12:45 AM

Opini: Fobia? Siapa Takut?!

Posted by alex |

Kata Heterofobia baru muncul dalam kosakata saya ketika partner saya berkomentar bahwa lesbian-lesbian dalam serial TV L Word memberi kesan heterofobia karena tidak bergaul dengan kalangan heteroseksual alias cuma bergaul dengan kalangan sendiri. Tadinya saya tidak terima, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, partner saya ada benarnya juga.

Jika seseorang mengalami homofobia artinya dia merasakakan ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang berbau homoseksual. Demikian pula sebaliknya, jadi heterofobia artinya ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang berbau heteroseksual. Coba tanya pada diri kita sendiri, seberapa banyak di antara kita yang merasa tidak nyaman atau bahkan amat sangat takut ketika berada di lingkungan heteroseksual? Tapi sebaliknya, jika berada dalam komunitas homoseksual orang tersebut merasa seakan di surga.

Memang kita pasti merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berkumpul dengan sesama teman-teman gay/lesbian. Perasaan menjadi bagian dalam pergaulan. Tapi interaksi terus-menerus setiap hari dengan “kalangan sendiri” itu nyaris tidak mungkin. Akibatnya gay/lesbian semacam itu hanya mau berteman dan membuka diri terhadap sesama mereka, memproteksi diri berlebihan saat masuk ke lingkungan heteroseksual. Aduh, bagaimana kita bisa diterima dengan baik jika kita tidak bergaul dengan orang yang kita harap bisa memandang kita secara positif? Tunjukkan dong bahwa kita bukanlah seperti stereotipe lesbian yang selama ini jadi santapan berita murahan, atau image negatif yang ditampilkan di sinetron busuk di TV.

Tidak, saya tidak menganjurkan untuk coming out, paling tidak jadilah lesbian/gay yang memiliki watak baik dan cerdas--kecerdasan emosi, intelektual, dan spritual. Jadi, SEANDAINYA suatu hari kamu ketahuan oleh lingkungan hetero-mu bahwa kamu gay/lesbian, percayalah mereka tidak akan meninggalkanmu.

Menilik kembali ke belakang, ketika saya masih di dunia antah-berantah, demikian saya mengistilahkan masa-masa “bingung” terhadap orientasi seksual saya dulu. Saya mendapat dukungan yang sangat besar dari seorang teman kuliah yang juga lesbian, ups, sori, dia bisa marah kalau saya sebut lesbian karena transeksual bukanlah lesbian. Dia adalah orang yang saya anggap mentor, teman sehati, dan tempat curhat, dan dia adalah satu dari beberapa sahabat akrab saya pada masa itu. Sahabat-sahabat akrab saya yang lain berasal dari kalangan heteroseksual, yang beberapa di antaranya masih menjalin hubungan baik dengan saya meskipun tahu saya lesbian.

Kita adalah kaum minoritas, kita hidup dalam dunia yang mayoritas hetero, jelas kita tidak mungkin bisa menjauhkan diri dari lingkungan pergaulan dengan rekan-rekan hetero. Ya, memang, sekali lagi saya mengakui ada hal-hal tertentu yang memang hanya bisa dimengerti dan dirasakan dalam persahabatan antara sesama lesbian atau sesama gay. Namun ini tidak berarti bersahabat dengan sesama lesbian atau homo juga 100% menyenangkan.

Yang paling membuat saya sebal, ada sejumlah gay/lesbian yang menggunakan ke”homo”an mereka untuk mendapat proyek atau bantuan dari saya karena entah bagaimana saya seakan berutang pada mereka secara kami berasal dari “kelompok” yang sama. Benar-benar tidak cerdas!

Ada yang pernah meminta dicarikan pekerjaan freelance di kantor saya, yang pas saya bilang sedang tidak ada lowongan, dia beralasan “tapi dia kan gay.” So? Saya punya utang sama dia kalo dia gay? Atau ada lagi lesbian menyebalkan yang kebetulan memiliki proyek kerjasama dengan perusahaan saya bekerja, dan bertingkah seolah-olah saya harus memuluskan proyeknya, karena kami saling tahu rahasia masing-masing, padahal proyeknya jelas tidak menguntungkan untuk perusahaan saya? Please deh! Ampun! Orang-orang seperti ini yang membuat saya kesal setengah mati. Bukan salah saya kalau dia tidak bisa mendapat pekerjaan dari kantor saya bekerja, bukan salah saya kalau proyek mereka gagal. Ingat, diskriminasi terjadi karena ada pihak yang minta diistimewakan. Jadi, jangan minta diistimewakan atas dasar orientasi seksual kalau tidak mau didiskriminasikan.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

0 comments:

Subscribe