Dua tokoh utama dalam novel ini melakukan begitu banyak perjalanan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang cinta. Galih mencintai Krasnaya. Raras mencintai Violet. Namun sejak awal kita tahu cinta mereka adalah cinta yang tak dipersatukan karena dipisahkan maut. Bahkan dalam daftar isi yang terbagi atas empat bagian pun kita sudah tahu. In Memoriam: Krasnaya. In Memoriam: Violet. Ego Distonik. Ego Sintonik.

Dalam Tabula Rasa, kita melihat gambaran manusia-manusia modern yang dirangkai dalam bentuk fragmen-fragmen dengan setting waktu dan tempat semau si pengarang. Sudut pandang cerita yang dibuat bergerak cepat dan berganti-ganti membuat pembaca bisa saja ogah membaca karena membingungkan, namun bisa juga membuat pembaca lain terseret pada gelombang naik-turun gejolak emosi tokoh-tokohnya. Akan tetapi Ratih Kumala, sang pengarang, berhasil membimbing pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya dengan menerabas waktu dan tempat.

Selama bertahun-tahun Galih berhenti membuka hatinya untuk cinta karena ia keukeuh menambatkan cintanya pada Krasnaya meskipun hatinya pedih dan kesepian. Ia yakin takkan bisa menemukan cinta yang lain seperti cintanya pada Krasnaya. Bertahun-tahun kemudian pula Galih bertemu Raras. Perempuan muda, mahasiswinya, yang menyimpan banyak kegundahan terhadap dirinya sendiri. Melalui Raras, Galih berusaha mengisi hatinya yang sekarat dengan rasa.

Tokoh-tokoh dalam novel ini bertindak atas nama cinta. Dalam perjalanan awal, Raras dan Galih menggenggam rasa mencintai itu dalam hati mereka. Mati-matian mereka berpikir beranggapan bahwa itulah hakikat cinta. Dengan terus bertahan menggenggam rasa cinta tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengepalkan tangan. Dan saking kuatnya mengepal, Galih menutup hatinya untuk cinta. Sementara saking kuatnya mengepal, Raras tidak membuka hatinya untuk berbagai kemungkinan atas cinta.

Raras adalah perempuan dengan masa lalu kelam dan berada dalam kondisi bimbang terhadap siapa diri dia sebenarnya. Ia berada di persimpangan jalan antara membalas cinta lelaki yang baik bernama Galih ini atau terus mempertanyakan cintanya pada Violet. Raras berusaha menyelami kembali siapa dirinya. Apakah dia lesbian, apakah dia hetero, apakah dia biseks? Pertanyaan-pertanyaan yang kian lama tampak wajar dalam dunia modern ini.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang cinta itu terjawab dengan sendirinya oleh hidup itu sendiri. Oleh pengalaman-pengalaman dan keputusan-keputusan yang diambil pada setiap belokan yang mereka temui dalam perjalanan hidup.
Hal-hal bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Selalu anehnya pada waktu itu kita berpikir bahwa itu adalah yang terbaik... Ada suara hati yang berbisik dan kita mendengarkannya. Dan dari semua hal, nafsu adalah hal yang paling abadi, dominan, permanen... Pusat pikiran serta konsentrasi kita padanya melebihi pegangan hidup kita lainnya seperti iman dan segala aturan, baik agama maupun negara, yang katanya untuk membimbing hidup. Apa lagi yang mengendalikan hidup kita selain hati? Akal, dan hanya itu yang bisa kita harapkan. (h.134-135)

Lesbianisme dalam Tabula Rasa bukanlah jadi wacana "mengapa" dan "bagaimana" tapi merupakan sesuatu yang memang sudah ada dan menunggu untuk ditemukan oleh Raras, si lesbian dalam novel ini. Cintanya pada Violet dan hubungannya dengan Galih menjadi sesuatu yang sifatnya empiris.

Tabula Rasa adalah pemenang ketiga Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003. Dan ini merupakan novel pertama Ratih Kumala, perempuan kelahiran tahun 1980, lulusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret. Selain menulis novel, cerpen-cerpen Ratih Kumala juga dimuat di berbagai media massa nasional. Pada tahun 2005, ia menerbitkan sebuah novel berjudul Genesis dan kumpulan cerpen berjudul Larutan Senja tahun 2007. Meskipun memperoleh penghargaan bergengsi, Tabula Rasa sebenarnya bukan novel “berat”. Ini adalah novel yang santai, namun sayangnya ada beberapa bagian yang seharusnya diedit dengan lebih rapi. Kesalahan-kesalahan ketik dan penggunaan bahasa yang berlapis dengan terjemahan menganggu kenyamanan pembaca.

Menurut wikipedia, Tabula Rasa yang berasal dari bahas latin berarti kertas kosong, merujuk pada pandangan pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.

Dan di sinilah konsep lesbianisme yang ditawarkan Ratih Kumala, sang pengarang. Raras menjadi lesbian berdasarkan hasil pengalaman, yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku dilahirkan sebagai batu yang kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. (h.183)

@Alex, RahasiaBulan, 2008

1 comments:

Affy said...

Kalau aku sich udah dari bayi kali ya,ngrasa terlahirkan L (ntar kalau di bilang dari dalam perut nyokap,sotoy lageee...heheheee...)
Secara kata nyokap, waktu bayi aku selalu nangis kejer kalau bayi ce cantik monthok tetangga dekat rumah di bawa pulang oleh ibunya, jadi kalau tuh bayi udah di bawa main ke rumah, baru bisa di bawa pulang kalau aku yang juga masih bayi udah tertidur, padahal kalau si bayi ce di rumah nyokap, abis aku chayank2kan dengan mulut penuh iler..jijey nggak sich..hua.ha.ha.haaaa...
BTW, bayi ce itu sekarang di mana ya, jadi geli aja nginget L ku di masa2 bayi gitu,gatel...Wqkqkqkqkkk...

Subscribe