5:42 PM

Film: X-Men:The Last Stand

Posted by alex |


Seberapa pentingnya menjadi “normal”?
Mungkin itu pertanyaan penting yang harus kita jawab dalam X-Men: The Last Stand. Bukan rahasia lagi jika dalam X-Men dan X 2 kita bisa menemukan gay/lesbian subtext dalam berbagai dialog dan cerita film itu. Jadi ketika saya membaca tentang telah ditemukannya obat untuk “menyembuhkan” mutan, saya pikir, tunggu dulu... maksudnya apa nih? Jika mutan = homoseksual, dan 2+2=4, Anda tau dong apa maksudnya.

Sebelum saya komplain lebih jauh tentang X-Men: The Last Stand, izinkan saya merefresh ingatan kita. Dalam X-Men dan X 2, kita berkenalan dengan tokoh-tokoh mutan di bawah naungan Charles Xavier (Patrick Steward). Mungkin bukan kebetulan jika dua X-Men pertama bisa lebih bagus karena sutradaranya Bryan Singer. Saya nggak bermaksud apa-apa lho, tp karena Oom Singer ini kabarnya gay, jd dia bisa lbh "nangkep” esensi-superhero-subteks-gay-dlm-komik-dan-film. Sementara dalam X-Men 3 selain kekecewaan karena berkisah tentang adanya obat buat “menyembuhkan” mutan, seakan-akan mrk itu sakit atau apa... *grrrhhh*, karakter-karakter utama seperti seperti Wolverine, Storm, Jean Grey, Cyclops, Magneto, bahkan Prof. Xavier yg karismatik pun terasa cuma “lewat” begitu saja di layar. Belum lagi ditambah
rombongan/pasukan/gerombolan/geng mutan yang entah muncul dari mana. Sehingga penonton jadi dibuat kesal melihat mutan-mutan anarkis itu ibarat melihat nyamuk-nyamuk yang beterbangan di atas got. Bahkan adegan aksinya pun masih lebih seru X-2, oke, oke... memang sih spesial efeknya luar biasa dan adegan memindahkan jembatan Golden Gate itu keren banget, tapi rasanya kok kurang greget karena tidak banyak adegan pertarungan satu lawan satu, seperti ketika Wolverine bertarung melawan Yuriko.

Saya merindukan X-2 dengan dialog-dialog berlumur metafora, seperti ketika Iceman (Shawn Ashmore) “coming out” pada orangtuanya, eh, maksud saya memberitahu orangtuanya tentang ke”mutan”nannya. "Have you tried not being a mutant?", demikian pertanyaan sang ibu kepada Iceman, dan penolakan dari keluarga yang dirasakan oleh sang mutan membuat penonton bisa mengaitkannya dengan homoseksualitas. Betapa orangtua malu jika punya anak mutan, dan dianggap sebagai satu aib.

Bahkan dalam X Men: the Last Stand, Angel alias Warren Worthington III, yang mengetahui dirinya mutan semasa remaja (oya, mutan-mutan itu biasanya mengetahui diri mereka mutan saat memasuki usia puber, mengingatkan kita akan sesuatu, kan? :p) Angel berusaha memotong sayapnya agar bisa tetap “normal”, dan betapa sang ayah kecewa dan sedih melihat putranya ternyata mutan. Dan kekecewaan itulah yang membuat sang ayah, Warren Worthington II, mencari obat penyembuh mutan.

Dalam film ini, homo superior alias mutan dihadapkan pada pilihan. Jika ada obat untuk menyembuhkan mutan, apakah kau akan memilihnya dan berubah jadi “normal”?

Beberapa mutan, antara lain Storm (Halle Berry) atau Mystique (Rebecca Romijn Stamos) menganggap tidak ada yang salah pada mutan, mereka tidak sakit dan mereka tidak perlu obat untuk “sembuh”. Tapi lain halnnya dengan Roque (Anna Paquin), sang penyedot energi, yang selama ini bisa menyentuh kekasihnya, Iceman, tanpa membuat sang kekasih kelojotan hingga nyaris mati. Roque mewakili banyak mutan atau kita sebut saja homoseksual yang ingin “sembuh”, dan ingin bisa jadi bagian manusia
“normal”.

Tapi kekecewaan saya terobati ketika di akhir film, Magneto yang dianggap sudah “diobati” menggerakkan buah catur dengan kekuatan mutannya. Jadi pesan moral film ini adalah, kalian bisa menemukan obatnya, tapi kalau mutan itu bukan penyakit yang harus diobati dan sudah menjadi bagian dari diri kita, mau gimana lagi?

gambar: www.movies.yahoo.com

0 comments:

Subscribe