11:18 PM

The L Word: Drama dan Uang

Posted by alex |

Apa sih yang membuat kita tertarik untuk terus-menerus menonton serial The L Word? Apakah semata-mata hanya karena cerita lesbiannya? Apa yang membuatnya bisa bertahan hingga musim tayang kelima? Jawabannya adalah DRAMA dan UANG. Rentetan kisah lesbian-lesbian dalam The L Word adalah standar kisah drama produk budaya televisi Amerika Serikat.

The L Word mulai ditayangkan pada tanggal 18 Januari 2004 oleh stasiun TV Showtime dengan durasi tayang per episode selama 50 menit. Rencananya season keenam dan terakhir akan ditayangkan pada tanggal 4 Januari 2009. Season 6 nanti hanya akan berlangsung sepanjang delapan episode dan akan berakhir tanggal 22 Februari 2009. Tapi tenang saja, penggemar The L Word sehabis ini bisa lega karena rencananya ada spin-off lanjutan The L Word sesuai kontrak produser dan pengiklan.

The L Word adalah drama kehidupan lesbian-lesbian yang tinggal di Los Angeles. Ada 5 tokoh utama dalam serial ini (yang tetap bertahan sejak season 1). Bette (Jennifer Beals) yang pada awal musim tayang sudah hidup bersama dengan Tina (Laurel Holloman) selama tujuh tahun dan sedang berusaha punya anak. Mereka kedatangan tetangga baru bernama Jenny (Mia Kischner) yang datang entah dari desa mana, yang awalnya tampak lugu kemudian “dibuat” jadi lesbian oleh Marina (Karina Lombard) dan mulailah perubahan Jenny hingga jadi tokoh yang makin eksentrik setiap episodenya. Bette dan Tina bersahabat dengan Shane (Katherine Moennig), lesbian player paling cool di muka bumi ini dengan penampilan andro yang keren abies. Dan terakhir Alice (Leisha Hailey), mantan Bette yang bekerja sebagai jurnalis.

Berbagai karakter lesbian dengan beragam profesi ditampilkan di sini. Stereotipe pekerjaan lesbian seperti atlet, penulis, seniman, penyiar/wartawan, pengusaha, dan pengacara dimunculkan dalam karakter-karakter awal. Walaupun sesungguhnya stereotipe ini belumlah ada pembuktian secara khusus. Oya, ada juga karakter Shane dengan pekerjaan sebagai penata rambut yang sayangnya punya tampilan rambut jelek pada season 3 yang bikin kita tidak percaya bahwa dia penata rambut. Dan kemudian Shane sempat jadi model di season 4. Seiring berjalannya season, muncul karakter-karakter baru dengan pekerjaan koki, DJ, perempuan sosialita, dosen. Setiap season menampilkan karakter-karakter baru seperti tentara, ibu rumah tangga/janda dengan satu anak, pebisnis, sutradara. Intinya, ada lesbian dalam nyaris semua profesi di muka bumi ini.

Yang menarik dari The L Word adalah melihat bagaimana karakter-karakter utamanya bergerak, hidup, dan berevolusi dalam kisah yang sebenarnya cuma kisah drama ini. Kisah cinta yang makin berbelit juga menjadi semakin drama.Selain melihat bagaimana hubungan Bette dan Tina yang putus- sambung. Shane yang player, insaf, jadi player lagi, insaf lagi, player lagi... aih, bosan deh. Atau keeksentrikan Jenny yang makin menjadi-jadi, apalagi setelah dia menjadi sutradara film yang diangkat dari bukunya. Dan bagaimana karier Alice bergerak mulai dari penyiar radio/wartawan freelance, pemilik situs lesbian, dan kini menjadi penyiar TV.

Drama. Itulah yang menjadi jiwa tayangan televisi. Siapa tidur dengan siapa. Siapa yang putus. Siapa selingkuh dengan siapa. Cinta yang dikhianati. Kesetiaan yang dilanggar. Kejujuran yang terombang-ambing. Komitmen yang perlu dipertanyakan. Itulah yang menjadi unsur utamanya, kelesbianan hanya jadi pembungkusnya. Bukan kampanye persamaan hak lesbian yang ditawarkan oleh serial macam The L Word.

