*spoiler alert*

Oranges Are Not The Only Fruit adalah buku sudah lama kepingin saya baca, dan akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu akhirnya kesampaian juga (thanks to Lakhsmi :p). Bukan semata-mata karena Oranges menampilkan isu lesbian, tapi lebih karena nilai sastra feminis yang terkandung dalam buku ini ketika pada tahun 2003 seorang praktisi media menulis di harian Kompas saat membandingkan buku ini dengan fenomena Inul.

Tokoh utama dalam novel semi-autobiografi ini bernama Jeanette--sama seperti nama sang pengarang, yang diadopsi oleh keluarga evangelist kelas menengah di wilayah utara Inggris pada tahun 1960-an. Di mata Jeanette hidup adalah Tuhan, Ibunya, dan Gereja dengan buku bacaan favorit: Alkitab. Bahkan sejak berusia tujuh tahun dia percaya dirinya ditakdirkan menjadi misionaris dan membebaskan dunia dari orang-orang kafir. Bab-bab dalam buku ini pun dibagi menurut nama-nama kitab dalam perjanjian lama.

Namun seiring bertambahnya usia, Jeanette yang mulanya sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah mulai mempertanyakan banyak hal yang berbeda dengan dunia yang diperkenalkan ibunya. Saat memasuki usia puber 14 tahun, dia mempertanyakan seksualitas dirinya ketika dia jatuh cinta pada sahabat perempuannya, Melanie.

Sebagai seorang Kristen lurus, awalnya Jeanette tidak menganggap perasaannya kepada Melanie adalah sesuatu yang salah, di matanya mereka hanya bersahabat akrab. Dia tidak menganggap dirinya dan Melanie menjalin hubungan yang disebut “Unnatural Passions”, sebagaimana sebutan ibunya terhadap dua perempuan yang tinggal bersama di kota itu. Dia tidak sadar dirinya lesbian, meskipun sahabat-sahabat ibunya sudah melihat tanda-tanda itu.

Dan akibatnya pada usia empat belas tahun tanpa sengaja Jeanette coming out pada ibunya saat dia dengan menggebu-gebu menceritakan perasaannya yang berlimpah ruah pada Melanie. Ibunya bersama pendeta mengadakan upacara pengusiran iblis dan memaksa Jeanette dan Melanie untuk mengakui dan menyesali dosa mereka karena saling mencintai. Namun di mata Jeanette dia tidak merasa dirinya melakukan hal yang salah, karena “Unnatural Passions” pastilah rasanya buruk, sementara cinta mereka begitu indah. Bahkan bersama Melanie, Jeanette merasa lebih mencintai Tuhan.

"I love her."
"Then you do not love God."
"Yes, I love both of them."
"You cannot."
(hal 103)

Demikian kata sang pendeta pada Jeanette ketika memaksanya mengaku dosa. Di mata sang pendeta, pilihannya adalah jika kau mencintai sesama jenis, kau tidak bisa mencintai Tuhan. Namun Jeanette mencintai Tuhan dan Melanie, dan dia tidak merasa ada yang salah dalam hal itu. Dua tahun kemudian, ketika Jeanette kedapatan (lagi) menjalin “hasrat yang tidak alami” dengan gadis lain, dia pun diusir dari rumah dan gerejanya.

Dalam kehidupan nyata, memang itulah yang terjadi dalam hidup Jeanette Winterston, sang pengarang. Setelah pergi dari rumah pada usia 16, dia bekerja serabutan di berbagai tempat pada malam hari dan akhir pekan untuk menghidupi dirinya pada tahun terakhir SMA-nya. Setelah setahun bekerja sebagai pembantu di RSJ, Jeanette mengumpulkan cukup uang untuk kuliah di Oxford. Oranges ditulis pada tahun 1983 saat dia berusia 23 tahun lalu diterbitkan pada tahun 1985 dan memenangkan Whitbread Prize.

Selain menulis novel, Jeanette Winterston juga menulis komik, buku anak-anak, esai, serta cerita pendek. Oranges juga diadaptasi ke dalam film pada tahun 1990 dan memenangkan Prix d'argent, Cannes Film Festival. Pada tahun 2006, dia mendapat gelar Order of British Empire (OBE) atas jasanya dalam bidang sastra.



Jeanette Winterston sendiri tidak ingin buku ini cuma dibaca oleh kaum lesbian saja, dia ingin membuka pikiran dan mata pembaca sebanyak-banyaknya dalam buku yang ditulis dari sudut pandang Jeanette kecil hingga remaja dengan sentuhan humor gelap di sana-sini. Dan buku ini memang bagus dibaca oleh semua perempuan. Bahkan belakangan Oranges dijadikan salah satu buku pilihan bacaan SMA-SMA di Inggris.

Oranges Are Not The Only Fruit bukan sekadar "buku lesbian", atau buku tentang “bagaimana coming out pada orangtuamu” atau “apa yang kaulakukan jika kau ketahuan lesbian oleh orangtuamu”. Tapi buku ini lebih tentang hidup dan harapan. Tentang mengikuti kata hati. Tentang menjadi perempuan dan tentang cinta. Tentang ikatan keluarga, bahwa se"gila"nya keluargamu, mereka tetaplah keluargamu. Dan tentang menyadari pilihan-pilihan yang diberikan hidup, karena bagaimanapun jeruk bukan satu-satunya buah.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

2 comments:

sick-0 said...

boleh tau beli di mana bukunya?

dont tell me you purchase it by online..

sedih ajah kalo gitu mah..

hehe thanks

alex said...

Aku pernah liat buku ini dijual di Kinokuniya Plasa Senayan th lalu. Coba tanya deh masih ada nggak.
Kalo yg ini, aku dibeliin di singapore :)
Soalnya di sana lbh murah sekitar 30rb rupiah.

Subscribe