Syahdan, ada seorang perempuan yang hidup di menara tinggi. Seorang putri yang pandai memintal kata-kata dan sangat menyukai malam. Kata-kata yang dipintalnya berhamburan keluar saat langit mencipratkan semburat tintanya di lengkung malam. Sepotong bintang yang berada di gugusan paling terang mendengar kata-kata yang dipintalnya. Tiap malam ia menyimak hujan kata-kata itu, tersentuh dan terpesona.
Dan pada satu malam yang teramat terang, dia tergelincir. Jatuh ke bumi dengan kecepatan tinggi, terdorong oleh rasa rindu yang menggebu. Bintang mendarat di lantai dengan suara denting yang lirih. Perempuan pemintal kata-kata tersentak, lalu berjalan mendekati bintang.
Serbuk bintang berhamburan di tangannya saat perempuan pemintal kata-kata menyentuh kelima ujung bintang. Dengan serbuk itu, kata-kata yang dipintalnya semakin berseni, semakin berseri. Bintang memberikan kebahagiaan yang tak terperi bagi perempuan pemintal kata-kata. Untaian kata-kata yang dibuat mereka berdua semakin bergema ke seluruh pelosok negeri. Dan orang-orang pun berdatangan ke bawah menara, ingin mendengar lebih dekat.
Suatu hari Bintang melongokkan kepalanya dari jendela.
“Lihatlah, Sayang!” serunya. “Orang-orang yang kerap kulihat dari langit atas. Mereka tampak begitu dekat. Mari kita turun ke bawah.”
Perempuan pemintal kata-kata menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak, apa yang kupunya di sini telah membahagiakanku. Aku tidak ingin turun.”
Bintang telah terlalu lama mengamati pergerakan bumi dan manusia, sehingga ingin menjadi bagian dari kehidupan di bawah. Saat kekasihnya sedang terlelap atau bekerja, dia menyelinap turun, bersenang-senang. Bintang bertemu dengan badut, manusia paling pemurung yang menyembunyikan kegetiran hidupnya dalam coreng moreng keriangan palsu di wajah. Bintang dan badut bersama-sama, melupakan malam, melupakan pagi, melupakan perempuan pemintal kata-kata yang merenda sunyi di atas menara. Bintang dan badut bergenggaman tangan, mabuk kepayang seperti ikan yang tenggelam di laut dan burung yang tersesat di udara.
Perempuan pemintal kata-kata mulai menangis. Air matanya jatuh satu per satu ke bawah, menetes turun bagai hujan membasahi bumi. Sebagian membasahi wajah bintang, sehingga membuatnya tersadar dan mendongak ke atas. Hatinya remuk redam melihat kekasihnya bersedih. Dia mencari cara untuk kembali ke menara. Tapi tak ditemukan tangga apa pun di sana. Cahaya bintang meredup oleh kepedihan tak berujung.
Perempuan pemintal kata-kata duduk di pinggir jendela, mengamati garis horison dan lengkung cakrawala. Dia selalu mengingat bahwa kebahagiaannya selalu berawal dari atas. Air matanya masih menetes saat dia melihat gerakan yang turun dari bayang pelangi. Sosok kecil yang mengambang ringan, seperti kupu-kupu bersayap paling halus. Kulitnya berwarna biru cerah, matanya bagai mutiara paling bening yang diketahuinya, dan cakarnya sangat lembut dengan ujung-ujung keperakan yang menawan.
Oh. Seekor naga biru kecil.
Naga biru kecil menyelinap di jendela, malu-malu.
Perempuan pemintal kata-kata terpana, bermenit-menit. Lalu tangannya terentang, memanggil naga biru kecil. “Kemarilah!” serunya lembut.
Naga biru kecil mengepakkan sayapnya. Maju mundur, menatap bintang di bawah, dan menatap perempuan pemintal kata-kata. Bolak-balik. Penuh keraguan. Penuh kebimbangan.
“Kemarilah!” panggil perempuan pemintal kata-kata sekali lagi, penuh permohonan.
Di bawah, bintang mendongak, mendapati seekor naga biru mungil bersayap keperakan sedang menyeka air mata perempuan pemintal kata-kata.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007
Pernahkah kau menyadari saat kau terbiasa tidur dengan seseorang, kau dan orang itu memiliki sisi ranjang masing-masing. Dan ketika orang itu tidak ada, kau tetap tidur di sisi ranjangmu dan membiarkan sisi tempat tidur orang itu tetap kosong. Menunggu orang itu datang mengisinya. Kemarin pagi, hari dimulai ketika saya terbangun dan mendapati sisi sebelah saya kosong. Dan rasa kehilangan itu terasa menyesakkan. Kemudian ketika Lakhsmi naik ke ranjang tak lama kemudian, mengisi tempat yang memang miliknya, saya merasa penuh dan hangat lagi. Yeah, memang, you never know what you’ve got until it’s gone.
