11:45 PM

Mencoba Untuk Tidak Selingkuh

Posted by alex |

Mbak, nanya dong, bagaimana mempertahankan diri dari godaan dalam hubungan?
Haduh nanya beginian ke aku? Aku kan cewek paling mudah tergoda sejagat raya... Pertanyaan yang aneh. Hahaha... Seperti kata Om Oscar Wilde, "I can resist everything, but temptation."

Oya, catet nih nomor hapeku. Tiga-tiganya... 24 jam available deh kalau buat kamu, siapa tau butuh buat nemenin.
Kamu lagi ngapain? Mendadak inget kamu nih.
Kamu ada di mana? Kapan nih kita bisa ketemuan?
Temenin aku chat sebentar dong... Lagi nunggu pacar mandi nih.

Haduuuuh, gimana coba kalau kita digempur dengan rayuan-rayuan seperti ini? Awalnya mungkin tidak berbahaya, tapi saat kita lemah tak berdaya dan kesepian, bisa aja kan godaan itu jadi tampak menjanjikan di malam yang sepi dan dingin plus hujan plus acara TV lagi busuk banget, pas SMS masuk yang isinya, “Lagi ngapain?” atau “Cuma ngetes nomor hape kamu masih aktif nggak.” Atau “Eh, hujan nih....”

Beneran deh, sebagai manusia lemah tak berdaya kadang tampak susah untuk menahan diri agar tidak tergoda dalam situasi semacam itu. Masa sih kita harus tinggal di hutan atau di pulau terpencil berdua saja sama pasangan? Bisa-bisa kami saling memakan satu sama lain saking bosannya.

Kok jadi saya yang curlong, padahal ceritanya saya mau memberi tips pada teman saya itu. Haduh, haduh, haduh... gimana ya?

Lagi mikir-mikir seperti itu, tiba-tiba SMS masuk. Dari partner.
“Lagi ngapain, Say?”
“Lagi mikirin kamu...”
“Bukannya buruan kemari, kamu malah ngelamun nggak jelas.”
“Aih, chayang, kamu galak sekali deh.”
“Iya, kamu tuh, aku udah nungguin kamu dari tadi. Buruan dong.”
“Oke, chayang. Oke.”

Huehehehe. Begitulah kalau sudah lima tahun, romantisme adalah kata yang sifatnya mewah. Kalau dulu nih pas masih awal-awal pacaran, nungguin SMS, telepon, dan kangen-kangenan sampai batas yang tidak wajar. Disuruh melintasi separo Jakarta demi untuk ketemuan pun dijabanin. Diminta nunggu setengah jam di halte di bawah terik matahari pun okeh aja. Coba sekarang? Baru nunggu lima belas menit di mal ber-AC aja, SMS yang masuk ke yayang sudah bertubi-tubi. “Sayang, aku sudah sempat nyangkul sawah dan jadi valet parking dua mobil selama nunggu kamu.” Hahahaha....

Biasalah kadang-kadang manusia tuh sering taken for granted. Kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung dianggap biasa. Sementara kalau di awal hubungan kan segalanya penuh pengetahuan baru tentang pasangan kita, dan segala cerita terdengar cool dan segar selalu. Sumpe deh, saya tuh sering banget ngakak (dan terkadang bete) kalau yayang keluar "naga"nya seperti itu. Sebagaimana dia juga pasti bete sama sikap saya yang semau gue dan kadang-kadang dia udah pasrah deh sifat pelupa saya.

Di saat seperti ini, bayangkan kalau saya didekati oleh perempuan muda, yah semisal sembilan tahun lebih muda daripada saya. Yang bisa memanggil Alex dalam puluhan versi fiksi dan nonfiksi. Yang single banget hingga bisa dibilang nyaris “melemparkan dirinya” ke saya. Yang bekerja di second coolest place on earth. Yang mendengarkan segala saran saya tentang buku yang kudu dibacanya. Yang punya koleksi film yang bikin saya iri. Yang memuja saya dengan caranya dan menganggap saya begitu cool. Stop it right there, Lex. Mulai khayal nih.

Eniwei, maksud saya adalah, kadang-kadang dalam hubungan yang sudah berlangsung stabil dan konstan, kita suka cari petualangan maut yang membuat adrenalin menggebu. Tanpa melihat risiko kadang-kadang kita sering cari mati duluan, mikir belakangan. Sumpah deh, saya pernah mati dan sekarang saya nggak mau mati lagi. Saya berusaha membayangkan hidup saya dengan perempuan lain ini. Misalnya kami bisa tinggal bareng di kos-kosan atau apartemen. Kami bisa jemput-jemputan sepulang kerja lalu pergi hang out di mal, nonton atau ngumpul bareng teman-teman. Atau langsung pulang ke rumah, makan malam, lalu duduk di depan TV nonton DVD. Secara kami berada di lingkungan pergaulan yang sama, mudah bagi saya dan dia untuk “tampil” kalau pacaran.

Tapi entah kenapa semakin saya bayangkan, semakin kabur bayangan itu ya? Itu bukan kehidupan yang saya inginkan. Kelihatannya pas, tapi bukan buat saya. Paling tidak, perempuannya tidak pas. Dalam bayangan saya, perempuan yang saya inginkan cuma satu. Cuma partner tersayang. Ibaratnya, dia seperti selimut tua yang nyaman di kala hujan turun di luar sana. Dia seperti rumah yang memeluk saya setiap kali saya pulang ke pelukannya. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan orang lain lagi mendampingi saya sepanjang hidup ini. Mengutip cerpen Malaikat Pun Tahu-nya Dewi Lestari, “Aku mencintaimu dari sekian banyak pilihan.”
Yup, cuma kamu, Lakhsmi Sayang.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11 comments:

millatza said...

ak mundur teratur d kalo gt......wekekekkeke

Mata Hati said...

Bila seseorang bisa bersama denganmu dalam jangka waktu yang lama, maka dialah yang bisa mengertimu luar dalam, dialah yang bisa menerimamu dalam kondisi apapun. Jadi yang namanya bosan, jenuh atau perempuan lain sangat2 tidak layak menjadi alasan untuk mencoba selingkuh. Harganya terlalu mahal.
Salute!

Picank said...

Owhhh.. Wuahahaha.. Aku belom menjalankan perintah tp udah ada tulisan ini. Jadi gimana dunk Buu? Batal aja yah? ;)

Mencoba Untuk Tidak Selingkuh sodara kembarnya Cobalah Untuk Setia ya?

Sinyo said...

Perlu diganti tuh Lex..

Maksudku yang diganti selimutnya.. Huahahahahahakakakakak..

alex said...

@millatza, huehehe... awas ati2 mundurnya jangan sampe nabrak.

@mata hati, he-eh, setubuh sama km. (sambil ngagguk2 seru)

@picank, ternyata km penggemar krisdayanti ya, kirain cuma suka sama mandy moore :)

@sinyo, huaaaaaaahahahha, selimutnya nggak mau diganti, udah kadung suka baunya :))

Picank said...

Mandy moore jangan disebut2 lagi dunk Buuu... Nti rasanya cepet hilang :p

Anonymous said...

doa buat kamu bedrua dear lex...

ujan

Lakhsmi said...

honey, I love you more.

Everyday.

*Lakhsmi

alex said...

lakhsmi chayang, i love you so big and more. muaccchhh.

~alex

ariegere said...

alah, mati kita,
lax lex ini puuuuunn...

alex said...

hahaha, arie, jgnlah kau mati... tak lucu lagi dunia kalau tak ada kau!

Subscribe