8:38 AM

Sepotong Subuh buat Pacarku

Posted by SepociKopi |

Pacarku tersayang,
Pada suatu petang aku pergi keluar kamar dan menemukan senja seperti padang ilalang di langit-langit bumi. Kulihat tetangga-tetangga menjahit kesibukan menjelang malam; bapak-bapak mengumpulkan sarung dan ibu-ibu menjepit jendela. Matahari berwarna kesurupan, hendak pesiar ke tempat yang indah. Aku ingat cerita di buku kesukaanmu, Pacarku. Cerita tentang seorang lelaki yang mengambil senja buat pacarnya.

Angin menggelepar di antara daun-daun di kebunku saat petang sebentar lagi padam. Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu. Mungkin saja bisa kusemai mimpi-mimpiku, tapi mereka belum meranum. Musim panen tiba terlambat, Pacarku. Atau mungkin saja bisa kukapling berhektar-hektar angan buatmu, tapi aku cemas letaknya terlalu terpencil. Atau mungkin kugambar pelukan tubuh kita di bawah cahaya temaram, tapi gambar itu hancur terkena hujan yang kaya raya. Akhirnya aku mencabik-cabik jantungku untuk kuberikan padamu agar menjadi bantal tidurmu menemani malam nanti.

Jadi apa yang bisa kuberi untukmu, Pacarku selain cabikan jantungku. Kutunggu kau pulang ke rumahku. Telah kusediakan ranjang seluas pantai yang pernah kita sisiri tangga-tangga pasirnya. Tungku dapur sedang berpesta merayakan hangat nasi dalam kesepiannya. Dan kuseret jacuzzi yang kubeli di pasar tadi pagi ke kamar mandi, berwarna merah dan terbuat dari plastik, yang penting cukup besar dan tidak bocor untuk membasuh tubuh lelahmu.

Lalu kulihat kau pulang memanggul tas besar di punggung. Bayanganmu belum lagi hilang dari belakang tubuh, tanda kegelapan belum mampu memangsa raga. Tasmu berisi apa, tanyaku melompat-lompat kegirangan. Ini, katamu, kutemukan telur di pinggir kota, erami saja, syukur-syukur anak kita bisa lahir selamat.

Pacarku memberikan telur berisi bayi untukku. Kulempar pandang, kutemukan seribu tawa dan air mata berlabuh di rimbun wajahmu. Malam setengah matang, obrolan kami semakin nyenyak. Napasmu, Pacarku, memanggilku pelan, mengingatkanku tentang sepotong senja yang kini telah basi. Terlambat aku menggunting senja untuk kuberikan padamu sebagai tanda cintaku atas telur yang kini kuerami.

Malam mendidih di panci, tuhan lewat mengintip di lubang kunci, aku duduk di sarang tak menari-nari. Telur yang kuhangatkan pecah, bayi itu keluar dengan pipi putih brokat seperti seprai yang kita tiduri. Kugendong si pipi putih ke keluar kamar melihat bintang biru pucat sedang berkejar-kejaran dengan matahari. Kebunku pandai menanam pagi.

Aku kedatangan ilham di tengah-tengah seribu nyanyian lantang mengajak bibir bersembahyang. Bayi di tangan kiriku, arit di tangan kananku. Aku berjinjit untuk menggapai plafon bumi. Subuhmu luas dan tak terbatas, boleh kupinjam sepotong kecil, tuhan, tanyaku berbisik-bisik. tuhan tiba dengan bajunya yang kuyup. Kena hujan, kata beliau dengan senyum lucu, ambil saja subuh itu tidak usah dikembalikan, emangnya perpustakaan?

Kupotong subuh dengan arit, kukepak dalam kotak hujan yang rinainya empuk. Pacarku sayang, ini untukmu. Telah lama kupikirkan hadiah apa yang ingin kuberikan padamu sampai kepalaku berkarat dan engselnya nyaris putus. Subuh akan mati selewat jarum jam menjinjing waktu, jadi nikmati saja saat ia masih hangat. Mungkin esok atau kapan-kapan aku akan meminta izin tuhan untuk menggoreskan aritku di sana lagi.

Pacarku, sumpeh, aku mencintaimu setengah mati.

Dengan peluk, cium, dan subuh yang masih mengepul,
Lakhsmi

@Lakhsmi, RahasiaBulan, 2008

7 comments:

Anonymous said...

Pacarku tersayang,

Terima kasih atas tarian kata-kata yang spektakuler ini.

Kurobek malam dan kukantongi malam bergambar dirimu dan bayi kita agar bisa selalu ada di dekatku.
Kurajah potongan subuh yang kauberikan ini di punggungku.
Kujahitkan cabikan jantungmu dalam rongga kosong di hatiku.

Pacarku tersayang, sumpeh deh, aku juga mencintai setengah mati...

Peluk cium dengan mulutku yang beraroma kopi sehabis sarapan.

Alex

Anggra said...

Hemmm...kalian berdua memang romantis sekali, jadi iri nih.

Lakhsmi, tulisanmu benar-benar spektakuler.

Anonymous said...

Sumpeh juga, aku tambah mengagumi pribadi Alex ;p

Anonymous said...

Hmmm adeeeemmmm

ujan

Anonymous said...

wadaauuuuuuuuuuuuuuuuuuu,,,,,plak pleuk plak plek !@&#%!(#&%$%$(@!#$&%#&(@%.....
Romantissssssssssssssssssssssssssssss kali puuuuuuuuuuuuuuuuun...

Anonymous said...

hi arie, bini gue emang romantis abiesssss deh... muanteppppp buangeeetttt.

ay said...

dear ka' lakhsmi, undang aku di blognya ya... thx..

Subscribe