Ketika baru tiba di kantor, sahabat sebelah saya berkata, “Bye, hari ini gue pindah duduk. Lo nggak akan ketemu gue.” Saya dan sahabat saya itu memiliki hubungan unik. Semacam "Love and Hate Relationship." Kemarin dia menghilang sementara karena komputernya harus diperbaiki dan dia harus menggunakan komputer cadangan yang letaknya jauuuuh. Ternyata kehilangan dia membuat saya sadar betapa kami sering mengabaikan satu sama lain. Ketika saya melewati tempat duduk “baru”nya, dia bilang "teman-teman baru"nya tidak mengerti dia seperti saya memahaminya. Yeah, kami sudah mencapai pengertian begitu dalam, sehingga hanya dengan desahan napas saja atau posisinya duduk saya bisa tahu suasana hatinya. Saya baru sadar betapa saya merindukan kehadirannya yang walaupun terkadang bikin bete tapi ternyata ngangenin. Akhirnya pada sore hari seusai jam kerja, kami ngobrol panjang dan lama, yang ternyata ini saya rindukan dari dia. Sahabat lalu saya bilang, “Lex, you never know what you’ve got until it’s gone.”
Sore harinya saya mendapat telepon dari seorang sahabat lama semasa kuliah. Dengan suaranya yang panik dia mengabarkan berita menyedihkan. Ternyata salah seorang sahabat satu genk kami dulu menderita kanker rahim dan saat ini berada dalam kondisi kritis. Saya kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kabar itu terlalu mengejutkan. Di usia saya sekarang, saya menganggap kehidupan masih terbentang begitu luas di depan saya. Dan kini, kabar duka itu membuat saya berpikir ulang tentang hidup. Bahwa dalam satu kedipan mata semua bisa berakhir. You never know what you’ve got until it’s gone.
Berbagai peristiwa seharian kemarin membuat saya memiliki sudut pandang baru. Mungkin tidak bisa dibilang baru juga, tapi lebih berupa sudut pandang yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Malam harinya saya bertemu Lakhsmi dan anak-anak. Kami makan bersama di rumah lalu nonton DVD lagu anak-anak sambil berpelukan di sofa, sementara di sebelah kami ada dua anak yang matanya tak lepas dari TV. Seperti kata iklan Mastercard, suasana seperti ini... Priceless. Dan saya tidak mau kehilangan dulu untuk menyadari betapa tak ternilai harganya apa yang kini saya miliki sekarang.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Bagaimana membuat seseorang yang pernah mencintaimu untuk jatuh cinta lagi padamu di saat cinta itu hilang?
Orang Pesimis akan berkata, “Halah, percuma, apa yang hilang takkan kembali.”
Orang Optimis akan berkata, “Kalau dia pernah jatuh cinta padamu, kau pasti bisa membuatnya jatuh cinta lagi.”
Orang Sinis akan berkata, “Makan tuh cinta!”
Saya pernah jadi ketiga orang di atas.
Di usia belasan saya orang yang pesimis.
Di usia pertengahan 20-an saya orang yang optimis.
Sebelum menjalin hubungan dengan Lakhsmi ketika usia saya menjelang 30 tahun, saya orang yang teramat sinis terhadap cinta. In a heart of a cynic beats a broken heart of a romantic. Lakhsmi mengajari saya untuk tidak jadi orang sinis dan membuka hati saya untuk cinta.
Sesungguhnya saya takut membuka hati saya selebar-lebarnya. Karena dengan demikian saya berarti membiarkan hati saya jadi sitting duck. "Shoot me, shoot me," teriak si bebek itu ketika berbaris menunggu ditembak. Dan jujur, saya takut. Makanya saya selalu membentengi hati saya. Bersama Lakhsmi saya belajar menyusuri jalan berliku bahwa membuka hati berarti membuka banyak keajaiban. Membuka hati berarti mendapat berlipat-lipat kebahagiaan yang tak terbayangkan. Seperti orang yang menjalani hidup dengan perasaan bahwa besok dia akan mati... itulah yang saya rasakan ketika saya belajar mencintai dengan sepenuh hati.
Kini tiga tahun berlalu sejak saya membuka hidup, diri, dan hati saya. Kini ketika cinta itu hilang dan saya harus berjuang untuk mendapatkannya kembali, saya goyah. Saya merasa tak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Minggu lalu saya menemukan jawabannya ketika membaca majalah Hidup.
