5:19 PM

Yang Tercecer dari Fun With Writing

Posted by alex |

Bagaimana cara menuangkan kata-kata yang ada di dalam kepala ke dalam tulisan? Bagaimana melanjutkan tulisan yang tak selesai? Bagaimana mengatasi writer's block? Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dalam Kongkow Lez yang diadakan oleh IPP pada Sabtu sore 26 Mei 2007.

Ah, saya jadi teringat pada novel saya yang tak pernah selesai. Berbagai tips dari pengarang-pengarang terkenal sudah saya coba, tapi hasilnya nihil. Setiap kali selesai menulis, saya selalu menganggap tulisan saya tidak cukup bagus. Pernah ada satu novel saya yang “nyangkut” sejak tahun 2000, dan ketika saya baca lagi saat ini, saya malah ketawa sendiri membaca tulisan saya yang tak berjiwa itu. Sejujurnya, saya tidak perlu segala tips atau trik dari pengarang-pengarang itu, saya sudah tahu jawabannya. Hingga satu titik saya menyadari bahwa saya bukanlah Jonathan Stroud, dan tidak punya bakat yang cukup besar untuk menjadi penulis fiksi profesional. Saya putuskan untuk menjadi blogger yang baik dan semoga bisa menjadi blogger profesional suatu hari nanti. Maklumlah, saya orang yang percaya bahwa untuk menjadi penulis besar dibutuhkan bakat yang juga besar.

Itulah pernyataan yang tak sempat saya nyatakan dalam Fun with Writing yang diadakan oleh IPP dalam salah satu Kongkow Lez-nya. Acara tersebut dihadiri oleh Cok Sawitri (cerpenis, novelis, dan seniman teater asal Bali), Clara Ng (novelis, cerpenis, penulis buku anak-anak), Is Mujiarso (pengamat sastra), Hetih Rusli (editor). Acara berlangsung fun, seru, dan menyenangkan. Jika gelap belum menjelang, mungkin acara tak juga usai. Saya tidak akan bercerita tentang jalannya acara, untuk itu silakan baca blog sahabat saya, Mumu.

Hari itu saya gembira akhirnya bisa bertemu dengan Cok Sawitri, yang namanya cuma saya pernah saya dengar-dengar sambil lalu. Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya bertanya kiri-kanan siapa sih Cok Sawitri, dan kesimpulannya dia adalah pengarang, penyair, dan pemain teater hebat, dan saya jadi malu karena tidak kenal pada kebesaran nama beliau. Juga Clara Ng, walaupun saya sudah mengenal beliau, dalam beberapa kali acara creative writing bersamanya saya selalu mendapat pelajaran baru darinya. Clara Ng adalah jenis penulis yang haus untuk belajar, di sana saya melihat bagaimana dia membagi ilmu dan belajar bersama.

Dalam setiap acara diskusi creative writing atau how to be a writer, saya selalu mendapat banyak pelajaran untuk menjadikan saya penulis yang baik atau editor yang lebih bijak. Selain “merasa” tidak punya bakat cukup besar untuk menjadi penulis, saya juga tidak bisa menjawab jika ditanya, “Kenapa kamu ingin jadi penulis?” Sejujurnya, saya tidak merasa terpanggil jadi penulis. Tidak ada kegelisahan besar dalam diri saya yang harus saya salurkan melalui tulisan. Cukup melalui media blog, saya sudah puas. Menjadi blogger, memberikan saya kesempatan yang amat besar untuk menuangkan begitu banyak ide yang berkecamuk dalam kepala saya. Menjadi blogger yang anonim memberikan saya keleluasaan yang lebih luas untuk mengekspresikan diri.

Menjelang akhir acara, tampak antusiasme beberapa peserta yang punya niatan menerbitkan novel/karya bertema lesbian. Hm, mungkin saya bisa memberi satu-dua tips dalam hal ini... secara alter ego saya sebagai editor hadir dalam acara Fun with Writing tersebut :p. Agh, cukup sudah novel atau kisah lesbian penuh derita tak berujung. Lebih baik kaukirimkan saja cerita semacam itu ke redaksi “Oh Mama, Oh Papa.” Atau jangan lagi kaujejali pembaca Indonesia dengan cerita pengalaman hidup yang kaupikir ceritamu adalah cerita paling menarik tak ada bandingannya. Cobalah keluar dari kerangkeng itu, buatlah karya yang tak bisa ditolak oleh penerbit saking memukaunya cerita yang kaubuat.

Lihatlah bagaimana penulis sekaliber E. Annie Proulx membuat Brokeback Mountain. Belajarlah dari penulis-penulis luar negeri seperti Julie Anne Peters, Sarah Waters, atau Alison Bechdel, dll, yang karya-karyanya tidak hanya jadi bacaan “khusus lesbian”, tapi bisa diterima umum bahkan memperoleh banyak penghargaan sastra internasional. Atau belajar dari Alberthiene Endah yang membongkar ulang naskah Jangan Beri Aku Narkoba (Detik Terakhir) dari 600 halaman menjadi 248 halaman, yang akhirnya menjadi buku pemenang Adikarya Ikapi 2005. Atau belajar dari perkataan Cok Sawitri, “Gali cerita dari unsur budaya Indonesia.”

Sambil menunggu adanya novel-novel lesbian berkualitas, yang perlu dilakukan saat ini adalah membangkitkan minat baca di kalangan lesbian. Minat baca yang sebesar-besarnya dan secerdas-cerdasnya, agar pernyataan Mumu bahwa lesbian menyukai hal yang bersifat intelektual terbukti benar. Dan jika nanti makin banyak buku bertema lesbian yang terbit, mereka tidak membelinya asal tubruk cuma karena ada unsur lesbiannya walaupun ditulis asal-asalan dan sekadar mencari sensasi.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

0 comments:

Subscribe