10:07 PM

Sampai Maut Menyatukan Kita

Posted by alex |

Dalam perjalanan ke Paris pada musim gugur 2007 kemarin, bukan Eiffel atau Louvre yang melekat dalam benak saya. Seorang sahabat saya keukeuh mengajak mampir ke kuburan Montparnasse melihat makam Sartre dan De Beauvoir. Saya sendiri bukan penggemar filsuf ala Sartre atau feminis ala De Beauvoir tapi tujuan pertama yang saya kunjungi di Paris adalah Climetiere de Montparnasse, kuburan terbesar kedua di Paris, di mana Sartre dimakamkan satu nisan dengan De Beauvoir.

Buat sebagian orang kematian terasa romantis. Apa yang tak bisa dicapai di kehidupan ini bisa diselesaikan di kematian. Seperti di film-film misalnya, Bridges of Madison County ketika tokoh yang diperankan oleh Meryl Streep dalam surat wasiatnya meminta agar abu jenazahnya disebar di jembatan cintanya dengan tokoh yang diperankan Clint Eastwood. Atau bisa kita lihat dalam film Prancis Love me if You Dare, misalnya. Di mana kematian menjadi puncak cerita yang menjadikannya romantis. Oh, well, mungkin karena mereka orang Prancis yang konon romantis.

Meskipun Sartre dan De Beauvoir menjalin hubungan cinta jangka panjang (selama 51 tahun) yang dikenal luas oleh publik, namun mereka tidak pernah menikah resmi. Hubungan mereka yang dimulai sejak tahun 1929 bisa dibilang open marriage paling terkenal sepanjang masa. Keduanya adalah pasangan tetap, namun Sartre dan Beauvoir tidak menutup kemungkinan berkencan dengan orang lain. Sartre bahkan mengusulkan “perjanjian”: masing-masing bisa saling memiliki affair, namun mereka harus menceritakan semuanya terhadap satu sama lain. Sartre dan De Beauvoir juga sependapat bahwa hubungan mereka berlandaskan keterbukaan serta kejujuran, dan kekasih-kekasih mereka adalah bersifat secondary sementara cinta mereka terhadap satu sama lain bersifat "absolut".

Sartre menggemari perempuan, sementara De Beauvoir juga bukan perempuan yang hanya menunggu Sartre seorang, dia bahkan digosipkan terlibat asmara dengan banyak lelaki dan perempuan. Mereka bebas menikmati hubungan, namun mempertahankan semacam ikatan ala “pernikahan” dalam hubungan mereka. Ketika Sartre meninggal tahun 1980, sekitar 50.000 orang ikut mengantar jenazahnya. Dan ketika De Beauvoir meninggal tahun 1986, ia minta dimakamkan dalam satu kuburan bersama Sartre. Kadang-kadang saya berpikir, apakah di kuburan juga mereka saling berdebat dan berdiskusi?

Sartre dan De Beauvoir adalah dua tokoh penting dalam dunia filsafat dan literatur. Rasanya jutaan perempuan, terutama feminis membaca buku The Second Sex-nya De Beauvoir. Dalam kehidupan pribadi hubungan mereka dianggap hubungan ideal. Mereka pasangan intelektual yang lebih menghabiskan waktu berdiskusi sastra di sudut kafe di Paris sana. Pemikiran mereka saling memengaruhi satu sama lain dan menciptakan simbiosis mutualisma terhada karya-karya yang mereka hasilkan.

Saya bukan lesbian yang feminis, saya bahkan tidak peduli tentang The Second Sex atau pemikiran De Beauvoir. Akan tetapi konsep hubungan dirinya dan Sartre memberikan satu harapan kepada saya tentang kebersamaan dengan pasangan. Tentang suatu ikatan dan komitmen tanpa komitmen namun sanggup menyatukan sebuah hubungan hingga lebih dari setengah abad dan menjadikannya sebagai kisah cinta legendaris sepanjang masa.

Hubungan cinta Sartre dan De Beauvoir menyatukan keduanya dalam cara yang tak terbayangkan dan menginspirasi banyak orang. Termasuk sahabat saya yang hampir setiap tahun mampir ke kuburan Sartre dan De Beauvoir di Paris untuk nyekar dua mbah ini. Hubungan mereka juga menginspirasi saya dengan cara yang tak terbayangkan. Saya datang ke Paris hanya dengan sepotong cerita tentang kisah cinta unik Sartre dan De Beauvoir, melihat kuburan mereka, dan pulang dengan sebuah gagasan tentang cinta, kebersamaan, dan komitmen. Plus tekad dan keinginan untuk pergi ke sana lagi bersama pasangan saya kelak...

@Alex, RahasiaBulan, 2008

0 comments:

Subscribe