Kolom “Tujuh Kata Pokok” Paulo Coelho menjawab kegelisahan saya. Tujuh kata pokok kali ini adalah “Doa”.
Matius 7-7: “Mintalah, maka kalian akan menerima. Carilah, maka kalian akan mendapat. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu.”
Kini saya menyerahkan diri dan cinta saya kepada kekuatan doa.
Saat ini saya jadi Orang Religius.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
*spoiler alert*
High Art termasuk kategori film “suram”. Dirilis pada tahun yang sama dengan Gia, tahun 1998, menjadikan tahun ini semacam tren "lesbi mati karena narkoba". Film ini sudah lama saya tonton, rasanya masih zaman VCD dulu. Tapi waktu saya browsing di mangdu beberapa minggu lalu, saya melihat film ini di salah satu konter.
Salah satu alasan saya menonton film ini adalah aktris-aktrisnya. Radha Mitchell dan Ally Sheedy. Radha Mitchell adalalah aktris Australia yang sebelumnya pernah berperan sebagai lesbian dalam film indie Australia, Love and Other Catrastrophes. Kariernya di Hollywood bisa dilihat dalam film seperti Melinda and Melinda dan Silent Hill. Dalam High Art dia berperan sebagai Sydney, editor di majalah fotografi.
Sementara Ally Sheedy adalah aktris remaja tahun 1980-an yang bermain dalam film populer seperti St Elmo's Fire dan The Breakfast Club. Dan Ally Sheedy layak mendapat acungan jempol dalam High Art. Saking seriusnya berperan sebagai pecandu narkoba, konon Ally Sheedy keterusan mengalami ketergantungan obat tidur akibat perannya di film ini.
Film dimulai ketika suatu hari atap apartemen Syd bocor dan kena rembesan air dari lantai atas. Jadilah Syd harus ke apartemen tetangganya di atas dan bertemu dengan Lucy (Ally Sheedy), fotografer terkenal yang gemar berpesta narkoba dengan kekasih dan teman-teman lesbiannya. Terpesona melihat hasil foto Lucy, Syd akhirnya bekerja sama dengan Lucy untuk majalahnya.
Meskipun sudah punya kekasih pria, Syd tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada Lucy dan menerabas garis batas pekerjaan sehingga mereka pun tidur bersama. Saya agak lupa, tapi seingat saya ini termasuk film dengan adegan ranjang yang lumayan bagus, mungkin saya perlu mencari VCDnya lagi untuk menyegarkan ingatan saya :). Sepanjang film, sebenarnya kita sudah bisa merasakan akhir yang buruk untuk mereka, apalagi saat Lucy memutuskan untuk memilih narkoba dibanding Syd.
Well, apa pun endingnya... secara garis besar High Art film yang bagus karena digarap serius oleh sang sutradara dan aktris-aktrisnya yang meskipun bukan aktris ngetop, tapi menampilkan akting yang membuat kita percaya.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Ada kalanya saya merasa kepingin mengucurkan air mata... bukan, bukan air mata sedih. Tapi air mata yang ingin dikeluarakan agar rasa lega bisa terasa. Akhir pekan kemarin, partner berangkat ke Bali bersama sobat-sobat lesbiannya sebagai upaya terapi patah hati selama tiga hari.
Biasanya saya membungkus diri saya dengan buku, tapi kali ini saya sedang nggak mood. Untungnya pada saat yang sama di bioskop memutar film India yang memang selalu jadi favorit saya... :p Bukan hanya satu film, tapi dua. Saawariya dan Om Shanti Om. Saawariya diperankan oleh aktor muda berbakat Ranbir Kapoor dan Sonam Kapoor yang walaupun cantik sayangnya cuma punya modal cantik saja. Dan Om Shanti Om diperankan oleh Shah Rukh Khan dan Deepika Padukone (yang oleh menurut SMS teman saya, "Lo pasti suka cewenya, cantik sih, hehe). Sebenarnya kami pernah janjian untuk double date bersama sahabat gay kami untuk menonton salah satu dari kedua film tersebut, tapi, yah... karena kami lagi butuh waktu dan ruang privasi, jadinya saya terpaksa sendirian. :)
Akhir pekan kemarin saya memuaskan diri saya dengan dua film tersebut. Hari Sabtu saya habiskan dengan Saawariya, yang berarti Kekasih. Saya punya ekspektasi tinggi terhadap Saawariya secara film ini diadaptasi dari cerita pendek Fyodor Dostoevsky berjudul White Nights. Cerita pendeknya sendiri merupakan kisah yang pedih, bercerita tentang 4 malam dan 1 pagi antara sepasang lelaki dan perempuan. Lelaki itu adalah lelaki paling kesepian dan perempuan itu adalah perempuan yang menggantungkan harapanya pada malam menanti kembalinya sang calon suami.
