9:11 PM

The Magic of Living Together

Posted by alex |

Saya lagi membayangkan bagaimana kiranya kalau saya tidak hidup bersama dengan Lakhsmi. Maksudnya kalau saya pacaran nggak "living together" seperti ini. Saya berusaha membayangkan waktu-waktu ketika kami harus terpisah lama beberapa waktu lalu. Saya memikirkan apa saja sih (selain bobo bareng, tentunya) yang membuat saya menderita setengah mati kalau saya tidak “living together” bersama Lakhsmi.

1. Makan
Hal pertama yang paling saya benci adalah tidak adanya teman makan. Walaupun saya doyan makan, tapi saya paling malas makan sendirian, apalagi makan malam. Dan tanpa ada pasangan, saya akan malas masak. Selain itu saya bisa tahan sendirian di kamar tanpa keluar selama berjam-jam selama ada roti dan susu. Bisa-bisa saya jadi zombie membusuk di rumah karena malas nyari makan.

2.Bertengkar
Ya, ya, kami kadang-kadang bertengkar kok. Kadang-kadang kami belum sampai di rumah saat kami sudah ribut. Bertengkar lewat telepon atau SMS, grrhhh banget rasanya, dan konyol. Nah, yang bikin bete adalah kalau saya nggak bisa pulang dan berhadapan langsung dengannya lalu berbaikan. Arrrrrrghhhhhhhhhh... rasanya ada rasa nggak enak yang nyangkut di lidah sebelum kami ketemuan lalu membereskan segalanya face to face. Tidak perlu permintaan maaf berlebih, saya tahu kapan kami sudah baikan hanya dengan melihat wajahnya dan saat kami sudah saling menyentuh lagi.

3. Sakit
Saya tuh termasuk yang sering masuk angin. Kerokan menjadi acara wajib beberapa bulan sekali. Apalagi saat cuaca berubah-ubah nggak jelas seperti belakangan ini, sakit pun menjadi acara wajib. Kalau bukan saya, Lakhsmi yang sakit, atau anak-anak. Nah, di saat Lakhsmi sakit atau anak-anak sakit, saya bisa ada untuknya, bukan cuma mengiriminya SMS, “Bayangkan aku ada di sana bersamamu.” Yeah, yeah, kalau baru sebulan pacaran sih, SMS seperti itu romantis, tapi kalau udah lewat setahun, plis deh basinya. Di saat saya sakit pun begitu. Lakhsmi dengan sigap mengurusi saya sampai sembuh. Walaupun biasanya dia sering ngomel-ngomel kalau mengeroki saya yang menggeliat terus seperti belut, tapi sentuhannya tokcer lebih manjur daripada obat dokter.

4. Teman Ngobrol
Dulu, sebelum barengan, saya menghabiskan berjam-jam teleponan dengan Lakhsmi. Kuping panas, waktu habis hanya untuk teleponan. Lama-lama saya bosan, sumpe deh... saya udah nggak tau lagi mau ngobrol apa. Kadang-kadang kami kehabisan topik obrolan, kadang-kadang kami udah nggak tau lagi mau cerita apa. Keheningan terlalu lama di telepon juga mengerikan karena membuat kami tersadar bahwa kami mulai nggak konek. Kebanyakan ngobrol ternyata hanya mengulang-ulang cerita yang sama dan saya bisa mendengar dia mulau bosan, sementara saya juga udah mulai kehabisan cerita menarik. Tapi living together ini ajaib, kami nggak pernah kehabisan resources, seakan ada aja topik menarik yang muncul hanya dengan melihat isi kulkas, atau tukang listrik yang belum datang memperbaiki bohlam putus. That's the magic of living together.


5. Anak-Anak
Last but not least. Tiap hari saya selalu kepingin pulang cepat dan bertemu dengan anak-anak, menyiapkan makan malam atau kalau mereka mau, saya dengan senang hati menyiapkan camilan. Selain ketemu maminya, tentu saja. Tapi melihat anak-anak berlarian di pagar menyambut saya datang dengan pelukan dan ciumannya... seringnya sambil menenteng keping DVD, minta izin saya untuk menyetelnya, wah rasanya saya melayang bahagia. Seperti kata my precious, I love you so big and more, not because you let me to watch DVD, but because I love you only.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

3 comments:

Mithya said...

Lex..I envy you =) I wish I could live together dengan Lushka. Untungnya masih belum pernah kehabisan bahan di telepon dan masih bisa ngirim SMS atau bilang "aku peluk ya" di telepon..hal-hal kaya gitu belum mati buat gue dan lushka...dan moga-moga ngga akan mati karena sikon kami yang menyenangkan (!)

Hiks..I need her touch sooo baaaaddd....

Rie said...

Living together with partner... resolusi sepanjang tahun... tinggal nyari partnernya doank ^_^

Me and her said...

Wah...bener-bener bikin iri :)
Skrg cuma nginep2an aja uda bikin kluarga mikir yang engga2..:( diinterogasi terus...cape rasanya... boro2 bisa coming out...hiks...pengen nyerah aja deh rasanya...terus married sama pria buat nyenengin kluarga...huhuhuhu.. terlanjur sayang banget sm partnerku...T_T

Subscribe