Tidak pernah lupa dalam ingatan saya kejadian mengejutkan di arena loncat indah dalam Olimpiade Seoul 1988. Dalam salah satu loncatannya, kepala Greg Louganis terjeduk papan loncat indah hingga dia jatuh terpelanting ke dalam air dengan kepala mengucurkan darah. Semua penonton terkesiap menyaksikan adegan itu, saya nyaris bisa merasakan napas-napas tertahan penonton yang memandang ngeri. Namun kecelakaan itu tidaklah menghentikan Greg memperoleh 2 medali emas loncat indah untuk papan 3 meter dan 10 meter. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, dan Greg Louganis adalah tujuan saya menyaksikan siaran langsung olimpiade setiap pulang sekolah. Di mata saya saat itu, Greg Louganis adalah seorang hero.

Pria bernama lengkap Gregory Efthimios Louganis ini lahir pada tanggal 29 November 1960 di El Cajon, California, dan dianggap peloncat indah terbaik di dunia. Ia pensiun dari kariernya sebagai peloncat indah setelah olimpiade 1988. Greg Louganis adalah atlet yang mengikuti olimpiade sebanyak 3 kali, yaitu 1976, 1984, 1988, dan memperoleh emas ganda dalam dua olimpiade terakhirnya. Kalau AS tidak memboikot olimpiade 1980 di Uni Soviet, daftar prestasinya mungkin bakal lebih panjang.

Pada tahun 1995 Greg Louganis mengeluarkan buku autobigrafinya berjudul Breaking the Surface. Di dalam buku itu, ia mengungkapkan banyak hal, selain pengakuan bahwa dia homoseksual, ternyata dia menderita HIV positif. Pengakuan soal status HIV-nya menggegerkan banyak pihak karena ternyata dia sudah tahu dirinya menderita HIV sebelum Olimpiade 1988, namun memilih tetap diam padahal darahnya menetes ke dalam kolam sehabis kecelakaan. Meskipun setelah itu tidak ditemukan penularan HIV kepada atlet lain akibat kejadian tersebut, selama bertahun-tahun Greg dirundung perasaan bersalah karena menyembunyikan kebenaran.

Olimpiade 1988, Kepala Greg Louganis Terantuk Papan

Buku yang ditulisnya bersama Eric Marcus ini juga mengungkapkan sisi lain selain sosok Greg Louganis yang tampan terpahat bak dewa Yunani (bahkan sempat berpose bugil untuk majalah Playgirl pada tahun 1987), berprestasi, dan dipuja banyak orang. Greg tidak mengenal ayah dan ibu kandungnya karena diadopsi sejak usia sembilan bulan. Ia sulit beradaptasi di sekolah karena disleksia dan sering jadi bahan ejekan anak-anak lain karena kulitnya yang cokelat sebab ayah kandungnya konon masih keturunan Samoa.

Pada usia sembilan tahun, ia mulai mengenal loncat indah dan langsung menunjukkan prestasi luar biasa. Pada usia 16 tahun, ia terpilih menjadi atlet olimpiade untuk Olimpiade Montreal 1976, dan meraih medali perak di sana. Selain itu, ia juga memperoleh puluhan medali emas dari berbagai kejuaraan di Amerika.

Namun semua prestasi itu tidak membuat Greg berhasil mengangkat dirinya dari rasa rendah diri dan perasaan tidak aman yang sejak kecil dialaminya—belum lagi masalah homoseksualitas yang harus disembunyikannya rapat-rapat. Dalam Breaking the Surface yang ditulis dengan amat sangat terus terang itu, ia mengungkapkan betapa dirinya menjadi korban dari sederet hubungan buruk dengan lelaki-lelaki yang memanfaatkan ketenaran dan uang yang dimilikinya. Bahkan dalam salah satu hubungan, dia juga mengalami sejumlah kekerasan fisik.

Kata bahagia seakan asing dalam kamus Greg. Bahkan ketampanan dan fisik yang sempurna, kekayaan dan prestasi yang luar biasa, tidak bisa membuat hidupnya utuh. Dia tetap jadi sosok anak malang yang rendah diri. Hubungan demi hubungan yang buruk dengan orang-orang terdekatnya, serta kisah cinta yang menyakitkan, membuatnya depresi dan terpuruk. Dan hanya loncat indah yang memberi makna dalam kehidupan Greg Louganis.

Membaca buku ini bukan berarti membuat Greg Louganis minta dikasihani, namun ia lebih ingin menunjukkan kekuatan kejujuran dan cinta pada diri sendiri. Buku ini seakan menjadi terapi dan semacam obat buat Greg Louganis dengan mencurahkan segala rahasia yang terpendam dalam dirinya melalui tulisan. Breaking the Surface menggambarkan apa yang ada di balik sosok idola dengan pengakuan jujur yang menyembuhkan diri sendiri.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

NB: Breaking the Surface dicetak ulang kembali tahun 2006.

0 comments:

Subscribe