Seharusnya ini jadi cerita teramat sedih. Bagaimana tidak? Malam pertama lelaki itu berkenalan lalu menawarkan persahabatan pada perempuan itu. Malam kedua si perempuan mulai menerima persahabatan lelaki asing ini dan bercerita tentang dirinya yang menunggu pulangnya sang kekasih. Malam ketiga si lelaki dan perempuan jatuh cinta terhadap satu sama lain. Malam keempat mereka membenamkan diri dalam cinta namun sayangnya lelaki calon suami itu pulang dan si perempuan meninggalkan lelaki yang telah mendampinginya selama 4 malam untuk memenuhi janji bersama calon suaminya.
Setting film ini luar biasa indah, ala Moulin Rouge dengan dominasi warna biru dan gelap. Dalam film ini si lelaki digambarkan sebagai penyanyi, saya lupa seharusnya dia jadi apa di cerita pendeknya. Statusnya sebagai penyanyi ini seharusnya bisa membuatnya jadi makin India, tapi sayang lagunya kurang banyak dan film ini juga kurang panjang untuk ukuran film India, hanya 130 menit.
Walaupun saya tetap menangis di akhir cerita, tapi Sanjay Leela Bhansali, sang sutradara, membuat saya kecewa karena tidak mengembangkan White Nights itu menjadi cerita yang mengharubiru ala India, padahal ia punya modal yang luar biasa dalam segi cerita. Yah, mungkin karena ekspektasi saya terlalu tinggi.
Hari Minggu saya menonton Om Shanti Om. Pertama saya pikir Shah Rukh Khan terlalu tua untuk berperan sebagai Om, aktor nggak penting tahun 1970-an yang jatuh cinta pada aktris besar bernama Shanti. Dalam suatu peristiwa tragis Om tewas ketika berusaha menyelamatkan Shanti dari kebakaran. Kemudian Om pun terlahir dalam keluarga Kapoor yang menjadikannya sebagai bintang tenar India masa sekarang.
Entah pada menit keseratus berapa saya menganggap Shah Rukh Khan memang layak mendapat julukan King Khan. Dia tampil luar biasa. Dan saya sukaaaaa sekali adegan fanfare, ketika Shah Rukh bersama 31 aktor dan aktris tenar India menjadi cameo dalam lagu Deewali. Benar-benar menghibur. Hingga saya tertawa sampai menangis. Secara sutradara film ini Farah Khan, jadi koreografinya bener-bener patut dapat acungan jempol. Buat penggemar film India, Om Shanti Om adalah film yang tak boleh dilewatkan. Tidak ada satu pun adegan membosankan dalam film berdurasi 168 menit ini.
Menonton film ini timbul pertanyaan dalam benak saya, Pernahkah kau begitu mencintai seseorang sehingga rela mati untuk orang itu dan satu kehidupan pun tidak cukup bagimu untuk mendampinginya? Atau semua itu hanyalah dalam film? Entahlah.
Menonton Saawariya dan Om Shanti Om benar-benar terapi menyegarkan yang luar biasa di akhir pekan saya. Sudah lama saya tidak menikmati kesendirian. Kadang-kadang hanya butuh satu-dua hal yang tepat untuk terapi patah hati semacam ini. Saya ingat terakhir kalinya saya butuh mengeluarkan air mata, entah berapa tahun lalu. Saya mengambil buku A Walk to Remember-nya Nicholas Sparks dan menangis hingga mata saya bengkak ketika habis membacanya. Hingga yang tersisa cuma rasa lega di dada.
@Alex, RahasiaBulan, 2007
Pay It Forward
Kecapi koleksi sederhana tentang retrospeksi hidup, kronik harian, atau apresiasi hiburan direkat dalam mozaik sketsa lesbian.
Selamat datang. Aku si bulan itu. Dan ini rahasiaku.
Alex Lagi Ngapain Ya?
Jejaring SepociKopi
-
Club Camilan14 years ago
-
Topik: Sisterhood Unlimited!15 years ago
-
Surga Kepulauan Raja Ampat15 years ago
-
Kian Damai16 years ago
-
-
Jejaring Sahabat
Komen Terbaru
Kategori
- lesbian (79)
- film (63)
- Personal Life (51)
- Opini (40)
- Intermezzo (38)
- buku (29)
- TV (14)
- persona (12)
- gay (11)
- remaja (10)
- Asia (9)
- love (7)
- biseksual (5)
- coming out (4)
- poem (4)
- subteks (4)
- L Word (3)
- transeksual (3)
- South of Nowhere (2)
- Lakhsmi (1)
- cinta (1)
- lagu (1)