Sejumlah kritik dan pujian pun terlontar untuk serial bertema homoseksual yang sejauh ini mencatat musim tayang terpanjang, lebih panjang satu season daripada pendahulunya Queer as Folk. Ada yang bilang karakter-karakternya terlalu cantik dan sedap dipandang. Ada yang bilang cerita-ceritanya terlalu gampang, tidak memperlihatkan kesulitan hidup menjadi lesbian. Ada yang bilang ceritanya tidak realistis. Semua orang yang memandang ke kotak kaca ajaib bernama televisi itu ingin melihat tontonan yang menyenangkan dengan tampilan-tampilan yang enak dilihat, dengan kisah drama yang membuat hati senang. Bagaimanapun, televisi adalah hasil kreativitas yang merefleksikan kehidupan nyata, dan bukan kehidupan nyata yang sesungguhnya. Aduh, bahkan tayangan-tayangan “TV realitas” pun mengandung unsur rekayasa... (tidak pernahkah ada yang bertanya kenapa hanya mereka yang cantik dan tampan saja yang terpilih?)

Kalau kita simak baik-baik setiap episodenya, kita bisa melihat bagaimana serial ini ditempeli beragam produk iklan, bahkan secara terang-terangan. Tidak jarang pula sejumlah produk menjadi sponsor dan iklan di sini. Inilah hebatnya Lesbiwood di Holywood yang kapitalis. Di mana ada uang di sana ada barang. Dan lesbian-lesbian di balik layar tidak malu-malu menjual kelesbianan ini sebagai pasar terbuka.

Showtime sendiri adalah stasiun TV berbayar sehingga tayangan The L Word ini tidak dijeda iklan di sela-sela tayangannya. Namun perusahaan pengiklan dengan cerdas menempatkan produk mereka secara terintregrasi dalam cerita. Bahkan dalam satu-dua episode, uang yang ditawarkan produk iklan ini mampu membuat penulis cerita mengadaptasi produk tersebut ke dalam cerita secara integral. Marketing terselubung ini berlangsung secara terang-terangan, terutama untuk produk minuman keras. Perhatikan betapa seringnya Shane minum bir merek Dos Equis dan Dana Fairbanks menyebut sejumlah produk seperti Absolute Vodka, Reebok, dan Subaru secara terang-terangan saat memilih pengiklan untuk dirinya. Apple Computers, Chevrolet, Mini Cooper, adalah sejumlah produk yang digunakan oleh karakter-karakter dalam The L Word.

Jika mau dilihat secara positif, penempatan produk dalam tayangan acara ini adalah hal yang wajar dalam dunia hiburan. Lihat saja bagaimana James Bond ditempeli rentetan produk sponsor, mulai dari mobil, ponsel, hingga minuman yang diminumnya. Atau Jason Bourne berlari-lari di bawah iklan three yang segede gaban. Atau pameran produk fashion dan gaya hidup dalam The Devil Wears Prada. Mungkin kesadaran kita sedikit terganggu saat melihat tebaran iklan terselubung ini.

Bahkan ada merek yang berani membayar hingga $300.000 untuk bisa menampilkan produknya sebagai bagian integral dari cerita The L Word. Sebut saja bersepeda bersama Subaru atau Shane yang menjadi model iklan Hugo Boss (sungguh, menurut saya menjadikan Shane sebagai model adalah cerita yang murni tempelan). Meskipun menurut Ilene Chaiken, sang kreator, dia tetap memegang hak penuh atas keputusan produk-produk apa saja yang bisa tampil di tayangannya. Namun secara The L Word adalah serial lesbian, sejumlah kritik mengkhawatirkan seolah-olah dengan penyebutan produk dan penempatan produk itu, penonton gay/lesbian dibuat percaya bahwa kalau kamu nggak memakai produk itu, kamu nggak mendukung produk yang gay-friendly.

Yah, drama seapik apa pun harus ada yang membiayainya. Untuk menjadi tayangan TV yang panjang, sang kreator harus berkompromi dengan menempatkan produk-produk sponsor dalam tayangannya. Karena bagaimanapun, ini bisnis, Mbak.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

0 comments:

Subscribe