang. Kalau udah dijalanin malah bikin susahh. Enaknya mungkin sesaat tapi susahnya berlipat. hadohhh..

-Sya

mimpi_sakura said...

Tulisan ini sangat menyentuh relung hati saya, sebagai orang yang pernah melakukan perselingkuhan dengan seseorang hehehehe...banyak hal yang harus di korban kan dari sebuah perselingkuhan...menyakiti dan tersakiti oleh diri sendiri...memecah kan masalah dengan menimbulkan masalah baruuu....

Tapi itu dia, seperti di bilang Alex...sungguh india dunia jika menemukan seseorang bisa menerima kita apa adanya dalam segala hal...hmmmm itu yang tak bisa saya temukan dalam pencarian saya...trus saja mencarii (hehehehhe kok jadi curahan hati sich...) makanya sana sini selingkuh hahahahah (gak ding bercanda)

Pokok nya! setiaaaaaaa itu indahhhh Bo`

alex said...

hi sya dan mimpi sakura,

tergoda itu manusiawi, wajar banget kalau kita kepingin mencicipi buah segar yg ranum. hehehe...

masalahnya bukan karena takut diputusin pacar karena ketauan, masalahnya adalah menyakiti hati seseorang yg kamu cintai, itu yg menyedihkan...

Anonymous said...

"tergoda itu manusiawi, wajar banget kalau kita kepingin mencicipi buah segar yg ranum. hehehe..."

Kasian banget tuh selingkuhan km, cuma jadi buah cicipan... ga ada artinya sama sekali.......

alex said...

Kan aku bilang tergoda dan kepingin mencicipi, bukannya udah mencicipi, hehehe...

Aku sih nggak pernah mencicipi, langsung aku makan sampai habis... ngapain diicip2 doang?

Makanya aku ga mau selingkuh, nanti habis dia... :)

Jadi selingkuhan Lakhsmi jg ga enak, krn nggak bisa bersaing sama aku, huahahaha...

me&myshadow said...

dear alex,
kebetulan saya juga udah baca buku "waiting"..selesai baca rasanya getir nggak karuan, tapi buat saya bukunya lumayan bagus... cocok untuk siapapun yang terlibat perselingkuhan hehehe..

p.s
..yakin nggak ada yang bisa bersaing sama kamu ? :)

Anonymous said...

Tidak ada pembenaran bagi seorang peselingkuh. Its totally wrong no matter the reason. Sang korban hancur lebur perasaannya, yang dikorbankan pun tidak jauh beda, lalu siapa yang diuntungkan dalam hal ini? Egoisme lah pemenangnya. Nice stroy:)

Subscribe